← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 4/27

PENDAHULUAN DAN PERSIAPAN (2)

Pembacaan Alkitab: Kis. 1:1-26

Kita telah nampak bahwa 1:1-2 adalah pendahuluan bagi kitab Kisah Para Rasul. Kemudian dalam 1:3-26 kita memiliki persiapan di pihak Tuhan dan di pihak murid-murid-Nya. Dalam berita ini kita akan melanjutkan untuk melihat persiapan Kristus terhadap murid-murid di dalam kebangkitan-Nya.

BERBICARA KEPADA MURID-MURID

MENGENAI KERAJAAN ALLAH

Kisah Para Rasul 1:3 mengatakan, ”Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak bukti Ia menunjukkan bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” Di sini kita nampak selama empat puluh hari Tuhan berbicara kepada murid-murid mengenai Kerajaan Allah. Apakah yang Tuhan katakan tentang kerajaan selama waktu itu? Lukas tidak memberi tahu kita. Sebagai pengganti dari memberikan catatan yang lengkap tentang apa yang Tuhan ajarkan kepada murid-murid, Lukas dengan sederhana mengatakan bahwa Dia berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah selama empat puluh hari.

Meskipun dalam kitab Kisah Para Rasul kita tidak diberi tahu apa yang Tuhan bicarakan mengenai Kerajaan Allah, kita dapat mengambil kesimpulan tentang apa yang Tuhan katakan dengan memperhatikan bagian lain dari firman itu. Dalam kitab-kitab Injil Tuhan Yesus memberi banyak ajaran tentang kerajaan kepada murid-murid. Saya ragu apakah selama empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya, Dia memberikan sesuatu yang baru mengenai Kerajaan Allah. Sebaliknya, saya percaya bahwa Tuhan mengulangi apa yang Dia ajarkan kepada mereka dalam kitab-kitab Injil. Ketika Tuhan berbicara mengenai kerajaan itu dalam kitab-kitab Injil, murid-murid tidak memahami apa yang Tuhan (profesor mereka) ajarkan kepada mereka. Karena itu, saya percaya bahwa Tuhan Yesus mengulang ajaran-Nya selama empat puluh hari di antara kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya.

Jika kita ingin tahu (sedikitnya dengan mengambil kesimpulan), apa yang Tuhan ajarkan kepada murid-murid mengenai kerajaan selama empat puluh hari itu, kita perlu membaca lagi semua yang Dia katakan tentang kerajaan dalam kitab-kitab Injil. Mungkin saja ajaran selama empat puluh hari itu sama dengan yang dicatat dalam kitab-kitab Injil.

Perlunya Pandangan Rohani

Ketika Tuhan Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya tentang kerajaan sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, Dia belum berada di dalam mereka, karena Dia masih berada di dalam daging. Karena Tuhan belum berada di da-lam murid-murid pada waktu itu, mereka tidak memiliki pandangan rohani untuk memahami Kerajaan Allah.

Mengenal Kerajaan Allah memerlukan pemahaman rohani, pandangan rohani. Tanpa pandangan rohani, tidak mungkin kita dapat mengenal Kerajaan Allah. Orang-orang yang kekurangan pandangan rohani mungkin mengira bah-wa masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah pergi ke surga. Umumnya, ini adalah konsep alamiah dari manusia yang jatuh mengenai Kerajaan Allah.

Dalam kitab-kitab Injil murid-murid tidak memiliki pandangan untuk memahami Kerajaan Allah. Tetapi dalam Yohanes 20, mereka menerima Persona ajaib dari Kristus yang bangkit ke dalam mereka sebagai Roh pemberi-hayat. Hasilnya, dalam Kisah Para Rasul 1 mereka sangat berbeda. Di satu pihak mereka adalah orang yang sama, di pihak lain mereka itu berbeda karena Kristus, Roh pemberi-hayat, sekarang di dalam mereka sebagai hayat dan persona mereka. Karena mereka memiliki Roh pemberi-hayat di dalam mereka, maka mereka dapat memahami pembicaraan Tuhan mengenai Kerajaan Allah.

Kerajaan Hayat Ilahi

Pada butir ini kita perlu mengajukan satu pertanyaan penting: Apakah Kerajaan Allah itu? Kerajaan Allah bukanlah satu kerajaan material yang terlihat oleh mata manusia. Kerajaan Allah adalah suatu kerajaan hayat ilahi. Kerajaan Allah adalah perkembangluasan Kristus sebagai hayat ke dalam kaum beriman-Nya, sehingga membentuk suatu ruang lingkup yang di dalamnya Allah berkuasa dalam hayat-Nya. Fakta kerajaan disebut dalam 1:3, menunjukkan bahwa kerajaan itu akan menjadi topik utama pemberitaan para rasul dalam amanat mereka setelah hari Pentakosta (8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31).

Kerajaan Allah adalah pengaturan, pemerintahan Allah dengan semua berkat dan kenikmatannya. Ini adalah sasaran Injil Allah dan Yesus Kristus. Untuk memasuki kerajaan ini, orang-orang harus bertobat dari dosa-dosa mereka dan percaya kepada Injil (Mrk. 1:15), sehingga dosa-dosa mereka dapat diampuni dan mereka dapat dilahirkan kembali oleh Allah untuk memiliki hayat ilahi, yang sesuai dengan sifat ilahi kerajaan ini (Yoh. 3:3, 5).

Semua orang beriman dalam Kristus dapat berbagian atas kerajaan pada zaman gereja untuk kenikmatan mereka terhadap Allah di dalam kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita-Nya dalam Roh Kudus (Rm. 14:17). Kerajaan ini akan menjadi kerajaan Kristus dan Allah bagi kaum beriman pemenang untuk diwarisi dan dinikmati pada zaman kerajaan yang akan datang (1 Kor. 6:9-10; Gal. 5:21; Ef. 5:5), sehingga mereka dapat memerintah bersama Kristus selama seribu tahun (Why. 20:4, 6). Kemudian, sebagai kerajaan kekal, kerajaan ini akan menjadi berkat kekal dari hayat kekal Allah untuk dinikmati seluruh umat tebusan Allah dalam langit baru dan bumi baru sampai selama-lamanya (Why. 21:1-4; 22:1-5, 14, 17).

Kerajaan Allah adalah realitas gereja yang dihasilkan oleh hayat kebangkitan Kristus melalui Injil (1 Kor. 4:15). Kelahiran kembali adalah pintu masuknya (Yoh. 3:5), dan pertumbuhan hayat ilahi di dalam kaum beriman adalah perkembangannya (2 Ptr. 1:3-11).

Kerajaan Allah adalah Juruselamat itu sendiri (Luk. 17:21) sebagai benih hayat yang ditaburkan ke dalam kaum beriman-Nya, umat pilihan Allah (Mrk. 4:3, 26), dan berkembang menjadi suatu alam di mana Allah dapat memerintah di dalam hayat ilahi-Nya. Kita telah nampak bahwa pintu masuk ke dalam kerajaan ini adalah kelahiran kembali dan perkembangan kerajaan ini adalah pertumbuhan hayat ilahi kaum beriman. Kerajaan Allah adalah kehidupan gereja hari ini, yang di dalamnya kaum beriman yang setia hidup (Rm. 14:17), dan kerajaan ini akan berkembang ke dalam kerajaan yang akan datang sebagai suatu pahala waris-an (Gal. 5:21; Ef. 5:5) bagi orang-orang kudus yang menang di dalam Kerajaan Seribu Tahun. Akhirnya, kerajaan ini akan rampung dalam Yerusalem Baru sebagai Kerajaan kekal Allah, dan alam kekal berkat kekal dari hayat kekal Allah untuk dinikmati seluruh umat tebusan Allah di dalam langit baru dan bumi baru sampai selama-lamanya.

Kita telah menunjukkan bahwa Kerajaan Allah adalah suatu kerajaan hayat ilahi. Kita dapat memakai kerajaan manusia sebagai ilustrasi. Sebagaimana manusia adalah kerajaan hayat manusia, demikian juga Kerajaan Allah adalah kerajaan hayat ilahi. Jika kita bukan manusia, kita tidak dapat memahami kerajaan manusia. Anjing, misalnya, tidak dapat memahami kerajaan manusia, karena mereka tidak memiliki hayat manusia. Tetapi jika seekor anjing dapat menerima hayat manusia, anjing itu kemudian akan dapat me-mahami kerajaan manusia. Demikian pula, kita mengenal Kerajaan Allah dengan hayat ilahi, karena Kerajaan Allah adalah kerajaan hayat ilahi.

Perkembangluasan Kristus sebagai Hayat

Sebagai orang-orang yang telah menerima hayat ilahi, kita bukan hanya mengenal apakah Kerajaan Allah; kita bahkan menjadi bagian dari kerajaan ini. Jika seekor anjing dapat dilahirkan dari hayat manusia dan kemudian menjadi seorang manusia, maka manusia ini akan secara otomatis menjadi satu bagian dari kerajaan manusia. Tidakkah Anda memiliki hayat ilahi? Ya, Anda memiliki hayat ilahi, dan karena Anda memiliki hayat ilahi ini maka Anda adalah bagian dari Kerajaan Allah. Meskipun kita dapat memahami hal-hal ini, kita tidak mungkin menjelaskannya kepada orang-orang yang belum dilahirkan kembali.

Kerajaan Allah adalah perkembangluasan Kristus sebagai hayat kepada kaum beriman-Nya. Perkembangluasan ini adalah perkembangbiakan Kristus sebagai hayat kepada kaum beriman-Nya untuk membentuk suatu alam yang di dalamnya Allah memerintah dalam hayat-Nya. Dalam mempersiapkan murid-murid, Tuhan Yesus harus membantu mereka untuk mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai Kerajaan Allah. Murid-murid harus sudah nampak bahwa mereka adalah bagian dari perkembangbiakan, perkembangluasan Kristus, dan adalah bagian dari Kerajaan Allah.

MENYURUH MURID-MURID

UNTUK MENANTIKAN JANJI BAPA

Dalam Kisah Para Rasul 1:4-8 Tuhan Yesus menyuruh murid-murid untuk menantikan baptisan Roh Kudus. Ayat 4 mengatakan, ”Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang sebagaimana dikatakan-Nya: telah kamu dengar dari Aku.” Janji di sini dan dalam Lukas 24:49 itu berbeda dengan janji dalam Yohanes 14:17. Janji dalam Kisah Para Rasul 1:4 dan Lukas 24:49 adalah janji Yoel 2:28-29, yang digenapi pada hari Pentakosta (Kis. 2:1-4, 16-18), untuk pencurahan sebagai kuat kuasa dari tempat tinggi bagi ministri kaum beriman secara ekonomikal. Ini berbeda dengan Roh hayat, yang dihembuskan ke dalam murid-murid (Yoh. 20:22) oleh Penyelamat yang bangkit pada hari kebangkitan-Nya untuk berhuninya Dia, sehingga Dia dapat menjadi hayat mereka secara esensial. Janji Tuhan dalam Yohanes 14:17 digenapi pada hari kebangkitan-Nya, ketika Roh itu dihembuskan ke dalam murid-murid sebagai hembusan hayat. Tetapi, janji Bapa dalam Lukas 24:49 dan Kisah Para Rasul 1:4 digenapi empat puluh hari kemudian, pada hari Pentakosta, ketika Roh itu sebagai angin yang keras berhembus ke atas mereka.

Adalah penting bagi kita untuk membedakan janji yang diberikan Tuhan di dalam Yohanes 14:17 dengan yang diberikan Bapa dalam Yoel 2:28-29. Banyak pembaca Alkitab mencampurkan dua janji ini. Janji yang diberikan Allah Bapa dalam Yoel 2 dan kemudian disebutkan Tuhan Yesus dalam Lukas 24 dan Kisah Para Rasul 1, tidak berhubungan dengan janji yang diberikan Tuhan dalam Yohanes 14. Dalam Kisah Para Rasul 1:4, Tuhan Yesus seolah-olah berkata, ”Aku telah memberitahukan kepadamu tentang janji Bapa-Ku. Sekarang kamu harus menantikan penggenapan janji ini di Yerusalem.”

Dalam Kisah Para Rasul 1:5 Tuhan melanjutkan ber kata, ”Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” Hal ini digenapkan dalam dua bagian. Pertama, kaum beriman Yahudi dibaptis dalam Roh Kudus pada hari Pentakosta (2:4). Kedua, kaum beriman bukan Yahudi dibaptis di rumah Kornelius (10:44-47; 11:15-17). Dalam dua bagian ini, semua orang beriman sejati dalam Kristus telah dibaptis dalam Roh Kudus menjadi satu Tubuh Kristus, sekali untuk selamanya secara universal (1 Kor. 12:13).

PERTANYAAN MURID-MURID MENGENAI

PEMULIHAN KERAJAAN ISRAEL

Ayat 6 mengatakan, ”Lalu ketika berkumpul, mereka bertanya kepada-Nya: Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Kerajaan Israel, yang dinantikan oleh para rasul dan orang-orang Yahudi yang takwa lainnya adalah kerajaan material. Kerajaan ini berbeda dengan kerajaan hayat Allah, yang Kristus bangunkan melalui pemberitaan Injil-Nya.

Dalam mengajukan pertanyaan yang dicatat dalam ayat 6, murid-murid kelihatannya telah melupakan hayat ilahi yang ada di dalam mereka. Konsepsi mereka dihubungkan dengan pemulihan kerajaan Israel. Konsepsi tradisional ini ada di dalam pemikiran semua orang Yahudi. Petrus, Yohanes, Yakobus, dan murid-murid lainnya memiliki konsepsi bahwa kerajaan Israel akan dipulihkan. Hari demi hari mereka mengharapkan pemulihan kerajaan Israel. Tetapi dalam 1:3 kita diberi tahu bahwa Tuhan bukan berbicara kepada mereka tentang kerajaan Israel, melainkan tentang Kerajaan Allah.

Meskipun Tuhan berbicara kepada murid-murid-Nya mengenai Kerajaan Allah selama lebih dari empat puluh hari, mereka mungkin lebih memperhatikan kerajaan Israel daripada Kerajaan Allah. Hati mereka mungkin telah di-duduki oleh kerajaan Israel. Tuhan juga berbicara kepada mereka tentang baptisan Roh Kudus. Kerajaan Allah dan baptisan Roh Kudus adalah hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi Perjanjian Baru. Tetapi, sebagaimana ditun-jukkan dengan pertanyaan mereka dalam ayat 6, murid-mu-rid mungkin tidak memiliki pemahaman yang tepat akan hal-hal ini.

Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid-murid, Tuhan Yesus berkata, ”Engkau tidak perlu mengeta-hui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (ay. 7). Di sini Tuhan Yesus seolah-olah berkata, ”Serahkan pemulihan kerajaan Israel kepada kedaulatan Allah. Lupakan tentang kerajaan Israel, dan terimalah firman-Ku mengenai Kerajaan Allah dan baptisan Roh Kudus.”

ROH KUDUS TURUN KE ATAS KITA

Dalam Kisah Para Rasul 1:8 Tuhan melanjutkan berkata, ”Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Untuk menerima kuasa perlu dibaptis dalam Roh Kudus (ay. 5) untuk penggenapan janji Bapa (ay. 4).

Mengalami Roh Kudus turun ke atas kita berbeda dengan memiliki Roh Kudus di dalam kita (Yoh. 14:17). Roh Kudus dihembuskan ke dalam murid-murid pada hari kebangkitan Tuhan untuk menjadi Roh hayat bagi mereka secara esensial. Roh Kudus yang sama turun ke atas murid-murid pada hari Pentakosta untuk menjadi Roh kuasa secara ekonomikal. Terhadap Roh hayat, kita perlu menghirup Dia sebagai hembusan. Terhadap Roh kuasa, kita perlu menge-nakan Dia sebagai seragam, yang dilambangkan oleh jubah Elia (2 Raj. 2:9, 13-15). Yang pertama sebagai air hayat yang memerlukan kita meminumnya (Yoh. 7:37-39); yang berikut-nya sebagai air untuk baptisan yang memerlukan kita diselam. Ini adalah dua aspek dari Roh yang satu untuk kita alami (1 Kor. 12:13). Roh hayat yang menghuni adalah esensial bagi hayat dan kehidupan kita; Roh kuasa yang di-curahkan adalah ekonomikal bagi ministri dan pekerjaan kita.

SAKSI-SAKSI KRISTUS

Secara harfiah, bahasa Yunani untuk ”saksi-saksi” dalam Kisah Para Rasul 1:8 berarti ”para martir”. Saksi-saksi adalah orang-orang yang memikul kesaksian yang hidup ten-tang Kristus yang bangkit dan naik ke surga dalam hayat. Mereka berbeda dengan pemberita-pemberita yang hanya memberitakan doktrin-doktrin harfiah.

Kitab Injil mencatat, dalam inkarnasi-Nya, Kristus merampungkan ministri-Nya di bumi seorang diri, dan menaburkan diri-Nya sebagai benih Kerajaan Allah hanya di tanah Yudea. Kitab Kisah Para Rasul mencatat, dalam kenaikan-Nya, Kristus akan merampungkan ministri-Nya di surga melalui saksi-saksi ini, martir-martir ini, di dalam hayat kebangkitan-Nya dan dengan kekuatan dan kuasa kenaikan-Nya untuk mengembangluaskan diri-Nya menjadi perkembangan Kerajaan Allah dari Yerusalem sebagai awalnya, sampai ke ujung bumi, sebagai perampungan ministri-Nya dalam Perjanjian Baru. Dalam kitab ini, semua rasul dan murid adalah para martir-Nya, saksi-saksi-Nya yang sedemikian.

MURID-MURID

PERLU AKAN PERALIHAN ZAMAN

Dalam ayat 8 Tuhan menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka harus memperhatikan turunnya Roh Kudus ke atas mereka dan kemudian menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Tetapi, murid-murid itu diduduki oleh konsepsi tradi-sional mereka mengenai kerajaan Israel, Musa, dan memelihara hukum Taurat. Di sini, dengan singkat Tuhan memberi tahu mereka bahwa mereka memerlukan suatu peralihan yang besar, peralihan zaman. Tuhan seolah-olah memberi tahu mereka, ”Kalian perlu peralihan zaman. Kalian perlu dialihkan secara ekonomikal dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, dari kerajaan Israel ke Kerajaan Allah, yang adalah gereja. Lupakanlah Israel dan perhatikanlah gereja! Kalian juga perlu dialihkan secara ekonomikal dari hukum Taurat kepada Kristus, yakni, kepada-Ku. Sebagai pengganti Musa dan hukum Taurat, kalian memiliki Aku. Kalian tidak boleh menjadi pemelihara hukum Taurat lagi; sekarang kalian harus menjadi saksi-saksi-Ku yang hidup, saksi-saksi yang hidup dari Kristus yang bangkit. Aku adalah Dia yang berbicara kepada kalian, bukan Musa. Apakah hukum Taurat menyertai kalian dengan cara yang hidup seperti Aku? Aku di sini sebagai Dia yang hidup, Dia yang bangkit. Kalian beserta dengan-Ku selama tiga setengah tahun. Kemudian kalian melihat kematian-Ku dan penguburan-Ku. Kalian bahkan melihat kubur-Ku yang kosong, dan kemudian melihat-Ku di dalam kebangkitan. Sekarang Aku di sini menyertai kalian dalam kebangkitan. Lupakan tentang Musa dan hukum Taurat. Jangan menjadi pemelihara hukum Taurat — jadilah saksi-saksi-Ku yang hidup.”

Murid-murid mungkin sulit memahami keperluan mereka akan peralihan zaman. Hari ini banyak orang Kristen memiliki masalah dalam hal ini. Ketika mereka membaca bagian firman ini, mereka tidak melihat hal peralihan ekonomikal. Banyak dari kita juga perlu peralihan yang demikian. Meskipun Anda mungkin telah diselamatkan selama bertahun-tahun, pernahkah Anda memikirkan bagai-mana menjadi saksi-saksi Kristus yang hidup? Saya ragu banyak orang beriman yang memikirkan hal ini. Sebalik-nya, banyak yang berusaha memelihara perintah-perintah dalam Perjanjian Baru. Mereka damba menjadi pemelihara-pemelihara perintah seperti pemelihara-pemelihara hukum Taurat, tetapi mereka tidak memiliki konsepsi bahwa mereka harus menjadi saksi-saksi Tuhan Yesus. Karena itu, mereka perlu peralihan zaman.

Meskipun kita adalah umat Perjanjian Baru, kita mungkin masih memiliki konsepsi Perjanjian Lama. Kita perlu dialihkan dari konsepsi Perjanjian Lama ke dalam ekonomi Perjanjian Baru. Ini berarti kita memerlukan suatu peralihan dari hukum Taurat kepada Kristus. Kita perlu suatu peralihan dari menjadi para pemelihara hukum Tau-rat kepada menjadi saksi-saksi Yesus. Saya harap Roh wahyu akan memperlihatkan kepada Anda bahwa Anda memerlukan peralihan yang demikian. Firman Tuhan yang menunjukkan keperluan akan peralihan zaman itu juga adalah bagian dari usaha-Nya mempersiapkan murid-murid-Nya.