Daftar isi Suatu Perbuatan yang Baik · bab 1/1

Suatu Perbuatan yang Baik

Pembacaan Alkitab :

Markus 14:3-9

"Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus. Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain, 'Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang miskin.' Lalu mereka memarahi perempuan itu. Tetapi Yesus berkata, 'Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik kepadaKu. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. TubuhKu telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburanKu. Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."

Dalam kisah ini Tuhan Yesus mengatakan, "Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia" (ayat 9). Dengan demikian jelaslah, bahwa dalam setiap pemberitaan Injil, di mana dan kapan haruslah kisah ini dibubuhkan; kalau tidak, maka dalam pandangan Tuhan, hal ini sangatlah kurang. Sebab itu, mad kita bahas kisah ini.

Apakah arti terpenting dalam kisah ini? Untuk memahaminya, baiklah kita membaca I Petrus 3:15, yang mengatakan, "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! ..." Jadi kisah ini hanya memimpin orang melakukan satu hal: menguduskan Kristus. Karena itu Tuhan berkata, "Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia", tak lain hanya hendak mengabarkan kepada kita agar setiap pemberitaan Injil bisa berbuahkan ini, yaitu menguduskan Kristus serta menjunjungNya sebagai Tuhan.

"Datanglah seorang perempuan membawa buli-bulipualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya." Minyak narwastu sudah cukup mahal harganya; minyak narwastu murni lebih-lebih betapa baik dan berharga. Minyak narwastu murni ini ditaruh di dalam buli-buli pualam. Buli-buli pualam juga mahal harganya. Jadi apa yang dipersembahkan perempuan itu, Maria, merupakan barang yang sangat berharga. Segala yang kita persembahkan kepada Tuhan seharusnya merupakan sesuatu yang paling berharga.

"Dipecahkannya leher buli-buli itu". Buli-buli itu hanya dapat dipecahkan sekali saja untuk mengeluarkan minyaknya, setelah itu tidak dapat dipakai lagi. Buli-buli ini dalam tangan Maria hanya mempunyai sekali kegunaan, yaitu sebagai saran untuk mengurapi Tuhan Yesus. Begitu diserahkan kepada Tuhan, selanjutnya tidak ada gunanya lagi.

"Dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus." Begitu minyak tercurah, harum semerbaklah seluruh ruangan itu. Tidak hanya saat itu, rumah itu penuh dengan bau yang harum, sampai saat ini pun, ketika kita membaca kisah ini, seakan-akan masih tercium bau harum tersebut. Mula-mula ia hanya menarik perhatian orang, kini malah dapat dicium orang. Sungguh, kasih dan persembahan yang sedemikian kepada Tuhan membawa keharuman sepanjang masa, bahkan hingga kekal.

Dalam Injil Yohanes dikisahkan : "Menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya". Rambut merupakan kehormatan perempuan (I Korintus 11:15). Jadi, perempuan ini telah meletakkan kehormatannya di bawah kaki Tuhan.

Perbuatan perempuan itu telah menimbulkan celaan dan amarah orang lain. Namun sedikitpun ia tidak menghiraukannya. Dia tidak memikirkan bahwa ia sedang berada di dalam rumah seorang penderita kusta. Ia tidak memikirkan ekonomi rumah tangganya serta kesukaran-kesukaran di kemudian hari. Bagaimanapun orang-orang mencela serta marah kepadanya, tidak dipedulikannya sama sekali. Perbuatan ini tetap dilakukannya. Ia mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan tanpa menghiraukan segala-galanya. Inilah persembahan yang sempurna. Bukan hanya barang yang dipersembahkan kepada Tuhan, bahkan khusus, mutlak segenap hati kita tertuju kepada Tuhan.

Mengurapi juga berarti menguduskan. Tabernakel dan segala alat dan perkakas di dalamnya telah diurapi. "Kristus" adalah ''Mesias" ; yang berarti Sang Terurap. Terhadap Kristus, Sang Terurap, kita harus dari dalam hati menguduskan-Nya, dengan minyak urapan mengurapi Dia, mengakui Dia adalah Tuhan, serta meletakkan segala sesuatu kepadaNya. Kita tidak perlu takut terlalu setia atau terlalu mengasihi Tuhan. Tepatlah seperti kata-kata seorang tua kepada seorang pemuda di saat mereka berpisahan, "Aku sangat mengharapkan kamu bisa menjadi kekasih Tuhan yang mengasihi-Nya dengan sebulat hatimu." Mengasihi Tuhan, melayani Tuhan, taat kepada Tuhan dan setia kepada Tuhan adalah tanpa batas, mustahil akan keterlaluan.

Tuhan berkenan kalau kita mengasihiNya tanpa menghiraukan apapun. MengasihiNya tanpa beralasan, mengasihi-Nya dengan segala kemesraan. Ia menghendaki setiap pemberitaan Injil dapat menghasilkan buah-buah Injil; yaitu banyak orang mengetahui bahwa Ia telah mati, dan karena itu mau mengasihiNya, melayaniNya dan taat kepadaNya dengan mutlak, sampai-sampai orang lain akan menganggapnya keterlaluan.

Tuhan menjadi mustika di dalam orang-orang yang sudah percaya kepadaNya (I Petrus 2:7). Petrus tahu hal ini,sehingga ketika ia menulis dalam suratnya tentang: darah, iman, batu, perjanjian dan sebagainya, semuanya diikuti dengan kata-kata yang searti dengan kata indah atau berharga. Berapa banyak persembahan kita kepada Tuhan, menyatakan sampai di mina penghargaan kita terhadap Dia.

Ketika Maria melakukan ini, bagaimanakah reaksi murid-murid Tuhan? Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain, "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?" (ayat 4). Mereka mengira bahwa berbuat demikian merupakan suatu pemborosan. Tetapi sebenarnya minyak itu dicurahkan ke atas siapa? Apakah orang yang diurapi itu tidak layak? Minyak itu dicurahkan ke atas diri Tuhan, kalau dikatakan boros, berarti Tuhan tidak seharga itu. Benarkah Tuhan tidak layak menerima pengurapan minyak narwastu itu? Adakah sesuatu yang digunakan di atas diri Tuhan boleh dikatakan pemborosan? Orang yang tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati, tentu akan menganggap itu sebagai pemborosan. Menurut pandangan manusia, taat kepada Tuhan, mengasihi Tuhan, berkorban segalanya bagi Tuhan, seringkali adalah keterlaluan, adalah pemborosan. Tetapi celaan yang demikian menyatakan tingkat kasih mereka terhadap Tuhan.

"Minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih, dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Mereka mengira beramal kepada coning miskin adalah lebih baik. Orang yang tidak mengasihi Tuhan, akan memakai bekerja bagi Tuhan, untuk menggantikan kasih yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan. Bila seseorang menganggap mempersembahkan yang paling berharga kepada Tuhan adalah pemborosan, tentu akan mengalihkan yang berharga itu kepada orang. Seringkali kita pun seperti murid-murid Tuhan pada masa ita; terhadap Kristus tidak sebulat hati, tidak tulus, tiada hasil; malah ingin menggunakan pekerjaan yang di mar untuk menambal kekurangan ini.

"Lalu mereka memarahi perempuan itu." Pada mulanya mereka hanya mencela, kemudian bangkitlah amarah mereka kepada perempuan itu. Tetapi Maria tidak dikarenakan orang lain marah kepadanya, lain menyisakan minyak itu. Buli-buli telah dipecahkan, dan minyak pun mengalir sudah. Selamanya tidak ada korban yang telah diletakkan di atas mezbah yang ditarik kembali. Karena Maria demikian mengasihi Tuhan, maka ia memiliki keberanian melakukan itu tanpa menghiraukan celaan dan amarah orang lain.

Orang menganggap perbuatan Maria itu sebagai pemborosan dan keterlaluan. Menurut pendapat orang pada umumnya: cukup dengan minyak narwastu biasa, buat apa memakai minyak narwastu murni; cukup dengan minyak narwastu murni, perlu apa ditaruh dalam buli-buli pualam; buli-buli pualam sudah cukup, mengapa memakai yang berharga tiga ratus dinar lebih? Mereka mencela dia, marah kepadanya. Tetapi dalam pandangan Tuhan, hal ini tidak seharusnya dicela. Tuhan malah berkata : "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia?" Maksud Tuhan ialah, Dia terlalu mengasihi Tuhan itu tidak mengapa; kalian tidak perlu mencela dan memarahi dia; jika kalian mencela dan memarahi dia berarti kalian menyusahkan dia. Jika kalian bisa mengasihi jika seperti Maria, itulah yang paling baik; jika tidak bisa, janganlah kalian menghalangi orang lain mengasihi Aku. Karena Tuhan menganggap perbuatan itu benar dan baik, maka Ia pun berkata, "Ia telah melakukan sesuatu yang baik kepadaKu." Oh, Maria telah melakukan suatu perbuatan yang baik yang tidak sepatutnya dicela. Setiap Maria, setiap orang yang mengasihi Tuhan, asal memiliki kata-kata Tuhan ini, cukuplah sudah. Kita seharusnya sudah merasa puas dengan perkenan Tuhan. Bila kita mengharapkan perkenan manusia, niscaya kita akan mudah sekali hidup menurut kemauan manusia; dan tidak mungkin mempersembahkan menurut kehendak hati Tuhan Juruselamat.

Menurut keadaan orang-orang pada masa itu, tiga ratus dinar sama dengan upah yang didapat selama tidak kurang dari tiga ratus hari (lihat Matius 20:2). Kalau itu masih ditambah dengan hari Sabat sebanyak lima puluh dua kali dalam setahun, maka hampir sama dengan upah yang didapat selama masa kerja satu tahun. Kita tahu, ketika Tuhan pergi ke Betania dan tinggal di rumah Maria, Marta sangat sibuk sendiri tanpa ada pembantu yang membantunya. Ini menyatakan keluarga mereka bukanlah termasuk keluarga mampu. Tetapi Maria tidak mencari kenyamanan diri sendiri, sebaliknya dengan sekuat kemampuannya ia telah menggunakan segala miliknya ke atas diri Tuhan. Mengasihi Tuhan, melayani Tuhan, tidak takut keterlaluan. Menggunakan segalanya di atas diri Tuhan bukanlah pemborosan.

"Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik kepada-Ku". Tuhan menentang tanggapan murid-muridNya. Mereka menganggap pengurapan dan persembahan sedemikian ini adalah pemborosan, tetapi Tuhan malah berkata bahwa hal itu adalah suatu perbuatan yang baik, bukan pemborosan. Mengasihi Tuhan dengan tidak menghiraukan celaan saudara-saudara yang lebih senior dalam kerohanian adalah suatu perbuatan yang baik, bukan pemborosan. Mengasihi Dia sehingga rela mengorbankan segalanya di atas diriNya adalah suatu perbuatan yang baik, bukan pemborosan. Terhadap Tuhan selamanya tidak ada terlampau baik, mengasihi Tuhan selamanya tidak ada terlampau dalam, taat kepada-Nya juga selamanya tidak ada keterlaluan. Bagaimanapun pandangan orang lain, bagaimanapun celaan orang lain (yang bersama-sama melayani), Tuhan mengatakan bahwa inilah suatu perbuatan yang baik. Buah-buah Injil tidak hanya menyebabkan orang dosa berkemungkinan naik ke surga, bahkan menyebabkan orang yang telah menerima karunia itu menjadi kekasih Kristus. Karen itu dalam Alkitab ada tertulis, "Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia" (I Korintus 16:22).

Tuhan tidak menentang mereka beramal kepada orang-orang miskin, tetapi Ia menentang mereka yang mengatakan bahwa sesuatu yang diperbuat di atas diri Tuhan adalah pemborosan. Tuhan berkata kepada mereka, "Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu." Maksud Tuhan ialah : Beramal kepada orang-orang miskin masih banyak kesempatannya, tetapi kesempatan untuk melayani Aku, akan segera berlalu.

"Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya." Di sini bukan mempermasalahkan berapa banyak yang sudah ia gunakan di atas diri Tuhan, melainkan masih ada atau tidak sisanya. Bagi seorang hartawan, mempersembahkan lebih banyak kepada Tuhan, tidaklah sukar, tetapi bagi seorang miskin, hendak mempersembahkan segala miliknya kepada Tuhan, sungguh sulit. Perempuan ini telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Dia tidak menyisakan apa-apa bagi dirinya sendiri. "Apa yang dapat" inilah yang menyebabkan Tuhan memujinya. Tanpa sedapatnya, tidak ada kasih. Mengasihi Allah hendaklah mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan dengan segenap tenaga. Namun seringkali kita memperlakukan Tuhan tak berbeda dengan kita memperlakukan teman-teman kita!

Mengapa Maria berbuat demikian? Mari kita dengarkan bagaimana Tuhan mengatakannya. Tuhan berkata, "TubuhKu telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburanKu." Beberapa hari lagi Tuhan akan mati. Maria sadar, bahwa Tuhan mati baginya, kematian Tuhan menyebabkan ia terhindar dari hukuman dosa. Karena inilah ia mengasihi Tuhan, dan tidak dapat tidak ia harus mengurapi Tuhan. Dorongan mengasihi Tuhan tergantung pada kematianNya. Tanpa memahami kematian Tuhan, tidak akan bisa mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Mengurapi Tuhan harus dilakukan pada saat ini, kalau menunggu setelah Tuhan bangkit dari kematian, sudahlah terlambat! Seperti beberapa perempuan yang pada hari pertama minggu itu hendak mengurapi Tuhan, mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengurapi Tuhan, sebab Tuhan sudah bangkit. Kesempatan telah lewat.

Hari ini adalah saat kita mempersembahkan persembahan kepada Tuhan. Kalau ditunda-tunda, mungkin akan terlambat. Ingin mengurapi Tuhan setelah Tuhan bangkit, sudahlah terlambat! Demikian pula ingin mempersembahkan persembahan kepada Tuhan dan mengasihi Tuhan dengan sebulat hati sesudah kita, dibangkitkan kaiak, itupun sudah terlambat. Karena pada masa kebangkitan, kalaupun kita memiliki laksaan dunia, sudah tentu dengan rela akan kita tinggalkan semua demi mengasihi Tuhan. Tetapi Tuhan menghendaki agar pada masa kini kita bisa dengan mutlak mempersembahkan persembahan kita kepadaNya. Saat ini adalah waktu bagi kita untuk mengasihi Tuhan.

Semoga mumpung kini, kita dengan mutlak mempersembahkan diri kita kepada Tuhan, mengasihi Tuhan dan taat kepada Tuhan.