Menurut Contoh yang Allah Tunjukkan di atas Gunung
“Mereka melayani dalam kemah yang menjadi gambaran dan bayangan dari apa yang ada di surga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah, ‘Perhatikanlah,’ demikian firman-Nya, ‘bahwa engkau harus membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.’”
Ibrani 8:5
“Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku!Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar.”
Mazmur 19:14
I
Ada satu perkara yang sangat penting dalam pekerjaan rohani, yaitu mengetahui “contoh di atas gunung”. Dalam pekerjaan rohani, banyak perkara penting yang perlu kita ketahui. Jika kita kekurangan salah satu darinya, kita tidak akan diperkenan Allah. Tetapi di antara semua perkara penting itu, yang paling penting adalah “contoh di atas gunung”. Contoh di atas gunung itu adalah rencana Allah. Jika kita tidak memahami rencana Allah, mustahil kita dapat melakukan pekerjaan-Nya.
Surat Ibrani memberi tahu kita bahwa Kemah Suci itu “dibuat menurut contoh yang telah Allah tunjukkan di atas gunung”. Sebelum Musa mendirikan Kemah Suci, terlebih dulu ia harus tinggal di atas gunung selama empat puluh hari empat puluh malam; di sana Allah menunjukkan model dan cara membuat kemah tersebut. Mulai dari ruang kudus sampai mezbah; lapisan-lapisan penutup pada Kemah, harus memakai bahan apa, warna apa, semuanya telah diberi contoh yang pasti. Tidak ada satu pun benda atau perkara yang boleh sembarangan. Semua itu memiliki aturan dan standarnya yang telah ditetapkan oleh Allah. Mezbah kurban bakaran, bejana pembasuhan, meja roti sajian, kandil, mezbah ukupan, tabut, dan segala perabotan lainnya, harus mamakai emas berapa berat, memakai kayu apa, berapa panjang, lebar dan tingginya, bagaimana warnanya, semua itu harus menurut contoh yang telah Allah tetapkan. Tidak ada satu pun yang berdasarkan inisiatif Musa sendiri.
Sebagaimana membangun Kemah Suci, dalam hal membangun gereja-Nya, Allah juga mempunyai rencana-Nya sendiri. Baik perkara besar maupun kecil, semua sudah ada cara pembuatannya yang ditentukan oleh Allah. Musa tidak bertanggung jawab atas denah Kemah Suci itu, dia hanya bertanggung jawab untuk mengerjakan menurut contoh yang telah ditunjukkan Allah di atas gunung. Kemuliaan hamba Kristus bukan tergantung pada pintarnya ia membuat metode-metode bagi pekerjaan Allah, melainkan tergantung pada apakah ia bisa melakukannya menurut kehendak Allah yang sudah diketahuinya itu. Mengetahui rencana Allah dan berbuat menurut rencana Allah, adalah kemuliaan hamba-hamba Kristus.
Seorang saudari yang sudah lama melayani Tuhan pernah berkata, “Di dalam pekerjaan Allah, manusialah yang paling tidak bebas.” Ketika Musa membuat Kemah Suci, ia tidak mempunyai kebebasan sama sekali, bahkan bahan emas atau perak untuk membuat sebatang paku kecil pun, tak dapat tidak harus dibuat menurut perintah Allah.
“Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya” (Bil. 12:3). Apakah lemah lembut itu? Lemah lembut berarti tidak keras/kaku. Apa yang dikehendaki Allah, itulah yang dikerjakan Musa. Allah menyuruh Musa memakai bahan tertentu, warna tertentu, dibentuk menjadi rupa tertentu, bagaimana ukurannya; semuanya dikerjakan Musa menurut perintah dan petunjuk Allah. Setiap hal dikerjakan menurut perintah Allah, tidak ada satu pun yang dibuat menurut kemauan atau pendapatnya sendiri. Inilah kelemahlembutan Musa.
Dari hal Musa membuat Kemah, kita tampak banyak terang rohani, yang menampakkan kepada kita kedudukan apa yang seharusnya diambil oleh para hamba Allah dalam pekerjaan rohani. Segala perkara yang berhubungan dengan Kemah ditentukan oleh Allah sendiri. Allah tidak meninggalkan barang satu pun untuk ditentukan oleh Musa; Allah tidak membiarkan Musa mengeluarkan pendapat pribadinya. Bukan hanya garis besarnya yang Allah jelaskan kepada Musa, bahkan sampai ke rinciannya. Bukan hanya rupa, bahan, warna, dan ukuran dari tiap-tiap benda ditetapkan oleh Allah, bahkan cara membuatnya pun ditetapkan oleh Allah. Jadi, tidaklah cukup jika Musa hanya membuat menurut rupa atau ukuran yang telah Allah tetapkan, ia pun harus membuatnya menurut caracara tertentu. Misalnya, tirai atau tenda harus dibuat dengan benang lenan halus dan benang itu harus dipintal; kandil harus dibuat dari emas murni, harus dari emas tempaan. Allah tidak memberi sedikit pun kesempatan bagi Musa untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri. Allah tahu apa yang dikehendaki-Nya. Allah tidak pernah mengangkat manusia sebagai penasihat-Nya. Allah tidak mengizinkan hamba-hamba-Nya melakukan pekerjaan-Nya menurut pendapat mereka sendiri.
Kebahagiaan terbesar dari hamba Kristus ialah bisa naik ke atas gunung untuk memperoleh wahyu Allah, sehingga ia tahu pekerjaan apa yang Allah amanatkan kepadanya, juga tahu bagaimana rupa pekerjaan yang Allah tentukan itu. Hai para hamba Kristus! Pernahkah Anda datang ke hadapan Allah dan mohon Allah menunjukkan pekerjaan yang seharusnya Anda kerjakan? Pernahkah Anda datang ke hadapan Allah dan mohon Allah menunjukkan waktu dan cara melakukan pekerjaan itu? Atau Anda langsung melakukannya atas perundingan, perhitungan, rencana dan keputusan manusia saja?
Ada orang mengira Allah tidak menentukan seketat itu; Allah masih meninggalkan beberapa perkara yang perlu dikerjakan menurut pendapat mereka sendiri. Mereka tidak tampak bahwa di dalam pekerjaan Allah, kedudukan mereka adalah hamba yang hanya patut melakukan seturut perintah-Nya saja. Mereka tidak memperhatikan perkataan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” (Yoh. 2:5). Mereka lupa bahwa di dalam Tubuh Kristus, mereka hanyalah salah satu anggota Tubuh, yang wajib “berpegang teguh kepada Kepala” (Kol. 2:19), yang harus tunduk di bawah pengaturan Kepala. Mereka mengira bahwa Allah memerlukan hayat daging dan kekuatan alamiah mereka untuk mengisi dan menambal kebocoran pada rencana-Nya.
Kita benar-benar harus mohon Allah mencelikkan mata kita agar kita tampak Kristus adalah mutlak dan satu-satunya Tuan di dalam pekerjaan Allah. Segala sesuatu yang berkenaan dengan pekerjaan Allah, harus terlebih dulu melalui perintah-Nya baru boleh dilakukan. Kekuatan hamba Kristus dan hasil yang penuh manfaat rohani, baru dapat dinyatakan atau diperolehnya bila ia dengan tulus dan murni mencari kehendak Allah, dan juga melakukannya menurut rencana Allah. Jika tidak, meskipun ia mempunyai pekerjaan yang secara luaran sangat ramai dan kelihatan berhasil sekali, namun pada suatu hari kelak, di hadapan takhta pengadilan Kristus, di dalam api penguji-Nya, akan ternyata bahwa semua pekerjaannya tidak lebih dari kayu, rumput kering, dan jerami belaka (1 Kor. 3:13).
II
Mazmur 19:14 mengatakan, “Lindungilah hamba-Mu, dari dosa kekurangajaran, janganlah dosa itu menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar” (Tl. Dosa kekurangajaran di sini mengacu kepada dosa memberontak/melawan dan dosa kelancangan/berbuat seturut kemauan sendiri). Ayat ini memberi tahu kita bahwa di hadapan Allah, hamba-hamba Allah mungkin saja melakukan dua macam dosa: pertama adalah dosa kelancangan (berbuat semaunya sendiri); dan yang kedua adalah dosa memberontak/melawan. Allah menyuruh Anda melakukan sesuatu, namun Anda tidak mau melakukannya, inilah dosa melawan. Terhadap dosa ini, kita semua tahu, kita mau menyingkirkannya dan tidak ingin melakukannya. Tetapi saudara saudari, ingatlah, bukan hanya melawan adalah dosa, berbuat semau diri sendiri, berbuat lancang, juga adalah dosa. Allah tidak menyuruh Anda, namun Anda melakukannya, inilah dosa kelancangan. Memberontak/melawan berarti tidak melakukan seturut perintah Allah; lancang berarti melakukan apa yang tidak disuruh Allah. Melakukan sesuatu di luar Allah, itulah bertindak lancang. Allah berfirman, “Jangan berzina, jangan mencuri,” jika seseorang melanggar ini, berarti berbuat dosa; terhadap ini kita cukup jelas. Tetapi, sering kali kita mengira bahwa kita boleh dengan sesuka hati kita melakukan hal-hal yang tidak Allah perintahkan, ternyata, itu juga berarti berbuat dosa. Jika Allah tidak menyuruh Anda melakukan sesuatu dan Anda melakukannya berdasarkan maksud Anda sendiri, meskipun yang Anda kerjakan itu sangat baik, namun di hadapan Allah itu adalah dosa. Betapa baiknya doa Daud di sini, dia mohon Allah mencegahnya melakukan dosa kelancangan dan kekurangajaran.
Allah tahu apa yang akan Ia lakukan. Sebab itu, segala perkara yang Ia kehendaki agar kita lakukan, pasti dinyatakan-Nya kepada kita melalui Alkitab atau melalui Roh Kudus. Nilai pekerjaan rohani tidak tergantung pada kuantitasnya, tetapi tergantung pada apakah sesuai dengan kehendak-Nya. Satu perkara yang paling penting bagi hamba Kristus ialah mengetahui apa yang dikehendaki Allah, dan juga tahu waktu dan cara yang diinginkan-Nya. Orang yang melayani Allah sedikit pun tidak perlu berpikir demi diri sendiri apa yang harus ia perbuat. Inilah keistimewaan dalam Perjanjian Baru, yaitu manusia bisa mengetahui kehendak Allah. Para hamba Kristus bisa memperoleh wahyu Roh Kudus di dalam batinnya, sehingga mengetahui dengan jelas apa permintaan Allah terhadap dirinya. Pengetahuan semacam ini benar-benar riil, bukan suatu imajinasi sendiri atau anjuran dan petunjuk orang lain. Pengetahuan semacam ini diajarkan oleh Kitab Suci, dan juga oleh Roh Kudus di dalam roh manusia, yang mewahyukan perintah Allah kepada manusia.
Hari ini, berapa banyakkah orang yang benar-benar memahami wahyu rohani? Berapa banyakkah orang yang dengan mantap berkata, “Aku tampak dengan jelas?” Oh, banyak sekali orang yang telah menjadikan apa yang mereka anggap baik, apa yang mereka pandang rohani, apa yang mereka ingini dengan antusias, apa yang mereka anggap berfaedah, sebagai pengganti pekerjaan yang hendak Allah kerjakan. Dalam pekerjaan Allah, orang-orang yang memberanikan diri mungkin lebih besar jumlahnya daripada orang-orang yang dipilih dan dipanggil oleh Allah. Banyak orang bisa berkata, “Aku sudah datang,” tetapi jarang yang bisa berkata, “Aku sudah diutus.” Sebab itu, banyak pekerjaan yang disebut sebagai pekerjaan Allah, namun keadaannya lembam dan mati. Terlalu banyak pekerjaan yang bukan dikehendaki Allah, itu sekadar kegairahan manusia belaka. Mereka mengira Allah memerlukan itu, lalu mereka melakukan itu dan menyebut itu sebagai pekerjaan Allah. Padahal unsur Allah atas pekerjaan itu hampir-hampir tidak ada.
Dalam pekerjaan rohani yang sejati, yang terutama bukanlah kita, melainkan Allah. Kita ini hanya orang yang harus mengerti kehendak Allah. Pekerjaan yang benar-benar mempunyai faedah rohani, asal mulanya pasti dari dalam hati Allah, sedang kita ini hanyalah melaksanakan pekerjaan yang telah diwahyukan Roh Kudus di dalam kita. Semua pekerjaan pelayanan terhadap Allah, tak peduli bagaimana keadaan luar dan hasilnya, hanya ada dua macam: satu berasal dari Allah dan lainnya berasal dari manusia. Yang satu memang kehendak Allah, sedang yang lainnya adalah dugaan manusia terhadap kehendak Allah. Oh, saudara saudari yang terkasih, pekerjaan manakah yang sedang Anda lakukan?
Yang paling disayangkan ialah banyak hamba Kristus yang tidak mempedulikan dosa berbuat semau diri ini, atau kurang tuntas memahami apakah dosa berbuat semau diri itu. Mereka belum dipimpin oleh Roh Kudus hingga mencapai suatu taraf yang benar-benar menghakimi diri sendiri, menyadari bahwa di dalam pekerjaan Allah, selain Allah adalah satu-satunya Tuan, tidak ada lagi pendapat diri yang boleh ada. Kita perlu teguran Roh Kudus, agar mengetahui dosa ini dan membenci dosa ini. Kita harus sadar, bukan hanya tidak melakukan perintah-Nya berarti kita sudah berdosa, tetapi melakukan sesuatu tanpa perintah-Nya juga adalah dosa. Janganlah kita berkata, “Mengapakah aku tidak boleh melakukan perkara yang tidak Allah larang?” Kita wajib selalu berkata, “Mana boleh aku melakukan perkara yang tidak disuruh-Nya?” Orang yang kurang mengenal Tuhan akan mengira bahwa mereka boleh melakukan perkara-perkara yang tidak dilarang oleh Alkitab. Tetapi orang yang mengenal Tuhan lebih dalam mengetahui bahwa meskipun banyak perkara tidak dilarang oleh Alkitab, namun jika dilakukan tanpa perintah Allah, itu sudah berbuat dosa.
Saudara saudari, pada suatu hari Allah akan membawa Anda mencapai taraf yang lebih dalam. Saat itu Anda akan tahu bahwa Anda tidak saja tidak boleh menentang Allah untuk melakukan perkara yang dilarang oleh-Nya, tetapi juga harus tidak melakukan perkara yang tidak diperintahkan oleh-Nya. Jika Anda bisa tidak bersandarkan diri sendiri melakukan perkara yang tidak diperintahkan oleh Allah, itu berarti Anda sudah menjadi orang yang sempurna, yaitu menjadi orang yang bisa dipakai oleh Allah. Tanpa Allah memerintahkan, aku diam saja, tidak bergerak. Orang yang demikian, baru dapat dipakai oleh Allah dan baru dapat melakukan pekerjaan Allah.
Dalam pekerjaan Allah, sering kali kita temukan bahwa itu dilakukan menurut kemauan manusia sendiri. Kalau manusia melakukan pekerjaan Allah tanpa mencari apakah kehendak-Nya, kapankah waktu-Nya dan bagaimana cara-Nya; meskipun pekerjaan itu dikerjakan dengan baik sekali, itu tetap adalah pekerjaan dari kegairahan hayat jiwa saja. Kita harus tahu, daging tidak saja bisa “melawan” Allah, bahkan bisa juga “membantu” Allah. Dalam hayat jiwa kita juga terkandung banyak kebaikan. Justru inilah yang sering bergairah bagi Allah; sering merencanakan ini dan itu agar timbul suatu kebangunan bagi gereja Allah; sering melakukan aktivitas ini dan itu agar memperluas Kerajaan Allah dan lebih banyak menyelamatkan orang dosa. Motivasi dan maksud orang-orang itu memang baik, tetapi mereka tidak tahu kalau hayat jiwa mereka juga bisa membuat mereka bergairah, berminat, berencana, dan berjerih payah. Mereka tidak menyadari bahwa yang bernilai tinggi adalah mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan Allah. Mereka mengira, asal mengerjakan pekerjaan Allah sudahlah paling berharga. Mereka tidak tahu bahwa segala sesuatu yang berasal dari hayat alamiah manusia; meskipun motivasinya tidak salah, tujuannya tidak salah, dan hasilnya juga lumayan; sekali-kali tidak akan diperkenan Allah. Karena semua itu bukan berasal dari kehendak-Nya, maka tidak akan berguna bagi-Nya. Mereka tidak tahu bahwa segala pekerjaan yang bukan berasal dari kehendak Allah, tidak akan dikaruniai kuat kuasa. Mereka mengira bahwa ketekunan, suara, emosi, tenaga, dan air mata mereka itu adalah bantuan dari kuat kuasa Allah. Padahal semua itu hanyalah mengisap kekuatan hayat alamiah mereka yang menyuplai pekerjaan yang berasal dari hayat alamiah mereka sendiri.
Apa penyebab perbuatan dosa menentang dan lancang? Itu tak lain pernyataan ego manusia. Banyak orang, meskipun pada saat Allah memberi perintah, mereka mau taat, tetapi sebenarnya hati mereka tidak senang terhadap kehendak Allah; mereka masih condong pada kemauan diri sendiri. Sebab itu, ketika Allah tidak berbicara apa-apa, mereka segera berbuat semaunya sendiri. Saudara saudari, jika kita tidak menghakimi daging kita, jika kita tidak mau memikul salib untuk menanggulangi hayat ego kita, maka mungkin pada saat ada perintah Allah, kita masih bisa memaksa diri untuk taat, namun pada saat tidak ada perintah Allah, kita tidak dapat tidak akan bertindak menurut kemauan diri sendiri.
Dalam pekerjaan Allah, perbuatan dosa menentang dan lancang itu belum tentu didasari motivasi yang salah. Sebelum kita berpaling kepada Allah, hayat ego manusia kita tidaklah senang melayani Allah; tetapi setelah kita berpaling kepada Allah, kita merasa senang melayani Allah. Justru inilah masa yang paling berbahaya. Dulu, sama sekali tidak melayani Allah; sekarang, ingin melayani Allah, namun ingin melayani menurut jalannya sendiri. Padahal yang Allah kehendaki bukan hanya melayani, lebih-lebih harus melayani-Nya seturut cara yang diperkenan-Nya. Umumnya, manusia salah tanggap, mengira tuntutan Allah hanyalah pelayanan saja, sedang cara pelayanan terserah kepada masing-masing pelakunya. Kita harus tahu, pelayanan yang tanpa perintah Allah, tidak akan diperkenan oleh Allah. Jadi, kita harus jelas bahwa pekerjaan kita itu ditetapkan oleh Allah, kita pun wajib tahu bahwa cara dan waktu pelaksanaan pekerjaan itu, juga ditetapkan oleh Allah.
Bagaimanapun baiknya motivasi manusia, sekali-kali tidak bisa menggantikan kehendak Allah. Bagaimanapun baiknya hasil pekerjaan manusia, itu masih sangat jauh dari perkenan Allah. Sayang sekali, banyak pekerjaan dilakukan hanya untuk “memenuhi keperluan situasi”, “membantu kerohanian kaum saleh”, “menyelamatkan jiwa orang dosa”, namun bukan karena mematuhi perintah Allah. Pekerjaan semacam itu, bukannya tidak akan ada hasil, tetapi bagaimanapun, pekerjanya dan pekerjaan semacam itu tidak akan berguna bagi Allah. Yang harus kita utamakan bukanlah keperluan orang dosa atau kebutuhan umat saleh yang di luar itu, melainkan apa keperluan Allah pada masa kini. Pekerjaan kita, pertama-tama, adalah untuk keperluan Allah, bukan untuk keperluan orang dosa, bukan pula untuk keperluan umat saleh. Kita adalah hamba-hamba Allah. Meskipun Allah telah memberi amanat pekerjaan-Nya kepada kita, namun kuasa untuk memerintah itu tetap dipegang oleh Allah sendiri. Meskipun Roh Kudus telah memanggil hamba-hamba Allah untuk melakukan pekerjaan-Nya, namun Paulus dan Barnabas tidak bisa dengan semaunya sendiri pergi ke Asia. Kuasa mengatur pergerakan hamba-hamba Allah tetap ada pada Roh Kudus. Masalahnya bukanlah apakah di Asia ada keperluan atau tidak, melainkan apakah pada waktu itu Allah ada keperluan di Asia. Kitab Kisah Para Rasul dengan ajaib memperlihatkan kepada kita bahwa yang memberi kekuatan untuk bekerja adalah Roh Kudus, yang memberi aba-aba dan arah pekerjaan juga Roh Kudus. Kewajiban pekerjaan kita hanyalah memenuhi keperluan Allah pada masa ini.
Alkitab menampakkan kepada kita bahwa kita bukanlah orang upahan Allah, melainkan orang yang dibeli Allah demi darah. Di atas diri kita, Allah mempunyai hak mutlak, karena itu kita tidak patut berbuat sesuatu menurut kemauan sendiri. Allah tidak pernah menyerahkan suatu perkara kepada Anda agar dikerjakan menurut pandangan Anda sendiri; Allah tidak pernah berbuat demikian. Terhadap pekerjaan-Nya, setiap aspek dan rinciannya, sudah ada perintah khusus yang harus Anda taati. Bila Anda bertindak semaunya sendiri tanpa ada perintah-Nya, niscaya Ia tidak akan berkenan, dan Anda tidak akan berguna bagi-Nya. Pula, semua pekerjaan Anda yang semau Anda itu tidak akan tahan api dan akan terbakar habis.
Alkitab memperlihatkan kepada kita, Allah bukan hanya menyatakan tangan-Nya atas perkara-perkara besar, juga menyatakan tangan-Nya atas perkara-perkara kecil. Sebab itu, kita harus memberi kedudukan Kepala kepada Allah dalam segala perkara. Kita tidak hanya menghormati-Nya sebagai Tuhan atas perkara-perkara besar, juga menghormati-Nya sebagai Tuhan atas perkara-perkara kecil. Dia melingkupi segala dan juga memenuhi segala. Jika pekerjaan Anda tidak seturut dengan kehendak Allah, boleh saja Anda dipuji manusia, tetapi Allah tidak bisa memakai Anda.
III
Terhadap perkara ini, banyak contoh yang tercantum dalam Alkitab. Kitab Imamat 10:1-2 mengatakan, “Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN.” Menurut peraturan persembahan, setiap kali membakar ukupan, haruslah dengan api dari atas mezbah. Kegagalan dari Nahab dan Abihu ialah tidak membakar ukupan dengan api mezbah, tetapi dengan api lain. Akibatnya mereka mati di hadapan TUHAN.
Mezbah adalah lambang salib, sedang ukupan melambangkan pelayanan kita di hadapan Allah. Kegairahan pelayanan kita haruslah berasal dari mezbah, yaitu salib. Siapa saja yang mempersembahkan kurban tidak menurut peraturan ini, pasti akan mati. Apakah salib itu? Salib adalah tempat ego kita mati, juga tempat kita membiarkan Tuhan hidup. Inilah yang dikatakan Galatia 2:19b-20a, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Salib telah menanggulangi hikmat ego kita, pendapat ego kita, kekuatan ego kita, juga kegairahan, harapan, dan kesenangan ego kita. Setelah kita melalui penanggulangan itu, barulah kita layak datang melayani di hadapan Allah.
Oh, entah berapa banyak kegairahan yang sama seperti api asing. Sering kali, tanpa melalui penanggulangan salib, tanpa menolak pendapat dan hikmat diri sendiri, bahkan menuruti daging, manusia mengira dengan berbuat ini atau itu bisa menyemarakkan pekerjaan Tuhan dan dapat diperkenan Allah. Kegairahan itu memang ada, tetapi bukan berasal dari Allah. Itu memang adalah api, namun bukan api dari Mezbah; itu adalah api asing. Setiap api yang bukan dari Mezbah salib yang menyangkal ego, adalah api asing. Api asing ialah api ego, api milik hayat jiwa, api dari nafsu darah daging dan alamiah. Inilah hayat ego mencampuri pekerjaan Allah. Perkaranya memang perkara Allah, tetapi hayat ego yang mengatur begini atau begitu. Api asing berarti hendak melaksanakan pekerjaan Allah dengan cara sendiri, dengan hikmat sendiri dan mempertahankan pendapat diri sendiri. Api asing tidak saja tidak bisa diperkenan Allah, malahan akan mengakibatkan kita binasa di hadapan Allah.
Nadab dan Abihu adalah anak-anak Harun, imam besar pilihan Allah. Maksud perbuatan kedua orang itu bukanlah ingin menentang Allah, melainkan membakar ukupan untuk melayani Allah, agar diperkenan Allah. Tetapi apa yang mereka perbuat itu di luar perintah Allah, mereka tidak melakukan sesuai dengan ketetapan Allah, karena itu mereka ditimpa hukuman Allah. Mungkin mereka mengira bahwa boleh saja membakar ukupan dengan api asing, sebab Allah tidak mengeluarkan larangan atasnya. Mereka tidak tahu bahwa di dalam pelayanan terhadap Allah, apa yang tidak diperintahkan oleh Allah, tidaklah patut mereka lakukan; mereka tidak tampak betapa ketat dan seriusnya Allah. Sebenarnya, di dalam pelayanan terhadap Allah, perkara-perkara yang tidak diperintahkan itu adalah perkara-perkara yang dilarang oleh-Nya. Kalau manusia melakukannya, itu salah dan berdosa. Nadab dan Abihu terbakar mati karena mereka berbuat menurut pendapat sendiri. Meskipun mereka anak Harun, yang menjadi imam yang melayani Allah, Allah tetap tidak bisa mengampuninya.
Perbuatan mereka tidak seperti anak Eli, melanggar hukum susila, berzina dan merampas. Mereka tidak mengingkari perintah Allah yang jelas itu, atau sengaja melakukan perkara yang dilarang Allah. Mereka malahan mau melayani Allah dan ingin diperkenan Allah. Untuk itu mereka khusus membawa ukupan mereka sendiri, membubuhinya dengan api yang mereka bawa itu, dengan harapan mereka akan diperkenan Allah. Ternyata, meskipun maksud mereka itu baik, tetapi pelayanan mereka adalah menurut pendapat diri sendiri; mereka telah melakukan perkara yang tidak diperintahkan Allah dan di luar kehendak Allah, itu berdosa kepada Allah. Dalam semua pelayanan terhadap Allah, janganlah mengira asal motivasi kita baik, tentu baik pula dalam pandangan Allah. Meskipun motivasi Anda baik, tetapi jika dilakukan menurut kemauan diri sendiri, itu sudah berbuat dosa kelancangan, dan Anda akan dihukum oleh Allah. Mungkin pada saat ini tidak terlihat bagaimana Allah menghukum kita dengan seriusnya, tetapi kelak, semua hasil pekerjaan dari api asing itu akan terbakar di dalam penghakiman Allah. Semoga Allah membuka mata kita, sehingga kita tampak apa yang disebut dosa. Bukan saja berzina, merampok, menipu, memeras, tidak adil, keji dan sebagainya disebut dosa, bahkan “melakukan pekerjaan Allah”, “menginjil”, “memimpin orang”, yang bukan berasal dari perintah Allah, juga adalah dosa. Allah akan menghukum dosa kelancangan itu. Setiap pekerjaan yang Anda kerjakan tanpa perintah Allah, adalah pelayanan dengan api asing, itu berdosa kepada Allah.
Perkara mempersembahkan kurban bakaran oleh Raja Saul yang tercatat dalam 1 Samuel 13:8-14, juga bisa menjadi satu peringatan yang keras bagi kita. Saul sendiri yang mempersembahkan kurban bakaran, dan ini seolah memiliki tiga alasan penting, yaitu:
1. ia melihat rakyat bercerai-berai meninggalkan dia,
2. Samuel tidak datang menurut waktu yang telah ditentukan,
3. orang Filistin, seteru mereka, sudah berhimpun di Mikhmas dan akan datang ke Gilgal untuk menyerang mereka.
Sebab itu Saul memberanikan hatinya (terpaksa) mempersembahkan kurban bakaran. Di sini, Saul bukannya melakukan perkara jahat, melainkan mempersembahkan kurban untuk TUHAN. Dalam hatinya, mungkin ia berpikir: kalau belum berdoa, Allah tentu tidak senang, kalau sudah berdoa, Allah tentu berkenan. Dia mengira, kalau lebih banyak melakukan pelayanan kepada Allah, pasti akan dapat menyelamatkan rakyatnya dari tangan musuh. Padahal tidaklah demikian. Samuel berkata kepadanya, “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu” (1 Sam. 13:13-14).
Perkataan Saul, “maka pikirku” (ayat 12) itu bukanlah perintah Allah. Saudara saudari, Allah menghendaki kita melayani Dia menurut perintah-Nya, bukan menurut “pikirku” atau “anggapanku”. Semua pekerjaan yang berdasarkan “pikirku” atau “anggapanku”, akan ditolak oleh Allah. Yang dikehendaki Allah ialah sesuai dengan kehendak-Nya. Yang dipandang berat oleh Allah bukan yang kita kerjakan, melainkan kepatuhan kita kepada-Nya. “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan” (1 Sam. 15:22). Inilah yang harus selalu diingat oleh setiap orang yang melayani Allah.
Adakalanya, kita juga seperti Saul, banyak perkara yang kita lakukan secara tergesa-gesa, seolah-olah tidak dapat ditunda lagi. Kita sulit percaya bahwa Allah tidak pernah terlambat; kita tidak sabar menunggu waktu Allah. Kita hanya melihat keperluan diri sendiri atau keperluan sekeliling, sehingga lupa menunggu waktu Allah, dan terus melakukan perkara-perkara yang tidak diperintahkan oleh Allah.
Kita tahu bahwa Saul dibuang Allah karena ia terlampau bergairah, terlampau ingin mempersembahkan kurban dan terlampau tergesa-gesa berdoa. Alasan atas tindakannya itu cukup banyak; namun Allah telah memilih seseorang yang berkenan di hati-Nya, dan menunjuknya menjadi raja atas umat-Nya. Orang yang dikehendaki Allah bukanlah orang yang tergesa-gesa, yang tidak sabar menunggu waktu Allah; orang yang dikehendaki Allah adalah orang yang berkenan di hati-Nya. Kalau kita, tentulah suka kepada orang seperti Saul, sebab Saul adalah orang yang mencolok. Saul mempunyai tubuh yang lebih tinggi daripada semua rakyat. Tetapi yang Allah kehendaki bukanlah orang yang mencolok, melainkan orang yang berkenan di hati-Nya. Semoga tujuan pelayanan kita bukanlah menghasilkan perkara besar untuk menyenangkan diri sendiri atau orang lain, melainkan agar dapat menjamah hati Allah, sehingga berkenan kepada Allah. Hanya orang macam inilah yang dapat dipakai Allah. Allah sedang mencari orang yang demikian.
Mari kita baca 2 Samuel 6:1-7, “Daud mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh ribu orang banyaknya. Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim. Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu . . . Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.”
Banyak pembaca Alkitab, setiap membaca sampai di sini selalu merasa bingung dan bertanya, “Mengapa demikian?” Uza memegang tabut Allah, bukankah itu terhitung sebagai jasanya, mengapa Allah malah membunuh dia? Kemuliaan Allah terletak pada tabut. Kini Uza memegang tabut demi melindunginya, bukankah itu sangat baik, mengapa malahan dibunuh? Ini tak lain karena Allah menghendaki manusia mendengarkan perintah-Nya lebih daripada membantu pekerjaan-Nya. Allah tidak memerlukan manusia menopang kemuliaan-Nya. Siapa saja yang menjamah tabut Allah, pasti akan dibunuh. Persoalannya di sini bukanlah bagaimana kalau tabut itu terguling, melainkan apakah Allah memerintahkan Anda melakukan itu. Manusia selalu berpendapat, “pada saat aman dan tidak terjadi apa-apa, manusia tidak boleh menjamah tabut Allah; tetapi saat tabut Allah berada dalam bahaya, maka manusia boleh menjamah atau menopangnya agar jangan sampai terjungkir. Karena dalam situasi terpaksa atau darurat, orang yang berbuat demikian tidak seharusnya dibunuh.” Tetapi Allah hanya mengenal taat kepada perintah-Nya, tanpa kecuali. Siapa saja yang melakukan perkara tanpa perintah Allah, ia akan mengalami kematian jasmani atau paling tidak kematian rohani.
Di sini, Allah tidak bertanya baik tidaknya pekerjaan Anda, Allah tidak bertanya apakah Anda membantu Dia atau tidak, Allah hanya mau tangan Anda tidak menjamah tabut. Siapa yang menjamah tabut pasti mati. Allah lebih suka melihat tabut-Nya terguling daripada melihat manusia membantu-Nya tanpa melalui perintah-Nya. Sering kali, begitu kita melihat keperluan di luar, segera kita berniat membantu Allah. Sungguh mengerikan, di antara hamba-hamba Allah juga ada yang berbuat seperti Uza, yaitu membantu pekerjaan Allah dengan tangan daging manusia. Orang yang demikian akan terjatuh ke dalam hukuman Allah. Saudara saudari, ingatlah, hanya perintah Allah yang harus kita perhatikan. Setiap orang yang melakukan pekerjaan secara darurat atas keperluan mendesak di luar tanpa menunggu perintah Allah, mustahil memperoleh perkenan Allah. Biarlah pekerjaan kita sementara gagal (dipandang dari luar), jangan sekali-kali hak Allah dikesampingkan, jangan sekali-kali memberi kelonggaran kepada daging kita. Allah tidak memerlukan bantuan daging, malahan akan menghukum tindakan daging.
Ada orang ingin mengerjakan perkara yang tidak Allah suruh. Mereka ingin dengan maksud dirinya sendiri mendapatkan perkenan Allah. Perkara yang tidak Allah perintahkan, malah dikerjakan sekuat tenaga mereka. Mereka tidak tahu bahwa perbuatan mereka itu tidak saja tidak bisa diperkenan Allah, malahan akan dihukum oleh Allah. Ketika kita masih sebagai orang dosa yang belum beroleh selamat, kita selalu bertindak berdasarkan hikmat kita sendiri, melakukan banyak perkara yang berlawanan dengan sifat Allah. Sekarang kita telah beroleh selamat, lalu kita mengira bahwa kita boleh melayani Allah atau membantu Allah berdasarkan hikmat kita atau berdasarkan apa yang kita pandang baik. Sebenarnya, sewaktu kita masih sebagai orang dosa, kita menentang Allah dengan hikmat kita sendiri itu dosa; setelah beroleh selamat, membantu pekerjaan Allah dengan hikmat kita sendiri juga dosa. Allah tidak senang manusia menentang-Nya dengan hikmatnya sendiri, Allah pun tidak senang manusia membantu-Nya dengan hikmatnya sendiri; Allah tidak memerlukan manusia membantu pekerjaan-Nya. Kita wajib menerima prinsip salib, wajib menolak aktivitas hayat ego, wajib rela menyerahkan daging kepada maut, dan benar-benar rela kehilangan maksud ego. Bila kita mengandalkan maksud diri sendiri, mengira begini atau begitu akan bisa mengembangkan pekerjaan Allah, itu sudah membuktikan bahwa kita belum kehilangan ego kita, dan belum mengenal salib. Manusia perlu dibawa ke posisi “nol”; jika tidak, Allah tidak bisa memakainya.
Kiranya kita tidak sampai bertindak sembarangan sehingga mengganggu pekerjaan Allah. Kita hanya memperhatikan perintah Allah, tidak mau menghiraukan urusan-urusan di luar kehendak Allah. Sekalipun melihat pekerjaan itu runtuh, Anda tidak bisa dengan tangan daging Anda mencoba menopangnya; Anda hanya boleh mengerjakan apa yang Allah suruh. Allah tidak menyuruh Anda bertanggung jawab atas perkara yang tidak Ia perintahkan. Bahkan meskipun semuanya ambruk di samping Anda, Allah tidak akan menyalahkan Anda.
Sesungguhnya, semua tindakan yang lancang dan menentang itu dikarenakan hikmat manusianya belum melalui penanggulangan salib. Hari ini, yang Allah tuntut dari kita ialah agar kita teguh berpegang pada satu hal: apa yang Allah perintahkan, akan kami laksanakan; apa yang tidak Allah perintahkan, tidak akan kami lakukan. Kita wajib berpegang pada kedudukan demikian.
Mungkin ada yang beranggapan bahwa jalan ini terlampau sempit, kalau demikian, pekerjaannya akan terlalu biasa. Tetapi saudara saudari, pada hari itu nanti, akan terbukti jalan ini benar ataukah salah; pada hari itu nanti, barulah ketahuan bahwa pekerjaan di luar kehendak Allah semuanya kosong dan tak berharga. Kelak, di depan takhta penghakiman, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar kehendak Allah tidak akan terhindar dari penghukuman.
Kitab 2 Tawarikh 26:16-21 memberi tahu kita bahwa Raja Uzia menuruti kemauannya sendiri, memasuki Bait TUHAN dan membakar ukupan di atas mezbah, karenanya dia tertimpa hukuman Allah. Perintah Allah mengatakan, “hanya imam-imam keturunan Harun, yang telah dikuduskan,” yang boleh membakar ukupan. Kecuali mereka, orang lain tidak diizinkan masuk ke dalam Bait dan membakar ukupan. Namun Uzia sengaja melancanginya, hatinya angkuh, ia masuk ke dalam Bait dan membakar ukupan. Allah menghukum dia sehingga pada dahinya timbul kusta. Peristiwa ini memberi kita satu peringatan keras, yaitu apa yang tidak Allah perintahkan, jangan sekali-kali kita lakukan; itu akan mendatangkan hukuman Allah. Dipandang dari segi rohani, kusta berarti dosa yang najis. Setiap orang yang melancangi Allah, di hadapan-Nya sudah melakukan dosa yang najis. Dalam pekerjaan Allah, kegairahan manusia tidaklah berguna. Manusia tidak patut mengendali pekerjaan Allah demi kegairahannya. Masuk ke dalam Bait Allah dan membakar ukupan, itu memang perkara yang sangat indah. Tetapi karena itu bukan perintah Allah, hal itu menjadi dosa yang patut dihukum. Dengan semaunya sendiri Raja Uzia masuk ke dalam Bait Allah dan membakar ukupan, ini berdosa kepada Allah, akibatnya ia terkena kusta sampai matinya. Peringatan ini cukup keras, tak boleh tidak kita perhatikan dengan serius.
IV
Paulus adalah seorang rasul yang benar-benar berbobot. Dia menulis kepada kaum saleh di Korintus, “Kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga . . . kami tidak melewati batas daerah kerja kami, seolah-olah kami belum sampai kepada kamu . . . Tetapi kami berharap bahwa apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan dengan daerah kerja yang dipatok untuk kami” (2 Kor. 10:13-15). Paulus dapat berkata demikian karena ia cukup berpengalaman dan matang. Dia berkata bahwa ia tidak ingin melampaui batas yang dipatok Allah baginya. Ia tidak mau menjangkau daerah yang tidak Allah perintahkan kepadanya. Tempat yang Allah amanatkan kepadanya, di sanalah ia dengan sungguh-sungguh memenuhi kewajibannya. Ia tidak mau melancangi Allah untuk memikul tanggung jawab di tempat-tempat yang tidak ditetapkan Allah baginya. Jika setiap hamba Allah bisa bersikap demikian, mana mungkin timbul keributan dan perpecahan di dalam gereja. Terhadap setiap hamba Allah, Allah telah menentukan pekerjaannya masing-masing; terhadap setiap orang saleh, Allah telah menentukan jalan yang harus ditempuh. Jika tiap-tiap orang sesuai dengan ketetapan Allah berdiri pada posisinya masing-masing, menempuh jalannya masing-masing, betapa mulianya keadaan itu.
Kita bekerja, bukan karena pekerjaan itu baik, bisa menyelamatkan orang, lalu kita bekerja. Kita harus melihat, apakah yang kita kerjakan itu berada pada kedudukan yang telah Allah tentukan bagi kita. Memang, pilar-pilar besar dalam suatu bangunan itu sangatlah dibutuhkan, tetapi paku-paku kecil pun tak boleh kurang. Kalau setiap orang dalam gereja mengharapkan menjadi tokoh kebangunan rohani, menjadi tokoh penginjil, bagaimana gereja itu terbangun? Jalan yang harus kita tempuh adalah jalan yang sesuai dengan kehendak Allah. Kita bukan cenderung kepada perkara-perkara besar, kita mau berdiri pada posisi yang telah Allah tentukan. Kalau Allah menghendaki saya diam tenang melakukan perkara yang kecil, saya pun rela. Allah tidak mau memakai “bakat besar”, Allah mau memakai orang yang dapat Ia pakai. Semoga kita mau berdiri pada posisi yang Allah tentukan untuk kita. Sebenarnya, semua pendapat, pemikiran, ambisi yang muluk-muluk, adalah barang-barang milik dunia, milik jiwa, dan milik daging. Itu harus kita tolak. Jika kita mengenal dengan jelas, kita pasti tidak berani menjamah pekerjaan Allah secara sembrono.
Paulus berkata, “Jalur yang harus kutempuh telah kuselesaikan” (Tl.). Jalur apa yang telah ditempuh Paulus? Dalam otobiografinya, Ny. J. Penn-Lewis menulis sebagai berikut:
“Di sini terbentang ‘jalan’ yang Allah sediakan bagi setiap orang yang telah dilahirkan kembali, agar hayat baru yang sudah diperolehnya itu mencapai puncak kedewasaan, dan agar seumur hidupnya dapat dipakai Allah secara maksimal. Kewajiban setiap orang saleh ialah menemukan ‘jalan’ ini, kemudian menempuh di atasnya. Orang lain tidak dapat memastikan jalan apakah itu. Hanya Allah sendiri yang tahu, dan Allah sendiri pula yang bisa membuat orang tahu sehingga membimbing orang itu menempuh jalan tersebut. Hari ini, Allah membimbing umatnya, sama seperti dulu Ia membimbing Yeremia dan nabi-nabi lainnya, pun juga Paulus, Filipus dan rasul-rasul lainnya.”
Perkara yang paling mulia bagi anak-anak Allah ialah bisa menunaikan tugas yang Allah amanatkan di atas kedudukan yang Allah berikan. Terhadap setiap orang saleh, Allah telah menentukan jalan yang harus ditempuhnya.
Allah selamanya hanya memakai orang-orang pilihan-Nya untuk melakukan pekerjaan-Nya. Dia menolak orang-orang yang merasa mampu untuk melaksanakan pekerjaan-Nya. Orang-orang yang dipilih Allah mutlak tidak bisa bebas. Jika Anda ingin bebas, ingin menempuh jalan Anda sendiri, Anda akan gagal dan menderita. Kalau Anda tidak dipakai oleh Allah, tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Kalau Anda dipakai Allah, Anda tidak mungkin dapat melarikan diri dari jalan yang sudah ditentukan-Nya. Boleh saja Anda lari ke Tarsis, nanti ombak, badai, dan bahkan ikan akan mengembalikan Anda. Anda mustahil meloloskan diri. Hamba-hamba Allah sekali-kali tidak boleh bertindak menurut kemauan diri sendiri. Orang yang dikehendaki Allah adalah orang yang bekerja sesuai dengan apa yang Allah tugaskan, yang hanya menempuh jalan yang Allah tetapkan, yang tidak menuruti kemauan dirinya sendiri.
Ketika Musa memimpin bangsa Israel melintasi padang gurun, Allah berpesan agar mereka jangan bekerja pada hari Sabat. Tatkala ada orang melaporkan bahwa ada orang memungut kayu bakar pada hari Sabat, Musa tidaklah segera mengambil keputusan sendiri untuk mengganjar orang itu; sebab Allah belum memberi petunjuk kepadanya. Setelah Allah dengan tegas memerintahkan, yakni merajam mati pelanggar hari Sabat, barulah ia berani merajam mati orang yang melanggar itu (Bil. 15:32-36). Musa tidak berani lancang mengambil tindakan, ia selalu menunggu perintah Allah.
Kalau kita tidak mau menunggu, pekerjaan Allah akan mengalami kerugian besar! Tabiat kita ini selalu terburu-buru, sehingga selalu merasa bahwa Allah terlalu lambat. Kita tidak bisa dengan sabar mengikuti bimbingan Tuhan, setindak demi setindak. Terhadap apa yang kita pandang baik, segera saja kita terjang dan kita garap. Di mana kita lihat ada kekurangan, ke sanalah kita segera menyuplai. Menurut kita, kalau apa-apa harus menunggu dulu, seumur hidup kita akan habis untuk menunggu saja, akhirnya tidak bisa mengerjakan apa-apa. Kita lupa bahwa orang yang sanggup menanti di hadapan Allah serta sanggup mematuhi perintah-Nya itulah yang berbahagia.
V
Ada satu tanggung jawab besar yang harus kita pikul, yaitu kita harus terlebih dulu jelas terhadap perintah Allah, baru kemudian melaksanakan pekerjaan-Nya. Sebelum mendapatkan perintah-Nya, kita sekali-kali tidak boleh melakukan apa-apa. Perintah Allah menunjukkan isi hati Allah. Jika kita ingin menjadi bejana yang berguna di tangan Allah, haruslah kita bergerak setelah ada perintah-Nya. Melakukan sesuatu tanpa perintah-Nya, mustahil diperkenan Allah. Setiap kali ada pekerjaan terbentang di depan kita, kita perlu bertanya dulu, apakah ini sesuai dengan hasrat Allah, apakah ini berkenan di hati Allah? Semoga kita hanya mau kehendak Allah saja. Kita mengerjakan pekerjaan rohani, bukan karena pekerjaan itu bagus, bukan pula karena situasi memerlukan bantuan kita, melainkan pertama-tama mencari perkenan Allah. Kalau kita ingin menjadi orang yang berguna di tangan Allah, kita harus bertindak sesuai dengan maksud hati Allah.
Contoh yang Allah tunjukkan di atas gunung tidak boleh diubah dengan seenaknya oleh menusia; manusia wajib melaksanakan sesuai dengan ketetapan-Nya. Bagaimana komentar kita? Apakah kita berkata, “Itu pekerjaan kita, tidak perlu dikerjakan seturut kehendak Allah!” Atau kita berkata, “Ini pekerjaan Allah, harus dikerjakan sesuai dengan maksud hati-Nya!” Sungguh menyedihkan, sering kali pekerjaan Allah hancur karena tangan-tangan daging manusia!
Saudara saudari, ingatlah, jika hikmat Anda belum melalui penghakiman, jika angan-angan Anda belum diletakkan di bawah maut, Anda mustahil melaksanakan pekerjaan Allah. Semoga Allah membawa kita kepada posisi tidak adanya ego diri, sehingga kita tidak ada pandangan sendiri selain kehendak Allah. Setiap kali bekerja, hendaklah mengetahui dulu, apakah itu kehendak Allah. Setelah tahu benar bahwa itu adalah kehendak Allah, kita wajib melaksanakan sesuai dengan contoh yang Ia berikan.