Daftar isi Dua Belas Bakul (7) · bab 12/12

Kehidupan yang Dalam

“Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar.”

Markus 4:5-6, 16-17

“Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut daripada mereka. Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar. Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon.”

Hosea 14:5-7

“Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai.”

Kidung Agung 4:12

Dari ketiga bagian ayat Alkitab di atas, kita akan melihat bahwa dalam kehidupan orang Kristen, sebenarnya kehidupan macam apa yang diperkenan Allah, kehidupan macam apa yang bisa berlangsung terus-menerus tidak berubah, kehidupan macam apa yang tahan pukulan, tahan ujian. Mengapa ada orang Kristen yang pada mulanya keadaannya baik, tetapi tidak lama, kemudian entah pergi ke mana? Mengapa ada orang yang berjalan sampai tengah jalan lalu gagal? Mengapa ada orang yang mengikuti Tuhan tidak bisa mengikuti sampai kepada kesudahannya? Semuanya itu berhubungan erat dengan keadaan hidupnya. Tanpa satu kehidupan yang normal, orang Kristen tidak akan bisa kukuh, mudah sekali hilang. Sebab itu, kita tidak bisa mengabaikan masalah ini.

KEHIDUPAN YANG DANGKAL

Injil Markus 4:5-6 mengatakan, “Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.” Ini adalah salah satu bagian dalam perumpamaan menabur benih yang diucapkan oleh Tuhan Yesus. Dalam ayat 16 dan 17 Tuhan Yesus menjelaskan perumpamaan ini, “Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.” Dari penjelasan Tuhan kita tampak bahwa kehidupan semacam ini adalah kehidupan yang dangkal, yang tidak bisa tahan lama, tidak tahan ujian. Kehidupan semacam ini pada awalnya kelihatan baik, tetapi kesudahannya tidak baik. Kehidupan semacam ini menurut penampilan luarnya adalah “segera tumbuh”. Bertumbuh berarti kulit luar benih itu telah terbelah dan tunasnya telah tumbuh. Jadi, firman di atas diri orang itu tidak hanya berupa firman bahkan telah menjadi hayat. Sudah bertumbuh, bahkan bertumbuh dengan cepat. Menurut penampilannya, perkembangannya yang cepat, dan kemajuannya yang cepat, orang boleh merasa puas. Tetapi setelah itu kesudahannya sangat mengecewakan, karena begitu matahari terbit, ia tidak tahan, layu, dan menjadi kering. Cepat bertunas, tetapi juga cepat menjadi kering. Tunas yang tidak tahan terik matahari, sulit mempunyai harapan menjadi matang; tunas yang tidak tahan terik matahari, cepat sekali layu dan kering.

Banyak kehidupan orang Kristen yang keadaan kehidupannya demikian. Banyak orang Kristen, ketika baru mendengarkan firman, menerimanya dengan cepat dan senang, mengira dirinya telah memiliki segalanya, melebihi segalanya, bahkan mau mengeluarkan harga berapa pun, mau menempuh jalan apa pun. Di hadapan Allah, dia mempunyai minat, mempunyai persembahan. Di hadapan manusia, dia juga bisa bersaksi, sangat bergairah. Tetapi tidak disangka, dalam jangka waktu yang singkat, begitu ujian menimpa dirinya, dia mulai goyah, mulai merasa susah, mulai tidak tahan, mulai takut, mulai mundur dan tak terhindar dari kejatuhan. Saudara saudari, kalau kita tidak mau menjadi orang Kristen, ya sudah; tetapi kalau kita mau menjadi orang Kristen, perlu terik matahari. Karena terik matahari membantu Anda bertumbuh, membantu Anda matang. Kalau begitu disinari matahari, Anda sudah tidak tahan dan jatuh, itu berarti Anda sangatlah dangkal. Penyinaran di bawah matahari hanya bisa menyingkapkan keadaan Anda yang sebenarnya, penyinaran matahari tidak bisa merampas barang sejati yang Anda miliki. Apakah firman Allah tidak tahan terik matahari? Tidak! Masalahnya, bagaimana firman Allah di atas diri Anda? Mengapa firman Allah di atas diri Anda bisa bertumbuh dengan cepat, tetapi begitu matahari terbit, segera layu? Apa sebabnya? Dalam firman Tuhan terdapat tiga sebab:

SEBAB PERTAMA — TANAHNYA TIPIS

Sebab pertama adalah tanahnya tipis. Tanahnya tipis berarti tanahnya tidak banyak, tidak dalam; yang dia miliki hanya sedikit itu saja. Orang Kristen yang tanahnya tipis, di dalamnya tidak ada barang yang berarti. Orang yang demikian, ketika mendengarkan pemberitaan firman sepertinya mudah sekali menerima setiap kata, tampaknya sangat mengerti, bahkan mudah sekali menyampaikan kepada orang lain dan bersaksi kepada orang lain. Orang yang demikian juga mudah kehilangan kebenaran yang ia dengar, membantah kebenaran yang ia dengar, membongkar apa yang telah dia beritahu kepada orang lain. Orang yang demikian mudah kenyang, juga mudah lapar; mudah gembira, juga mudah sedih; mudah gairah, juga mudah dingin; mudah tertawa, juga mudah mengucurkan air mata. Orang yang demikian adalah dangkal, hidup di dalam emosi, hidup di dalam lingkungan situasi.

Kita tahu, kalau sebuah pohon itu besar, akarnya pasti dalam. Ada akar pohon yang dalamnya mencapai ratusan meter. Karena akar pohon itu ingin menghisap air di bawah tanah, dan di atas tidak mendapatkan air, maka ia terus berakar ke dalam sampai mencapai sumber air. Pohon beringin di padang pasir Arab, meskipun terkena sinar matahari yang sangat terik tetapi warnanya tetap hijau dan hidup. Karena akarnya telah mencapai kedalaman, menghisap air, maka ia tidak takut terik matahari. Orang Kristen yang berakar ke bawah tidak akan takut terik matahari. Oh, semua orang yang hidup berdasarkan situasi lingkungan, semua orang yang hidup berdasarkan perasaan, adalah orang yang tanahnya tipis. Orang yang mudah diatur oleh perasaan, orang yang mudah terpengaruh oleh suasana sekeliling, adalah orang yang tanahnya tipis. Orang yang dalam tidak melihat situasi sekeliling, tidak berdasarkan perasaan, hanya hidup berdasarkan iman. Yang diharapkan dan disandari orang yang dalam bukanlah lingkungan, melainkan Tuhan di balik situasi itu. Orang demikian, di luar situasi mendapatkan suplai Allah, mendapatkan tunjangan dan kekuatan Allah. Orang yang hidupnya tidak berharap kepada Tuhan di balik situasi, tetapi hidup berdasarkan emosi, berdasarkan situasi, tidak akan bisa mempertahankan satu kebenaran atau satu ajaran pun. Orang yang demikian, ketika situasi lancar dia sangat lincah, sangat senang; begitu mengalami ujian, segera menundukkan kepala, muram durja dan tenggelam. Begitu salib datang, dia langsung jatuh. Saudara saudari, kalau Anda begitu menjumpai ujian segera mundur, segera layu, itu membuktikan bahwa Anda adalah orang yang tanahnya tipis; karena begitu matahari terbit menyinari Anda, Anda segera layu dan kering.

SEBAB KEDUA — TIDAK BERAKAR

Sebab kedua adalah tidak berakar. Apa yang disebut akar? Bagian pohon yang tertampak di luar adalah batang; bagian yang terpendam di dalam tanah, yang tidak kelihatan adalah akar. Bagian yang ada hayat, dan yang kelihatan adalah carang; bagian yang ada hayat dan yang tidak kelihatan adalah akar. Sebab itu, akar mengacu kepada kehidupan yang tersembunyi. Siapa saja yang di hadapan Tuhan tidak ada akar, hayatnya pasti kering. Siapa saja yang pada aspek rohani tidak ada kehidupan yang tersembunyi, yang seluruhnya terungkap di depan manusia, adalah orang yang tidak berakar. Akar adalah bagian yang tidak kelihatan, bagian yang tersembunyi; yang kelihatan di luar, yang tersembul di luar, bukanlah akar.

Saudara saudari, Anda harus bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya selain kehidupan yang terlihat di depan orang, di depan Tuhan ada berapa banyak kehidupan Anda yang tersembunyi? Kalau yang Anda miliki semuanya adalah bagian yang ternyata di luar, maka tidaklah heran jika begitu matahari terbit, Anda segera layu. Dalam kehidupan rohani, tidak ada satu perkara yang bisa menjaga Anda seperti kehidupan yang tersembunyi. Kalau Anda tampak seorang saudara atau saudari jatuh, jangan mengira ini satu keadaan yang kebetulan atau keadaan yang mendadak. Ketahuilah, kehidupannya yang tersembunyi di depan Tuhan sudah lama hilang. Karena dia tidak berakar, begitu matahari terbit, dia segera jatuh.

Dalam Injil Matius 6:6 Tuhan Yesus berkata, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Menutup pintu adalah kehidupan yang tersembunyi, adalah akar. Tuhan di sini berkata dengan sangat istimewa. Ia berkata, “Bapa akan melihat yang tersembunyi.” Oh, berdoa itu bisa dilihat. Kita selalu mengira berdoa adalah didengar, tetapi Tuhan berkata, “dilihat”. Sebab itu, ada kalanya di hadapan Allah kita tidak ada kata-kata, hanya ada satu sikap, itu juga sangat berharga. Oh, saudara saudari, berapa banyak dari hidup Anda yang dilihat dengan tersembunyi oleh Allah? Atau segala sesuatu Anda hanya dipamerkan di depan orang? Sebenarnya, di hadapan Allah Anda memiliki berapa banyak kehidupan rohani yang selamanya belum pernah diungkapkan? Sebenarnya Anda memiliki berapa banyak pengalaman seperti yang dimiliki Paulus, yang selama 14 tahun tidak diketahui oleh orang lain (2 Kor. 12:2). Kalau belum ada, ini membuktikan Anda tidak berakar. Kalau Anda seorang yang tidak berakar, begitu matahari terbit menyinari Anda, Anda segera jatuh. Saudara saudari, jika apa yang Anda miliki masih tertinggal setelah diuji, itu baru bisa diandalkan. Kalau akar Anda tidak dalam, Anda pasti gagal.

SEBAB KETIGA — BERBATU-BATU

Sebab yang ketiga, di bawah tanah yang tipis itu masih ada batu-batu. Orang yang tanahnya tipis, akarnya bukan tidak mau masuk ke dalam, melainkan ada batu yang menghalanginya. Di luar, ia sama dengan orang lain; tetapi di dalamnya ada dosa yang tersembunyi, ada kekerasan dirinya sendiri. Batu di dalam Alkitab memiliki beberapa arti. Salah satu arti mengacu kepada hati yang keras (Yeh. 36:26). Dalam hal rohani, kita harus berakar dengan dalam, tidak boleh mengeraskan hati (Ibr. 3:7). Banyak orang Kristen yang maksudnya sendiri belum pernah terpukul, individunya belum pernah diremukkan. Kalau menyinggung kehendak Allah, ia selalu mempunyai banyak alasan untuk menolak. Dia selalu menurut pandangannya sendiri, harus begini, harus begitu. Di dalamnya ada batu, hatinya sangat keras. Allah harus terlebih dulu menghancurkan batu yang di dalamnya, baru dia bisa berakar ke bawah. Hanya orang yang bisa berakar ke bawah, yaitu orang yang setelah mendengar firman Tuhan menjadi gentar (Yes. 66:5). Saudara saudari, ketahuilah, hati yang tidak mau taat kepada Allah adalah hati yang berbatu. Kita harus mohon Tuhan memberi kita terang, agar kita tampak seberapa besar batu di dalam kita. Kalau di dalam kita ada batu, kita tidak bisa berakar ke bawah; jika demikian, begitu matahari terbit memancarkan panasnya, kita tidak bisa tidak layu.

Batu bukan hanya mengacu kepada hati yang keras, juga mengacu kepada dosa yang tersembunyi, yang belum kelihatan. Kalau di dalam hayat Anda ada satu dosa yang belum disingkirkan, atau karena harganya terlalu besar sehingga Anda tidak berani membereskannya, atau karena permintaan Allah terlalu berat sehingga Anda terus tidak bisa taat; Anda terus beralasan, Anda terus bergumul dengan Allah, Anda terus mempertahankan dosa yang tersembunyi, yang belum ternyata; maka Anda tidak bisa berakar ke bawah. Begitu matahari terbit memancarkan panasnya, bagaimana Anda tidak menjadi layu dan kering?

TERIK MATAHARI

Saudara saudari, kalau kita tidak memiliki terang, kita tidak akan tahu betapa dangkalnya diri kita. Kalau tidak ada terik matahari, kita tidak akan mengerti, mengapa orang yang bertumbuh paling cepat, juga akan kering paling cepat. Kita sering tertipu oleh diri sendiri, sering merasa puas diri, kita puas akan keadaan rohani kita, kita merasa diri kita luar biasa. Ternyata, begitu matahari terbit, kita pun layu.

Mengapa Allah membiarkan matahari menyinari kita, membiarkan kesulitan menimpa kita? Saudara-saudari, ketahuilah, ini adalah penyataan kasih Tuhan yang paling tinggi — salib. Oh, tidak ada satu perkara yang memelihara hayat kita lebih baik daripada salib, juga tidak ada satu ujian yang lebih baik daripada salib. Pada satu hari kita mendengar suatu kebenaran, kita dengan gembira segera menerima, juga mempersembahkan diri kepada Tuhan. Kita lalu mengira diri sendiri baik, bernilai tinggi. Sebab itu, Allah khusus memberi kita ujian, memberi kita salib, supaya kita tampak diri kita sendiri. Sampai satu hari, kita malah bergumul dengan Allah. Yang kita harapkan dari Allah bukan demikian, tetapi Allah berbuat demikian. Tempat yang Allah kehendaki kita kunjungi, bukanlah tempat yang kita senangi; perkara yang Allah atur untuk kita kerjakan, bukanlah perkara yang kita senangi. Sebab itu kita tidak puas, kita tidak bisa tidak salah paham kepada Allah, menyalahkan Allah, lalu kita berselisih dengan Allah.

Saudara saudari, ketahuilah, perselisihan dengan Allah bisa membuat Anda menjadi layu. Semua kelayuan rohani berawal dari terjadinya perselisihan dengan Allah. Oh, kalau Allah mengalah, dan Anda menang, hasilnya Anda pasti layu. Sebab itu, salib adalah ujian terhadap kita, yang akan menentukan apakah hayat kita akan berakar ke dalam atau akan layu. Dengan kata lain, kekayaan atau kelayuan hayat kita tergantung pada bagaimana kita membereskan perselisihan kita dengan Allah. Kalau Anda menang, karena Allah mengalah, maka hayat Anda otomatis akan layu. Sebab itu, jangan sekali-kali Anda bersukacita, merasa bebas dan gembira karena Anda telah menang. Ketahuilah, ini hanya membuktikan hayat Anda segera menjadi layu, hidup Anda segera jatuh. Pengalaman banyak orang Kristen bisa membuktikan hal ini. Tidak pernah satu kali pun ketika Allah mengalah, hasilnya hayat Anda malah tambah kaya. Sebab itu, jika di antara Anda dengan Allah, ada satu pergumulan yang belum terselesaikan, masih ada satu masalah yang belum terselesaikan, masih ada satu kehendak yang belum jelas, Anda harus berhati-hati. Kalau Anda bercabang hati, Anda tidak puas akan pengaturan Allah, Anda ingin menempuh jalan yang Anda sendiri pandang baik, tidak perlu menunggu sampai ternyata di luar, di dalam Anda sudah mulai layu.

Saudara saudari, setelah mendengarkan satu berita firman, kita tidak boleh menganggap sudah mendapatkannya. Allah harus menciptakan situasi yang dibutuhkan firman ini, untuk menguji apakah Anda benar-benar sudah menerima atau hanya di luaran menerima. Allah harus menciptakan satu situasi untuk memberitahu Anda, bahwa tidak ada ajaran Alkitab yang bisa diperoleh tanpa mengeluarkan harga. Setelah Anda mendengarkan firman tentang kesabaran, Allah lalu mengatur Anda mengalami kesengsaraan karena “kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan” (Rm. 5:3). Setelah Anda mendengarkan firman tentang taat, Allah lalu membiarkan Anda mengalami penderitaan supaya Anda “belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr. 5:8). Setelah Anda mendengarkan firman tentang lemah lembut, Allah lalu membuat Anda menjumpai orang-orang yang merangsang Anda, perkara-perkara yang merangsang Anda, supaya Anda “harus ramah terhadap semua orang” (2 Tim. 2:24). Setelah Anda mendengar firman harus “percaya”, Allah lalu seperti tersembunyi, seperti tidak mendengar seruan Anda, tidak mempedulikan Anda, supaya Anda “terhadap janji Allah . . . tidak bimbang karena ketidak percayaan, malah . . . diperkuat dalam imannya dan . . . memuliakan Allah” (Rm. 4:20). Setiap kali Anda mendengar satu berita, seolah-olah ada perkara menunggu untuk menguji Anda. Oh, saudara saudari, setelah Anda tahan uji, firman di atas diri Anda itu barulah riil.

Allah tidak pernah membiarkan kita begitu saja setelah mendengar berita konsekrasi. Allah harus menguji kita. Allah hanya bisa memakai orang yang tetap berdiri setelah melewati ujian. Seorang saudari tua yang telah bertahun-tahun melayani Tuhan berkata kepada seorang pemuda yang baru keluar melayani Tuhan,

“Semua roti yang dipersembahkan ke tangan Tuhan akan dipecahkan-Nya, kemudian baru dibagikan kepada orang.” Roti yang belum dipecahkan tidak bisa mengubah dan memelihara hidup orang lain. Sering kali kita mempersembahkan diri, sambil memendam satu harapan, “Ya Tuhan, aku sudah mempersembahkan diri, tetapi jangan sekali-kali memecahmecahkan aku!” Kita selalu mengharapkan roti itu tetap utuh selamanya, tetap tidak bergerak selamanya. Tetapi roti yang diletakkan di tangan Tuhan, tidak ada yang tidak dipecah-pecahkan. Kalau Anda tidak mau dipecahpecahkan, janganlah meletakkan diri Anda ke tangan Tuhan.“

Saudara saudari, demikianlah perkataan orang yang mengenal Tuhan. Setiap roti yang diletakkan di tangan Tuhan, pasti diremukkan oleh Tuhan. Di sinilah kesulitan banyak orang Kristen: setelah mendengarkan satu berita, dengan senang berkata, “Tuhan, aku menyerahkan segalaku kepada-Mu.” Tetapi ketika Tuhan memecahmecahkannya, ia mengharapkan sebaiknya tidak ada kejadian itu. Saudara saudari, di satu pihak Anda telah dipegang oleh Allah, di pihak lain Anda tidak mau dipecahpecahkan; kehidupan demikian adalah kehidupan yang paling menderita. Saudara saudari, kalau Anda mau mempunyai hayat yang limpah, Anda harus membiarkan Allah mengizinkan banyak urusan menguji Anda.

KEHIDUPAN YANG DALAM

Hosea 14:6-8 mengatakan, “Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar. Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon. Mereka akan kembali dan diam dalam naunganKu dan tumbuh seperti gandum; mereka akan berkembang seperti pohon anggur, yang termasyhur seperti anggur Libanon.”

Potongan ayat Alkitab ini menyinggung Libanon tiga kali. Pertama, menghubungkan bunga bakung dengan Libanon (pohon hawar Libanon); kedua, menghubungkan Libanon dengan pohon zaitun; dan yang ketiga, menghubungkan pohon anggur dengan Libanon. Mengapa di sini terus memperhatikan Libanon? Karena di atas gunung Libanon ada semacam pohon hawar yang tinggi besar, akarnya sangat dalam. Alkitab dengan pohon hawar Libanon melambangkan pohon yang paling besar/ paling tinggi di dunia, juga dengan pohon hawar Libanon mewakili orang-orang yang berakar dalam ke bawah. Dalam potongan Alkitab ini, di satu pihak mengatakan bunga bakung dengan Libanon, di pihak lain mengatakan pohon zaitun dengan Libanon, dan di pihak lain lagi mengatakan pohon anggur dengan Libanon. Alkitab mengatakan demikian mempunyai makna yang dalam. Kita hanya dengan sederhana membicarakan sedikit.

Mengapa bunga bakung dihubungkan dengan Libanon? Bunga bakung itu bersih dan indah. Bunga bakung di sini bertumbuh di ladang, bukan bertumbuh di rumah; bukan dirawat oleh tukang bunga, dia sepenuhnya hidup bersandar sinar matahari, hujan serta embun. Kita orang Kristen adalah bunga-bunga bakung di lembah (Kid. 2:1), yang mutlak bersandar pada perawatan dan pemeliharaan Allah. Kehidupan rohani yang bersih dan indah dihasilkan dari persekutuan yang tidak terputus dengan Allah. Sebab itu, dikatakan, “Ia akan berbunga seperti bunga bakung dan berakar seperti pohon di Libanon.”

Mengapa menghubungkan pohon zaitun dengan Libanon? Menurut pandangan manusia, pohon zaitun sama sekali tidak semarak. Kalau mengatakan semarak seperti bunga seruni, orang mudah memahami. Tapi mengatakan semarak seperti pohon zaitun, kelihatannya tidak tepat. Tetapi Alkitab memperlihatkan kepada kita, semarak yang dipandang oleh Allah bukan semarak sia-sia yang di lahir, melainkan buah yang riil. Pohon zaitun adalah pohon buah berminyak. Kesemarakan pohon zaitun berada pada buahnya. Keindahan orang Kristen berada pada buah-buah Roh Kudus yang dihasilkannya. Perlu mengarah ke dalam, berakar ke dalam, baru ada buah ini. Sebab itu di sini dikatakan, “Semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon.”

Mengapa menghubungkan pohon anggur dengan Libanon? Di sini dikatakan, “Berkembang seperti pohon anggur.” Apakah kita pernah melihat bunga anggur? Bunga anggur sangatlah kecil; belum lama berbunga, segera menjadi buah anggur. Kita belum pernah melihat orang menancapkan bunga anggur di vas bunga. Mengapa di sini tidak dikatakan seperti bunga mawar? Karena bunga yang diperhatikan Allah bukan berbunga untuk dihargai manusia, melainkan seperti bunga anggur yang berbuah. Permintaan Allah terhadap orang Kristen adalah berakar ke bawah dan banyak berbuah. Sebab itu, di sini dikatakan “Berkembang seperti pohon anggur dan harumnya seperti harum anggur Libanon.”

Di sini tiga kali menyinggung Libanon, tujuannya supaya kita memperhatikan kehidupan yang dalam. Kehidupan yang dalam ini, meskipun seperti bunga bakung bertumbuh di lembah yang sunyi, seperti pohon zaitun yang lahirnya tidak semarak, dan seperti bunga anggur yang tidak mencolok, tetapi dengan tulus, murni, hidup menengadah kepada Allah dan banyak berbuah. Inilah kehidupan orang Kristen yang seharusnya kita miliki. Kalau kita ingin memiliki kehidupan yang demikian, harus berakar masuk ke dalam. Kalau kita ingin memiliki kehidupan yang demikian, harus berlatih dalam hidup sehari-hari. Sedikitnya setiap hari ada waktu khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa di depan Allah, sambil membaca Alkitab sambil berdoa. Kalau mungkin, menetapkan sedikit waktu, berdoa untuk kaum saleh, berdoa untuk gereja-gereja di setiap tempat, berdoa untuk pekerjaan Allah. Kalau ada orang Kristen yang pada hari-hari biasa tidak membaca Alkitab dan berdoa, jangan harap ia memiliki kehidupan yang dalam. Berakar ke bawah bukan satu slogan yang kosong, melainkan pelaksanaan dalam hidup sehari-hari. Ketika Anda baru belajar, perlu mengeluarkan harga. Semoga kasih Tuhan menarik kita, membawa kita setiap hari mengarah ke dalam, supaya akar kita makin lama makin masuk ke dalam.

Kehidupan yang dalam menuntut adanya persekutuan yang langsung dan intim dengan Tuhan. Kidung Agung 4:12 berkata, “Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, sumur tertutup dan mata air termeterai.” Di sini “kebun” adalah “kebun bunga”. “Kebun bunga” di Alkitab adalah maksud hati Allah yang semula. Kebun bunga tidak seperti tanah ladang yang umum untuk tanaman yang biasa, juga bukan seperti sawah yang khusus untuk bercocok tanam. Kebun bunga khusus untuk keindahan, untuk kenikmatan. Dalam taman bunga mungkin ada pohon, tetapi tujuannya bukan untuk mendapatkan kayu; mungkin ada pohon buah, tetapi tujuannya bukan pada menghasilkan buah. Yang ditekankan dalam taman bunga adalah rumpunan bunga. Yang diharap pada kebun bunga adalah keindahan. Sebab itu, menanam bunga adalah untuk kesenangan hati. Taman bunga di sini adalah “kebun tertutup”, artinya, kebun ini bukanlah kebun untuk umum, tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, melainkan yang tertutup, yang khusus untuk Kristus. Keindahan yang di dalam hanya untuk Kristus, dinikmati oleh Kristus. Kehidupan yang demikian tidak mencari perkenan manusia, hanya mencari perkenan Kristus.

Kehidupan semacam ini adalah “pancaran air — sumur yang tertutup” (Tl.). Sumur umumnya dipergunakan untuk orang. Di sini, meskipun umum dipergunakan untuk orang, tetapi masih dibatasi oleh Tuhan.

Kehidupan semacam ini adalah “Mata air termeterai”. Sumur adalah garapan manusia, mata air bukan garapan manusia. Sumur berada di depan manusia, mata air berada di depan Allah. Mata air adalah sukacita yang kita dapat di depan Allah, kepuasan yang kita dapat di depan Allah. Semua pengalaman ini tidak bisa dengan sengaja kita perlihatkan kepada orang, karena ini adalah mata air termeterai.

Singkatnya, semua keindahan orang Kristen, semua tuntutan orang Kristen dan semua pengalaman orang Kristen, tidak seharusnya suka dipamerkan, sengaja diperlihatkan kepada orang. Semuanya seharusnya tenang, tertutup dan termeterai bagi Tuhan. Kehidupan yang dalam semacam ini bisa memuaskan hati Tuhan.

Saudara saudari, sering kali kehidupan kita terlalu dangkal, terlalu banyak terpamer di luaran! Semoga Tuhan membelaskasihani kita! Biarlah salib bekerja lebih dalam di dalam kita, sehingga kita berakar ke bawah, mempunyai kehidupan yang dalam, untuk memuaskan permintaan Allah, memuaskan hati Allah.

DUA BELAS BAKUL