Hidup dalam Hukum Hayat
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”
Roma 8:1-2
KEGAGALAN HIDUP BERDASARKAN TEKAD
Ada satu prinsip yang penting dalam kehidupan kristiani, yaitu orang Kristen hidup bukan bersandarkan tekadnya sendiri, melainkan bersandarkan hukum Roh Hayat Allah. Banyak orang Kristen, khususnya orang-orang Kristen yang masih muda (baru), tidak tampak perkara ini, dan juga belum pernah mempelajari pelajaran ini. Kekuatan hidup mereka malah bersandar dan dipertahankan oleh tekad mereka. Mereka takut mengesampingkan tekad mereka sejenak pun, karena mereka merasa, bila berbuat demikian, mereka akan jatuh dan hidup kristianinya akan terhenti. Banyak orang Kristen yang hidupnya bersandar pada tekadnya. Saudara saudari, kalaupun Anda telah menjadi orang Kristen bertahun-tahun, jangan menganggap bahwa Anda sudah tidak hidup bersandarkan tekad. Banyak orang yang masih menggunakan tekadnya untuk mempertahankan hidup kristiani mereka. Mungkin Anda belum tahu sampai sejauh mana tekad Anda telah menduduki kehidupan Anda.
Orang yang disebutkan dalam Roma 7 adalah orang yang hidup bersandarkan tekadnya sendiri. Semua yang “jahat” adalah perbuatannya, semua yang “baik” adalah tekadnya. Karena itu dia berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan” (Rm. 7:19). Semua yang “baik” itu ada di dalam tekadnya. Dia dapat menghibur diri dengan berkata, “Aku adalah orang yang mendambakan Allah. Aku adalah orang yang mau kehendak-Nya. Aku adalah orang yang mematuhi kehendak-Nya.” Dia dapat berkata, “Aku tidak ingin berdosa. Aku membenci dosa. Di hadapan Allah aku telah menetapkan untuk melayani-Nya. Semua tujuanku adalah untuk menyenangkan hati Allah.” Orang ini pun dapat berkata, “Aku mau kehendak Allah. Aku mau mencari perkenan-Nya. Aku mau melakukan semua perkara yang baik. Aku mau memuliakan Allah.” Dia benar-benar bertekad demikian, namun hanya berhenti sampai di sini. Dia salah paham dengan menyangka bahwa orang berbuat bajik atau tidak, itu tergantung pada apakah tekadnya telah memutuskan berbuat bajik atau tidak. Dia tidak tampak bahwa berbuat bajik atau jahat adalah masalah hukum, bukan masalah tekad. Dia tidak tampak bahwa walaupun dia telah memutuskan untuk berbuat bajik, itu hanya membawanya kepada kegagalan dan kekecewaan.
Hari ini, banyak saudara saudari berkata demikian, “Aku benar-benar mau kehendak Allah. Aku benar-benar mencari perkenan-Nya. Aku sungguh-sungguh mau bertindak menurut hukum Allah.” Pada satu pihak, mereka berkata demikian, tetapi pada saat yang sama, mereka masing-masing juga bertanya, “Mengapa aku tidak memperoleh apa yang kukejar di hadapan Allah? Mengapa yang kulakukan itu bukan apa yang kukehendaki? Mengapa aku tidak memperoleh apa yang kukehendaki, sebaliknya apa yang tidak kukehendaki malah kudapatkan?” Saudara saudari, melalui keadaan ini, Allah ingin memperlihatkan kepada Anda satu hal: kekuatan tekad Anda tidak dapat dijadikan kekuatan hidup Anda. Saudara saudari, mungkin Anda belum menyadari sampai seberapa jauh Anda telah hidup bersandarkan tekad Anda. Mari kita melihat bagaimana orang hidup bersandarkan tekadnya.
Ciri yang paling menonjol dari orang yang hidup bersandarkan tekadnya ialah mengekang diri sendiri. Banyak orang berusaha mengekang dirinya dengan ketat. Kita tidak mengatakan bahwa orang Kristen tidak perlu pembatasan, tetapi ingatlah, banyak orang Kristen yang hidup demikian, justru malah mengekang dirinya kuatkuat, menahan diri dengan sekuat tenaga. Ah, betapa meletihkan menjadi orang Kristen yang demikian. Sebagai orang Kristen, harus hati-hati dalam makan, berhati-hati dalam berjalan di jalan raya, berhati-hati dalam mengemudikan kendaraan, berhati-hati dalam berbicara dengan anggota keluarga. Dari pagi hingga petang harus selalu menjaga diri, barulah bisa kelihatan seperti orang Kristen dan tidak bercacat dalam hal berjalan, makan, dan bepergian. Anda harus mengekang diri dan menahan diri dengan ketat supaya dapat menjadi orang Kristen! Begitu kendur sedikit, segera gagal. Inilah keadaan kebanyakan orang Kristen yang hidup bersandarkan tekadnya. Dirinya sendiri dikekang erat-erat untuk menjadi orang Kristen; dia memaksa dirinya menjadi orang Kristen. Berbuat demikian sama dengan menyuruh air mengalir ke atas. Banyak orang Kristen yang memaksa dirinya untuk menjadi seorang yang lain, seperti menyuruh air mengalir ke atas. Mereka memaksa diri untuk menjadi orang yang bukan dirinya. Dia bukan orang macam itu, tetapi dengan gigih dia berusaha menjadi orang macam itu. Apa yang ia lakukan? Dia menggunakan tekadnya untuk memaksa diri. Banyak orang justru menjadi orang Kristen dengan cara ini. Mereka menganggap kekuatan tekad sebagai kekuatan hayat.
Kalau untuk menjadi orang Kristen Anda harus memeras banyak tenaga, ini berarti Anda bukan orang Kristen yang sejati. Orang Kristen yang sejati tidak perlu memeras tenaga untuk menjadi orang Kristen. Ah, betapa banyak hal yang sangat sulit untuk tidak kita lihat, betapa banyak perkara yang sulit untuk tidak kita lakukan, betapa banyak hal yang sulit untuk tidak kita makan! Oh, betapa besar tenaga yang harus kita lakukan agar kita benar! Betapa besar tenaga yang harus kita keluarkan untuk mengekang diri supaya jangan mengucapkan perkataan yang tidak boleh diucapkan! Betapa besar usaha yang perlu kita lakukan untuk mengekang diri supaya jangan pergi ke tempat-tempat terlarang! Kita tahu, terhadap hal-hal yang kita senangi, kita dengan wajar sekali melakukannya; kalau kita ingin tidak melakukannya, kita perlu memeras tenaga, memaksa diri supaya tidak melakukannya. Misalnya, Anda adalah orang yang dibesarkan di daerah “X”, perlukah Anda berkata, “Aku harus memaksa diri untuk berbicara bahasa ‘X’. Aku harus berketetapan berbicara bahasa ‘X’. Bagaimanapun, aku ingin berbahasa ‘X’. Aku harus hati-hati supaya jangan berbahasa lainnya”? Tidak! Anda tidak perlu bertekad demikian. Karena Anda orang “X” dan dibesarkan di daerah “X”, dengan sendirinya Anda akan berbahasa “X”. Jika Anda bukan orang “X”, maka Anda perlu berusaha agar berbahasa “X”.
Anda bukan orang macam itu, tetapi Anda berusaha untuk menjadi orang macam itu, inilah yang disebut “hidup bersandarkan tekad”. Jika Anda bukan orang macam itu, lalu Anda memaksa diri untuk menjadi orang macam itu, maka Anda harus menggunakan tekad Anda. Kita adalah makhluk darat, dengan sendirinya kita hidup di darat. Jika kita ingin hidup di dalam air, kita tidak bisa tidak menggunakan tekad kita.
Setiap orang yang menjadi Kristen dengan kekuatan tekadnya, maka atas dirinya hanya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang tersebut belum dilahirkan kembali, belum pernah terlahir dari Allah dan belum pernah memperoleh hayat Allah. Karena itu dia harus memaksa diri untuk menjadi orang Kristen. Banyak orang yang disebut Kristen sebenarnya bukan orang Kristen, tetapi hanya berpura-pura menjadi orang Kristen. Orang Kristen berkidung, memuji Tuhan; karena dia ingin menjadi orang Kristen, maka dia terpaksa menyanyikan beberapa kidung Kristen. Orang-orang Kristen berseru “Haleluya!”, karena ia ingin menjadi orang Kristen, maka dia juga harus berseru “Haleluya”. Tetapi, meskipun dia menyanyikan pujian ataupun berhaleluya, semuanya dilakukannya dengan terpaksa. Ketika orang-orang Kristen yang lain berbicara, terasa ada sesuatu yang riil, namun dia sama sekali tidak merasakannya. Orang macam ini berpura-pura menjadi orang Kristen, maka ia memaksa diri dan mengeluarkan banyak tenaga.
Kemungkinan kedua, ia telah dilahirkan kembali, telah menjadi anak Allah, tetapi ia tidak percaya kepada hayat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya. Dia memiliki hayat, tetapi ia tidak bersandar kepada hayat ini untuk menempuh hidup. Dia beroleh selamat secara serampangan; terhadap kelahiran kembali, ia sama sekali tidak jelas. Dia tidak mendengar Injil yang lengkap, dia tidak sepenuhnya percaya kepada firman Allah! Dia gagal dan gagal, sama sekali lemah. Dia tidak percaya bahwa hayat yang ada di dalamnya dapat menelan maut. Dia terbiasa berdosa dan cukup banyak mengalami kegagalan, karena itu dia mengatakan bahwa hidup orang Kristen hanya begitu saja. Dia menganggap dirinya adalah orang Kristen standar.
Saudara saudari, jangan karena Anda belum pernah mengalami kekuatan-Nya yang dahsyat, lalu Anda beranggapan bahwa hayat Allah yang dikaruniakan kepada Anda itu lemah dan tidak berdaya seperti halnya Anda. Puji syukur kepada Tuhan, hayat Allah mempunyai kekuatan yang besar! Asal orang mau percaya kepada firman-Nya, hayat Allah pasti menyatakan kekuatan-Nya yang hebat di atas dirinya. Mengapa hayat Allah tidak dapat menyatakan kekuatan-Nya yang hebat atas diri banyak orang? Karena mereka sama sekali tidak mempunyai hayat Allah, atau karena mereka tidak percaya sepenuhnya kepada Allah. Ketika seseorang benar-benar percaya, dia akan menyaksikan bahwa perkataan Allah mutlak dapat dipercaya.
HUKUM HAYAT MEMERDEKAKAN KITA
Paulus, orang yang berseru dengan lantang, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”, pada suatu hari telah mendapatkan keselamatan. Selanjutnya dia berkata, “Hukum Roh yang memberi hayat telah memerdekakan aku dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Tl.). Ini bukan satu karunia baru bagi kita, tetapi memerlukan satu wahyu yang baru; bukan satu pemberian baru, tapi perlu satu visi yang baru; bukan menerima sesuatu yang baru dari tangan Allah, tetapi menemukan sesuatu di dalam kita yang telah diberikan Allah kepada kita. “Hukum Roh yang memberi hayat telah memerdekakan aku dalam Kristus Yesus!” Menurut bahasa Yunaninya, kata “memerdekakan” dalam ayat ini ditulis dalam bentuk waktu yang lampau; yaitu “telah dimerdekakan”. Perkataan “telah” dalam versi bahasa Mandarin juga jelas menunjukkan waktu lampau. Hukum Roh yang memberi hayat telah memerdekakan aku! Ia bukan “akan memerdekakan”, atau “segera akan memerdekakan”, atau “dapat memerdekakan” atau “bermaksud untuk memerdekakan”, tetapi ia “telah memerdekakan”. Hukum Roh pemberi-hayatlah yang telah memerdekakan aku, sehingga aku terlepas dari hukum dosa dan hukum maut.
Kita harus tahu bahwa pengalaman dalam Roma 7 sebenarnya tidak perlu terjadi, demikian pula tindakan dalam Roma 7. Haleluya! Pengalaman Roma 7 sama sekali tidak perlu terjadi dan tindakan dalam Roma 7 juga sama sekali tidak perlu terjadi. Jadi, tekad dalam Roma 7 lebih-lebih tidak perlu ada! Misalnya, Anda bermarga “Wangsa”. Setiap hari Anda dipanggil “Wangsa”, dan bahkan sampai berpuluh-puluh tahun kemudian Anda tetap dipanggil “Wangsa”. Tidak pernah Anda menggunakan tekad Anda untuk dinamai “Wangsa”; juga tidak pernah Anda berketetapan untuk dipanggil “Wangsa”. Mengapa? Karena nama marga Anda adalah “Wangsa”. Jika Anda adalah “Wangsa”, Anda tidak perlu merindukan untuk dinamai demikian. Jika Anda rindu untuk dinamai “Wangsa”, berarti Anda bukan orang yang bermarga “Wangsa”. Di sini, Anda perlu tampak satu hal: Jika Anda ada di dalam Tuhan, maka Tuhan akan mempergunakan satu hukum yang lain, yaitu hukum Roh yang memberi hayat, untuk memerdekakan Anda dari hukum dosa dan hukum maut. Begitu Anda tampak ini, dengan spontan Anda akan berkata, “Syukur kepada Tuhan! Puji Tuhan! Aku sama sekali tidak perlu bertekad. Jika aku melepaskan tekadku, aku tidak akan jatuh ke tanah, aku akan jatuh ke dalam hukum yang lain. Syukur kepada Tuhan, inilah suatu fakta! Setiap orang Kristen yang berpengalaman pasti memahami makna perkataan ini.
Banyak orang Kristen yang khawatir, “Jika aku tidak menggunakan kekuatan tekad untuk memutuskan, jika aku tidak menggunakan kekuatan tekad untuk menguasai diri agar menjadi orang Kristen, atau jika aku lepas tangan, maka semuanya akan berantakan!” Banyak orang Kristen berkata, “Aku tidak boleh melepaskan peganganku. Jika aku melepaskannya, segalanya pasti berantakan! Meskipun setiap hari aku telah mengekang diriku, tetapi aku masih belum bisa berbicara dengan baik, masih belum bisa berjalan dengan baik, dan aku masih lemah dan gagal. Apalagi kalau aku lepas tangan!” Demikianlah banyak orang Kristen dipenuhi dengan kekhawatiran sehingga tidak berani lepas tangan. Tetapi firman Allah sangat jelas. Jika Anda percaya Allah telah memberi Anda sesuatu, dan Anda melepaskan pegangan Anda, Anda tidak akan jatuh ke tanah, melainkan akan jatuh ke dalam satu hukum yang baru.
Semoga Allah mencelikkan mata kita, agar kita tampak bahwa tak seorang pun dapat melawan hukum dosa dan hukum maut dengan menggunakan tekadnya; tak seorang pun dapat melawan hukum dosa dengan bertekad untuk berbuat baik. Tak seorang pun dapat melawan hukum dosa dan hukum maut dengan menggunakan tekadnya untuk melakukan kehendak Allah. Tekad selamanya tidak pernah dapat melawan hukum dosa dan hukum maut! Syukur kepada Allah! Puji Allah! Ada satu hukum baru yang dapat mengalahkan hukum dosa dan hukum maut. Syukur kepada Tuhan! Puji Tuhan! Ia bukan hanya hayat yang baru; tetapi juga satu hukum yang baru.
Alangkah menggembirakan, hayat ini adalah satu hukum! Allah bukan hanya memberi kita Roh Kudus, tapi juga hukum Roh Kudus. Allah tidak hanya memberi kita hayat, tapi juga hukum hayat. Dulu kita mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa kita, tidak hanya ada dosa dan maut, juga ada hukum dosa dan hukum maut. Kita tidak perlu bertekad dan berusaha keras dengan berkata, “Aku harus berdosa”, melainkan ada satu hukum yang membuat kita tidak dapat tidak berdosa. Kalau hari ini Allah hanya memberi kita satu hayat, maka cukup beralasanlah jika kita kadang-kadang baik dan kadang-kadang tidak baik. Tetapi yang Allah berikan ialah satu hukum hayat; di dalam kita ia dapat diandalkan, setiap saat tanpa kecuali. Ingatlah, dosa adalah suatu hukum, maut juga adalah suatu hukum. Sama seperti dosa dan maut selalu demikian, pasti, tanpa kecuali dan tidak berubah; demikian pula hayat yang Tuhan berikan kepada kita. Hayat yang di dalam kita ini, selalu demikian, pasti, tanpa kecuali dan tidak berubah. Bukan hanya ada hayat, tetapi juga ada hukum hayat, itulah sebabnya kita berani melepaskan pegangan kita! Karena saya melihat bahwa ini adalah satu hukum, maka saya berani melepaskan pegangan saya. Karena saya melihat ada harta mustika di dalam saya, maka semua kemuliaan bukan untuk diri saya, melainkan untuk Tuhan yang bangkit dari kematian. Bila kita telah tampak ini, kita pasti memuji Allah.
Saudara saudari, jika Anda hidup dalam hukum yang lain, jika Anda hidup dalam hukum yang baru, Anda akan melihat satu perkara yang sangat ajaib, yaitu sedikit pun Anda tidak merasakan adanya hukum yang lama. Anda perlu mengingat firman dalam Alkitab, “Karena hukum Roh hayat telah memerdekakan aku dalam Kristus Yesus dari hukum dosa dan hukum maut.” Di sini tidak dikatakan, “Membatalkan hukum dosa dan hukum maut”, atau “meniadakan hukum dosa dan hukum maut”, tetapi “memerdekakan kamu dari hukum dosa dan hukum maut”. Hukum dosa dan hukum maut masih ada, tetapi Anda tidak hidup di bawah kuasanya; Anda hidup dalam hukum yang baru.
Saudara saudari, jika Anda ingin memahami apakah hukum hayat itu, lihat dan amatilah burung-burung di udara. Bagaimanakah mereka dapat terbang? Mereka dapat terbang karena hayat mereka mempunyai hukum yang dapat terbang. Di dalam mereka ada hayat, di dalam hayat itu ada satu hukum, dan hukum itulah yang membuat mereka dapat terbang. Hayat itu mempunyai satu hukum yang membuat makhluk-makhluk itu dapat mengungguli gravitasi bumi sehingga mereka dapat terbang di udara. Jika pada suatu hari terjadi hujan salju yang lebat dan seekor burung gagak atau burung gereja jatuh mati di halaman rumah Anda, maka Anda akan melihat betapa besarnya pengaruh gravitasi itu. Gravitasi bumilah yang menariknya ke tanah; gravitasi itu selalu ada. Jika burung itu hidup, hayatnya mempunyai satu hukum yang membuatnya unggul atas gravitasi bumi serta terbang di udara. Begitu hayatnya mati, hukum hayat juga mati, maka hukum gravitasi segera mengalahkannya.
Syukur kepada Tuhan! Hari ini kita benar-benar telah dirahmati Allah dengan memberikan kepada kita satu hayat baru dan juga hukum baru yang membuat hukum dosa dan hukum maut seolah-olah tidak bereksistensi lagi bagi kita. Hukum dosa dan hukum maut tidak dilenyapkan, tetapi seolah-olah tidak ada lagi. Allah tidak menyingkirkan gravitasi bumi, melainkan memberikan satu hukum hayat yang lain kepada burung-burung, agar burung-burung dapat terbang mengungguli hukum gravitasi. Kita tahu, ketika tubuh kita sehat dan kuat, kita sedikit pun tidak merasakan hukum gravitasi; hanya pada waktu tubuh kita lemah, kita segera merasakan hukum gravitasi. Ketika Anda sakit, berjalan membuat Anda merasa penat, berdiri membuat Anda merasa letih, duduk pun merasa lelah. Hanya berbaringlah yang membuat Anda tidak merasa terlalu lelah. Mereka yang tubuhnya sangat lemah, paling merasakan kekuatan gravitasi. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita masih hidup sehat, sehingga kita tidak begitu merasakan gravitasi bumi. Suatu hari ketika hayat kita mendekati ajal, gravitasi bumi akan ternyata sangat kuat. Sampai suatu hari, ketika Anda harus menggotong sesosok mayat, Anda akan tahu betapa besarnya gravitasi bumi. Anda tidak dapat tidak menyangganya; sekali Anda melepaskan topangan tangan Anda, ia segera jatuh.
Ada orang telah menjadi Kristen selama dua puluh atau tiga puluh tahun, tetapi mereka masih tidak tahu bahwa dosa dan maut adalah suatu hukum, demikian juga hayat adalah suatu hukum. Kita perlu tahu bahwa jalan keselamatan Allah tidak menuntut kita bertekad menjadi orang yang lain, melainkan ada satu hayat di dalam kita yang menyelamatkan kita dari hukum dosa dan hukum maut. Allah tidak menyuruh Anda bertekad, berharap, merindukan atau berketetapan untuk menjadi orang Kristen yang begini atau begitu. Jika Anda melakukannya bersandarkan tekad Anda, setiap hari Anda akan terkatung-katung tidak menentu, dan itu sangat berat. Pernahkah Anda bertemu dengan seorang Kristen yang banyak bicara? Menyuruhnya sedikit bicara, sangatlah berat. Ada kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan, namun dia tidak mampu menahan diri untuk tidak mengucapkannya. Baginya, tidak mengucapkan sungguhlah berat. Pernahkah Anda bertemu dengan orang Kristen yang emosional? Menyuruhnya bersabar, sangatlah sulit; menyuruhnya bersabar, seolah-olah akan menyekapnya sampai sakit. Tetapi syukur kepada Allah, jalan keselamatan-Nya bukan menuntut kita menjadi orang yang lain, melainkan ada satu hukum hayat yang baru yang tertampil dari dalam kita. Ketika hukum hayat ini tertampil, dosa seolah-olah tidak ada lagi, dan kuasa maut juga seolah-olah tidak ada lagi. Ketika tubuh saya sehat, berjalan di jalan raya sama sekali tidak menjadi masalah bagi saya, seolah-olah tidak ada lagi gravitasi bumi; saya dapat mengangkat kaki saya, karena di dalam saya ada kekuatan yang lebih besar daripada hukum gravitasi. Inilah yang disebut “hukum hayat”.
OPERASI HUKUM HAYAT
Satu hal yang perlu kita pelajari secara praktis, yaitu bagaimana mengenal operasi hukum Roh hayat di dalam kita.
Tuhan menggunakan hukum Roh hayat untuk menyelamatkan kita dari hukum dosa dan hukum maut. Dia menggunakan hukum ini untuk mengalahkan hukum itu; Dia menggunakan hukum hari ini untuk mengalahkan hukum yang lalu. Bagaimana hukum ini dapat terekspresi di atas diri orang Kristen? Bagaimana kita dapat melihat bahwa hukum Roh hayat ada dalam orang Kristen? Kita dapat melihatnya dari beberapa aspek.
Pertama, kita dapat melihatnya dari sisi pengetahuan. Hukum Roh Hayat di atas diri semua anak Allah akan menyatakan pengetahuannya. Seharusnya tidak ada orang Kristen yang bodoh. Semua orang Kristen (mengacu kepada orang Kristen yang sejati) seharusnya mempunyai pengetahuan. Apa pun yang Anda hadapi, Roh hayat di dalam Anda akan memberi Anda pengetahuan. Tidak ada seorang Kristen pun yang dapat berkata bahwa dia tidak tahu apa-apa. Setiap orang Kristen harus mengakui bahwa Tuhan telah berbicara. Paling jauh ia hanya bisa berkata, “Aku tidak mendengarkan”, tetapi dia tidak dapat berkata, “Tuhan tidak berbicara.” Benarkah kita tidak mengetahui kehendak Allah? Benarkah kita tidak tahu bahwa sesuatu itu boleh dilakukan atau tidak? Tidak mungkin demikian. Seorang beriman yang paling lemah pun, atau seorang yang baru saja percaya kepada Tuhan Yesus, baru memiliki hayat di dalamnya, begitu ia percaya kepada Tuhan dan Roh hayat berhuni di dalamnya, hukum itu juga ada di dalamnya; hukum ini akan memberi tahu dia apa yang harus diketahuinya. Banyak hamba Tuhan yang telah bertemu dengan banyak anak Allah di berbagai tempat, menyimpulkan bahwa di antara anak-anak Allah tidak ada yang tidak mengenal kehendak Allah; yang ada adalah mereka tidak patuh, tidak ada yang tidak berpengetahuan. Misalnya, ketika Anda terlalu banyak berbicara, tidakkah Anda merasakan sesuatu yang menahan di dalam Anda? Kadang-kadang ketika Anda ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tidakkah Anda merasa ada sesuatu di dalam Anda, yang mencegah Anda agar tidak mengucapkannya? Saudara saudari, hayat ini di dalam Anda selalu menyatakan hukumnya.
Anehnya, banyak anak Allah yang malah mengira bahwa mereka telah menerima hayat Allah, tanpa menerima hukum hayat Allah. Sungguh satu perkara yang sangat janggal, jika manusia dapat memperoleh suatu hayat tanpa menerima hukum hayatnya. Kita harus tahu bahwa hayat dan hukum hayat saling berkaitan. Di mana ada hayat, di situ juga ada hukum hayat; hayat dan hukum hayat tidak dapat dipisahkan. Jika ada hayat, tentu juga ada hukum hayat. Anda memiliki hayat Allah di dalam Anda. Bila Anda memerlukan pengetahuan, yang ada di dalam Anda itu akan memberikan pengetahuan. Bukan hanya terhadap masalah-masalah besar, tetapi juga terhadap masalahmasalah yang paling kecil, sewaktu Anda belum menyadarinya, ia akan memberi tahu Anda. Adakalanya ketika Anda mengunjungi rumah seseorang, dengan langkah yang agak keras Anda menaiki tangga rumahnya. Sementara Anda berjalan naik tangga, ada suara di dalam Anda berkata, “Ini tidak benar.” Berjalan naik tangga bukanlah masalah yang besar, tetapi ketika suara langkah Anda agak keras, manusia batiniah Anda akan menegur Anda. Adakalanya Anda ingin mengambil sebuah buku dari rak buku teman Anda untuk dibaca, tetapi dari dalam batin ada suara mengatakan, “Ini tidak benar. Buku itu milik orang lain. Kamu belum minta izin, dan si pemilik belum memberi izin, bagaimana Anda boleh mengambil dan membacanya?”
Saudara saudari, hukum hayat benar-benar telah ada di dalam kita. Masalahnya sekarang, banyak orang yang tidak mau berjalan menurut hukum ini. Orang yang hidup bersandarkan hayat ini, perasaannya pasti sangat halus. Anda mempunyai hukum hayat di dalam Anda, dan hukum ini membuat Anda tampak bahwa Anda tidak boleh melanggar hak orang lain; suara Anda yang terlalu keras itu tidak pantas; gaya tertawa Anda itu tidak benar; maksud perkataan Anda itu tidak benar; kalaupun ada berpuluh-puluh ribu masalah, hukum ini tetap akan memberi tahu Anda apa yang harus Anda perbuat. Bahkan orang yang berkebudayaan rendah dan tidak banyak menerima pendidikan pun, asalkan dia telah menerima hayat Tuhan, maka hukum hayat juga akan ada di dalamnya. Hukum hayat ini akan memberinya pengetahuan dan kehidupan orang itu akan makin mengekspresikan Allah.
Mengapa banyak orang Kristen yang berdiri pada posisi yang salah, namun masih tidak menyadarinya? Mengapa mereka telah melakukan banyak kesalahan, namun tetap tidak menyadarinya? Bukan karena mereka tidak mempunyai hayat, juga bukan karena mereka tidak mempunyai hukum hayat, melainkan karena mereka tidak belajar mengikuti hukum hayat yang ada di dalam mereka.
Hukum ini juga mengekspresikan dirinya dalam aspek kasih. Adakalanya Anda merasa saudara tertentu sungguh menjengkelkan, seolah-olah Anda tidak dapat bergaul dengan dia. Jika Anda ingin mengasihinya, Anda harus berusaha keras. Anda berkata, “Aku mau mengasihinya, aku memutuskan untuk mengasihinya. Aku berdoa kepada Tuhan agar membuatku bisa mengasihinya.” Sesaat kemudian, ketika Anda berhadapan dengannya, Anda tidak dapat mengasihinya. Paling jauh Anda hanya dapat menganggukkan kepala kepadanya. Tetapi segera Anda berpikir, “Aku orang Kristen, aku harus bertegur-sapa dengannya, barulah hati nuraniku terasa damai.” Ingatlah, berbuat demikian berarti Anda telah menggunakan tekad Anda. Anda melakukannya karena tekad, bukan karena mengasihinya. Jika Anda orang Kristen, Anda tidak perlu bertekad untuk mengasihinya. Sering kali bahkan berdoa pun tidak perlu. Mengapa demikian? Karena ada satu hukum di dalam Anda. Ketika Anda bertemu dengan saudara tersebut, Anda tahu bahwa persona Anda tidak dapat bergaul dengannya, Anda tahu bahwa ia sangat menjengkelkan dan selintas pandang saja akan membuat Anda marah. Namun ketika Anda berada di hadapannya, Anda merasa bahwa tidak menyukainya itu tidak benar, batin Anda sama sekali tidak ‘amin’, dan bahkan ada sesuatu di dalam Anda yang mengasihinya, yang memberi tahu, “Dia adalah milik Allah, dia saudaramu, dia dikasihi Tuhan Yesus.” Di dalam Anda ada perasaan dan perkataan yang demikian.
Saudara saudari, ketika Anda berada dalam situasi seperti ini, Anda tidak perlu melakukan apa-apa di hadapan Allah, berdoa pun tidak perlu. Anda cukup menengadah kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak mampu! Engkaulah yang mampu.” Anda tidak perlu berusaha, Anda cukup berkata, “Tuhan, karena Engkau yang berkata bahwa dia patut dikasihi, maka aku mengasihinya.”
Kegagalan terbesar dari kebanyakan orang Kristen ialah menggunakan tekadnya dalam masalah ini. Ketika Anda merasa bahwa dia menjemukan, Anda segera bertekad untuk memperlakukannya dengan baik. Begitu Anda menghadapi suatu masalah, Anda segera menggunakan tekad Anda untuk mengatasi masalah tersebut. Ketika berjumpa dengan orang yang tidak dapat Anda kasihi, Anda segera berusaha untuk mengasihinya. Hasilnya, setelah berusaha keras, Anda tetap tidak mengasihinya. Pada saat itu, Anda harus berhenti berusaha. Katakanlah kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak mampu mengasihinya. Tuhan aku tahu bahwa di dalamku ada satu hayat dan hayat ini mengasihinya.” Anda cukup demikian sederhana, tidak perlu dipikirkan, tidak perlu memohon. Berkatalah, “Tuhan, biarlah aku dengan mutlak hidup bersandarkan hukum hayat.” Anda sama sekali tidak perlu berusaha. Anda percaya bahwa di dalam Anda ada satu hukum dan hukum itu mengasihi saudara-saudara. Karena hayat inilah Anda berani menemuinya dan bercakap-cakap dengannya. Ajaib sekali, tanpa Anda sadari, Anda telah bercakap-cakap dengan dia secara baik (perhatikan kata “tanpa Anda sadari”); tanpa Anda sadari, Anda mengasihinya; tanpa Anda sadari, Anda telah memperlakukannya sebagai seorang saudara; Anda bercakap-cakap dan bersekutu dengannya. Ketika Anda pulang, Anda sendiri akan heran dan berkata, “Tadi aku tidak berusaha apa-apa. Ajaib sekali, Tuhan telah memimpinku.” Saudara saudari, hukum hayatlah yang tanpa Anda sadari telah membuat Anda menang. Dalam hal ini sedikit pun tidak memerlukan kekuatan tekad Anda.
Jika kita mengenal Allah, kita akan tahu bahwa hukum Roh hayat Allah sangatlah wajar, spontan, tidak dibuat-buat; seperti halnya hukum dosa dan hukum maut itu wajar. Haleluya! Ia sangat spontan. Untuk berbuat dosa, Anda tidak perlu menggunakan tekad, hukum itulah (hukum dosa dan hukum maut) yang melakukannya bagi Anda. Demikian pula, Anda tidak perlu bertekad untuk melakukan kebajikan, hukum Roh hayat itulah yang melakukannya bagi Anda. Anda tidak perlu menggunakan tekad untuk menipu, tamak akan uang, dan marah-marah, karena ada satu hukum yang membuat Anda menipu, tamak akan uang, dan marah-marah. Kesucian, kebenaran, kasih, dan kekudusan juga tidak memerlukan tekad, ada satu hukum di dalam Anda yang menghasilkan hal-hal tersebut. Menggunakan tekad adalah pekerjaan manusia, bukan pekerjaan Tuhan. Inilah perbedaan yang mendasar. Hukum yang Tuhan berikan kepada kita adalah satu hukum yang sangat spontan.
Sering Anda menyadari bahwa Anda adalah orang yang banyak mulut. Anda terlalu banyak bicara, sehingga kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan terucap juga. Anda pun menjadi takut kepada diri sendiri; tidak tahu mengapa Anda demikian banyak bicara. Karena itu, ketika berkontak dengan orang lain, Anda merasa khawatir dan selalu mengingatkan diri sendiri, “Aku adalah orang Kristen. Aku harus memuliakan nama Tuhan. Aku tidak boleh banyak bicara.” Lalu, apa yang Anda lakukan? Anda menggunakan tekad! Anda bertekad dan berkata, “Hari ini aku harus berhati-hati, jangan berbicara terlalu banyak.” Anda mengekang diri selama satu jam, dua jam, sangat terikat. Jika keadaan ini dipertahankan lebih lama lagi, sungguh akan menyulitkan Anda. Entah berapa kali Anda harus berdoa, “Tuhan, aku tidak boleh banyak bicara. Jika aku banyak bicara, aku bukan orang Kristen. Tuhan, belas kasihanilah aku, tolonglah aku, jagalah aku!”
Saudara saudari, jika Anda benar-benar ingin tidak banyak bicara, ini tidaklah memerlukan tekad Anda. Tuhan hidup di dalam Anda dan hayat Tuhan ada di dalam Anda. Hayat itu mempunyai satu hukum dan ketika hukum itu dinyatakan di dalam Anda, Anda sama sekali tidak perlu khawatir. Katakan saja kepada Tuhan, “Tuhan, hari ini aku mau berkunjung ke rumah saudara A. Tuhan, aku tidak akan menetapkan apa-apa. Aku tidak mengendalikan mulutku. Aku tahu, orang macam apa aku ini; aku tahu bahwa aku adalah orang yang banyak bicara. Tetapi Tuhan, aku percaya, aku sungguh-sungguh percaya bahwa hukum Roh hayat yang telah Kau berikan kepadaku telah memerdekakan aku, sehingga aku diselamatkan dari hukum banyak bicara itu.” Hal ini tidak berarti ketika Anda pergi ke rumah itu, Anda terus-menerus berkata, “Aku percaya firman Tuhan.” Jika demikian, berarti Anda menggunakan tekad lagi. Jika Anda benar-benar percaya, Anda akan melupakannya, mengesampingkannya dan bahkan tanpa memikirkannya lagi Anda dengan spontan pergi ke sana. Ajaib sekali, ketika Anda tidak menggunakan tekad untuk mengekang diri dan pada saat yang bersamaan Anda percaya pada firman Tuhan, Anda tidak perlu bertekad, Anda tidak khawatir dan bahkan tidak memikirkannya. Kalaupun teringat, Anda akan merasa seolah-olah hal itu mustahil terjadi. Hasilnya, Anda dapat duduk selama dua atau tiga jam, atau Anda dapat tinggal selama dua atau tiga hari tanpa merasa terganggu. Ketika Anda pulang, Anda akan berkata, “Aku sama sekali tidak khawatir. Aku sama sekali tidak berhati-hati. Aku sama sekali tidak mengekang diri agar jangan banyak bicara. Bagaimana aku bisa tidak banyak bicara?” Saudara saudari, inilah hukum hayat yang menyelamatkan Anda dari banyak bicara Anda. Inilah kehidupan orang Kristen. Bukan pekerjaan tekad, melainkan satu hukum. Hukum ini adalah hayat yang sangat spontan. Hukum hayat yang di dalam kita, sama seperti hukum dosa dan hukum maut yang juga adalah suatu hukum. Sebagaimana hukum dosa dan hukum maut adalah hukum yang sangat spontan, demikian pula hukum hayat yang telah kita dapatkan hari ini, juga sangat spontan.
Oh, saudara saudari, jika kita ingin membahas masalah ini satu per satu, masih banyak yang dapat dikisahkan. Betapa banyak pengalaman yang dapat dikisahkan untuk membuktikan kebenaran ini. Kemenangan kita bukan kemenangan tekad, melainkan kemenangan hukum hayat. Ketika Anda memerlukan pengetahuan, ada satu hukum di dalam Anda yang terus-menerus memberikan pengetahuan sehingga Anda tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ketika Anda hampir melakukan sesuatu, ada satu kekuatan di dalam Anda yang mencegah Anda secara spontan. Dalam seluruh kehidupan Anda, Anda akan melihat fungsi dari hukum ini. Dalam kehidupan kebanyakan orang Kristen, terlalu banyak kepura-puraan dan terlalu banyak sandiwara (penampilan luaran). Banyak orang Kristen berusaha “menjadi” orang Kristen; kehidupan mereka dari hari ke hari adalah satu “sandiwara”. Oh, bila Anda tampak hukum hayat, hal pertama yang akan Anda perbuat ialah menanggalkan perbuatan “luaran” Anda. Banyak orang mengucapkan perkataan-perkataan rohani, mempunyai sikap rohani, namun sebenarnya “diri” mereka sendirilah yang melakukannya. Bila ia tampak hukum hayat, hal pertama yang akan dilakukannya ialah menyingkirkan pekerjaan diri sendiri. Penampilan luaran atau sandiwara adalah perkara yang paling merusak hidup kekristenan. Banyak orang Kristen sedang bersandiwara. Mereka mengira, bila sandiwaranya baik, mereka akan menjadi orang Kristen yang baik. Ekspresi-ekspresi rohani dari kebanyakan orang Kristen adalah pekerjaan manusia, adalah pekerjaan tekad. Jika kita tampak hukum Roh hayat, kita akan menghentikan semua sandiwara kita. Ketika semua sikap menjadi wajar, semua perkataan dan doa-doa kita juga wajar, maka seluruh kehidupan kita pun wajar. Dengan hukum ini di dalam Anda, alangkah wajarnya kehidupan Anda. Anda tidak perlu berusaha keras, tidak perlu menggunakan tekad untuk berketetapan; Anda akan hidup dengan sangat wajar. Demikianlah setelah seharian, sementara berbaring di tempat tidur pada malam hari, Anda akan berkata, “Hari ini aku sama sekali tidak berpikir untuk menjadi seperti orang Kristen, tetapi aku telah hidup sebagai orang Kristen. Hari ini aku tidak berusaha untuk melakukan sesuatu, tetapi Tuhan membawaku melaluinya.”
Saudara saudari, jika Anda mengesampingkan tekad Anda, Anda tidak akan menjadi lebih buruk daripada apa adanya Anda hari ini. Jika Anda melemparkan tongkat tekad Anda, Anda tidak akan jatuh, sebaliknya Anda akan menjadi orang yang wajar. Sering kali Anda berdoa, menginginkan ini dan itu di hadapan Allah, Anda seperti Yakub yang memegang erat Allah. Tetapi ketika Anda berjalan di hadapan Allah, Anda akan tampak bahwa Anda telah berubah menjadi orang yang lemah lembut di tangan Tuhan. Bukan karena Anda berpura-pura menjadi lemah lembut, melainkan karena Anda memang lemah lembut. Dengan sederhana Anda menjadi orang Kristen, Anda telah memuliakan nama Allah. Yang Tuhan berikan kepada Anda adalah hayat. Hayat itulah yang beroperasi dan yang berbicara di dalam Anda; bukan Anda sendiri yang meronta-ronta, juga bukan Anda sendiri yang mengerjakannya.
Terakhir, marilah kita kembali kepada kedua ayat ini: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Karena hukum Roh yang memberi hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Tl.). Allah menggunakan hukum yang kedua untuk menyelamatkan kita dari hukum yang pertama; Allah menggunakan hukum yang baru untuk menyelamatkan kita dari hukum yang lama. Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada saudara saudari, yaitu: Berapa jauhkah pengenalan Anda terhadap hukum yang baru ini? Apakah hidup kristiani Anda bersandarkan tekad Anda, atau Anda membiarkan hukum yang baru ini terekspresikan dari dalam Anda? Apakah Anda sendiri yang menjadi orang Kristen, atau ada satu hukum yang sangat wajar di dalam Anda yang membuat Anda hidup sebagai orang Kristen dengan sangat wajar? Saudara saudari, Anda boleh bermegah atas pengetahuan Anda, Anda boleh menyombongkan kekuatan Anda; Anda boleh membanggakan pekerjaan Anda, pengorbanan Anda, kecerdasan Anda; dalam hal-hal tersebut Anda boleh sombong. Tetapi jika Anda tidak memiliki hukum ini, maka sebenarnya tidak ada satu pun yang dapat Anda sombongkan, sebab Anda belum mempelajari pelajaran pertama orang Kristen. Ini adalah pelajaran pertama dalam hidup kekristenan. Hidup orang Kristen sangatlah spontan. Hayat yang disebut dalam Roma 8 tidak memerlukan usaha keras; dalam hayat ini semuanya berlangsung secara wajar, spontan.
Semoga Tuhan memberi karunia kepada kita, sehingga kita boleh benar-benar berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku mau hidup di hadapan-Mu. Aku mau percaya kepada firman-Mu. Aku percaya, ketika aku dilahirkan kembali, hukum hayat telah ada di dalamku. Hukum itu lebih besar daripada hukum dosa dan hukum maut. Hukum dosa dan hukum maut membuatku berdosa dengan spontan. Hukum hayat tentu juga dengan spontan membuatku bersandar kepada Allah, melayani Allah, memuliakan Allah dan memuji Allah.”