EKONOMI ALLAH LAWAN AJARAN LAIN
Pembacaan Alkitab: 1 Tim. 1:1-17
Dengan berita ini kita memulai serangkaian berita Pelajaran-Hayat mengenai Kitab 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, dan Filemon. Dalam pelajaran-pelajaran-hayat sebe-lumnya, kita telah membahas enam kitab yang ditulis oleh Paulus: Roma, Ibrani, Efesus, Kolose, Galatia, dan Filipi. Dalam keenam kitab ini kebenaran-kebenaran yang menda-sar dan penting mengenai Kristus dan gereja telah diung-kapkan. Empat Surat Kiriman lainnya yang ditulis oleh Paulus ialah Surat 1 Korintus, 2 Korintus, 1 Tesalonika, dan 2 Tesalonika.
Dari 14 Surat Kiriman yang ditulis oleh Paulus, Surat Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Roma, dan Ibrani sangat mendasar dan dapat dijadikan satu kelompok; sedangkan Surat 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, dan Filemon satu ke-lompok lain. Kita yakin bahwa kitab-kitab di dalam Perjan-jian Baru disusun seturut kedaulatan Tuhan. Dalam susunan yang berdaulat ini, keempat kitab ini 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, dan Filemon digolongkan sebagai satu kelompok.
Mungkin Anda bertanya, bagaimana keempat surat Paulus lainnya — 1 Korintus, 2 Korintus, 1 Tesalonika, dan 2 Tesalonika — dihubungkan dengan dua kelompok su-rat-surat yang pertama. Kelompok pertama terdiri atas enam kitab, yang mengandung wahyu dasar mengenai Kristus dan gereja, sedangkan kelompok kedua terdiri atas empat kitab, yang membahas ekonomi Allah terhadap ge-reja. Kelompok ini membicarakan pengaturan ekonomi Allah terhadap gereja. Kitab 1 dan 2 Korintus memperkuat kedua kelompok Surat Kiriman ini. Dalam kedua kitab ini kita nampak wahyu yang lebih lanjut dan lebih kaya mengenai Kristus dan gereja. Di satu pihak, dalam 1 dan 2 Korintus terdapat kekayaan yang lebih lanjut tentang Kristus; di pi-hak lainnya, kitab-kitab ini memperkuat ekonomi Allah mengenai gereja. Kemudian bagaimana dengan Kitab 1 dan 2 Tesalonika? Di dalam kedua Surat Kiriman itu Paulus menampakkan pengharapan kita, pengharapan akan kemu-liaan, yaitu penampakan Tuhan kita, Yesus Kristus yang terkasih.
I. TUJUAN KEEMPAT SURAT KIRIMAN INI
A. Satu Timotius —
Mengungkapkan Ekonomi Allah terhadap Gereja
Surat Timotius mengungkapkan ekonomi Allah terhadap gereja. Tidaklah mudah menyajikan ringkasan yang singkat namun almuhit dari kitab ini. Hanya bila kita menggali kedalaman kitab ini, barulah kita menyadari bahwa inilah pokoknya. Bila kita memasuki kedalaman kitab ini, kita akan nampak bahwa kitab ini dapat diringkas sebagai kitab yang membicarakan ekonomi Allah terhadap gereja, yang juga adalah ekonomi Perjanjian Baru-Nya.
Dalam 1:4 Paulus menggunakan istilah yang luar biasa “ekonomi Allah” (terjemahan langsung; tata hidup kesela-matan, LAI). Ekonomi ini adalah pemerintahan (adminis-trasi) ekonomikal. Jadi, mengacu kepada ekonomi Allah. Ekonomi Allah diwahyukan dalam empat ungkapan yang terdapat dalam 1 Timotius 3: Agunglah rahasia ibadah ini; Allah telah menyatakan diri-Nya dalam daging (rupa manu-sia); gereja adalah rumah Allah yang hidup; gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran. Ekonomi Allah berhu-bungan dengan rahasia agung tentang ibadah, penyataan Allah di dalam daging, sebagai rumah Allah yang hidup, dan gereja sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran. Bila ekonomi Allah dijajarkan bersama keempat hal ini, kita akan nampak bahwa Kitab 1 Timotius dalam kenya-taannya mengungkapkan ekonomi Allah terhadap gereja.
B. Dua Timotius — Suntikan Penangkal terhadap Kemerosotan Gereja
Surat 2 Timotius mengimunisasi kita terhadap kemero-sotan gereja. Di satu pihak, imunisasi bersifat positif; di pihak lain bersifat negatif, karena hal ini menunjukkan bahwa kita perlu dilindungi dari penyakit yang dapat mem-bunuh kita. Tujuan Paulus dalam menulis Kitab 2 Timotius adalah untuk mengimunisasi gereja terhadap kemerosotan, kejatuhan, dan kemunduran.
C. Titus — Pemeliharaan Ketertiban
Surat Titus membahas pemeliharaan ketertiban gereja. Kitab ini ditulis untuk menegaskan bahwa suatu gereja lokal mempunyai suatu tatanan atau ketertiban yang tepat.
Pengungkapan ekonomi Allah terhadap gereja dalam Surat 1 Timotius, imunisasi ilahi melawan kemerosotan ge-reja dalam Surat 2 Timotius, dan pemeliharaan ketertiban gereja dalam Surat Titus adalah tiga aspek dari satu tu-juan, yaitu memelihara gereja sebagai ekspresi yang tepat dari Allah Tritunggal, seperti yang dilambangkan dengan kaki pelita emas pada bagian akhir wahyu ilahi (Why. 1:12, 20). Untuk merampungkan tujuan ini, ketiga surat ini ber-kali-kali menekankan beberapa hal yang penting dan men-dasar di bawah ini.
(1). Kepercayaan, adalah isi Injil yang lengkap menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kepercayaan ini bersifat obyektif, disebut dalam 1 Timotius 1:4, 19; 2:7; 3:9, 13; 4:1, 6; 5:8; 6:10, 12, 21; 2 Timotius 3:8; 4:7; Titus 1:1, 4, 13.
(2). Kebenaran (truth), adalah realitas isi kepercayaan, disebut dalam 1 Timotius 2:4, 7; 3:15; 4:3; 6:5; 2 Timotius 2:15, 18, 25; 3:7-8; 4:4; Titus 1:1, 14.
(3). Ajaran sehat, dalam 1 Timotius 1:10; 2 Timotius 4:3; Titus 1:9; 2:1; perkataan sehat, dalam 1 Timotius 6:3; 2 Timotius 1:13; pemberitaan sehat, dalam Titus 2:8, sehat dalam kepercayaan dan iman dalam Titus 1:13; 2:2. Semua ini berhubungan dengan keadaan hayat.
(4). Hayat, adalah hayat kekal Allah, dalam 1 Timotius 1:16; 6:12, 19; 2 Timotius 1:1, 10; dan Titus 1:2; 3:7.
(5). Ibadah, adalah suatu kehidupan yang mengekspresikan Allah, disebut dalam 1 Timotius 2:2, 10 (saleh), 3:16; 4:7-8; 5:4 (berbakti); 6:3, 5-6, 11; 2 Timotius 3:5, 12 (saleh); dan Titus 1:1; 2:12 (saleh). Lawan katanya ada-lah kefasikan, disebut dalam 1 Timotius 1:9, 2 Timotius 2:16; dan Titus 2:12.
(6). Iman, adalah tindak percaya kita kepada Injil, Allah, firman Allah, dan perbuatan Allah. Iman di sini bersi-fat subyektif, disebut dalam 1 Timotius 1:2, 5, 14, 18; 2:15; 4:12; 6:11; 2 Timotius 1:5, 13; 2:22; 3:10, 15; dan Titus 2:2; 3:15.
(7). Hati nurani, adalah bagian utama dalam roh kita, yang membenarkan atau menyalahkan hubungan kita dengan Allah dan dengan manusia. Ini disebut dalam 1 Timotius 1:5, 19; 3:9; 4:2; 2 Timotius 1:3; Titus 1:15. Kepercayaan sama dengan isi ekonomi Allah, pemerintahan (administrasi) rumah tangga Allah, pengaturan Allah. Kebenaran adalah realitas, adalah isi dari kepercayaan me-nurut ekonomi Allah. Ajaran yang sehat, perkataan yang sehat, dan pemberitaan yang sehat adalah ministri kebenar-an, yang menyuplaikan realitas kebenaran ilahi kepada orang. Hayat kekal adalah sarana dan kekuatan untuk meram-pungkan realitas ilahi dari kepercayaan. Ibadah adalah ke-hidupan yang mengekspresikan realitas ilahi, ekspresi Allah dalam segala kekayaan-Nya. Iman (yang subyektif) adalah respon terhadap kebenaran kepercayaan (yang obyektif), menerima dan berbagian dalam realitas ilahi. Hati nurani adalah penguji dan pemeriksa untuk menjaga kita terus da-lam kepercayaan.
D. Filemon — Ilustrasi Kesamaan Status
Kaum Beriman di dalam Manusia Baru
Kitab Filemon kelihatannya tidak berhubungan dengan Kitab 1 dan 2 Timotius dan Titus. Menurut banyak guru Alkitab, ketiga kitab ini disebut kitab penggembalaan (pas-toral), yaitu kitab yang memberi instruksi bagaimana me-layani, menggembalakan suatu gereja. Karena istilah pastoral sebagaimana diterapkan kepada kitab-kitab ini terlalu dangkal, saya lebih condong untuk tidak menggunakannya. Akan tetapi saya akui bahwa ada unsur pelayanan, peng-gembalaan dalam kitab-kitab ini. Tetapi terlalu dangkal untuk membicarakan kitab-kitab ini sebagai kitab-kitab penggembalaan. Bila kita meninjau ke kedalaman kitab-kitab ini dan menyadari bahwa kitab-kitab ini masing-ma-sing membicarakan tentang ekonomi Allah terhadap gereja, imunisasi ilahi melawan kemerosotan gereja, dan pemeliha-raan ketertiban gereja, kita akan memahami bahwa Kitab Filemon seyogianya dijadikan satu dengan kitab-kitab ini.
Dalam Kitab Filemon kita nampak ilustrasi kesamaan status kaum beriman di dalam manusia baru. Walaupun Filemon adalah majikan, dan Onesimus adalah hamba, me-reka memiliki kesamaan status di dalam manusia baru. Seperti yang akan kita nampak, Onesimus melarikan diri dari majikannya, tetapi diselamatkan melalui Paulus di da-lam penjara. Kemudian Paulus mengembalikannya kepada Filemon bukan sebagai seorang hamba, tetapi sebagai se-orang saudara yang terkasih di dalam Kristus. Karena itu, di sini kita nampak suatu ilustrasi kesamaan status kaum beriman di dalam manusia baru. Bila Surat Kiriman ini kita jajarkan dengan Kitab 1 dan 2 Timotius dan Titus, kita akan mengetahui bagaimana caranya memiliki kehidupan gereja lokal yang tepat.
Judul berita ini adalah “Ekonomi Allah Lawan Ajaran Lain”. Sedikit sekali pembaca Alkitab yang nampak hal ini dalam 1 Timotius 1. Tetapi dalam pasal ini terdapat suatu masalah yang menjelaskan bahwa ekonomi Allah berlawan-an dengan ajaran yang lain. Apakah inti wahyu Allah, inti ekonomi Allah? Ekonomi Allah adalah menyalurkan diri-Nya sendiri di dalam Kristus melalui Roh itu ke dalam umat pilihan-Nya agar mereka dapat memiliki hayat dan sifat ilahi, menjadi Tubuh Kristus, manusia baru, gereja, untuk mengekspresikan Allah di dalam alam semesta ini. Ini adalah butir yang sangat penting. Problem yang ada di antara orang-orang Kristen selama berabad-abad ialah ada-nya ajaran-ajaran lain yang berlawanan dengan wahyu Allah. Beberapa orang menyatakan bahwa mereka mengajar orang-orang untuk dibaptis selam, ini adalah mengajar menurut wahyu Allah. Walaupun ini mungkin benar, baptis selam bukanlah butir utama dari wahyu ilahi. Butir yang sangat penting tidak berkaitan dengan baptis selam, atau apakah kita memakai arak atau sari buah anggur pada meja Tuhan, atau apakah kita percaya bahwa pengangkatan terjadi sebe-lum, sesudah, atau di tengah-tengah masa kesusahan besar. Butir utama ekonomi Allah juga bukan patung yang besar dalam Daniel 2 atau binatang-binatang dalam Wahyu 13. Betapa kasihannya orang-orang Kristen memperdebatkan jenis air yang dipakai dalam pembaptisan, sebaliknya meng-abaikan ekonomi Allah sama sekali! Kita perlu sekali nam-pak bahwa ekonomi Allah adalah penyaluran diri-Nya sendiri sebagai Allah Tritunggal yang ajaib — Bapa, Putra, dan Roh — ke dalam orang-orang yang dipilih-Nya agar setelah memiliki hayat dan sifat-Nya, mereka menjadi anak-anak-Nya, anggota-anggota Kristus, untuk mengekspresikan diri-Nya di alam semesta. Inilah wahyu utama dalam Alkitab, yang dibicarakan Alkitab sebagai ekonomi Allah.
Pada zaman Paulus, ada beberapa orang yang meng-ajarkan ajaran lain sama seperti halnya hari ini. Mereka mengajarkan hal-hal yang berlawanan dengan ekonomi Allah. Akan tetapi Petrus, Yohanes, Yakobus, Paulus, dan para rasul yang lainnya memberitakan hal yang sama — Kristus dan gereja. Walaupun rasul-rasul itu banyak, ministri me-reka satu. Jangan mengira bahwa Petrus, Yohanes, Yakobus, dan Paulus mengajarkan hal yang berbeda satu sama lain. Tidak. Mereka semua mengajarkan Kristus dan gereja.
Di dalam keempat kitab Injil satu persona diungkap-kan melalui empat biografi. Biografi-biografi ini ditulis dari sudut yang berbeda-beda, tetapi mereka tidak mengungkap-kan lebih dari satu persona. Keempat-empatnya itu meng-ungkapkan persona yang sama, Tuhan Yesus Kristus. Kare-na persona ajaib ini mempunyai satu Tubuh, mulai dengan Kitab Kisah Para Rasul yang berlanjut hingga akhir Per-janjian Baru, kita nampak Tubuh persona ini. Sekali lagi saya katakan, semua rasul memberitakan dan mengajarkan hal yang sama, Kristus dan gereja.
Karena para rasul mengajarkan dan memberitakan Kristus dan gereja, mereka semua mempunyai satu mi-nistri. Karena itu Paulus dapat berkata, “Kami telah mene-rima pelayanan ini” (2 Kor. 4:1). Rasul itu banyak, tetapi mereka telah menerima satu ministri saja. Dalam Kisah Para Rasul 1 terdapat petunjuk lebih lanjut yang menje-laskan bahwa semua rasul itu berada dalam ministri yang satu dan sama (ayat 17). Apa pun yang disebut ministri yang berbeda dari ministri Paulus dan rasul-rasul lainnya, sebenarnya bukanlah ministri sama sekali, tetapi merupa-kan ajaran yang lain. Menurut Perjanjian Baru, ministri yang hanya satu itu meministrikan Kristus kepada umat pilihan Allah, agar gereja terbentuk. Ini adalah ekonomi Allah, yang berlawanan dengan segala macam ajaran yang lain. Ekonomi Allah tentu saja bukanlah perkara penudung-an kepala, pembasuhan kaki, dan peraturan-peraturan ten-tang makan atau memelihara hari-hari. Ekonomi Allah berlawanan dengan ajaran-ajaran yang lain ini.
II. PENDAHULUAN
A. Paulus, Rasul Kristus Yesus
Paulus memulai Kitab 1 Timotius dengan kata-kata, “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, pengharapan kita.” Paulus menjadi rasul menurut perintah Allah dan Kristus. Dalam Surat Kirimannya yang terdahulu, ia memberi tahu kita bahwa ia menjadi rasul berdasarkan kehendak Allah (1 Kor. 1:1; 2 Kor. 1:1; Ef. 1:1; Kol. 1:1). Perintah Allah ada-lah pernyataan yang tegas dan petunjuk lebih lanjut dari kehendak Allah.
Allah Juruselamat kita (1 Tim. 1:1; 4:10; dan Tit. 2:13) dan “Allah, Juruselamat kita” dalam 1 Timotius 2:3; dan Titus 1:3; 2:10; 3:4, adalah sebutan khusus kepada Allah dalam ketiga kitab ini: 1 Timotius, 2 Timotius, dan Titus. Ketiga kitab ini menjadikan keselamatan Allah sebagai dasar yang kuat, untuk mengajarkan ekonomi Perjanjian Baru Allah (1:15-16; 2:4-6; 2 Tim. 1:9-10; 2:10; 3:15; Tit. 2:14; 3:5-7). Menurut perintah Allah Penyelamat, Allah Ju-ruselamat yang demikianlah Paulus menjadi rasul, bukan menurut perintah Allah yang memberikan hukum Taurat, Allah yang menuntut.
Dalam 1:1 Paulus berkata, “Kristus Yesus pengharapan kita.” Kristus Yesus bukan hanya Yang Diurapi Allah (Kristus) menjadi Juruselamat kita (Yesus), supaya kita di-selamatkan, mendapatkan hayat kekal Allah, tetapi juga menjadi pengharapan kita, membawa kita masuk ke dalam berkat dan kenikmatan penuh atas hayat kekal ini. Peng-harapan akan hayat kekal yang diwahyukan dalam Titus 1:2, sebagai dasar dan syarat jabatan kerasulan Paulus, dan pengharapan yang penuh bahagia yang diwahyukan da-lam Titus 2:13 yang kita nantikan sebagai penampakan ke-muliaan Allah yang agung dan Juruselamat kita, semuanya berhubungan erat dengan persona Mesias Allah, Jurusela-mat kita. Sebab itu, Dia sendiri adalah harapan mulia kita (Kol. 1:27). Paulus menjadi rasul bukan hanya menurut pe-rintah Allah Juruselamat kita, tetapi juga menurut perin-tah Dia yang menyelamatkan kita dengan hayat kekal, dan yang akan membawa kita masuk ke dalam kemuliaan ha-yat ini. Perintah-Nya berasal dari hayat kekal dan akan di-genapi dengan hayat kekal, tidak seperti perintah Allah pemberi hukum Taurat yang terdiri atas huruf dan yang akan digenapi dengan usaha manusia, tanpa suplai hayat kekal.
B. Kepada Timotius, Anak Sah di dalam Iman
Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan kata pendahuluan-nya: “Kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman: Anugerah, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.” Dalam ba-hasa Yunani, nama Timotius adalah Timotheos, terdiri atas kata “time” yang berarti “hormat”, dan “theos” yang berarti “Allah”. Jadi, artinya adalah menghormati Allah. Timotius menjadi anak Paulus yang sah, bukan berdasarkan kela-hiran alamiah, melainkan dalam iman, yaitu dalam ruang lingkup dan unsur iman; bukan secara jasmani, melainkan secara rohani.
III. EKONOMI ALLAH LAWAN AJARAN LAIN
A. Ajaran Lain
Dalam ayat 3 Paulus berkata, “Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain.” Perkataan Paulus tentang “per-jalanan ke Makedonia” tentunya ditujukan pada perjalanan-nya setelah ia dibebaskan dari pemenjaraannya yang perta-ma di Roma. Mungkin ia menulis surat ini dari Makedonia (di sebelah utara Yunani dan di sebelah selatan Bulgaria yang sekarang).
Dalam ayat 3 Paulus menyebut “orang-orang tertentu”. Mereka adalah orang-orang yang berbeda pendapat, atau se-sat, seperti yang disebut dalam ayat 6 dan Galatia 1:7; 2:12.
Mengajarkan ajaran lain mengacu kepada mengajarkan mitos dan silsilah yang tiada putus-putusnya (ayat 4), dan hukum Taurat (ayat 7-8). Semua ajaran itu adalah omong-an yang sia-sia (ayat 6), berbeda dengan ajaran rasul yang berintikan pada Kristus dan gereja, yaitu pada ekonomi Allah.
Surat-surat Kiriman Paulus telah melengkapi wahyu ilahi tentang ketetapan kehendak kekal Allah dan ekonomi Allah (Kol. 1:25). Ministrinya telah melengkapi wahyu ten-tang Kristus yang almuhit dan Tubuh Universal-Nya, yaitu gereja sebagai kepenuhan-Nya untuk mengekspresikan-Nya. Mengenai gereja sebagai Tubuh Kristus, ada aspek hayat dan aspek pelaksanaan. Dari Kitab Roma sampai Kitab 2 Tesalonika, terdapat wahyu yang sempurna tentang hayat gereja, meliputi sifat, tanggung jawab, dan fungsi gereja. Dari Kitab 1 Timotius sampai Kitab Filemon disajikan wahyu yang rinci tentang pelaksanaan gereja, yang mem-bicarakan pemerintahan dan penggembalaan gereja lokal. Untuk ini, hal pertama yang perlu dilakukan adalah meng-akhiri ajaran lain dari orang yang sesat, yang menyimpang-kan kaum saleh dari garis inti dan sasaran akhir ekonomi Perjanjian Baru Allah (ayat 4-6). Ajaran lain dalam 1:3-4, 6-7; 6:3-5, 20-21, dan bidah di dalam 4:1-3, adalah benih dan sumber dari kemerosotan, kejatuhan, dan kemunduran gereja yang ditanggulangi dalam 2 Timotius.
1. Dongeng (Mitos)
Dalam ayat 4 Paulus melanjutkan, “ataupun sibuk de-ngan dongeng dan silsilah yang tidak putus-putusnya, yang menghasilkan angan-angan belaka, dan bukan ekonomi Allah dalam kepercayaan” (Tl.). Kata “dongeng” di sini, dalam ba-hasa Yunaninya adalah “mitos”. Kata yang sama diterje-mahkan “cerita-cerita takhayul” dalam 4:7 dan “dongeng” dalam 2 Timotius 4:4. Ini ditujukan kepada perkataan, pem-bicaraan, dan percakapan tentang desas-desus, laporan, ce-rita yang benar atau palsu, serta cerita fiksi. Mungkin ter-masuk cerita orang Yahudi tentang mukjizat, cerita palsu tentang rabi dan sebagainya. Kesemuanya itu adalah takha-yul dan dongeng nenek-nenek tua yang bersifat duniawi (4:7) serta mitos-mitos Yahudi (Tit. 1:14). Mitos-mitos Yahudi boleh jadi merupakan benih aliran “Mitologi Gnostik” (Gnostic Mithologie).
2. Silsilah yang Tidak Putus-putusnya
“Silsilah yang tidak putus-putusnya” yang disebut dalam ayat ini mungkin mengacu kepada silsilah Perjanjian Lama yang dibumbui dengan fabel (Tit. 3:9).
3. Menghasilkan Angan-angan Belaka
Mitos dan silsilah yang tidak putus-putusnya menghasilkan angan-angan dan perkataan sia-sia belaka, tidak mendatangkan faedah bagi ekonomi Allah.
4. Perkataan Sia-sia
Mitos dan silsilah yang tidak putus-putusnya mengha-silkan perkataan yang sia-sia dan membuat orang salah sasaran dari tujuan nasihat akan kasih. Dalam ayat 5 dan 6 Paulus berkata, “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni (baik) dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang menyeleweng dan yang tersesat dalam omongan yang sia-sia.” “Nasihat” dalam ayat 5 ditujukan kepada nasihat yang disebutkan dalam ayat 3. Ajaran lain dari orang yang sesat yang disebutkan dalam ayat 3 menyebabkan iri hati dan perselisihan di antara kaum beriman, ini bertentangan dengan kasih, tujuan nasihat rasul. Untuk melaksanakan nasihat rasul, diperlukan kasih yang timbul dari hati yang suci, hati nurani yang murni (baik), dan iman yang tulus ikhlas.
Hati yang suci adalah hati yang tulus tanpa cam-puran, hati yang hanya mencari Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sasaran. Hati nurani yang baik adalah hati nurani yang tanpa tuduhan (Kis. 24:16). Iman yang tulus ikhlas berhubungan dengan iman (kepercayaan) yang disebutkan dalam ayat 4, yaitu iman yang tanpa ke-pura-puraan atau kemunafikan, yang menyucikan hati (Kis. 15:9) dan bekerja melalui kasih (Gal. 5:6). Dalam arus kemerosotan gereja dan dalam menanggulangi ajaran lain, semua kebajikan (pekerti) ini harus kita miliki agar kita dapat memiliki kasih yang suci, benar dan sejati.
5. Hukum Taurat
Dalam ayat 7 Paulus menyinggung tentang guru-guru hukum Taurat, “Mereka itu hendak menjadi pengajar hu-kum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang mereka kemukakan secara mutlak (de-ngan yakin).” Guru-guru hukum Taurat, yang mengajar orang-orang mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, berbeda dengan minister Kristus (4:6), yang menyuplaikan kekayaan Kristus kepada orang lain. Kata-kata “secara mutlak” dalam bahasa aslinya ber-arti “dengan yakin”, atau “dengan kuat”, atau “dengan sung-guh-sungguh”. Kata yang sama dipakai dalam Titus 3:8. Menurut ayat ini, orang-orang yang hendak menjadi guru-guru hukum Taurat dengan yakin, dengan kuat mengemu-kakan hal-hal tertentu.
Menurut ayat 8-10, hukum Taurat itu baik kalau tepat. Paulus berkata bahwa “hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan tidak taat, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan tak beragama, bagi pembunuh bapak dan pem-bunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang ca-bul dan laki-laki yang bersetubuh dengan sesama jenisnya, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang yang bersumpah palsu dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan de-ngan ajaran sehat.”
Kata “ajaran sehat” menyiratkan perkara hayat. Ajar-an sehat sempurna dari para rasul, yang sesuai dengan Injil kemuliaan Allah, menyuplaikan ajaran sehat sebagai suplai hayat kepada orang, merawat mereka atau menyem-buhkan mereka. Sebaliknya, ajaran lain dari orang yang sesat dalam ayat 3 menaburkan benih maut dan racun ke dalam orang. Ajaran apa pun yang menyelewengkan orang dari inti dan sasaran ekonomi Perjanjian Baru Allah, ada-lah ajaran yang tidak sehat.
B. Ekonomi Allah
Dalam bahasa Yunani kata “ekonomi Allah” berarti hu-kum berarti ekonomi keluarga Allah (Ef. 1:10; 3:9), admi-nistrasi keluarga Allah, yaitu untuk menyalurkan diri-Nya dalam Kristus ke dalam orang-orang yang dipilih-Nya, su-paya Dia bisa mendapatkan satu rumah, untuk mengeks-presikan diri-Nya. Rumah ini adalah gereja (1 Tim. 3:15), Tubuh Kristus. Ministri rasul berpusat pada ekonomi Allah ini (Kol. 1:25; 1 Kor. 9:17), namun ajaran lain dari orang-orang yang sesat dipakai oleh musuh Allah untuk menyim-pangkan umat Allah dari ekonomi ini. Dalam administrasi dan penggembalaan gereja lokal, kita harus menjelaskan sepenuhnya ekonomi ilahi ini kepada kaum saleh.
Beban saya mutlak terkonsentrasi pada ekonomi Allah. Ini telah menjadi beban saya selama lebih dari 40 tahun. Selama bertahun-tahun saya berada di negeri ini, belum pernah saya mengajarkan apa pun selain ekonomi Allah.
1. Pengelolaan Rumah Tangga Allah
Ekonomi Allah adalah pengelolaan rumah tangga-Nya. Menurut Alkitab, Allah pertama-tama bukan ingin memiliki kerajaan, melainkan ingin memiliki suatu rumah, suatu ke-luarga. Begitu Dia memiliki keluarga, keluarga-Nya dengan spontan akan menjadi kerajaan-Nya. Bila Dia tidak bisa memperoleh suatu keluarga, rumah tangga, rumah, Dia tidak akan bisa memiliki kerajaan. Jadi, ekonomi Allah per-tama-tama adalah perkara pengelolaan rumah tangga-Nya.
2. Pemerintahan Rumah Tangga Allah
Kedua, ekonomi Allah adalah pemerintahan rumah tang-ga-Nya untuk menyalurkan diri-Nya sendiri di dalam Kristus ke dalam umat pilihan-Nya agar Dia memiliki sebuah ru-mah, rumah tangga, gereja, Tubuh Kristus, untuk meng-ekspresikan diri-Nya sendiri.
3. Inti Ministri Rasul Paulus
Ekonomi Allah adalah inti ministri Rasul Paulus (Kol. 1:25; 1 Kor. 9:17).
4. Dalam Iman (Kepercayaan)
Dalam ayat 4 Paulus memberi tahu kita bahwa eko-nomi Allah adalah di dalam kepercayaan. Tersalurnya Allah ke dalam kita mutlak adalah melalui percaya. Ekonomi Allah adalah masalah kepercayaan, yaitu perkara yang ber-awal dan berkembang dalam ruang lingkup dan unsur ke-percayaan. Ekonomi Allah ialah ingin menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam orang-orang yang dipilih-Nya, bukan di dalam ruang lingkup alamiah, juga bukan di dalam per-buatan hukum Taurat, melainkan di dalam ruang lingkup rohani ciptaan baru, melalui kelahiran kembali oleh iman dalam Kristus (Gal. 3:23-26). Karena iman, kita dilahirkan dari Allah, menjadi anak-anak-Nya, berbagian dalam hayat dan sifat-Nya untuk mengekspresikan-Nya. Karena iman, kita ditaruh di dalam Kristus, menjadi anggota Tubuh-Nya, berbagian dengan segala apa ada-Nya, supaya Dia tereks-presi. Inilah rencana (pengaturan) Allah yang dilaksanakan dalam kepercayaan, menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya.
Kita perlu memiliki kesan yang dalam mengenai arti iman dalam Perjanjian Baru. Kita telah membicarakan ba-nyak sekali hal ini di dalam Pelajaran-Hayat Roma, Ibrani, dan Galatia. Iman pertama-tama adalah Allah yang meru-pakan firman yang diucapkan kepada kita. Kita memiliki Allah dan kemudian memiliki Allah sebagai firman yang diucapkan. Melalui firman Allah dan Roh Allah, kita diisi dengan Allah di dalam Kristus. Hasilnya, ada sesuatu yang bangkit di dalam kita. Inilah iman. Kemudian iman beker-ja di dalam kita untuk membawa kita masuk ke dalam ke-satuan organik bersama dengan Allah Tritunggal. Melalui kesatuan organik ini, Allah secara berkesinambungan di-transfusikan dan diinfuskan ke dalam kita. Hasilnya, kita memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi untuk menjadi anak-anak Allah, anggota-anggota Kristus, dan bagian-bagian manusia baru. Secara totalitas, kita menjadi rumah Allah, Tubuh Kristus, dan manusia baru. Inilah ekonomi Allah di dalam kepercayaan.
5. Berdasarkan Injil Kemuliaan Allah yang Terpuji
Penyaluran Allah adalah “berdasarkan Injil kemuliaan Allah yang terpuji” (ayat 11 Tl.). Pernahkah Anda mende-ngar ungkapan ini? Banyak orang yang telah mendengar tentang Injil anugerah, Injil pengampunan, Injil pembenar-an, dan Injil kelahiran kembali, tetapi belum pernah men-dengarkan Injil kemuliaan. Injil ini bukan hanya membawa berita gembira mengenai pengampunan dosa dan pembenar-an oleh iman, Injil kemuliaan adalah Injil ekonomi Allah. Kemuliaan adalah Allah yang diekspresikan. Jadi, Injil kemuliaan adalah Injil Allah yang diekspresikan; yaitu Injil yang mengekspresikan kemuliaan Allah.
“Injil kemuliaan Allah yang terpuji” adalah suatu ung-kapan yang sangat baik, mengacu kepada ekonomi Allah yang disebut dalam ayat 4. Injil yang dipercayakan kepada Rasul Paulus adalah cahaya kemuliaan Allah yang terpuji. Dengan menyalurkan hayat dan sifat Allah dalam Kristus ke dalam orang-orang pilihan Allah, Injil ini memancarkan kemuliaan Allah, sehingga dalam kemuliaan ini Allah men-dapatkan pujian di tengah umat-Nya. Ini adalah amanat dan ministri yang diterima rasul dari Tuhan (ayat 12). Injil ini harus diajarkan dan diberitakan secara umum di gereja lokal.
Dalam ayat 12 Paulus berkata, “Aku bersyukur kepada Dia yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan ki-ta, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku.” Tuhan bukan hanya menunjuk rasul untuk menunaikan ministri dan mengamanatkan eko-nomi Allah kepadanya secara lahiriah, tetapi juga menguat-kan dia secara batiniah untuk merampungkan ministri-Nya dan menggenapkan amanat-Nya. Ini sepenuh-Nya adalah perkara hayat di dalam Roh.
6. Teladan di bawah Ekonomi Allah
Dalam 1 Timotius 1:13-17 kita nampak satu teladan di bawah ekonomi Allah.
a. Orang yang Paling Berdosa
Paulus berkata bahwa ia adalah orang yang paling berdosa (ayat 15-16). Ia dahulunya adalah penghujat Allah, penganiaya orang, dan seorang manusia yang menghina dan merusak gereja. Dalam ayat 13 ia mengatakan tentang dirinya sendiri, “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang yang ganas tetapi telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tan-pa pengetahuan yaitu di luar iman.” Penghujat adalah orang yang menghujat Allah; penganiaya adalah orang yang meng-aniaya manusia. Saulus dari Tarsus, orang Farisi yang ketat (Kis. 22:3; Flp. 3:4-5), tidak mungkin menghujat Allah. Tetapi ia pernah memfitnah Tuhan Yesus. Kini ia meng-akui bahwa itu adalah penghujatan. Ini menunjukkan bah-wa ia percaya kepada ke-Allahan Kristus.
Saulus dari Tarsus menganiaya gereja dengan ganas dan merusak (Kis. 22:4; Gal. 1:13, 23), sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang ganas terhadap Tuhan Yesus (Mat. 26:59, 67).
Paulus juga berkata bahwa ia telah bertindak tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Tanpa pengetahuan ber-arti berada dalam kegelapan, dan tidak percaya berasal dari kebutaan. Ketika Saulus dari Tarsus menentang ekonomi Perjanjian Baru Allah, ia berada di dalam kegelapan dan bertindak dalam kebutaan.
b. Telah Mendapatkan Belas Kasihan
Dalam ayat 13 Paulus bersaksi bahwa ia memperoleh belas kasih. Saulus, seorang penghujat dan penganiaya, terlebih dulu mendapatkan belas kasihan, kemudian menerima anugerah (ayat 14). Belas kasihan lebih dapat menjangkau orang yang tidak layak daripada anugerah. Karena Saulus adalah orang yang menghujat Allah dan menganiaya manusia, maka belas kasihan Allah menjangkau dirinya, mendahului anugerah Tuhan.
c. Menerima Anugerah Tuhan
Ayat 14 melanjutkan, “Malah anugerah Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.” Anugerah Tuhan mengikuti belas kasih Allah, datang kepada Saulus dari Tarsus, dan bukan sekadar berlimpah, bahkan bertambah-tambah dengan limpah dengan iman dan kasih dalam Kristus. Iman dan kasih adalah produk anugerah Tuhan. Belas kasihan dan anugerah adalah dari Tuhan mencapai kita. Iman dan kasih adalah dari kita kembali kepada Tuhan. Inilah lalu lintas rohani antara Tuhan dengan kita. Melalui iman, kita menerima Tuhan (Yoh. 1:12); melalui kasih, kita menikmati Tuhan yang telah kita terima (Yoh. 14:21, 23; 21:15-17).
d. Diselamatkan oleh Kristus Yesus
Dalam ayat 15 Paulus mengumumkan, “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya, ‘Kristus Yesus da-tang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa’, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” Kristus datang ke dunia melalui berinkarnasi untuk menjadi Juruselamat kita (Yoh. 1:14). Dia adalah Allah yang berinkarnasi men-jadi manusia, supaya Dia dapat menyelamatkan kita mela-lui kematian dan kebangkitan-Nya dalam tubuh insani-Nya.
Dalam gereja lokal hal ini harus terus-menerus diberitakan sebagai kabar gembira.
e. Percaya kepada Kristus
dan Mendapat Hayat yang Kekal
Dalam ayat 16 Paulus berbicara tentang percaya kepada Kristus dan mendapat hayat yang kekal. Hayat Allah yang bukan ciptaan ini adalah karunia paling akhir/besar dan berkat paling tinggi yang Allah berikan kepada orang-orang yang percaya kepada Kristus.
f. Menunjukkan Seluruh Kesabaran Kristus
dan Menjadi Contoh bagi Semua Orang Beriman
Dalam ayat 16 Paulus berkata, “Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian, aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.” Saulus dari Tarsus, orang yang paling berdosa di antara orang dosa, menjadi contoh bagi orang dosa, menunjukkan bahwa orang dosa dapat dijangkau oleh belas kasihan Allah dan diselamatkan oleh anugerah Tuhan.
7. Hormat dan Kemuliaan bagi Raja Segala Zaman
Dalam ayat 17 Paulus berkata, “Hormat dan kemulia-an sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tidak tampak dan yang esa! Amin.” Pu-jian Paulus kepada Allah dalam ayat ini berhubungan de-ngan kemerosotan gereja. Ketika Paulus di dalam penjara, gereja-gereja mulai merosot, dan situasinya sangat menge-cewakan. Banyak orang putus asa. Bahkan beberapa sekerja Paulus meninggalkannya. Tetapi Paulus tetap memiliki iman yang kuat dengan kepastian yang mutlak bahwa Allah yang dipercayainya, yang mempercayakan Injil kepadanya, adalah Raja segala zaman, yang kekal, yang selamanya tidak berubah. Dia tidak pernah berubah. Tidak ada se-orang raja pun di dunia ini yang dapat disebut Raja segala zaman. Kaisar adalah penguasa sesaat, tetapi betapa berbe-danya Allah kita! Allah yang Paulus layani benar-benar adalah Raja segala zaman. Ini berarti Dia adalah Raja ke-kekalan. Dia tidak pernah berubah, Dia selalu tetap sama.
Segala sesuatu, kecuali Allah adalah fana. Gereja bisa saja merosot, berubah mutu, dan jatuh, tetapi Allah adalah Allah yang tidak dapat binasa. Paulus juga berkata bahwa Allah tidak tampak. Allah berkuasa, Sang kekal, tidak da-pat binasa, dan juga tidak tampak. Kita tidak dapat meli-hat-Nya. Istilah-istilah tertentu yang ditujukan kepada Allah dalam ayat ini hanya digunakan di dalam kitab ini. Ber-sama Paulus, kita perlu memakai kata-kata ini untuk me-muji Allah. Saya ingin mendorong orang-orang untuk menulis melodi yang cocok untuk menyanyikan ayat ini. Secara hidup dan bebas kita perlu mengumumkan, “Hor-mat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja se-gala zaman, Allah yang kekal, yang tidak tampak, dan yang esa! Amin.”