← Daftar isi Pemulihan Tuhan – Makan (2) · bab 5/5

HARUS SECARA RIIL MELATIH ROH

Ayat doa-baca:

I Korintus 15:45b - "Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat" (Tl.).

II Korintus 3:17-18 - "Tuhan adalah Roh itu, dan di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan. Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Kemuliaan itu datangnya dari Roh Tuhan, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambarNya, dalam kemuliaan yang semakin besar" (Tl.).

I Korintus 6:17 - "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya kepada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia."

II Timotius 4:22 - "Tuhan menyertai rohmu."

II Korintus 3:6 - "Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan" (Tl.).

Galatia 5:25 - "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh."

Roma 8:4-6 - "Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut roh, memikirkan hal-hal yang dari roh. Karena menaruh pikiran di atas daging adalah maut, tetapi menaruh pikiran di atas roh adalah hidup dan damai sejahtera" (Tl.).

1. ALLAH ITU MISTERI

Allah itu misteri. Misterinya Allah dikarenakan Ia adalah Roh. Perkara Roh ini benar-benar merupakan suatu misteri. Kita boleh mengambil sedikit contoh sebagai penjelasan. Hari ini di mana-mana banyak orang memakai bermacam-macam alat listrik. Listrik adalah barang yang riil. Jika malam ini kita tidak memiliki listrik, tentunya kita tidak memiliki terang, juga tidak memiliki hasil pengeras suara, sehingga perhimpunan malam inipun tidak bisa kita selenggarakan. Meskipun listrik ini demikian riil, tetapi kita tidak berdaya melihat listrik, kita juga tidak bisa menampilkan keluar rupa listrik. Di manakah listrik itu? Anda berkata, bahwa di sinilah listrik. Tetapi begitu Anda membongkarnya, listriknya hilang. Anda tidak membongkar, listriknya masih ada di sana. Anda membongkar, listriknya malah tidak ada. Ini sungguh menakjubkan. Listrik merupakan suatu misteri.

Sama seperti tubuh daging kita memiliki satu hayat. Saat ini saya bisa berbicara di sini, mengutarakan sesuatu, bergerak, tak lain dikarenakan di dalam saya ada hayat. Jika saya mati, boleh saja saya tetap dalam sikap berdiri, kepala saya, tangan saya masih utuh, tetapi saya tidak mungkin bergerak. Mengapa? Karena saya sudah kehilangan hayat. Hayat benar-benar ada di sini, namun tak seorangpun yang sanggup mengeluarkannya untuk mempertunjukkannya. Sampai hari ini, para ahli ilmu hayat, ahli ilmu kedokteran, tidak mampu memberikan kesimpulan yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan apakah hayat itu. Anda hanya dapat melihat pernyataan hayat, tetapi hayat itu sendiri tidak mungkin tertampak. Padahal hayat itu lebih riil daripada semua benda lainnya.

Semua ini menyatakan, bahwa di dalam alam semesta ini ada satu Allah. Coba Anda pikirkan, alam semesta ini sungguh ajaib, sungguh merupakan sebuah teka-teki, dan semua teka-teki ini hanya dapat ditaruh pada diri Allah sendiri. Seluruh alam semesta bergantung dan berkesimpulan pada Allah. Namun Allah sendiri mustahil tertampak, tidak mampu diterangkan atau dijelaskan. Karena itu, Allah merupakan satu misteri.

2. EMPAT PERKARA BESAR ALLAH

Alkitab membicarakan empat perkara besar tentang Allah. Pertama, Allah menciptakan. Allah menciptakan alam semesta, Allah juga menciptakan manusia. Kedua, Allah berinkarnasi. Orang dunia semua melihat hasil ciptaan Allah, tapi sedikit sekali yang tahu bagaimana Allah berinkarnasi. Kita tahu orang ini dinamai Yesus. Semua orang mengakui Yesus memang ajaib, Yesus sungguh istimewa. Yesus itu luar biasa, namun juga biasa. Mengapa? Karena Yesus adalah Allah. Dia asalnya adalah Allah, namun telah menjelma menjadi manusia. Pada mulanya adalah Firman, Firman itu adalah Allah, dan Firman itu telah menjelma menjadi manusia. Pergerakan besar Allah yang pertama ialah menciptakan alam semesta, dan pergerakan besar Allah yang kedua ialah berinkarnasi menjadi manusia. Dia masuk ke dalam tubuh jasmani manusia, mengenakan sifat manusia, menjadi manusia bernama Yesus.

Ketika Dia keluar melaksanakan ministriNya, di atas diriNya manusia sering nampak satu misteri, yaitu Dia benar-benar adalah seorang manusia, tetapi Dia telah melakukan perkara-perkara yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, telah mengatakan perkataan yang tidak bisa dikatakan oleh manusia. Kedengarannya perkataanNya itu sangat sederhana, tetapi juga sangat luar bisa. Misalnya Dia berkata, "Akulah roti hidup," juga berkata, "Akulah terang dunia," juga berkata, "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup." Perkataan-perkataan ini secara hurufiah sangat dangkal, tetapi juga sangat besar, begitu besarnya sehingga tidak bisa besar lagi. Jika Yesus tidak pernah mengucapkannya, saya tidak percaya di bumi ini ada orang yang bisa mengucapkan perkataan-perkataan yang demikian. Tidak ada seorangpun dari antara ahli-ahli filsafat, atau orang-orang berhikmat, yang pernah mengucapkan kata-kata demikian. Tidak ada seorangpun yang ajaib seperti Yesus. Keajaiban Yesus ini justru dikarenakan Dia adalah Allah.

Perkara besar ketiga yang Allah lakukan ialah Dia di dalam daging telah menjadi penebus dosa kita. Setiap orang di antara kita adalah orang yang jatuh, bobrok; Tuhan Yesus menyelamatkan kita melalui mati di atas salib, memikul dosa-dosa kita. Salib itu melampaui yang lazim, salib itu istimewa.

Menciptakan dunia, berinkarnasi, mati tersalib, inilah tiga perkara besar yang dilakukan Allah. Tetapi ketiga perkara besar di atas adalah untuk perkara yang terakhir, yaitu menjadi Roh pemberi hayat. Dia mengadakan penciptaan untuk memberi hayat, Dia menjadi manusia adalah untuk memberi hayat, Dia menebus juga adalah untuk memberi hayat. TujuanNya ialah akan memberikan hayat kepada manusia.

3. MACAM HAYAT DAN ROH PEMBERI HAYAT

Apakah hayat itu? Hayat adalah diri Allah sendiri. Istilah hayat dalam bahasa Gerikanya mengandung tiga kata: pertama adalah "bios", ditujukan kepada hayat tubuh jasmani. Kedua adalah "psuche", ditujukan kepada hayat jiwa. Dalam kitab-kitab Injil, Tuhan Yesus beberapa kali menggunakan istilah ini. Hayat jiwa ini juga adalah hayat manusia, yaitu ego manusia. Kata yang ketiga adalah "zoe", yaitu hayat Allah, hayat yang kekal. Yohanes 3:16 mengatakan, "Setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Tuhan berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup." Kata hayat yang dipakai di sini semua memakai kata "zoe" ini. Jadi kalau disimpulkan, hayat binatang adalah bios, hayat manusia adalah psuche, dan hayat Allah adalah zoe.

Saudara saudari kekasih, ketika Anda belum beroleh selamat, atau katakan sebelum Anda cinta Tuhan, penghidupan Anda dan gerak-gerik lahiriah Anda adalah berdasarkan ketetapan yang di dalam. Semua perasaan di dalam Anda, angan-angan, kesenangan, kemarahan, kesedihan, sukacita, semuanya bersandar pada psuche. Bagaimana psuche di dalam Anda menentukan, begitulah pernyataan bios lahiriah Anda. Demikianlah Anda hidup berdasarkan hayat jiwa dan hayat jasmani Anda. Tetapi pada suatu hari Anda beroleh selamat, bahkan mencintai Tuhan, maka di dalam batiniah Anda yaitu di dalam roh Anda terdapatlah satu hayat yang lain. Anda percaya Yesus, begitu menyeru Tuhan Yesus, di dalam Anda segera ada satu benda yang ajaib. Benda yang ajaib ini adalah Allah sendiri menjadi hayat Anda. Hayat ini di dalam Anda menyuplai Anda, menunjang Anda, bahkan mengatur Anda, ingin diperhidupkan dari diri Anda. Anda boleh mengatakan ini adalah menerima gerakan Roh Kudus, atau Anda mengatakan ini adalah pergerakan Allah, atau Anda mengatakan ini adalah Kristus hidup di dalamku. Semua itu adalah istilah-istilah yang berbeda untuk menyatakan satu perkara yang sama, mengatakan satu benda yang sama, yaitu Allah Sang Kekal telah masuk ke dalam diri kita menjadi hayat kita. Dan Allah yang menjadi hayat kita ini adalah Roh pemberi hayat.

Adam yang akhir telah menjadi Roh pemberi hayat. Dia telah menciptakan, Dia telah berinkarnasi menjadi manusia, Dia telah mati di atas salib menggenapkan penebusan, kemudian Dia menjadi Roh itu. Roh itu adalah Allah Sang Pencipta, yang telah menjadi manusia, mati di kayu salib menggenapkan penebusan. Hari ini Dia masuk ke dalam roh kita untuk menjadi hayat kita, dan juga menjadi segala sesuatu kita. Inilah barang yang paling inti dalam Alkitab. Roh pemberi hayat ini, Anda boleh mengatakan Dia adalah Allah, Dia adalah Tuhan, Dia adalah Kristus, Dia adalah Roh Kudus, semua itu mengacu kepada Persona yang satu itu.

4. TIDAK MEMAHAMI DENGAN OTAK,

HANYA MENIKMATI DENGAN ROH

Sekali-kali Anda jangan terpengaruh oleh pengajaran tradisi Kekristenan. Saya tahu, di antara orang-orang Kristen sangatlah populer teori Allah Tritunggal -- Bapa kudus, Putera Kudus, Roh Kudus; satu Bapa Kudus, satu Putera kudus, satu Roh Kudus. Saya tidak mengatakan tidak ada teori ini, tetapi sekali-kali Anda jangan menggarap teori ini, otak Anda tidak akan bisa jelas terhadapnya. Tahun lalu, setelah sidang istimewa musim panas, saya berkunjung ke beberapa gereja, dengan hanya membawa satu beban, yaitu membuat orang-orang "bingung" terhadap Bapa, Putera dan Roh Kudus. Mungkin ada orang yang merasa dirinya cukup jelas terhadap teori Allah Tritunggal, tetapi saya memberitahu Anda, Anda tidak bisa jelas terhadapnya. Jangankan terhadap teori Allah Tritunggal Anda tidak bisa paham, terhadap diri Anda sendiripun Anda tidak jelas. Jika Anda tidak percaya, ijinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah Anda memiliki jiwa? Apakah memiliki hati? Apakah memiliki roh? Apakah memiliki pikiran? Apakah memiliki hati nurani? Semuanya, ya. Jika demikian, beritahukanlah kepada saya, di manakah jiwa Anda? Di manakah hati Anda? Anda memiliki berapa buah hati? Di mana pula roh Anda? Anda ingin memahami diri Allah dengan jelas? Tetapi, Anda terhadap diri sendiripun tidak jelas.

Sekarang saya ingin membacakan beberapa ayat Alkitab yang akan membingungkan kalian. Yesaya 9:5 mengatakan, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; . . . namanya disebutkan orang: Penasihat, Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Seorang anak, seorang putera, tetapi namanya Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal. Coba beritahu saya, Dia itu Anak, atau Bapa? Dia adalah Anak, juga adalah Bapa, sungguh membuat kita kabur. Dulu saya merasa jelas terhadap Allah Tritunggal, ada Bapa kudus, Putera Kudus, Roh Kudus, tetapi setelah membaca Yesaya 9:5, semakin membacanya semakin menjadi kabur.

Mari kita baca lagi Yohanes 1:1, "Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." Di sini terlebih dulu dikatakan "Firman itu bersama-sama dengan Allah," jelaslah di sini berarti dua, karena ada dua maka bisa disebut bersama-sama. Tetapi selanjutnya dikatakan "Firman itu adalah Allah", kembali di sini adalah satu. Lalu, sebenarnya Firman dan Allah itu dua atau satu? Ayat Alkitab ini juga membuat kita menjadi kabur.

Lihat lagi II Korintus 3:17, "Tuhan adalah Roh itu, di mana ada Roh Tuhan . . ." Di depannya dikatakan Tuhan adalah Roh, dengan sendirinya Tuhan dan Roh itu satu; tetapi selanjutnya di katakan, di mana ada Roh Tuhan, dengan jelas ini mengatakan Tuhan dan Roh itu dua Persona. Silakan kalian memberitahu saya, apakah Tuhan dan Roh itu satu atau dua? Ayat Alkitab ini juga membuat kita menjadi kabur.

Jadi ingatlah, mengenai Allah, mengenai status Tuhan Yesus kita, sekali-kali Anda jangan mengharapkan dapat memahami dengan jelas; begitu Anda jelas, Anda makin celaka, lebih baik Anda tidak jelas sedikit terhadapNya. Ini sepertinya Anda tidak berdaya mengatakan dengan sangat jelas tentang hati, jiwa, roh, pikiran, emosi, tekad, hati nurani, dan lain-lain milik Anda. Anda tidak bisa menjelaskannya seperti memotong tahu, sepotong demi sepotong, sangat bersih. Allah Tritunggal adalah satu misteri, janganlah memahami dengan pemahaman Anda, jangan mengerti dengan pengertian Anda. Jangan mengira, bahwa Bapa kudus itu satu, Putera kudus itu satu, dan Roh Kudus itu juga satu. Demikian ada satu, satu, dan satu lagi, maka jadilah tiga persona, akhirnya timbullah bidat.

Sampai hari ini, Dia telah menciptakan, Dia telah menjadi manusia, Dia telah mati di atas salib, Persona ini baik sebagai Bapa, sebagai Putera, sebagai Roh, Ia adalah Roh pemberi hayat, mutlak merupakan cerita Roh. Semuanya ini kita katakan berdasarkan Alkitab, berdasarkan pengalaman.

Saya ingat, ketika saya masih remaja dan berdoa, saya tidak tahu bagaimana harus menyebut, Bapa atau Tuhan? Berdoa dan berdoa, saya merasa Tuhan ini adalah Bapa dan Bapa adalah Tuhan. Benar-benar demikian, Anda tak berdaya membaginya dengan jelas. Anda berdoa, "Ya Bapa di sorga!" "Ya Tuhan!" "Ya Allah!" kadang-kadang berkata, "Ya Tuhan Yesus!" sebenarnya ada berapa Persona? Saya tidak tahu ada berapa, pokoknya saya tahu, beginilah ceritanya, Dia adalah Bapa, juga adalah Allah, juga adalah Tuhan, juga adalah Roh, juga adalah Yesus. Haleluya, pada saat yang diperlukan, Anda berkata, "Ya Tuhan!" di lain kesempatan Anda berkata, "Ya Bapa!" dan di lain kesempatan lagi Anda berkata, "O, Tuhan Yesus!" Karena itu jangan berpikir untuk memperjelas hal ini, karena perkara ini tidak bisa dijelaskan dengan tuntas. Baik bisa dijelaskan maupun tidak bisa dijelaskan, kita benar-benar bisa mengalaminya. O, Tuhan Yesus! Ya Bapa! Abba Bapa! O, Tuhan Yesus! Ya Allahku! Demikian Anda berseru, di dalam Anda akan terasa indah dan manis.

Allah kita sungguh misteri, kita tak mungkin bisa memahami dengan akal budi kita, tak mungkin menerangkannya melalui ungkapan manusia. Otak kita sangat terbatas. Saya pernah mencobanya. Kita semua berada di atas bola bumi, dan bola bumi ada di bawah kaki kita, betulkah ini? Ya. Jika Anda bertanya kepada orang-orang di belahan bumi bagian barat, mereka akan menjawab bahwa bola bumi berada di bawah kaki mereka. Jika demikian, siapakah yang di bawah dan siapakah yang di atas? Sebab itu janganlah terlalu bersandar pada otak Anda, otak Anda sungguh terbatas. Juga jangan terlalu menghiraukan perasaan Anda, perasaan Anda tidak bisa diandalkan. Anda perlu dengan sederhana menikmati Allah.

Betapa saya mengharapkan kita semua tidak lagi mengikuti jalan usang Kekristenan, yaitu jalan teori. Hari ini kita mengikuti Tuhan pada jalan baru pemulihan, adalah jalan roh. Mungkin kita tidak mengerti teorinya, tetapi kita setiap hari memiliki kenikmatan. Persoalan hari ini adalah roh! Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat. Tuhan adalah Roh itu. Di mana ada Roh Tuhan, di sana ada kemerdekaan. Hari ini kita masing-masing berubah serupa dengan Tuhan, juga oleh Roh Tuhan. Tidak hanya demikian, hari ini Roh Tuhan justru tinggal di dalam roh kita. Tuhan menyertai rohmu. Karena itu aku dan Tuhan menjadi satu roh. Jangan terlalu mengurusi perasaan tubuh daging, jangan terlalu menanggapi pikiran otak, Anda harus memahami, bahwa bagian yang paling berharga di dalam Anda ialah Roh Tuhan itu. Roh Tuhan ada di dalam roh Anda, roh Anda dan Roh Tuhan berbaur, dua roh menjadi satu roh.

5. DI DALAM PENGHIDUPAN HARUS MELATIH ROH

Saya tahu, setidak-tidaknya sebelas atau duabelas tahun yang lalu, saya sudah membicarakan tentang Roh ini secara terus-menerus. Sampai hari ini, saya masih belum cukup mengutarakannya. Meskipun saya telah mengatakannya berkali-kali, namun saya kuatir saudara saudari dalam penghidupannya sehari-hari, kadar hidup di dalam roh masih sedikit. Kalian tahu, dalam rumah tangga suami isteri bertengkar mulut itu adalah perkara yang biasa. Mengapa bertengkar mulut? Dikarenakan tidak hidup di dalam roh, melainkan hidup di dalam jiwa. Begitu Anda hidup di dalam jiwa, Anda pasti bertengkar mulut. Jika kita masing-masing mulai pagi sampai malam selalu hidup di dalam roh, pasti tidak akan perang mulut. Setiap orang yang bertengkar adalah milik jiwa, orang yang bertengkar pasti tinggal di dalam otak.

Kesulitan kita hari ini ialah kita hanya mengerti teori, tetapi sedikit berlatih. Bahkan berita tentang roh telah kita jadikan suatu teori, tidak ada realitas roh, tidak ada pengalaman roh, tidak ada latihan roh. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan, "Jikalau kita hidup oleh Roh; baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh." Ketika Anda berbicara, Anda harus di dalam roh, ketika Anda bekerja, juga di dalam roh. Apapun yang Anda kerjakan, harus Anda kerjakan di dalam roh.

Saudara saudari kekasih, mulai hari ini, saya mohon kalian semua, setiap hari sebisanya melatih roh. Jika Anda mau melatih roh, Anda tidak bisa tidak berkata, "O, Tuhan Yesus!" Anda juga tidak bisa melepaskan diri dari berdoa-baca. Sambil menyeru, "O, Tuhan Yesus!" sambil mendoa-bacakan ayat Alkitab. Jika Anda demikian menjamah roh setiap hari, Anda pasti dipenuhi oleh roh. Pada saat itu, Alkitab bagi Anda bukan lagi persoalan mengerti atau tidak, melainkan hidup, terang. Ketika Anda membaca Alkitab akan mencicipi cita rasa yang manis itu, demikianlah Anda mendapatkan suplaian Tuhan. Inilah makan Tuhan yang sejati.

Hari ini, Tuhan adalah Roh, Dia di dalam roh; hari ini Tuhan juga adalah Firman, Dia di dalam firman. Roh Anda perlu terbuka kepada Tuhan, roh Anda perlu terbuka kepada Alkitab. Semakin Anda mendoa-bacakan ayat Alkitab dengan roh Anda, Anda akan mendapatkan faedah melebihi khotbah apapun, lebih limpah daripada mendengarkan khotbah macam apapun, lebih mendapatkan suplaian daripada mendengarkan khotbah macam apapun. Anda demikian di dalam RohNya mengalami Dia, juga di dalam firmanNya mengalami Dia, hasilnya Anda akan penuh kenyang menikmati Dia. Kesulitan diri Anda akan tersingkirkan, kematian Anda akan Dia telan, kegelapan Anda akan terenyahkan, kelemahan Anda juga akan berubah menjadi kuat. Demikianlah Anda di dalam penghidupan sehari-hari secara riil bersatu dengan Tuhan.

Pada saat demikian, Anda pasti menempuh hidup di dalam Tubuh, karena hayat roh ini adalah korporat, tidak menyendiri. Semakin Anda menikmati Tuhan ini dan hidup di dalam roh, Anda pasti mendambakan menempuh hidup gereja, mendambakan berkoordinasi dengan orang lain, mempersaksikan kesaksian Tubuh. Kiranya Tuhan membelaskasihani kita, agar kita pada hari-hari yang terakhir ini, makin berada di dalam aliran pemulihanNya.

UTUSAN SALIB

PENGANTAR

Akhir-akhir ini banyak orang tampaknya bosan mendengar berita tentang salib. Namun, kita bersyukur dan memuji Allah Bapa, karena demi kebesaran namaNya, Dia telah memelihara banyak orang setia yang tidak bertekuk lutut kepada Baal. Bagaimanapun, saya merasa bahwa ada satu hal yang harus diketahui oleh para hamba Kristus yang setia, yaitu mengapa setelah mereka begitu banyak memberitakan tentang salib, hasilnya masih begitu saja, dan tidak banyak perubahan yang terjadi dalam hidup orang-orang yang telah mendengar firman Allah yang sejati? Saya rasa masalah ini patut kita perhatikan dengan serius. Kita yang bekerja untuk Tuhan harus mengerti, mengapa kita tidak bisa mendapatkan orang-orang dengan Injil yang kita beritakan. Saya harap, kita mau berdoa dengan tenang di hadapan Tuhan dan memohon Roh Allah untuk menerangi hati kita, supaya kita tahu, di mana letak kegagalan kita.

KEGAGALAN UTUSAN SALIB

Pada saat ini kita harus memperhatikan firman yang kita beritakan. (Kita tidak perlu menyebutkan mereka yang memberitakan Injil yang salah, sebab kepercayaan mereka adalah salah). Yang kita beritakan ialah salib Tuhan Yesus Kristus dan bagaimana hal itu menyelamatkan orang dosa dari penghukuman dosa dan kuasa dosa. Ketika kita memberitakan, kita sangat memperhatikan garis besar, logika dan pemikiran. Kita berusaha sebisanya membuat khotbah kita itu jelas, bahkan orang yang paling tidak terpelajar pun dapat mengerti. Kita juga memperhatikan faktor kejiwaan manusia. Kita berusaha sebaik mungkin dalam "seni berkhotbah" kita, agar sesuai dengan jiwa manusia. Yang kita beritakan itu benar dan sangat Alkitabiah; topik kita ialah salib Tuhan Yesus. Kita tahu, bahwa Tuhan Yesus wafat di kayu salib untuk brang dosa, sehingga semua orang yang percaya kepadaNya dapat diselamatkan tanpa harus melakukan perbuatan apapun. Kita juga tahu, bahwa penyaliban Tuhan Yesus itu bukan hanya untuk penggantian, melainkan juga untuk menyalibkan orang dosa dan dosanya bersama Dia; kita tahu cara untuk diselamatkan. Kita tahu bagaimana mati bersama Tuhan, bagaimana menerapkan kematian Tuhan dengan iman, bagaimana mati bersama Dia untuk membereskan dosa dan diri (ego). Kita juga mengerti tentang ajaran-ajaran lain yang berkaitan di dalam Alkitab. Kita bisa menyampaikan berita secara jelas dan menyenangkan, sehingga setiap pendengar dapat mengerti. Para pendengar sangat memperhatikan kita ketika kita memberitakan salib Tuhan; mereka menyukainya dan terjamah olehnya. Bahkan kita mungkin berbakat dalam kefasihan berbicara dan dapat menyajikan kebenaran secara meyakinkan, sehingga kita mengira bahwa pekerjaan kita sangat berhasil. Dalam keadaan seperti itu, kita seharusnya melihat banyak orang menerima hayat (kehidupan) dan banyak orang percaya mendapatkan hayat yang lebih berlimpah. Tetapi, ternyata hasilnya berlawanan dengan yang kita harapkan. Meskipun pendengar mungkin terjamah di dalam balai sidang, meskipun khotbah itu masih segar dalam ingatan mereka, namun setelah mereka meninggalkan balai sidang, mereka tidak memperoleh apa yang kita harapkan. Tidak ada perubahan dalam hidup mereka. Mereka mengerti apa yang kita beritakan, tetapi hal itu tidak ada pengaruhnya atas hidup mereka sehari-hari. Mereka hanya menyimpan firman yang diberitakan dalam otak mereka. Mereka tidak menerapkannya dalam hati mereka.

Penyebabnya ialah, yang Anda miliki hanyalah kefasihan, kata-kata, dan hikmat. Di balik khotbah Anda, Anda tidak mempunyai kekuatan yang menjamah hati orang. Anda memiliki kata-kata dan suara yang terbaik, tetapi di balik kata-kata dan suara itu, Anda tidak mempunyai sejenis kekuasaan yang "mengendalikan" hidup manusia. Dengan kata lain, Anda dapat membuat orang mendengarkan Anda dengan penuh perhatian di balai sidang, tetapi Roh Kudus tidak bekerja sama dengan Anda. Karena itu, jerih payah Anda tidak efektif atau tidak mempunyai hasil yang kekal. Kata-kata Anda tidak dapat meninggalkan kesan yang kekal pada hidup manusia. Meskipun mulut Anda meluncurkan kata-kata, roh Anda tidak mengalirkan hayat untuk merawat, membangkitkan dan menghidupkan pendengar yang sekarat.

Dalam tahun-tahun terakhir ini, Tuhan memberitahu saya untuk berhati-hati terhadap pemberitaan seperti ini. Kita tidak ingin menjadi orator (ahli pidato) yang terkenal; (Tuhan kita adalah Pemberi Hayat); kita ingin menjadi saluran hayat, mengalirkan hayat ke dalam hati orang. Bila kita memberitakan salib, kita seharusnya mengalirkan hayat salib ke dalam hayat orang lain. Hal yang paling menyedihkan saya ialah begitu banyak orang memberitakan salib dewasa ini, tetapi orang masih belum memperoleh hayat Allah. Orang tampaknya menyetujui dan dengan senang hati menerima kata-kata kita, tetapi mereka belum menerima hayat Allah. Sering kali ketika kita memberitakan kematian pengganti di salib, orang-orang tampaknya mengerti makna dan alasan kematian pengganti, tampaknya mereka terjamah pada waktu itu; tetapi kita tidak dapat melihat kasih karunia Allah bekerja dalam diri pendengar sampai mereka benar-benar memperoleh hayat yang dilahirkan kembali. Kita juga memberitakan penyaliban bersama di salib; kita menjelaskannya dengan sangat jelas dan mengharukan. Pada waktu orang mendengarnya, mereka mungkin berdoa dan memutuskan untuk mati bersama Tuhan dan memperoleh pengalaman mengalahkan dosa dan ego. Tetapi setelah semua itu berlalu, kita tidak melihat mereka memperoleh hayat Allah yang lebih berlimpah. Hasil seperti itu sangat menyedihkan saya. Hal itu merendahkan hati saya di hadapan Tuhan untuk mencari terangNya. Jika Anda mempunyai pengalaman seperti saya, saya harap Anda akan bersedih di hadapan Tuhan seperti saya dan menyesali kegagalan kita. Kekurangan kita sekarang adalah orang-orang yang memberitakan salib, lebih-lebih para pemberita yang memberitakan salib dalam kuasa Roh Kudus.

Sekarang marilah kita membaca firman Allah. Paulus berkata, "Demikian pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh" (I Korintus 2:1-4). Dalam ayat-ayat ini kita melihat tiga hal: (1) berita yang disampaikan Paulus, (2) diri Paulus sendiri, dan (3) cara Paulus menyampaikan beritanya.

BERITA YANG DISAMPAIKAN PAULUS

Berita yang disampaikan Paulus ialah Tuhan Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan. Pokok beritanya ialah salib Kristus dan Kristus yang disalibkan. Dia tidak tahu apa-apa kecuali ini. Jika kita melupakan salib dan tidak menjadikan salib serta Kristus sebagai satu-satunya judul kita, betapa besar kerugian kita dan pendengar kita! Saya yakin, bahwa kita bukanlah orang-orang yang tidak memberitakan salib.

Berita dan judul kita memang sudah benar. Tetapi, bukankah kita memiliki pengalaman mempunyai berita yang baik namun tidak mampu menyalurkan hayat kepada orang lain? Ketahuilah, walaupun berita yang kita sampaikan itu penting, tapi jika berita itu tidak dapat memberikan hayat kepada orang lain, maka pekerjaan kita itu kebanyakan sia-sia. Kita harus ingat, bahwa tujuan pekerjaan kita ialah memberikan hayat kepada manusia. Kita memberitakan kematian pengganti di kayu salib, supaya Allah dapat memberikan hayatNya kepada mereka yang percaya. Kalaupun orang lain tergerak dan terangsang, atau bahkan bertobat dan setuju dengan apa yang kita beritakan, tetapi jika hayat Allah tidak masuk ke dalam diri mereka, apakah gunanya? Mereka hanya menunjukkan simpati di luaran, mereka sendiri belum diselamatkan. Karena itu, tujuan kita bukanlah membuat orang bertobat atau mempengaruhi pikiran mereka, tetapi menyalurkan hayat Allah ke dalam diri mereka, sehingga mereka dapat memiliki hayat dan diselamatkan. Bahkan ketika kita memberitakan kebenaran yang lebih dalam atau berusaha membantu orang lain memahami kebenaran penyaliban bersama, prinsipnya tetap sama. Membuat orang tahu dan memahami apa yang kita beritakan adalah mudah; juga tidaklah sulit membuat orang lain menerima ajaran kita dalam benak mereka. Sebab setiap orang yang percaya, yang mempunyai sedikit pengetahuan, dapat mengerti jika Anda menerangkan hal-hal itu kepadanya dengan cukup jelas. Namun, jika Anda ingin dia memperoleh hayat dan kekuatan serta mengalami apa yang Anda beritakan, tidak ada jalan lain kecuali Allah menyalurkan hayat yang lebih kaya melalui Anda kepadanya.Kita harus tahu, bahwa pekerjaan kita satu-satunya ialah menjadi saluran hayat Allah, menyalurkan hayat ke dalam roh orang lain. Karena itu, sekalipun judul atau berita yang kita sampaikan itu tidak salah, kita masih perlu mengetahui apakah kita adalah saluran yang sesuai bagi Allah untuk menyalurkan hayat kepada orang lain.

DIRI PAULUS SENDIRI

Berita yang disampaikan oleh Paulus adalah salib Tuhan Yesus Kristus. Berita yang disampaikannya tidak sia-sia karena dirinya adalah saluran hayat yang hidup. Dia melahirkan banyak orang melalui Injil salib. Yang diberitakannya ialah firman tentang salib. Mengenai dirinya sendiri, dia berkata bahwa dia "lemah dan ketakutan serta sangat gentar". Dia adalah orang yang disalibkan! Hanya orang yang disalibkan yang dapat memberitakan firman tentang salib. Dia tidak mempunyai keyakinan sedikitpun terhadap dirinya. Dia tidak mengandalkan dirinya sendiri. Lemah, ketakutan, gentar, tidak mempercayai diri sendiri, menganggap diri sendiri sama sekali tidak berguna -- ini adalah ciri-ciri seorang yang disalibkan. Dia berkata, "Aku telah disalibkan dengan Kristus" (Galatia 2:19b) dan "Tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut" (1 Korintus 15:31). Hanya Paulus yang mati yang dapat memberitakan firman mengenai penyaliban. Jika dia sendiri tidak benar-benar telah mati, hayat kematian Tuhan tidak dapat mengalir keluar dari dirinya. Memberitakan salib itu mudah, tetapi tidaklah mudah memberitakan salib dengan diri sendiri sebagai orang yang disalibkan. Kalau seseorang itu bukan orang yang disalibkan, dia tidak dapat memberitakan firman tentang salib, dan tidak dapat memberikan hayat salib kepada orang lain. Tepatnya, orang yang tidak mengenal salib dalam pengalamannya tidak patut memberitakan salib.

CARA PAULUS MENYAMPAIKAN BERITANYA

Berita Paulus ialah penyaliban. Dia sendiri adalah orang yang disalibkan, dan dia memberitakan salib melalui cara salib. Ia adalah manusia salib yang menyampaikan berita salib dengan roh salib. Sering kali yang kita beritakan ialah salib, tetapi sikap kita, kata-kata kita, dan perasaan kita menunjukkan seakan-akan kita tidak memberitakan salib! Banyak pemberitaan salib yang tidak disampaikan dalam roh salib! Paulus berkata, "Aku . . . tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu." Di sini kesaksian Allah mengacu kepada firman salib. Paulus tidak memberitakan salib dengan kata-kata yang indah atau dengan kata-kata hikmat. Dia berkata, "Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakink.an, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh." Inilah roh salib. Salib ialah hikmat bagi Allah tetapi kebodohan bagi manusia (I Korintus 1:23-24). Bila kita memberitakan firman "kebodohan" ini, kita harus memiliki bentuk "kebodohan" itu, sikap "kebodohan", dan pembicaraan "kebodohan". Paulus mendapatkan kemenangan karena dia benar-benar orang yang disalibkan. Dia memberitakan salib dengan roh salib dan sikap salib. Orang yang tidak pernah mengalami penyaliban, tidak akan dipenuhi dengan roh salib, dan tidak patut memberitakan firman salib.

Setelah melihat pengalaman Paulus, tidakkah hal itu memberitahu kita penyebab kegagalan kita? Berita yang kita sampaikan mungkin baik, tetapi kita harus memeriksa diri dalam terang Tuhan, apakah kita benar-benar adalah orang-orang yang disalibkan? Dengan roh, kata-kata, dan sikap apa kita memberitakan salib? Semoga kita merendahkan diri di hadapan pertanyaan-pertanyaan ini, supaya Allah dapat membelaskasihani kita.

Kita tidak berbicara mengenai mereka yang memberitakan "injil yang lain." Kita berbicara tentang mereka yang memberitakan "Injil kasih karunia Allah". FirmanNya tidak salah, berita kita tidak salah, tetapi mengapa orang lain tidak memperoleh hayat? Ini pasti disebabkan oleh kegagalan pemberita! Manusianya yang salah, bukan firman yang telah hilang kekuatannya. Manusialah yang telah merintangi hayat Allah untuk mengalir, bukan firman Allah yang telah hilang khasiatnya. Bila orang yang memberitakan salib itu sendiri tidak mempunyai pengalaman salib, tidak mempunyai roh salib, dia tidak dapat memberikan hayat salib kepada orang lain. Kita tidak dapat memberikan kepada orang lain apa yang kita sendiri tidak miliki. Jika salib tidak menjadi hayat kita, kita tidak dapat memberikan hayat salib kepada orang lain. Kegagalan pekerjaan kita terjadi karena kita terlalu suka memberikan salib kepada orang lain, sedang kita sendiri tidak tahu apakah diri kita sendiri sudah memiliki salib atau belum sama sekali. Mereka yang pandai memberitakan kepada orang lain harus pandai memberitakan kepada diri mereka sendiri lebih dahulu. Kalau tidak, Roh tidak akan bekerjasama dengan mereka.

Meskipun berita yang kita sampaikan itu penting, kita tidak boleh terlalu menekankan berita itu dan lupa akan diri sendiri. Kita dapat memperoleh pengetahuan dari buku tentang firman salib yang kita beritakan. Kita dapat menggunakan pikiran kita untuk mencari banyak makna di dalam Alkitab. Namun, semuanya itu hanyalah pinjaman, bukan milik kita. Mereka yang pandai lebih berbahaya daripada orang lain! Pengkhotbah lebih berbahaya daripada para pendengar! Jangan-jangan semua penyelidikan, pembacaan, penelitian, dan apa yang mereka dengar itu dilakukan untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Dia bekerja untuk orang lain, tapi dirinya sendiri lapar secara rohaniah! Kita dapat mendengar uraian yang dalam tentang berbagai segi salib, atau membaca dari buku-buku tentang makna kematian penggantian dan penyaliban bersama, atau jika kita mempunyai otak yang pandai, kita bahkan dapat menambahkan suatu urutan yang benar pada ajaran-ajaran itu, sehingga bila kita yang berbicara, kita dapat mengembangkan hal-hal yang telah kita dengar dan pikirkan dengan jelas, tulus. Segala sesuatu diatur dengan baik, semua pokok disajikan dengan jelas, dan uraian dibagi dengan rapi. Kita mungkin membuat pendengar kita mengira, bahwa mereka telah mengerti segala sesuatu. Namun, meskipun mereka telah mengerti segalanya, tidak ada kekuatan yang mendorong para pendengar untuk melaksanakan apa yang telah mereka pahami. Mereka mengira, bahwa hanya memahami ajaran-ajaran salib sudahlah cukup; mereka berhenti pada hal-hal yang mereka pahami dan tidak mau maju untuk mendapatkan apa yang dijanjikan salib kepada mereka. Bahkan jika pengkhotbahnya mengerti kejiwaan para pendengar, dan ia mempunyai suara yang lantang dan berat, ia juga mendorong mereka untuk tidak hanya memahami ajaran tetapi mengejar pengalaman, mungkin pendengarnya dapat dirangsang pada waktu itu, namun mereka tetap tidak menerima hayat. Mereka masih mempunyai teori saja, bukan pengalaman. Kita tidak boleh berpuas diri dan mengira bahwa lidah kita yang fasih dapat mengarahkan pendengar. Mereka mungkin terpengaruh pada saat itu, tetapi apakah kita hanya memberi mereka pemikiran dan ajaran? Atau haruskah kita memberi hayat kepada mereka? Tanpa memberi hayat kepada manusia, kita tidak membantu apa-apa pada kerohaniannya. Apakah gunanya hanya memberi orang pemikiran atau ajaran? Semoga pemikiran ini tertanam dalam-dalam pada diri kita sehingga kita mau menyesali kesia-siaan pekerjaan kita terdahulu!

Penyebab mengapa tak seorangpun memperoleh hayat melalui pemberitaan salib kita ialah: (1) kita sendiri tidak memiliki pengalaman salib; (2) kita tidak menggunakan semangat salib untuk memberitakan firman salib.

PENYEBAB KEGAGALAN ORANG YANG MEMBERITAKAN SALIB

Orang yang tidak disalibkan, tidak dapat dan tidak patut menyampaikan berita salib. Salib yang kita beritakan harus menyalibkan kita terlebih dahulu. Berita yang kita sampaikan harus membakar hayat kita dahulu sehingga hayat kita dan berita kita dapat berpadu. Dengan demikian, hayat kita akan menjadi berita kita yang hidup. Salib yang kita beritakan tidak boleh sekadar berita. Kita setiap hari harus menampilkan salib dalam hidup kita, sehingga apa yang kita beritakan tidak hanya sekadar berita melainkan hayat yang kita tampilkan setiap hari. Ketika kita memberitakan, kita menyalurkan hayat ini kepada orang lain. Tuhan Yesus berkata, bahwa dagingNya adalah makanan dan darahNya adalah minuman (Yohanes 6:55). Bila kita mengambil bagian dalam salib Tuhan Yesus dengan iman, itu seperti makan dagingNya dan minum darahNya. Tetapi makan dan minum bukanlah kata-kata yang kosong. Setelah kita makan dan minum, kita mencernakan apa yang kita makan dan minum, sehingga makanan dan minuman itu dapat menjadi bagian kita -- menjadi hayat kita. Kegagalan kita dikarenakan kita sering mempelajari firman Allah dengan hikmat kita sendiri dan menyiapkan catatan kita dengan pikiran kita sendiri. Kita sering kali mengambil pengetahuan yang kita peroleh dari buku, menggunakan ajaran yang kita dengar dari guru-guru dan teman-teman kita, kemudian menjadikannya khotbah kita. Meskipun kita mempunyai banyak pemikiran dan gagasan yang baik, meskipun pendengar mendengarkan kita dengan penuh perhatian dan minat, semua pekerjaan berakhir di situ saja, kita tidak dapat menyalurkan hayat Allah kepada orang lain. Walaupun kita memberitakan firman salib, kita tidak dapat menyalurkan hayat salib kepada orang lain. Kita hanya dapat memberikan pemikiran dan gagasan kepada orang. Namun, yang tidak dimiliki orang bukan pemikiran melainkan hayat!

HAYAT

Kita tidak dapat memberikan kepada orang lain apa yang tidak kita miliki. Jika kita mempunyai hayat, kita dapat memberikan hayat kepada orang lain. Jika yang kita miliki hanya pemikiran, kita hanya dapat memberikan pemikiran kepada orang lain. Jika kita tidak memiliki pengalaman penyaliban dalam hidup kita, jika kita tidak memiliki pengalaman mati bersama Tuhan untuk mengalahkan dosa dan ego, jika kita tidak memiliki pengalaman memikul salib dan mengikuti Tuhan untuk menderita bagi Dia, dan jika kita hanya tahu firman salib dari pembicaraan dan tulisan orang lain tetapi tidak mempunyai pengalaman salib, kita pasti tidak dapat memberikan hayat kepada orang lain. Kita hanya dapat memberikan teori hayat salib kepada orang lain. Hanya bila kita diubah oleh salib serta menerima hayat dan roh salib, barulah kita dapat memberikan salib kepada orang lain. Salib itu harus setiap hari melakukan pekerjaan yang lebih dalam di dalam hidup kita, sehingga kita dapat memiliki pengalaman yang kokoh akan penderitaan dan kemenangan salib. Jika demikian, saat kita memberitakan, hayat kita secara spontan akan mengalir keluar melalui kata-kata kita, dan Roh Kudus akan mengalirkan hayatNya melalui hayat kita untuk menyegarkan orang-orang yang kekeringan -- para pendengar. Pemikiran hanya dapat mencapai otak manusia, yang hanya menghasilkan pemikiran lebih banyak bagi otak manusia. Hanya hayat yang dapat mencapai roh manusia, hasilnya ialah roh orang itu menerima hayat yang dilahirkan kembali atau hayat yang lebih limpah.

Pemikiran manusia, kata-kata, ucapan, dan teori, hanya dapat menggerakkan dan mencapai jiwa manusia, karena semua itu hanya dapat menggerakkan provokasi, emosi, pikiran, dan tekad manusia. Hanya hayat yang dapat mencapai roh manusia. Semua pekerjaan Roh Kudus ada dalam roh kita (Roma 8:16; Efesus 3:16). Begitu kita berada dalam pengalaman roh, mengalirkan hayat roh kita, Roh Kudus akan mengalirkan hayatNya ke dalam roh orang lain melalui kita. Karena itu, menyelamatkan orang dosa dan membina kaum saleh dengan pikiran, ucapan, dan teori kita sendiri, adalah hal yang paling sia-sia. Meskipun secara luaran apa yang dikatakan seseorang tampaknya sangat meyakinkan, kita harus tahu, bahwa Roh Kudus tidak bekerjasama dengannya, Roh Kudus tidak ada di balik kata-katanya, dan tidak bekerja dengannya melalui kuasa dan kekuatanNya. Para pendengar hanya mendengarkan kata-katanya, tidak ada perubahan apapun dalam hidup mereka. Meskipun kadang-kadang mereka bertekad dan membuat keputusan, hal itu hanyalah rangsangan dalam jiwa mereka. Tidak ada hayat di balik kata-kata mereka, karena itu, mereka tidak mempunyai kekuatan untuk mendapatkan yang belum mereka peroleh. Dalam perkara rohani, ada hayat, ada kekuatan; tidak ada hayat, tidak ada kekuatan. Karena itu, jika Anda tidak membiarkan Roh Kudus mengalirkan hayatNya melalui hayat Anda ke dalam roh orang lain, orang lain tidak akan memiliki hayat Roh Kudus dan tidak akan mempunyai kekuatan untuk melaksanakan apa yang Anda beritakan. Yang kita inginkan bukanlah kefasihan, namun kuasa Roh Kudus. Semoga Roh Allah membuat kita sadar, bahwa pemikiran hanya dapat mencapai jiwa manusia, dan hanya hayat yang dapat mengalir ke dalam roh manusia.

Arti hayat yang kita bicarakan di sini, ialah kita di dalam hayat telah mengalami firman Allah, telah mengalami berita yang kita sampaikan. Hayat salib ialah hayat Tuhan Yesus. Kita terlebih dahulu harus mengalami berita kita dalam pengalaman kita. Ajaran yang kita pahami hanyalah suatu ajaran; kita harus membiarkan ajaran itu bekerja dalam diri kita terlebih dahulu, sehingga ajaran yang kita pahami itu menjadi bagian dari hayat kita, menjadi bagian dari unsur-unsur penting hidup kita sehari-hari. Demikianlah ajaran itu bukan sekadar ajaran, tetapi menjadi hayat dari hayat kita. Ini seperti makanan yang kita makan menjadi daging dari daging kita dan tulang dari tulang kita. Demikian, kita menjadi ajaran yang hidup. Demikian, firman yang kita beritakan tidak lagi hanya sebuah teori yang kita ketahui, tetapi hayat kita yang sejati. Inilah yang dimaksudkan Alkitab dengan "pelaku firman" (Yakobus 1:22). Kita sering salah memahami kata "pelaku ". Kita mengira "pelaku" adalah mereka yang berusaha sedapat mungkin mengikuti firman yang mereka dengar dan pahami. Tetapi ini bukanlah "pelaku" yang dimaksud dalam Alkitab. Memang benar, kita harus bertekad untuk menjalankan apa yang kita dengar! Tetapi "pelaku" di dalam Alkitab bukanlah "melakukan" dengan kekuatan diri sendiri, melainkan membiarkan Roh Kudus melalui hayat kita memperhidupkan firman yang kita ketahui itu. Ini adalah suatu penghidupan, bukan suatu perbuatan. Jika ada penghidupan, dengan sendirinya ada perbuatan. Mempunyai satu, dua kali perbuatan, itu belum terhitung sebagai "melakukan" yang dimaksud dalam Alkitab. Kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus dalam hayat kita melalui tekad kita, sehingga kita dapat memperhidupkan apa yang kita ketahui dalam pengalaman. Dengan begitu kita dapat memberikan hayat kepada orang lain.

Dengan memandang Tuhan Yesus Kristus, barulah kita akan tahu apa yang harus kita ikuti. Dia berkata, "Demikian pula Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:14-15) dan "Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu. Ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana caranya la akan mati " (Yohanes 12:32-33). Tuhan Yesus harus terlebih dulu disalibkan, baru Dia dapat menarik semua orang kepadaNya dan memberikan hayat rohaniah kepada orang lain. Dia sendiri harus mati lebih dahulu, mengalami salib lebih dahulu, dan memiliki pekerjaan salib luar dalam, menjadikan Dia manusia yang disalibkan secara riil, barulah Dia dapat mempunyai kuasa untuk menarik semua orang kepadaNya. Murid tidak akan melebihi gurunya. Jika Tuhan kita harus ditinggikan sebelum Dia dapat menarik semua orang kepadaNya, tidakkah kita yang menjunjung tinggi Tuhan Yesus yang ditinggikan itu, juga harus ditinggikan dan disalibkan sebelum kita dapat menarik manusia kepada Tuhan? Agar Tuhan Yesus memberikan hayat rohaniah kepada orang lain, Dia harus ditinggikan pada kayu salib. Demikian pula, jika kita ingin memberikan hayat rohaniah kepada orang lain, kita juga harus ditinggikan pada kayu salib. Setelah itu, barulah Roh Kudus akan mengalirkan hayatNya melalui kita. Sumber hayat berasal dari memberikan hayat kepada orang lain melalui salib. Tidakkah saluran hayat juga berasal dari memberikan hayat kepada orang lain melalui salib?

SALURAN HAYAT

Kita telah mengatakan, bahwa pekerjaan kita ialah memberikan hayat kepada orang lain. Namun, kita sendiri tidak mempunyai hayat untuk diberikan kepada orang lain, untuk menghidupkan orang lain, dan merawat orang lain. Kita bukan sumber, melainkan saluran. Hayat Allah mengalir melalui kita, mengalir keluar dari dalam diri kita. Kita adalah saluran. Saluran tidak boleh disumbat. Kalau disumbat, air tidak dapat mengalir. Pekerjaan salib ialah melakukan pekerjaan pembongkaran, agar kita menyingkirkan segala yang milik Adam dan milik alamiah, dan kemudian menerima hayat Roh Kudus serta dipenuhi oleh Roh Kudus. Dengan demikian roh kita akan selalu memikul salib Tuhan sampai hayat kita menjadi hayat salib. (Hal ini akan kita bahas sebentar lagi). Karena kita telah dipenuhi oleh Roh Kudus dan telah memiliki hayat salib, maka Roh Kudus akan menggunakan kita untuk mengalirkan hayat salib dari dalam kita kepada mereka yang ada di sekitar kita. Jika kita benar-benar membiarkan salib bekerja secara mendalam atas diri kita, sampai kita menjadi penuh dengan Roh Kudus, dengan spontan kita akan mengalirkan hayat untuk merawat mereka yang kita jumpai, baik kita berbicara atau memberitakan di depan umum atau secara perorangan. Ini adalah suatu keadaan yang tidak memerlukan usaha atau tindakan yang disengaja, ini adalah satu keadaan yang sangat spontan; secara spontan kita akan menghasilkan buah. Inilah yang dimaksudkan Tuhan Yesus dalam Yohanes 7:38, "Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Ada beberapa arti terkandung di sini: Batin orang yang percaya harus dikosongkan lebih dulu, harus menerima pekerjaan salib yang sempurna lebih dulu. Batinnya harus sudah dipenuhi dengan air hidup Roh Kudus. Hayat dalam dirinya tidak hanya cukup untuk kebutuhannya sendiri, tetapi berlimpah ruah, meluap, sehingga dari dirinya mengalir sungai air hidup untuk memberi orang lain air hidup itu. Kita harus memperhatikan kata "mengalir" di sini. Mengalir itu bukan dengan daya upaya, suara, psikologi, kefasihan, ajaran atau pengetahuan. Meskipun semua cara itu adakalanya bisa membantu kita, namun cara-cara itu bukanlah air hidup. Penggunaan cara-cara itu juga bukan pengaliran air hidup. Mengalir adalah suatu hal yang sangat alami, tidak membutuhkan jerih payah manusia, keluar secara wajar dan kodrati; tidak memerlukan kefasihan atau teori, hanya memberitakan firman salib Tuhan dengan setia, dan orang lain segera menerima hayat yang tidak mereka miliki. Hayat dan kuasa Roh Kudus secara spontan mengalir melalui roh kita. Kalau tidak, meskipun kita mengajar dengan tekun, pendengar akan mendengar dengan acuh tak acuh! Kadang-kadang pendengar kita mungkin mendengarkan dengan penuh perhatian dan mungkin paham dan terjamah oleh apa yang mereka dengar, tetapi mereka hanya menanggapi dengan kata, "Hebat". Mereka masih tidak mempunyai kuasa dan hayat untuk melaksanakan apa yang mereka dengar. Oh, semoga hari ini kita menjadi saluran-saluran hayat Allah!

Untuk menjadi saluran, kita harus memiliki pengalaman. Kita telah membahas ini dalam pembicaraan di atas. Kalau kita tidak memilikinya, Roh Kudus tidak akan bekerja sama dengan kita. Setelah kita menerima kuasa Roh Kudus, semua pekerjaan kita akan merupakan pekerjaan seorang saksi (Lukas 24:48-49). Sebenarnya, semua pekerjaan kita adalah bersaksi bagi Tuhan. Seorang saksi tidak bisa memberi kesaksian tentang apa yang tidak dilihatnya. Bahkan seseorang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak didengarnya dari orang lain. Orang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak dialaminya. Dengan kata yang lebih tegas, orang yang tidak memiliki pengalaman terhadap apa yang diberitakannya, adalah orang yang memberikan kesaksian palsu! Itulah sebabnya Roh Kudus tidak bekerja sama dengan kita. Satu hal lagi yang harus kita ketahui, entah yang bekerja itu Roh Kudus atau roh jahat, harus ada manusia sebagai saluran kuasa. Jika kita tidak memiliki pengalaman akan apa yang kita beritakan, Roh Kudus pasti tidak dapat menggunakan kita sebagai saluranNya, untuk mengalirkan hayatNya ke dalam hati orang.

Karena itu, semoga salib yang kita beritakan menyalibkan kita padanya! Semoga kita memikul salib yang kita beritakan! Semoga kita lebih dahulu mendapatkan hayat yang ingin kita berikan kepada orang lain! Semoga salib yang kita beritakan menjadi salib yang kita alami sehari-hari dalam hidup kita! Agar berita yang kita sampaikan mempunyai khasiat yang kekal, berita itu lebih dahulu harus menjadi makanan roh kita, tertanam dalam-dalam di hati kita, terbakar, dan terukir ke dalam hayat kita melalui penderitaan dalam hidup kita sehari-hari. Dengan demikian, setiap langkah dan tindakan kita akan memiliki tanda salib. Hanya orang yang tubuhnya memiliki tanda-tanda Yesus (Galatia 6:17) yang dapat memberitakan Tuhan Yesus. Saudara-saudara, izinkan saya memberitahu Anda, meskipun pemikiran yang tiba-tiba melintas di benak Anda atau pengetahuan yang Anda peroleh dari buku-buku dapat membuat pendengar Anda tersenyum, semua itu tidak akan mempunyai dampak yang kekal. Jika pekerjaan kita hanya membuat orang tersenyum, hanya memberi pemikiran otak atau merangsang emosi, lalu kita mengira bahwa kita melakukan pekerjaan yang hebat dengan khotbah kita. Ketahuilah, itu bukan tujuan pekerjaan kita!

KEBERHASILAN RASUL

Berita salib menjamah Paulus secara mendalam. Hidupnya adalah perwujudan hayat salib. Dia bukan saja orang yang memberitakan salib, bahkan orang yang menampilkan salib. Salib yang diberitakannya adalah salib yang ditampilkannya. Karena itu, bila dia berbicara mengenai salib, dia dapat menambahkan pengalaman dan kesaksiannya sendiri. Dia tidak saja mengetahui kematian penggantian Tuhan Yesus, tetapi dia mengambil salib Tuhan Yesus sebagai salibnya sendiri dalam pengalamannya. Dia dapat mengatakan, "Aku telah disalibkan dengan Kristus" (Galatia 2:19b), dan "Dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia" (Galatia 6:14). Kelembutannya, ketabahannya, kelemahannya, air matanya, penderitaannya, belenggunya, semuanya adalah perwujudan dari hayat salib. Karena dia adalah orang yang memperhidupkan salib, maka dia dapat memberitakan salib. Sering ada orang mengkritik orang lain dengan mengatakan, bahwa orang itu hanya bisa berkhotbah, tapi tidak bisa melaksanakan. Namun, sebenarnya orang yang tidak bisa melaksanakan, bagaimana ia bisa memberitakannya! Karena Paulus dapat menampilkan Injilnya, maka dia mampu melahirkan anak-anak rohaniah melalui Injil. Dia sendiri memiliki hayat salib, maka dia mampu "mereproduksi" salib ini di dalam hati orang lain.

SALIB DAN PEMBERITANYA

Pengalaman Pribadi

Setelah kita membaca II Korintus 4 (harap membacanya), kita akan mengetahui pengalaman batiniah hamba Tuhan ini. Rahasia semua pekerjaannya ialah "maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu" (ayat 12). Setiap hari dia melewati maut, setiap hari, dia membiarkan salib melakukan pekerjaan yang lebih mendalam di dalam hatinya, sehingga orang lain dapat memperoleh hayat. Jika orang tidak memiliki kematian salib dalam dirinya, orang lain tidak dapat memperoleh hayat salib. Paulus rela mati supaya orang lain mendapatkan hayat. Hanya mereka yang telah mati baru dapat memberi brang lain hayat. Namun, alangkah sulitnya hal ini!

Apakah arti kematian di sini? Kematian di sini bukan hanya kematian terhadap dosa, diri, dan dunia. Kematian di sini mempunyai arti yang lebih dalam daripada itu. Kematian ini adalah roh yang diwujudkan oleh penyaliban Tuhan Yesus. Tuhan kita Yesus Kristus tidak mati untuk dosaNya sendiri; salibNya adalah perwujudan dari kesucianNya. PenyalibanNya sepenuhnya demi kepentingan orang lain, Dia mati karena taat kepada kehendak Allah. Inilah arti kematian di sini. Bukan demi diri kita sendiri kita disalibkan bagi dosa dan dunia, tetapi demi ketaatan kita kepada Tuhan Yesus maka kita sehari-hari ditentang dan diserahkan ke dalam maut oleh orang dosa. Kita harus membiarkan kematian Tuhan Yesus bekerja dalam diri kita sampai kita benar-benar memiliki pengalaman mati terhadap diri, dan mencapai tahap dikuduskan; kita harus membiarkan Roh Kudus, melalui salib, melakukan pekerjaan yang lebih mendalam di dalam diri kita sehingga kita dapat memperhidupkan salib. Kita seharusnya tidak hanya memiliki kematian salib, lebih-lebih kita harus memiliki kehidupan salib. Bila kita memiliki kematian salib, kita mati terhadap dosa dan hayat lama Adam; bila kita memiliki kehidupan salib, kita melangkah lebih jauh dan mengambil roh salib sebagai hayat dalam hidup kita sehari-hari. Ini berarti, di dalam hidup sehari-hari kita mewujudkan Roh Yesus Kristus sebagai Anak Domba, yang menderita dalam diam dan yang "ketika la dicaci maki, la tidak membalas dengan mencaci maki; ketika la menderita, la tidak mengancam, tetapi la menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil" (I Petrus 2:23). Ini adalah selangkah lebih dalam daripada disalibkan terhadap dosa, diri, dan dunia. Semoga salib menjadi hayat kita, sehingga kita dapat menjadi salib yang hidup dan dalam segala sesuatu menyatakan salib!

Paulus dapat memberi hayat kepada orang lain karena hidupnya adalah salib. Dia tidak hanya menerapkan kematian salib secara pasif untuk mengakhiri segala sesuatu dari Adam yang lama, tetapi secara aktif mengambil salib sebagai hayatnya dan sehari-hari memperhidupkan salib. Hari demi hari dia memahami makna salib Tuhan, hari demi hari dia menyatakan hayat Tuhan sebagai Anak Domba (salib). Dia senantiasa "membawa kematian Yesus di dalam tubuhnya, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuhnya" (II Korintus 4:10). Dia rela "terus-menerus . . . diserahkan kepada maut karena Yesus; supaya juga hidup Yesus (salib) menjadi nyata di dalam tubuh yang fana" (ayat 11). Karena itu, dia dapat menyatakan "dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, tetapi tidak binasa" (ayat 8-9). Dia membiarkan maut Tuhan Yesus "giat" di dalam dia (ayat 12). Maut yang dapat bekerja adalah "maut yang hidup". Itulah hayat maut, hayat salib. Dia rela selalu diserahkan kepada maut demi Yesus. Dia rela menanggung kata-kata yang memerahkan telinga, cara-cara yang sewenang-wenang, penganiayaan yang kejam, dan kesalahpahaman yang tidak masuk akal demi Tuhan. Dia rela diserahkan kepada maut tanpa mengatakan sepatah katapun. Dalam keadaan seperti itu, dia seperti Tuhan yang meskipun mempunyai kuasa untuk meminta kepada Bapa untuk mengirimkan dua belas legiun malaikat untuk membantuNya, bisa menghindari keadaan dengan cara manusia, tetapi ia memilih tidak melakukannya. Dia lebih suka membiarkan "maut yang hidup" dari Yesus -- hayat dan roh salib -- bekerja dalam dirinya sampai dia bergerak dan bekerja dalam roh salib. Dia sadar bahwa pada salib ada kuasa; kuasa yang memungkinkan dia untuk menyerah kepada maut demi Yesus dan menanggung penganiayaan dan kesengsaraan dari tangan manusia. Betapa dalamnya salib bekerja dalam diri Paulus! Betapa baiknya jika kita juga dapat menanggung "maut Yesus di dalam tubuh kita!" Siapa yang dapat mengatakan kepada Tuhan bahwa dia rela mati dan tidak melawan di tengah segala keadaan yang penuh tentangan dan penderitaan? Jika kita ingin orang lain memperoleh salib, salib harus terlebih dahulu mengendalikan kita dalam hidup kita. Setelah salib tergarap ke dalam hidup kita melalui penderitaan dan penentangan yang ganas, maka kita dapat mereproduksi salib ini ke dalam hidup orang lain. Dengan kata lain, hayat salib adalah hayat yang merealitaskan khotbah Tuhan di bukit (Matius 5-7, lihat 5:38,44).

Ayat-ayat di dalam II Korintus dengan jelas mengatakan kepada kita, bahwa kita tidak hanya untuk memberitakan, bahkan untuk mewujudkan hayat Tuhan Yesus (4:10-11), dan kita harus mengalirkan hayat Tuhan Yesus dari diri kita. Kita dapat mengalirkan hayatNya, hanya bila kita selalu membawa maut Yesus dalam tubuh kita, bila kita diserahkan kepada maut demi Tuhan Yesus, bila kita menderita kerugian dalam reputasi, pikiran, dan tubuh kita demi Dia, bila kita menyatakan jalan Anak Domba Golgota di tengah semua penderitaan (ayat 10-11). Sayangnya, kita sering kali mengambil jalan pintas! Kita tidak menyadari bahwa tidak ada jalan pintas dalam mengekpresikan hayat Tuhan Yesus!

"Maut giat dalam diri kami, tetapi hidup giat dalam kamu" (ayat 12). "Kamu" menunjuk pada orang-orang di Korintus dan semua orang saleh (1:2), yakni para pendengar Paulus. Karena kematian Tuhan Yesus dapat bekerja di dalam diri Paulus, maka dia mampu membuat hayat Tuhan Yesus bekerja dalam diri pendengarnya dan membuat mereka menerima hayat rohaniah. Kata "hayat" dalam ayat ini ialah "zoe", yang dalam bahasa aslinya berarti "hayat rohaniah ", hayat yang tertinggi. Yang ditinggikan Paulus dan yang diberikannya kepada orang lain bukan hanya pembicaraannya, pikirannya, dan salib kayu; Paulus bahkan menghendaki mereka memperoleh hayat rohaniah Tuhan. Hayat rohaniah ini bekerja di dalam hati mereka dan memungkinkan mereka mencapai tujuan pemberitaan Paulus. Ini bukan pemberitaan yang kosong, melainkan yang memasuki hati para pendengar yang gersang dengan hayat dan kuasa yang luar biasa, sehingga mereka sungguh-sungguh menerima hayat salib yang diberitakannya. Pemberitaan kita tentang salib harus menimbulkan hasil seperti itu. Kita tidak boleh puas jika berita kita tidak mempunyai hasil seperti berita Paulus. Ringkasnya, orang yang tidak menampilkan salib seperti Paulus, tidak dapat mengharapkan hasil seperti Paulus. Jika kita bukan orang-orang yang disalibkan, pasti sulit bagi kita untuk memberitakan salib dan memberi hayat kepada orang lain.

Cara Memberitakan

Kita tahu, Paulus tidak hanya sebagai orang tersalib, yang memberitakan salib, dia bahkan memberitakan salib dengan roh salib. Di dalam hidupnya sehari-hari dia adalah orang yang tersalib; di dalam pemberitaannya dia juga seorang yang tersalib. Dia memberitakan salib dengan roh salib. Paulus adalah orang yang tersalib bersama Kristus; ini adalah pengalamannya dalam hayat. Ketika dia memberitakan salib, dia tidak menggunakan "kata-kata yang indah atau dengan hikmat", atau "kata-kata hikmat yang meyakinkan" (I Korintus 2:1,4) yang dimilikinya. Dia tahu bahwa itu tidak akan menjadi saluran air hayat Allah. Yang dia andalkan ialah "keyakinan akan kekuatan Roh" (ayat 4). Pemberitaan seperti itu adalah pemberitaan yang di dalamnya firman salib diberitakan dengan sikap salib. Dengan bakat alamiah dan pengalamannya, Paulus sebenarnya dapat mengucapkan kebenaran salib dengan kata-kata yang mengharukan dan teori-teori yang hikmat, memikat perhatian pendengarnya, membuat mereka mengerti apa yang dikatakannya, sehingga kisah salib yang kejam itu terdengar sangat menarik.. Dia dapat menggunakan banyak contoh yang sesuai dan kata-kata mutiara sederhana untuk menjelaskan misteri salib. Dia dapat mengutip Kitab Suci dan menjelaskan falsafah salib, menjelaskan kepada orang lain kematian pengganti dan penyaliban bersama. Paulus mampu melakukan hal-hal itu, tetapi dia tidak mau melakukannya. Hatinya tidak mengandalkan hal-hal itu, karena dia tahu, bahwa hal-hal itu tidak dapat memberikan hayat kepada orang lain. Dia tahu, bila dia melakukan hal itu berarti memberitakan kebenaran salib yang agung dengan cara-cara yang bertentangan dengan salib. Dalam pandangan orang dunia, salib itu hina, rendah, bodoh, dan jelek; memang demikianlah salib itu. Memberitakannya dengan kepandaian berbicara dan hikmat duniawi akan bertentangan dengan roh salib dan tidak akan mendatangkan faedah. Paulus rela meninggalkan bakat alamiahnya, untuk memberitakan salib dengan sikap dan roh salib. Itulah sebabnya Allah sangat memakai Paulus.

Kita masing-masing mempunyai bakat alamiah kita sendiri. Mungkin ada yang mempunyai lebih banyak, sedang yang lain mungkin memiliki lebih sedikit. Setelah kita menempuh pengalaman salib, kita cenderung mengandalkan atau menggunakan bakat alamiah kita untuk memberitakan salib yang baru kita alami. Betapa hati kita menginginkan agar pendengar kita dapat melihat apa yang telah kita lihat, atau damba memperoleh pengalaman yang sama seperti yang kita miliki! Namun, ternyata mereka sangat dingin dan reaksi mereka tidak seperti apa yang kita harapkan! Kita tidak menyadari bahwa pengalaman salib kita masih hijau! Kita belum menyadari; bahwa bakat alamiah kita yang baik itu juga perlu disalibkan bersama Tuhan, dan bahwa salib harus bekerja dalam diri kita, tidak hanya dalam hidup kita, bahkan juga dalam pekerjaan kita. Sebelum kita mencapai posisi kematangan, kita cenderung menganggap bakat alamiah kita tidak berbahaya tetapi bermanfaat; kita heran, mengapa kita tidak boleh menggunakan bakat alamiah kita? Sampai kita nampak pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan bakat alamiah kita hanya menimbulkan reaksi sementara, dan hal itu tidak menghasilkan pekerjaan Roh Kudus yang riil dalam roh manusia, maka kita mulai mengerti bahwa bakat alamiah kita tidak cukup, dan kita masih harus menuntut kekuatan yang lebih besar. Betapa banyak orang yang memberitakan salib dengan kekuatan diri mereka sendiri!

Saya tidak mengatakan bahwa mereka sendiri tidak memiliki pengalaman salib. Mungkin mereka telah memiliki pengalaman salib. Ketika mereka sedang bekerja, mereka juga tidak menyatakan, bahwa mereka bersandar kepada karunia atau kuasa mereka sendiri. Sebaliknya, mereka berdoa dengan tekun, mencari berkat Allah, dan bantuan Roh Kudus. Dalam batasan tertentu, mereka tahu bahwa diri mereka sendiri tidak dapat dipercaya. Namun, semua itu tidak membantu mereka, karena di dalam lubuk hati mereka, mereka masih percaya akan diri mereka sendiri, mengira bahwa petah lidah mereka, logika mereka, pemikiran mereka atau perumpamaan mereka bisa menggerakkan orang lain! Arti penyaliban ialah tidak berdaya, dalam kelemahan, kegentaran, ketakutan, dan juga mati. Inilah yang terjadi bila seseorang disalibkan. Karena itu, jika kita hendak mewujudkan hayat salib dalam hidup kita sehari-hari, kita juga harus mewujudkan roh salib dalam pekerjaan Tuhan. Kita harus memandang diri kita tidak berdaya dan harus selalu menganggap diri kita tidak patut dipercaya, dalam ketakutan, dan gentar. Jika demikian, kita akan memperoleh hasil dengan bersandar Roh Kudus.

Hanya mereka yang disalibkan, yang mau dan dapat percaya kepada Roh Kudus serta kuasaNya. Bila kita mempunyai sedikit kepercayaan pada diri kita, kita tidak akan percaya kepada Roh Kudus. Paulus sendiri adalah orang yang tersalib bersama Tuhan. Ketika dia bekerja, dia mewujudkan roh salib. Dia sama sekali tidak yakin akan dirinya. Karen dia memberitakan Juruselamat salib dengan cara salib, maka dia memiliki bukti kekuatan Roh Kudus. Kita harus mampu berkata bersama Paulus, "Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh" (I Tesalonika 1:5). Jika Roh dan kuasaNya tidak bekerja di balik kata-kata kita, meskipun kata-kata kita menarik, itu tidak ada gunanya. Oh, semoga kita meremehkan kemampuan alamiah kita, dan semoga kita rela kehilangan segalanya untuk memperoleh kuasa Roh Kudus Allah!

Di sini terletak kunci antara keberhasilan dan kegagalan seorang penginjil. Kadang-kadang, kita melihat dua penginjil yang berita dan ungkapannya sama. Namun Allah mampu menggunakan yang satu untuk mendapatkan banyak buah. Yang lain mungkin pembicaraannya rohaniah dan Alkitabiah, dan pendengarnya mungkin juga menaruh perhatian besar kepadanya, tetapi tak ada hasil dari pembicaraannya, tidak ada buah. Tidaklah sulit menemukan alasan di balik perbedaan ini. Menurut pengamatan saya, saya dapat melihat bahwa yang satu adalah orang yang benar-benar disalibkan; dia memiliki pengalaman itu. Yang lain hanya dalam pemikirannya. Orang yang tidak memiliki apa-apa selain pemikiran otak, pasti tidak dapat memberitakan salib dengan cara salib. Jika mereka yang memiliki hayat salib menyatakan pengalaman mereka dari roh mereka, Roh Kudus pasti menyertai mereka. Ada orang, meskipun ia lebih fasih daripada yang lain, dapat menganalisis dan menguraikan dengan baik, namun jika salib belum pernah bekerja dengan riil di atas dirinya, Roh Kudus tetap tidak akan bekerja sama dengan dia. Kekurangan kita ialah pekerjaan salib yang mendalam di atas diri kita, yang membuat Roh Kudus bekerja sama dengan kita dalam pemberitaan Injil kita, sehingga hayatNya mengalir keluar melalui kita. Meskipun Tuhan kadang-kadang mungkin menggunakan bakat alamiah kita, namun ini bukanlah sumber keberhasilan. Pekerjaan yang dilakukan bersandarkan hayat alamiah, kebanyakan adalah pekerjaan yang sia-sia. Hanya pekerjaan yang dilakukan melalui hayat yang adikodrati dapat menghasilkan banyak buah.

Sekarang marilah kita membaca ayat-ayat Alkitab yang lain, agar kita dapat memahami; apakah yang disebut dengan bersandar kepada hayat alamiah dan bersandar kepada hayat adikodrati. Tuhan Yesus berkata, "Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal" (Yohanes 12:24-25).

Di sini Tuhan menjelaskan prinsip berbuah. Biji gandum harus mati lebih dahulu sebelum menghasilkan banyak buah. Kematian adalah jalan yang diperlukan untuk menghasilkan buah. Kematian adalah cara yang unik untuk menghasilkan buah. Biasanya kita berdoa agar Tuhan mengaruniai kita kuasa yang lebih besar supaya kita dapat menghasilkan buah lebih banyak. Namun Tuhan mengatakan kepada kita, bahwa kita harus mati terlebih dahulu dan harus mempunyai pengalaman salib dulu, baru dapat memiliki kuasa Roh Kudus. Sering kali kita mencoba melangkahi Golgota untuk mencapai Pentakosta. Kita tidak menyadari, bahwa tanpa salib yang menyalibkan kita dan melucuti kita dari segala yang alamiah, Roh Kudus tidak dapat bekerja sama dengan kita untuk mendapatkan orang lain. Hanya melalui kematian, buah dapat dihasilkan.

Hakikat buah di sini juga membuktikan apa yang telah kita katakan di depan, bahwa tujuan pekerjaan kita ialah memberi hayat kepada orang lain. Bila biji gandum mati, ia menghasilkan banyak biji. Bila biji itu mati, ia akan membagikan hayat kepada banyak biji lainnya. Semua biji yang lain ini mengandung hayat di dalamnya; hayat yang mereka miliki berasal dari satu biji yang mati itu. Jika kita benar-benar mati, kita dapat menjadi saluran hayat Allah dan dapat membagikan hayat kepada orang lain. Hayat ini bukanlah suatu istilah yang hampa, melainkan benar-benar ada kuasa Allah yang keluar dari dalam kita sehingga orang lain mendapatkan hayat.

Buah yang dihasilkan oleh biji gandum ini berlipat ganda: "banyak buah". Bila kita terkurung dalam hayat kita sendiri, yang dapat kita peroleh melalui pekerjaan kita paling banyak satu atau dua orang. (Ini tidak berarti bahwa kita tidak bisa menyelamatkan seorangpun). Namun, bila kita mati seperti biji gandum, kita akan mendapatkan "banyak buah". Apapun yang kita lakukan, bahkan jika kita lalai akan beberapa kata, kita masih bisa menyebabkan orang lain diselamatkan atau terbina. Semoga kita menghasilkan banyak buah.

Tetapi, sebenarnya apakah arti jatuh ke dalam tanah dan mati? Kita akan memahaminya bila kita membaca firman Allah berikut ini: "Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal." Kata "nyawa" yang disebutkan beberapa kali di sini, dalam teks aslinya memakai kata yang berbeda. Yang satu menunjukkan hayat nyawa (jiwa), hayat alamiah; yang lain menunjukkan hayat rohaniah, hayat adikodrati. Karena itu, maksud Tuhan Yesus di sini ialah, "Barangsiapa mencintai hayat jiwanya, ia akan kehilangan hayat rohaninya, dan barangsiapa tidak mencintai hayat jiwanya di dunia ini, ia akan memelihara hayat rohaniahnya untuk hidup yang kekal." Secara sederhana, ayat ini mengatakan kepada kita, bahwa kita harus mematikan hayat jiwa kita sama seperti biji gandum dimasukkan ke dalam tanah, Kemudian kita akan menghasilkan banyak buah dalam hayat rohani kita, yang akan bertahan hingga kekal. Kita ingin mempunyai banyak buah. Namun, kita tidak tahu bagaimana cara mematikan hayat jiwa dan bagaimana memperhidupkan hayat rohani.

Hayat jiwa hanyalah hayat alamiah kita. Daging kita mampu hidup karena hayat jiwa kita. Nyawa (jiwa) adalah organ yang membuat kita hidup. Segala yang dimiliki seseorang secara alamiah, seperti tekad, kekuatan, emosi, dan pikirannya, semua adalah bagian dari jiwa. Segala yang dimiliki hayat alamiah adalah hasil tambahan dari hayat jiwa kita. Kepandaian kita, pikiran kita, petah lidah kita, emosi kita, dan kemampuan kita, semua termasuk dalam hayat jiwa kita. Hayat rohani adalah hayat Allah. Hayat ini tidak timbul dari bagian hayat jiwa, tetapi secara khusus diberikan kepada kita oleh Allah ketika kita percaya kepada salib Tuhan dan dilahirkan kembali. Yang dilakukan Allah dalam diri kita sekarang ialah mengembangkan hayat rohani ini dan mempertumbuhkannya, agar semua kebajikan kita dan kekuatan untuk bekerja berasal dari hayat rohani. Dia ingin mematikan hayat jiwa kita. (Kematian di sini berbeda dengan kematian dalam II Korintus 4. Kematian di sana adalah segi yang lain).

Sering kali kekuatan pekerjaan kita berasal dari kemampuan alamiah kita, dari hayat jiwa kita; kita sering menggunakan kefasihan kita, hikmat kita, pengetahuan kita, kemampuan kita, dan sebagainya. Salah satu yang paling hebat ialah kekuatan yang kita gunakan dalam pemberitaan kita itu berasal dari hayat jiwa kita; kita menggunakan kekuatan alamiah kita. Ini sangat mengurangi buah kita. Di dalam pekerjaan kita, kita tidak tahu bagaimana memakai kekuatan hayat rohani; sering kali kita menganggap hayat jiwa sebagai hayat rohani. Akibatnya, kita akhirnya tetap menggunakan kekuatan alamiah kita. Sering kali kita harus menunggu sampai seluruh kekuatan alamiah tubuh kita habis, baru kita mulai mengandalkan kekuatan hayat rohani. Banyak orang malahan tidak mencapai standar ini. Bila mereka merasa lemah dalam kekuatan fisik mereka, mereka lalu mengira bahwa mereka tidak dapat bekerja lagi. Yang lain, yang lebih maju, akan meneruskan dalam kelemahan mereka dan akan terus bekerja dengan bersandar kepada kekuatan Tuhan. Namun, jika kita benar-benar tahu bagaimana mati terhadap kekuatan alamiah (jiwa) kita, dan bersandar kepada kekuatan hayat rohani yang Allah karuniakan di dalam diri kita, kita tidak akan bersandar kepada kekuatan alamiah untuk pekerjaan kita, baik pada saat kita tidak mempunyai kekuatan alamiah atau pada saat kita penuh kekuatan alamiah. Saya sungguh sedih, karena banyak pekerjaan orang imani masih di dalam jiwa, meskipun mereka itu sangat tekun dan tulus. Pekerjaan semacam itu tidak mungkin menjamah dunia rohani. Perbedaan antara penggunaan kekuatan rohani, atau kekuatan jiwa, tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kita hanya dapat memahaminya di dalam roh kita dan hati kita. Namun bila Roh Kudus menerangi kita, kita akan memahaminya dengan jelas di dalam pengalaman kita.

Tetapi dikarenakan kelemahan di antara banyak anak Allah, kita akan membicarakan persoalan ini secara terinci. Namun, kita hanya dapat mengharapkan Roh Kudus Allah secara pribadi menunjukkan kepada kita makna sebenarnya dari kebenaran ini dan bagaimana pelaksanaannya yang riil di dalam pengalaman kita. Ciri khas dari pekerjaan jiwa boleh dibagi dalam tiga aspek. Pertama ialah bakat alamiah; kedua ialah emosi, dan ketiga ialah pikiran.

BAKAT ALAMIAH

Telah kita kemukakan perihal bakat alamiah kita. Ada orang lebih cerdas, secara alamiah lebih tajam pikirannya daripada orang lain. Ada orang sangat fasih; bila mereka berbicara, argumen mereka selalu sangat masuk akal. Ada orang sangat analitis; mereka sangat pandai menganalisis persoalan-persoalan dengan logis. Ada orang sangat kuat tubuh jasmaninya; mereka mampu bekerja siang malam tanpa istirahat. Ada orang sangat cekatan; sangat pandai menangani urusan-urusan. Kita tahu bahwa Allah memang menggunakan bakat alamiah manusia, tetapi manusia sering kali bersandar pada bakat-bakat alamiahnya pada saat Tuhan memakainya. Misalnya, di sini ada seorang yang tidak pandai berbicara, tetapi cekatan menangani urusan-urusan; ada orang lain yang sangat fasih, tetapi tidak mampu menangani urusan-urusan. Jika Tuhan meminta keduanya menyampaikan berita, yang pertama pasti merasa, karena dirinya tidak pandai berbicara, maka ia harus banyak berdoa, harus bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Yang kedua merasa dirinya sangat fasih; meskipun dia juga akan berdoa, namun dia tidak akan tekun berdoa seperti yang pertama. Sebaliknya, jika Tuhan meminta keduanya menangani suatu urusan, maka bobot bersandar kepada Tuhan dari orang yang pertama, tidak akan sebesar orang yang kedua! Bakat alamiah kita adalah kekuatan hayat jiwa kita. Kita tidak menyadari betapa kita telah percaya akan diri sendiri dan betapa banyak kita bersandar pada kekuatan jiwa kita, ketika kita bekerja! Dalam pandangan Allah, terlalu banyak pekerjaan kita yang dilakukan melalui kekuatan jiwa.

EMOSI

Ada emosi berasal dari diri kita sendiri, ada yang dikarenakan orang lain. Adakalanya, orang yang kita cintai belum beroleh selamat, atau mereka tidak memenuhi harapan kita; melihat fakta itu kita tergugah, kita berusaha sebisanya untuk membawa mereka beroleh selamat atau membina mereka. Pekerjaan macam ini biasanya tidak efektif, karena motivasi pekerjaan ini berasal dari emosi kita. Kadang-kadang kita menerima kasih karunia khusus dari Allah; hati kita dipenuhi dengan terang dan sukacita, seakan-akan api berkobar di dalam kita dan memberi sukacita yang tak terkatakan. Pada saat-saat seperti itu, kehadiran Allah menjadi sangat nyata; jiwa kita juga tergerak sehingga timbul perasaan yang meluap-luap. Pada saat itu, bekerja bagi Tuhan terasa sangat mudah. Isi hati kita terasa seakan meluap keluar dan kita hampir tidak dapat menahan diri untuk tidak berbicara kepada orang lain tentang Tuhan. Biasanya, kita mungkin sadar bahwa kita harus hati-hati dalam kata-kata kita. Namun, pada saat seperti itu, ketika hati penuh dengan terang yang istimewa, kita berbicara tidak henti-hentinya tentang hal-hal Allah. Pekerjaan yang demikian sepenuhnya berasal dari emosi. Ada yang mengira bahwa mereka hanya dapat bekerja bila mereka merasakan "api" seperti itu di dalam hati mereka dan mereka merasa seolah-olah berada di sorga tingkat ketiga. Ketika Tuhan tidak memberi "perasaan" sukacita ini, mereka lalu merasa berton-ton beban bertumpu pada bahu mereka, dan mereka tidak dapat maju satu langkahpun. Kadang-kadang hati mereka dingin seperti es, tidak ada perasaan emosional sama sekali; pada saat-saat demikian, mereka merasa tidak dapat lagi memberitakan. Mereka merasa kering dan dingin dalam dirinya. Akibatnya, mereka tidak dapat bekerja; kalaupun mereka memaksa diri untuk bekerja, mereka sama sekali tidak berselera. Jerih payah mereka dikendalikan sepenuhnya oleh perasaan mereka. Bila perasaan itu ada, mereka membubung seperti burung elang. Bila perasaan itu hilang, mereka terhuyung-huyung dan tidak mau maju. Perasaan, rangsangan, dan emosi adalah bagian dari hayat jiwa. Karena itu, kaum saleh yang dikendalikan oleh perasaan, rangsangan, dan emosi mereka, bekerja dengan kekuatan hayat jiwa mereka. Mereka belum mampu mematikan hal-hal ini dan masih tidak mampu bekerja dalam roh.

Pikiran

Pekerjaan kita sering kali terpengaruh atau dikendalikan oleh pikiran kita. Karena kita tidak tahu bagaimana mencari kehendak Allah, sering kali kita menganggap pemikiran kita sebagai kehendak Allah, akibatnya kita tersesat. Menuruti pemikiran dan mendasarkan tindakan atas pikiran adalah hal yang sangat berbahaya. Kadang-kadang ketika kita mempersiapkan khotbah, kita berusaha keras menggunakan pikiran kita untuk menghasilkan garis besar, bagian-bagian, uraian, makna-makna, dan contoh-contoh. Khotbah seperti itu sangat mati. Khotbah itu mungkin bisa membangkitkan perhatian orang lain dan mungkin menimbulkan minat pendengar, tetapi tidak dapat memberikan hayat kepada orang lain.

Masih ada satu lagi pekerjaan pikiran; saya percaya banyak pekerja Allah sering mendapati diri jatuh ke dalam pekerjaan yang tidak diinginkan ini, yaitu ingatan (hafalan). Kita sering memberitakan firman kepada orang lain melalui daya ingat kita! Kita mengingat berita-berita yang pernah kita dengar, dan kita berbicara kepada orang lain berdasarkan ingatan kita. Kadang-kadang kita berbicara kepada orang lain dengan ayat-ayat Kitab Suci yang telah kita hafalkan atau dari bahan khotbah kita yang usang, catatan-catatan yang usang. Itu semua adalah pekerjaan pikiran. Ini tidak berarti bahwa kita sama sekali tidak pernah mengalami apa yang kita beritakan. Mungkin yang kita ketahui dan kita ingat adalah hal-hal yang dulu pernah diajarkan oleh Allah. Mungkin kita pun telah mengalami hal-hal yang kita ingat dan ketahui. Tetapi itu tidak dapat menghindar dari kenyataan bahwa semua itu masih merupakan pekerjaan pikiran. Karena setelah kita mengalami suatu doktrin, yang pada waktu kita alami doktrin itu menjadi hayat bagi kita, namun setelah beberapa waktu, pengetahuan akan doktrin itu hanya tinggal di otak kita. Kita lalu memberitakan doktrin yang dahulu kita alami berdasarkan ingatan kita, tetapi ini telah menjadi pekerjaan pikiran semata. Pikiran dan ingatan kita adalah organ-organ jiwa. Bila kita bersandar akan pikiran dan ingatan kita, maka kita bersandar pada kekuatan hayat jiwa. Kita masih dikendalikan oleh hayat alamiah.

Ketiga hal di atas adalah hal-hal utama dalam pekerjaan jiwani. Pekerjaan jiwani seperti ini bukanlah dosa, juga bukan sama sekali tidak dapat menyelamatkan orang, namun buahnya tidak seberapa. Kita harus mengalahkan pekerjaan jiwani dengan bersandar kepada salib. Tuhan Yesus memberitahu kita, bahwa hayat alamiah milik jiwa harus jatuh ke dalam tanah dan mati seperti biji gandum. Menurut pengalaman kita, kita sangat mencintai kemampuan alamiah kita, sangat mencintai perasaan kita, dan sangat bersandar pada pikiran kita. Namun, Tuhan kita mengatakan kepada kita, bahwa kita harus membenci hayat jiwa kita. Jika kita tidak membencinya, sebaliknya malah mencintainya, kita akan kehilangan kekuatan hayat rohani yang adikodrati itu. Dalam hal ini, kematian salib harus melakukan pekerjaan yang mendalam. Kita harus menyerahkan hayat jiwa yang kita sayangi kepada salib, rela mati bersama Tuhan di sini, dan menyingkirkan ketergantungan kita pada bakat alamiah, perasaan, dan pikiran. Kita tidak menyingkirkan pekerjaan ini dengan terpaksa, melainkan kita membenci pekerjaan macam ini dari dalam hati kita. Dalam pekerjaan, kita tidak hanya memandang memiliki bakat alamiah sebagai tidak memiliki, memandang memiliki emosi dan pikiran sebagai tidak memiliki, melainkan kita harus secara langsung membenci kekuatan hayat alamiah seperti itu, dan rela menyerahkannya kepada penyaliban di kayu salib.

Jika kita selalu bersikap membenci hayat jiwa kita pada sisi negatifnya, dan jika kita tidak mau berkompromi sama sekali, kita akan belajar dalam pengalaman bagaimana bersandar kepada kekuatan hayat rohaniah, dan menghasilkan buah bagi Allah.

CARA SEORANG YANG TERSALIB

MEMBERITAKAN SALIB

Dalam pelaksanaan kita, setiap waktu dan di manapun Tuhan mengamanatkan kita untuk memberi kesaksian bagiNya, kita harus menyingkirkan lagi adanya hasrat dalam diri kita untuk mengandalkan kemampuan alamiah kita, kita harus mengesampingkan emosi kita dan tidak memperhatikan perasaan kita sendiri. Bahkan pada saat-saat kita tidak mempunyai perasaan sama sekali, atau ketika emosi kita sedingin es, kita perlu berlutut di hadapan Tuhan dan memohon Dia untuk memperdalam pekerjaan salib di dalam diri kita, .sehingga kita dapat mengendalikan emosi kita, tak peduli emosi kita dingin atau panas, dan kita dapat bertindak sesuai dengan perintah Tuhan. Kita dapat memohon Tuhan untuk menguatkan roh kita dan mohon Tuhan memberikan pukulan yang fatal pada jiwa kita di salib. Jika kita melakukan hal ini, Tuhan akan merahmati kita dan akan mengalahkan emosi kita yang dingin. Meskipun kita telah tahu berita yang akan kita beritakan, namun kita tidak mau memberikan ajaran itu dari otak atau benak kita. Sebaliknya, kita merendahkan diri di hadapan Allah dan memohon Dia untuk menerangi kita lagi dengan ajaran-ajaran yang telah kita ketahui sebelumnya, dan memeteraikan lagi ajaran itu pada roh kita, supaya apa yang kita beritakan tidak menjadi sekadar ingatan akan pengalaman lama kita, tetapi kembali menjadi suatu pengalaman baru dalam hidup kita. Dengan demikian, Roh Kudus akan meneguhkan apa yang kita beritakan dengan kuasa. Sebaiknya, kita meluangkan banyak waktu di hadapan Tuhan sebelum pemberitaan kita untuk membiarkan firmanNya (yang sebagian telah kita ketahui) kembali terukir di dalam roh kita. Tetapi, kadang-kadang itu tidak membutuhkan waktu lama; Tuhan dapat mengukirkan beritaNya pada roh kita dalam beberapa menit. Untuk ini, setiap saat roh kita harus sangat terbuka bagi Tuhan dan selalu berhubungan erat denganNya.

Kita harus memperhatikan hal ini, karena ini berkaitan erat dengan keberhasilan atau kegagalan kita. Mungkin kita dapat meminta satu orang imani yang sudah jatuh untuk menyampaikan berita mengenai pengalamannya dahulu dengan menggunakan ingatannya, dan dia dapat memberitakan dengan meyakinkan. Namun, kita tahu, bahwa Roh Kudus tidak mungkin bekerja sama dengannya. Ketahuilah, semua pekerjaan yang kita lakukan dengan menggunakan ingatan kita, kurang-lebih sama dengan pemberitaan orang imani yang sudah jatuh. Kita harus tahu, bahwa pekerjaan yang kita garap dengan pikiran kita, sering kali adalah membuang tenaga. Pikiran hanya dapat mencapai pikiran orang lain, tidak mungkin dapat menggerakkan roh orang atau memberi hayat kepada orang. Pengalaman usang tidak mungkin dapat memperlengkapi kita untuk pekerjaan baru. Kita harus membiarkan Allah memperbarui pengalaman usang dalam roh kita.

Lebih-lebih dalam hal memberitakan keselamatan salib kepada orang dosa. Kita mungkin telah diselamatkan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Jika kita bekerja berdasarkan ingatan kita, tidakkah berita yang kita sampaikan itu terlalu usang dan hambar? Jika kita sekali lagi nampak kejahatan dosa dalam roh kita, merasakan lagi kasih salib, dan bersimpati terhadap besarnya hasrat Kristus yang mendambakan orang-orang dosa datang kepadaNya, kita akan mampu menggambarkan salib dengan hidup dan jelas di hadapan manusia (Galatia 3:1), sehingga orang percaya. Kalau tidak, jika kita mencoba membujuk orang lain dengan kasih dan kegairahan kita, akhirnya kita sendiri mungkin menjadi tegar dan dingin! Ketika kita memberitakan penderitaan salib, mungkin hati kita sama sekali tidak terjamah oleh penderitaan itu dan tidak diluluhkan olehnya!

Kita harus membuka roh kita di hadapan Tuhan, membiarkan Roh Kudus mengalirkan firmanNya dan beritaNya melalui roh kita, supaya kita lebih dahulu diresapi dalam roh kita oleh firman Tuhan dan oleh berita yang kita sampaikan. Kita tidak boleh bersandar pada perasaan kita, bakat alamiah, dan pikiran kita, tetapi harus bersandar pada kuasa Roh Kudus, membiarkan beritaNya terukir dalam roh kita dan juga terukir dalam roh para pendengar. Setiap kali kita memberitakan, kita harus seperti Yesaya, yang menerima lebih dahulu beban untuk bernubuat, kemudian baru mengucapkan nubuatnya. Dalam Yesaya pasal 13 sampai dengan pasal 23, frasa "Ucapan ilahi" mengenai ini atau itu, sangatlah berarti ("Ucapan ilahi" di sini dalam bahasa Inggrisnya adalah "burden", yang berarti "beban"). Setiap kali sebelum kita memberitakan firman Allah, kita terlebih dahulu harus menerima beban Allah dalam roh kita. Setiap kali kita memberitakan, kita harus memikul beban berita yang kita sampaikan di dalam roh kita dan tidak boleh menganggap beban ini terlepas sampai pekerjaan kita selesai. Kita harus berdoa agar Tuhan memberi kita beban ini supaya pekerjaan kita tidak berasal dari emosi, bakat alamiah, atau pikiran kita. Kita juga harus memiliki pengalaman Yeremia, yang berkata, "Tetapi apabila aku berpikir: 'Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya', maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup" (20:9). Kita tidak boleh memberitakan firmanNya dengan sembarangan atau secara sembrono. Kita terlebih dahulu harus membiarkan firmanNya berkobar di dalam roh kita, sampai kita tidak bisa tidak berbicara. Namun, jika kita tidak mau mematikan hayat jiwa kita beserta kekuatannya, kita tidak mungkin dapat kembali lagi menerima firman Tuhan yang segar dalam roh kita.

Karena itu, saudara-saudara, jika kita ingin dipakai oleh Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang dosa, menyegarkan orang-orang saleh, dan untuk memberitakan firman salib, kita harus membiarkan salib bekerja di dalam diri kita. Melalui pekerjaan salib, di satu pihak, setiap hari kita rela dimatikan demi Tuhan; di pihak lain, kita rela mematikan kekuatan hayat jiwa kita. Kita tidak lagi mengandalkan diri sendiri atau apapun yang keluar dari kita; kita membenci semua kekuatan alamiah kita. Dengan demikian, kita akan melihat hayat Allah dan kuasaNya akan mengalir ke dalam roh orang lain melalui pemberitaan kita.

Namun, meskipun sebagai pemberita Injil kita siap, kita mungkin masih bisa gagal, (tentunya tidak gagal sama sekali). Mengapa bisa gagal? Karena ada tekanan dan serangan Iblis.

TEKANAN DAN SERANGAN IBLIS

Iblis sangat tidak senang kalau kita memberitakan salib. Bila kita setia berbicara tentang salib, dia pasti akan mengadakan banyak penentangan. Dia melakukan serangan-serangan berikut ini terhadap pemberita-pemberita salib.

Iblis menyerang para pemberita salib dengan menyebabkan mereka sakit, kehilangan suara ketika menyampaikan berita, menempatkan mereka dalam bahaya, menyebabkan mereka tertekan rohnya dan tidak bisa bebas, seperti orang yang susah bernafas karena kekurangan udara. Iblis juga bekerja dalam lingkungan untuk membangkitkan kesalahpahaman, penentangan, dan kadang-kadang bahkan penganiayaan. Ia mendatangkan cuaca buruk untuk menghalangi orang untuk menghadiri sidang. Ia menimbulkan gangguan yang datang di luar dugaan atau kekacauan dalam sidang. Ia membuat hewan gaduh atau bayi menangis. Kadang-kadang dia bekerja dalam suasana sidang, membuat udara terasa menyesakkan sehingga mendatangkan rasa kantuk dan kekelaman. Semua itu adalah pekerjaan musuh. Pemberita salib harus sadar benar akan hal-hal itu.

Karena kita mempunyai musuh dan mendapat penentangan seperti itu, kita tidak boleh tidak mengetahui kemenangan salib. Yang telah Tuhan genapkan pada salib tidak hanya membereskan persoalan orang dosa, tetapi juga menyatakan penghakiman atas Iblis; Tuhan telah mengalahkan Iblis di kayu salib. Ibrani 2:14-15 mengatakan, "Supaya oleh kematianNya la memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian la membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepadn maut." Kolose 2:15 mengatakan, "la telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka." Salib adalah tempat Iblis dikalahkan. Iblis menerima luka kematiannya pada salib. Kita tahu bahwa "Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya la membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu" (I Yohanes 3:8), tetapi di manakah perbuatan Iblis dibinasakan? Jawaban yang jelas ialah, "Di kayu salib." Kita juga tahu, bahwa Tuhan Yesus datang untuk mengikat "orang yang kuat" (Matius 12:29), tetapi di mana Dia melakukan hal itu? Tentunya, juga pada kayu salib Golgota.

Kita harus tahu, bahwa Tuhan Yesus Kristus telah meraih kemenangan pada kayu salib. Kita harus tahu kemenangan salib.

KEMENANGAN SALIB

Kita harus tahu, bahwa Iblis adalah musuh yang telah dikalahkan. Karena itu, kita tidak boleh dikalahkan lagi, musuh tidak boleh menyatakan kemenangan atas kita lagi. Iblis tidak berhak menang lagi! Dia tidak berhak atas apapun kecuali kekalahan total. Karena itu, baik sebelum kita melihat pekerjaan Iblis maupun setelah kita melihat pekerjaannya, kita harus menjunjung kemenangan salib. Kita harus memuji kemenangan Kristus dengan suara lantang! Sebelum kita memulai pekerjaan kita, kita harus mengatakan di hadapan Tuhan, "Terpujilah Tuhan, karena Dia menang! Kristus adalah Pemenang! Iblis telah dikalahkan! Musuh telah dihancurkan! Golgota adalah kemenangan! Salib adalah kemenangan!" Kita dapat mengatakan ini terus-menerus sampai kita yakin dalam roh kita, bahwa Tuhan akan mendapatkan kemenangan kali ini. Kita harus berdiri pada kedudukan salib dan berdoa untuk kemenangan Allah dan memohon Allah mengalahkan semua pekerjaan Iblis. Baik untuk diri kita sendiri maupun untuk mereka yang menghadiri sidang, kita harus memohon Allah untuk menutupi kita dengan darah adi Tuhan Yesus, supaya kita tidak diserang Iblis, tetapi sebaliknya, mengalahkan dia. "Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba" (Wahyu 12:11). Kali ini ketika saya sedang bekerja di propinsi Fukien selatan, Iblis sering datang untuk menekan dan menyerang saya. Yang ditunjukkan Tuhan kepada saya ialah bahwa saya harus berdiri pada kedudukan salib dan harus memuji Dia. Kadang-kadang roh saya merasakan tekanan yang sangat berat; saya tidak dapat bebas. Seakan-akan ada beban seberat ribuan ton di hati saya. Beberapa kali ketika saya memasuki balai sidang, saya dapat merasakan suasana berpolusi; Iblis sangat sibuk bekerja. Dalam keadaan seperti itu, walaupun saya banyak berdoa, tetap tidak membawa hasil. Namun, begitu saya memuji kemenangan Kristus pada salib, bermegah bersandarkan salib, menertawai musuh, dan berkata kepadanya bahwa ia tidak dapat bekerja lagi, dan ia pasti gagal, saya segera merasa keleluasaan, dan suasana balai sidang berubah. Puji Tuhan! Salib pasti menang! Puji Tuhan! Iblis telah kalah! Kita harus belajar menerapkan kemenangan salib yang beraspek banyak itu melalui doa kita untuk melawan tipu muslihat, kekuatan, dan serangan musuh. Jika muncul penentangan dan kekacauan, kita dapat menyerukan kemenangan salib di Golgota. Meskipun kita mungkin tidak merasakan apa-apa, kita harus percaya bahwa begitu kita menyerukan kemenangan salib, musuh pun dikalahkan.

Jika kita benar-benar menyatukan diri dengan salib sedemikian ini: membiarkan salib bekerja lebih dalam di dalam hidup kita dan pekerjaan kita, dan kita bersandar sepenuhnya kepada kemenangan salib, Allah akan memberi kita kemenangan ke manapun kita pergi. Semoga Allah menjadikan kita, (hamba-hamba yang tak berguna,) pekerja-pekerjaNya yang tak bercela.

W.N.

PENGKAJIAN LEBIH DALAM

TENTANG PENYALURAN ILAHI

BAB

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

11 12 13 14 15

Prakata

Buku ini tersusun dari terjemahan berita-berita yang disampaikan oleh Saudara Witness Lee dalam sidang-sidang di Malaysia, dari 23 Oktober sampai 7 Nopember 1990. Bab satu dan dua berisi berita yang disampaikan di Kota Kinabalu, mengenai penyaluran ilahi seperti yang terlihat dalam Injil Yohanes. Bab tiga sampai tujuh dengan dua perkataan tambahan, merupakan berita-berita yang disampaikan di Sibu mengenai penyaluran ilahi seperti yang terlihat dalam Kitab Roma. Bab delapan sampai sepuluh tersusun dari berita-berita yang disampaikan di Kuching mengenai penyaluran ilahi seperti yang terlihat dalam Kitab 1 dan 2 Korintus. Bab sebelas sampai lima belas merupakan berita-berita yang disampaikan di Petaling Jaya mengenai penyaluran ilahi seperti yang terlihat dalam Kitab Efesus. Berita atau khotbah aslinya disampaikan dalam bahasa Mandarin.

Garis besar dan ayat Alkitab pada permulaan setiap bab dimaksudkan untuk membantu kaum saleh untuk membagikan kekayaan dalam setiap bab secara korporat dalam sidang-sidang secara timbal balik.