Daftar isi Abdi Allah dan Nabi Tua · bab 1/1

Abdi Allah dan Nabi Tua

Pembacaan Alkitab:

I Raja-raja 13:1-32

Kisah yang tercatat dalam I Raja-raja pasal 13 ini adalah satu kisah yang sangat serius, juga satu kisah yang sangat menyedihkan. Kita tampak di sini ada dua orang -- yang satu adalah abdi Allah yang lainnya adalah nabi tua. Kedua orang ini sama-sama pernah dipakai oleh Allah. Tetapi kesudahan mereka sangatlah menyedihkan. Dari kedua orang ini kita mendapatkan pelajaran yang sangat serius.

Nabi tua ini adalah nabi yang pernah dipakai oleh Allah, tetapi sekarang Allah tidak bisa memakai dia lagi. YeRoheam di Betel berdosa, melakukan kejahatan. Allah hendak memperingati YeRoheam, tetapi Allah tidak memakai nabi tua yang tinggal di Betel untuk berbicara kepadanya, melainkan mengutus seorang abdi Allah dari Yehuda berbicara kepadanya. Ini membuktikan bahwa nabi tua itu sudah tidak bisa dipakai oleh Allah.

Tuanya nabi tua ini bukan menunjukkan kesenioran rohaninya, bukan menyatakan kekayaan pengalaman rohaninya, melainkan menyatakan dirinya sudah tua/usang, sudah lama di tangan Allah dan tidak berguna lagi. Allah hendak berbicara kepada YeRoheam, tetapi Allah hanya bisa memakai abdi Allah. Allah tidak bisa memakai nabi tua. Arti "abdi Allah" ialah orang yang bersekutu dengan Allah. Bersekutu adalah dasar terang. Begitu persekutuan kita berhenti, saat itu juga terang kita berhenti. Nabi tua ini pernah mempunyai satu sejarah pengalaman rohani, karena dia adalah nabi. Tetapi dia sudah putus dengan Allah, dia sudah menjadi nabi tua. Sebab itu Allah tidak bisa memakai dia. Ini satu perkara yang serius.

Banyak saudara-saudari, sepuluh atau delapan tahun yang lalu, keadaan rohaninya begitu, tetapi sampai sekarang, keadaannya masih tetap begitu. Di hadapan Allah tak ada kemajuan rohani. Ada yang otaknya baik, kelihatannya ada kemajuan, tetapi kemajuan itu bukan kemajuan rohani. Mereka mengucapkan kata-kata yang mereka sendiri tidak mengerti. Mereka bisa mengatakan, tetapi pada dasarnya mereka sendiri tidak memahami; mereka mempunyai pengetahuan otak, tetapi tidak mempunyai terang yang sejati. Mereka telah belajar banyak perkataan rohani, tetapi di hadapan Allah tidak mempunyai kemajuan rohani yang sejati. Ada orang, sepuluh tahun yang lalu, ketika Anda berjumpa dengan dia, dia mempunyai sedikit terang, Anda merasa dia di hadapan Allah cukup baik. Tetapi sepuluh tahun kemudian, ketika Anda bertemu lagi dengannya, terasa di dalamnya sedikitpun tidak ada terang yang baru. Dia tidak mengalami kemajuan rohani. Dia memang seorang nabi, tapi nabi tua yang sekarang Allah tidak bisa berbicara kepadanya lagi. Allah adalah Allah yang terus bekerja. Tuhan Yesus berkata, "BapaKu bekerja sampai sekarang maka Akupun bekerja juga" (Yohanes 5:17). Sebab itu terang yang kita dapatkan pada 20 tahun, 10 tahun atau 5 tahun yang lalu, sekarang sudah tidak cukup untuk memimpin kita. Kalau kita berhenti pada pengalaman yang lalu, maka di depan kita tidak akan ada jalan. Sebab itu kita harus memperhatikan satu masalah, yaitu bagaimana bisa tidak dikesampingkan oleh Allah, bagaimana bisa tidak dibuang dan tidak dipakai lagi oleh Allah. Kesegaran kita di hadapan Allah adalah satu masalah yang sangat besar, kekayaan kita di hadapan Allah adalah satu manalah yang sangat besar. Seringkali dalam aspek rohani kita terlalu miskin, terlalu usang.

Nabi tua ini tinggal di Betel. Bagaimana keadaan di Betel pada saat itu? YeRoheam di Betel mempersembahkan korban kepada patung lembu yang dibuatnya.Ia mengangkat orang biasa yang bukan dari keturunan Lewi sebagai imam, dan ia menetapkan sendiri hari untuk membakar korban di hadapan mezbah itu (1 Raja 12:2833). Semua perbuatannya itu berdosa kepada Allah. YeRoheam takut kalau umatnya pergi mempersembahkan korban di Bait Allah yang di Yerusalem, sebab itu di luar Yerusalem dia mendirikan tempat penyembahan yang lain. Meskipun dia tidak menyembah allah yang lain, dia tetap menyembah kepada Allah yang menuntun orang Israel keluar dari Mesir, tetapi dia telah dengan sembarangan menentukan tempat penyembahan yang lain di luar Yerusalem. Hal ini sangat berdosa kepada Allah. YeRoheam tidak saja diri sendiri berbuat dosa, juga menyebabkan raja-raja yang kemudian terperosok kedalam dosa yang sama (I Raja 16:19,31; 22:52; 11 Raja 13:2 dll.). Dosa yang diperbuat YeRoheam di Betel benar-benar satu dosa yang sangat besar. Nabi tua ini justru tinggal di Betel, tetapi dia tidak tampak bahwa yang dilakukan YeRoheam di depan matanya itu adalah satu dosa yang sangat besar dan serius. Betapa seriusnya keadaan ini! Seorang nabi bisa berbicara bagi Allah kalau dia mengetahui maksud hati Allah. Tetapi di sini ada satu nabi tua yang justru tidak mengetahui maksud hati Allah! Orang yang tidak mengetahui maksud hati Allah tidak bisa berbicara bagi Allah. Allah tidak bisa mengutus orang yang tidak mengetahui maksud hatiNya untuk berbicara bagiNya. Sebab itu Allah mengutus abdi Allah itu.

Nabi tua tidak tampak penyembahan di Betel itu adalah satu dosa yang sangat besar, ini membuktikan bahwa atas dirinya sudah ada penyakitnya. Saudara-saudari, sekali-kali jangan mengira menjadi orang baik dengan sembarangan itu berarti ada kasih. Tidak ada perkara demikian. Kalau Anda melihat ini baik, melihat itu juga baik, menyembah di Yerusalem baik, menyembah di Betel juga baik, ini membuktikan Anda tidak tampak, di atas diri Anda ada penyakitnya. Banyak orang sama seperti nabi tua, matanya kabur, ada penyakitnya. Mereka tidak tampak apa yang berdosa kepada Allah. Mereka mengira semua perkara menyembah kepada Allah itu baik, menyembah di Betel itu juga tidak salah. Saudara saudari, apakah menilai demikian itu berard ada kasih? Seorang dokter bisa bersimpati kepada pasiennya, dia bisa mengasihi pasiennya, tetapi dia tidak bisa berkata bahwa pasiennya itu tidak berpenyakit. Kalau seorang dokter berkata, bahwa seorang yang sakit itu tidak berpenyakit, ini membuktikan dokter itu tidak benar, dia tidak tampak. Nabi tua tinggal di Betel, tetapi dia tidak tampak di Betel ada dosa. Dosa diletakkan di depannya, namun dia tidak merasakannya. Oh, ini sangat menyedihkan dan sangat mengerikan.

Tetapi yang lebih menyedihkan bukan nabi yang tua. Yang lebih menyedihkan adalah abdi Allah yang telah dicelakai oleh nabi tua. Allah berpesan kepada abdi Allah itu, "Jangan makan roti dan minum air, dan jangan kembali melalui jalan yang kau tempuh" (ayat 9). Abdi Allah itu ingat pesan ini, sebab itu ia menolak undangan raja, ia juga menolak undangan pertama dari nabi tua. Tetapi ketika nabi tua itu berkata, "Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah Tuhan seorang malaikat telah berkata kepadaku : Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air" (ayat 18). Dia telah dikelabui oleh perkataan ini, dia mengira nabi tua juga nabi, tentu lebih berpengalaman dari dirinya, sebab itu aku harus mendengar perkataannya, maka ia kembali bersama dengan nabi tua, makan dan minum di rumah nabi tua. Abdi Allah karena perkataan nabi tua telah melanggar perintah Allah. Akibatnya ia mati diterkam oleh singa. Abdi Allah sangat jelas terhadap perintah Allah, tetapi karena terpengaruh oleh perkataan, "Akupun seorang nabi seperti engkau," ia menjadi kabur. Di sini ada satu pelajaran yang sangat serius, yaitu seorang yang melayani Allah, jika telah jelas akan perintah Allah, maka perkataan apapun dari nabi tua, kalau tidak sesuai dengan perintah itu, janganlah didengarkan.

Perkataan Paulus kepada orang Galatia juga mempunyai prinsip yang sama. Paulus berkata, "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu suatu Injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia" (Galatia 1:8). Injil yang diberitakan Paulus bukan berasal dari manusia, bukan dari maksud manusia, melainkan dari wahyu Yesus Kristus (Galatia 1:11-12). Tetapi ada orang lain ingin mengubah Injil Kristus, mereka memberitakan injil yang lain kepada kaum imani Galatia. Paulus menasihati kaum saleh Galatia, jangan terbujuk oleh mereka, harus tampak bahwa orang-orang yang membujuk itu bisa memakai nama hamba Tuhan, pura-pura memakai perkataan rohani untuk mengacau orang. Sebab itu dia dengan perkataan yang keras memperingati orang Galatia. Ia berkata, "Sekalipun kami". Artinya, meskipun saya, Paulus sendiri datang kepada kamu, kalau Injil yang saya beritakan hari ini berbeda dengan Injil yang saya beritakan dulu, kalian jangan percaya. Kalian harus percaya Injil yang dari wahyu Yesus Kristus. Kalian tidak seharusnya percaya nama Paulus. Kalau Injil yang Paulus beritakan di kemudian hari melanggar isi wahyu yang telah diberitakan dulu, kalian jangan mau percaya.

Paulus tahu, banyak orang mudah dipengaruhi oleh kebesaran nama seseorang, banyak orang mudah percaya kepada ketenaran nama seseorang daripada firman Allah. Sebab itu, di sini dia menyatakan satu sikap, dia mutlak berdiri di pihak kebenaran Allah. Dia tidak menyisakan sedikitpun kedudukan bagi manusia, dia tidak menyisakan bagi diri sendiri kedudukan apapun. Dia menghendaki mereka sepenuhnya percaya kepada kebenaran Allah, tidak percaya kepada kebesaran nama orang. Paulus sekuatnya berdebat/bergumul untuk kebenaran, sepenuhnya untuk Allah, tidak untuk dirinya sendiri. Yang ia pertahankan ialah kebenaran Allah, ia tidak mempertahankan namanya sendiri. Ia melawan orang-orang yang membujuk orang-orang Galatia bukan karena perkata yang lain, tetapi karena mereka mengacaukan firman Allah. Mereka ingin menjerumuskan kaum imani ke dalam kesalahan. Paulus memperlihatkan kepada kita, bahwa kita seharusnya teguh berdiri di pihak kebenaran, untuk membedakan perkataan apa yang harus kita terima dan perkataan apa yang harus kita tolak. Kalau ada orang berkhotbah berlawanan dengan kebenaran Allah, tak peduli dia siapa, janganlah kita dengarkan. Di sini Paulus berkata lagi, "Atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepadamu." Paulus memperingatkan mereka, meskipun itu perkataan malaikat, jangan mudah mempercayainya.

Dalam II Korintus 11:13-15 Paulus menyinggung tentang nabi palsu. Ia berkata, "Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka." "Malaikat terang" membawa satu raut muka yang baik dan menarik, mudah menyebabkan orang lain lengah. Kaum imani Galatia pernah mendengarkan Injil Tuhan, mengapa masih bisa terpedaya oleh orang-orang itu? Karena orang-orang itu berkata, bahwa yang mereka beritakan juga adalah "Injil". Mereka berkata bahwa mereka bergairah melaksanakan hukum Taurat Allah. Mereka mempunyai kata-kata yang sangat menarik sedemikian rupa sehingga orang-orang Galatia terpedaya. Oh, orang-orang yang memperdayakan orang lain itu seringkali juga masuk ke dalam Gereja. Mereka merusak iman orang, membujuk orang meninggalkan jalan Tuhan. Kita benar-benar harus waspada. Mereka bisa memperdaya orang, karena mereka bisa berpura-pura sehingga terlihat cukup rohani, purapura mengasihi Tuhan. Mereka juga bisa berkata tentang "wahyu Allah", "kehendak Allah" dan sebagainya. Mereka bisa memberitakan firman yang seolah-olah benar, seolah-olah sudah demikian, sehingga orang lain tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah, dan kemudian terpedaya. Saudara-saudari, kita benar-benar perlu berwaspada, kita perlu mempunyai daya tamyiz (kekuatan membedakan), terhadap firman Tuhan harus mutlak setia, teguh berpegang pada kebenaran yang pertama kali kita terima. Terhadap injil-injil yang mengacaukan firman Allah, tidak peduli siapa yang memberitakan, harus kita tolak. Kiranya Tuhan menjaga kita teguh berdiri di dalam firman kebenaranNya.

Nabi tua ini tidak mempunyai perasaan terhadap dosa besar yang diperbuat YeRoheam, malahan memakai sebutan nabi untuk menipu orang. Ia sudah kehilangan persekutuan dengan Allah, tetapi masih menyamar, berbohong bahwa ada malaikat Tuhan berbicara kepadanya. Kegagalan abdi Allah itu karena tidak teguh berpegang pada perkataan yang diterimanya dari Allah. Sebaliknya malah tergoyah oleh nama kosong dari nabi tua, terkena kata-kata dusta nabi tua sehingga jatuh ke dalam keadaan yang menyedihkan.

Nabi tua jatuh sedemikian rupa sehingga terhadap orang yang diutus Allah pun ia berani berbohong. Ketika makan bersama, firman Allah datang pada nabi tua. Ini bukan berarti nabi tua itu tiba-tiba menjadi rohani, tidak. Allah akan menanggulangi abdiNya yang melanggar perintahNya. Terhadap nabi tua Allah sudah tak ada permintaan lagi, Allah sudah mengesampingkan dia. Ketika abdi Allah mati diterkam singa, nabi tua menguburkannya di dalam kuburannya sendiri. Nabi tua berpesan kepada anak-anaknya, setelah ia mati, harus dikuburkan bersama dengan abdi Allah. Nabi tua percaya kepada perkataan yang diucapkan oleh abdi Allah demi nama TUHAN mengenai mezbah Betel dan setiap kota di Samaria yang ada mezbahnya pasti terjadi, tetapi nabi tua itu sendiri hanya menunggu mati saja.

Saudara-saudari, dari kisah yang menyedihkan tapi serius ini, kita harus mengingat beberapa hal : pertama, begitu seseorang putus hubungan dengan Allah, ia segera menjadi usang, tidak segar, tidak bisa tampak. Kedua, meskipun seseorang pernah dipakai oleh Allah, tetapi kemudian jauh dari Allah, ia bisa dengan "kekawakannya" menipu orang lain. Ketiga, seorang yang melanggar firman Allah, begitu berhenti pada tempat yang tidak seharusnya ia tinggali, akan menjumpai kematian --- kematian rohani. Keempat, pernyataan perkara rohani harus sesuai dengan firman Allah; kalau tidak, meskipun nabi tua yang berbicara, meskipun malaikat yang berbicara, harus dengan tegas ditolak.