Daftar isi Jalan Setapak Menuju Kemuliaan · bab 1/1

Jalan Setapak Menuju Kemuliaan

Pembacaan Alkitab : Lukas 9:28-31

Dalam kitab Injil tercatat tiga kali peristiwa Allah berbicara dari surga dengan suara yang dapat didengar di bumi. Pertama, terjadi setelah Tuhan dibaptis, ketika Ia keluar dari air (Matius 3:16-17). Kedua, di gunung pengubahan (Lukas 9:28-31). Ketiga, setelah Tuhan menjawab dengan perkataan berikut, "Aku berkata kepadamu : sesungguhnya jikalau sebiji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja ..." (Yohanes 12:24-28). Satu-satunya alasan mengapa Allah berbicara dengan cara demikian dalam ketiga peristiwa itu, adalah karena Tuhan Yesus secara khusus telah memilih salib. Tuhan Yesus tidak memilih jalan yang lebih baik daripada salib. PembaptisanNya adalah pemilihanNya akan salib, pemilihanNya akan kematian dan penguburan. Ketika Dia berada di gunung pengubahan, Dia juga memilih salib. Pusat perhatianNya di gunung itu bukan naik ke surga, melainkan "tentang tujuan kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem." Ketika Dia masuk ke Yerusalem, ada beberapa orang Yunani menyambutNya dan memohon untuk bertemu denganNya. Menurut pandangan manusia, inilah saat yang paling mulia dalam hidupNya, namun Dia tetap memilih salib. Dia tidak karena junjungan banyak orang, lalu mengangkat diriNya sendiri menjadi raja.

Mari kita kembali ke Lukas 9 untuk melihat bagaimana Tuhan memilih salib. Ada orang mengatakan, bahwa gunung pengubahan itu melambangkan kerajaan Allah. Tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa gunung pengubahan itu adalah Kerajaan Allah. Dengan jelas Dia mengatakannya dalam ayat 27, "Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah." Kerajaan Allah turun ke bumi sejenak, Tuhan Yesus berada di dalamnya dan memperlihatkan kemuliaanNya dalam Kerajaan. Tuhan Yesus dapat langsung naik ke surga di sana, tetapi seluruh pembicaraanNya adalah "tentang apa yang akan digenapiNya di Yerusalem". Dengan tidak bimbang Dia memilih salib. Pada saat itu Tuhan Yesus memandang (menoleh kembali) dari posisi setelah kebangkitan dan kenaikan ke surga, karena itulah Dim moinpunyai pandangan yang sangat jelas bahwa jalan notapek menuju kemuliaan bukan berada di gunung pengubahan, melainkan berada di jalan yang lain.

Walaupun jalan ini telah ditetapkan sebelum dunia diciptakan, namun ini seolah belum begitu jelas sebelum peristiwa di gunung pengubahan terjadi. Setelah pembicaraan di gunung pengubahan, jelaslah bahwa jalan ini harus mengarah ke Yerusalem. Kita dapat melihat, setelah turun dari gunung itu, Tuhan menuju ke Yerusalem. Dari Lukas pasal 9 sampai dengan pasal 23, hanya tergambar satu lajur jalan, yaitu pergi ke Yerusalem. Jalan ini adalah jalan yang dibicarakan di gunung pengubahan.

Apakah Yerusalem yang Tuhan Yesus perhatikan? Tidak. Yang diperhatikan Tuhan adalah perkara-perkara yang akan digenapiNya di Yerusalem, yaitu salib. Pergi ke Yerusalem adalah untuk menggenapkan kehendak Allah, yaitu memikul salib. Seolah-olah di gunung pengubahan, kemuliaan itu dengan sengaja diturunkan ke bumi sejenak dan Tuhan Yesus disalut dengannya. Dalam visi ini dengan jelas Tuhan Yesus melihat, bahwa jalan setapak menuju kemuliaan adalah pergi ke Yerusalem. Karena itulah, Dia meneguhkan hatiNya dan mengarahkan pandanganNya ke Yerusalem. Yesaya berkata, bahwa Ia meneguhkan hatiNya seperti "keteguhan gunung batu" (Yesaya 50:7). Demikianlah, tanpa ragu-ragu sedikit pun Ia meneguhkan hatiNya ke Yerusalem. Dari gunung inilah Dia pergi kepada salib.

Mengapa kita perlu memperhatikan masalah ini? Karena hari pengangkatan telah semakin dekat, hari Tuhan Yesus menyambut dan mengangkat para salehNya telah di ambang pintu! Barangsiapa rindu terangkat, ia harus pergi ke Yerusalem, memikul salib, dan berjalan pada jalan ini. Jika dengan jelas Allah telah mewahyukan kepada kita tentang kemuliaan, pengangkatan dan kebangkitan, seyogyanya kita mematuhi kehendakNya, memikul salib dan menempuh jalan salib. Kita harus ingat, ketika Tuhan Yesus tahu bahwa waktu terangkatNya sudah hampir tiba, Dia tidak duduk-duduk dengan tenang menantikan untuk terangkat. Alkitab mengatakan, "Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem" (Lukas.9:51). Salib mendahului pengangkatan. Kalaupun kita telah tahu, bahwa waktu pengangkatan sudah hampir tiba, maka kita juga harus mengarahkan pandangan kita untuk mematuhi apa yang ditetapkan Allah bagi kita, yaitu memikul salib. Pergi ke Yerusalem tak lain adalah untuk memikul salib demi menggenapkan kehendak Allah.

Apa yang dialami di jalan setapak ini? Mari kita libat setiap peristiwa satu persatu.

"Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagiNya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalananNya menuju Yerusalem"(Lukas 9:52-53). Satu alasan mengapa orang-orang Samaria tidak mau menerimaNya adalah ketetapanNya untuk pergi ke Yerusalem. Bila Anda ingin melaksanakan kehendak Allah dan menempuh jalan salib, orang-orang tidak akan menerima Anda lagi. Kita perlu memohon kepada Allah untuk membuat kita semakin rela mencari kehendakNya dari hari ke hari, meskipun untuk itu kita akan diperlakukan dengan tidak baik oleh manusia, namun Tuhan mengindahkan perkara ini. Saat itu dua orang muridNya tidak tahan lagi dan ingin membalas dendam kepada orang Samaria. Tetapi Tuhan berpaling dan menegur mereka, kataNya, "Kalian tidak tahu, bagaimana roh hatian." (Tl). Jika penolakan manusia membuat kita bereaksi demikian, "Baiklah kita melihat siapa yang benar di hadapan takhta penghakiman", maka kita akan ditegur oleh Tuhan. Setelah menegur Tuhan pergi ke desa lain. Tuhan tidak mempunyai waktu untuk mengurusi perlakuan orang lain terhadapNya.

"Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalananNya ke Yerusalem" (Lukas 13:22). Ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa bukannya karena hari pengangkatan sudah dekat, lalu kita mengesampingkan segala sesuatu dan menunggu datangnya kerajaan Allah dengan bermalas-malasan. Kita harus menempuh jalan salib. Jalan itu memang demikian, namun kita tidak dapat meninggalkan pekerjaan kita sehari-hari. Tuhan tetap mengajar selama perjalananNya melalui kota-kota dan desa-desa menuju Yerusalem. Jika salib itu melaksanakan satu pekerjaan yang cukup dalam atas diri kita, maka banyak perkara yang akan membantu memperdalam dan memperkaya pengalaman kita.

"Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus, ‘Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.’ Jawab Yesus kepada mereka : Pergilah dan katakanlah kepada serigala itu : Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalananKu, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem" (Lukas 13:31-33). Di sini Tuhan mengucapkan perkataan yang sangat keras. Dia mengatakan, bahwa Herodes adalah seekor serigala. Tuhan membandingkan Herodes dengan Allah. Pada satu pihak komplotan Herodes sedang berlangsung di bumi, di pihak lain kehendak Allah yang di surga harus digenapkan. Dibandingkan dengan kehendak Allah, Herodes adalah seekor serigala. Serigala itu boleh jadi sangat licik, namun ia tak berdaya mencegah Tuhan pergi ke Yerusalem. Tuhan tidak bisa tidak pergi ke Yerusalem hanya karena ancaman seekor serigala. Ia tidak dapat mengubah langkah dan jalanNya oleh karena Herodes. Tuhan berkata, "Aku harus meneruskan perjalananKu."

Lukas 17:11-19 menyebutkan, bahwa ketika Tuhan Yesus menyusuri Samaria dan Galilea dalam perjalananNya ke Yerusalem, Ia memasuki suatu desa dan menyembuhkan sepuluh orang kusta. Kejadian ini mengajar kita, pada jalan ini bila ada sesuatu yang dapat kita lakukan, kita harus melakukannya baik itu memberitakan Injil atau menolong orang lain untuk keuntungannya. Asal itu berada pada jalan ini, kita harus melakukannya dengan sekuat tenaga kita. Tuhan mengarahkan pandanganNya ke Yerusalem, namun Ia masih mengerjakan pekerjaan apapun yang dialamiNya dalam perjalanan itu. Dia tidak karena sedang menuju ke Yerusalem, lalu mengesampingkan semua pekerjaan. Kita memang menantikan untuk diangkat, tetapi dalam perjalanan ini, sudahlah seharusnya kita berusaha sekuat tenaga menyelamatkan jiwa manusia.

Wahyu 22:17 sungguh bermakna. "Roh dan pengantin perempuan itu berkata, 'Marilah!' Siapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata, 'Marilah!"' Kedua perkataan "Marilah!"di atas merupakan doa bersama dari Roh Kudus dan gereja dan memohon agar Tuhan segera datang. Kalimat selanjutnya berbunyi, "Dan barangsiapa haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!" Nyatalah, bahwa kelanjutan dari permohonan akan kedatangan Tuhan adalah memberitakan Injil.

Semoga di bumi ini kita dapat menyelamatkan lebih banyak orang. Namun ingatlah, jangan sampai masalah-masalah yang kita jumpai di tengah jalan ini membuat kita mengubah arah; kita tidak seharusnya berpegang erat oleh kejadian-kejadian yang kita alami sehingga kita berhenti dan tidak maju lagi. Kita harus bekerja, harus menyelamatkan manusia, tetapi jalan kita tetap menuju ke Yerusalem. Jika pekerjaan yang kita tangani menjadi penghalang bagi kita untuk menuju ke Yerusalem, maka pekerjaan itu harus kita lepaskan. Kalau Tuhan (dalam perjalanan itu) karena telah menyembuhkan sepuluh orang sakit kusta, lalu tidak melanjutkan perjalananNya ke Yerusalem, malah berhenti di sana, memang Dia telah melahirkan orang-orang tersebut, tetapi Dia tidak dapat menyelamatkan kita. Orang Kristen memimpin orang lain beroleh selamat, menolong orang, itu sudah sepatutnya tetapi kalau karena pekerjaan itu, ia terhalang sehingga tidak dapat melaksanakan kehendak Allah, ini tidak patut terjadi, karena itu hanyalah pekerjaan sampingan ketika ia berjalan dalam jalan ini.

"Yesus memanggil keduabelas muridNya, lalu berkata kepada mereka, Sekarang kita pergi ke Yerusalem" (Lukas 18:31). Tuhan tidak berkata, "Aku pergi", melainkan berkata, "kita pergi". Berjalan seorang diri di jalan salib itu tidak cukup, harus mendorong dan membantu orang-orang untuk mengikuti kehendak Allah dengan maju memikul salib. Bagaimana kita menanti untuk diangkat? Kita percaya Tuhan akan kembali itu satu perkara, tapi menantikan kedatanganNya itu perkara lain. Allah tidak menghendaki kita percaya pada kedatanganNya kembali secara doktrinal, melainkan menghendaki kita menantikan kedatangan sang Putra Allah. Apa yang telah ditetapkan Allah bagi gereja harus dialami oleh gereja. Kitab Efesus penuh dengan kemurahan Allah, tetapi ia juga penuh dengan tanggung jawab. Jikalau Allah tidak mendapatkan apa yang telah ditetapkanNya, Ia takkan merasa puas. Tuhan berkata, "... dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi" (Lukas 18:31). Semoga segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagi kita juga digenapi di dalam kita.

"Yesus melanjutkan perkataanNya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa kerajaan Allah akan segera kelihatan. Maka Ia berkata, "Ada seorang bangsawan yang berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali" (Lukas 19:11-12). "Berangkat ke sebuah negeri yang jauh" mengacu kepada pergi ke surga. Tuhan mengucapkan perkataan ini karena para murid menyangka, bahwa setelah mereka tiba di Yerusalem, maka datanglah kerajaan Allah dan Tuhan akan memerintah sebagai raja di sana. Mereka menyangka akan mendapat kenikmatan di Yerusalem, tetapi Tuhan memberitahu mereka akan ada penderitaan. Mereka menyangka pergi ke Yerusalem adalah untuk memerintah, tetapi Tuhan memberitahu mereka babwa Ia akan mati disalib. Sebelum kebangkitan dan pengangkatan yang semakin mendekat, perlu sejangka waktu, perlu satu salib yang berat!

"Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalananNya ke Yerusalem"(Lukas 19:28). Dia di depan memimpin kita berjalan di jalan ini. Dulu Dia mengarahkan pandanganNya ke Yerusalem, sekarang Dia masih sama, tanpa perubahan sedikitpun. Dia tidak hanya memberi perintah kepada kita untuk berjalan, sedang Dia sendiri tinggal di belakang; Dia memimpin maju dan berjalan di depan kita.

"Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu Lalu Yesus masuk ke Bait Allah ..." (Lukas 19:41,45). Ini menunjukkan kepada kita, bahwa Tuhan berjalan selangkah demi selangkah memasuki! Yerusalem.

Mari kita lihat doaNya di Getsemani pada malam terakhir, "Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi." (Lukas 22:42). Beberapa orang berkata, cawan itu mengacu kepada maut di Getsemani. Penjelasan ini tidak benar. Cawan itu mengacu kepada salib, dengan perkataan lain, jika mungkin, Dia berdoa supaya Allah melepaskanNya dari salib. Namun Tuhan berkata lagi, "Bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi." Tuhan dapat berdoa, "Jika Engkau mau, ambillah cawan ini dariKu." Tapi Tuhan tidak dapat berdoa "Jikalau mungkin, biarlah kehendakMu jangan digenapi." Cawan itu sangat penting, tapi ada satu perbedaan antara cawan dan kehendak Allah. Tuhan memperlihatkan kepada kita, kehendak Allah lebih penting dari pada salib. Ketika salib dan kehendak Allah dihubungkan, Ia hanya patuh. Sebelumnya Dia dapat mempunyai pilihan, tetapi ketika Dia tahu bahwa cawan itu adalah kehendak Allah, Dia hanya patuh.

Saudara saudari, apakah gunung pengubahan itu? Gunung pengubahan adalah kemuliaan; adalah kemuliaan setelah kebangkitan dan pengangkatan. Tetapi gunung pengubahan tidak hanya mengindikasikan kemuliaan, ia juga adalah satu wahyu, satu visi, satu pemandangan yang jelas. Gunung pengubahan mewahyukan bahwa jalan setapak menuju kemuliaan harus melalui Yerusalem. Kita memerlukan wahyu, visi, dan pandangan ini dari gunung pengubahan supaya kita dapat melihat dengan jelas bahwa tidak ada jalan lain bagi kita untuk diangkat kecuali kita memikul salib menggenapkan kehendak Allah. Tidaklah berguna jika kita hanya mengetahui kemuliaan yang akan datang, tanpa wahyu mengetahui bagaimana masuk ke dalam kemuliaan itu. Semoga Roh Allah memberi kita visi rohani sehingga kita benar-benar mengetahui hubungan antara pengangkatan dan penggenapan kehendak Allah. Semoga setelah mendapatkan pandangan ini, kita bisa setia sampai mati, memikul salib mengikuti Tuhan. Semoga kita bisa seperti Tuhan kita yang terarah teguh tanpa perubahan sedikit pun menuju ke Yerusalem. Semoga kita dapat berkata bersama Paulus, "Kepada penglihatan (visi) yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat"(Kisah Para Rasul 26:19).

Kemuliaan akan segera dinyatakan, tapi terlebih dulu kita harus memikul salib. Hari pengangkatan sudah dekat, namun ada satu panggilan yaitu kita harus melakukan kehendak Allah dan patuh kepada Allah. Inilah jalan Tuhan agar kita diangkat! Pengangkatan telah ditetapkan dan Yerusalem juga telah ditetapkan. Bila kita memiliki pengalaman menderita bersama Tuhan, saat itu pula Tuhan sangat dekat dengan kita. Tuhan di depan dan kita di belakangNya. Kita harus mengikuti Tuhan untuk menamatkan jalan ini.

Janda, Istri dan Gadis

"Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata : Belalah hakku terhadap lawanku."

Lukas 18:3

"Berikanlah kepadanya siksaan dan perkabungan, sebanyak kemuliaan dan kemewahan, yang telah ia nikmati. Sebab ia berkata di dalam hatinya : Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung."

Wahyu 18:7

"Lalu datanglah salah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku, 'Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya."

Wahyu 17:1

"Sebab seorang istri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi, selama suaminya hidup ia dianggap berzina, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia tidaklah berzina, kalau ia menjadi istri laki-laki lain. Sebab itu, Saudara-saudaraku, kamu juga telah mati terhadap hukum Taurat melalui tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah."

Roma 7:2-4

"Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya."

2 Korintus 11:2-3

Ayat-ayat Alkitab yang kita baca di atas memberitahu kita, bahwa gereja atau orang-orang Kristen mempunyai tiga keadaan di hadapan Allah. Sebelum saya membicarakan ketiga keadaan itu, terlebih dulu saya ingin menyatakan satu hal : mulai dari Kejadian sampai Wahyu, ada suatu garis, yaitu Allah sering menggunakan perempuan untuk mewakili umatNya. Ayat-ayat Alkitab di atas menunjukkan Allah menyamakan anak-anak-Nya dengan perempuan. Pertama, disamakan seperti seorang janda; kedua, disamakan seperti seorang isteri; ketiga, disamakan seperti seorang gadis. Setiap orang Kristen di bumi ini adalah seorang janda, bersamaan dengan itu juga adalah seorang isteri, juga adalah seorang gadis. Dalam dunia ini, entah berapa besar perbedaan antara seorang janda, seorang isteri, dan seorang gadis. Tetapi dalam Alkitab, khususnya dalam Injil Lukas dikatakan, bahwa orang Kristen berada pada kedudukan sebagai seorang janda; dalam Roma 7 dikatakan, orang Kristen berada pada kedudukan sebagai seorang isteri; dan dalam 1 Korintus 11 dikatakan, orang Kristen berada pada kedudukan sebagai seorang gadis.

Sikap setiap orang Kristen terhadap dunia, sama seperti seorang janda. Sikap setiap orang Kristen terhadap kenikmatan akan kekayaan Kristus, sama seperti seorang istri. Sikap setiap orang Kristen terhadap disiphn diri demi Kristus, sama seperti seorang gadis.

1. JANDA

"Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata : Belalah hakku terhadap lawanku" (Luk. 18:3).

"Berikanlah kepadanya siksaan dan perkabungan, sebanyak kemuliaan dan kemewahan, yang telah ia nikmati. Sebab ia berkata di dalam hatinya : Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung" (Why. 18:7).

"Lalu datanglah salah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku, ‘Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya.’" (Why. 17:1).

Satu hal yang sangat menjamah hatiku, yaitu hari ini kita hidup di dunia ini adalah dalam suasana hati seorang janda. Aku, tidak bisa mencintai dunia ini, bukan karena dunia ini tidak menarik, bukan karena Alkitab memerintahkan supaya aku, tidak mencintai, bukan pula karena dunia beserta nafsunya akan berlalu. Aku akan berkata, bahwa dunia ini cukup menarik, perkara, benda, dan manusia di dunia, semuanya menarik. Walaupun Alkitab terdiri dari enam puluh enam kitab, namun yang mengatakan, bahwa semua yang di bawah matahari adalah sia-sia hanya satu kitab, yaitu kitab Pengkhotbah. Orang Kristen tidak bisa mencintai dunia ini, bukan karena dunia ini sia-sia, melainkan karena Tuhanku, di dunia ini telah disalibkan oleh manusia dan mati, sebab itulah hatiku, adalah hati seorang janda.

Di mana orang yang Anda kasihi berada, tempat itu menjadi menarik, tempat itu menjadi tempat yang menyenangkan. Dia tidak berada di sini lagi, karena itu, hatiku adalah hati seorang janda. Dunia ini bagiku telah menjadi kosong sia-sia. Itulah sebabnya, kita tidak dapat ditarik oleh dunia ini, bukan karena dunia ini tidak menarik. Pakaian yang indah, makanan yang enak, bisa membuat orang merasa nyaman, menyenangkan; tetapi karena hatiku telah ditawan oleh seorang yang kucintai, semuanya ini tidak terhitung apa-apa lagi. Karena Dia tidak ada di sini, maka pahitlah duniaku. Bagi seorang perempuan, jika suami yang dicintainya meninggal. tetapi dia masih dapat berpakaian yang indahindah, makan yang enak-enak, melewati hari-hari dengan gembira, seolah-olah tidak ada perkara apa-apa, tetangga-tetangganya pasti akan mencela dia dengan mengatakan : hati macam apakah yang ia miliki! Apakah tidak boleh berpakaian indah dan makan makanan enak? Hanya karena Dia tidak lagi berada di sini, maka hatinyapun tidak lagi memperhatikan semuanya itu. Bukan karena semuanya itu hambar, melainkan karena di dalamku. telah tawar. Bukan karena dunia ini tidak menarik, tetapi karena di dalam hatiku tidak ada yang kucintai lagi.

Di antara kerumunan orang, aku merasa sendirian, karena Dia tidak ada di sini. Ketika aku seorang diri, hatiku membara, karena aku teringat, bahwa Dia ada. Ketika aku menelusuri pantai, melihat aluran ombak, mendengar deru ombak, aku tidak merasakan sendirian, tidak merasa terisolir, karena Dia telah menghiburku. Saudara saudari, mungkin dalam dunia ini banyak hal yang menarik bagi Anda, tetapi kalau Tahan telah memenuhi diri Anda, semua itu tidak akan berarti apa-apa lagi.

Di dunia ini, Ia telah dibunuh oleh manusia. Yang ditinggalkan-Nya hanyalah sebuah salib, sebuah kubur yang kosong. Tuhanku telah mati, karena itu aku adalah seorang janda. Dunia ini bukannya tidak baik, bukan pula tidak menarik, melainkan karena Dia tidak lagi berada di sini. Saudara saudari, kedudukan kita di dunia ini benar-benar adalah seorang janda. Tuhan kita tidak di bumi ini lagi, karena itu bagiku dunia tidak menarik lagi. Kalau ada seorang saudara atau saudari yang tidak memerlukan Tuhan untuk memuaskan hatinya, aku tak tahu, entah hati macam apa yang ia miliki? Dalam Lukas 18 Tuhan berkata, "Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata, belalah hakku terhadap lawanku." Inilah keadaan kita di dunia ini, seorang janda, yang diremehkan orang lain.

Wahyu 18 memakai Babilon untuk menyatakan gereja yang jatuh. Dalam hati dia berkata, "Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung." Hanya orang yang jatuh yang dapat menganggap, bahwa dirinya bukan seorang janda. Begitu Anda jatuh, saat itu pula Anda akan kehilangan ciri khas seorang janda. Oh, di dunia ini, kalau kita mau setia melayani Tuhan, kedudukan kita terhadap dunia ini adalah seorang janda. Terhadap dunia kita harus memegang satu sikap - sikap seorang janda. Pada suatu kali, murid-murid Yohanes Pembaptis menemui Yesus dan berkata, "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Aku tidak?" Jawab Yesus kepada mereka, "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa" (Mat. 9:14-15). Oh, hari ini Dia tidak ada lagi di sini, hari ini adalah saatnya bagi kita berpuasa. Apakah Anda berpuasa atau tidak terhadap dunia? Dunia ini bukan rumahku, aku tidak mempunyai kegembiraan di dunia ini, karena Dia tidak ada lagi di sini.

Hari ini roti yang terbentang di sini, memberi tahu kita, bahwa Dia tidak ada di sini. Cawan di sini juga memberi tahu kita, Dia tidak ada di sini. Roti menyatakan kepada kita, Dia pernah dibunuh; cawan menyatakan Dia pernah mengalirkan darah. Karena Dia tidak ada di sini, hatiku juga tidak ada di sini. Adakah barang yang dapat mewakili Dia untuk mengisi hati Anda? Ini tidak mungkin. Kita mau menyingkirkan dunia, bukan karena dunia tidak menaiik, melainkan karena Dia yang kukasihi telah tidak ada di sini. Karena di mana hartamu, di sanalah hatimu. Harta mustikaku tidak di sini, karena itu hatiku juga tidak di sini.

2. ISTRI

"Sebab seorang istri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzina, kalau ia menjadi istri laki-laki lain; tetapijika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia tidaklah berzina, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. Sebab itu, Saudara-saudaraku, kamu juga telah mati terhadap hukum Taurat melalui tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, (perhatikan kata-kata selanjutnya ini) agar kita berbuah bagi Allah" (Rm. 7:24).

Alkitab tidak saja mengatakan, bahwa di dunia ini setiap orang Kristen adalah seorang janda, Roma 7 juga mengatakan, setiap orang Kristen seperti seorang istri. Aku tidak tahu, apakah Anda tahu, perbedaan antara seorang janda dengan seorang istri? Seorang janda adalah orang yang tidak mempunyai suami lagi, tidak mempunyai sandaran. Seorang istri adalah orang yang mempunyai suami, mempunyai sandaran. Siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap keperluan keuangan keluarga? Seorang suami, bukan istri. Kalau seorang suami bersandar kepada istri untuk menghidupi keluarganya, ini terbalik. Seorang janda di bumi adalah orang yang telah kehilangan sandaran. Seorang istri dapat memperoleh semua keperluan dari suaminya. Saudara saudari, tidak tahukah Anda, bahwa hubungan kita dengan Kristus seperti hubungan antara seorang istri dengan suaminya? Semua keperluan kita akan diberi oleh-Nya. Anda tidak perlu berikhtiar bagaimana mendapatkan keperluan bulan ini, dari Kristus kita bisa mendapatkan semua keperluan kita. Mungkin tabiat Anda tidak baik, Anda sombong, tidak mau mengampuni orang lain, tidak bertenaga untuk bekerja, tidak bisa berdoa, tidak berselera dalam membaca Alkitab. Saudara saudari, ketahuilah, semuanya itu bisa dibereskan melalui Kristus. Demi kekuatan kebangkitan-Nya dari kematian, kita dapat berbuah.

Ada satu hukum yang umum di dunia ini, yaitu begitu seorang gadis menikah, dia segera bisa memakai nama suaminya. Saya ingin bertanya, siapakah yang bisa memakai nama saudara "X"? Saudara-saudaranya tidak bisa, anak-anaknya tidak bisa, orang tuanya juga tidak bisa. Hanya isterinya, yang bisa memiliki nama yang sama dengan dia. Banyak orang Kristen tidak tampak mustika ini - "Demi nama-Ku". Dalam kata "demi nama-Ku", entah berapa banyak berkatnya. Demi nama-Ku meminta apapun akan mendapatkan; demi nama-Ku dapat mengusir setan, demi nama-Ku dapat mengoleskan minyak bagi orang sakit, demi nama-Ku mengampuni dosa, demi nama-Ku mengabarkan Injil; apakah maksud semuanya itu? Siapa yang dapat memakai nama Tuhan? Ada orang mengira, karena mengucapkan sepatah kata "demi nama Tuhan" mengusir setan, maka setan akan terusir. Ada orang mengira, ketika dia membaptis, harus menurut hukum mengucapkan kata "demi nama Tuhan" membaptis orang. Saya ingin bertanya, dapatkah kita masuk ke dalam bank, lalu demi nama saudara "X" mengambil uang? Nama itu miliknya, bukan nama saya, saya hanya dapat menggunakan namaku. Kita bersyukur dan memuji Allah, setiap orang Kristen dapat memakai nama Tuhan, karena kita milik Dia, maka semua milik-Nya juga menjadi milik kita. Dia adalah Kristus, kita adalah orang-orang milik-Nya. Saudara saudari, semoga hari ini kita tampak, setiap orang Kristen, mempunyai hak "demi nama Tuhan". Pada waktu kita percaya Tuhan, kita telah bersatu dengan Dia, sehingga nama-Nya adalah nama kita, kita dapat berdoa demi nama-Nya. Bisa demi namaNya, karena kita telah bersatu dalam kebangkitan-Nya. Jika demikian, masih adakah yang tidak bisa kita peroleh di hadapan Allah? Sebagaimana seorang suami mengasihi, bersimpati, memberi, menunjang isterinya sendiri, demikian pula Kristus memperlakukan kita. Semoga kita ingat : terhadap kelimpahan Kristus, aku bukan seorang janda, melainkan seorang istri.

3. GADIS

"Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu, dengan kelicikannya" (2 Kor. 11:2-3).

Alkitab tidak hanya mengatakan, bahwa sikap kita terhadap dunia adalah sikap seorang janda; terhadap kelimpahan Kristus, kita berkedudukan sebagai istri; juga mengatakan, bahwa kita menunggu kembalinya Tuhan dengan posisi sebagai seorang gadis. Ini berarti, kita harus menjaga kesucian diri, menunggu kedatangan-Nya kembali.

Paulus berkata, "Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi." Apakah cemburu itu? Cemburu adalah iri. Maksud Paulus ialah, "Karena Kristus, aku cemburu kalau-kalau ada yang mendapatkan hatimu." Anda adalah milik Tuhan, siapapun tidak seharusnya menarik Anda, membawa pergi Anda. Misalnya, seorang temanku telah bertunangan. Temanku itu tidak di sini, tetapi pasangannya itu ternyata mempunyai kedambaan kepada orang lain. Karena temanku itu, di dalamku akan timbul suatu hati yang cemburu. Ia tidak seharusnya berlaku demikian terhadap temanku. Bagi temanku, aku cemburu kepada yang telah mengambil hati pasangannya itu.

Paulus takut kalau-kalau pikiran orang-orang Korintus disesatkan, sehingga mereka kehilangan hati yang suci dan murni terhadap Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Kita, setiap orang Kristen, harus memiliki sebuah hati yang tanpa noda dan tidak dijamah oleh siapapun. Semoga hari ini kita di hadapan Allah melihat, apakah kita telah kehilangan hati yang suci dan murni terhadap Kristus? Orang Kristen yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri, tidak memikirkan Kristus, tidak akan diperkenan Tuhan. Saudara saudari, hari ini kita perlu melakukan satu hal, yaitu berkata kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku milik-Mu. Mohon Engkau, menjaga bersih pakaianku, menjaga bersih hatiku, menjaga bersih pikiranku, menjaga bersih segalaku." Oh tidak ada siapapun yang boleh menjamah aku. Seperti Kidung Agung mengatakan, "Dinda pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai." Mengapa selalu dikatakan, tertutup, termeterai? Karena tamanku tidak boleh dimasuki seorangpun, kecuali kekasihku. Tidak ada orang lain yang boleh memperoleh air dariku untuk memuaskan hatinya, untuk meleraikan dahaganya. Sumurku, mata airku, hanya untuk Dia. Saudara saudari, hari demi hari kita harus mempertahankan sikap demikian. Aku untuk Tuhan, siapapun tidak patut menjamah aku. Paulus berkata, "Sejak saat ini, jangan ada yang mengganggu aku lagi, karena di atas tubuhku terdapat tanda Kristus." Oh, di atas tubuhku ada tanda salib, siapapun tidak patut menganggu aku lagi.