Daftar isi Bukti Beroleh Selamat · bab 1/1

BUKTI BEROLEH SELAMAT

SUDAHKAH ANDA BEROLEH SELAMAT?

Setiap kali saya memberitakan Injil anugerah Allah ke satu tempat, saya sering mengajukan satu pertanyaan kepada umat saleh di tempat itu. Saya percaya, setiap orang yang bisa memahami dan menjawab, "Ya", ia pasti bersukacita, menikmati anugerah Allah. Pertanyaan ini ialah: "Sudahkah Anda beroleh selamat?", atau dengan lain perkataan, "Tahukah Anda bahwa Anda sudah beroleh selamat?" Ketika saya bertanya demikian, saya menemukan bahwa dari antara ribuan orang, hanya ada dua atau tiga orang yang mengetahui dengan pasti bahwa dirinya telah beroleh selamat. Adakalanya bahkan tidak ada satu orang pun dari antara hadirin yang mengetahui bahwa dirinya telah beroleh selamat! Saya melanjutkan bertanya lagi, "Kalian telah percaya Tuhan Yesus, menerima-Nya sebagai Juruselamat kalian, bersandar pada darah adi-Nya di atas salib untuk membersihkan dosa-dosa kalian, lalu mengapa kalian masih tidak mengetahui bahwa diri kalian telah beroleh selamat? Kalau ada orang terjatuh ke dalam air, dan ada orang lain yang menolongnya, dia pasti tahu sekarang dia berada di dalam air atau telah selamat di darat. Demikian juga, seharusnya kalian tahu, apakah kalian binasa atau sudah beroleh karunia dan selamat?" Tetapi masih banyak orang yang menjawab, "Aku tidak tahu apakah diriku telah beroleh selamat. Sekarang aku masih hidup di bumi. Bagaimana bisa mengatakan bahwa aku telah beroleh selamat?"

Saya rasa, di antara para pembaca buku ini, juga ada yang akan menjawab demikian. Di sinilah letak kesalahannya, yaitu percaya kepada Tuhan Yesus bukanlah semacam judi -- Kalau bernasib baik, akan menang; kalau tidak, akan kalah. Karunia keselamatan Tuhan Yesus di atas salib itu sangat terjamin. Kita tidak perlu menunggu sampai setelah mati baru bisa mengetahui apakah kita beroleh selamat atau tidak. Sekarang juga kita bisa tahu. Inilah ajaran yang sangat jelas dari Alkitab. Mari kita baca beberapa ayat Alkitab.

"Jadi, ketahuilah, Saudara-saudara, oleh karena Dialah (Tuhan Yesus) maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa. Oleh hukum Musa kamu tidak dapat dibenarkan. Sedangkan di dalam Dia (Tuhan Yesus) setiap orang yang percaya dibenarkan" (Kis. 13:38-39).

Bersandarkan perbuatan kita sendiri, kita tidak bisa dibenarkan oleh Allah; kita telah melakukan banyak dosa, jika kita memikirkannya, kita bisa gelisah, tidak berani menganggap diri kita telah beroleh selamat. Namun, walaupun diri kita gagal, tetapi Tuhan Yesus patut diandalkan. Percaya kepada-Nya, kita memperoleh pengampunan dosa; percaya kepada-Nya, kita dibenarkan. Betapa besar karunia keselamatan Tuhan! Firman Allah mengatakan, "Ketahuilah". Mengetahui apa? Mengetahui bahwa begitu Anda percaya Tuhan Yesus, dosa Anda diampuni, Anda dibenarkan, Anda telah beroleh selamat! Allah berkata, "Ketahuilah!". Ini berarti kita bisa mengetahui apakah diri kita sudah beroleh selamat atau belum. Karena itu, segera serahkan dosa Anda kepada Juruselamat, percaya kepada karunia keselamatan yang telah Dia rampungkan bagi Anda. Demikian, Anda beroleh selamat.

"Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab inilah kesaksian Allah, yaitu bahwa Ia bersaksi tentang Anak-Nya. Siapa yang percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; siapa yang tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya kepada kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal" (1 Yoh. 5:9-13).

Memiliki Tuhan Yesus, memiliki hidup; tidak memiliki Tuhan Yesus, tidak memiliki hidup. Apakah Anda telah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda? Jika Anda telah menerima, maka Anda memiliki hidup, Anda telah beroleh selamat. Tuhan Yesus sendiri berkata, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, 'siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal'" (Yoh. 6:47). Allah memberikan kesaksian tentang Anak-Nya, mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita. Alkitab mengatakan jika kita tidak percaya kepada kesaksian ini (yaitu kita memiliki hidup kekal), kita menjadikan Allah sebagai pendusta. Allah berkata bahwa siapa saja yang percaya Tuhan Yesus, memiliki hidup yang kekal. Apakah Allah berdusta? Sekali-kali tidak. Oleh sebab itu kita harus percaya bahwa kita yang telah dicuci bersih oleh darah adinya, memiliki hidup kekal, telah beroleh selamat. Melalui rasul Yohanes, Allah menuliskan kata-kata ini, yaitu agar kita mengetahui bahwa diri kita telah beroleh selamat.

Kesaksian Alkitab ialah: Kita bisa mengetahui apakah kita telah beroleh selamat. Ini bukan perkara setelah mati, bukan pula menunggu hingga masa yang akan datang, melainkan sekarang sudah harus mengetahuinya. Jika masih ada orang yang belum beroleh selamat, hendaklah ia cepat-cepat percaya Tuhan Yesus Kristus, menerima penebusan yang telah dirampungkan-Nya bagi kita. Kalau sudah beroleh selamat, hendaklah bersyukur atas karunia Allah, dan hidup sebagai orang yang telah beroleh selamat. "Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenaan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu" (2 Kor. 6:2). Hari ini Allah berkenan kepada kita, mau menyelamatkan kita.

HARUSKAH BERBUAT BAIK BARU BISA BEROLEH SELAMAT ?

Kadangkala, ketika saya bertanya tentang hal ini kepada seseorang, ia akan menjawab, "Dengan sekuat tenaga aku berusaha berbuat baik, melayani Allah, mudah-mudahan kelak bisa beroleh selamat."

Ini juga salah. Orang yang berkata demikian tidak mengerti cara beroleh selamat. Anda berusaha berbuat baik, melayani Allah, bisakah kelak beroleh selamat? Tidak bisa. Selaksa kali tidak bisa. Kita harus tahu bahwa tidak ada satu pun jasa dan perbuatan kita yang diperkenan di hadapan Allah. "Segala kesalehan kami seperti kain kotor" (Yes. 64:6). Alkitab dengan jelas mengatakan, "Diselamatkan . . . bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri" (Ef. 2:8-9). Beroleh selamat adalah bersandar Tuhan Yesus. "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib." "Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah" (1 Ptr. 2:24; 3:18). Ia telah merampungkan penebusan, kita hanya percaya kepada-Nya, cukuplah sudah. "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat" (Kis. 16:31). Jangan Anda mengira dengan perbuatan atau usaha Anda sendiri bisa beroleh selamat. Bagaimanapun baiknya perbuatan Anda itu tidak akan bisa membuat Anda beroleh selamat. Karena "beroleh selamat bukan dari hasil usahamu". Jika Anda mau percaya kepada Tuhan Yesus yang telah mati di atas kayu salib menggantikan Anda, Anda akan beroleh selamat. Jika Anda tidak menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, maka Anda tidak ada harapan untuk beroleh selamat, karena Anda tidak bisa menyelamatkan diri Anda sendiri. Karena itu, jika Anda telah menerima Tuhan Yesus, Anda tidak perlu lagi berharap untuk beroleh selamat. Orang selalu berharap pada sesuatu yang belum diperoleh, jika sudah memperolehnya, tentu tidak berharap lagi.

Ada seorang anak, ketika ayahnya pergi jauh; ia berharap bisa segera bertemu lagi dengan ayahnya. Kemudian ayahnya kembali, ia senang sekali. Ibunya bertanya kepadanya, "Masihkah kamu berharap bertemu dengan ayah?" Ia menjawab, "Aku sudah melihat ayah, apa lagi yang kuharap?" Ya, karena telah mendapatkan, maka ia tidak berharap apa-apa lagi.

"Setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, siapa yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman" (Yoh. 3:15-18). Alkitab membagi manusia dalam dua kategori: yang beroleh selamat dan yang binasa. Jika Anda bukan yang percaya Tuhan Yesus dan memiliki hidup yang kekal, maka Anda adalah tidak beroleh selamat dan binasa. Di antara dua kategori ini tidak ada penengah, tidak ada macam yang ketiga. Jika Anda sungguh-sungguh percaya pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda, percaya bahwa di atas kayu salib Dia telah mati menggantikan Anda, menanggung dosa Anda, maka Anda sudah beroleh selamat. Tidak perlu berharap lagi. Misalnya, seseorang telah ditolong dan diselamatkan dari bahaya tenggelam dalam air, ada orang yang bertanya kepadanya, "Apa yang Anda inginkan ?" Ia menjawab, "Aku berharap ditolong dari dalam air!" Bukankah jawaban ini sangat lucu sekali? Saudara-saudara, jika Anda telah percaya Tuhan Yesus, maka Anda memiliki hidup yang kekal. Mengapa Anda masih ragu? Anda sudah mendapatkannya, mengapa masih berharap! Pujilah Tuhan!

APAKAH HARUS MENUNGGU SETELAH MATI

BARU TAHU BEROLEH SELAMAT ?

Masih ada sejumlah orang, ketika saya menanyakan masalah keselamatan kepadanya, ia menjawab, "Sekarang aku hidup di bumi, sungguh-sungguh percaya kepada karya penebusan Tuhan Yesus, namun apakah aku sudah beroleh selamat, aku tidak berani mengatakannya. Harus menunggu setelah aku mati, datang ke hadapan Bapa di surga, saat itu jika Ia menyatakan aku selamat, aku sangat gembira; bila binasa, terpaksa dengan sedih dan berat hati masuk neraka."

Ah, kelak yang demikian, bukankah kasihan sekali! Sesungguhnya saya beri tahu Anda, jika saya tidak mengetahui diri saya sudah beroleh selamat atau belum, tentu hari ini saya tidak bisa enak makan dan minum, tidur pun tidak bisa pulas. Syukur pada Allah, karena Ia telah berkenan kepada saya, membuat saya memiliki hidup yang kekal! Apakah Anda sungguh-sungguh percaya akan penebusan Tuhan Yesus? Jika Anda sungguh-sungguh percaya, masihkah Anda menunggu setelah mati baru mengetahui diri Anda beroleh selamat atau binasa?

"Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:16).

Ayat Alkitab ini dengan jelas memberi tahu kita "Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal", inilah perbuatan Allah. Ia mengasihi, Ia mengaruniakan. Ia mengaruniakan Tuhan Yesus kepada kita (orang dunia), mati bagi kita, di atas kayu salib merampungkan penebusan. "Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya (Tuhan Yesus), tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal". Di sini dengan jelas menyatakan, begitu kita percaya Tuhan Yesus, kita tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Akan tetapi sayang sekali, banyak umat saleh yang meskipun telah percaya kepada Tuhan Yesus, namun masih mengatakan "belum" beroleh selamat. Seolah-olah mereka telah mengubah Yohanes 3:16 menjadi: "Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, satu bulan atau dua bulan lagi, satu tahun, sepuluh tahun, atau puluhan tahun, setelah mati, mungkin tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Syukur kepada Allah! Alkitab tidak menuliskan kata-kata itu, melainkan menghubungkan perkataan "setiap orang yang percaya" dengan "tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal". Begitu Anda dan saya percaya kepada Tuhan Yesus, tercuci bersih oleh darah adi-Nya, pada saat itu juga Anda dan saya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. "Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:36), bukan setelah mati baru memperoleh.

Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, kelak tidak menghadapi penghakiman atas beroleh selamat atau binasa. Tuhan Yesus terpaku di atas kayu salib, adalah untuk menggantikan kita menerima hukuman dosa. Ia telah menanggung dosa kita, persoalan dosa telah dibereskan. Setiap orang yang percaya kepada-Nya, menerima karunia Dia sebagai pengganti. Kalau Ia telah menerima hukuman mati menggantikan kita, maka kita tidak lagi dihukum mati. "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus" (Rm. 8:1).

Mari kita baca Yohanes 5:24, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup."

Betapa indah dan manisnya perkataan Tuhan Yesus. Tiada bandingannya. Kata-kata yang jelas ini bagaikan musik yang merdu. Kalau dikatakan "sesungguhnya", masih adakah kepalsuan? Tentu tidak! Tuhan Yesus berkata, "Memiliki hidup yang kekal," ini adalah sungguh-sungguh. Tuhan Yesus berkata, "Tidak dihukum," ini sungguh-sungguh. Tuhan Yesus mengatakan, "Sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup" ini juga sungguh-sungguh. Dia mengatakan, "Sudah," berarti telah rampung, telah lewat. Bagaimana kita menggunakan kata "sudah" ? Bukankah "sudah" itu menyatakan satu hal telah rampung? Tuhan berkata bahwa "orang yang percaya kepada-Nya sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup", mengapa masih ada orang yang mengatakan harus menunggu setelah mati baru bisa mengetahui beroleh selamat atau tidak? Saudara-saudara, sekarang inilah, setiap orang yang percaya kepada-Nya sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya inilah Injil! Sesungguhnya saya berkata kepada Anda, orang yang percaya "telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup", yang tidak percaya, "telah berada di bawah hukuman".

APAKAH MENGATAKAN DIRI SENDIRI TELAH BEROLEH SELAMAT

ADALAH MENYOMBONGKAN DIRI ?

Mungkin ketika Anda membaca sampai di sini, Anda seperti banyak orang saleh lainnya, menganggap mengatakan diri sendiri beroleh selamat itu terlalu menyombongkan diri. Mungkin Anda berpikir: perbuatanku tidak lebih baik daripada orang lain, mana berani aku berkata demikian?

Pembaca yang terkasih, mengetahui diri sendiri beroleh selamat itu bukanlah menyombongkan diri. Dua kata "beroleh selamat" ini menyatakan bahwa kita berada di pihak yang pasif. Maka, apa yang dapat kita sombongkan? Jika menganggap diri sendiri tidak perlu beroleh selamat, tidak usah beroleh selamat, itu barulah menyombongkan diri, menganggap diri sendiri lebih baik daripada orang lain. Kita menyatakan diri kita telah beroleh selamat ini adalah menyatakan bahwa kita sebenarnya adalah orang dosa yagn harus binasa, tetapi kini karena percaya Tuhan Yesus, kita memperoleh karunia keselamatan-Nya. Ini menyatakan betapa dalam anugerah Tuhan, betapa luas penebusan Tuhan, betapa besar kuasa Tuhan, bukan menyombongkan diri sendiri. Jika kita mengetahui diri sendiri telah beroleh karunia keselamatan, tentu kita harus lebih memuji Tuhan, sering bersyukur pada Tuhan Yesus; ini semua adalah meninggikan Tuhan, bukan menyombongkan diri sendiri. Semakin kita tahu betapa dalamnya dosa kita, semakin kita tampak betapa besar pengampunan Tuhan, kita selamanya semakin cinta pada Tuhan. Karena itu, kita harus bersama-sama dengan Paulus mengatakan, "Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang" (1 Kor. 15:10).

Karena Allah berkata bahwa orang yang memiliki hidup yang kekal telah beroleh selamat, maka kita juga berkata demikian; ini bukan menyombongkan diri, melainkan percaya, mengakui apa yang difirmankan Allah. Kita percaya pada firman Allah, inilah yang paling diperkenan Allah. Kita harus percaya kepada firman Allah.

Memang benar, perbuatan kita tidak lebih baik daripada orang lain, namun beroleh selamat bukan karena perbuatan baik kita. Tuhan Yesus datang bukan menyelamatkan orang benar, melainkan menyelamatkan orang berdosa. "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Luk. 19:10). Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Kata Paulus, ". . . di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani . . ." (1 Tim. 1:15-16). Jika beroleh selamat adalah bersandarkan diri sendiri, maka tidak saja kita tidak berani menyatakan diri kita telah beroleh selamat, bahkan tidak seorang pun di dunia ini yang bisa beroleh selamat. Jika beroleh selamat adalah karena kebaikan kita, kelebihan kita, maka kita tidak mungkin bisa beroleh selamat. Semua orang yang bersandar perbuatan diri sendiri pasti terombang-ambing, tidak mantap. Ketika kelakuannya baik, ia berharap bisa beroleh selamat; ketika perbuatannya buruk atau jahat, lalu menganggap dirinya patut binasa. Ini membuktikan ia tidak pernah dengan sepenuhnya bersandar Kristus. Pembaca yang terkasih! Bukan karena perbuatan baik kita beroleh selamat, melainkan Kristus yang menyelamatkan kita, betapa besar karunia-Nya!

APAKAH BEROLEH SELAMAT ATAU TIDAK BERDASARKAN PERASAAN?

Banyak orang yang mengatakan, "Sekarang aku tahu bahwa siapa yang percaya kepada karya Tuhan Yesus di atas salib, akan beroleh selamat. Akan tetapi aku tidak merasakan apa-apa, apakah ini beroleh selamat?

Saudara-saudara! Alkitab tidak mengatakan, "Aku mengaruniakan perasaan sukacita kepada orang yang percaya kepada nama Anak Allah, agar mengetahui dirinya memiliki hidup yang kekal." Kalau begitu, maka jika tidak ada perasaan pasti tidak beroleh selamat. Namun Alkitab mengatakan, "Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal" (1 Yoh. 5:13).

Apakah "semua itu"? Yaitu perkataan dalam Alkitab, firman Allah Bapa. Kita mengetahui diri kita beroleh selamat, memiliki hidup yang kekal, bukan karena kita mempunyai perasaan tertentu, melainkan karena Allah berfirman demikian. Kalau Alkitab mengatakan percaya Tuhan beroleh selamat, maka kita adalah orang-orang yang telah beroleh selamat. Tidak peduli kita merasa beroleh selamat atau tidak, Allah mengatakan bahwa kita telah beroleh selamat, tentu beroleh selamat. Anda telah percaya Tuhan Yesus, dosa Anda telah dicuci oleh darah adi-Nya, maka Anda telah beroleh selamat; karena Allah yang mengatakannya.

Misalnya, ada seseorang yang keluarganya sangat miskin, hidupnya susah sekali. Suatu hari ia menulis surat kepada seorang temannya yang ekonominya lumayan untuk meminta bantuan. Beberapa hari berselang, tidak ada balasan. Dia berpikir mungkin temannya itu memandang rendah dia dan tidak mau membantu, karena itu hatinya sangat risau. Makin dipikir makin merasa bahwa temannya itu tidak mau membantu, lalu ia menceritakan hal ini kepada tetangganya. Ada yang mengatakan: teman berhubungan dengan harta, tidak mungkin menolak, tidak ada alasan untuk menolak; tetapi ada yang mengatakan: dunia ini tawar dan hambar, mungkin belum tentu. Ketika mendengar orang mengatakan ada harapan, ia senang sekali; ketika mendengar orang mengatakan tidak ada harapan, hatinya sangat sedih. Keesokan harinya, ternyata temannya itu mengutus orang mengirim surat ke rumahnya, hatinya sangat gundah, was was kalau di dalamnya ada janji atau tidak. Setelah dibuka dan dibaca, ia berseru pada keluarganya: "Sekarang telah pasti, Dia mengatakan bahwa sejak hari ini pengeluaran keluarga kita akan ditanggungnya, kita boleh hidup dengan tenang. Sudah pasti! Sekarang aku tidak peduli apakah orang bisa berkata ada harapan atau tidak ada harapan. Dia sendiri yang mengatakan akan menanggungnya. Kita boleh tenang."

Bukankah banyak orang saleh yang keadaannya sama seperti orang miskin itu? Kasihan, banyak anak Allah hanya mendengar perkataan-perkataan orang lain, menuruti perasaan diri sendiri, terombang-ambing. Orang miskin itu menjadi tenang karena telah mendapatkan janji dari temannya. Demikian juga anak-anak Allah harus menjadi tenang karena firman Allah. Allah berfirman, kita percaya Yesus Kristus, kita mendapatkan karunia keselamatan. Ia sendiri yang mengatakannya, telah menjadi ketetapan, masih adakah yang diragukan? Terhitung apakah perasaan kita? Apakah artinya pikiran-pikiran orang lain? Allah berkata bahwa kita telah beroleh selamat, itu sudah cukup; firman-Nya adalah jawaban yang paling tepat. Kalau Allah dengan begitu lapang telah menyatakan kesetiaan-Nya, maka kita harus dengan mutlak percaya dan menerima firman-Nya.

HARUSKAH MEMPUNYAI IMAN YANG SEMPURNA

BARU BISA BEROLEH SELAMAT?

Mungkin ada orang yang akan berkata, "Memang benar perkataan di atas, tetapi mungkin imanku tidak sempurna, maka aku tidak beroleh selamat?"

Dalam Alkitab hanya ada perbedaan antara "percaya" dan "tidak percaya". Tidak ada yang disebut dengan iman yang tidak sempurna. Harus tahu, percaya Tuhan Yesus itu bukan satu usaha atau pekerjaan yang mendatangkan jasa. Allah. Allah tidak karena kita mempunyai jasa percaya lalu menyelamatkan kita. Percaya adalah menerima (Yoh. 1:12). Yohanes 3:16 menyatakan Allah "mengaruniakan" Tuhan Yesus kepada kita, cukuplah kita "menerima" Dia. Yang satu mengaruniakan, yang satu menerima, di dalamnya tidak ada jasa manusia. Karunia keselamatan itu mutlak digenapkan oleh Tuhan Yesus.

Siapakah di antara kita yang bukan orang berdosa? Dulu kita mati dalam dosa, betapa kasihan keadaan kita! Dan betapa sengsaranya hukuman dosa itu! Kalau memikirkan kelak, bagaimana kita tidak gemetar? Terlebih sangat kasihan adalah kita tidak bisa menolong diri sendiri. Tenggelam dalam lumpur, tidak bisa menolong diri, sungguh dalam keadaan yang tidak terkatakan! Puji syukur pada Anak Domba yang tersembelih! Ia sudah datang, di atas salib mati bagi kita, bagi kita berdiri di atas kedudukan orang dosa. Ketika kita masih di dalam dosa, Ia telah mati bagi kita. Ia merampungkan penyelamatan. Menjelang mati Ia berkata, "Sudah genap!" Ya Tuhan! Anugerah-Mu yang besar membuat kita bersyukur tak berkesudahan! Percaya Tuhan Yesus tidak ada angan-angan lain, hanya Anda dan saya, orang-orang dosa yang tidak ada sandaran, tidak ada pertolongan, mau diselamatkan oleh-Nya. Ia datang untuk menyelamatkan dan kita mau diselamatkan. Maka jadilah. Di sini tidak ada iman yang sempurna atau tidak sempurna.

Tuhan sendiri mengatakan, "Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang" (Yoh. 6:37). Kalau kita sudah datang, sekarang persoalannya ialah: Apakah Ia membuang kita atau tidak? Syukur pada Allah! Karena Kristus setia, Ia bisa diandalkan, dalam mulut-Nya tidak ada dusta. Ia tidak membuang siapa saja yang datang kepada-Nya. Ia akan menyelamatkan semua orang yang mengetahui dirinya berdosa dan mau menerima-Nya sebagai Juruselamat. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat. 11:28). "Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!" (Yoh. 7:37), inilah undangan Tuhan.

Saudara saudari, bukan hanya iman Anda yang bisa menyelamatkan Anda, lebih-lebih kesetiaan dan anugerah Allah. Allah dengan senang hati menyelamatkan kita, Ia hendak memberi karunia kepada kita, masihkan kita tidak percaya? Masihkan kita ragu? Buanglah semua pikiran yang tidak menentu! Biarkan kasih Tuhan memenuhi hati kita!

SETELAH MENGETAHUI BEROLEH SELAMAT,

BOLEHKAH SEMBARANG BERBUAT DOSA?

Ada orang setelah mengerti kebenaran ini, masih sering merasa ragu, mengira jika seseorang mengetahui dirinya telah beroleh selamat dan memiliki hidup yang kekal, tidakkah ia boleh sembarangan berbuat dosa? Bagaimanapun ia telah beroleh selamat, kalau demikian bukankah ia boleh mengumbarkan hawa nafsu dan berbuat dosa dengan sesuka hati? Karena ia mengetahui bahwa dirinya pasti beroleh selamat, maka berbuat dosa tidak mengapa?

Banyak orang mengira jika seseorang mengetahui diri sendiri telah beroleh selamat, ia akan seenaknya berbuat dosa. Namun ini hanyalah satu angan-angan saja, realitasnya berkebalikan. Jika seorang mengetahui dirinya telah beroleh selamat, ia tidak hanya tidak mau berbuat dosa, bahkan dalam pikiran dan kelakuannya sedikit banyak ada unsur surgawi. Kalau seorang saleh mengetahui bahwa dirinya telah memiliki hidup yang kekal, dirinya adalah warga Kerajaan Allah, maka dalam segala hal, baik tutur kata, perbuatan atau perilakunya pasti belajar menyerupai yang surgawi. Yang tidak mengetahui dirinya telah beroleh selamat akan menyerupai orang dunia dan melakukan perbuatan yang sama dengan orang dunia. Saudara saudari! Yang benar-benar mengetahui dirinya telah beroleh selamat, tidak menghadapi bahaya akan sembarangan berbuat dosa, bahkan sebaliknya, dia akan setiap hari memikirkan hal-hal yang di atas. Ini bisa dibuktikan oleh pengalaman-pengalaman kaum saleh.

Saudara saudari yang terkasih! Sekarang Anda sudah percaya Tuhan Yesus Kristus, ini adalah perkara yang paling penting dalam kehidupan masa kini Anda, terlebih adalah kebahagiaan yang paling besar dalam hidup yang akan datang! Tuhan telah menyelamatkan Anda, Anda harus tahu bahwa Anda adalah orang yang telah memiliki hidup yang kekal. Ini adalah satu penghiburan yang luar biasa. Betapa sukacita! "Bersukacita karena nama telah tercatat di atas!" Inilah berita yang alangkah mustikanya! Dulu orang berdosa, kini telah diberi rahmatNya. Kini di bumi kita dapat mengetahui bahwa diri sendiri telah beroleh selamat! Mengetahui Tuhan telah menyelamatkan kita terhindar dari kebinasaan, memiliki hidup yang kekal, tidakkah kita sukacita! Hal ini membuat kita banyak memuji Allah; segala kuasa, limpah, hikmat, hormat, mulia dan puji-pujian bagi Domba yang tersembelih sampai selama-lamanya! Lihatlah, betapa Allah mengasihi kita! Kalau Ia demikian mengasihi kita, menyelamatkan kita, maka karena ungkapan terima kasih kita, kita pun seharusnya mengasihi Dia, hidup di bumi ini sebagai orang yang beroleh selamat. "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Flp. 1:5). Kita sendiri tidak bisa membuat Dia senang, karena "mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah" (Rm. 8:8). Kita hanya dapat membiarkan Roh-Nya bekerja di dalam kita, agar kita mempunyai kehidupan yang kudus. Meskipun adakalanya gagal, tetapi itu bukan berarti kita binasa lagi; karena yang dikaruniakan Allah pada kita adalah hidup yang kekal. Karena itu, bila mengalami kegagalan, janganlah putus asa, harus segera bangun mohon Tuhan mengampuni, Dia pasti akan membimbing kita maju.

Suatu kali, saya pergi sesuatu tempat untuk memberitakan Injil. Seorang saudara, setelah mengerti kebenaran ini lalu berkata kepada saya, "Dulu aku tidak tahu bahwa diriku adalah orang yang telah beroleh selamat, maka aku hidup sembarangan, aku takut kalau di dunia ini aku membuang segalanya untuk Tuhan, tetapi pada saat penghakiman, Allah memutuskan aku binasa. Sudah tidak ada kesenangan dunia, ditambah tidak mendapatkan kebahagiaan Kerajaan Surga! Tetapi sekarang, aku telah mengetahui kebenaran tentang beroleh selamat. Karena aku adalah warga Kerajaan Surga, maka aku tidak mau lagi hidup dengan sembarangan di dunia ini." Sungguh, jika kita tahu bahwa hidup kita adalah bersama-sama dengan Kristus tersembunyi di dalam Allah, dengan sendirinya kita akan mencari hal-hal yang di atas, betapa ajaibnya perkara ini. Kita mempunyai Juruselamat yang ajaib, kita memperoleh keselamatan yang ajaib, tidakkah kita bersukacita? Haleluya!