Daftar isi Kolose (2) · Berita Keempat Puluh Empat · bab 21/21

Berita Keempat Puluh Empat

TELAH BERAKAR DI DALAM KRISTUS UNTUK BERTUMBUH DENGAN PERTUMBUHAN ALLAH

Pembacaan Alkitab: Kol. 2:6-7, 19; 1:28; Ef. 4:15-16, 13

Karena kita telah diokulasikan ke dalam Kristus, maka kita telah masuk ke dalam Dia. Masuknya kita ke dalam Kristus berkaitan dengan hayat dan pertumbuhan hayat. Kita bukan masuk ke dalam Kristus seperti masuk ke sebuah ruang. Memasuki sebuah ruang tidak ada sangkut-pautnya dengan hayat maupun pertumbuhan. Namun, masuk ke dalam Kristus mencakup proses pertumbuhan. Dalam Roma 6:5 Paulus berkata bahwa kita telah bertumbuh bersama-sama dengan Dia dalam rupa kematian-Nya (Tl.). Sekarang kita sedang bertumbuh dengan Kristus dalam rupa kebangkitan-Nya.

PENGOKULASIAN DAN PERTUMBUHAN

Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan bahwa di dalam baptisanlah kita bertumbuh bersama-sama dengan Kristus dalam rupa kematian-Nya. Baptisan bukan suatu ritual yang mati, melainkan suatu pengalaman yang sangat berkaitan dengan hayat dan pertumbuhan. Setiap kali kita membaptis orang yang percaya, kita harus membantu mereka memahami bahwa di dalam baptisan mereka akan bertumbuh bersama-sama dengan Kristus, sebab mereka telah diokulasikan ke dalam Kristus yang tersalib dan bangkit. Penyaliban Kristus menyediakan satu “potongan” di dalam Dia bagi pengokulasian kita ke dalam-Nya, dan kebangkitan-Nya membawa kita masuk ke dalam proses pertumbuhan. Kini karena kita telah diokulasikan ke dalam Kristus, kita harus bertumbuh di dalam Dia dari hari ke hari.

Dalam 1 Korintus 3 Paulus juga berbicara tentang pertumbuhan. Dalam ayat 9 ia menunjukkan bahwa kaum beriman adalah ladang Allah. Dalam ayat 6 ia mengatakan, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan.” Ini menyiratkan bahwa kaum saleh adalah tanaman dalam ladang Allah. Di dalam gereja, ladang Allah, kita adalah tanaman yang bertumbuh.

Konsepsi pertumbuhan seperti tanaman terdapat pula dalam Roma 11, di mana Paulus menggunakan ilustrasi pengokulasian sebuah cabang pohon zaitun liar kepada pohon zaitun yang dibudidayakan. Dalam pandangan Allah kita semua adalah tanaman atau pohon. Dalam Roma 6:5 Paulus memakai sebuah kata Yunani yang khusus untuk menunjukkan pertumbuhan (bertumbuh bersama). Sukar sekali untuk mendapatkan kata yang serupa dalam bahasa Inggris, yang berarti bertumbuh melalui penanaman atau pengokulasian. Baik penanaman dan pengokulasian adalah untuk pertumbuhan. Sebuah pohon ditanam di tanah agar dapat bertumbuh. Demikian pula pengokulasian bertujuan untuk pertumbuhan. Belakangan ini, seorang saudara menunjukkan satu definisi yang indah dari kata Yunani ini yang terdapat dalam Commentary on Romans karangan Frederick Louis Godet. Menurut Godet (hal. 243), kata ini menunjukkan “kesatuan organik yang darinya seorang mengambil bagian atas hayat, pertumbuhan, dan tingkat perkembangan dari eksistensi yang dimiliki orang lain”. Melalui kesatuan organik dari kedua tanaman yang dilakukan dalam okulasi, tanaman yang satu mengambil kehidupan dan ciri-ciri tanaman yang lain. Sungguh cara yang luar biasa untuk bertumbuh! Dengan menerapkan definisi ini kepada pengalaman rohani kita, kita dapat mengatakan bahwa kita telah diokulasikan kepada “pohon” Allah Tritunggal yang almuhit, pemberi-hayat, dan yang telah melalui proses, yaitu Roh yang almuhit. Setelah menjadi satu dengan Dia melalui okulasi, sekarang kita beroleh bagian atas hayat dan ciri-ciri Sang Almuhit ini, dan bertumbuh secara demikian.

BERAKAR DALAM TANAH YANG HIDUP

Dalam Kitab Kolose tersirat bahwa kaum beriman bertumbuh bagaikan tanaman berakar dalam tanah. Untuk memahami Alkitab, kita perlu mengerti baik makna langsung dari perkataannya maupun yang tersirat di dalamnya. Kadang-kadang wahyu yang diungkapkan lewat yang tersirat dalam sebuah ayat lebih dalam daripada yang diungkapkan dalam pernyataan langsung. Demikianlah dalam Kolose 2:6-7. Ayat 7 mengatakan bahwa kita “telah berakar” di dalam Kristus. Ini menyiratkan bahwa dalam pandangan Allah, kita adalah tanaman. Semua yang telah dibaptis ke dalam Kristus adalah tanaman yang berakar di dalam Kristus.

Frase “berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia” berkaitan dengan mereka yang hidup (berperilaku) dalam ayat terdahulu. Karena kita telah berakar dan telah dibangun di dalam Dia, maka kita harus hidup (berperilaku) di dalam Kristus. Ini berarti kita harus berperilaku melalui berakar di dalam Kristus. Jika kita tidak berakar di dalam Dia, kita tidak mungkin berperilaku di dalam Dia. Sebagai tanaman yang hidup, kita adalah tanaman yang bergerak (berperilaku). Kita berperilaku melalui berakar di dalam Kristus. Orang Kristen adalah tanaman yang sangat ajaib dan misterius! Kita adalah tanaman yang berperilaku, dan bertumbuh dalam Kristus.

Di satu aspek kita dapat berakar, dan di aspek lainnya kita bergerak (berperilaku); hal ini dianggap tidak logis oleh beberapa orang. Mana mungkin orang yang telah berakar di dalam Kristus dapat bergerak (berperilaku) di dalam-Nya? Jawabannya ialah bahwa tanah yang di dalamnya kita berakar adalah tanah yang hidup. Karena kita telah berakar dalam tanah yang hidup dan bergerak, maka kita dapat bergerak (berperilaku) di dalam-Nya. Karena itu, sebenarnya bukan kita yang bergerak, melainkan tanahnya yang bergerak. Puji Tuhan, karena kita telah berakar di dalam Kristus yang adalah tanah yang hidup! Karena tanah itu bergerak, kita pun dapat bergerak. Menurut yang tersirat dalam ayat-ayat ini, tepatlah kita berkata demikian.

Jangan mengira bahwa kita adalah orang-orang yang bergerak di tanah itu. Kalau kita mencoba bergerak, kita akan tergelincir dan jatuh. Kemudian kita mungkin akan dikalahkan oleh Iblis dan tersesat. Kita harus memandang diri kita adalah tanaman yang berakar di dalam Kristus sebagai tanah kita yang hidup. Sebagai orang-orang yang telah berakar di dalam Dia, kita bergerak ketika Ia bergerak. Itulah artinya berperilaku di dalam Dia.

Kolose 2:6 mengatakan tentang hidup (berperilaku) di dalam Dia. Frase keterangan ini menerangkan kata berperilaku. Ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat berperilaku di dalam Kristus kecuali kita telah berakar di dalam Dia. Karena itu, kita berperilaku di dalam tanah hidup yang di dalamnya kita telah berakar.

Ketika kita memperhatikan pasal 2:6-7, kita tampak bahwa bertumbuh dalam Kristus berarti berperilaku di dalam Dia. Kita telah menunjukkan bahwa “berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia” berkaitan dengan kata berperilaku. Frase ini memberikan arti dari berperilaku di dalam Kristus kepada kita. Karena kita telah berakar di dalam Kristus yang bergerak, maka kita berperilaku di dalam-Nya.

Fakta bahwa berperilaku di dalam Kristus adalah masalah pertumbuhan ditunjukkan oleh kata berakar. Tanaman-tanaman berakar di dalam tanah untuk bertumbuh. Kalau sebuah pohon ingin bertumbuh, ia harus berakar dengan benar. Tanpa akar, sebuah pohon akan mati, karena ia tidak ada jalan untuk menyerap cairan dari tanah. Tetapi sebuah pohon dapat bertumbuh bila ia menyerap cairan melalui akar-akarnya.

Meskipun berakar itu untuk pertumbuhan, Kolose 2:6 tidak membicarakan tentang pertumbuhan, melainkan tentang berperilaku di dalam Kristus. Tetapi makna yang disiratkan oleh istilah-istilah ini adalah pertumbuhan sejati yang terdiri dari berperilakunya kita di dalam Kristus. Kita tidak dapat bertumbuh dengan berperilaku dalam diri sendiri; kita bertumbuh melalui berperilaku di dalam Kristus. Kita telah melihat bahwa jika kita ingin berperilaku dalam-Nya, pertama-tama kita harus berakar di dalam Dia sebagai tanah yang hidup. Kemudian kita berperilaku sewaktu Dia bergerak dan bertindak. Berperilaku secara demikian adalah pertumbuhan yang sejati.

BERTUMBUH DENGAN PERTUMBUHAN ALLAH

Beban saya dalam berita ini adalah untuk membantu kaum saleh melihat apakah pertumbuhan hayat yang sejati. Pertumbuhan bukanlah hal diperbaiki atau diperhalus. Bertumbuh dalam hayat adalah bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Inilah bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Pertumbuhan yang benar adalah pertumbuhan Allah, Allah ditambahkan. Dalam diri-Nya sendiri, Allah tidak membutuhkan pertumbuhan. Dia kekal, sempurna, dan lengkap. Namun, Allah masih perlu bertumbuh di dalam kita. Berapa banyak Allah Tritunggal yang Anda miliki di dalam Anda? Apakah Anda tidak membutuhkan peningkatan, penambahan diri Allah di dalam Anda? Kita semua membutuhkan pertumbuhan Allah. Kita perlu bertumbuh dengan pertumbuhan Allah; yaitu kita memerlukan Allah bertambah, bertumbuh, di dalam kita. Saya ulangi, dalam diri-Nya Allah tidak dapat bertumbuh dan tidak perlu pertumbuhan, tetapi Allah sangat perlu bertumbuh di dalam kita.

Untuk memiliki pertumbuhan yang sejati, pertama-tama kita harus berakar di dalam Kristus, tanah permai kita. Ini menyiratkan bahwa Kristus adalah tanah kita, bumi kita. Jika tidak, bagaimana kita dapat berakar di dalam-Nya? Kita adalah tanaman yang berakar di dalam Kristus sebagai tanah. Karena itu, Kristus, Allah Tritunggal almuhit yang telah melalui proses, adalah tanah kita. Puji Tuhan kita telah ditanam! Setelah ditanam dalam Kristus, kini kita berakar dalam Kristus yang hidup yang adalah tanah permai kita.

Dari Kolose 1:12 kita tampak bahwa Kristus adalah bagian orang-orang kudus. Seperti yang telah kita tekankan sebelumnya, kata Yunani yang diterjemahkan “bagian” ini sebenarnya berarti sebuah “kapling”, sebidang tanah. Kristus adalah bagian kita, adalah milik pusaka kita. Ini berarti Dia adalah tanah permai bagi orang-orang kudus. Setelah bangsa Israel memasuki tanah Kanaan dan memilikinya, mereka semua menerima bagian mereka, porsi mereka, atas tanah itu. Hari ini, bagian kita adalah Kristus. Porsi ini, bagian ini, adalah tanah yang di dalamnya kita berakar.

Kristus adalah tanah yang subur di mana kita, tanam-tanaman, bertumbuh. Tanah ini hidup dan bergerak. Karena kita telah berakar dalam Kristus sebagai tanah yang hidup, kita bergerak ketika Dia bergerak; kita berperilaku di dalam Dia. Jadi, perilaku kita sebenarnya bukan perilaku kita sendiri, Dialah yang melakukannya. Berperilaku demikian dalam Kristus sebagai tanah permai kita juga adalah pertumbuhan kita. Bertumbuh adalah berperilaku secara demikian. Karena itu, ketika kita berperilaku dalam Kristus, kita bertumbuh di dalam-Nya.

Sewaktu sebuah pohon bertumbuh, dia menyerap air dan unsur gizi dari tanah tempat dia berakar. Sebuah pohon bertumbuh melalui menyerap kekayaan dari tanah. Sewaktu kekayaan itu diserap oleh pohon, kekayaan itu menjadi pertambahan pohon itu. Pohon bertumbuh dengan adanya pertambahan kekayaan dari tanah. Demikian juga, kita adalah tanaman hidup yang berakar di dalam Kristus sebagai tanah kita. Kristus bergerak, dan karena kita ada di dalam-Nya, kita bergerak sewaktu Dia bergerak. Namun, orang-orang Kristen yang tidak memiliki hati mencari Tuhan tidak bergerak ketika Kristus bergerak. Mereka tidak bekerja sama dengan-Nya dalam pergerakan-Nya. Tetapi sebagai orang yang mengasihi Tuhan dan menuntut-Nya, kita harus selalu bekerja sama dengan Dia dan berkata “Amin” ketika Dia bergerak. Kita harus sangat aktif dan agresif dalam-Nya. Melalui pengalaman berperilaku dalam Kristus ini kita menyerap kekayaan Kristus.

Berperilakunya kita bersama Kristus merupakan kerja sama kita dengan Dia dalam aktivitas-Nya. Melalui bekerja sama dengan Dia sedemikian, kita dengan spontan menyerap kekayaan-Nya ke dalam diri kita. Apa yang kita serap dari Kristus ke dalam kita — unsur kekayaan diri-Nya sebagai tanah — menjadi pertumbuhan Allah di dalam kita. Tanah kita adalah Kristus, dan Kristus adalah perwujudan Allah Tritunggal. Karenanya, tanah itu adalah Allah Tritunggal. Ini berarti ketika kita menyerap kekayaan tanah, kita menyerap kekayaan Allah Tritunggal. Sebenarnya, kita menyerap Allah Tritunggal itu sendiri. Melalui penyerapan ini, kita mengambil Allah lebih banyak ke dalam kita. Pertambahan Allah di dalam kita ini adalah arti dari pertumbuhan Allah.

Kita adalah tanaman hidup yang berakar dalam Allah Tritunggal. Sekarang akar kita sedang menyerap kekayaan Allah Tritunggal ke dalam kita. Hasilnya, Allah ditambahkan ke dalam kita. Penambahan kekayaan tanah ini ke dalam kita adalah pertumbuhan kita.

Sekitar tiga tahun yang lalu, kami menanam pohon-pohon di sekitar rumah kami. Dalam tiga tahun ini, pohon-pohon itu bertumbuh sangat subur. Pertumbuhan ini adalah bertambahnya kekayaan tanah di dalam pohon-pohon itu. Melalui akar-akar pohon, kekayaan tanah telah dibawa ke dalam pohon dan diserap oleh pohon. Pohon-pohon itu terus-menerus menyerap kekayaan tanah. Dengan jalan ini kekayaan tanah menjadi unsur yang bertambah di dalam pohon. Dengan jalan ini pohon-pohon itu bertumbuh. Ini merupakan gambaran pertumbuhan yang sejati dalam hayat rohani. Ini juga menunjukkan kepada kita jalan untuk bertumbuh.

Kita memuji Tuhan bahwa setelah bertahun-tahun berkelana tanpa tujuan, banyak dari kita sekarang telah berakar dalam Kristus. Bisa berakar dalam Kristus dalam hidup gereja adalah satu berkat. Begitu kita berakar dalam gereja, kita tidak dapat dengan mudah dicabut. Bahkan kita tidak dapat mencabut diri kita sendiri. Beberapa orang yang mencoba meninggalkan hidup gereja karena sesuatu telah membuat mereka sedih menemukan bahwa usaha mereka tidak berhasil. Mereka telah berakar, dan mereka tidak dapat dicabut. Janganlah berusaha mencabut diri sendiri, sebaliknya, kita seharusnya taat kepada Tuhan dan membiarkan Dia hidup di dalam kita.

Ketika kita menyadari bahwa kita telah berakar dalam Dia, kita akan dengan otomatis berperilaku dalam Dia. Menurut Kolose 2:6-7, berakar harus mendahului berperilaku. Setelah berakar dalam Kristus, kita sekarang berperilaku dalam Dia. Kita hanya tinggal dalam Kristus, dan Dialah yang berperilaku. Karena itu, perilaku-Nya menjadi perilaku kita.

Hal-hal rohani tidak dapat sepenuhnya dijelaskan. Hanya melalui pengalaman hal-hal tersebut dapat dipahami dengan memadai. Dari pengalaman kita paham bahwa ketika Kristus bergerak, kita berperilaku di dalam Dia. Kemudian akar yang tertancap dalam tanah menyerap kekayaan Allah Tritunggal ke dalam kita. Melalui penambahan Allah dalam kita, kita bertumbuh dengan pertumbuhan Allah.

BERPEGANG TEGUH KEPADA KEPALA

Dalam Kolose 2:19 kita memiliki perkataan “berpegang teguh kepada Kepala”. Apakah arti berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala? Tubuh berpegang kepada Kepala berarti Tubuh tidak bisa melepaskan dirinya dari Kepala. Jika kita benar-benar berpegang teguh kepada Kristus sebagai Kepala, kita tidak akan dipisahkan dari-Nya oleh apa pun. Ketika kita memperhidupkan kebudayaan dan bukannya memperhidupkan Kristus, kita memisahkan diri kita dari Kristus sebagai Kepala dan digagalkan dari pahala kita, yang adalah kenikmatan akan Kristus.

Orang-orang Kristen di Kolose yang berpegang pada ajaran Gnostik dan hidup olehnya telah dipisahkan dari Sang Kepala. Mereka telah diperdayakan, dan direbut dari kenikmatan atas Kristus. Namun, jika kita telah berakar di dalam Kristus dan berperilaku ketika Ia bergerak, maka kita akan dengan spontan menyerap segala kekayaan Kristus ke dalam diri kita dan bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Pertumbuhan ini adalah melalui berpegang kepada Kristus sebagai Kepala.

Kolose 2:19 membicarakan tentang suplai dan terjalin-nya Tubuh menjadi satu. Bila Tubuh tersuplai dan terjalin menjadi satu melalui berpegang kepada Kepala, Tubuh bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Frase “dari mana” dalam ayat ini penting sekali. Frase ini menunjukkan bahwa Tubuh bertumbuh dari Kepala, karena semua suplai berasal dari Kepala. Di satu aspek, Kristus adalah Kepala; di aspek lain, Dialah tanah itu. Ketika kita menyerap segala kekayaan tanah itu, kita berpegang kepada Kepala. Demikian pula, menerima suplai dari Kepala berarti menyerap segala kekayaan dari tanah tersebut.

Untuk memiliki pertumbuhan yang tepat sebagai orang Kristen, kita perlu memahami bahwa Allah telah menempatkan kita sebagai tanaman yang hidup ke dalam Kristus. Sekarang kita harus berkata, “Tuhan, aku mau tinggal di dalam Engkau, dan hidup serta bergerak (berperilaku) kapan pun Engkau bergerak.” Melalui hidup di dalam Kristus, kita menyerap kekayaan tanah itu ke dalam diri kita. Kemudian, melalui pertambahan kekayaan ini di dalam kita, kita bertumbuh. Penyerapan kekayaan tanah itu sama dengan berpegang kepada Kristus sebagai Kepala. Kita bertumbuh dengan pertambahan dari tanah itu; kita pun bertumbuh sebagai Tubuh dengan suplai yang berasal dari Sang Kepala.

JANGAN BIARKAN KEBUDAYAAN

MENJADI PENGGANTI KRISTUS

Dalam Surat Kiriman kepada jemaat di Kolose, Paulus menyuruh kita berhati-hati terhadap filsafat, tradisi, dan unsur-unsur dunia. Ini berarti kita harus berhati-hati terhadap kebudayaan dalam setiap bentuknya: kebudayaan ra-sial, kebudayaan nasional, dan kebudayaan buatan atau ketetapan sendiri. Jangan biarkan kebudayaan menjadi suatu pengganti Kristus. Walaupun kita tidak perlu dengan sengaja mencoba membuang kebudayaan kita, kita harus berhenti mengapresiasinya. Dahulu kita memustikakan kebudayaan kita, merangkulnya dengan sayang. Tetapi jika kita tampak bahwa kebudayaan dapat menjadi suatu pengganti Kristus, kita tidak akan memustikakan atau mengapresiasinya sedemikian tingginya. Sebaliknya, kita tampak bahwa kita adalah tanaman hidup yang berakar di dalam Kristus. Karena kita berakar di dalam Dia, kita tidak boleh membiarkan apa pun menggantikan Dia. Kita harus hanya berperilaku di dalam Dia sebagai tanah yang hidup dan bertumbuh melalui menyerap segala kekayaan tanah itu ke dalam kita. Dengan demikian kekayaan tanah itu, yang juga adalah kekayaan Kepala, akan tersuplai ke dalam kita. Hasilnya, seluruh Tubuh akan bertumbuh dengan pertumbuhan Allah Tritunggal, dan dengan otomatis, kebudayaan kita akan digantikan oleh Kristus.

Kita harus terus-menerus berperilaku di dalam Kristus saja, tidak mengapresiasi dan tidak memustikakan kebudayaan kita. Semakin kita berperilaku di dalam Kristus, kita akan semakin menyerap segala kekayaan tanah itu, yakni suplai yang kaya dari Sang Kepala. Selanjutnya, dengan berpegang kepada Kepala, kita akan mengalami pertumbuhan yang sejati dan tepat di dalam Kristus.

?