Apakah Injil itu?
“Yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”
Kolose 1:26-27
“Karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.”
Efesus 5:30-32
I
Apakah Injil itu? Mungkin ada orang berkata, “Injil Yohanes 3:16 adalah Injil.” Mungkin ada orang lain mengambil beberapa ayat Alkitab yang membahas makna Injil. Memang, ayat-ayat Alkitab yang membahas Injil itu sangatlah ajaib, adalah salah satu bagian dari Injil, adalah kebenaran yang mulia. Tetapi semua itu bukanlah hakiki Injil yang penuh mulia itu. Kita harus mengerti apakah hakiki Injil itu. Hal ini, meskipun sangat sederhana, tetapi juga sangat dalam dan misterius.
Kita percaya bahwa Injil adalah Anak Allah, juga Anak Manusia. Dia telah datang ke dunia untuk mengekspresikan gambar Allah, yaitu ekspresi yang telah ditetapkan Allah dalam kekekalan yang lampau, agar dimiliki oleh manusia ciptaan-Nya. Allah berbaur dengan manusia; Allah menyatakan diri-Nya dalam daging; Allah membaurkan sifat-Nya ke dalam manusia ciptaan-Nya. Dari pembauran ini wujud Allah terekspresi. Ini adalah manusia yang belum pernah ada di dunia; inilah kehendak Allah sebelum dunia diciptakan. Allah melalui sifat ilahi-Nya tinggal di dalam manusia yang diciptakan-Nya. Tuhan Yesus datang ke bumi mewakili manusia yang bersatu dengan Allah, mengekspresikan gambar Allah. Inilah Injil. Allah telah menentukan diri-Nya untuk tinggal di dalam orang-orang yang bersatu dengan Anak-Nya, di dalam orang-orang yang mempunyai hayat ilahi, supaya mereka menjadi bejana yang “mengekspresikan Allah.” Inilah rahasia yang sering disinggung oleh rasul Paulus, “Yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan . . . yaitu Kristus ada di dalam kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan” (Kol. 1:26-27 Tl.). “Kita adalah anggota Tubuh-Nya, daging-Nya dan tulang-Nya . . . rahasia ini besar.”
Sebelum Roh Kudus memberi wahyu kepada gereja, Tuhan Yesus sudah menyatakannya kepada manusia, kata-Nya, “Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku, dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh. 14:20, 23). Selain itu, dalam doa-Nya, Ia berkata, “Aku di dalam mereka” (Yoh. 17:23). Dia berkata kepada gereja di Laodikia, “Jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui Dia . . .” (Why. 3:20).
Kemudian rasul-rasul mengerti nubuat dan janji ajaib yang dikatakan Tuhan Yesus, lalu berkata, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh hidup karena kebenaran” (Rm. 8:10 Tl.) Yesus Kristus ada di dalam kamu. “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Ayat-ayat tentang kebenaran yang sangat penting ini masih banyak.
Injil adalah satu penyataan, juga satu wahyu, yang menyatakan bahwa sebelum dunia dijadikan, Allah telah menentukan umat-Nya akan menjadi manusia yang bagaimana. Allah telah menetapkan untuk tinggal di dalam umat-Nya, dan dari diri mereka Allah akan menyatakan diri-Nya. Allah telah menentukan bahwa mereka pasti mempunyai bagian dalam sifat ilahi-Nya, dan orang yang dapat mewakili mereka adalah Tuhan Yesus Kristus. Dia adalah Anak Allah, juga Anak Manusia. Melalui salib, Ia telah merampungkan apa yang ditentukan oleh Allah, sehingga tujuan yang telah ditetapkan Allah sejak semula bisa tercapai. Inilah Injil.
Kalau kita memandang Tuhan Yesus tidak hanya sebagai satu tokoh dalam sejarah, tidak hanya sebagai Yesus orang nazaret, tetapi memandang-Nya sebagai wakil anak-anak Allah, semua anak Allah tercakup di dalam-Nya, bahkan mengerti sifat Tuhan Yesus yang sesungguhnya, kita akan tampak bahwa tujuan Allah dari zaman azali memilih kita, adalah supaya kita ada di dalam-Nya. Inilah kabar gembira. Inilah janji. Inilah nubuat. Inilah kekuatan!
II
Allah menciptakan Adam, lalu menghendaki dia menggenapkan pekerjaan yang dirampungkan Tuhan Yesus ketika Ia datang ke bumi. Tetapi ini adalah penciptaan “cobaan”. Ketika Allah menciptakan Adam, Ia tidak memberinya kedudukan yang sama dengan Tuhan Yesus. Sebab itu, Adam belum pernah kehilangan apa yang telah dipulihkan Tuhan Yesus. Apa yang dipulihkan Tuhan Yesus, jauh lebih banyak daripada apa yang terhilang dari Adam.
Allah sendiri ingin tinggal di dalam manusia ciptaan-Nya, untuk menyatakan diri-Nya. Tetapi Adam yang diciptakan-Nya, yang Ia harapkan dapat mencapai tujuan-Nya, telah gagal dan jatuh. Salib bukan hanya memulihkan apa yang hilang dari Adam. Banyak orang salah paham, mengira salib di Golgota hanya mendapatkan kembali Firdaus, supaya yang terhilang dari Adam dapat dipulihkan kembali. Tetapi kita tahu, salib tidak hanya melakukan pekerjaan itu. Yang dikerjakan salib jauh lebih banyak, tidak terbatas banyaknya. Pekerjaan salib adalah Allah yang adalah Firman berinkarnasi menjadi manusia, pada dasar Golgota, membawa orang yang telah rusak sampai kepada kesudahannya. Kalau Adam tidak jatuh, ia boleh berkembang, bertumbuh dan mempunyai bagian dalam hayat Allah yang “non ciptaan”. Tetapi setelah Adam jatuh, Allah menjaga jalan menuju pohon hayat, mencegah jangan sampai Adam makan buah pohon hayat, sehingga dapat hidup selamanya. Kalau Adam tidak jatuh, mungkin kemudian ia bisa makan buah pohon hayat, sehingga mendapatkan hayat kekal — mempunyai bagian dalam hayat Allah. Tetapi Adam telah gagal. Sebab itu, salib membawa ciptaan yang gagal sampai pada akhirnya. Ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Ia bukan bangkit dari dalam satu Adam yang jatuh, melainkan Ia menjadi buah sulung orang yang bangkit dari antara orang mati, bangkit dari situasi yang mutlak baru. Inilah ciptaan baru yang dulu belum pernah ada. Ciptaan baru ini adalah karya Roh Kudus, yaitu karya Roh Kudus Allah yang pada mulanya menciptakan langit, bumi, dan manusia. Pula, kekuatan pekerjaan ciptaan baru ini jauh lebih besar daripada kekuatan pekerjaan penciptaan langit, bumi, dan manusia yang sebermula. Kekuatan Roh Kudus yang ternyata dalam alam semesta belum pernah dinyatakan sebesar Ia menyuruh Tuhan Yesus bangkit dari kematian.
Kita bersatu dengan kebangkitan Kristus, berarti kita hidup menurut “corak roh yang baru”. Bukan saja roh kita bangkit kembali, masih ada corak baru roh. Apakah corak baru itu? Itu adalah Roh Kudus tinggal dalam roh kita, menjadi hayat sejati roh kita; Kristus melalui Roh Kudus tinggal di dalam kita. (Sebelum Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Roh Kudus tidak dengan cara ini bekerja di dalam manusia. Ia selalu turun ke atas manusia, sama seperti sesuatu yang datang dari luar).
Hayat dan pengalaman kristiani kita, bukan berasal dan berawal dari diri kita, semuanya berasal dan berawal dari ciptaan baru. Kita harus tahu, kita bisa di dalam Kristus menjadi anak-anak Allah, mempunyai hubungan dengan Allah, semuanya itu berdasarkan Allah sendiri tinggal di dalam roh kita, berdasarkan ciptaan baru yang digenapkan oleh kebangkitan Tuhan Yesus. Allah justru tinggal di dalam ciptaan baru ini, karena “Kepada badan orang biasa, janganlah minyak itu dicurahkan” (Kel. 30:31-32).
III
Selanjutnya, perjalanan rohani adalah “Allah dari dalam roh kita menguasai manusia luar kita.” Ada kalanya kita sulit membedakan apa yang berasal dari Allah dengan apa yang berasal dari manusia lahiriah; seolah-olah di antara keduanya hanya tersekat selembar kertas yang tipis. Misalnya “berdoa”. Ada kalanya kita sulit membedakan doa kita dengan doa Roh Kudus di dalam kita. Kita berdoa agar mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan. Tetapi doa kita tidak sampai ke sana, berputar-putar, tetap sia-sia. Sampai ada satu bagian yang khusus — doa Roh Kudus — tertambah ke dalam doa kita, memimpin kita berdoa, barulah doa kita ada khasiatnya.
Banyak orang mengira, ukupan yang dibicarakan dalam Alkitab mewakili doa anak-anak Allah. Mereka memakai Wahyu 5:8 sebagai dasar. Sesungguhnya tidak demikian. Wahyu 5:8 seharusnya diterjemahkan demikian, “. . . masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas yang penuh dengan kemenyan, cawan emas yang penuh dengan kemenyan itu adalah doa orang-orang kudus.” Apakah doa orang-orang kudus? Cawan emas, dalamnya penuh dengan kemenyan. Apakah kemenyan itu? Doa Roh Kudus di dalam doa kaum beriman. Cawan emas adalah doa kaum beriman. Kemenyan yang ditambahkan ke dalam cawan emas adalah doa Roh Kudus yang ditambahkan ke dalam doa kaum beriman. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita. Ia berdoa “dengan doa berdoa” (Yak. 5:17 Tl.). Ada satu bagian khusus dalam doa orang ini. Bagian khusus ini langsung datang dari takhta Allah. Hanya seruan yang berasal dari Allah sendiri yang bisa membuka dan menutup langit. Inilah doa kita di dalam Roh Kudus, inilah makna Roh Kudus di dalam doa kita. Bukankah Alkitab dengan tegas berkata, “Roh Kudus dengan keluhan yang tidak terucapkan berdoa untuk kita?” Roh Kudus di dalam gereja, yaitu di dalam Tubuh Kristus, dengan tekun berdoa. Ada kalanya dalam roh kita ada semacam keluhan atau seruan yang tidak terucapkan. Meskipun keluhan atau seruan itu tidak terucapkan, tetapi ia paling berkhasiat. Itulah bagian khusus, itulah doa Roh Kudus.
Sebab itu, ketika Allah menyuruh Musa membuat ukupan, Ia berpesan, “Tentang ukupan yang harus kaubuat menurut campuran yang seperti itu juga janganlah kamu buat bagi kamu sendiri” (Kel. 30:37). Manusia tidak boleh menurut cara seperti itu membuat ukupan bagi diri sendiri, karena ukupan itu bukan untuk daging, melainkan untuk kehendak Allah yang murni. Kalau orang memakai ukupan itu untuk daging, ia akan dibakar mati oleh api penghakiman. Nadab dan Abihu membawa api asing, mereka menghadapi api penghakiman. Ini satu peringatan. Karena ukupan itu mewakili Allah sendiri melakukan kehendak-Nya terhadap “ciptaan baru”.
Kita bersyukur kepada Allah atas bagian yang khusus ini. Setelah kita mendapatkan berkat, bersatu dengan Allah, di dalam Allah mendapatkan hayat, kita masih bisa berbuat salah, sering berutang. Karena kita kekurangan hikmat dan pengetahuan rohani, sering kali pengekspresian hayat yang ada di dalam roh kita menderita kerugian. Ketika roh kita bersih terhadap Allah, kita sering memohon, “Tuhan, mohon Dikau di dalam lubuk batinku, menggarapkan pekerjaan salib,” ketika kita membiarkan daging kita dibatasi oleh Allah dan kita memohon kepada Allah, Allah segera bekerja. Meskipun iman kita kecil, Allah masih tetap bekerja. Allah sendiri terus menerus bekerja. Tetapi kita tidak boleh beranggapan, “Kalau Allah tetap bekerja, aku boleh tetap berbuat salah.” Ketahuilah, Allah bekerja ketika kita menuntut dan maju bersama-Nya. Ketika kita bersatu dengan Allah, Ia memimpin kita maju. Ada kalanya, Allah membiarkan kita berbuat salah, agar kita tampak bahwa kekuatan yang memimpin kita maju itu, adalah bagian yang khusus itu, yaitu Roh Kudus yang berasal dari Allah, bukan berasal dari diri kita.
Kehendak Allah bukan hanya menghendaki anggota Tubuh secara individu mengekspresikan Allah, lebih-lebih menghendaki seluruh Tubuh mengekspresikan Allah. Semua orang yang dilahirkan kembali, bersatu menjadi Tubuh Kristus. Allah menghendaki Tubuh ini menjadi jelmaan-Nya — seluruh Tubuh mengekspresikan diri-Nya sendiri — inilah kehendak Allah yang semula. Adam tidak mencapai tujuan mengekspresikan Allah, sebab itu tidak ada yang diperhitungkan sebagai kehilangan dalam tujuan ini. Salib datang, bukan saja menghapus akibat kegagalan Adam — baik di dalam Adam, maupun di dalam dunia — juga menghapus diri Adam yang pertama.
Tuhan Yesus bangkit adalah untuk menggenapkan kehendak Allah — mengekspresikan Allah sendiri. Tetapi perkara kebangkitan ini dirampungkan oleh Allah sendiri dengan kuasa Roh Kudus. Kita mendapatkan hak keputraan yang “super” itu berdasarkan bersatu dengan kebangkitan Kristus yang Allah wahyukan di dalam kita melalui Roh Kudus. “Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, ‘Ya Aba, ya Bapa!’” (Gal. 4:6). “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus” (Rm. 8:9). Kalau ingin menjadi anak-anak Allah, haruslah melalui jalan salib, harus ada Roh Kudus tinggal di dalamnya.
Semuanya itu adalah doktrin yang dalamnya tak terduga, tetapi semuanya itu juga menghibur kita, menjamin kita, bahwa kita pasti mencapai tujuan Allah, berdasarkan janji Allah. Allah tidak menyuruh kita sendiri yang merampungkan tujuan-Nya, melainkan Ia sendiri yang melakukan hal itu di dalam kita. Kita sungguh sulit mengerti, mengapa ada orang menyebut dirinya umat Tuhan, juga demi nama Tuhan bekerja, namun hidup mereka begitu kasar, sama sekali bertolak belakang dengan hal-hal ini; tetapi Roh Kudus tinggal di dalam mereka, memberi tahu mereka kehendak Allah. Meskipun hal itu sangat sulit dimengerti, tetapi kita percaya, kalau Roh Kudus benar-benar mendapatkan kedudukan yang utama, mereka pasti tidak akan terus begitu kasar dan menempuh hidup yang berlawanan dengan kehendak Allah.
Ketika kita belum mendapat penerangan yang jelas, kita jarang mengetahui realitas wahyu, maka pekerjaan kita hanyalah di permukaan saja. Tetapi saat itu, kalau kita mendengar di atas mimbar ada perkataan yang tidak sesuai dengan kebenaran, kita segera merasakannya. Meskipun secara luaran perkataan itu seperti berasal dari kebenaran, namun setelah mendengar perkataan itu, kita merasa tidak nyaman, karena Tuhan benar-benar telah tinggal di dalam kita. Kalau Tuhan benar-benar telah tinggal di dalam Anda, Anda akan mantap. Ketika Anda berbuat salah, di dalam Anda akan timbul teguran, merasa tidak nyaman. Rahasia atau kunci berjalan di dalam Tuhan adalah Tuhan berjalan di dalam Anda. Semoga Tuhan bekerja di dalam kita, sehingga kita mengerti apa yang dimaksud dengan “Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan” (Kol. 1:27).
IV
Kita telah melihat sedikit tentang sifat “manusia baru” ini. Manusia baru ini adalah permintaan dan hasrat Allah yang utama. Kita telah tampak Kristus — Allah menyatakan diri dalam daging — adalah satu-satunya jawaban, juga jawaban yang sempurna, yang menjawab seluruh permintaan Allah sebelum dunia dijadikan. Kristus adalah “Kepala manusia baru”, adalah wakil manusia baru, yang meliputi manusia baru. Kristus adalah jelmaan Allah — Allah di dalam Dia, Dia mengekspresikan Allah — demikian telah menjawab permintaan Allah, menggenapkan maksud hati Allah.
Kita juga telah sedikit melihat makna hari raya Pentakosta, tampak pencurahan Roh Kudus yang tidak bisa dipisahkan dengan sifat ilahi, tinggal di dalam roh manusia baru yang dihasilkan oleh kebangkitan Yesus. Adam, ciptaan lama itu, menurut kehendak Allah, telah dibereskan oleh salib, terbereskan selama-lamanya! Sebab itu, di dalam Kristus Yesus, kita adalah ciptaan baru. Manusia baru ini, menurut kehendak Allah, benar-benar adalah “manusia Allah”. Dia adalah Allah yang tinggal di dalam manusia, dia adalah orang yang dikendalikan oleh Allah, dia adalah orang yang mengekspresikan sifat ilahi. Pendek kata, dia bukan manusia yang alamiah; dia adalah manusia yang “super”. Kristus yang bangkit adalah buktinya. Dia benar-benar manusia rohani. Seluruh diri dan hayatnya adalah rohani. Makanannya rohani, peperangannya rohani, perbuatannya rohani. Semua yang dimilikinya adalah rohani. Dia adalah manusia rohani.
Mungkin Anda berkata, “Ini bukan keadaan kita. Ini mungkin keadaan kita kelak.” Tidak, kalau kita tinggal di dalam Kristus, inilah corak kita sekarang. Ini adalah keadaan kita. Tetapi kita harus dengan jelas memisahkan manusia lahiriah dengan manusia batiniah. Kita harus tahu, manusia rohani yang kita bicarakan ini bukan manusia lahiriah yang kita kenal itu, melainkan manusia batiniah kita, yang tidak dikenal oleh manusia lahiriah kita. Sekarang, melalui pekerjaan Roh Kudus, kita belajar mengenal manusia batiniah ini. Manusia batiniah ini mengenal manusia lahiriah kita.
V
Kita harus belajar mengenal manusia baru ini. Kita harus mengenal dia; melihat siapakah dia, apakah dia, tersusun dari apa dia, dia bisa berbuat apa, apakah karunianya.
Kebanyakan kita melalui karunia dan pekerjaannya melihat dia. Surat 1 Korintus 12 dengan jelas menguraikan beberapa karunia dan pekerjaan manusia baru ini. Dalam pasal itu kita tampak manusia baru sama sekali berbeda dengan manusia usang, manusia lahiriah, manusia nafsani kita. Manusia baru dan manusia lama jelas merupakan dua hal yang tidak sama. Salib berada di tengah-tengah manusia baru dan manusia lama. Salib menulis “mati” pada manusia lama, tetapi menulis “hayat” pada manusia baru.
Kalau manusia baru ini adalah “manusia roh”, dia adalah yang lahir dari atas, yang lahir dari Roh Kudus; karena “yang lahir dari Roh adalah roh.” Kalau kita lahir dari roh, maka hayat baru kita, sifat baru kita, dan manusia baru kita adalah roh. Kalau manusia baru kita demikian, maka seluruh diri kita adalah rohani.
“Rohani” bukanlah perkara yang sulit. “Rohani” tersusun menjadi satu dengan hayat baru Anda. Aktivitas rohani adalah pernyataan hayat baru Anda. Tetapi ada tiga hal yang harus Anda kenal, harus Anda akui, harus Anda setujui, juga Anda harus membiarkan Roh Kudus menggarapnya menjadi nyata dan jelas di dalam pengalaman Anda. (Inilah pendidikan rohani kita). Pertama, semua teknik, syarat, keterampilan, dan kemampuan hayat alamiah bukanlah dasar utama aktivitas dan pekerjaan hayat rohani. Kedua, aktivitas dan pekerjaan manusia baru mutlak berdasarkan suplaian rohani; ini bukan yang alamiah, melainkan yang “super”. Ketiga, manusia baru ini adalah manusia yang super. (Hayat alamiah tidak bisa menghasilkan yang super). Ia akan menuntut pekerjaan Allah yang super memberi dia kekuatan yang melampaui segala pekerjaan alamiah, untuk melakukan segala pekerjaan rohani, memiliki segala aktivitas rohani. Ini adalah hasil karunia rohani yang khusus, tegas, dan jelas.
Orang-orang yang tidak mempunyai karunia alamiah, bisa mempunyai karunia rohani, supaya orang-orang yang mempunyai banyak karunia alamiah tidak bisa bermegah. Manusia baru ini bukan dilahirkan dari tekad daging, juga bukan dilahirkan dari maksud manusia. Sebenarnya, 1 Korintus 12 memaparkan apa? Kita harus tahu satu perkara yang paling penting, yaitu manusia baru yang dilahirkan oleh Roh Kudus, pasti mempunyai karunia rohani tertentu untuk melakukan pekerjaan yang diamanatkan Roh Kudus. Roh Kudus menurut maksud hati Allah mengatur setiap orang beriman. Allah tahu, kita di dalam Tubuh Kristus mempunyai kewajiban apa. Allah juga menyuplai kita untuk menunaikan kewajiban yang diamanatkan-Nya kepada kita. Dalam pasal ini kita tampak banyak karunia diberikan kepada manusia baru menurut kehendak Allah, guna merampungkan panggilan yang ia terima. Kita juga tampak, Allah menurut kehendak-Nya sendiri membagikan segala sesuatu. Karunia-karunia itu bukan pernyataan-pernyataan yang ajaib, melainkan pernyataan yang biasa dan spontan dari hayat rohani, yang menyatakan suplaian Tuhan agar dia melakukan pekerjaan tertentu.
Saudara saudari yang terkasih, Anda tidak seharusnya berkata, “Aku tidak patut, aku tidak mempunyai syarat itu; aku tidak mempunyai bakat atau karunia untuk melakukan pekerjaan Tuhan.” Kalau Anda benar-benar telah dilahirkan oleh Roh Kudus, adalah manusia baru, mengapa di dunia ini Anda tidak bisa melakukan apa-apa? Mengapa Anda tidak bisa berbicara, tidak bisa memakai tangan, kaki, dan mata Anda? Bagaimana mungkin Anda bisa menjadi orang yang sama sekali tidak berguna dalam ciptaan baru? Saya percaya, dalam ciptaan baru, tidak ada yang tidak berguna. Roh Kudus membuat ciptaan baru penuh dengan kekuasaan untuk mencapai tujuan Allah, melakukan kehendak Allah. Kalau kita di dalam ciptaan baru mempunyai hak keputraan, mempunyai warisan, kita pasti mempunyai karunia yang super untuk melakukan pekerjaan Allah; bahkan berfungsinya kita dalam lingkungan rohani, adalah hal yang spontan.
Kita harus tahu, tempat yang dijangkau oleh salib tidak terpengaruh oleh berguna atau tidaknya hayat alamiah kita. Salib mengusir orang yang paling berhikmat keluar dari wilayah fungsi rohani yang sesungguhnya; salib menghancurkan sarana-sarana dan bakat alamiah manusia. Ini adalah fakta. Anda ingin berdalih, tidak ada gunanya. Pengalaman rohani membuat seseorang merasa dirinya sama sekali tidak berguna dalam pekerjaan rohani; membuat orang tampak bahwa pekerjaan, bakat, dan namanya sudah sampai pada akhirnya, sehingga ia tidak berani menengadahkan kepala atau bermegah di depan orang tentang pekerjaannya. Bahkan pekerjaan-pekerjaan yang ia lakukan demi nama Tuhan Yesus di masa lalu, kini tidak berani dikerjakan lagi. Saat ini mereka mengetahui makna salib, sebab itu mereka tahu, mereka belum mencapai garis akhir, melainkan baru mulai berjalan. “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Why. 21:5). Sekarang, segala sesuatu berasal dari Allah. Tadinya, mereka berasal dari tempat yang lain.
Pintu baru, memakai sarana yang baru. Betapa berbedanya ini! Hanya orang yang telah masuk melalui pintu yang baru, yang mengetahui perbedaan besar ini. Dalam pintu yang baru ini, hikmat dan bakat alamiah Anda sungguh memalukan. Kalau Anda masih berani memakainya lagi, Anda sungguh bodoh. Allah juga tahu, kalau Anda berbuat demikian, Anda tidak akan berhasil.
Surat 1 Korintus 12:8 mengatakan, “Sebab kepada yang seorang, Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.” Hikmat pemberian Roh Kudus berbeda dengan hikmat alamiah. Pengetahuan yang dari Allah jauh berbeda dengan pengetahuan alamiah. Harus melalui hikmat dan pengetahuan Allah merampungkan pekerjaan Allah. Yang berasal dari Allah melebihi apa yang dapat kita kerjakan.
Salib, di satu pihak, membawa ciptaan lama kita sampai kepada kesudahannya; di lain pihak, memimpin ciptaan baru kita memulai yang baru. Kalaupun alamiah kita berbakat dan sukses, tetapi salib memimpin kita berkata, “Aku tidak bisa, aku tidak mampu.” Inilah kesudahannya. Semakin cepat Anda menerima salib untuk menghancurkan pekerjaan lama Anda, semakin baik; sehingga Anda bisa memasuki ciptaan baru dan berkata, “Di dalam Kristus, aku bisa melakukan segala sesuatu.” Kita harus tahu, semua karunia dan sarana manusia baru adalah untuk korporat, bukan untuk perorangan. Gereja juga disebut “bangsa yang terpilih”. Semua sebutan gereja mempunyai makna korporat — “bangsa yang terpilih”, “imamat yang rajani”, “rumah rohani,” “bangsa yang kudus” (1 Ptr. 2:5, 9). Bangsa, dilahirkan dari satu sumber, memiliki satu hayat. Karena itu, Roh Kudus adalah roh hayat, adalah hayat gereja. Roh Kudus juga adalah Roh yang bekerja, sebab itu, Dia mempunyai sarana, juga suplaian. Hanya Dialah yang membagi-bagikan karunia kepada orang-orang yang mempunyai hayat Kristus. Karunia-karunia itu semuanya korporat, saling berhubungan bukan untuk pekerjaan atau aktivitas sendiri-sendiri. Mereka saling membantu, bersama mengarah ke satu tujuan, mempunyai satu kehendak; mereka tidak bisa dipisahkan.
Karena karunia itu berasal dari satu hayat, maka di dalam Tubuh Kristus mereka saling membantu untuk mencapai satu tujuan. Jadi, karunia-karunia itu hanya bisa menyatakan fungsinya pada hubungan dan kedudukan masing-masing. Setiap anggota Tubuh Kristus harus bergandengan dengan tepat, berada pada kedudukan dan batasan yang Allah berikan kepada masing-masing, untuk menunaikan fungsinya masing-masing. Kalau ada satu anggota Tubuh Kristus yang melampaui batasan yang diberikan oleh Allah, ia akan membelenggu karunia yang Roh Kudus berikan kepadanya. Sebab itu, perlu “mengobarkan karunia Allah yang ada padamu” (2 Tim. 1:6). Kita harus menjaga karunia berkuasa pada kedudukannya sendiri, tidak melampaui bagiannya, tidak mundur, sehingga kita tidak kehilangan karunia — kita harus “mengobarkan karunia”.
Sebab itu, Roh Kudus menghendaki kita mengetahui bahwa ternyatanya karunia, tak lain bertujuan agar manusia mengakui kerealitasan Tubuh Kristus. Karunia rohani itu saling berhubungan untuk melayani Tubuh Kristus. Karena karunia untuk melayani Tubuh Kristus, maka Roh Kudus dengan sendirinya menuntut menyatakan Tubuh Kristus. Hal ini membuat kita tampak gereja pada zaman para rasul, ketika mereka mendapatkan orang yang percaya Kristus, mengakui dirinya bersatu dengan Tubuh Kristus, lalu para rasul menumpangkan tangan ke atas diri mereka, menyatakan kesaksian Tubuh. Roh Kudus juga dengan ini mengakui kesaksian mereka, membagikan karunia kepada anggota Tubuh untuk bekerja. “Khususkanlah . . . bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (Kis. 13:2-3). Paulus berpesan kepada Timotius, “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu melalui penumpangan tanganku atasmu” (2 Tim. 1:6). “Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu melalui nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua” (1 Tim. 4:14). Paulus juga berkata, “Lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (2 Tim. 4:5). Ketika Roh Kudus berdoa di dalam doa Paulus, Roh Kudus dengan sendirinya bernubuat supaya Timotius melakukan pekerjaan pemberita Injil.
Saudara saudari yang terkasih, betapa jelasnya ini. Manusia baru ini adalah manusia baru yang korporat, karunianya juga karunia korporat dan bakatnya juga untuk membangun Tubuh Kristus. Tuhan juga dengan jelas membuktikan kerealitasan Tubuh. Setiap anggota Tubuh menunaikan fungsinya masing-masing, tidak melampaui bagiannya, tidak mundur, dengan diam tenang melakukan tugas; demikian dengan sendirinya menyatakan hayat Tubuh Kristus.
Di sini, kita harus memperhatikan satu perkara: walaupun Kristus telah merampungkan kehendak Allah, menjadi wakil manusia baru, menjadi Anak sulung, menjadi kepala bangsa yang baru, namun keagungan-Nya tetap tidak terbatas, karena Dia sebenarnya adalah Allah. KeAllahan Allah tidak bisa menjadi unsur manusia baru. Manusia baru mempunyai bagian dalam sifat Allah, tetapi tidak ada bagian dalam keAllah-an Allah. Terhadap status dan karya Tuhan Yesus Kristus, kita harus melihat dengan jelas kedua aspeknya, Allah manusia.