← Daftar isi Markus (1) · bab 3/22

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (10)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 8:27—9:13

BUTIR PALING PENTING DALAM INJIL MARKUS

Markus 8:27—9:13 mewahyukan rahasia persona Tuhan, kematian dan kebangkitan-Nya. Kita dapat mengatakan bahwa apa yang dicatat di sini adalah butir paling penting dalam Injil Markus. Di sini catatan dalam Injil ini mencapai puncaknya.

Dalam pasal 8 Hamba Penyelamat menyembuhkan orang buta di Betsaida. Tuhan melakukan lebih banyak dalam peristiwa penyembuhan ini, daripada peristiwa yang lain. Sebagai contoh, peristiwa pertama dari penyembuhan dalam Injil Markus adalah penyembuhan ibu mertua Petrus. Pe-nyembuhan ini dengan mudah dilaksanakan. Tuhan hanya datang kepadanya dan membangunkan dia, memegang ta-ngannya. Kemudian demam itu meninggalkan dia, dan dia melayani mereka (1:31). Dari penyembuhan pertama itu, kitab ini maju langkah demi langkah sampai dalam pasal 7, kita temukan penyingkapan hati manusia, penyingkapan kondisi batin manusia.

Setelah penyingkapan kondisi batin manusia, Tuhan Yesus mewahyukan bahwa Dia adalah roti, suplai hayat kita. Dia bukan hanya Allah yang mengampuni, tetapi juga Tabib kita, Mempelai Laki-laki, Daud hari ini, dan Pembe-bas kita. Dia juga Orang yang merawat dan roti.

Setelah Tuhan mewahyukan diri-Nya sebagai roti un-tuk merawat kita secara batini, kita memiliki catatan pe-nyembuhan yang dilaksanakan secara khusus. Kita memi-liki penyembuhan telinga dan lidah dari orang tuli dan bisu dan juga penyembuhan mata orang buta. Setelah pe-nyembuhan yang khusus ini, kita dapat mengatakan bahwa kita memiliki persona yang lengkap yang anggota-anggota tubuhnya telah disembuhkan secara khusus. Se-karang orang ini dipersiapkan dan bersyarat untuk mene-rima wahyu tentang persona Kristus, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya.

Bagi tujuan pewahyuan persona-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus membawa murid-murid-Nya jauh dari wilayah agamawi ke Kaisarea Filipi. Se-lagi di jalan, Dia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” (8:27). Setelah mereka menjawab, Tuhan kemudian menanyai mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 29). Pada titik ini Petrus nampak visi bahwa Yesus adalah Kristus, dan dia mengumumkan, “Engkau adalah Kristus!”

Wahyu yang diberikan di Kaisarea Filipi adalah tingkat yang tertinggi, puncak, dalam Injil Markus. Sebelum mu-rid-murid dibawa oleh Tuhan ke Kaisarea Filipi, mata me-reka telah disembuhkan. Karena itu, mereka memiliki peng-lihatan untuk nampak bukan hal yang umum atau benda-benda materi, melainkan untuk nampak hal-hal yang ilahi dan misterius (rahasia). Secara khusus, mata mereka di-buka untuk nampak Kristus, kematian-Nya yang almuhit, dan kebangkitan-Nya yang ajaib. Di dalam ruang lingkup ilahi yang misterius, hal yang paling penting adalah wahyu mengenai Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya.

MISTERIUS BAGI MANUSIA ALAMIAH

Ruang lingkup yang misterius, hal-hal ilahi, sepenuh-nya tersembunyi bagi manusia alamiah. Ketika Paulus mem-beri tahu kita dalam 1 Korintus 2, manusia alamiah tidak dapat memahami hal-hal di dalam ruang lingkup ini: “Teta-pi manusia duniawi (jiwani) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (ayat 14). Manusia jiwani adalah manusia alamiah, orang yang hidup di dalam jiwa-nya, bukan di dalam rohnya. Orang yang sedemikian ini tidak menerima hal-hal dari Roh Allah, malah dia menolak hal-hal itu.

Tuhan Yesus adalah suatu misteri bagi manusia alamiah dan bagi pikiran alamiah. Bahkan hari ini, be-berapa pakar Yahudi sedang mempelajari siapakah Yesus. Mereka juga sedang mempelajari penyaliban-Nya. Ka-rena persona Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya adalah perkara-perkara yang paling tinggi di dalam ruang lingkup ilahi yang misterius, maka bahkan beberapa profe-sor teologi Kristen dan juga pakar Yahudi, tidak nampak visi mengenai hal-hal ini.

PERAWATAN DAN PENYEMBUHAN

Kita tidak seharusnya menganggap Injil Markus ha-nya sebagai buku cerita. Injil ini adalah suatu catatan yang menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan Yesus sebagai Hamba-Penyelamat melayani orang dosa. Pela-yanan ini dimulai dalam pasal 1 dan berlanjut sampai pasal 7, di mana Tuhan menyingkapkan kondisi hati manusia. Kita dapat mengatakan bahwa dalam Markus 7 Hamba-Penyelamat bersikap sebagai dokter bedah, ka-rena Dia membuka hati kita dan menyingkapkan kon-disinya.

Dalam pasal 7 kita nampak Tuhan tidak hanya sebagai dokter bedah ilahi, tetapi juga sebagai seorang yang mera-wat kita dengan diri-Nya sendiri sebagai roti. Ini menun-jukkan bahwa keperluan mendasar kita adalah roti, suplai hayat. Hamba-Penyelamat bukan hanya menyembuhkan kita, memulihkan kita, dan membawa kita kembali kepada persekutuan dengan Allah; Dia juga merawat kita, Dia merawat kita dengan diri-Nya sendiri sebagai roti. Dia sendiri adalah suplai hayat kita.

Pertama kita mengalami Tuhan merawat kita dengan diri-Nya sendiri sebagai roti. Hasil dari perawatan-Nya ialah dengan spontan kita mengalami penyembuhan-Nya yang khusus; Dia menyembuhkan telinga kita yang tuli, lidah kita yang bisu, dan mata kita yang buta.

KRISTUS, KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA

Kita perlu menyusun berbagai bagian dari Injil Markus sama seperti “gambar susun”. Ketika potongan-potongan disusun, kita nampak suatu gambar. Dalam Injil Markus kita nampak suatu gambar dari orang-orang yang dipilih Allah. Orang-orang yang dipilih ini disembuhkan bukan hanya secara umum, seperti ibu mertua Petrus, orang kus-ta, dan orang lumpuh, tetapi juga secara khusus, atas organ pendengaran, pembicaraan, atau penglihatan. Penyembuhan yang khusus ini melibatkan pengurapan Tuhan, sebagai-mana dilambangkan oleh ludah-Nya. Begitu orang yang terpilih ini dirawat dengan menerima suplai hayat Tuhan sebagai roti mereka anggota-anggota tubuh me-reka disembuhkan. Hasilnya, mereka dapat mendengar, ber-bicara, dan melihat. Bagian-bagian tubuh mereka berfungsi dengan tepat. Karena itu, pada butir ini Hamba-Penyelamat membawa mereka ke Kaisarea Filipi, ke suatu tempat di mana atmosfer rohaninya jernih.

Kita telah menunjukkan bahwa di Kaisarea Filipi Tuhan Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya mengenai diri-Nya. Ketika Dia berbicara dengan mereka, Dia membukakan kepada mereka ruang lingkup ilahi yang misterius. Sekurangnya salah satu murid-Nya mulai nampak bahwa Dia adalah Kristus; hanya saja, persona Kristus yang ia tampak masih terbatas, ia tidak nampak mengenai kematian dan kebangkitan Kristus. Karena alasan ini, Tuhan selanjut-nya memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan disa-libkan dan bahwa setelah kematian-Nya, Dia akan bangkit. Ketika berbicara mengenai kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan lebih jauh membukakan ruang lingkup ilahi yang misterius. Dia menunjukkan kepada murid-murid-Nya bu-kan hanya persona-Nya, tetapi juga mewahyukan kepada mereka kematian-Nya yang ajaib dan kebangkitan-Nya yang unggul.

PENGGANTIAN YANG ALMUHIT

Sekarang kita sampai pada hal yang penting. Kita per-lu nampak bahwa dalam pandangan Allah, segala sesuatu di alam semesta, kecuali diri-Nya sendiri, perlu diganti. Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya adalah satu-satunya pengganti di alam semesta. Dia adalah pengganti yang almuhit dan menyeluruh. Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya menggantikan setiap orang dan segala sesuatu yang bukan Allah sendiri. Dia menggantikan Musa, Dia menggantikan Elia, dan Dia menggantikan kita. Dia menggantikan diri kita, Dia menggantikan jiwa kita, dan Dia menggantikan pikiran kita. Orang ini menggantikan setiap orang, segala sesuatu, dan setiap hal di alam semes-ta. Inilah alasan kita mengatakan bahwa Dia adalah peng-ganti yang menyeluruh dan almuhit.

Ketika Tuhan mewahyukan kematian dan kebangkitan-Nya kepada murid-murid-Nya, mereka mungkin dibingung-kan. Petrus, khususnya, tidak mengerti, dan dia bertindak terlalu jauh dengan menegur Tuhan (ayat 32). Kemudian Tuhan menegur Petrus, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ayat 33). Tuhan melanjutkan perkataan-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (ayat 34). Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan menyangkal diri? Menyangkal diri adalah digantikan oleh Kristus.

Di sini Tuhan seolah-olah berkata, terutama kepada Petrus, “Karena kamu sudah nampak Kristus, kamu perlu digantikan oleh Dia. Kamu perlu dikesampingkan dan meng-izinkan Kristus menjadi dirimu. Kamu perlu menyangkal diri dan digantikan oleh Kristus.”

DIGANTIKAN OLEH KRISTUS MELALUI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN

Bagaimana kita bisa digantikan oleh Kristus? Kita bisa digantikan oleh Dia hanya melalui kematian dan kebang-kitan-Nya. Tanpa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus tidak bisa menggantikan kita. Juga, tidak mungkin kita digantikan oleh Dia. Penggantian ini dapat dilaksana-kan hanya melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

Kita perlu menyadari bahwa kita perlu menyangkal diri kita. Sikap kita seharusnya bersedia untuk diganti. Kita juga perlu nampak bahwa pengganti ini telah dipersiapkan bagi kita, dan pengganti ini adalah Kristus. Dalam perka-taan Paulus dalam Galatia 2:20, seharusnya bukan lagi kita yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita.

Ketika kita hidup, kita hidup menurut hati kita yang rusak. Kita hidup menurut diri sendiri, dan di dalam kita, kita memiliki hati yang jahat. Jika kita ingin terlepas dari apa adanya kita, terlepas dari hati kita yang jahat, kita perlu menyangkal diri kita. Menyangkal diri kita sesungguhnya berarti digantikan oleh Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Kematian Kristus di atas salib mencakup kita. Ini berarti ketika Dia mati, kita mati bersama Dia. Sekarang kita perlu menyadari fakta ini dan menerapkannya pada kehidupan kita. Nampak bahwa kita telah disalibkan de-ngan Kristus dan menerapkan fakta ini pada kehidupan kita adalah memikul salib. Karena itu, memikul salib berarti mengakui bahwa kita telah diakhiri oleh kematian Kristus dan menerapkan pengakhiran ini pada diri kita. Ketika kita demikian menerapkan hal ini, hayat kebangkitan masuk.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, Kristus yang disa-libkan dan telah bangkit adalah Roh pemberi-hayat. Realitas kebangkitan Kristus sesungguhnya adalah Roh pemberi-ha-yat. Ketika kita menerapkan salib Kristus, Roh pemberi-ha-yat sebagai realitas kebangkitan Kristus, datang menjadi pengganti kita yang riil. Kemudian kita dapat mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Bukan lagi aku sen-diri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

YANG ALLAH INGINKAN

Sudahkah Anda nampak yang diwahyukan dalam 8:27— 9:13? Di sini kita nampak suatu wahyu mengenai persona Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya. Oh, kita se-mua perlu nampak hal ini! Saya mencemaskan bahwa ada orang dari antara kita belum nampak perkara yang penting tentang persona Kristus yang almuhit, kematian-Nya yang ajaib, dan kebangkitan-Nya yang unggul. Jika kita nampak hal-hal ini, kita akan berkata, “Amin! Amin terhadap Kristus! Amin terhadap kematian Kristus! Amin terhadap kebang-kitan Kristus! Amin terhadap pengakhiranku! Karena aku telah diakhiri, bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalamku. Kristus adalah pengganti yang me-nyeluruh di alam semesta ini. Allah tidak ingin Musa, Allah tidak ingin Elia, dan Allah tidak ingin aku dalam apa ada-nya aku. Aku mengaminkan fakta bahwa Allah hanya meng-inginkan Kristus.”

Allah tidak ingin apa adanya kita di dalam diri kita sendiri. Dia tidak menginginkan daging kita, juga tidak menginginkan hati kita dalam kebobrokannya. Allah hanya ingin Kristus, karena Kristus adalah pengganti yang almuhit, yang unik.

Dalam 9:7 Allah mengumumkan, “Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, ‘Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.’” Kita perlu mendengarkan Dia, bukan diri kita sendiri. Kita seharusnya tidak mendengarkan pikiran, emosi, atau tekad kita. Kita tidak seharusnya mendengarkan apa yang kita pikirkan, bayangkan, atau kasihi. Kita seharusnya mendengarkan Kristus. Kristus adalah yang dikasihi Allah, kesukaan Allah. Dia juga adalah persona yang menggantikan setiap orang, perkara, dan benda. Karena itu, Dia seharusnya memiliki kedudukan yang mutlak dalam kehidupan kita. Setiap hal dalam kehidupan kita seharusnya diberikan ke pada-Nya.

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS MELALUI

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA

Sebagai Orang yang menggantikan kita, Kristus telah disalibkan. Di kayu salib Dia menempuh kematian yang almuhit, kematian yang mencakup kita dan mengakhiri kita.

Setelah menempuh kematian yang demikian, Kristus di-bangkitkan. Sekarang dalam kebangkitan Dia adalah Roh pemberi-hayat sebagai realitas hayat kita. Ketika kita mene-rapkan kematian-Nya sebagai pengakhiran kita, Roh itu memiliki tumpuan yang penuh untuk menjadikan Kristus riil bagi kita. Kemudian kita menikmati penggantian yang riil. Hasilnya, kita dapat mengumumkan bahwa kita telah disalibkan dengan Kristus dan bukan lagi kita sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Kita bahkan dapat berkata bersama Paulus, “Bagiku hidup ada-lah Kristus” (Flp. 1:21). Dalam segala sesuatu, baik hidup maupun mati, kita memperhidupkan Kristus dan memper-besar Dia (Flp. 1:20).

Untuk menafsirkan ayat-ayat dari Markus 8-9, kita memerlukan keempat belas Surat Kiriman yang ditulis oleh Paulus. Dengan bantuan Surat-surat Kiriman ini, kita da-pat melihat gambaran delapan setengah pasal pertama dari Injil Markus. Semoga kita terkesan dalam-dalam dengan gambaran ini sehingga kita tidak akan pernah melupakan-nya! Puji Tuhan bahwa gambaran ini mencakup kita! Kita berada dalam Kristus yang hidup dalam ruang lingkup ilahi melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Betapa ajaib! Puji Tuhan bagi butir yang paling penting dalam Injil Markus ini, di sini kita mendapatkan wahyu Kristus serta kema-tian dan kebangkitan-Nya!