← Daftar isi 1 Timotius (2) · bab 5/12

PARA PENILIK DAN DIAKEN DALAM PEMERINTAHAN GEREJA

Pembacaan Alkitab: 1 Tim. 3:1-13

Dalam 3:1-13 Paulus berbicara tentang para penilik dan diaken dalam pemerintahan gereja. Dalam ayat 1-7 ia membahas tentang para penilik gereja, dan dalam ayat 813, tentang diaken.

I. PARA PENILIK

A. Menghendaki Jabatan Penilik

Dalam ayat 1 Paulus berkata,”Benarlah perkataan ini, ‘Orang yang menghendaki jabatan pengawas (penilik) je-maat menginginkan pekerjaan yang mulia.’” Paulus memu-lai dengan ungkapan “Benarlah perkataan ini”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa apa yang akan ia katakan ini sangat penting.

Dalam ayat 1 Paulus berbicara tentang jabatan penilik (pengawas, LAI) jemaat, dan dalam ayat 2, tentang para penilik. “Jabatan penilik” dalam bahasa aslinya adalah “Episkope”, dari “epi” yang berarti “atas” dan “skope” berarti “penglihatan”; jadi penglihatan dari atas; ini me-nunjukkan fungsi dari penilik. Kata “penilik” dalam bahasa aslinya adalah “Episkopos” dari “epi” dan “skopos” berarti “orang yang mengamati, pelihat”. Penilik di gereja lo-kal adalah penatua (Kis. 20:17, 28). Dua sebutan ini mengacu kepada orang yang sama. “Penatua” menunjukkan orang yang matang, dewasa; “penilik” menunjukkan fungsi seorang penatua. Pada abad kedua Ignatius mengajarkan bahwa pe-nilik (uskup) lebih tinggi daripada penatua. Dari ajaran yang keliru ini timbullah jenjang uskup, uskup agung, kar-dinal, dan Paus. Ajaran itu juga menjadi penyebab timbulnya sistem keuskupan (episkopal) dari pemerintahan gerejawi. Jen-jang dan sistem itu adalah kekejian dalam pandangan Allah.

Dalam ayat 1 Paulus memberi tahu kita bahwa siapa saja yang menghendaki jabatan penilik, ia menginginkan pekerjaan yang mulia. Keinginan dengan motivasi yang murni berbeda dengan ambisi dengan motivasi yang tidak murni. Tuhan menghendaki banyak saudara mempunyai keinginan yang dibicarakan di sini. Bagi pemulihan Tuhan dan bagi pembangunan gereja-gereja lokal, sangat dibutuh-kan para pemimpin yang tepat. Karena itu, keinginan un-tuk menjadi penilik bukan hanya benar, bahkan terhormat. Di satu pihak, kita menyalahkan ambisi; di pihak lain, kita menghargai fakta bahwa banyak saudara mempunyai ke-inginan menjadi penilik. Saudara yang mempunyai keingin-an demikian ini benar-benar menginginkan pekerjaan yang mulia.

B. Syarat Penilik

1. Tanpa Cacat Cela

Dalam ayat 2 Paulus berkata, “Karena itu, pengawas (penilik) jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan (ter-tib), suka memberi tumpangan, pandai mengajar orang.” Paulus mula-mula menyebutkan syarat tak bercacat. Ini tidak menunjukkan kesempurnaan dalam pandangan Allah, melainkan berada dalam keadaan tak bercacat dalam pan-dangan manusia. Seorang penilik haruslah seorang yang mempunyai reputasi yang baik, sehingga tidak ada alasan bagi orang lain untuk membicarakan hal-hal yang buruk tentang dirinya.

2. Suami dari Satu Istri

Seorang penilik haruslah suami dari satu istri. Ini menyiratkan pengekangan daging, yang dituntut setinggi-tingginya dari seorang penatua. Hal ini akan menjaga seorang penatua dalam hidup pernikahan yang sederhana dan murni, bebas dari kekusutan pernikahan yang rumit dan kacau.

3. Dapat Menahan Diri

Seorang penilik jemaat haruslah dapat menahan diri. Dapat menahan diri di sini berarti memiliki pengendalian diri, lembut, tenang.

4. Bijaksana

Bijaksana tidak hanya tanggap, tetapi juga arif dalam memahami segala perkara. Dalam Kitab 1 dan 2 Timotius dan Titus, Paulus menggunakan kata-kata bijaksana dan penguasaan diri beberapa kali. Semua orang beriman dalam hidup gereja perlu berpikir jernih dalam pengertian mereka. Semuanya harus mempunyai kebajikan bijaksana ini. Bila kita mempunyai kebajikan bijaksana seorang Kristen, penglihatan kita akan sangat tajam dan penuh wawasan. Namun, kita bisa tetap tenang, tidak cerewet. Seorang yang cerewet bukanlah seorang yang bijaksana. Orang yang bi-jaksana, tajam dalam pengertiannya, tetapi lambat untuk berbicara.

Dalam persekutuan kita sebagai orang Kristen, sangat-lah penting kalau kita mengerti orang lain. Bila seseorang datang kepada Anda untuk bersekutu, janganlah banyak berkata-kata. Sebaliknya, dengarlah lawan bicara Anda ber-bicara. Akan tetapi, banyak orang yang mempunyai kebia-saan memotong pihak lain dan berbicara terlalu cepat. Bila kita mau mempunyai persekutuan yang benar dengan orang lain, batin kita perlu seperti danau yang tenang. Tetapi si-kap cerewet mengaduk air dan membuat danau itu menjadi keruh.

Para penatua hendaknya menjadi teladan dalam semua aspek positif hidup gereja. Mereka hendaknya menjadi tela-dan dalam berdoa dan memamerkan kebajikan kebijaksa-naan. Jika seorang saudara bisa diam selama 15 menit se-mentara seseorang sedang bersekutu dengannya, ia akan memenuhi syarat menjadi seorang penatua. Ketika sese-orang berbicara kepadanya, penatua hendaknya menjadi da-nau yang tenang, jernih, dan bening. Ini adalah salah satu syarat bagi seorang penilik jemaat. Sikap cerewet membuat seorang saudara tidak bersyarat menjadi penatua. Seorang penatua yang benar adalah orang yang tenang, teduh, tajam dalam pengertian, dan memiliki daya pembeda.

5. Tertib

Kata “sopan” dalam 3:2 ini menurut bahasa aslinya lebih tepat diterjemahkan sebagai “tertib”, ini juga berarti patut, serasi dengan keadaan. Bertindak menurut tata ter-tib, bertindak secara patut, berarti selalu bertindak serasi dengan keadaan. Tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lam-bat; tidak terlalu berani, juga tidak terlalu takut. Orang yang tertib adalah orang yang selalu berbuat apa yang se-patutnya. Orang yang tertib akan berbicara bila perlu ber-bicara dan akan diam bila perlu diam. Ia juga dapat ter-tawa bila pantas tertawa.

Syarat yang satu ini memperlihatkan betapa sulitnya menjadi seorang penatua. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa menjadi penatua adalah tugas yang paling sulit di dunia. Betapa sulitnya hanya untuk memenuhi syarat yang satu ini, yaitu tertib. Bahkan dalam cara memakai telepon, seorang penatua haruslah tertib. Di satu pihak, ia tidak se-harusnya berbicara terlalu lama, di pihak lain, bila perca-kapannya terlalu singkat, ia dapat menyinggung perasaan orang lain. Mungkin sekali kita menjadi ekstrem dalam hal memakai telepon. Misalnya, ada orang meletakkan gagang telepon tidak pada tempatnya, tidak mau berbicara dengan siapa pun. Ekstrem lainnya adalah percakapan teleponnya terlalu panjang; keduanya tidaklah tertib.

Para penatua hendaknya tertib dalam cara mereka berbicara dengan orang lain. Adakalanya mereka perlu berbicara keras; pada waktu lain, mereka perlu berbicara lembut.

Selain itu, penatua harus tertib dalam cara memotong rambut. Membiarkan rambut terlalu panjang atau terlalu pendek tidaklah tertib. Melalui beberapa contoh ini kita dapat melihat bahwa syarat menjadi penatua benar-benar tanpa batas.

Karena permintaan terhadap penatua sangat banyak dan sulit, maka orang yang berambisi menjadi penatua ten-tu akan sia-sia. Mereka yang mempunyai ambisi ini tidak tahu betapa sulitnya menjadi penatua. Bila seorang sau-dara tidak memiliki keinginan dengan motivasi yang murni bagi pemulihan Tuhan, ia tidak sepatutnya ingin menjadi penatua. Ia seharusnya menuntut pemenuhan ambisinya di luar gereja, bukan mengejar kedudukan sebagai penatua. Gereja bukanlah tempat bagi saudara untuk memuaskan ambisinya.

Permintaan terhadap jabatan penatua sangat ketat, syaratnya pun sangat tinggi. Sebab itu, saya bersimpati ter-hadap para penatua. Dari pengalaman saya tahu bahwa me-reka akan menerima telepon bahkan di tengah malam. Tidak ada pilihan lain selain menerima telepon itu dan memperhatikan keadaan orang yang meneleponnya.

Pada kesempatan ini saya ingin sedikit menghibur dan memberi semangat kepada anak-anak penatua. Anak-anak penatua mungkin merasa terganggu oleh kenyataan bahwa ayah mereka memberikan sebagian besar waktunya untuk gereja. Bila penatua tidak bisa memberi waktu yang cukup bagi hidup gereja, ia tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya dengan selayaknya. Akan tetapi, karena gereja banyak sekali menyita waktunya, ia hanya mempunyai se-dikit waktu yang dicurahkan untuk anak-anaknya. Saya ingin mendorong anak-anak penatua agar menyadari bahwa ayah mereka yang memberikan waktunya bagi gereja sangat-lah diperkenan Allah. Sementara waktu ini anak-anak me-mang sulit menerima. Tetapi Tuhan akan memberi pahala. Mereka tidak seharusnya merasa kecewa atas situasi me-reka, sebaliknya mereka harus bergembira bahwa ayah me-reka telah menguduskan hidupnya dan waktunya bagi pe-mulihan Tuhan. Pada akhirnya, anak-anak penatua akan menikmati pahala Tuhan.

Menjadi penatua adalah berkat yang besar bagi keluarga dan bagi gereja. Sebab itu, sangatlah berharga bila seorang saudara ingin menjadi penatua. Walaupun menjadi penatua adalah pekerjaan yang paling sulit, tetapi merupakan berkat yang besar.

Orang-orang yang menjadi penatua gereja dalam pemu-lihan Tuhan dibebani oleh Tuhan dan dipilih menurut pe-meriksaan, penilikan, dan pertimbangan terlebih dulu dari mata rohani gereja. Mereka bukan dipilih melalui pemungut-an suara, dan mereka berbeda sekali dengan orang-orang yang disebut penatua dalam denominasi-denominasi.

6. Suka Memberi Tumpangan

Syarat lain bagi seorang penilik ialah harus suka mem-beri tumpangan. Memberi tumpangan menuntut adanya kasih, kepedulian terhadap orang lain, dan kesabaran. Se-mua kebajikan ini harus dimiliki seorang penatua agar dia memenuhi syarat.

Tidak ada yang lebih mengganggu daripada memberi tumpangan. Kesukaan memberi tumpangan menguji kuali-fikasi penatua. Prinsip memberi tumpangan ini adalah memberi tanpa menerima, rela menderita tanpa meminta apa pun sebagai imbalannya. Memberi tumpangan berarti berkorban dengan sukacita, tetapi tanpa balas jasa. Seorang penatua harus memiliki hati dan roh yang suka memberi tumpangan sedemikian.

7. Pandai Mengajar Orang

Dalam ayat 2 Paulus berkata bahwa seorang penatua hendaknya pandai mengajar. Mengajar di sini sama dengan pengajaran orang tua kepada anak-anak mereka. Seorang penatua harus pandai memberikan pengajaran secara kekeluargaan kepada anggota gereja lokal.

Jika orang tua tidak mempunyai pendidikan yang baik, akan sukar baginya mengajar anak-anaknya. Demikian juga, bila penatua ingin cakap mengajar, mereka perlu berpenge-tahuan. Contohnya, seorang penatua hendaknya mampu menjelaskan apa itu rahasia Kristus. Bila seorang saudara tidak berpengetahuan terhadap kebenaran, ia tidak meme-nuhi syarat menjabat sebagai penatua. Seorang penatua hendaknya mampu mengajar umat saleh seperti orang tua menolong anaknya mengerjakan pekerjaan rumah. Akan tetapi, ini bukan berarti setiap penatua hendaklah seorang guru. Orang tua tidak perlu menjadi guru agar dapat mem-bantu anak-anak mereka mengerjakan pekerjaan rumah-nya. Demikian pula, bukan semua penatua adalah guru, te-tapi mereka hendaknya pandai mengajar.

8. Bukan Peminum

Dalam ayat 3 Paulus menyebutkan syarat-syarat lain-nya: “Bukan peminum, bukan pemarah, melainkan pera-mah, pendamai, bukan hamba uang.” Ketika Paulus berka-ta bahwa seorang penatua bukan seorang peminum, tentu yang dimaksudkannya adalah peminum arak. Akan tetapi, prinsipnya di sini adalah seorang penatua janganlah berle-bihan dalam segala sesuatu. Ini menuntut pengendalian diri yang kuat. Dalam hal makanan dan pakaian, misalnya, penatua janganlah berlebihan. Ini menguji kemampuannya untuk melatih pengendalian diri.

9. Bukan Pemarah

Syarat berikutnya adalah “bukan pemarah (pemukul)”. Ini bertalian dengan mengendalikan temperamen seseorang. Ini memerlukan pengekangan temperamen yang kuat. Se-orang penatua hendaknya orang yang temperamennya tidak terumbar.

10. Peramah

Peramah adalah mudah menerima saran orang, mu-dah didekati, lembut, pantas, dan penuh pertimbangan dalam menghadapi orang lain, tanpa sikap yang keras.

11. Tidak Suka Berbantahan (Pendamai)

Seorang penatua hendaknya tidak suka berbantahan. Ia hendaknya bukan orang yang suka bertengkar, melain-kan pendamai dan tidak berdebat dengan orang lain atau berbantahan dengan mereka. Bahkan jika seorang datang untuk bertengkar dengannya, ia tidak seharusnya membalas, tetapi belajar menjadi pendamai.

12. Bukan Hamba Uang

Seorang penatua haruslah bukan hamba uang. Uang adalah ujian bagi semua orang. Seorang penatua harus ber-sih dalam perkara yang berhubungan dengan uang, khu-susnya karena keuangan gereja berada di bawah pengelolaan penatua (Kis. 11:30). Seorang penatua harus menyadari bahwa uang yang lewat melalui tangannya bukanlah untuk keuntungan pribadinya. Ia bahkan tidak boleh memiliki pikiran tentang keuntungan keuangan.

13. Seorang Kepala Keluarga yang Baik

Dalam ayat 4 dan 5 Paulus meneruskan, “Seorang ke-pala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya; jikalau seseorang tidak tahu mengepalai keluar-ganya sendiri, bagaimana ia dapat mengurus jemaat Allah?” Mengepalai atau mengurus keluarganya dengan baik adalah bukti bahwa seseorang memenuhi syarat untuk menilik gereja lokal. Seorang penatua harus mengatur keluarganya dengan baik dan memeliharanya agar tertib. Jelas sekali bahwa orang yang tidak tahu mengurus keluarganya sen-diri, tidak dapat mengurus gereja Allah.

14. Janganlah Seorang yang Baru Bertobat

Ayat 6 berkata, “Janganlah ia seorang yang baru berto-bat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman seperti yang terjadi pada Iblis.” Kata Yunani yang

diterjemahkan “sombong” secara harfiah berarti diselubungi asap. Kesombongan di sini dilambangkan seperti asap yang menyelubungi pikiran, menyebabkannya menjadi buta, di-pengaruhi oleh rasa bangga diri yang tersembunyi. Orang yang dibutakan dengan kesombongan dapat jatuh dalam hukuman Iblis. Penghukuman ini mengacu kepada hukum-an yang diderita oleh Iblis karena dia menyombongkan kedudukannya yang tinggi (Yeh. 28:13-17). Iblis dihukum karena pemberontakannya yang berasal dari kesombongan. Iblis itu sombong, buta, dan pemberontak. Karena hal itu, ia dihukum oleh Allah.

15. Mempunyai Kesaksian Baik di Luar Jemaat

Dalam ayat 7 Paulus menyimpulkan, “Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.” Seorang penatua harus benar terhadap diri sendiri, keluarga, gereja, dan orang-orang luar — masyarakat. Dan menurut konteks-nya, seorang penatua harus benar dalam maksud, motivasi, karakter, sikap, perkataan, dan perbuatan.

Jatuh ke dalam penghukuman yang diderita oleh Iblis adalah dikarenakan kesombongan penatua itu sendiri; jatuh ke dalam jerat Iblis bisa dikarenakan oleh cemoohan orang luar. Seorang penatua harus waspada, di satu pihak jangan sampai menyombongkan diri, di pihak lain jangan sampai dicela orang; supaya dia bisa menghindari jerat Iblis.

II. Diaken

A. Syarat Diaken

Dalam ayat 8 Paulus berkata, “Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah.” Diaken adalah orang-orang yang melayani. Penilik mengurus gereja, dia-ken melayani gereja di bawah pengarahan penatua. Di ge-reja lokal hanya ada dua jabatan ini.

1. Terhormat

Diaken-diaken haruslah terhormat. Kebajikan ini membangkitkan dan mengundang rasa hormat dan rasa segan. Orang yang terhormat bukanlah orang yang kendur atau ringan.

2. Jangan Bercabang Lidah

Ular adalah binatang yang bercabang lidah. Seorang diaken di gereja lokal, yang melakukan pelayanan kepada kaum saleh, mungkin mudah bercabang lidah ketika berhu-bungan dengan kaum saleh. Dalam keadaan begitu, dia me-nampilkan sifat setan dan mendatangkan maut ke dalam hidup gereja.

Hari ini kita lebih sering menggunakan ungkapan ber-muka dua daripada bercabang lidah. Orang yang bermuka dua adalah orang yang munafik. Ia bisa berbicara begini ke-pada seorang saudara ketika saudara itu hadir, kemudian berbicara begitu ketika saudara itu tidak hadir. Diaken-diaken seharusnya jangan bercabang lidah atau bermuka dua. Jika Anda tidak ada pimpinan Tuhan untuk berbicara terus terang kepada seorang saudara mengenai keadaannya, berdiam dirilah. Jangan berkata apa pun untuk menye-nangkannya. Selanjutnya, Anda jangan membicarakan dia secara negatif di belakang punggungnya.

Diaken-diaken hendaknya menunaikan tugasnya tanpa terlalu banyak bicara. Akan tetapi, memang ada godaan be-sar untuk bicara berlebihan. Dalam kontaknya dengan para penatua, diaken-diaken itu bisa memperoleh informasi ten-tang perkara-perkara tertentu. Ada godaan untuk menerus-kan informasi tersebut. Bilamana seorang diaken berperi-laku demikian, ia menjadi pusat informasi gereja. Diaken-diaken itu bukanlah pemberi informasi. Mencegah beredar-nya informasi yang tidak perlu akan membunuh kuman-kuman yang mematikan dalam hidup gereja.

3. Jangan Penggemar Anggur

Diaken-diaken janganlah penggemar anggur. Penggemar anggur adalah tanda ketidakmampuan mengendalikan diri. Seorang diaken dalam pelayanan di gereja lokal harus penuh dengan pengendalian diri.

4. Jangan Serakah

Seorang diaken janganlah serakah, tidak seharusnya mengambil keuntungan dari pelayanannya terhadap orang-orang kudus. Mengambil keuntungan semacam itu berarti tamak terhadap keuntungan yang rendah (lihat 6:5b). Sebab itu, seorang diaken tidak boleh serakah akan uang.

5. Memelihara Rahasia Kepercayaan dalam Hati Nurani yang Suci

Ayat 9 berkata, “Memelihara rahasia iman (kepercaya-an) dalam hati nurani yang suci.” Kepercayaan di sini, seperti dalam 1 Timotius 1:19 dan 2 Timotius 4:7, bersifat obyektif, mengacu kepada hal-hal yang kita percayai, yaitu hal-hal yang membentuk Injil. Rahasia kepercayaan teruta-ma adalah Kristus sebagai rahasia Allah (Kol. 2:2) dan gereja sebagai rahasia Kristus (Ef. 3:4). Seorang diaken di suatu gereja lokal hendaknya mempertahankan rahasia ke-percayaan dengan pemahaman yang penuh dalam hati nu-rani yang suci bagi kesaksian Tuhan.

Jika diaken-diaken mengenal rahasia kepercayaan, standar pelayanan mereka akan terangkat. Kapan saja dia-ken-diaken diminta oleh para penatua untuk melakukan suatu hal atau menolong orang lain secara khusus, mereka harus menyadari bahwa mereka melayani kaum saleh da-lam rahasia kepercayaan. Ini akan mempertinggi pelayanan mereka. Jika para diaken berkontak dengan orang lain berdasarkan ekonomi Perjanjian Baru Allah, akan besar sekali bedanya.

Beberapa tahun yang lampau, saya mengunjungi istana kerajaan di London. Saya mengamati setiap aspek pelayan-an istana itu, dari pergantian penjaga hingga pekerjaan pembantu, semuanya dilakukan dengan standar tinggi dan dengan kewibawaan. Bahkan para pembantu pun berting-kah laku dengan kewibawaan dan kehormatan, sehingga mengundang rasa hormat orang lain. Lebih-lebih lagi pela-yanan para diaken dalam gereja lokal! Bahkan pembersihan kamar kecil pun harus dikerjakan dengan kewibawaan.

Mereka yang melayani sedemikian ini hendaknya menyadari bahwa mereka bukan membersihkan di tempat duniawi, melainkan melayani gereja, rumah Allah.

Dalam ayat 9 Paulus berbicara tentang hati nurani yang suci. Untuk mempertahankan rahasia kepercayaan bagi kesaksian Tuhan, perlu hati nurani yang suci sema-cam ini. Kita mungkin sudah mengetahui rahasia ini, tetapi kita tidak hidup sesuai dengannya. Akibatnya, kita tidak memiliki hati nurani yang suci, melainkan hati nurani yang menyalahkan kita. Seorang diaken perlu memperhati-kan bagaimana ia bersikap terhadap istrinya, anak-anak-nya, dan orang beriman lainnya. Kemudian ia mungkin menyadari kekurangannya bahwa ia tidak hidup menurut rahasia kepercayaan. Seorang diaken harus dibenarkan le-bih dulu oleh hati nuraninya. Ia harus mempunyai hati nurani yang bersaksi bahkan kepada setan-setan bahwa ia hidup sesuai dengan standar rahasia ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kemudian barulah ia dapat benar-benar meme-lihara rahasia kepercayaan dengan hati nurani yang suci.

6. Tak Bercacat

Dalam ayat 10 Paulus melanjutkan, “Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat.” Tak bercacat di sini berarti tidak bercela. Perkataan bahwa para diaken harus diuji dahulu mungkin menyiratkan pemagangan. Melayani adalah fungsi seorang diaken.

7. Suami dari Satu Istri

Ayat 12 mengatakan, “Diaken haruslah suami dari sa-tu istri.” Persyaratan ini sama dengan persyaratan penilik jemaat, seperti yang disebutkan dalam ayat 2.

8. Mengurus Anak-anaknya dan Keluarganya Sendiri dengan Baik

Dalam ayat 12 Paulus juga berkata bahwa diaken ha-rus “mengurus anak-anaknya dan keluarganya (sendiri) de-ngan baik”. Seorang saudara yang dapat mengurus anak-anaknya dan keluarga sendiri dengan baik membuktikan bahwa dia mampu melayani gereja.

B. Berkat Atas Diaken yang Baik

1. Beroleh Kedudukan yang Baik

Dalam ayat 13 Paulus menyebutkan berkat atas diaken yang baik, “Karena mereka yang melayani dengan baik ber-oleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman (keper-cayaan) kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi de-ngan leluasa (penuh keyakinan).” Ungkapan “kedudukan yang baik” mengacu kepada kedudukan (atau tumpuan) yang teguh dan mantap sebagai orang beriman dan orang kudus di hadapan Allah dan manusia. Melayani gereja de-ngan baik sebagai seorang diaken menguatkan kedudukan-nya sebagai orang Kristen.

2. Beroleh Keyakinan dalam Kepercayaan di dalam Kristus Yesus

Melalui melayani dengan baik, seorang diaken juga akan diberkati dengan keyakinan dalam kepercayaan di da-lam Kristus Yesus. Kata keleluasaan (LAI) juga berarti pe-nuh keyakinan. Melayani gereja dengan baik juga menguat-kan orang yang melayani dalam keberanian dan keyakinan atas kepercayaan orang Kristen. Kepercayaan di sini sub-yektif, mengacu kepada tindakan percaya kita.

III. DIAKEN PEREMPUAN

Ayat 11 mengatakan, “Demikian pula perempuan, hen-daklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah da-pat menahan diri, dan dapat dipercayai dalam segala hal” (Tl.). Kata “perempuan” (istri-istri, LAI) dalam ayat ini mengacu kepada diaken perempuan (Rm. 16:1), bukan istri-istri diaken. Saudari-saudari yang melayani dalam gereja adalah diaken-diaken perempuan. Mereka harus orang ter-hormat. Selanjutnya janganlah pemfitnah. Ini berkaitan dengan “jangan bercabang lidah” dalam ayat 8. Iblis adalah pemfitnah (Why. 12:10). Memfitnah berarti menyatakan sifat pemfitnah yang jahat. Saudari yang berstatus diaken perempuan, yang melayani di gereja lokal di antara banyak saudari yang lain, harus menjauhi fitnah, tindakan jahat dari Iblis.

Diaken perempuan juga harus dapat menahan diri dan setia dalam segala hal. Kita telah menunjukkan bahwa da-pat menahan diri adalah dapat mengendalikan diri, lemah lembut. Pesan agar setia dalam segala hal berkaitan dengan “jangan serakah” dalam ayat 8. Seorang saudari yang ber-status diaken perempuan harus setia dan dapat dipercaya dalam segala hal, khususnya dalam hal-hal yang berhu-bungan dengan keuntungan.