MEMPERKENALKAN SAUDARA UNTUK DITERIMA DALAM MANUSIA BARU
Pembacaan Alkitab: Flm. 17-25
Pokok Surat Filemon adalah ilustrasi kesamaan status kaum beriman di dalam manusia baru. Kelihatannya Surat Kiriman ini tidak mengatakan apa pun mengenai status kaum beriman. Sebenarnya, surat ini menjamah jantung perkara tersebut.
Ketika Paulus menulis surat kepada Filemon, Filemon berada di Kolose yang jauh dari Paulus, seorang tawanan di Roma. Salah satu kawan sepenjaranya, Onesimus, dibawa kepada Tuhan dan dilahirkan oleh Paulus di dalam Roh bukan hanya untuk menjadi seorang beriman di dalam Kristus dan seorang anak Allah, tetapi juga menjadi seorang anak kesayangan Paulus sendiri. Karena di Roma ada gereja, mengapa Paulus tidak memperkenalkan orang yang baru diselamatkan ini kepada gereja di sana? Paulus tidak melakukan hal ini karena Onesimus adalah budak yang melarikan diri dari tuannya, Filemon, yang tinggal di Kolose.
Fakta bahwa ada gereja di Roma dan di Kolose menunjukkan bahwa gereja-gereja tersebut sebagai ekspresi Tubuh Kristus bersifat universal. Hal ini benar di zaman kuno, demikian juga hari ini. Gereja yang pertama, gereja di Yerusalem, muncul kira-kira 34 atau 35 M. Surat Filemon ditulis kira-kira tiga puluh tahun kemudian. Bahkan dalam waktu yang cukup pendek, dalam tiga puluh tahun, gereja-gereja telah terbangun, bukan hanya di Yudea, melainkan juga di dunia kafir. Jadi, gereja bersifat universal. Ini sesuai dengan kedaulatan Tuhan untuk melaksanakan tugas yang telah Ia berikan kepada Paulus, juga merupakan penggenapan hasrat Paulus untuk mendapatkan satu manusia baru di bumi.
Melalui penyebarluasan Kekaisaran Romawi, berbagai bangsa dan rakyat di sekitar Laut Tengah saling berkontak bahkan secara politis dipersatukan. Lalu lintas dan komunikasi di antara rakyat di berbagai bagian Kekaisaran itu sangat ramai. Komunikasi tersebut sepenuhnya berkaitan dengan manusia lama. Tetapi pada saat Paulus menulis surat kepada Filemon, seorang manusia yang lain muncul di bumi. Di tengah-tengah manusia lama, manusia baru itu terwujud. Hal ini diwahyukan sepenuhnya dalam Kolose 3:10 dan 11, “Dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya; dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Filemon adalah seorang penatua gereja di Kolose. Dalam Surat Kolose Paulus menegaskan bahwa semua orang beriman adalah bagian dari manusia baru. Selanjutnya, di dalam manusia baru tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, budak atau orang merdeka. Filemon adalah orang merdeka, dan Onesimus adalah budak beliannya. Akan tetapi di dalam manusia baru, status mereka sama.
Dalam Kolose 4 kita nampak persekutuan manusia baru. Kolose 4:9 membicarakan Onesimus, dan ayat 17 membicarakan Arkhipus, anak Filemon. Seorang merdeka dan budak yang adalah anggota keluarga yang sama juga merupakan bagian dari gereja sebagai manusia baru.
Surat Filemon hendaknya dipandang sebagai lanjutan dari Kolose 4 dan dianggap sebagai suatu ilustrasi mengenai bagaimana di dalam manusia baru semua derajat sosial dikesampingkan. Dalam berita terdahulu saya telah menunjukkan bahwa Surat Kiriman ini menyajikan maksud yang khusus dalam menunjukkan kepada kita kesejajaran dalam hayat kekal dan kasih ilahi dari semua anggota Tubuh Kristus. Perbedaan derajat atau status sosial di antara kaum beriman dihapuskan bukan dengan tindakan legal di luaran, melainkan dengan perubahan konstitusi yang batini. Derajat telah dihapuskan karena kaum beriman telah disusun dengan hayat Kristus. Hayat Kristus telah disusun ke dalam Filemon, dan hayat yang sama beserta unsur ilahinya yang sama telah disusun ke dalam budaknya, Onesimus. Menurut daging, Filemon adalah majikan dan merdeka, dan Onesimus adalah budak dan tidak merdeka. Tetapi menurut konstitusi batini, keduanya adalah sama. Karena kelahiran ilahi dan kehidupan oleh hayat ilahi, seluruh kaum beriman di dalam Kristus memiliki status yang sama dalam gereja, yang merupakan manusia baru di dalam Kristus, tanpa diskriminasi antara tuan dan budak.
Dalam Titus 2:9-15 Paulus menyuruh budak-budak agar bertingkah laku dengan baik di dalam sistem sosial perbudakan. Ia menyuruh mereka menempuh hidup manusiawi seperti Yesus di tengah-tengah sistem sosial yang sedemikian itu. Tetapi dalam Surat Filemon ia memberikan ilustrasi kepada gereja-gereja bagaimana para budak dan tuan telah disusun kembali dengan hayat Kristus. Akibatnya, mereka semua adalah bagian dari manusia baru. Dalam sistem sosial lama, yang menjadi milik kehidupan manusia lama, perbedaan antara tuan dengan budak masih tetap ada. Paulus tidak menyinggung sistem sosial itu dengan berusaha mengubahnya. Sebaliknya, di satu pihak ia menyuruh para budak menempuh hidup manusiawi seperti Yesus; di pihak lain, ia mengilustrasikan bagaimana budak-budak maupun tuan-tuan adalah saudara-saudara di dalam Tuhan dan sebagai anggota-anggota manusia baru, memiliki status yang sama.
Filemon 16 membuat hubungan ini menjadi sangat jelas. Mengenai Onesimus Paulus berkata, “Bukan lagi sebagai budak, melainkan lebih daripada budak, yaitu sebagai saudara seiman yang terkasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.” Melalui kelahiran kembali, Onesimus telah menjadi seseorang yang lebih daripada budak dan bahkan lebih daripada orang merdeka, karena ia telah menjadi seorang saudara yang terkasih. Sekarang Onesimus mempunyai hubungan dengan Filemon “baik secara manusia maupun di dalam Tuhan”: secara manusia sebagai seorang budak dan di dalam Tuhan sebagai seorang saudara. Secara manusia, Onesimus adalah seorang saudara sebagai budak, dan di dalam Tuhan ia adalah seorang budak sebagai saudara. Sebab itu, Filemon harus menerima Onesimus dan merangkulnya dengan kasih dan akrab. Tentu saja ia bukan menerimanya di dalam manusia lama, sistem sosial yang usang, melainkan di dalam Kristus dan dalam manusia baru. Walaupun Onesimus masih tetap budak Filemon, di dalam Kristus, ia telah menjadi saudara bagi Filemon. Dalam manusia baru, Filemon harus menerima Onesimus sebagai saudara dan sebagai seseorang dengan status yang sama. Di sini kita nampak rekomendasi Paulus mengenai seorang saudara agar diterima di dalam manusia baru.
Dalam Surat Filemon tidak disebutkan ungkapan “manusia baru”. Tetapi bila kita mengamati situasi yang di-gambarkan dalam surat ini, kita nampak bahwa Paulus sedang merekomendasi seorang saudara bukan kepada gereja lokal di kota mereka berada pada saat itu, tetapi kepada gereja lokal di kota yang jauh. Hal ini menunjukkan bahwa rekomendasi Paulus berada di dalam alam manusia baru. Seperti yang telah kita tunjukkan, hal ini dapat dibuktikan oleh Kolose 3:11 yang mengatakan bahwa di dalam manusia baru tidak ada budak atau orang merdeka. Ketika Paulus sedang menulis surat kepada Filemon, ia mungkin berpikir demikian, “Onesimus telah menjadi seorang saudara yang terkasih di dalam Tuhan. Sekarang aku hendak merekomendasikan dia, seorang budak, kepada seorang saudara yang adalah seorang merdeka. Aku ingin membantu mereka berdua menyadari bahwa sebagai saudara mereka adalah sama. Yang seorang harus diterima dan yang lainnya harus bersedia menerimanya.” Ini adalah yang saya maksudkan dengan mengatakan bahwa Surat Filemon adalah suatu ilustrasi kesamaan status kaum beriman di dalam manusia baru.
Asalkan kita nampak bahwa kaum beriman mempunyai status yang sama di dalam manusia baru, maka tidak akan ada problem di antara kita mengenai derajat sosial, kebangsaan, atau ras. Kita tidak akan mempunyai problem dengan orang-orang yang berlainan. Mereka yang mendiskriminasikan orang-orang berarti tidak melaksanakan hidup gereja yang tepat. Bila kita ingin memiliki hidup gereja yang sejati, kita harus menerima semua orang kudus tanpa memandang ras, kebangsaan, atau derajat sosial. Suatu kenyataan bahwa di banyak tempat kaum beriman tidak mau melakukan hal ini. Akibatnya, mereka tidak dapat memiliki hidup gereja yang tepat.
Kita mutlak tidak seharusnya membicarakan gereja menurut ras atau warna kulit — tidak ada gereja putih, gereja kuning, gereja hitam, atau gereja coklat. Gereja hanya memiliki satu warna, dan warna ini adalah biru surgawi. Setelah Anda masuk ke dalam hidup gereja, jauh di dalam Anda jangan ada diskriminasi apa pun antar kaum beriman berdasarkan ras atau warna kulit. Selama ada diskriminasi itu di dalam Anda, berarti Anda meniadakan hidup gereja. Warna-warna yang mewakili ras yang berbeda-beda telah ditiadakan oleh salib. Kini kita harus bersedia membayar harga agar warna-warna itu dihapuskan dalam hidup gereja yang riil dan sejati.
Di dalam masyarakat masih diadakan perbedaan berdasarkan warna kulit, kebangsaan, atau status sosial. Akan tetapi perbedaan itu tidak boleh ada di dalam gereja, di dalam manusia baru. Manusia lama telah terpecah belah oleh perbedaan-perbedaan itu. Tetapi di dalam manusia baru perbedaan berdasarkan warna kulit telah ditiadakan. Paulus mengajarkan hal ini dengan tegas, dan kita harus memandangnya sebagai bagian dari pengenalan penuh akan kebenaran.
Telah berulang-ulang saya tunjukkan bahwa dalam Surat 1 dan 2Timotius dan Titus pengetahuan penuh akan kebenaran berkaitan dengan isi ekonomi Perjanjian Baru Allah mengenai Kristus dan gereja. Jika kita masih tetap membedakan warna kulit, ras, atau kebangsaan, dalam hal ini kita membantah kebenaran. Kita tidak berpegang pada pengetahuan penuh akan kebenaran.
Sebagai seorang Yahudi, tidaklah mudah bagi Paulus untuk mengatakan bahwa di dalam manusia baru tidak terdapat orang Yahudi mana pun. Tetapi karena ini adalah bagian dari pengetahuan penuh akan kebenaran, ia mengumumkannya dengan tegas dan mengajarkannya dengan jelas. Menurut pengetahuan penuh akan kebenaran, di alam semesta ini ada satu manusia baru, satu Tubuh Kristus, satu gereja Allah. Selanjutnya, hendaknya hanya ada satu gereja lokal di dalam suatu lokal. Kita semua perlu memahami aspek kebenaran ini.
Menurut kedaulatan Tuhan, Surat Filemon ditulis sebelum Surat Timotius dan Titus. Tetapi dalam penyusunan surat-surat dalam Perjanjian Baru, Surat Filemon diletakkan pada akhir kelompok keempat kitab tersebut. Surat-surat itu mewahyukan pelaksanaan ekonomi Perjanjian Baru Allah, dan Surat Filemon menunjukkan kepada kita suatu aspek yang khusus dari pelaksanaan itu.
Dalam pelaksanaan ekonomi Allah, penting sekali bahwa semua derajat sosial dan perbedaan ras dan bangsa ditelan habis. Jika derajat dan perbedaan itu dibiarkan ada di dalam hidup gereja, manusia baru akan terhapus, dan hidup gereja yang tepat akan hancur. Betapa indahnya bahwa dalam Perjanjian Baru terdapat satu surat pendek yang memberi tahu kita tentang seorang budak yang dibawa kepada Tuhan dan dibawa ke dalam hidup gereja! Jika surat ini memberi tahu kita bahwa Kaisar Nero telah diselamatkan, saya tidak akan menghargainya sebesar itu. Tetapi surat ini memberitahukan bahwa seorang budak, seorang yang oleh sistem masyarakat Romawi dianggap tidak banyak lebihnya daripada seekor binatang tanpa mempunyai hak-hak hukum, telah diselamatkan. Mungkin ada beberapa orang yang berpikir bahwa Paulus tidak perlu menulis tentang dia. Mungkin yang lainnya mengatakan bahwa sudah cukup bagi seorang budak untuk beroleh selamat dan memiliki jaminan masuk surga. Akan tetapi, Paulus memakai hikmat yang besar dalam menulis surat ini. Belum pernah ada surat lain yang ditulis secara demikian.
Mengapa Paulus menunjukkan perhatian yang penuh kasih atas seorang budak yang telah diselamatkan? Ia berbuat demikian karena ia berbeban untuk mengilustrasikan bahwa di antara semua orang kudus dan semua gereja lokal, kaum beriman adalah sama di dalam manusia baru. Onesimus dan Filemon adalah suatu ilustrasi yang baik mengenai kesamaan ini. Tentu saja adalah kedaulatan Allah bahwa Onesimus diselamatkan di penjara melalui Paulus. Beroleh selamatnya Onesimus memberi kesempatan kepada Paulus untuk memberikan ilustrasi yang menakjubkan mengenai kehidupan manusia baru. Ia dapat menunjukkan bahwa seorang budak, di Roma, dan tuannya, jauh di Kolose, adalah sama sebagai kaum beriman di dalam manusia baru.
Paulus tahu bahwa demi hati nuraninya, ia harus memperhatikan Onesimus dengan benar. Paulus mengenal Filemon dan keluarganya dengan baik. Mungkin Paulus berkata kepada dirinya sendiri, “Sekarang budaknya Filemon telah beroleh selamat melalui aku. Apa yang harus aku lakukan terhadapnya? Apakah aku kembalikan kepada tuannya? Dan apa yang akan aku katakan kepada Filemon mengenai Onesimus?” Sebenarnya, ini adalah perkara yang sangat penting, diatur oleh kedaulatan Tuhan. Tidak ada ilustrasi lain yang dapat melukiskan dengan lebih baik mengenai penghapusan perbedaan status di dalam manusia baru. Kasus Onesimus dan Filemon mengilustrasikan dengan tuntas bahwa di dalam manusia baru semua orang beriman mempunyai status yang sama. O, betapa pentingnya kita nampak hal ini! Puji Tuhan bagi keselamatan Onesimus, dan puji Tuhan bagi ilustrasi status kita yang sama ini di dalam manusia baru!
I. REKOMENDASI RASUL
Dalam ayat 17 Paulus berkata kepada Filemon mengenai Onesimus, “Kalau engkau menganggap aku saudaramu (rekan, Tl), terimalah dia seperti aku sendiri.” Pemakaian kata “rekan” di sini menunjukkan hubungan yang mendalam dari persekutuan dalam Tuhan. Paulus memohon Filemon agar menerima Onesimus seolah-olah ia adalah Paulus sendiri. Suatu gereja lokal dengan para penatua merupakan teman sekerja Tuhan, dan Tuhan mempercayakan orang-orang yang baru percaya seperti yang dilakukan orang Samaria yang baik terhadap seseorang yang dirawat (Luk. 10:33-35).
II. JANJI RASUL
Dalam ayat 18-19 Paulus melanjutkan, “Kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku. Aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan melunasinya. Sebaiknya jangan kukatakan bahwa engkau juga berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.” Frase, “Kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu” menunjukkan bahwa Onesimus telah menipu tuannya. Mengenai hal ini, Paulus mengatakan, “tanggungkanlah semuanya itu kepadaku.” Dalam merawat Onesimus, Paulus bertindak tepat seperti yang Tuhan lakukan atas kita. Dalam ayat 19 Paulus berkata, “Aku akan melunasinya,” sama seperti Tuhan membayar segala sesuatu untuk umat tebusan-Nya.
Dalam ayat 19 Paulus juga mengingatkan Filemon, “Engkau juga berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.” Hal ini menunjukkan bahwa Filemon diselamatkan melalui Paulus.
III. PERMINTAAN DAN KEYAKINAN PAULUS
Dalam ayat 20 Paulus meneruskan, “Ya, Saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburlah hatiku di dalam Kristus!” Bahasa Yunani onaimen, lafalnya serupa dengan Onesimus (kedua kata ini berarti berguna, berfaedah). Di sini, kata ini mengiaskan Onesimus. Ini adalah permainan kata, menyiratkan bahwa karena “engkau juga berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri, engkau adalah Onesimus bagiku. Karena itu, engkau harus berguna bagiku, yaitu biarlah aku mendapat faedah darimu di dalam Tuhan”.
Dalam ayat ini Paulus juga meminta Filemon agar menghibur hatinya di dalam Kristus. Kata “menghibur” di sini berarti menenangkan, mendapatkan ketenangan, penghiburan. Secara harfiah, kata “hatiku” berarti “bagian dalam”, seperti dalam ayat 7. Karena Filemon telah menyegarkan hati orang kudus, sekarang rekannya memintanya untuk melakukan yang sama baginya di dalam Tuhan.
Dalam ayat 21-22 Paulus berkata, “Dengan percaya kepada ketaatanmu, kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih daripada permintaanku ini akan kaulakukan. Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karena aku harap oleh doamu aku akan dikembalikan kepadamu.” Pengharapan Paulus bahwa ia akan dibebaskan dari penjara sehingga dapat mengunjungi gereja-gereja lagi, dinyatakan juga di dalam Filipi 1:25 dan 2:24. Paulus menganggap kunjungannya, akan menjadi suatu pemberian yang penuh anugerah bagi gereja.
PENUTUP
Dalam ayat 23-25 kita dapati penutup Surat Kiriman ini, “Salam kepadamu dari Epafras, teman sepenjaraku ka-rena Kristus Yesus, dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku. Anugerah Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kamu!” Rasul selalu memberikan salam kepada penerima suratnya, dengan anugerah Tuhan baik dalam pembukaan maupun dalam penutup. Ini menunjukkan bahwa ia percaya kepada anugerah Tuhan, percaya bahwa anugerah ini bisa membuat mereka, juga dirinya sendiri (1Korintus 15:10), merampungkan apa yang dituliskannya kepada mereka. Usaha manusia tidak berguna dalam perampungan wahyu yang tinggi seperti wahyu yang lengkap dari Rasul Paulus.
?
PELAJARAN HAYAT
SURAT FILIPI
BERITA
01 02 03 04 05 06 07 08
09 10 11
12 13 14 15 16 17 18 19
20 21 22