← Daftar isi Yeremia (2) · bab 3/40

ISI YANG MENDASAR DARI YEREMIA

Pembacaan Alkitab: Yer. 2:13; Rat. 3:22-25; Yer. 23:5-6; 31:33-34

Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa seluruh Alkitab, termasuk kitab Yeremia, ditulis bagi ekonomi Allah. Beban saya dalam pelajaran-hayat Yeremia ini adalah agar Anda melihat apa yang telah Tuhan perlihatkan kepada saya dari Firman ini mengenai ekonomi Allah. Jika Anda melihat visi ini, maka kehidupan Anda akan terpengaruh, dan pemulihan Tuhan akan diperkaya. Dalam berita ini saya berbeban untuk memberikan satu persekutuan tentang tiga bagian dari Yeremia (2:13; 23:5-6; 31:33-34). dan satu bagian dari Ratapan (3:22-25). Totalitas dari perkara-perkara yang terliput dalam ayat-ayat ini adalah ekonomi Allah.

ISRAEL, UMAT PILIHAN YEHOVA, MELAKUKAN DUA KEJAHATAN

Dalam Yeremia 2:13 kita memiliki firman Allah kepada Israel, umat pilihan Yehova, mengenai dua kejahatan yang telah mereka lakukan.

Meninggalkan Yehova, Sumber Air Hidup

Yeremia 2:13 mengatakan, “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat; mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” Maksud Allah dalam ekonomi-Nya adalah untuk menjadi sumber air, sumber air hidup untuk memuaskan umat pilihan-Nya bagi kenikmatan mereka. Sasaran dari kenikmatan ini adalah untuk menghasilkan gereja sebagai pertambahan Allah, perbesaran Allah, untuk menjadi kepenuhan Allah bagi ekspresi-Nya. Inilah kedambaan hati Allah, yaitu kerelaan kehendak Allah (Ef. 1:5, 9) dalam ekonomi-Nya. Perkembangan sepenuhnya dari pemikiran ini ada di dalam Perjanjian Baru, tetapi pemikiran ini ditaburkan sebagai benih di dalam Yeremia 2:13.

Ekonomi Allah adalah mendispensikan diri-Nya sendiri sebagai air yang hidup untuk menghasilkan pertambahan-Nya, perbesaran-Nya, untuk menjadi ekspresi-Nya. Pemikiran ini dikembangkan dalam tulisan Yohanes. Dalam Yohanes 1:1 dan 14 kita dapat melihat bahwa Firman itu, yang adalah Allah, menjadi daging, penuh dengan kasih karunia dan realitas. Ayat 16 selanjutnya mengatakan, “Karena dari kepenuhan-Nya kita telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.” Dalam Yohanes pasal empat Tuhan Yesus berbicara kepada perempuan Samaria tentang air hidup (ay. 10, 14). Dalam Yohanes 7:38 Dia berkata, “Barangsiapa yang percaya kepada-Ku seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Dalam Wahyu 21 dan 22 kita memiliki satu visi tentang Yerusalem Baru, yang merupakan satu tanda yang besar dari pertambahan Allah bagi ekspresi-Nya. Wahyu 22:1 dan 2 memperlihatkan kepada kita bahwa dalam Yerusalem Baru itu ada sungai air hayat yang mengalir dan bahwa dalam sungai ini tumbuh pohon hayat sebagai suplai hayat untuk menopang dan menyokong seluruh kota itu. Apa yang kita miliki dalam tulisan-tulisan Yohanes tentunya adalah pertumbuhan dari benih yang ditaburkan dalam Yeremia 2:13.

Pemikiran ini diperkuat oleh tulisan-tulisan Paulus. Misalnya, dalam 1 Korintus 12:13 mengatakan, “Sebab dalam satu Roh kita semua telah dibaptis ke dalam satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Dibaptis dalam Roh itu adalah masuk ke dalam Roh itu dan hilang di dalam-Nya; minum Roh itu adalah mengambil Roh itu masuk dan memiliki diri kita dijenuhi dengan-Nya. Dalam 1 Korintus 10:3 dan 4 Paulus, memakai lambang-lambang Perjanjian Lama, yang bukan hanya membicarakan tentang minum melainkan juga tentang makan. “Mereka semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang ini ialah Kristus.” Makanan rohani mengacu kepada manna (Kel. 16:14-18), yang melambangkan Kristus sebagai suplai hayat kita setiap hari; minuman rohani mengacu kepada air hidup yang mengalir dari celah batu karang (Kel. 17:6), yang melambangkan Roh itu, yang mengalir keluar dari Kristus yang tersalib dan bangkit sebagai minuman almuhit kita. Kita minum Allah sebagai air hidup adalah bagi gereja sebagai pertambahan-Nya; kita minum adalah untuk menghasilkan perbesaran-Nya, dan kepenuhan-Nya, bagi ekspresi-Nya.

Menggali Kolam bagi Mereka Sendiri, yakni Kolam yang Bocor, Yang Tidak Dapat Menahan Air

Dalam Yeremia 2:13 kita bukan hanya melihat sesuatu yang positif—sumber air hidup—melainkan juga sesuatu yang negatif—bani Israel meninggalkan sumber air hidup ini untuk menggali kolam yang bocor bagi diri mereka sendiri, yang tidak dapat menahan air. Hal negatif ini menunjukkan bahwa Israel, seperti Adam dalam Kejadian 3, telah jatuh. Adam jatuh karena meninggalkan pohon hayat dan berpaling ke pohon lainnya—pohon pengetahuan baik dan jahat. Israel jatuh karena meninggalkan Allah sebagai sumer air hidup dan berpaling kepada sumber lainnya selain Allah. Sumber ini dilambangkan oleh kolam-kolam, di mana Israel berjerih lelah untuk menggalinya bagi diri mereka sendiri.

Allah berbeban agar Israel mau meminum Dia untuk menjadi pertambahan-Nya sebagai kepenuhan-Nya supaya mereka dapat mengeskpresikan Dia. Israel seharusnya minum Allah sebagai sumber air hidup, tetapi sebaliknya mereka melakukan dua kejahatan. Kejahatan yang pertama adalah meninggalkan Allah; kejahatan yang kedua adalah menggali kolam-kolam sebagai sumber lainnya. Namun, kolam-kolam itu bocor dan tidak dapat menahan air. Ini menunjukkan bahwa di luar Allah sebagai sumber air hidup, tidak ada satu pun yang dapat meleraikan dahaga kita, tidak ada satu pun yang dapat memuaskan kita. Tidak ada satu pun di luar Allah sendiri yang didispensikan ke dalam kita sebagai air hidup dapat membuat kita menjadi pertambahan-Nya bagi ekspresi-Nya.

RAHMAT YEHOVA TIDAK AKAN PERNAH HABIS, MELAINKAN SELALU BARU SETIAP PAGI

Ratapan 3:22-25 mengatakan, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi;besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.” Meskipun Israel meninggalkan Allah, tetapi Dia tidak membuang mereka. Umat pilihan Allah mungkin gagal terhadap-Nya, tetapi rahmat-Nya tidak pernah habis/gagal; sebaliknya, rahmat-Nya selalu baru setiap pagi. Karena rahmat, kasih setia, dan kasih Allah abadi, maka Dia tidak akan pernah membuang umat pilihan-Nya yang telah menyimpang ini.

Kita tidak boleh mengira bahwa kita ini lebih baik daripada Israel, dan kita tidak seharusnya membaca Alkitab untuk ditujukan kepada orang lain melainkan seharusnya ditujukan kepada diri kita sendiri. Setiap kitab dari Alkitab ini berhubungan dengan kita. Jika kita menerapkan prinsip ini, maka kita bukan hanya akan melihat bahwa Israel memiliki berhala-berhala, kita juga memiliki berhala-berhala. Yeremia berkata, “Sebab seperti banyaknya kotamu demikian banyaknya para allahmu, hai Yehuda!” (2:28). Apakah kita juga tidak memiliki berhala dalam kehidupan kita sehari-hari? Setiap hari kita menyakiti Allah dengan menyembah berhala. Memustikakan sesuatu selain dari Allah sebenarnya adalah menyembah satu berhala. Setiap hari kita memustikakan sesuatu selain dari Allah. Kita memiliki berhala, tetapi Allah memiliki rahmat. Kita memang jahat, tetapi Allah penuh dengan rahmat. Karena kasih setia-Nyalah bahwa kita tidak habis. Jika bukan karena rahmat-Nya, maka Dia sudah lama akan membuang kita. Tetapi Dia tidak membuang kita, karena rahmat-Nya selalu baru setiap pagi. Rahmat-Nya menjaga kita dalam tangan-Nya bagi ekonomi-Nya.

YEHOVA AKAN MEMBANGKITKAN BAGI DAUD SATU TUNAS YANG ADIL, DAN NAMANYA DISEBUT YEHOVA KEBENARAN KITA

Di tengah-tengah catatan Yeremia tentang kefasikan Israel yang demikian panjang dan mendetil ini (ps. 2-45), ia memberi tahu kita bahwa Yehova akan membangkitkan satu Tunas yang baru bagi Daud. “Sesungguhnya waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: “TUHAN—keadilan/kebenaran kita.” Tunas yang adil ini adalah Kristus yang berinkarnasi menjadi keturunan Daud. Dalam Matius 1:1 Kristus disebut “anak Daud.” Dia adalah cabang yang baru, tunas yang baru dari Daud. Sebagai cabang yang demikian Dia adalah satu Tunas yang adil. Sejak masa kecilnya, Dia benar-benar adil.

Yeremia 23:5 memberi tahu kita bahwa Kristus, Tunas yang adil ini, “akan memerintah sebagai Raja dan bertindak dengan bijaksana.” Ini memerlukan Dia berada dalam kebangkitan dan kenaikan. Jika Kristus tidak berada dalam kebangkitan dan kenaikan, maka Dia tidak akan dapat menjadi Raja. Karena itu, kata Raja dalam ayat ini menunjukkan kebangkitan dan kenaikan Kristus. Ketika Kristus masih anak-anak, Dia tidak dapat menjadi Raja. tetapi setelah melalui kebangkitan dan masuk ke dalam kenaikan, maka sekarang Dia adalah Raja di atas segala raja, dan Tuhan di atas segala tuan, dan Penguasa atas raja-raja di bumi (Why. 17:14; 19:16; 1:5). Selain itu, dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya Dia bertindak dengan bijaksana.

Yeremia 23:6 selanjutnya mengatakan bahwa nama-Nya akan disebut “Yehova kebenaran kita.” Nama ini diulang dalam 33:16. “Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: TUHAN keadilan kita!” Sebagai umat pilihan Allah, kita, seperti Israel, tidak memiliki kebenaran dalam diri kita sendiri. hati kita lebih licik daripada segala sesuatu dan tidak dapat terobati (17:9), dan kita mempunyai satu sifat yang penuh dengan dosa yang tidak akan pernah dapat diubah (13:23). Kita tidak ada harapan, tetapi harapan kita ada pada-Nya. Situasi kita yang tidak ada harapan—kondisi kejahatan, kefasikan, dan penuh tipu muslihat kita yang tidak dapat diubah ini—mempersiapkan jalan bagi Kristus untuk masuk untuk menjadi kebenaran kita. Allah tidak meninggalkan kita atau membuang kita; sebaliknya, Dia telah membuat Kristus menjadi kebenaran kita. Karena Kristus adalah kebenaran kita, maka kita di sini tetapi dapat menikmati Dia.

YEHOVA MEMBUAT SATU PERJANJIAN BARU DENGAN KAUM ISRAEL

Menaruh Hukum-Nya di dalam Mereka

Bagian terakhir yang akan kita lihat adalah 31:33 dan 34. “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN; Aku akan menaruh hukum-Ku dalam bathin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua besar kecil akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Dalam membicarakan perjanjian baru yang akan Dia buat dengan umat pilihan-Nya, Allah mengatakan bahwa Dia akan menaruh hukum-Nya di dalam mereka. Ini bukanlah hukum yang terdiri dari huruf-huruf—ini adalah hukum hayat. Jika hukum Allah bukanlah hukum hayat, maka Dia tidak akan dapat menaruh hukum-Nya ke dalam diri kita. Hukum yang Allah masukkan ke dalam kita adalah hukum dari hayat-Nya sendiri. Sebenarnya hukum ini adalah hayat. Ini berarti bahwa Allah menaruh diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat dan hayat ini adalah hukum yang dimasukkan-Nya ke dalam kita.

Hayat Allah yang adalah diri Allah sendiri, adalah satu hukum yang akan mengatur kita. Sama seperti seekor kucing diatur oleh hukum hayat kucing dan seorang manusia diatur oleh hukum hayat manusia, demikian juga kita dapat diatur oleh hukum hayat ilahi.

Menuliskan Hukum-Nya pada Hati Mereka

Dalam ayat 33 Allah, sewaktu membicarakan tentang hukum-Nya, mengatakan bahwa Dia akan “menuliskannya dalam/pada hati mereka.” Allah bukan hanya menaruh hukum-Nya di dalam kita, melainkan juga Dia akan menuliskannya pada hati kita. Di sini menulis berarti mengukir. Allah menuliskan hukum-Nya pada hati kita melalui bergerak dari roh kita ke dalam hati kita untuk mengukirkan apa adanya Dia ke dalam diri kita. Ini menunjukkan bahwa dalam perjanjian baru ini Allah tidak meminta kita untuk melakukan sesuatu, karena dalam perjanjian baru ini Dia melakukan segalanya.

Mereka Akan Menjadi Umat-Nya, dan Mereka Semua, Besar Kecil, akan Mengenal Dia

Di bawah perjanjian baru Allah, Israel akan menjadi umat-Nya, dan Dia akan menjadi Allah mereka. Hari ini kita, kaum beriman dalam Kristus, adalah umat Allah dan Dia adalah Allah kita.

Dalam ayat 34 Allah berkata, “Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku. Mengenal Allah itu bukan sekedar berarti bahwa kita mengenal bahwa Allah itu tritunggal dan bahwa Dia itu kudus dan benar. Mengenal Allah adalah memperhidupkan Allah, dan memperhidupkan Allah adalah mengenal Allah. Misalnya, kita mungkin membenci, tetapi Allah mengasihi. Maka, jika kita mengenal Allah, kita akan memperhidupkan Dia dengan mengasihi orang lain. Juga, Allah itu penuh rahmat. Mengenal Dia adalah memperhidupkan Dia sebagai Dia yang penuh rahmat. Ini adalah sesuatu yang perlu dilakukan khususnya oleh para penatua. Seorang penatua yang penuh rahmat adalah seorang penatua yang mengenal Allah. Selain itu, Allah itu penuh dengan pertimbangan. Maka mengenal Dia adalah memperhidupkan Dia sebagai Dia yang penuh dengan pertimbangan.

Kita dapat mengenal Allah dengan demikian hanya bila Dia menaruh hayat-Nya ke dalam kita, dan hayat ini adalah Allah itu sendiri. Hayat ini adalah hukum hayat bathini kita dengan kapasitasnya. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita semua, baik yang besar maupun yang kecil, memiliki kapasitas untuk mengenal Allah ini dengan memperhidupkan Dia.

Allah akan Mengampuni Kesalahan Mereka dan Tidak lagi Mengingat Dosa Mereka

Dalam bagian yang terakhir dari ayat 34 ini Allah berkata, “Aku akan mengampuni kesalahan mereka, dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita sebelumnya, hal ini melibatkan penebusan (Ef. 1:7). Karena Allah mengampuni, maka mengenal Allah adalah mengampuni orang lain dan tidak lagi mengingat dosa mereka. Ini adalah memperhidupkan penebusan Kristus.

Semua perkara dalam Yeremia 31:33 dan 34 ini dikembangkan dalam Perjanjian Baru. Dalam Ibrani 8 Paulus mengutip ayat-ayat ini untuk memperlihatkan kepada kita bahwa hari ini kita memiliki hukum bathini, hukum hayat. Dalam perjanjian baru, yaitu perjanjian yang lebih baik ini (Ibr. 7:220, Allah menaruh diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat, dan hayat ini adalah hukum bathini kita. Hukum bathini ini adalah kapasitas kita untuk memperhidupkan Allah untuk menjadi umat Allah. Maka, kita dapat hidup dan memiliki diri kita sama seperti Allah. Dia akan mengampuni dan tidak lagi mengingat dosa-dosa umat-Nya, dan kita juga dapat sama demikian.

HASIL AKHIR DARI WAHYU YEREMIA

Apa yang digambarkan dalam Yeremia 31:33 dan 34 sebenarnya adalah ciptaan baru. Hasil akhir dari wahyu Yeremia adalah ciptaan baru, yang akan rampung dalam Yerusalem Baru. Karena itu, pada dasarnya, Yeremia sama dengan Perjanjian Baru. Isi yang mendasar dari kitab Yeremia adalah dasar dari Perjanjian Baru. Jadi Perjanjian Baru adalah perkembangan dari Yeremia.

Kitab Yeremia, yang penuh dengan pembicaraan tentang dosa Israel dan murka, penghajaran, dan penghukuman Allah ini mewahyukan bahwa Allah ingin menjadi sumber air hidup bagi kepuasan kita untuk menghasilkan pertambahan-Nya bagi ekspresi-Nya. Sekalipun kita telah gagal, tetapi Dia tidak gagal. Karena kasih setia-Nyalah bahwa kita tidak habis, dan rahmat-Nya tidak ada habis-habisnya melainkan selalu baru setiap pagi. Rahmat Allah kepada kita dalam kegagalan kita mempersiapkan jalan bagi Kristus untuk masuk pertama-tama untuk menjadi kebenaran kita dan kemudian menjadi penebusan kita dan hayat kita. Kebenaran, penebusan, dan hayat dengan hukum dan kapasitasnya—semuanya ini adalah Kristus. Oleh kebenaran, penebusan, dan hayat yang demikianlah Allah dapat membuat Kristus menjadi segala sesuatu bagi umat pilihan-Nya. Kristus adalah pusat dan lingkaran umat Allah, dan Dia juga adalah sentralitas dan universalitas dari penanggulangan Allah terhadap semua orang di bumi. Inilah isi yang mendasar dari kitab Yeremia.