Daftar isi Filipi · bab 100/186

Pembacaan Alkitab : Yoh. 14:17-20, 20:22

Sasaran menjadi orang Kristen adalah memperhidupkan Kristus. Tidak hanya demikian, nasib yang ditakdirkan Allah bagi kita dalam ekonomi-Nya juga adalah agar kita bisa memperhidupkan Kristus. Kristus adalah jalan kita, sasaran kita, nasib kita, dan tujuan kita.

Kita dapat lebih mudah mengenal apa artinya memperhidupkan Kristus melalui membaca Injil Yohanes. Injil ini mewahyukan bahwa Kristus, Firman itu, adalah Allah (1:1). Pada suatu hari Firman itu menjadi daging (1:14), yakni Allah telah berinkarnasi. Mengenai Firman yang telah menjadi daging, Yohanes Pembaptis menerangkan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (1:29). Injil Yohanes 3 membicarakan kelahiran kembali. Di sini kita tampak bahwa kita harus dilahirkan oleh Allah melalui Roh dalam roh kita.

Setelah Tuhan Yesus memasuki kebangkitan, Ia datang kepada murid-murid-Nya. Menurut Yohanes 20:22, “Ia menghembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus.’” Kata “roh” dalam bahasa Yunaninya adalah “pneuma” , juga berarti “napas” atau “udara”. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus menyuruh murid-murid menerima napas kudus. Injil Yohanes memulai dengan Firman dan berlanjut membicarakan Anak Domba dan pokok anggur. Terakhir, dalam Yohanes 20:22, kita tampak bahwa Dia yang adalah Firman, Anak Domba, dan pokok anggur ini juga adalah napas atau udara untuk kita terima. Di satu aspek, Ia terhembus ke luar, di aspek lain, para murid menghirup ke dalam.

Dalam Yohanes 20:22 Tuhan Yesus menyuruh murid-murid menerima napas kudus, Roh Kudus. Kita tidak seharusnya menganalisis napas, tetapi menerimanya melalui menghirupnya ke dalam kita. Sangat disayangkan, banyak orang Kristen hari ini hanya tahu menyelidiki dan mempertimbangkan, mereka tidak mempunyai pengalaman bernapas atau “menghirup udara” ini. A. B. Simpson adalah orang yang mengetahui pengalaman bernapas di dalam Kristus. Satu dari kidungnya dimulai dengan kata-kata: “Padaku hembuslah Roh-Mu, ajarku menghirup-Mu” (Kidung No. 210).

Dalam Injil Yohanes kita tampak satu catatan tentang proses ilahi. Firman yang adalah Allah telah menjadi daging. Akhirnya, setelah melalui penyaliban dan kebangkitan, Dia menjadi napas kudus agar kita dapat menghirupnya.

Kita tidak dapat hidup tanpa napas. Untuk menyebut orang mati, kelompok orang tertentu mengatakan bahwa orang itu telah putus napas. Sudah tentu, putus hayat berarti mati; namun hidup berarti bernapas terus-menerus. Tak peduli kita telah lulus dari berapa sekolah, kita tidak pernah lulus dari bernapas. Tidak ada orang yang dapat berkata karena ia sudah banyak pengetahuan atau matang, maka ia tidak perlu bernapas lagi. Sebaliknya, orang yang semakin berusia semakin memperhatikan pernafasannya. Alangkah ajaibnya, untuk hayat rohani kita, kita memiliki napas kudus untuk eksistensi kita!

Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 2, Berita 34