← Daftar isi Yudas · bab 5/5

STRUKTUR DASAR SURAT PETRUS DAN YUDAS (2)

Pembacaan Alkitab:

1 Ptr. 1:2-4, 11, 18-19, 22-23; 2:2, 5; 5:10; 2 Ptr. 3:15-16, 18; Yud. 20-21

Dalam berita ini saya ingin membahas lebih lanjut struktur dasar Surat Petrus dan Yudas.

PEKERJAAN ALLAH TRITUNGGAL

Dalam 1 Petrus 1:2-3 kita bisa nampak pekerjaan yang dilakukan Allah Tritunggal, “Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya anugerah dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu. Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada pengharapan yang hidup” (Tl.). Dalam ayat-ayat ini kita nampak pengenalan dini Allah Bapa, pengudusan Roh itu, dan ketaatan serta pemercikan oleh darah Yesus Kristus. Di sini kita nampak Allah Tritunggal — Bapa, Roh itu, dan Yesus Kristus (Putra). Dalam ayat 3, Petrus juga mengatakan bahwa Bapa telah melahirkan kita kembali ke dalam pengharapan yang hidup melalui kebang-kitan Kristus. Di sini sekali lagi kita nampak pekerjaan yang dilakukan Bapa. Bapa tidak hanya telah memilih kita dalam kekekalan, Dia pun telah melahirkan kita kembali dalam waktu. Dalam ayat 2 Petrus berkata bahwa Roh itu menguduskan kita, menerapkan kepada kita apa yang telah ditetapkan Bapa atas diri kita pada kekekalan yang lampau. Kemudian dalam ayat 11 Petrus membicarakan perihal kesaksian Roh Kristus dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama. Dalam ayat 18-19 Petrus berkata, “Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Karena kita telah ditebus dengan darah adi Kristus, kita perlu membersihkan jiwa kita melalui taat kepada kebenaran, hingga mencapai kasih persaudaraan yang tulus ikhlas (ayat 22). Pemurnian jiwa ini berdasar pada kelahiran kembali yang dikerjakan oleh Bapa. Kita telah dilahirkan kembali oleh Bapa dari benih yang tidak fana, yaitu firman Allah yang hidup dan yang berhuni (ayat 23).

Kalau kita memperhatikan 1 Petrus 1 secara keseluruhan, kita akan melihat bahwa pasal ini mengungkapkan operasi Allah Tritunggal. Dalam pasal ini ada kelahiran kembali oleh Bapa, pengudusan oleh Roh itu, darah Kristus, benih yang tidak fana, pengharapan yang hidup, dan juga warisan yang disimpan bagi kita di dalam surga (ayat 4). Dalam pasal ini tidak hanya ada struktur dasar dari Surat 1 Petrus, juga ada struktur dasar hidup kristiani kita. Hidup kristiani terbangun dari semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan Allah Tritunggal.

DUA POHON

Struktur dasar hidup kristiani yang diwahyukan dalam 1Petrus 1 jauh berbeda dengan konsepsi alamiah kita. Dalam pikiran alamiah kita tidak ada pikiran seperti yang disajikan dalam 1Petrus 1. Pikiran alamiah kita selalu ingin berbuat baik, mengasihi orang lain, menyembah Allah, dan bekerja bagi Allah. Konsep yang demikian bersifat agamawi dan tradisional.

Orang yang jauh dari Allah mungkin tidak mempedulikan Allah sama sekali. Tetapi begitu orang yang demikian itu bertobat dan mulai mencari Allah, ia segera ingin berbuat baik untuk memuliakan Allah. Ia juga ingin lebih memperhatikan orang lain. Bahkan ia mungkin memutuskan untuk memberikan sepersepuluh dari penghasilannya kepada Tuhan. Semua perkara itu baik, namun sangat agamawi, tradisional, dan alamiah.

Mungkin Anda telah mendengar banyak berita yang mengatakan bahwa Allah Tritunggal telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat dan menjadi segala sesuatu Anda. Tetapi dalam hidup Anda setiap hari Anda mungkin tidak mempedulikan Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu. Malahan sebaliknya, Anda mungkin mencoba menjadi suami atau istri yang baik, atau menjadi orang tua yang baik. Dalam usaha memperbaiki diri, mungkin Anda tidak sadar bahwa Anda tidak memperhidupkan Allah Tritunggal, Anda tidak bersatu dengan Roh pemberi-hayat. Anda bukan mem-praktekkan firman yang mengatakan menjadi satu roh dengan Tuhan dalam hidup Anda setiap hari, melainkan ingin menjadi pemenang atau memperbaiki diri sendiri.

Sebab musabab kegagalan kita dalam mempraktekkan apa yang telah kita dengar itu berhubungan dengan pohon pengetahuan baik dan jahat. Dalam diri kita yang telah jatuh, ada kecenderungan terhadap pohon itu. Pikiran untuk berbuat baik adalah milik pohon pengetahuan baik dan jahat. Sebelum Anda bertobat dan percaya kepada Tuhan, mungkin Anda telah memiliki pengetahuan tentang yang jahat. Tetapi sekarang, setelah Anda menjadi seorang yang beriman, mung-kin Anda berpaling kepada pengetahuan tentang yang baik. Namun, entah pengetahuan itu baik atau jahat, keduanya berasal dari pohon yang sama.

Sepanjang tahun-tahun pelayanan saya, saya menyadari bahwa meskipun kaum beriman telah mendengarkan banyak berita tentang Allah Tritunggal sebagai hayat, dalam hidup sehari-hari, mereka masih tetap memperhatikan pohon pengetahuan baik dan jahat. Tetapi bila kita kembali kepada Allah Tritunggal sebagai Roh pemberi-hayat, kita segera makan dan hidup dari pohon hayat.

DUA SUMBER

Dalam alam semesta ini hanya ada dua sumber — Allah dan Iblis. Setelah Allah menciptakan manusia, Dia menem-patkannya di depan kedua pohon itu, yang melambangkan dua sumber. Allah dilambangkan dengan pohon hayat, sedang Iblis dilambangkan dengan pohon pengetahuan baik dan jahat. Allah adalah sumber hayat; jika kita berhubungan dengan-Nya, kita berhubungan dengan hayat. Iblis adalah sumber maut; jika kita berhubungan dengannya, berarti kita berhu-bungan dengan maut. Karena itu, Allah dengan tegas melarang Adam makan pohon pengetahuan baik dan jahat, karena akibatnya adalah maut. Allah menghendaki manusia berhubungan dengan-Nya agar menerima hayat. Jika kita berhubungan dengan pohon pengetahuan baik dan jahat, bukan dengan pohon hayat, berarti kita berhubungan dengan maut. Allah menghendaki manusia berhubungan dengan-Nya untuk menerima hayat. Tetapi pada saat manusia jatuh, Adam berpaling kepada Iblis, sumber lainnya.

Iblis itu tidak jujur, tidak berterus terang. Dia menge-nakan selubung dan pura-pura menjadi oknum lain yang bukan dirinya sendiri. Misalnya, kali pertama ia datang kepada Adam, ia muncul dalam bentuk seekor ular. Iblis bersembunyi di belakang pohon pengetahuan baik dan jahat. Akibat dari pengetahuan, entah yang baik atau yang jahat, adalah maut.

Hari ini orang-orang yang tidak percaya berada di bawah maut, karena mereka setiap hari berhubungan dengan aspek yang baik dari pohon pengetahuan baik dan jahat; sering kali banyak orang beriman juga demikian. Dalam agama, orang-orang diajar untuk mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat, berbuat kebaikan, menjauhi kejahatan. Pengajaran yang demikian ini telah umum di kalangan orang Kristen hari ini. Namun, pengajaran ini bersifat alamiah dan agamawi, yaitu menurut alamiah kita yang telah jatuh.

Dalam Alkitab ada dua sumber, dua garis, dan dua akibat. Pertama, kita memiliki pohon hayat, garis hayat, dan Yerusalem Baru. Pohon hayat akan ada di dalam Yerusalem Baru. Tanpa pohon hayat, Yerusalem Baru tidak akan memiliki kenikmatan apa pun. Satu-satunya kenikmatan di dalam Yerusalem Baru adalah pohon hayat.

Kemudian, dalam Alkitab ada sumber kedua dan garis kedua: pohon pengetahuan baik dan jahat serta garis maut. Hasil sumber ini adalah lautan api.

Kita perlu memiliki mata yang tercelik untuk nampak pohon hayat dalam Alkitab. Banyak orang Kristen membaca Alkitab, namun mereka tidak nampak pohon hayat ini. Pohon ini penuh misteri, jika mata kita tidak tercelik, kita tidak akan mampu melihatnya.

Butir penting dari pembahasan kita tentang pohon hayat dan pohon pengetahuan baik dan jahat adalah: struktur kehidupan kristiani kita seperti yang diwahyukan dalam 1Petrus 1 sangat berbeda dengan konsepsi alamiah kita yang menurut pengetahuan baik dan jahat. Saya sangat senang melihat bahwa menurut 1Petrus 1, struktur dasar Surat Kiriman ini dan seluruh kehidupan kristiani adalah Allah Tritunggal.

KENIKMATAN DAN PERTAMBAHAN HAYAT KEKAL

Dalam ayat 20-21 Yudas mengatakan, “Akan tetapi kamu, Saudara-saudaraku yang terkasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” Dalam ayat-ayat ini kita memiliki Allah Tritunggal untuk kita alami sampai kepada hayat yang kekal. Mula-mula, Yudas meminta kita untuk berdoa di dalam Roh Kudus. Kemudian ia menyuruh kita memelihara diri dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat dari Tuhan kita, Yesus Kristus. Inilah “untuk hayat yang kekal”, yaitu sampai kepada kenikmatan dan bertambahnya hayat kekal.

Ketika saya masih muda, saya tidak mengerti mengapa Yudas memakai kata-kata “untuk hayat yang kekal”. Seseorang mungkin akan berkata bahwa ini berarti pergi ke surga dan menikmati berkat abadi. Namun, penafsiran itu tidak memuaskan kita. Kelihatannya kata-kata ini menunjukkan bahwa kita belum memiliki hayat yang kekal, dan hayat yang kekal ini adalah sesuatu yang akan kita miliki di masa men-datang. Tetapi sesungguhnya bukan demikian artinya. Yohanes 3:16 memberi tahu kita, setiap orang yang percaya kepada Anak Allah memiliki hayat yang kekal. Ketika kita percaya kepada Kristus, kita menerima hayat yang kekal. Karena kita telah memiliki hayat yang kekal, lalu apakah maksud-nya kita menantikan rahmat Tuhan kita Yesus Kristus sampai kepada hayat yang kekal? Ya, kita memang sudah memiliki hayat yang kekal di dalam kita, namun mungkin kita belum menikmati hayat ini sepenuhnya. Sebagian orang Kristen malah hampir tidak pernah menikmati hayat yang kekal sama sekali. Mereka tidak tahu bahwa mereka dapat menikmati hayat kekal itu. Kita pun mungkin tidak mengalami pertambahan hayat yang kekal. Allah telah memberi kita hayat yang kekal dengan tujuan agar kita bisa menikmati hayat ini dan akan terus bertambah di dalam kita. Karena itu, kata-kata “untuk hayat yang kekal” berarti sampai kepada kenikmatan dan pertambahan hayat yang kekal, sekarang dan di dalam kekekalan.

ALLAH TRITUNGGAL SEBAGAI BAGIAN,

KENIKMATAN, DAN PENGALAMAN KITA

Menurut Yudas 20-21, kita perlu berdoa dalam Roh Ku-dus, memelihara diri kita tetap di dalam kasih Allah, sambil menantikan rahmat Yesus Kristus agar kita bisa memiliki kenikmatan dan pertambahan hayat yang kekal sampai selamanya. Inilah gambaran pengalaman atas Allah Tritunggal.

Satu Petrus 1 dan Surat Yudas membicarakan tentang Allah Tritunggal. Perkataan Petrus tentang Allah Tritunggal sangat dalam, sedang uraian Yudas agak sederhana. Kita bisa mengatakan bahwa Yudas memberikan uraian kepada “murid-murid SD”, sedang Petrus memberikan uraian kepada “murid-murid tingkat sarjana”. Namun, banyak orang Kristen tidak mampu memahami uraian dasar dari Yudas yang membicarakan tentang pengalaman atas Allah Tritunggal. Kita ber-syukur kepada Tuhan, karena Dia telah menerangi sehingga kita nampak makna uraian Petrus dalam 1Petrus 1 maupun kata-kata Yudas menjelang akhir Surat Kirimannya. Dalam Surat 1 Petrus maupun Surat Yudas kita nampak Allah Tritunggal menjadi bagian kita, kenikmatan kita, dan peng-alaman kita.

TITIK INTI

Dalam Surat 1-2 Petrus dan Yudas yang kita pelajari, kita perlu nampak titik intinya. Meskipun subyek dari Surat 1-2 Petrus adalah pemerintahan Allah, terutama pemerin-tahan-Nya yang ditunjukkan dalam penghakiman-Nya, ini bukanlah titik inti kitab-kitab itu. Pemerintahan ilahi juga bukanlah struktur dasar dari Surat Petrus. Lalu apakah titik inti kitab-kitab itu? Apakah struktur dasarnya? Agar jangan dibingungkan oleh banyak perkara yang baik dalam Surat 1-2 Petrus, kita perlu memberikan jawaban yang tegas terhadap masalah ini.

Dalam Surat 1 Petrus sesungguhnya hanya satu setengah pasal yang penting, yang berkaitan dengan hayat. Satu setengah pasal ini meliputi pasal 1 seluruhnya ditambah sebelas ayat dari pasal 2. Pula, kita perlu memandang penting kata-kata Petrus dalam 5:10. Dalam ayat itu Petrus berkata, “Dan Allah, sumber segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.” Keadaan yang sama terdapat dalam Surat 2 Petrus. Dalam kitab ini, paruh pertama dari pasal 1 dan ayat terakhir dari pasal yang terakhir sangatlah penting, berhubungan dengan hayat. Da-lam potongan-potongan yang penting dalam Surat 1-2 Petrus ini, kita memiliki titik inti Surat-surat Kiriman itu.

Sketsa Sederhana 1 Petrus 1

Dalam 1Petrus 1 kita nampak pekerjaan Allah Tritunggal untuk menggenapkan keselamatan-Nya yang sempurna. Dalam ayat 2 kita nampak pengenalan dini Allah Bapa, pengudusan oleh Roh itu, dan pemercikan oleh darah Yesus Kristus. Ayat ini mewahyukan pengenalan dini Allah Bapa, penebusan Putra, dan penerapan oleh Roh itu. Inilah operasi yang dilakukan Allah Tritunggal untuk melaksanakan keselamatan sempurna Allah. Dalam ayat 3 Petrus mengatakan bahwa Bapa telah melahirkan kita kembali agar kita memiliki pengharapan yang hidup. Keselamatan sempurna Allah terdiri atas tiga unsur: kelahiran kembali dari Bapa, penebusan dari Putra, dan penerapan dari Roh itu. Ketika kita mengalami keselamatan ini, kita memiliki hayat yang bercirikan kekudusan dan kasih. Cara hidup kita kudus, dan kita mengasihi sesama saudara. Karena itu, kekudusan dan kasih merupakan hasil dari keselamatan sempurna Allah. Selain itu, dalam keselamatan ini ada satu benih, yaitu benih yang tidak fana, yaitu firman Allah yang hidup dan yang berhuni. Inilah sketsa sederhana dari 1Petrus 1.

Pertumbuhan, Pengubahan, dan Pembangunan

Sekarang, mari kita maju lagi untuk membahas 1Petrus 2:1-11. Setelah dilahirkan kembali, kita sekarang adalah bayi-bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kita bisa bertumbuh sampai kepada keselamatan (ayat 2). Dalam pasal 1 kita nampak bahwa kita telah dilahirkan kembali dan keselamatan sempurna Allah adalah bagian kita. Sekarang kita perlu berbagian dan menikmati keselamatan ini. Untuk itu, kita perlu mendapatkan rawatan dari susu firman.

Melalui minum susu yang murni dari firman itu dan melalui bertumbuh sampai kepada keselamatan, kita akan diubah menjadi batu permata. Karena itu, Petrus menyebut kaum beriman sebagai batu-batu hidup (ayat 5). Batu-batu ini adalah untuk pembangunan rumah rohani, dan rumah ini adalah imamat yang kudus. “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan per-sembahan rohani, yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Di satu pihak, rumah rohani ini adalah tempat kediaman Allah; di pihak lain, ia adalah sesuatu yang mengisahkan segala kebajikan Allah, yang mengekspresikan apa adanya Allah.

Rumah rohani ini, sudah tentu adalah satu perkara yang korporat. Kita dibangun bersama-sama secara korporat untuk mempersembahkan kepada Allah satu tempat kediaman serta mengisahkan semua kebajikan Allah, yaitu mengekspresikan Dia.

Memperhatikan “Jantung” Surat-surat Kiriman Ini

Dari kedua potongan ayat yang kita ambil dari Surat 1Petrus ini, termasuk 5:10, kita nampak titik inti kitab ini. Kita perlu tertangkap sepenuhnya oleh titik inti ini. Dengan demikian kita tidak lagi dalam bahaya diselewengkan dari titik inti ini sewaktu kita memperhatikan perkara-perkara lainnya dalam kitab ini.

Kita boleh membandingkan fokus pokok Surat 1Petrus dengan jantung dalam tubuh manusia. Kita tidak seharusnya memperhatikan anggota-anggota tubuh lain dengan mengor-bankan jantung kita. Kita boleh kehilangan satu jari kaki, sebuah lengan, atau satu kaki, tetapi masih bisa hidup. Namun kita tidak bisa hidup tanpa jantung. Demikian juga, kita perlu memperhatikan “jantung”, titik inti Surat 1Petrus.

Jantung kitab ini adalah pekerjaan Allah Tritunggal untuk melaksanakan keselamatan tiga ganda-Nya, yang meliputi kelahiran kembali, penebusan, dan penerapan. Kita telah menjadi anak-anak Allah melalui kelahiran kembali, dan sekarang kita perlu mendapatkan makanan dari firman-Nya untuk bertumbuh sampai kepada keselamatan yang sempurna. Kemudian kita akan diubah dan dibangun bersama untuk menyediakan satu tempat kediaman bagi Allah dan menjadi ekspresi-Nya. Untuk maksud ini, Allah sumber segala anugerah akan menyempurnakan, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kita. Selanjutnya, menurut 2 Petrus 3:18, kita perlu bertumbuh dalam anugerah Allah dan dalam pengenalan akan Tuhan. Inilah titik inti dari Surat 1-2 Petrus dan Surat Yudas.

TIDAK DISELEWENGKAN DARI STRUKTUR DASAR

Titik inti ini juga merupakan struktur dasar dari Surat-surat Kiriman ini. Dalam Surat 1-2 Petrus dan Yudas terdapat banyak perkara, tetapi tidak semua perkara yang ada itu merupakan bagian dari struktur dasar. Kita boleh menggunakan satu bangunan sebagai contoh. Struktur dasar balai sidang di Anaheim terdiri dari balok dan tiang-tiang penyangga dari baja. Banyak benda bisa disingkirkan dari bangunan ini tanpa mempengaruhi struktur dasarnya. Namun, balok dan tiang penyangga itu tidak bisa diambil dari bangunan itu tanpa merusak struktur dasarnya. Sebagaimana balai sidang di Anaheim mempunyai sebuah struktur dasar, demi-kian juga Surat Kiriman 1-2 Petrus dan Yudas.

Saya khawatir kalau-kalau kaum beriman diseleweng-kan dari struktur dasar ini kepada berbagai perkara yang dibahas dalam kitab-kitab ini. Kita perlu memperhatikan perkara-perkara itu dan bahkan menekankannya. Tetapi untuk itu perlu kita ingat, jangan menyeleweng dari struktur dasar tulisan-tulisan ini. Struktur dasar ini adalah Allah Tritunggal bekerja untuk menggenapkan tiga ganda keselamatan sehingga kita bisa dilahirkan kembali, mendapatkan makanan dari firman-Nya, dan agar kita bisa bertumbuh, diubah, dan dibangun, sehingga Dia bisa mendapatkan satu tempat kediaman dan kita bisa mengekspresikan Dia.

Pikiran dasar ini juga bisa kita lihat dalam Surat Paulus. Karena itulah Petrus berkata, “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh keselamatan, seperti yang telah dituliskan kepada kamu oleh Paulus, saudara kita yang terkasih, sesuai dengan hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dilakukannya dalam semua surat-nya, apabila ia berbicara tentang hal-hal ini” (2 Ptr. 3:15-16). Paulus juga menyatakan bahwa kita dapat menerima rawatan Tuhan dan bertumbuh untuk dibangun menjadi satu rumah rohani sehingga Allah bisa memiliki ekspresi yang korporat. Karena itu, kedua rasul tersebut meministrikan hal yang sama, tetapi istilahnya agak berbeda. Baik Petrus maupun Paulus mempunyai titik inti yang sama. Saya harap tidak seorang pun di antara kita yang di dalam pemulihan Tuhan menyeleweng dari titik inti dan struktur dasar dari ministri para rasul yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru.

BAGAIMANA MEMBAGIKAN TRAKTAT

PENTINGNYA MEMBAGIKAN TRAKTAT

Dalam berita ini kita akan membahas masalah membagikan traktat. Terlebih dulu kita harus mengetahui pentingnya membagikan traktat. Selama dua atau tiga ratus tahun yang lalu, Allah sangat memakai traktat untuk menyelamatkan manusia. Baik traktat itu dibagikan melalui pos atau dibagikan secara langsung, traktat sungguh-sungguh memberikan hasil. Banyak orang telah diselamatkan melalui traktat. Semoga membagikan traktat bisa menjadi praktek yang umum di dalam gereja pada hari ini. Kita juga harus menyiapkan traktat-traktat yang efektif. Kita perlu memberi tahu orang-orang yang baru beroleh selamat, supaya perkara membagikan traktat ini boleh menjadi satu pelajaran yang dilaksanakan oleh setiap orang dalam generasi selanjutnya di dalam gereja.

KEUNTUNGAN MEMBAGIKAN TRAKTAT

Allah sangat memakai traktat untuk menyelamatkan manusia, karena ada aspek-aspek yang khusus mengenai membagikan traktat. Kita dapat menyebutkan keuntungankeuntungan sebagai berikut:

1. Traktat Tidak Dibatasi oleh Perkataan Manusia

Keuntungan pertama dari membagikan traktat ialah traktat tidak dibatasi oleh perkataan manusia. Banyak orang tidak dapat berbicara dengan baik, tidak bisa berbicara dengan lancar, atau tidak mempunyai karunia. Ada lagi yang lain, pembawaannya memang tidak suka banyak bicara. Namun, baik seseorang itu tidak pandai berbicara atau tidak suka berbicara, begitu ia beroleh selamat, ia harus membuka mulut untuk bersaksi bagi Tuhan. Dia tidak seharusnya berdiam diri dengan alasan tidak pandai bicara. Pada saat yang sama, gereja harus mendorong kaum beriman, memberikan banyak kesempatan kepada mereka untuk berbicara. Mereka harus belajar berbicara bagi Tuhan. Orang-orang yang tidak berpetah lidah pun harus berbicara bagi Tuhan.

Akan tetapi, ada orang benar-benar berada dalam keadaan yang sulit untuk berbicara; kalau bukan tidak jelas terhadap kebenaran, mungkin kurang dalam pengalaman. Terhadap beberapa orang dosa, Anda harus memberi tahu mereka tentang kesia-siaan dunia; terhadap yang lain, harus memberi tahu mereka tentang betapa dosa adalah perkara yang sangat membencikan, dosa membuat manusia kehilangan damai sejahtera, betapa kuatnya dosa itu; terhadap lainnya lagi, harus memberi tahu mereka tentang pertobatan. Banyak orang beriman, begitu menghadapi keadaan ini, mereka tidak tahu harus berkata apa. Dalam keadaan demikian, mereka boleh memberikan traktat. Ketika seseorang menemukan bahwa dirinya sulit membuka mulut untuk mengabarkan Injil, traktat menjadilah satu sarana yang sangat penting.

Orang yang membagikan traktat, terlebih dulu harus mengetahui tentang orang yang akan diberi traktat. Misalnya, si penerima adalah famili atau temannya, tentu ia tahu akan keperluan sasarannya dan dapat memilih traktat yang tepat untuk diberikan kepada mereka. Ditambah lagi dengan kesaksiannya sendiri, maka Injil dapat diberitakan dengan jelas. Seseorang yang memberitakan Injil sangat mudah terpengaruh dan terbatasi oleh diri pribadinya. Tetapi jika traktat memberitakan Injil, tidak akan terpengaruh oleh pribadi seseorang. Bahkan, sering kali traktat berbicara lebih jelas dan tepat daripada pembicaraan manusia. Inilah keuntungan pertama dari membagikan traktat, bisa menutupi atau memenuhi kekurangan seseorang.

2. Traktat Tidak Dibatasi oleh Umur dan Status Manusia

Keuntungan kedua dari traktat ialah traktat tidak dibatasi oleh umur dan status manusia. Satu prinsip dasar dalam memimpin orang kepada Kristus ialah orang yang bagaimana memimpin orang yang bagaimana. Tidaklah tepat kalau Anda meminta seorang anak kecil memimpin seorang tua, atau meminta seorang pekerja kasar memimpin seorang dokter. Untuk memimpin orang tua, perlu mengutus orang tua; untuk memimpin orang muda, perlu mengutus orang muda; untuk memimpin seorang perawat, perlu mengutus seorang perawat. Secara umum, kita harus bekerja di dalam status sosial, jenis kelamin, dan umur yang sama. Sebagai contoh, adalah lebih baik dan lebih tepat bagi para saudari untuk memberitakan Injil kepada para wanita. Memang, kadang kala ada perkecualiannya. Bagi saya sebagai seorang lakilaki, cukup sulit untuk memberitakan Injil kepada seorang perempuan muda yang saya temui secara perorangan. Tidaklah mudah bagi seorang saudari muda untuk membuka mulut bersaksi kepada seorang tua. Tentu, kalau bisa banyak berdoa, mendapatkan kekuatan, seseorang bisa saja melampaui rintangan-rintangan ini. Tetapi secara umum, sangatlah sulit untuk menginjil kepada orang dengan status atau latar belakang yang berbeda. Saat demikian, traktat menjadilah sarana yang sangat baik. Di lain pihak, ketika Anda mengunjungi seseorang, Anda harus telah mendoakannya dengan tekun, dengan sopan memberikan traktat kepadanya dan bersaksi kepadanya. Atau mungkin Anda adalah orang yang baru percaya; Anda tidak tahu harus bagaimana berbicara, juga tidak bisa berbicara. Anda hanya perlu memberinya sebuah traktat. Namun ini tidak berarti Anda membiarkan traktat mengerjakan segala sesuatu, melainkan traktat itu hanya menutupi kekurangan Anda; Anda masih harus membuka mulut Anda untuk bersaksi. Ketika ada “pemisah” antara penginjil dan pendengar dalam tingkatan, umur, atau jenis kelamin sehingga tidak mudah membuka mulut memberitakan Injil, sangatlah baik kalau memakai traktat Injil untuk menutupi kekurangan tersebut.

3. Traktat Tidak Dibatasi oleh Emosi dan Suasana Hati Manusia

Keuntungan ketiga dari traktat ialah traktat tidak dibatasi oleh emosi dan suasana hati manusia. Di dalam sidang penginjilan yang besar dan formal, seorang penginjil dapat berdiri di mimbar dan berbicara dengan serius mengenai dosa, penghakiman, dan berbagai topik lainnya. Namun ketika menginjil secara perorangan, akan timbul pembatasan atas masalah sopan santun, mimik wajah, dan faktor manusiawi lainnya. Akibatnya, banyak perkataan keras dan tegas tidak dapat diutarakan dengan terus terang. Keadaan ini cukup menyulitkan. Jika terlalu menekankan masalah kedosaan atau penghakiman, membicarakannya terlalu terus terang, mungkin bisa kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan orang itu lagi. Jadi, untuk mengatakan perkataan yang berat dan terus terang dalam penginjilan secara perorangan, ada keterbatasan dan kesulitannya. Namun, jika pada saat demikian kita bisa memberikan traktat yang berbunyi, “Kita semua adalah orang berdosa, berdosa di hadapan Allah; kita semua perlu Yesus!” Hal ini lebih mudah diterima oleh teman Injil. Meskipun mungkin ada banyak perkataan yang saat itu tidak dapat Anda katakan kepada teman Injil Anda, tetapi Anda bisa berdoa untuk orang itu. Anda boleh bertanya, “Apakah kamu merasa bahwa kita semua berdosa?” Ini tentu tidak menyakitkan hatinya. Kita tidak ingin menyakitkan hati orang lain ketika menginjil, tetapi kita tetap harus berbicara secara tepat dan terus terang. Karena itu, begitu kita menghadapi suasana yang memerlukan pertimbangan-pertimbangan atas status, tingkatan, gengsi, atau faktor manusiawi lainnya, berikanlah traktat kepadanya dan berdoalah baginya. Keuntungan traktat ialah tidak ada faktor emosi manusia, tidak terpengaruh oleh suasana hati manusia; traktat hanya mengatakan kebenaran kepada manusia.

4. Traktat Dapat Menghindari Perdebatan

Keuntungan keempat dari traktat ialah traktat dapat menghindari perdebatan. Ketika kita memberitakan Injil kepada seseorang, sering jatuh ke dalam suatu suasana, yaitu perdebatan dan adu argumen. Kadang-kadang kita bertemu dengan orang yang suka berdebat. Orang itu tidak ada hati terhadap Injil; dia hanya ingin menguji kita. Ketika kita bersaksi kepadanya, dia akan mendebat kita. Pada saat demikian, kita tidak boleh berdebat dengannya. Sebaliknya, kita harus dengan hati tenang, tanpa emosi, dengan tulus memberinya selembar traktat. Berbuat demikian sangat baik untuk mengatasi situasi. Karena orang yang suka berdebat tidak dapat berbuat apa-apa terhadap traktat yang diam dan obyektif. Adakalanya, kita bertemu dengan seorang famili kita. Dia tahu bahwa kita orang Kristen, lalu dia mencoba untuk berdebat dengan kita. Pada saat demikian, kita tidak seharusnya berkata banyak kepadanya. Kita hanya dengan sopan memberikan selembar traktat kepadanya. Tidak peduli bagaimana seseorang senang berdebat, ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap traktat. Karena itu, jalan yang paling baik menghadapi orang yang sedemikian adalah memberinya traktat. Hari berikutnya, jika bertemu dengannya, kita boleh bertanya, “Sudahkah kamu membaca traktat yang kuberikan itu? Maukah traktat yang lain?” Berbuat demikian akan menghindari perdebatan yang terbuka. Sudah tentu, di balik itu kita juga harus banyak berdoa untuk orang itu.

5. Traktat Tidak Dibatasi oleh Waktu dan Orang

Keuntungan kelima dari traktat ialah traktat tidak dibatasi oleh waktu dan orang. Traktat menyelamatkan orang tanpa pembatasan waktu. Seseorang pergi memberitakan Injil, ia akan terbatas oleh waktu dan ruang, juga terbatas oleh manusianya sendiri. Boleh dikatakan tidak mungkin seseorang berada di tempat yang sama dua puluh empat jam sehari, tetapi traktat tidak dibatasi oleh faktor ini. Tidak hanya demikian, sulitlah bagi kita untuk bersaksi kepada orang yang sama sekali tidak kita kenal, tetapi traktat dapat bersaksi kapan saja, di mana saja, kepada setiap orang. Baik kita kenal atau tidak, traktat dapat bersaksi kepada orang. Traktat tidak dibatasi oleh jenis orang yang menerima traktat. Seseorang dapat membaca traktat kapan saja ia mau. Jika kita memberi seseorang selembar traktat, traktat itu dapat pergi ke mana saja orang itu pergi; traktat itu dapat bersaksi kepada dia di mana saja dan kapan saja. Ini yang membuat traktat begitu praktis.

6. Traktat Dapat Ditabur di Mana pun

Keuntungan keenam dari traktat ialah traktat dapat ditabur di mana pun. Dalam Pengkotbah 11:1 dan 6, Salomo berkata, “Lemparkanlah rotimu ke air . . . Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari.” Sekalipun menabur secara acak (sepertinya sembarangan), juga baik, karena kita tidak tahu benih mana dari yang kita tabur itu akan berhasil baik. Rasul Paulus berkata, “Orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Kor. 9:6). Untuk menabur secara besar-besaran, tidak ada cara yang lebih baik daripada membagikan traktat. Setiap orang dapat menabur dengan traktat di setiap tempat. Jika hari ini kita ingin memberitakan Injil kepada 3, 5, atau 10 orang, kita harus menghabiskan banyak waktu. Tetapi membagikan traktat, sampai 1.000 atau 2.000 lembar sehari, tidak ada masalah. Beberapa saudara telah membagikan lebih dari seribu traktat sehari selama lebih dari tiga tahun. Inilah penaburan secara besarbesaran. Tidak ada satu metode pun bisa semudah membagikan traktat bila ingin menaburkan benih Injil secara besarbesaran; tidak ada cara lain yang lebih praktis. Banyak orang yang dipakai Allah senang membagikan traktat; bahkan waktu berpergian pun mereka tidak memboroskan waktu mereka, menggunakan kesempatan untuk membagikan traktat di banyak tempat. Dalam satu hari, jika ada satu orang diselamatkan melalui traktat yang kita sebarkan, itu berarti kita sudah mengerjakan pekerjaan yang besar. Karena itu, orang-orang yang baru percaya harus belajar menyebarkan traktat secara besar-besaran. Jika kita tidak dengan baikbaik memakai traktat, ini adalah perkara yang sangat disayangkan.

7. Traktat Bisa Membuat Semua Orang Beriman Berfungsi

Keuntungan ketujuh dari traktat ialah traktat bisa membuat semua orang beriman berfungsi. Allah telah memberikan rasul-rasul, nabi-nabi, penginjil-penginjil, serta gembalagembala dan pengajar-pengajar kepada gereja. Kita tahu, meskipun tidak setiap orang dapat menjadi rasul, namun setiap orang dapat memberitakan Injil. Keadaan gereja yang normal adalah setiap orang memberitakan Injil, setiap orang berfungsi. Mungkin ada orang yang berkata: Aku tidak mempunyai petah lidah, aku tidak mempunyai karunia, aku tidak bisa menyanyi, aku tidak bisa memberitakan Injil. Tetapi, syukur kepada Tuhan, setiap orang di antara kita tentunya dapat berkata, “Aku bisa membagikan traktat.” Tidak ada perbedaan di antara para pembagi traktat; orang yang menerima traktat tidak memperhatikan dari mana dia menerima traktat itu. Dalam memberitakan Injil dan bersaksi, orang bisa berkata bahwa siapa yang lebih berkarunia dan lebih memiliki kekuatan, ia akan lebih banyak menyelamatkan orang; siapa yang tidak memiliki karunia dan kekuatan, akan lebih sedikit menyelamatkan orang. Tidak demikian dengan membagikan traktat. Baik Anda berkarunia atau tidak, memiliki kekuatan atau tidak, anak-anak atau orang dewasa, orang berpendidikan atau tidak terpelajar, Anda dapat membagikan traktat. Jadi, ruang lingkup ini sangat besar, siapa pun dapat melakukannya; asal ia adalah orang beriman, cukuplah.

Seorang saudara angkatan kerja dapat menyisihkan sejumlah uang untuk mencetak traktat-traktat, membagikannya kepada saudara atau saudari, kemudian bersama mereka membagikan traktat-traktat itu. Pekerjaannya ini berbeda dengan pekerjaan di mimbar. Pekerjaan di mimbar hanya terbatas pada beberapa saudara atau saudari, tetapi membagikan traktat tidak terbatas oleh perbedaan ini. Setiap orang dapat mengerjakannya. Kita harus membatu para penyebar traktat untuk menyadari bahwa mereka sedang berbagian dalam pelayanan terhadap Allah, bahkan pekerjaan mereka itu merupakan berkat yang besar bagi gereja. Dengan demikian hati mereka akan ditarik ke dalam gereja, dan akan berbeban bagi jiwa manusia. Tidak ada pekerjaan yang dapat bersifat umum seperti membagikan traktat.

CONTOH-CONTOH MENYELAMATKAN ORANG MELALUI TRAKTAT

DAN DISELAMATKAN MELALUI TRAKTAT

Allah sungguh-sungguh menggunakan traktat untuk menyelamatkan orang. Banyak orang diselamatkan melalui membaca traktat, kita dapat menemukan banyak kesaksian demikian, dan banyak di antaranya yang sangat ajaib. Saya tahu, ada orang yang menyebarkan traktat dari rumah ke rumah dengan menyelipkannya di pintu-pintu rumah. Ada yang meletakkannya di kotak surat. Ada yang memberikan traktat kepada para pejalan kaki di jalan-jalan. Seorang pejalan kaki begitu menerima traktat segera merobek dan membuangnya. Namun, orang lain mengambil sobekan kertas itu; bagian sobekan itu membicarakan tentang melarikan diri dari murka yang akan datang. Dia tidak mengerti apa yang dia baca, tetapi dalam hatinya terasa tidak nyaman. Di kemudian hari, dia menemukan jalan untuk percaya kepada Tuhan dan beroleh selamat. Saya masih ingat, ada seorang, di perjalanan menerima selebaran traktat Injil, ia membuangnya. Kemudian ada orang lain berjalan melewati tempat itu; ia tidak leluasa berjalan, ternyata dalam sepatunya ada paku kecil yang tersembul yang membuat kakinya terasa sakit. Ia memungut secarik kertas (ternyata lembaran traktat itu) dan menutupi bagian dalam sepatunya yang ada pakunya itu. Setiba di rumah, ia membetulkan sepatunya dan membaca lembaran kertas itu. Ia tergerak dan kemudian beroleh selamat. Inilah yang dimaksud dengan “melemparkan roti ke air”, pada waktunya ia akan berbuah. Pengalaman keselamatan melalui traktat semacam ini sangat banyak juga mengherankan.

Abad yang lalu, di Inggris ada seorang penginjil. Dia hanya mempunyai sebuah paru-paru, tetapi dia sangat kuat dalam memberitakan Injil, dan banyak orang diselamatkan melalui dia. Dia mengabarkan Injil selama 37 tahun. Berbicara di tempat terbuka kepada 3.000 atau 4.000 orang merupakan hal yang biasa baginya. Dia menyiapkan lebih dari seratus macam traktat yang berbeda untuk digunakan di berbagai desa dan kota di Inggris. Ada traktat untuk orang-orang kota, ada traktat untuk orang-orang pedesaan; ada juga yang untuk diberikan di atas kereta api atau kapal-kapal penyeberangan. Hasil tuaian dari traktat-traktat itu sangat besar. Traktat untuk kereta api saja berjumlah 20 macam lebih. Misalnya, sebuah traktat berjudul: “Anda Mempunyai Tiket Kereta Api, tetapi Apakah Anda Mempunyai Traktat?” Traktat ini digunakan di atas kereta api. Satu kali, kembali ia naik kereta api. Ketika kereta api mulai berangkat, kondektur kereta api mengingatkan kepada para penumpang, “Apakah Anda memiliki tiket? Jika tidak memiliki tiket, tidak boleh naik.” Penginjil penyebar traktat ini mengiringi kondektur itu dan berkata, “Apakah Anda memiliki traktat? Jika tidak memiliki traktat, tidak boleh naik.” Hasilnya, pada hari itu, ada tujuh orang percaya kepada Tuhan beroleh selamat. Dia sendiri mencetak traktat-traktat itu, dia sendiri membagikan traktattraktat itu, dan dia sendiri memberitakan Injil dengan traktattraktat itu.

George Cutting, pengarang buku “Safety, Certainty, and Enjoyment” sangat jelas tentang anugerah keselamatan. Buku kecilnya saat itu menempati urutan kedua dalam peredaran buku di dunia setelah Alkitab. Pada masa mudanya, dia juga adalah seorang penyebar traktat. Tuhan memakai dia untuk menulis banyak traktat. Dia berkeliling seluruh Inggris dan selalu berusaha menyelamatkan orang. Kita harus menceritakan kisah-kisah ini kepada orang-orang yang baru beroleh selamat, mendorong mereka untuk mengerjakan hal yang sama.

Orang yang lain lagi, penulis buku “Christian Rest” adalah orang yang beroleh selamat karena empat orang yang secara berurutan membagikan traktat Injil. Artinya, orang pertama memberikan traktat kepada orang kedua, orang kedua beroleh selamat; orang kedua memberikan traktat kepada orang ketiga, orang ketiga beroleh selamat; orang ketiga kembali memberikan traktat kepada orang keempat, orang keempat beroleh selamat. Hasilnya, keempat orang ini dipakai Tuhan secara besar-besaran di Inggris. Mereka adalah orang-orang yang beroleh selamat melalui orang lain yang memberikan traktat, seorang kepada yang lain, akhirnya menghasilkan empat orang yang sangat dipakai Tuhan. Contoh-contoh di atas menunjukkan kepada kita betapa besarnya hasil dari traktat.

BAGAIMANA MEMBAGIKAN TRAKTAT

Setelah kita tahu pentingnya membagikan traktat, marilah kita melihat perihal bagaimana membagikan traktat.

1. Membagikan secara Umum

Cara yang paling sering dipakai dalam membagikan traktat adalah membagikan secara umum, ini adalah untuk menabur secara umum. Dalam membagikan secara umum, kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama, traktat itu harus kuat di hadapan Allah, harus mempunyai kata-kata yang “berkail”. Traktat yang efektif dalam menyelamatkan jiwa boleh dipakai terus; traktat yang tidak efektif jangan dipakai lagi. Traktat-traktat yang efektif perlu dicetak ulang. Selain itu, ketika membagikan traktat di jalanan, tidak boleh melanggar hukum setempat. Kedua, sebelum membagikan traktat, harus berdoa mohon Allah memberkati, supaya setiap lembar traktat membawa berkat anugerah menyelamatkan orang. Ketiga, ketika keluar membagikan traktat, harus memperhatikan masalah pakaian dan ekspresi. Pakaian harus rapi, jangan melampaui status, jangan berpakaian terlalu modern atau terlalu sederhana, pakaian harus sesuai. Selain itu, harus memegang sopan santun. Jika kita menghubungi orang kalangan kelas menengah, harus berpakaian seperti orang kelas menengah. Keempat, ketika membagikan traktat, harus bersikap sungguh-sungguh, hormat; tidak seharusnya bersikap santai, ringan, meremehkan; jangan berlaku seperti penjaja jalanan, juga jangan bersikap kasar. Dalam membagikan traktat, pegang sejumlah traktat dalam tangan kiri Anda, menyapa atau menganggukkan kepala kepada orang yang dituju, dan kemudian presentasikan kepada mereka. Jika mereka menerimanya, berikan lagi anggukan kepala.

Jika orang menolak traktat, janganlah kita marah-marah. Jika dia membuangnya, kita boleh memungutnya kembali. Jika dia berpaling dan mencaci maki kita, janganlah berdebat dengannya. Kita dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut: 1) membiarkan dia pergi; 2) dengan sopan mempersilakan dia meneruskan perjalanannya; 3) mencoba meyakinkan dia dengan beberapa kata lagi; atau 4) memungut traktat itu dan berdoa untuk traktat.

Jika mungkin, gereja harus sering berdoa untuk pekerjaan membagikan traktat, harus berdoa mohon Tuhan memberikan lebih banyak buah. Agar mendapatkan banyak buah, harus bertekun dalam doa. Kita harus berdoa untuk beberapa hal: 1) mohon Allah memberkati orang yang menerima traktat; 2) mohon Allah tidak membiarkan traktak itu dirusak; 3) mohon Allah membuat traktat itu berfungsi secara berkesinambungan; 4) mohon Allah menyelamatkan setiap orang yang tangannya menjamah traktat itu; dan 5) mohon Allah memperpanjang hari-hari traktat itu.

2. Membagikan secara Khusus

Cara kedua dalam membagikan traktat ialah secara khusus. Cara yang umum tidak sistematis, dibagikan kapan dan di mana saja. Pembagian secara khusus adalah pembagian secara terbatas, secara terencana, membagikan menurut kelompok, dari rumah ke rumah di jalan atau wilayah tertentu. Untuk cara pembagian ini, pertama kita harus membagi diri kita ke dalam beberapa tim, boleh dua saudara atau dua saudari dalam satu tim; meminta tiap tim khusus membagikan traktat di jalan atau wilayah tertentu, tiap rumah satu traktat. Harus berdoa untuk traktat-traktat itu, mencari kata-kata pembuka apa yang harus diucapkan kepada orang yang dijumpai, juga perlu mencari tahu berapa lama baru mengunjungi wilayah itu lagi. Orang-orang yang membagikan traktat harus menentukan untuk keluar dua hari, atau tiga hari, atau empat hari sekali; sedikitnya harus keluar seminggu satu kali. Pada hari yang telah ditentukan, harus menyiapkan berbagai judul traktat dan membagikannya kepada orang sesuai dengan kebutuhannya. Dan yang terakhir, tetap harus berdoa memohon berkat.

Sewaktu membagikannya, ada beberapa teknik. Pertama, terlebih dulu menemukan nama dari setiap keluarga yang dimaksud dari buku telepon. Kemudian menuliskan nama-nama keluarga pada amplop-amplop itu dan membagikannya beserta traktat Injil di dalamnya. Kedua, mengirimkannya secara langsung. Ketiga, menulis nama dan alamat dengan jelas dan mengirimkannya melalui pos. Jika saat membagikan traktat ada orang lain bertanya apa yang sedang Anda lakukan, Anda boleh menjawab, “Aku sedang memberikan Injil kemuliaan Putra Allah untuk Anda.” Cara membagi traktat secara demikian telah diterapkan di banyak negara di dunia dengan sukses yang besar. Banyak keluarga demi keluarga diselamatkan. Keempat, menetapkan sebuah jalan atau wilayah sebagai satu unit dan mendorong saudara dan saudari memikul beban guna bertanggung jawab untuk secara berkesinambungan membagi traktat di jalan atau wilayah itu. Ini juga cara yang sangat baik.

3. Membagikan secara Pribadi

Masih ada cara lain dalam membagikan traktat yaitu secara pribadi. Cara pribadi ini ditujukan kepada famili-famili dan teman-teman dekat. Kadang-kadang sulit untuk mengabarkan Injil kepada famili dan teman dekat, tetapi sangat mudah untuk memberi mereka traktat. Kita juga harus hatihati dalam memilih traktat yang hendak kita berikan. Kita harus mempertimbangkan keadaan masing-masing orang. Misalnya, kepada orang-orang tertentu, kita menunjukkan bagaimana dosa merusak manusia; kepada yang lain, kita menunjukkan bagaimana uang, kemuliaan yang sia-sia tidak dapat memuaskan manusia. Kita harus berdoa memohonkan berkat bagi mereka. Ketika memberikan traktat kepada mereka, kita juga harus dengan penampilan hormat dan sopan. Kita harus berkata, “Ada banyak perkataan yang tidak dapat saya katakan, ada banyak perkara yang tidak saya ketahui, namun saya senang memberimu traktat ini. Silakan membacanya.” Setelah pulang ke rumah, kita harus berdoa untuk mereka dan mohon Allah memberkati, agar traktat itu menghasilkan buah. Demikian, dengan mudah kita dapat menyebarkan Injil kepada famili dan teman dekat kita.

HAL-HAL LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN

Jika kita setia melakukan pekerjaan ini, kita akan segera menemukan bahwa traktat kita sangat tidak mencukupi. Meskipun beberapa traktat itu kecil, namun bisa menyelamatkan orang. Traktat semacam ini boleh terus-menerus dicetak ulang dan terus-menerus disebarkan. Menerbitkan traktat tidak harus menitikberatkan pada penampilan yang menarik, melainkan harus memiliki kata-kata yang ada kailnya, yaitu kata-kata yang praktis dan tepat guna. Bahasa dan isi traktat harus jelas dan lancar; jangan ada kata-kata yang salah. Jika ada kesalahan kata dalam traktat, traktat itu mungkin akan hilang kegunaannya. Karena itu, kita harus hati-hati dalam menulis traktat. Tidak seorang pun boleh ceroboh dalam pekerjaan Allah.

Dalam memberitakan Injil, kita harus belajar mengucapkan kata-kata yang “bagaimana” kepada orang yang “bagaimana”. Dalam membagikan traktat, kita melakukan hal yang sama, memberikan traktat yang tepat. Misalnya, terhadap orang-orang dunia secara umum, jika kita memberikan traktat mengenai kesia-siaan dunia, maka kesempatan untuk menyelamatkan orang akan sangat besar. Ada orang telah berkontak dengan gereja; jika kita memberikan traktattraktat yang menjelaskan tentang kebesaran anugerah Allah kepada mereka, yang akan beroleh selamat juga akan banyak. (Orang menyadari dosanya setelah dia percaya; karena itu, membicarakan perkara dosa kepada orang yang tawar dan dingin akan mudah melukai dia). Terhadap orang dunia pada umumnya, membicarakan kesia-siaan dunia akan sangat mudah membawa mereka kepada keselamatan.

Selain itu, kita perlu setiap waktu membawa traktattraktat di saku kita, seperti membawa kartu bisnis kita. Begitu bertemu orang, sangat baik jika kita memberinya selembar traktat. Adakalanya sulit membuka mulut untuk memulai pembicaraan, namun selembar traktat dapat memudahkan kita berbicara, dan orang lain tidak akan merasa kita tidak tahu diri. Ada orang, begitu duduk segera berbicara panjang lebar tentang hal-hal yang tidak karuan. Sebuah traktat akan menutup mulutnya dan sebaliknya memberi kita kesempatan untuk membuka mulut. Ketika kita memberikan traktat kepada orang, kita boleh berkata beberapa patah kata, atau tidak perlu berkata apa-apa. Jika kita dengan setia melakukan demikian, Tuhan akan melalui sarana ini menyelematkan banyak orang.

Akhirnya, ingatlah, meskipun membagikan traktat itu adalah pekerjaan yang kita lakukan, tetapi kita tidak dapat bersandar kepada diri kita sendiri, mengira diri kita dapat menyelamatkan orang. Kita harus percaya kepada Roh Allah. Setiap kali kita membagikan traktat, kita harus berdoa mohon Tuhan memberkati orang yang menerima traktat. Kita harus menengadah kepada Roh Allah untuk menyelamatkan orang melalui traktat.

W.N.

Tambahan:

Kisah-kisah Traktat Injil

Mengajar membaca melalui traktat Injil

Di suatu tempat (Burma) ada seorang anak dari salah satu kepala suku yang karena traktat Injil bertobat dan percaya Tuhan. Tadinya, ia buta huruf, sama sekali tidak bisa membaca. Kemudian ia pergi ke Rangoon. Di sana ia bertemu dengan istri seorang penginjil yang mengajarinya membaca dari lembaran traktat Injil. Ternyata dalam waktu empat puluh delapan jam, anak ini sudah bisa membaca dan kemudian percaya Tuhan Yesus. Setelah itu, anak ini mengambil sekeranjang penuh traktat Injil, menempuh perjalanan yang sulit kembali ke kampung halamannya, lalu sekuatnya memberitakan Injil. Banyak penduduk setempat yang datang berkumpul dan mendengarkan pemberitaan Injilnya. Tuhan beserta dengannya, banyak orang menjadi percaya Tuhan Yesus. Dalam jangka waktu satu tahun, lebih dari 1.500 orang percaya dan dibaptis. Inilah salah satu pekerjaan ajaib yang Allah lakukan melalui traktat Injil.

Torray memberikan traktat Injil di atas kereta api

Suatu hari, ketika naik kereta api, Torray berdoa dalam hati memohon Allah memakai dia untuk membawa beberapa orang di atas kereta api agar berpaling kepada Allah. Kemudian, datang seorang gadis dan duduk di kursi di depannya. Ia adalah anak perempuan seorang diaken di suatu denominasi, yang agak kenal dengannya. Torray memilih sebuah traktat yang ia anggap cocok dan memberikannya kepada gadis itu. Ketika gadis itu membacanya, Torray berdoa dalam hatinya bagi gadis itu. Kemudian, ia bertanya kepada gadis itu bagaimana arti cerita traktat itu. Ternyata, gadis itu sangat terharu, saat itu juga, di atas kereta api itu, ia menerima Tuhan. Membagikan traktat Injil yang tepat, bisa memberi kita kesempatan untuk memberitakan Injil, dan bisa membawa orang berpaling kepada Tuhan.

“Kekal” dalam sobekan kertas

Pada suatu hari, di penyeberangan di sebuah sungai, ada seseorang dengan marah-marah menyobek-nyobek selembaran Injil yang diselipkan ke dalam tangannya, lalu melemparkannya ke arah sungai. Ajaib! Satu hembusan angin meniup kembali satu sobekan kecil dari sobekan-sobekan kertas traktat itu dan tepat terselip ke dalam lipatan lengan baju orang tadi. Sobekan kecil traktat Injil ini hanya tersisa satu kata, yaitu “kekal”. Orang itu tiba-tiba tergugah oleh satu kata ini; terpikirkan olehnya penderitaan kehidupannya yang tidak beribadah kepada Allah, ia lalu cepatcepat bertobat, dan “mencari TUHAN selama Ia berkenan ditemui” (Yes. 55:6). Kita hanya bertanggung jawab untuk memberitakan, meskipun hanya satu kata dalam secarik sobekan kertas, Allah bisa melakukan pekerjaan-Nya yang ajaib, dan melalui itu menyelamatkan orang yang tersesat.

Aku adalah orang yang beroleh selamat

karena traktat Injil yang Anda bagikan

Ada seorang pemuda menyebarkan traktat Injil di sebuah kapal penyeberangan di London. Datanglah seorang tua menertawainya, katanya, “Aku sudah bertahun-tahun menyebarkan traktat Injil, tetapi tidak ada hasilnya. Apakah Anda di sini akan mengulangi kegagalan yang dulu telah aku lakukan?” Pemuda ini dengan serius memperhatikan orang tua itu, lalu bertanya kepadanya, “Apakah Anda adalah orang tua yang dulu menyebarkan traktat-traktat Injil di kapal-kapal penyeberangan di London? Saya adalah orang yang beroleh selamat karena penyebaran traktat Injil Anda.”

Kerang mengulum traktat Injil

Di Inggris ada seorang bernama Thomson, ia berprofesi sebagai pencari teripang di dasar laut. Meskipun ia sering mendengarkan tentang Injil, namun ia selalu menolaknya. Pada suatu hari, seperti biasa ia menyelam ke dalam laut untuk mencari nafkah, ingin memperoleh teripang-teripang yang besar dan gemuk. Ketika sedang mencari, terlihat olehnya di atas sebuah karang laut ada seekor kerang yang sepertinya sedang mengulum selembar kertas. Thomson memperhatikannya, ternyata kertas itu adalah lembaran traktat Injil. Sekilas ia membaca isi traktat itu. Ternyata, ia sangat tergerak. Lalu, di dasar laut itu juga ia bertobat dan berkata kepada dirinya sendiri, “Meskipun aku telah bertahun-tahun menolak Tuhan, saat ini aku tidak dapat tidak taat kepada-Nya, percaya kepada-Nya.” Kemudian, seekor teripang pun tidak ia cari lagi, sebagai gantinya ia mengambil kerang beserta lembaran traktat yang dikulum kerang itu, dan menaruhnya sebagai kenangan di dinding ruang tamu rumahnya. Di kemudian hari, Thomson tidak hanya secara individu setia kepada Tuhan, bahkan telah membawa banyak orang berpaling kepada Tuhan.

Siapa sangka, benih Injil yang jatuh ke dasar laut, bisa bertunas dan bertumbuh. Karena itu, bagaimanapun, harus menyebarkan benih-benih Injil. Kapan bisa menuainya, tidak seorang pun yang tahu.