KATA PENDAHULUAN
Pembacaan Alkitab: Yer. 1:1-3
Dalam pelajaran-hayat kita terhadap Firman ini, sekarang kita sudah sampai kepada kitab Yeremia. Meskipun banyak dari antara kita yang mungkin tidak kenal dengan Yeremia, tetapi saya harap Tuhan akan merangsang daya tarik kita terhadap kitab ini dan memperlihatkan kepada kita tujuan mendasarnya.
Kitab Yeremia mempunyai sifat dan pendirian kelemahlembutan Allah ditambah kebenaran Allah sebagai ciri khususnya. Allah kita adalah Allah yang lemah lembut, dan Dia mutlak benar. Dia penuh dengan rahmat, simpati, dan perhatian yang lembut, namun Dia juga benar. Sebagai Allah yang benar, Dia tidak dapat membiarkan orang-orang yang berdosa terhadap-Nya; Dia harus menghakimi mereka. Dia adalah Allah yang demikian.
Kitab ini juga merupakan satu autobiografi di mana Yeremia memberi tahu kita tentang situasinya, personanya, dan perasaannya, dan menyingkapkan hatinya yang lembut. Yehova adalah Allah yang lemah lembut, dan dalam kelemahlembutan ini Yeremia mutlak bersatu dengan Allah. Karena Yeremia seringkali menangis, bahkan meratap, maka ia disebut nabi peratap. Dalam ratapannya, Yeremia mewakili Allah. Maka, Allah dapat memakai seorang nabi seperti Yeremia untuk mengekspresikan Dia, berbicara bagi Dia, dan mewakili Dia di bumi.
Kitab ini juga menanggulangi Israel. Israel yang keras kepala, jahat, durhaka, dan tegar tengkuk, dan tidak mengetahui apa-apa tentang pertobatan atau berpaling kepada Allah. Israel mutlak tidak bersatu dengan Allah. Yeremia juga membicarakan banyak hal tentang bangsa-bangsa. Menurut kitab ini, di pandangan Allah, semua bangsa, semua orang Kafir, adalah binatang, yang bertindak seolah-olah mereka tidak memiliki roh insani. Mereka tidak mengemban gambar atau rupa Allah juga tidak memahami apa-apa tentang Allah.
Dalam kitab Yeremia ada empat kelompok yang diwahyukan. Kelompok yang pertama adalah Allah, yang lembut, kasih, rahmat, dan benar. Kelompok yang kedua adalah Yeremia, seorang pemuda yang penakut yang dibangkitkan oleh Allah untuk menjadi bibir-Nya untuk berbicara bagi Dia dan mengekspresikan Dia. Sebagai bibir Allah, Yeremia bersatu dengan Allah dalam menjadi lemah lembut, kasih, dan benar. Sebaliknya, Israel, yaitu kelompok yang ketiga, jahat dan keras kepala, dan kelompok yang keempat, yang terdiri dari bangsa-bangsa itu lebih buruk lagi.
Sekarang marilah kita melihat, sebagai satu pendahuluan, aspek-aspek penting tertentu dari kitab Yeremia ini.
I. PENULISNYA
A. Yeremia
Nama Yeremia dalam bahasa Ibrani berarti “Yehova meninggikan.” Nama ini juga berarti “Yehova meruntuhkan.” Isi yang sebenarnya dari kitab Yeremia adalah bahwa Allah meninggikan beberapa orang dan meruntuhkan yang lainnya.
D. Imam
1. Lahir dari Hilkia
Yeremia adalah seorang imam, yang lahir dari Hilkia, seorang imam, di kota kecil di Anantot di tanah Benyamin (Yer. 1:1). Melalui kelahiran ini Yeremia memiliki kedudukan sebagai seorang imam.
2. Dipanggil untuk Menjadi seorang Nabi bagi Bangsa-bangsa
Yeremia lahir sebagai seorang imam, tetapi ia dipanggil untuk menjadi seorang nabi bagi bangsa-bangsa (ay. 2-3). Maka, ia adalah seorang imam-nabi bukan hanya atas Israel melainkan juga atas bangsa-bangsa. Karena alasan ini, maka ia banyak berbicara tentang bangsa-bangsa. Tidak ada kitab nubuat yang membicarakan banyak hal tentang bangsa-bangsa sebanyak kitab Yeremia.
a. Dimulai dari Tahun Ketiga belas dari Pemerintahan Yosia
Ministri Yeremia dimulai dari tahun ketiga belas (629 S. M) dari pemerintahan Yosia dan berlangsung sampai tahun kesebelas (588 S.M) dari pemerintahan Zedekia, anak Yosia, sampai ke dalam pembuangan. Yeremia melayani selama empat puluh satu tahun, dan setiap tahunnya itu adalah tahun yang buruk sekali. Dalam empat puluh satu tahun ini, sedikitnya ada tiga pembuangan. Akhirnya, hampir semua anak-anak Israel diasingkan, mengakhiri sejarah mereka sebagai umat pilihan-Nya di mata Allah. Yerusalem dihancurkan, bait Allah dibakar, dan orang-orangnya dibawa pergi. Dalam satu hal, ini berarti bahwa Allah telah menyerahkan Israel.
b. Melayani di Yehuda dan untuk sejangka Waktu yang Singkat di Mesir
Yeremia melayani di Yehuda dan pada akhirnya, untuk sejangka waktu yang singkat di Mesir. Ia tidak mau pergi ke Mesir, tetapi ada pemberontak-pemberontak yang menawannya dan membawanya beserta mereka ke Mesir. Sejarah memberi tahu kita bahwa ia dibunuh di Mesir.
c. Sezaman dengan Habakuk, Zefanya, Daniel, dan Yehezkiel
Yeremia sezaman dengan nabi Habakuk, Zefanya, Daniel, dan Yehezkiel. Beberapa dari antara mereka ditawan dan dibawa ke Babel, tetapi Yeremia tidak. Ia tetap tinggal di negeri nenek moyangnya di Yerusalem.
d. Seorang Pemenang yang Berbicara bagi Allah
Yeremia adalah seorang pemenang yang berbicara bagi Allah dalam proses penawanan umat Allah yang merosot.
e. Kitabnya Adalah satu Koleksi tentang Sejarah, Autobiografi, dan Nubuatnya
Kitab Yeremia merupakan satu koleksi tentang sejarah, autobiografi, dan nubuatnya. Ia banyak membicarakan tentang sejarah Israel, ia menyajikan satu kisah yang lengkap tentang hidupnya, dan ia mengungkapkan banyak nubuat. Ada dari nubuat Yeremia yang negatif dan yang lainnya positif. Secara negatif, Yeremia meramalkan bahwa Israel akan ditawan dan bahwa bait Allah akan dihancurkan. Yeremia memberi tahu Zedekia untuk menyambut pasukan Babel maka dengan demikian akan menyelamatkan seluruh kota Yerusalem dan bait Allah; jika tidak demikian, maka kota itu akan dihancurkan. namun, Zedekia keras kepala dan menolak untuk mengambil perkataan Yeremia. Ketika Zedekia berusaha untuk menyelamatkan diri, ia ditawan dan dibawa ke hadapan Nebukadnezar. Raja Babel menyembelih anak-anak Zedekia di depan matanya, dan kemudian ia mencungkil mata Zedekia dan membelenggunya dengan rantai tembaga untuk membawanya ke Babel (39:4-7). Yeremia mempersaksikan hal-hal ini.
Pada aspek yang positif nubuat Yeremia itu menakjubkan. Misalnya, ia menubuatkan bahwa Israel akan dipulihkan oleh Allah (23:3-8). Ia juga menubuatkan bahwa Allah akan membangkitkan bagi Daud satu Tunas yang adil yang akan memerintah sebagai seorang Raja dan bertindak dengan bijaksana dan yang namanya akan disebut “Yehova kebenaran kita” (ay. 5-6). Ini adalah nubuat yang besar mengenai Kristus, satu nubuat yang tidak ditemukan dalam kitab mana pun. Selain itu, Yeremia menubuatkan mengenai perjanjian baru yang akan dibuat Allah dengan Israel (31:33-34). Paulus mengutip nubuat ini dan menerapkannya kepada perjanjian baru dalam Perjanjian Baru (Ibr. 8:10-12; 10:16-17). Meskipun perjanjian ini baik bagi kaum beriman Perjanjian Baru tetapi orang-orang Yahudi tidak mengambil bagian di dalamnya karena ketidakpercayaan mereka dan pemberontakan mereka.
II. SUBYEK
Subyek kitab Yeremia adalah Kristus dijadikan kebenaran Yehova bagi umat pilihan Allah sebagai pusat dan lingkaran mereka dalam penanggulangan Allah terhadap Israel dan bangsa-bangsa. Tidak peduli betapa keras kepala, fasik, dan bobroknya Israel, umat pilihan Allah ini, pada akhirnya Allah akan membuat Kristus menjadi kebenaran Yehova bagi mereka. Hari ini Israel tidak memiliki kebenaran apa pun, tetapi ketika Kristus menjadi kebenaran Yehova bagi mereka, maka tidak seorang pun, termasuk Satan, akan dapat menuduh mereka.
Selain itu, bila Kristus menjadi kebenaran bagi umat pilihan Allah, maka Dia juga akan menjadi pusat dan lingkaran mereka dalam penanggulangan Allah terhadap mereka dan terhadap bangsa-bangsa. Pusat dan lingkaran penanggulangan Allah adalah Kristus. Hari ini ketika Allah menanggulangi Israel dan bangsa-bangsa, Kristus adalah pusat dan lingkarannya. Misalnya, perubahan-perubahan belakangan ini yang terjadi di Eropah dan Rusia adalah perbuatan Allah agar Kristus dapat menjadi sentralitas dan universalitasnya. Kitab Yeremia bukan hanya berkenaan dengan kelemahlembutan dan kebenaran Allah dan penghajaran-Nya terhadap Israel yang keras kepala dan tegar tengkuk. Realitas mendasar dari kitab ini adalah penggulangan Allah terhadap Israel dan terhadap bangsa-bangsa agar Kristus dapat menjadi pusat dan lingkaran dalam segala sesuatu.
III. ISI
Isi kitab Yeremia adalah pelaksanaan Allah terhadap ekonomi-Nya melalui penghajaran terhadap Israel, umat pilihan-Nya, dalam kasih dengan perhatian, rahmat, dan simpati-Nya yang lembut, dan penghakiman-Nya terhadap bangsa-bangsa dalam kebenaran agar sesuai dengan kasih-Nya supaya Israel dapat memanifestasikan Kristus, yang adalah kebenaran ilahi mereka (23:6; 33:16) sebagai sentralitas dan universalitas mereka, melalui mereka dijadikan ciptaan baru dengan hukum hayat ilahi yang bathini dan kapasitas dari hayat ini untuk mengenal Allah (31:33-34).
Menurut kitab Yeremia, kasih Allah merupakan satu komposisi dari perhatian, rahmat, dan simpati-Nya yang lembut. Bahkan sewaktu Dia menghajar Israel umat pilihan-Nya, Dia penuh rahmat terhadap mereka. Mengenai hal ini, Allah dapat dibandingkan dengan seorang ayah yang menangis pada waktu mendisiplinkan anaknya karena ia mengasihi anak itu. Dalam kitab ini Yeremia menangis demi Allah; dan tangisannya mengekspresikan perasaan Allah. Kita dapat mengatakan bahwa Allah menangis di dalam tangisan Yeremia, karena dalam tangisannya Yeremia menjadi satu dengan Allah.
Allah melaksanakan ekonomi-Nya bukan hanya dengan menghajar Israel dalam kasih melainkan juga dengan menghakimi bangsa-bangsa dalam kebenaran. Kebenaran-Nya sesuai dengan kasih-Nya. Sebenarnya, penghakiman Allah terhadap bangsa-bangsa berasal dari kasih-Nya terhadap mereka dan menghasilkan penyelamatan-Nya terhadap mereka dalam kasih-Nya.
Allah menghajar Israel dalam kasih dan menghakimi bangsa-bangsa dalam kebenaran supaya Israel dapat memanifestasikan Kristus. Hari ini bangsa Israel tidak mengekspresikan Kristus melainkan tetap tinggal dalam ketidakpercayaan mereka. Tetapi waktunya akan datang di mana setiap orang dari Israel, besar dan kecil, akan memanifestasikan Kristus, dan memiliki Kristus sebagai sentralitas mereka (diri mereka) dan universalitas mereka (ekspresi mereka). Ketika Antikristus akan mengahancurkan seluruh umat Israel, Kristus akan turun dari surga untuk melepaskan mereka dari Antikristus itu. Roh kasih karunia dan suplaian akan dicurahkan ke atas mereka, dan mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka bunuh, dan mereka akan meratapi Dia (Zak. 12:10-14). Sejak waktu itu sampai seterusnya umat Israel akan memanifestasikan Kristus.
Allah bukan hanya akan melepaskan Israel dari Antikristus melainkan juga akan membuat mereka menjadi satu ciptaan baru dengan hukum bathini dari hayat ilahi dan kapasitas dari hayat ini untuk mengenal Allah (Yer. 31:33-34). Ini berarti bahwa Allah akan menaruh diri-Nya sendiri ke dalam mereka sebagai hayat ilahi. Di dalam hayat ini ada hukum bathini dan kapasitas untuk mengenal Allah. Sebelum kita diselamatkan tidak ada jalan bagi kita untuk mengenal Allah. Tetapi ketika kita diselamatkan, hayat ilahi masuk ke dalam diri kita dengan kapasitasnya untuk mengenal Allah. Pada satu hari umat Israel juga akan memiliki kapasitas ini. Allah akan membuat satu perjanjian yang baru dengan mereka dan masuk ke dalam mereka sebagai hayat ilahi dengan hukum dan kapasitasnya. Dengan cara ini mereka akan menjadi satu ciptaan baru dan akan memanifestasikan Kristus sebagai sentralitas dan universalitas mereka.
Yeremia 23:6 dan 33:16 keduanya mewahyukan bahwa Kristus, Tunas, keturunan Daud, akan dijadikan kebenaran Yehova bagi Israel. Kemudian Israel akan memiliki Kristus sebagai pusat dan juga sebagai ekspresi. Allah akan menggenapkan janji dari perjanjian yang baru ini di dalam mereka untuk masuk ke dalam mereka menjadi hayat mereka. Oleh kapasitas dari hayat ini, mereka akan mengenal Allah, melayani Allah, dan menyembah Allah. Hari ini kita, kaum beriman dalam Kristus, sedang mengambil bagian dalam perjanjian baru ini. Pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kali, Israel juga akan mulai mengambil bagian dalam perjanjian baru ini.
IV. POKOK PIKIRAN
Pokok pikiran dari kitab Yeremia adalah bahwa kasih Allah, yaitu kasih-Nya yang abadi, sangat merindukan agar Israel, umat yang dikasihi-Nya namun yang telah menyimpang ini, mau berpaling kepada-Nya dari allah-allah lain, yaitu dari semua berhala mereka (2:28; 11:13), dan agar mereka dapat memperoleh Kristus yang berinkarnasi-Nya sebagai kebenaran Yehova bagi mereka sebagai pusat diri mereka dan ekspresi universal mereka. Jadi, meskipun faktanya bahwa umat pilihan-Nya telah merosot, dan menurut sifat mereka melalui kelahiran adalah fasik (12:1; 30:23), mempunyai hati yang lebih licik daripada segala sesuatu (17:9), dan tidak mungkin dapat diubah dengan cara apa pun, seperti orang Ethiopia tidak dapat mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya (13:23), tetapi mereka dapat ditebus dari kejatuhan mereka melalui penebusan Kristus dan diselamatkan dari sifat mereka yang penuh dengan dosa, bukan hanya dari dosa dan kefasikan mereka, oleh hayat ilahi Kristus dengan kapasitas ilahi dari hayat bathini ini, bukan dengan huruf-huruf hukum taurat yang mati, untuk diperbaharui (seperti yang ditunjukkan oleh perjanjian baru yang mereka terima dari Allah) agar Allah dapat menjadi Allah mereka dan mereka dapat menjadi umat Allah (31:31-33) untuk mengambil bagian dalam kenikmatan akan kekayaan-kekayaan Allah Tritunggal. Partisipasi mereka dalam kekayaan-kekayaan Allah ini akan terjadi dalam masa seribu tahun pada zaman pemulihan yang akan datang dan akan rampung secara ultima dalam Yerusalem Baru di dalam langit baru dan bumi baru.
Mungkin kita membayangkan bagaimana kita tahu bahwa Yeremia membicarakan tentang Kristus yang berinkarnasi. Ini ditunjukkan oleh firman dalam 23:5 dan 33:15 mengenai Kristus sebagai Tunas yang adil yang akan dibangkitkan oleh Allah bagi Daud. Kristus akan menjadi keturunan Daud, dan ini berarti bahwa Dia akan menjadi seorang manusia dalam daging. Inilah Kristus yang berinkarnasi. Kristus yang berinkarnasi, yaitu Tunas yang adil ini, akan menjadi kebenaran Yehova bagi Israel untuk menjadi pusat diri mereka dan ekspresi universal mereka.
Untuk mendemonstrasikan bahwa apa yang kita katakan mengenai pokok pikiran Yeremia ini akurat, sekarang saya ingin melihat tiga bagian dari Yeremia dan satu bagian dari Ratapan. Jika kita menempatkan bagian-bagian ini bersama-sama, maka kita akan melihat bahwa pemahaman kita terhadap pokok pikiran Yeremia ini adalah menurut isi mendasar dari kitab ini dan bukan sekedar satu penafsiran manusia belaka.
Tentang Israel, umat pilihan Yehova, Yeremia 2:13 mengatakan, “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” Yeremia mungkin menangis ketika ia mengucapkan perkataan ini. Perkataan mengenai sumber air yang hidup ini sebenarnya adalah pemikiran Perjanjian Baru. Perkataan Yeremia di sini sangat mirip dengan perkataan Tuhan Yesus di dalam Yohanes 4:14, di mana Dia mengatakan kepada perempuan Samaria, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”
Ratapan 3:22-25 mengatakan, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi…TUHAN adalah bagianku…oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya.” Di sini Yeremia tidak membicarakan tentang kasih Allah melainkan tentang kasih setia-Nya dan rahmat-Nya. Rahmat berbeda dengan belas kasihan. Rahmat adalah satu perasaan bathini yang lembut, dan belas kasihan adalah ekspresi lahiriah dari perasaan ini. Rahmat Yehova ini, sepeti embun, selalu baru setiap pagi. Segera setelah membicarakan tentang kasih setia dan rahmat Allah, Yeremia mengungkapkan satu perkataan yang bersifat pribadi: “Yehova adalah bagianku…aku berharap kepada-Nya.” Di sini Yeremia seolah-olah akan mengatakan, “Meskipun bani Israel telah dibuang, tetapi aku tetap berharap kepada Yehova. Aku berharap kepada Dia yang kasih setia dan rahmat-Nya terhadap kita tidak akan berhenti. Dia adalah bagianku, dan Dia itu baik, bukan hanya bagiku, melainkan juga bagi semua orang yang berharap kepada-Nya.”
Yeremia 23:5 dan 6 mengatakan, “Sesungguhnya waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN—keadilan kita.” “Tunas yang adil” ini adalah Kristus yang berinkarnasi untuk menjadi keturunan Daud dalam daging. Pada waktu firman ini ditulis, keturunan Daud telah menjadi jahat, dan kelihatannya tidak akan ada raja-raja lagi yang keluar dari suku Daud. Tetapi Yeremia menubuatkan bahwa pada satu hari Allah akan membangkitkan satu tunas yang baru, cabang yang baru, yaitu Tunas yang adil untuk memerintah sebagai Raja dan bertindak dengan bijaksana. Firman tentang Kristus akan memerintah sebagai Raja ini akan digenapkan sepenuhnya pada masa seribu tahun. Seperti yang ditunjukkan Yesaya 53, firman tentang tindakan Kristus yang bijaksana ini mengacu kepada tindakan-Nya yang bijaksana/berhasil dalam kebangkitan-Nya. Selain itu, fakta bahwa nama-Nya akan disebut “Yehova keadilan kita” berarti bahwa Dia berhubungan dengan kita. Di sini nama-Nya bukan disebut kebenaran Yehova, melainkan Yehova kebenaran kita, yang menunjukkan bahwa Dia akan menjadi satu dengan kita untuk menjadi kebenaran kita. Ini juga adalah pemikiran Perjanjian Baru.
Bagian yang keempat yang saya ingin pertimbangkan adalah Yeremia 31:33 dan 34. “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh hukum-Ku dalam bathin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan; Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua besar kecil akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Hukum yang dibicarakan di sini berhubungan dengan hayat ilahi. Allah ingin mengatakan bahwa Dia akan menaruh hayat-Nya ke dalam mereka dan bahwa pada hayat ini ada satu hukum. Sebenarnya, hayat ini adalah hukum. Kita dapat memakai pohon apel sebagai satu ilustrasi. Pohon apel mempunyai hukumnya sendiri. Hukum pohon apel adalah hayat pohon apel. Karena hukum ini, maka pohon apel dengan spontan akan menghasilkan apel. Tidak perlu mengatakan, “Hai pohon apel, aku memerintahkan kamu untuk tidak menghasilkan pisang, melainkan menghasilkan apel. Juga, apel-apelmu harus berentetan bukan dua-dua.” Hayat pohon apel akan mengaturnya sedemikian rupa hingga pohon ini menghasilkan apel. Prinsipnya sama dengan hayat insani kita. Hayat insani kita mempunyai satu hukum yang mengatur penghidupan kita sebagai manusia. Hayat ilahi adalah hayat yang tertinggi, dan hayat ini di dalam kita merupakan satu hukum bathini yang mengatur kita.
Menurut Yeremia 31:33, hukum ilahi ini bukan hanya ditaruh ke dalam roh kita melainkan juga ditulis, diukir, di atas hati kita. Ini berhubungan dengan pengajaran Perjanjian Baru tentang hayat ilahi yang akan menyebar dari roh kita ke dalam hati dan pikiran kita.
Yeremia 31:34 memberi tahu kita bahwa semua kaum Israel akan mengenal Yehova, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka. Ini juga akan diterapkan kepada kita, kaum beriman Perjanjian Baru pada hari ini. Yang membuat kita berbeda dengan orang lain adalah bahwa kita memiliki hukum bathini dari hayat ilahi dengan kapasitas dan kemampuannya untuk mengenal Allah dan untuk mengenal bahwa Allah adalah Allah kita dan bahwa kita adalah umat-Nya. Hari ini, sebagai ciptaan baru, kita harus berperilaku menurut pengajaran bathini dari hukum hayat ini. Pada akhirnya, Israel akan sama dengan kita sekarang; mereka juga akan menjadi ciptaan baru dalam hayat ilahi dan mengenal Allah menurut kapasitas dari hayat ilahi ini.
Kita dapat membandingkan pembacaan kitab Yeremia kita dengan mengambil buah-buahan dari pohon-pohon dalam kebun buah-buahan. Dalam mengambil buah-buahan kita tidak mempedulikan cabang-cabang yang tua atau daun-daun yang kering; sebaliknya kita hanya memperhatikan menuai buah-buahan. Demikian juga, dalam pengkajian kita akan kitab Yeremia, kita tidak boleh mengumpulkan “cabang-cabang” dan “daun-daun” melainkan mengumpulkan “buahnya.” Orang-orang yang menaruh perhatian kepada cabang-cabang dan daun-daun dan orang-orang yang mengapresiasi buanhnya keduanya benar, tetapi hanya mereka yang mengumpulkan buahnya secara rohani mendapatkan keuntungan. Dalam berita-berita di dalam pelajaran-hayat Yeremia ini, beban saya bukanlah menyajikan cabang-cabang dan daun-daun melainkan buahnya. Saya percaya bahwa dalam kata pendahuluan ini pun ada banyak “apel,” “persik,” dan “pear” bagi Anda untuk Anda nikmati. Bagian-bagian tentang sumber air hidup, Tunas yang adil yang akan memerintah sebagai Raja, kasih setia dan rahmat Tuhan, dan diri-Nya menjadi bagian kita dan perjanjian yang baru dengan hukum hayat ilahi ini tentunya adalah buah-buah yang menakjubkan bagi kenikmatan dan penerangan kita. Banyak pembaca Yeremia memusatkan perhatian pada cabang-cabang dan daun-daunnya, tetapi saya ingin mendorong Anda untuk memusatkan perhatian pada buahnya.
V. BAGIAN-BAGIAN
Akhirnya, dalam kata pendahuluan ini kita perlu melihat bahwa kitab Yeremia mempunyai empat bagian. Bagian yang pertama adalah panggilan dan amanat Yeremia (ps. 1). Bagian kedua meliput tentang dosa Israel terhadap Yehova dan penghukuman Yehova terhadap Israel (ps. 2—45). Bagian ketiga berkenaan dengan penghukuman dan penghakiman Yehova terhadap bangsa-bangsa termasuk terhadap umat pilihan Allah, Israel (ps. 46-510. Bagian yang terakhir adalah tambahan/suplemen untuk sejarah pembuangan (ps. 52).
Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam empat bagian ini ada empat kelompok: Allah, Yeremia, Israel, dan bangsa-bangsa. Dua bagian yang pertama itu baik, dan dua bagian selanjutnya jahat. Dalam satu hal, kitab Yeremia merupakan satu drama di mana ada satu bagian yang penting yang dimainkan oleh setiap kelompok dari empat kelompok ini.