← Daftar isi Lukas (3) · bab 1/29

KEMATIAN MANUSIA-PENYELAMAT (1)

Pembacaan Alkitab: Luk. 22:47—23:25

Sampai bab ini dalam Pelajaran-Hayat Injil Lukas kita telah membahas empat bagian utama dari Injil ini: pembukaan (1:1-4), persiapan Manusia-Penyelamat dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya (1:5—4:13), ministri Manusia-Penyelamat dalam kebajikan insani-Nya dengan atribut ilahi-Nya (4:14—19:27), dan Manusia-Penyelamat menyerahkan diri-Nya sendiri kepada kematian untuk merampungkan penebusan (19:28—22:46). Dalam berita ini kita sampai pada bagian yang kelima dari Injil Lukas — kematian Manusia-Penyelamat (22:47-23:56). Dalam bagian ini kita nampak bahwa Tuhan ditangkap (22:47-65), dihakimi (22:66—23:25), disalibkan (23:26-49), dan dikubur (23:50-56).

Setelah 22:46, segala sesuatu telah dipersiapkan bagi kematian Manusia-Penyelamat. Tempat dan waktunya sudah tepat. Itulah tahun, bulan, bahkan hari yang sudah ditetapkan bagi-Nya untuk mati.

DITANGKAP

Kematian Manusia-Penyelamat dimulai dengan Dia ditangkap. Ketika Tuhan Yesus pergi ke Taman Getsemani, Dia sadar bahwa Dia akan ditangkap di sana. Meskipun demikian, sebagaimana Dia mengambil inisiatif untuk pergi dari Galilea ke Yerusalem, Dia juga mengambil inisiatif untuk pergi ke Taman Getsemani. Tentunya, kesebelas murid itu tidak tahu apa yang akan terjadi. Namun, Manusia-Penyelamat tahu apa yang sedang dilakukan-Nya dan langkah apa yang sedang diambil-Nya. Dia pergi ke tempat Dia diserahkan kepada orang-orang yang akan datang ke sana untuk menangkap-Nya dan membunuh-Nya.

Ketika Tuhan Yesus ditangkap, ada tiga kelompok orang yang mengelilingi-Nya: orang-orang yang menangkap-Nya, murid-murid-Nya, dan orang-orang yang menghakimi-Nya. Orang-orang yang menangkap Manusia-Penyelamat adalah para agamawan yang jahat. Mereka itu agamis tetapi mereka palsu, munafik, dan penuh dengan tipu muslihat. Bahkan mereka tidak layak dikategorikan dengan orang-or-ang yang hanya alamiah atau yang berada di dalam ciptaan lama saja. Mereka benar-benar jahat, palsu, dan penuh dengan tipu muslihat.

Kelompok yang kedua dari orang-orang yang mengelilingi Tuhan Yesus ketika Dia ditangkap terdiri dari para pengikut-Nya. Murid-murid itu memiliki satu maksud yang baik, tetapi mereka semua berada di dalam alam alamiah. Di sini kita tidak melihat adanya tanda bahwa mereka ada di dalam alam rohani; sebaliknya, mereka ada di dalam ciptaan lama. Di satu pihak, mereka mendapat bagian dalam roti dan cawan. Tetapi sekalipun mereka telah melakukan hal itu mereka masih berselisih siapakah yang terbesar di antara mereka. Melalui hal ini kita nampak betapa alamiahnya mereka itu. Selain itu, ketika Tuhan Yesus memberi tahu mereka bahwa mereka akan tersandung, Petrus bangkit dan menyangkalnya: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau” (22:33). Selanjutnya, ketika Tuhan menyuruh murid-murid siap sedia menghadapi situasi itu, mereka berpikir bahwa mereka perlu membeli pedang untuk berperang. Karena itu, Tuhan berkata kepada mereka, “Sudah cukup” (22:38).

Karena murid-murid berada dalam hayat alamiah, mereka tidak dapat memahami apa yang sedang dikatakan Manusia-Penyelamat kepada mereka. Ketika Tuhan akan ditangkap, “mereka yang bersama-sama dengan Yesus, me-lihat apa yang akan terjadi, berkatalah mereka: Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang? Lalu seorang dari mereka menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinga kanannya” (22:49-50). Di sini kita nampak bahwa murid-murid segera melawan. Petrus memelopori mengambil pedang, tetapi Tuhan menghentikan mereka, dengan berkata, “Sudahlah itu.” Lalu Ia menyentuh telinga orang itu dan menyembuhkannya” (ay. 51). Kata-kata “sudahlah itu” juga dapat berarti, “Biarkanlah mereka menahan Aku kali ini.”

Setelah Manusia-Penyelamat ditangkap, “Petrus meng-ikut dari jauh” (ay. 54b). Ini adalah satu petunjuk bahwa Petrus akan menyangkal Tuhan. Petrus kemudian duduk bersama sejumlah orang dekat api yang menyala di tengah-tengah halaman rumah itu (ay. 55). Ini adalah petunjuk lainnya bahwa ia akan menyangkal Tuhan. Ayat 56-57 mengatakan, “Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya, lalu berkata: Orang ini

juga bersama-sama dengan Dia.” Tetapi Petrus menyangkal, katanya, “Aku tidak kenal Dia, Bu!” Setelah Petrus menyangkal Tuhan dua kali lagi, berkokoklah ayam, lalu

“Berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku” (ay. 60-61). Lalu Petrus pergi ke luar dan menangis dengan sedih (ay. 62).

Kita tahu dari Injil lainnya bahwa murid-murid lainnya tercerai berai. Dari hal ini kita nampak bahwa para pengikut Manusia-Penyelamat ini alamiah; mereka ada di dalam ciptaan lama. Tidak mengherankan, mereka perlu dibawa ke salib, diakhiri, dan diganti. Karena mereka ada dalam ciptaan lama, mereka tidak dapat menikmati yobel. Karena mengetahui apa yang mereka perlukan, Tuhan membawa mereka bersama-Nya ke salib supaya mereka dapat diakhiri dan diganti.

Marilah kita melihat lebih jelas tentang orang-orang yang menangkap Manusia-Penyelamat. Sewaktu Dia masih berbicara kepada murid-murid-Nya, Yudas mendekati Dia dan mencium-Nya (ay. 47). “Lalu kata Yesus kepadanya: Hai Yudas, dengan ciumankah engkau menyerahkan Anak Manu-sia?” (ay. 48). Setelah menunjukkan kepada Yudas bahwa ia akan menyerahkan Anak Manusia melalui mencium-Nya dengan kepalsuan, Tuhan berkata kepada imam-imam kepala pengawal-pengawal Bait Allah, dan tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu dan inilah kuasa kegelapan itu” (ay. 52-53). Para penentang yang meninggalkan Allah dan yang menyerang Allah ini, takut kepada orang-orang yang menyambut Manusia-Penyelamat dengan hangat dan yang senang dengan perkataan-Nya (Mrk. 12:37), mereka tidak berani menangkap Dia pada siang hari atau di tempat umum seperti Bait Allah. Sebaliknya, mereka menangkap Dia dengan licik di malam hari, seperti menangkap seorang penyamun (Luk. 22:52). Di sini Tuhan seolah-olah berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak menangkap Aku sewaktu Aku sedang mengajar di Bait Allah? Mengapa kamu datang pada malam hari, bukan siang hari? Dan mengapa kamu menangkap Aku di tempat yang tersembunyi? Kamu menangkap Aku dengan cara ini karena kamu takut kepada orang banyak. Kamu tahu bahwa jika kamu berusaha menangkap Aku di Bait Allah, orang-orang akan melempari kamu dengan batu. Meskipun demikian, sekarang ini adalah waktumu dan waktu kuasa kegelapan.”

Manusia-Penyelamat tidak takut ditangkap. Sebaliknya, Dia berani menghadapi situasi itu, dan Dia bahkan menegur kejahatan orang-orang yang akan menangkap-Nya. Sebenarnya, Tuhan tidak ditangkap; sebaliknya Dia menyerahkan diri-Nya sendiri kepada orang-orang yang menangkap-Nya. Jika Dia tidak melakukan hal ini, siapakah yang dapat menangkap-Nya? Menurut Yohanes 18:4, Tuhan Yesus bertanya kepada mereka, siapa yang sedang mereka cari. Ketika mereka menjawab bahwa mereka mencari Yesus orang Nazaret, “Kata-Nya kepada mereka: Akulah Dia” (ay. 5). Catatan dalam Injil Yohanes selanjutnya memberi tahu kita bahwa ketika “Ia berkata kepada mereka: “Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah” (ay. 6). Ini menun-jukkan bahwa sebenarnya mereka tidak menangkap Manu-sia-Penyelamat, sebaliknya Dia dengan rela membiarkan mereka menangkap-Nya.

Sewaktu kita membaca Lukas 22:47—23:56, kita perlu mengenal siapakah yang ditangkap, dihakimi, dan disalib-kan ini. Orang yang ditangkap ini sesungguhnya adalah Allah, Allah dalam manusia. Ini berarti bahwa Allah ditangkap oleh makhluk-makhluk ciptaan-Nya, dan bahkan ditangkap dengan cara yang jahat. Bukankah seharusnya Allah yang adil dan benar segera menghakimi mereka? Tetapi Allah tidak menghakimi mereka, malahan Dia membiarkan mereka. Dia rela ditangkap untuk menggenapkan penebusan bagi para pengikut-Nya dan bagi orang-orang yang menangkap-Nya.

Dalam 22:63 dikatakan bahwa orang-orang yang me-nahan Manusia-Penyelamat “mengolok-olokkan Dia dan memukuli-Nya.” Kemudian kita melihat bahwa “Mereka menutupi muka-Nya dan bertanya: Cobalah katakan siapa yang memukul Engkau? Masih banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepada-Nya” (ay. 64-65). Orang yang mereka olok-olok, yang mereka pukuli dan hujat adalah manusia-Allah; Orang yang menderita ini adalah Allah dalam manusia. Jika kita mengingat butir ini sewaktu kita membaca pasal ini, kita akan sangat terkesan bahwa yang ditutupi muka-Nya dan yang dihujat adalah manusia Allah.

DIHAKIMI

Oleh Mahkamah Agama Orang Yahudi

Dalam 22:66—23:25 Manusia-Penyelamat dihakimi oleh Mahkamah Agama orang Yahudi (22:66-71) dan oleh penguasa-penguasa Romawi (23:1-25). “Setelah hari siang berkumpullah sidang para tua-tua bangsa itu dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Mahkamah Agama mereka, katanya: Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami” (ay. 66-67a). Mahkamah Agama adalah suatu badan yang terdiri dari Imam Besar, tua-tua, ahli hukum, dan ahli Taurat. Ini adalah mahkamah yang paling tinggi di kalangan orang Yahudi (Kis. 4:5-6, 15; 5:27, 34, 41).

Ketika Manusia-Penyelamat ditanya apakah Dia adalah Kristus (Mesias), “Jawab Yesus: Sekalipun Aku mengatakan-nya kepada kamu, kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya, kamu tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa” (Luk. 22:67b-69). Jawaban Tuhan menunjukkan bahwa Dia bukan hanya Anak Manusia di bumi sebelum ketersaliban-Nya, tetapi juga menunjukkan bahwa Dia akan menjadi Anak Manusia di surga di sebelah kanan Allah setelah kebangkitan-Nya (Kis. 7:56) dan juga pada saat kedatangan-Nya kembali di atas awan-awan. Jawaban-Nya juga menunjukkan bahwa Dia adalah Kristus Allah, yang diurapi-Nya. Jika tidak, Dia tidak dapat duduk di sebelah kanan Allah dengan kuasa Allah.

Lukas 22:70 mengatakan, “Kata mereka semua: Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah? Jawab Yesus: Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Dia” Pertanyaan terhadap Manusia-Penyelamat yang diajukan di sini sama dengan pertanya-an yang dipakai oleh Iblis dalam mencobai-Nya (4:3, 9).

Bahasa Yunani yang diterjemahkan “Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Dia,” juga dapat diterjemahkan, “Kamu sendiri yang mengatakannya, karena Akulah Dia.” Ketika orang-orang yang menghakimi Tuhan ini mendengar jawaban-Nya, mereka berkata, “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri” (ay. 71). Mereka sangat emosional, menganggap Dia menghujat Allah dengan mengatakan bahwa Dia adalah Anak Allah, lalu mereka menghukum-Nya.

Oleh Penguasa-penguasa Romawi

Sadar bahwa menurut hukum Romawi mereka tidak memiliki wewenang untuk menghukum seseorang, maka para pemimpin agama ini menyerahkan Manusia-Penyelamat kepada Pilatus: “Lalu bangkitlah seluruh sidang itu dan Yesus dibawa menghadap Pilatus” (23:1). Pilatus adalah seorang hakim Romawi, wakil Kaisar Tiberius di Yudea pada tahun 26-35 M. Tidak lama setelah dia menyerahkan Tuhan Yesus untuk disalibkan secara tidak adil, kekuasaannya berakhir dengan mendadak. Dia dibuang dan kemudian bunuh diri.

Di bawah kedaulatan Allah, Manusia-Penyelamat bukan hanya dihakimi oleh para pemimpin Yahudi seperti seekor domba di hadapan orang-orang yang menyembelihnya (Yes. 53:7), tetapi juga oleh gubernur Romawi seperti seorang penjahat di hadapan para pendakwa. Dia dihakimi dengan cara demikian supaya Dia dapat mati untuk menyelamatkan orang-orang dosa dengan nyawa-Nya sebagai suatu tebusan (Mrk. 10:45), bukan hanya bagi orang-orang Yahudi yang diwakili oleh para pemimpin Yahudi, tetapi juga bagi bangsa bukan Yahudi, yang diwakili oleh gubernur Romawi.

Para pemimpin Yahudi menuduh Tuhan Yesus di hadap-an Pilatus dengan berkata, “Kami mendapati bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan bahwa Dialah Kristus, yaitu Raja” (23:2). Kata “menyesat-kan” dalam bahasa aslinya juga berarti memalingkan, menyimpangkan (lihat ay. 14). Pilatus kemudian bertanya kepada-Nya dengan berkata, “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: Engkau sendiri mengatakannya” (ay. 3). Menurut Alford, jawaban Tuhan ini harus dipahami sebagai suatu pernyataan yang tegas.

Pilatus tidak dapat menemukan kesalahan pada Manusia-Penyelamat. “Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini” (ay. 4). Meskipun demikian, “mereka makin kuat mendesak, katanya: Ia menghasut rakyat dengan ajaran-Nya di seluruh Yudea, Ia mulai dari Galilea dan sudah sampai ke sini” (ay. 5). Ini menunjukkan bahwa seluruh Yudea terdiri atas Galilea dan wilayah tempat Yerusalem berada. Galilea adalah satu bagian dari wilayah orang Yahudi. Wilayah orang Yahudi umumnya disebut Yudea.

Pilatus adalah seorang politikus. Sebagai seorang pejabat yang bertugas untuk Kekaisaran Romawi, ia takut bersalah kepada orang Yahudi yang di antaranya ia bekerja. Tidaklah mudah bagi penguasa Romawi untuk menangani orang Yahudi, dan Kaisar sering kesal terhadap cara para pejabatnya di Yudea menangani mereka. Karena Pilatus tidak ingin melukai orang Yahudi, maka ia bertindak dengan licik. Ketika Pilatus sadar bahwa Tuhan Yesus berasal dari wilayah kekuasaan Herodes, “ia mengirim Dia menghadap Herodes yang pada hari-hari itu ada juga di Yerusalem” (ay. 7). Pilatus pasti senang mengetahui bahwa Tuhan Yesus berasal dari Galilea, yang berada di wilayah kekuasaan Herodes. Karena itu, Pilatus mengalihkan masalah ini ke-pada Herodes.

Lukas 23:8 mengatakan, “Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia dan mengharapkan dapat melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda mujizat.” Herodes mengajukan “banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apa pun” (ay. 9). Bahasa Yunani yang diterjemahkan “banyak” juga berarti “memadai,” “cukup”. Sikap Tuhan yang tidak menjawab Herodes adalah penggenapan Yesaya 53:7.

Herodes mungkin kecewa ketika Manusia-Penyelamat tidak menjawab pertanyaan-pertanyaannya. “Bahkan Herodes dan pasukannya menghina dan mengolok-olokkan Dia; ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus” (ay. 11). Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa Dia yang dihina dan diolok-olok, Dia yang dikirimkan dari Pilatus ke Herodes dan kembali lagi, adalah Allah sendiri dalam seorang manusia. Tuhan Yesus bukan hanya seorang manusia; Dia adalah manusia-Allah, Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna. Meskipun demi-kian, Dia diolok-olok. Pilatus, Herodes, dan prajurit-prajurit mempermainkan Dia seperti anak-anak bermain boneka.

Lukas 23:13-14 mengatakan, “lalu Pilatus mengumpul-kan imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin serta rakyat, dan berkata kepada mereka: Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Lihat, aku telah memeriksa-Nya di hadapan kamu, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya.” Di sini “menyesatkan” menyiratkan menyimpangkan rakyat dari kewajiban mereka terhadap negara dan agama. Pilatus selanjutnya menyatakan bahwa Herodes juga tidak menemukan apa-apa pada Tuhan Yesus yang setimpal dengan hukuman mati. Kemudian Pilatus mengumumkan, “Jadi, aku akan mencambuk Dia, lalu melepaskan-Nya” (ay. 16). Ketika Pilatus mengatakan hal ini “mereka berteriak bersama-sama: Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!” (ay. 18).

Karena ingin melepaskan Tuhan Yesus, Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka (ay. 20). “Tetapi mereka berteriak membalasnya: Salibkan Dia! Salibkan Dia! Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka: Kejahatan apa yang telah dilakukan orang ini? Tidak ada kesalahan apa pun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan mencambuk Dia, lalu melepaskan-Nya. Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriakan mereka” (ay. 21-23). Hukuman mati orang Yahudi adalah dirajam dengan batu (Im. 20:2, 27; 24:14; Ul. 13:10; 17:5). Penyaliban adalah praktek kafir (Ezr. 6:11) yang diambil oleh orang Romawi untuk menghukum mati budak-budak dan pelaku kejahatan yang berat. Menyalibkan Tuhan Yesus bukan hanya menggenapkan nubuat Perjanjian Lama (Ul. 21:23; Gal. 3:13; Bil. 21:8-9), tetapi juga menggenapkan firman Tuhan sendiri mengenai cara kematian-Nya (Yoh. 3:14; 8:28; 12:32), yang tidak dapat digenapkan dengan dirajam.

Lukas 23:24-25 mengatakan, “Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan. Ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pembe-rontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, sedangkan Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.” Hukuman yang diberikan oleh Pilatus sepenuhnya menyingkapkan kegelapan dan ketidakadilan politik manusia. Ini adalah penggenapan nubuat Yesaya 53:5, 8 mengenai penderitaan Manusia-Penyelamat.

Tuduhan-tuduhan pemimpin-pemimpin agama Yahudi menyingkapkan kepalsuan dan penipuan mereka dalam agama mereka, dan penghakiman yang dibuat oleh pemerin-tahan Romawi menyingkapkan kegelapan dan kebusukan mereka dalam politik mereka. Pada saat yang bersamaan, kembali Manusia-Penyelamat dibenarkan dalam kesempurnaan insani-Nya yang berstandar tertinggi, dengan segala kemuliaan ilahi-Nya yang melampaui segala sesuatu. Ini merupakan tanda terkuat bahwa Dia sepenuhnya layak menjadi Pengganti orang-orang dosa, sebagaimana Ia ditetapkan untuk mati bagi mereka.

Penghakiman oleh para pemimpin Yahudi dan para penguasa Romawi adalah tahap terakhir dari pengujian terhadap Manusia-Penyelamat. Bagian pertama dari pengujian ini digenapkan di dalam Bait Allah, dan bagian yang terakhir digenapkan di hadapan Mahkamah Agama orang Yahudi dan di hadapan pemerintahan Romawi. Setelah semua tahap pengujian ini, Manusia-Penyelamat terbukti tanpa kesalahan apa pun. Karena itu, Dia ternyatakan, terbukti sebagai satu-satunya Pengganti yang layak mati bagi orang-orang dosa.

EMPAT GAMBARAN

Gambaran tentang Manusia-Penyelamat

Dalam 22:47—23:25 kita perlu terkesan dengan empat gambaran. Gambaran yang pertama adalah gambaran tentang Manusia-Penyelamat, gambaran manusia-Allah. Karena orang-orang sekelilingnya, gambaran Manusia-Penyelamat ini sangat jelas. Dalam gambaran ini, kita nampak manusia-Allah, yaitu Dia yang sempurna, yang agung dan penuh dengan cahaya terang ilahi dan kebajikan insani. Bila kita melihat gambaran yang disajikan oleh Lukas tentang Manusia-Penyelamat ini sejak Dia ditangkap sampai Dia dihukum mati oleh Pilatus, kita melihat gambaran Tuhan Yesus sebagai manusia-Allah yang lengkap dan sempurna.

Kita telah menunjukkan bahwa sebagai manusia-Allah, Tuhan Yesus adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna. Namun, mungkin kita tidak mengapresiasi hal ini sebelum gambaran manusia-Allah ini disajikan dalam bagian dari firman ini. Saya harap dalam membaca bagian dari Injil Lukas ini, semua orang kudus, khususnya kaum muda, memiliki satu pandangan yang jelas tentang gambaran dari manusia-Allah ini.

Tuhan Yesus dalam 22:47—23:25 digambarkan sebagai Allah yang benar dan manusia yang sejati. Manusia-Allah ini ditangkap, diolok-olok, dihujat, dihina, dan dihakimi. Tetapi sewaktu Dia melewati semuanya ini, Dia sepenuhnya digam-barkan sebagai Yang memiliki standar moralitas tertinggi, memiliki kebajikan insani dengan cahaya terang ilahi yang unggul. Di sini kita bukan hanya nampak atribut ilahi Manusia-Penyelamat, tetapi juga nampak kemegahan ilahi-Nya. Di dalam Dia kita nampak Allah yang benar dan manusia yang tepat. Dia sepenuhnya layak menjadi Pengganti bagi orang-orang dosa yang baginya Dia rela mati. Menurut catatan Lukas di sini, Dia siap mati bagi orang-orang dosa.

Gambaran tentang Murid-murid

Gambaran kedua yang kita lihat dalam bagian Injil Lukas ini adalah gambaran tentang para pengikut Manusia-Penyelamat. Dari apa yang kita lihat dalam gambaran ini, kita tidak dapat memberikan pujian apa pun kepada kesebelas murid itu, khususnya Petrus, Yohanes, dan Yakobus yang berada dalam hayat alamiah mereka. Jika hendak memberi pujian, pujian ini seharusnya diberikan kepada para saudari. Kesebelas murid itu benar-benar alamiah; mereka bertindak sepertinya mereka tidak memi-liki roh. Petrus, misalnya, mengatakan bahwa ia tidak mungkin menyangkal Tuhan. Petruslah yang mengambil pedang dan memotong telinga hamba imam besar. Petruslah yang menyangkal Tuhan tiga kali. Betapa alamiahnya dia! Namun, sewaktu kita melihat gambaran yang disajikan di sini tentang murid-murid Tuhan, kita perlu sadar bahwa ini adalah gambaran kita juga. Di sini kita nampak satu gambaran dari hakiki kita semua di dalam hayat alamiah.

Gambaran tentang Orang-orang Agama

Gambaran ketiga yang kita lihat adalah gambaran tentang orang-orang agama. Mereka itu palsu, penuh dengan tipu muslihat dan kepura-puraan. Mereka menyembah Allah, mengajar orang-orang tentang Allah, dan kelihatannya giat memelihara Sepuluh Perintah Allah. Tetapi mereka datang menangkap Tuhan bukan di siang hari melainkan di malam hari, dan bukan di tempat umum melainkan di tempat yang sunyi. Tuhan tahu bahwa mereka akan menangkap diri-Nya dengan cara ini, maka Tuhan dengan sengaja pergi ke Taman Getsemani, satu tempat yang sunyi, supaya mereka dapat menangkap Dia dengan cara mereka yang penuh tipu muslihat itu. Sebenarnya, bukan mereka yang menangkap Dia, melainkan Dia menyerahkan diri-Nya sendiri kepada mereka untuk ditangkap oleh mereka. Pada orang-orang agama ini, kita tidak nampak apa-apa selain kepalsuan dan tipu muslihat.

Gambaran tentang Para Penguasa Romawi

Terakhir, kita memiliki gambaran tentang pemerintahan Romawi, dan para penguasanya. Pada para penguasa Romawi ini tidak ada keadilan. Dalam gambaran ini kita nampak kegelapan dan kebobrokan politisi Roma.

KEMATIAN, KEBANGKITAN, YOBEL

Bila kita memperhatikan gambaran-gambaran di atas, kita dapat memahami situasi yang di tengah-tengahnya Manusia-Penyelamat pergi ke salib. Kita perlu memahami bahwa Dia bukan dibawa orang ke salib — Dia sendiri pergi ke salib. Di salib salib Dia sengaja menyerahkan nyawa-Nya untuk menggenapkan kematian yang almuhit. Kematian ini membawa Dia masuk ke dalam kebangkitan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, yobel digenapkan. Selanjut-nya, Manusia-Penyelamat ini membawa para pengikut-Nya bersama-Nya ke dalam kematian. Dengan cara ini Dia meng-akhiri mereka supaya mereka dapat digantikan dan ditunas-kan. Kemudian dalam kebangkitan-Nya, mereka dapat menikmati Dia sebagai yobel mereka. Lagi pula, dalam kebangkitan-Nya para pengikut Tuhan ini menjadi Tubuh-Nya sebagai kelanjutan-Nya, reproduksi-Nya. Dalam kebangkitan, mereka menjadi satu dengan Dia untuk menikmati Allah Tritunggal.

Kita tidak dapat memiliki pemahaman yang sedemikian tentang kematian Tuhan hanya dengan membaca Injil Lukas. Kita harus mengingat bahwa Lukas, menerima kesannya mengenai kematian dan kebangkitan Tuhan dari Paulus. Karena itu, untuk memiliki pemahaman yang lebih penuh tentang kematian dan kebangkitan Manusia-Penye-lamat ini, kita perlu surat-surat Paulus. Bila kita membaca Injil Lukas dalam terang surat-surat Rasul Paulus, khusus-nya kitab Ibrani, kita akan nampak bahwa kenikmatan yang lebih penuh terhadap yobel, perhentian Sabat, akan ada pada zaman yang akan datang. Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita berita sebelumnya, kenikmatan terhadap yobel pada zaman yang akan datang itu tergantung pada kenik-matan kita terhadap yobel pada zaman ini.