← Daftar isi Markus (1) · bab 1/22

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (8)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 8:27—9:13

Dalam berita ini kita membahas 8:27—9:13. Bagian dari Injil Markus ini dapat dianggap sebagai puncak kontak Tuhan dengan murid-murid-Nya.

DIBAWA KE KAISAREA FILIPI

Bagi murid-murid, untuk dibawa ke butir yang dijabarkan dalam 8:27—9:13, mereka perlu mengalami beberapa tahap. Kita bisa mengambil Petrus sebagai contoh. Dalam Markus 1, Petrus dipanggil oleh Tuhan dan mulai mengikuti Dia. Dari pasal 1—8, Petrus dan pengikut setia yang lain mengalami berbagai tahap. Mereka maju langkah demi langkah, makin lama makin tinggi, sampai mereka dibawa ke suatu tempat yang disebut Kaisarea Filipi.

Markus 8:27 mengatakan, “Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, ‘Kata orang, siapakah Aku ini?’” Kaisarea Filipi berada di bagian utara dari Tanah Kudus, dekat dengan perbatasan, di kaki Gunung Hermon, tempat Tuhan berubah rupa. Kaisa-rea Filipi jauh dari kota kudus dan bait kudus, tempat de-ngan atmosfer agama Yahudi yang usang memenuhi setiap pikiran manusia, tidak memberikan tempat bagi Kristus, Hamba Penyelamat. Tuhan sengaja membawa murid-murid-Nya ke tempat yang beratmosfer jernih, agar pikiran mere-ka dapat dibebaskan dari pengaruh lingkungan agamawi di dalam kota kudus dan bait kudus, dan agar Dia dapat me-wahyukan kepada mereka sesuatu yang baru tentang diri-Nya. Di sinilah visi tentang diri-Nya sebagai Kristus dibe-rikan kepada Petrus.

Saya ingin menekankan fakta bahwa Tuhan Yesus membawa murid-murid-Nya ke Kaisarea Filipi sehingga mereka berada di dalam atmosfer yang jernih, suatu atmosfer tanpa awan atau kabut. Dia tahu bahwa di dalam atmosfer yang sedemikian ini pengertian dan pandangan rohani mereka akan jelas.

Tuhan membawa para pengikut-Nya dari Sungai Yordan dan Laut Galilea ke Kaisarea Filipi. Tuhan memerlukan sedikitnya dua tahun untuk membawa para pengikut-Nya melalui semua tahap yang memungkinkan mereka menca-pai tahap ini. Tahap-tahap ini dicatat dalam pasal-pasal sebelumnya dari Injil Markus. Terutama tiga murid Tuhan Petrus, Yohanes, dan Yakobus sepenuhnya bersyarat untuk melihat sesuatu yang orang lain tidak melihatnya. Mereka bisa melihat Seorang yang ajaib, Seorang yang ada-lah rahasia alam semesta dan rahasia umat manusia. Orang ini juga adalah rahasia ekonomi kekal Allah. Meskipun Dia adalah seorang manusia, bahkan seorang manusia dalam rupa seorang hamba, namun Dia adalah Orang yang unggul, ajaib, dan misterius.

Untuk melihat visi mengenai Orang ini, murid-murid harus melalui tahap-tahap yang dicatat dalam pasal-pasal sebelumnya. Mereka harus disembuhkan secara umum dan kemudian secara khusus. Setiap fungsi dari keseluruhan diriny pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan perlu disembuhkan. Hasil dari mengalami kesembuhan yang umum dan spesifik, mereka bersyarat dan mampu menerima visi mengenai siapakah Tuhan.

WAHYU MENGENAI KRISTUS

Dalam ayat 27 Tuhan bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah aku ini?” Sebagai seorang manusia, Kristus adalah rahasia tidak hanya bagi orang-orang pada zaman itu, tetapi juga bagi orang-orang zaman kini. Murid-murid menjawab pertanyaan Tuhan, “Ada yang me-ngatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.” Ini menunjukkan bahwa tanpa wahyu, orang hanya dapat me-ngenal bahwa Yesus adalah nabi yang paling besar. Tanpa wahyu surgawi, tidak ada seorang pun dapat mengenal bahwa Dia sesungguhnya adalah Kristus.

Ayat 29 mengatakan, “Ia bertanya kepada mereka, ‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?’ Jawab Petrus, ‘Engkaulah Mesias! (Kristus itu)’” Di sini kita nampak bahwa Petrus mengambil pimpinan untuk mengumumkan bahwa Yesus adalah Kristus. Petrus tidak membicarakan Tuhan hanya secara umum sebagai Kristus, Yang diurapi. Melainkan dia mengatakan, “Engkau adalah Kristus itu.” Istilah ini bagi kita mungkin tidaklah khusus seperti pada zaman pa-ra murid. Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Kristus, Yang diurapi, Mesias itu.

Ketika Petrus membuat pernyataan bahwa Yesus ada-lah Kristus, dia mungkin tidak jelas mengenai hal ini. Meskipun demikian, dia nampak bahwa Orang ini bukan orang biasa, Dia bukan orang kebanyakan. Petrus menyadari sesuatu yang sangat khusus mengenai Tuhan, yaitu bahwa Dia adalah Kristus, Sang terurap Allah, Mesias. Sebagaimana telah kita tunjukkan, untuk nampak visi ini, Petrus dan murid-murid yang lain harus mengalami semua tahap dalam pasal-pasal sebelumnya guna dibawa ke dalam tahap nampak visi mengenai persona Kristus.

WAHYU MENGENAI PENYALIBAN

DAN KEBANGKITAN KRISTUS

Setelah Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Kristus, “Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (ayat 30). “Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (ayat 31). Di sini kita nampak bahwa setelah wahyu rahasia mengenai Kristus, kita memiliki wahyu tentang penyaliban dan kebangkitan Kristus. Untuk menggenapkan tujuan Allah, Kristus harus pergi ke pusat agama, melalui penyaliban, dan masuk ke dalam kebangkitan.

Dalam ayat 31 Tuhan membukakan beberapa rahasia ekonomi Allah mengenai diri-Nya adalah Kristus, Sang terurap Allah. Dalam ayat ini Tuhan menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia. Setelah Petrus nampak visi mengenai Yesus orang Nazaret sebagai Kristus, Tuhan melanjutkan mewahyukan fakta bahwa Dia, Sang terurap Allah, adalah Anak Manusia. Nampak Mesias adalah Anak Manusia merupakan satu hal yang besar.

Dalam ayat 31 Tuhan lebih lanjut mewahyukan bahwa Mesias, yang adalah Anak Manusia, harus menderita dan ditolak. Bukannya dihormati, dihargai, dan ditinggikan, Dia malah dihina, diremehkan, dan ditolak. Tuhan berkata bahwa Dia akan menderita banyak hal, ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli Taurat, dan bahkan dibunuh.

PETRUS MENEGUR TUHAN

DAN TUHAN MENEGUR PETRUS

Pernyataan tentang penolakan atas Kristus, penderitaan Kristus, dan kematian pastilah suatu kejutan besar bagi Petrus. Dia mungkin terkejut dengan pernyataan yang sedemikian. Petrus tidak pernah membayangkan bahwa Mesias akan dianiaya dan bahkan dibunuh. Sejak masa mudanya di antara orang Yahudi, Petrus telah mendengar banyak hal mengenai Mesias. Dia tentunya mengharapkan Mesias yang akan datang akan dihormati dan ditinggikan, dihargai sa-ngat tinggi. Sebelumnya ia tidak pernah mendengar bahwa Mesias akan menderita dan bahkan dibunuh.

Pada akhir ayat 31, Tuhan Yesus dengan jelas menunjukkan bahwa Dia, Kristus, akan bangkit setelah tiga hari. Kemudian, dengan singkat Dia berbicara mengenai kebangkitan-Nya. Tetapi, patut diragukan apakah perkataan mengenai kebangkitan Tuhan dari antara orang mati ini mengesankan Petrus. Dia sama sekali tidak mengerti apa artinya Tuhan bangkit setelah tiga hari. Petrus juga tidak mendengar perkataan ini atau tidak memiliki pemahaman akan hal ini.

Kita diberi tahu dalam 8:32 bahwa Tuhan mengatakan dengan terus terang. Ayat ini juga mengatakan, “Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras.” Petrus ternyata mulai menegur Yesus! Menegur seseorang menyiratkan bahwa orang yang ditegur itu salah dan perlu dikoreksi. Jika seseorang tidak salah, tidak perlu menegur dia dan kemudian mengoreksi dia. Fakta bahwa Petrus menegur Tuhan menunjukkan bahwa Petrus berpikir Tuhan salah dalam mengatakan bahwa Mesias akan diremehkan, menderita penganiayaan, dan dibunuh. Di sini Petrus seolah-olah mengatakan, “Tuhan, apa yang Kau bicarakan? Engkau adalah Mesias. Tentunya Engkau salah da-lam mengatakan bahwa Mesias akan diremehkan, ditolak, dan dibunuh. Aku harus mengoreksi Engkau mengenai hal ini.”

Menurut ayat 32, Petrus bahkan menarik Yesus ke samping untuk menegur Dia. Kelihatannya Petrus berusaha keras untuk melatih Tuhan, mengajar Dia, membuka mata-Nya supaya melihat apa yang Petrus lihat. Hanya Injil Markus, bukan Injil Matius bukan pula Injil Lukas, yang memberi kita rincian mengenai Petrus menarik Tuhan ke samping. Markus menerima tuturan mengenai hal ini dari Petrus sendiri. Jadi, Petrus pasti memberi tahu Markus bahwa Dia menarik Tuhan ke samping dan mulai menegur Dia.

Apakah Tuhan menuruti Petrus ketika dia menarik Tuhan ke samping untuk menegur-Nya? Kelihatannya Dia menurutinya. Tetapi setelah Petrus mulai menegur Dia, Dia menegur Petrus. Petrus ingin mengoreksi Tuhan, tetapi sebaliknya Tuhanlah yang mengoreksi dia.

Dalam ayat 33 kita melihat cara Tuhan menegur Petrus: “Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, ‘Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.’” Dalam ke-empat Injil, ini mungkin ungkapan negatif yang paling ke-ras yang diucapkan Tuhan Yesus. Tuhan tahu bahwa bukan Petrus, tetapi Iblis yang berusaha menghalangi Dia memikul salib. Ini mewahyukan bahwa manusia alamiah kita, yang tidak bersedia memikul salib, bersatu dengan Iblis. Ketika kita meletakkan pikiran kita bukan pada hal-hal Allah, tetapi pada hal-hal manusia, kita menjadi Iblis, batu sandungan bagi Tuhan dalam penggenapan tujuan Allah.

MEMIKIRKAN HAL-HAL MANUSIA

Dalam ayat 33 Tuhan secara khusus berkata bahwa Petrus tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi apa yang dipikirkan manusia. Ini adalah masalah angan-angan jahat yang disebutkan dalam 7:21. Hati manusia yang jahat dipenuhi dengan angan-angan yang jahat. Di sini Tuhan Yesus seolah-olah memberi tahu Petrus, “Petrus, ada angan-angan jahat dalam hatimu. Khususnya, kamu me-miliki angan-angan yang jahat dalam hatimu terhadap perkataan-Ku tentang Aku akan dibunuh. Pertama-tama kamu beralasan, kemudian kamu menegur Aku. Alasan ini menunjukkan bahwa kamu memikirkan hal-hal manusia yang jatuh, bukan memikirkan hal-hal Allah.”

Perkataan Tuhan di sini mengingatkan kita pada perkataan Paulus mengenai pikiran dalam Roma 8:6, “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Tidak diragukan lagi, pada saat itu Petrus memikirkan hal-hal daging. Ketika dia beralasan mengenai penderitaan dan kematian Kristus, dia memikir-kan hal-hal daging.

MENGIKUTI TUHAN

Ayat 34 mengatakan, “Lalu Yesus memanggil orang ba-nyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, ‘Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.’” Mengikut Tuhan adalah mendapatkan Dia, mengalami Dia, menik-mati Dia, dan mengambil bagian atas Dia. Jika kita ingin secara demikian mendapatkan Dia, mengalami Dia, menik-mati Dia, dan mengambil bagian atas Dia, kita harus me-nyangkal diri kita sendiri. Jika kita tidak menyangkal diri kita, Tuhan akan “hilang”. Jika kita mau mendapatkan Tuhan, diri kita harus disingkirkan, kita harus menyang-kal diri sendiri.

Dalam berita sebelumnya mengenai Tuhan menyingkap-kan keadaan hati kita, saya menunjukkan bahwa pada ak-hir pasal 7 kita tidak memiliki pemecahan masalah keadaan batin manusia. Di sini, dalam pasal 8 kita memiliki peme-cahan masalah. Pemecahan masalahnya adalah bahwa seba-gai manusia yang jatuh dengan hati yang jahat, kita harus memiliki Kristus. Kita harus mengikuti Dia, mengambil bagian atas Dia, menikmati Dia, dan mengalami Dia. Kemudian Dia sendiri akan menjadi “obat” untuk menyembuhkan hati kita yang jahat. Karena itu, pemecahan masalah untuk keadaan hati kita yang jahat adalah Kristus itu sendiri.

Dalam Markus 8 kita memiliki wahyu bukan hanya mengenai persona ajaib Kristus, tetapi juga mengenai kematian-Nya yang menakjubkan. Dalam kematian-Nya kita disalibkan, diakhiri, dihabisi. Karena itu, ketika kita datang untuk mengambil bagian atas Dia, kita perlu menyangkal diri kita sendiri, yaitu, kita perlu mengesampingkan diri kita dan melupakan diri kita sendiri.

PERLU SURAT KIRIMAN PAULUS

Sesungguhnya, perkataan Tuhan di sini mengenai ke-matian-Nya memerlukan seluruh Surat Kiriman yang ditulis oleh Rasul Paulus untuk penjelasannya. Jika kita tidak memiliki pemahaman yang memadai mengenai Surat Ki-riman Paulus, kita tidak akan mampu memahami secara menyeluruh perkataan Tuhan dalam 8:34-37. Menurut wahyu mengenai kematian Kristus dalam Surat Kiriman Paulus, Kristus melalui proses kematian bagi Allah dan bagi kita. Kematian-Nya yang almuhit menanggulangi dosa-dosa kita, sifat dosa kita, diri, daging kita, ciptaan lama, Iblis, dunia, dan semua peraturan. Melalui kematian Kristus yang almuhit, kita diakhiri. Sekarang jika kita ingin menikmati Kristus dan mengambil bagian atas Dia, kita perlu menya-dari bahwa kita semua telah diakhiri. Berdasarkan fakta bahwa kita telah disalibkan dengan Kristus (Gal. 2:20), kita seharusnya menyangkal diri kita sendiri, memikul salib kita, dan mengikuti Tuhan.