Daftar isi Dua Belas Bakul (6) · bab 10/12

Berpegang Teguh kepada Kepala

“Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.”

“Sebaliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari Dialah seluruh tubuh — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”

Efesus 1:22; 4:15-16

“Sedangkan ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh yang ditopang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, bertumbuh menurut pertumbuhan yang berasal dari Allah.”

Kolose 2:19

I

Allah menghendaki Kristus menjadi Kepala segala sesuatu, untuk itu Allah terlebih dulu menjadikan Kristus Kepala gereja, kemudian baru meluas menjadi Kepala segala sesuatu. Kelak, kedudukan Kristus di alam semesta, erat hubungannya dengan kedudukan Kristus di dalam gereja hari ini. Perkara Kristus menjadi Kepala ini, terlebih dulu terjadi di antara anak-anak-Nya. Sebab itu, Kristus menjadi Kepala gereja adalah satu perkara yang sangat besar pengaruhnya.

Kristus adalah Kepala gereja, gereja adalah Tubuh Kristus. Seluruh Tubuh tergantung pada Kepala. Di dalam tubuh, tidak ada satu perkara pun yang boleh hidup di luar kepala. Kalau tubuh meninggalkan kepala, ia akan mati. Semua aktivitas seseorang tergantung pada pengaturan kepala. Kalau kepala luka, kehilangan fungsi, aktivitas tubuh akan terhenti, tubuh tidak bisa hidup lagi. Kepala adalah pusat dari seluruh hayat Tubuh. Firman Allah mengatakan, “Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup.” Orang Kristen menerima hayat dari Tuhan, tetapi hayat itu tidak terpisah dari Tuhan. Orang yang mempunyai Anak mempunyai hidup; hidup ini ada di dalam Anak. Hidup ini tidak pernah meninggalkan Tuhan. Kalau kita meninggalkan Tuhan, kita tidak bisa hidup.

Saudara saudari, Allah bukan membagi sepotong Kristus kepada Anda, supaya Anda boleh mendapatkan-Nya, lalu pergi. Allah memberikan Kristus yang utuh kepada Anda, supaya Anda dengan Kristus melekat menjadi satu. Segala kekuatan keberadaan kita, tergantung pada diri Kristus. Kalau kita kehilangan persekutuan dengan Kristus, kalau kita meninggalkan Tuhan, kita segera seperti tidak mempunyai hayat. Orang Kristen mendapatkan hayat dari Tuhan, tetapi hayat tetap ada di dalam Tuhan. Kita telah mendapatkan hayat, tetapi hayat itu tidak bisa terpisah dengan Kepala. Setelah kita menerima Dia, kita masih perlu tinggal di dalam Dia. Setelah kita menerima Dia, kita masih perlu bersandar kepada-Nya. Sebab itu, tidak ada satu perkara pun dari kita yang boleh merdeka, karena hanya Tuhanlah Kepala, hanya Tuhanlah sumber hayat kita.

II

Kristus adalah hayat Tubuh, Kristus juga otoritas Tubuh. Karena hayat ada di dalam-Nya, otoritas pun ada di dalam-Nya. Dia adalah hayat Anda, sebab itu Dia mempunyai otoritas. Bila Anda taat kepada otoritas-Nya, Anda mempunyai hayat. Semua aktivitas Tubuh diatur oleh Kepala. Kristus sebagai Kepala, berarti Dia mempunyai otoritas atas Tubuh. Saudara saudari, jika Anda tampak apa itu Tubuh, Anda tidak bisa tidak menerima pengaturan dari Kepala. Tubuh tidak boleh bergerak seenaknya. Bila Kepala memerintahkan, baru bergerak. Bila Kepala tidak memerintahkan, tidak bisa bergerak. Tubuh berada di bawah otoritas Kepala. Tubuh tidak boleh mengeluarkan pendapat sendiri. Otoritas aktivitas Tubuh ada di Kepala. Di mana ada hayat, di sana ada otoritas. Otoritas yang sejati adalah hayat. Tuhan menguasai hayat kita, sebab itu Tuhan mempunyai otoritas di atas diri kita.

Orang yang berkata, “Aku sudah mengenal hayat Tubuh”, perlu bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah aku taat di bawah otoritas Tuhan?” Taraf ketaatan Anda kepada otoritas Kepala, menyatakan taraf pengenalan Anda terhadap hayat Tubuh. Ada orang terhadap firman Tuhan berkata, “Meskipun Tuhan berkata demikian, tetapi menurutku . . .” Siapa yang mengizinkan Anda berkata, “tetapi”? Anda mempunyai otoritas apa sehingga berani berkata, “tetapi”? Di dunia ini, kalau ada orang yang tidak taat kepada perintah atasannya, ia adalah orang yang melanggar hukum. Kristus adalah Kepala kita. Kita bukan Kepala. Kita tidak ada otoritas untuk tidak taat kepada Tuhan.

Apa yang disebut “mengikuti”? Mengikuti berarti jalan yang kita tempuh ditentukan oleh orang lain. Saya akan pergi ke mana juga ditentukan oleh orang lain. Inilah mengikuti. Kita mengikuti Tuhan, sebab itu kita tidak mempunyai otoritas untuk menentukan jalan kita sendiri. Bukankah Anda telah berkata kepada Tuhan, “Hanya Tuhanlah otoritas satu-satunya, aku tidak mempunyai pilihan sendiri”? Tubuh hanya taat kepada Kepala, hanya mengikuti. Kalau Anda memperhidupkan hayat Tubuh Kristus, Anda pasti bertudung kepala, Anda pasti tidak mempunyai opini sendiri, Anda pasti tidak mempunyai pendapat sendiri, tidak mempunyai pikiran sendiri. Anda hanya taat kepada Tuhan, membiarkan Tuhan menjadi Kepala. Tuhan menjadi Kepala, yang lain tidak boleh menjadi Kepala. Anda sendiri tidak bisa menjadi Kepala; dalam gereja, siapa pun tidak bisa menjadi Kepala. Tubuh hanya mempunyai satu Kepala, karena itu Tubuh hanya bisa taat kepada satu Kepala. Kristus adalah Kepala. Sebab itu, kita hanya bisa taat kepada Kristus.

Tetapi sering kali di dalam gereja terlalu banyak Kepala. Di dalam gereja muncul banyak pimpinan manusia, cara manusia, peraturan manusia. Manusia ingin menjadi Kepala. Kristus di surga menjadi Kepala; manusia di bumi juga ingin menjadi Kepala. Ketika pendapat kepala di bumi sama dengan pendapat Kepala di surga, lalu taat. Ketika pendapat kepala di bumi tidak sama dengan pendapat Kepala di surga, lalu tidak taat. Ini salah besar! Di dalam gereja, hanya Kristuslah Kepala, tidak ada yang lain. Kristus adalah Kepala, yang lain bukan Kepala. Saudara saudari, pernahkah Anda berkata kepada Tuhan, “Ya, Tuhan, Engkaulah Tuhanku. Aku tidak ada otoritas untuk menentukan sesuatu. Aku juga tidak bersyarat untuk memilih sesuatu. Tuhan, selamatkanlah aku, supaya aku terlepas dari diriku sendiri sebagai Kepala, juga terlepas dari kepala yang mana pun selain Tuhan.” Saudara saudari, kita harus belajar menerima perintah Allah. Kristus adalah Kepala. Tidak seorang pun boleh mengikuti maksudnya sendiri. Sebab itu, takluk kepada Tuhan dan berserah kepada Tuhan adalah pengalaman dasar orang Kristen.

Kisah Para Rasul 2 memperlihatkan kepada kita, ketika Petrus memberitakan Injil, ia mengatakan, “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Petrus berkata bahwa “Yesus adalah Tuhan.” Kristus bukan hanya Juruselamat, tetapi juga Tuhan. Kita semua memerlukan Tuhan sebagai Tuhan. Tetapi karena kita berdosa, maka Tuhan tidak bisa tidak menjadi Juruselamat.

Kita lihat pengalaman keselamatan Paulus. Dalam perjalanannya menuju Damsyik, Tuhan meneranginya sehingga ia berkata, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Paulus lebih dulu tampak Dia adalah Tuhan, kemudian tampak Dia adalah Juruselamat. Saudara saudari, Anda harus tampak dan berkata, “Tuhan, aku sudah tamat. Sejak hari ini, Engkaulah yang mengaturku. Sejak hari ini, Engkaulah yang menjadi Tuhan.”

III

Kita harus berpegang teguh kepada Kepala. Berpegang teguh kepada Kepala berarti mengakui Kristus adalah satu-satunya Kepala, dengan mutlak taat kepada otoritas Kristus. Kita harus berpegang teguh kepada Dia, otoritas kita. Efesus 4:15-16 mengatakan, “Kita bertumbuh dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari Dialah seluruh tubuh — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” Tiap-tiap anggota bisa tersusun rapi dan terikat menjadi satu, karena masing-masing berpegang teguh kepada Kepala sehingga memperhidupkan hayat Tubuh. Allah tidak menghendaki Anda hanya memperhatikan orang yang duduk di sebelah Anda saja, Allah menghendaki Anda berpegang teguh kepada Kepala, Allah menghendaki Anda mempunyai hubungan yang tepat dengan-Nya.Bila Anda mempunyai hubungan yang tepat dengan Tuhan, hubungan Anda dengan anggota yang lain pasti juga tepat. Kalau Anda bisa berpegang teguh kepada Kepala, semua akan beres. Kalau Anda bisa taat di bawah Kepala, urusan Anda dengan saudara saudari mudah diselesaikan. Bila Anda tidak ada masalah dengan Tuhan, Anda juga tidak ada masalah dengan saudara saudari. Bisanya Anda sukses hidup di dalam Tubuh tergantung pada hubungan Anda dengan Tuhan. Bila hubungan Anda dengan Tuhan baik, hubungan Anda dengan siapa pun baik. Saudara saudari, kita bukan karena dengan sesama orang Kristen dapat cocok dalam pembicaraan, maka menjadi orang Kristen; juga bukan karena pernah belajar satu seri pelajaran bagaimana menjadi orang Kristen, lalu sukses menjadi orang Kristen. Kita telah mengenal Kristus, karena itu kita menjadi orang Kristen. Bagaimana kita dilahirkan, begitu pula kita mempertahankan hidup kita. Kita dilahirkan karena ada hubungan dengan Tuhan. Kita menempuh hidup juga karena ada hubungan yang normal dengan Tuhan.

Ini bukan berarti antar orang Kristen tidak ada persekutuan. Ini berarti persekutuan antar orang Kristen harus berdasarkan hubungannya dengan Kristus. Kristus yang tinggal di dalam Anda tidak bisa dipisahkan dengan Kristus yang tinggal di dalam saya atau di dalam dia. Sebab itu, di antara kita perlu ada persekutuan. Kristus yang tinggal di dalam kita bukanlah Kristus yang sebagian, melainkan yang utuh, satu. Kristus yang ada di dalam Anda juga ada di dalam saya. Kristus inilah dasar persekutuan kita. Selain Kristus tidak ada dasar untuk bersekutu. Pendidikan yang kita terima, lingkungan tempat kita tinggal dan bakat yang kita miliki, mungkin tidak sama. Tetapi di dalam kita ada satu hal yang sama, yaitu Kristus. Kristus yang di dalam kita adalah sama, sebab itu kita bisa bersekutu. Yang milik Kristus ada persekutuan, yang bukan milik Kristus tidak ada persekutuan. Bukan karena seseorang berbakat baik, bertemperamen baik, bisa bersimpati kepada orang lain, bersikap lemah lembut, lalu Anda bersekutu dengan dia. Kalau persekutuan Anda berdasarkan orang, berarti Anda tidak berpegang teguh kepada Kepala, persekutuan Anda hanyalah persekutuan Absalom dengan orang lain. Persekutuan Absalom itu telah memisahkan Daud dengan orang Israel. Itu bukan berpegang teguh kepada Kepala. Persekutuan antar orang Kristen seharusnya berhubungan dengan Kristus. Kita tidak boleh memiliki dasar persekutuan lain di luar Kepala. Anda berpegang teguh kepada Kepala, dia juga berpegang teguh kepada Kepala, persekutuan itu akan normal dan berfaedah. Kalau Anda dengan dia sama-sama tidak berpegang teguh kepada Kepala, persekutuan itu akan menimbulkan masalah. Anda mau menjadi orang Kristen sampai taraf yang mana? Inginkah Anda mengikuti Tuhan sampai pada kesudahannya? Kalau ada orang sudah mundur di beberapa pos di depan, dia sudah tidak pada jalan itu, bagaimana Anda bisa bersekutu dengan dia? Sebab itu, hanya orang yang mengikuti Tuhan sampai kesudahannya, berjalan di atas satu jalan, baru bisa bersekutu. Ingatlah, dasar persekutuan kita adalah sama-sama berpegang teguh kepada Kepala.

IV

Apakah syarat untuk berpegang teguh kepada Kepala? Berpegang teguh kepada Kepala, di satu pihak harus membiarkan salib secara mendalam membereskan daging, secara mendalam membereskan hayat alamiah; di lain pihak, perlu belajar bertindak mengikuti Roh, kemudian barulah Anda mempunyai persekutuan yang sempurna. Kalau salib tidak membereskan hayat alamiah, kita tidak bisa memperhidupkan hayat Tubuh. Dalam kitab Wahyu dikatakan, “Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu, ke mana pun Ia pergi.” Bisakah kita berkata, “Kita mengikuti Anak Domba itu ke mana pun Ia pergi?” Salib adalah sarana persekutuan. Salib membereskan daging kita, menghancurkan diri kita, sehingga ke mana saja Anak Domba itu pergi, kita bisa mengikuti-Nya. Kalau kita di hadapan Tuhan tidak ada sekatan, di dalam Tubuh juga tidak ada sekatan. Kalau hubungan kita dengan Kepala tepat, hubungan kita dengan Tubuh juga tepat. Kita harus ingat, setiap anggota Tubuh mempunyai hubungan yang langsung dengan Kepala. Misalnya tangan kiri kita luka. Kepalalah yang menyuruh tangan kanan untuk membantunya, bukan tangan kanan yang langsung bergerak sendiri. Hubungan antar anggota Tubuh terlebih dulu harus melalui Kepala. Kalau Anda berpegang teguh kepada Kepala, Anda membantu saudara adalah untuk Tuhan, bukan karena hubungan manusia. Bila Anda hanya memikirkan orang lain bagaimana bersalah terhadap Anda, pastilah Anda tidak berpegang kepada Kepala. Kalau Anda berpegang teguh kepada Kepala, tidak peduli Anda membantu siapa, Anda selalu membantu mereka karena Tuhan. Jika hubungan Anda dengan Tuhan baik, maka hubungan Anda dengan saudara saudari juga baik. Kalau Anda berpegang teguh kepada Kepala, Anda tidak akan berhubungan langsung dengan siapa pun, Anda tidak akan mempunyai hubungan yang istimewa dengan beberapa orang tertentu.

Allah tidak menghendaki di dalam gereja ada kelompok-kelompok. Apa yang disebut kelompok? Artinya, di antara orang Kristen ada sekelompok orang yang memiliki hubungan langsung yang tidak melalui Kepala. Mereka mempunyai hubungan istimewa yang tidak melalui Kepala. Itulah berkelompok-kelompok, berpartai-partai. Yang lebih besar daripada berkelompok-kelompok adalah sekte. Ada sekelompok orang yang terlalu dekat, terlalu erat hubungannya, lalu menjadi satu sekte. Kalau Anda berpegang teguh kepada Kepala, hati Anda akan sebesar hati Sang Kepala. Saudara saudari harus saling mengasihi. Tetapi saling mengasihi ini harus ada dasarnya. Kasih adalah sesuatu yang ada di dalam Tubuh Kristus. Saling mengasihi haruslah di dalam Tubuh Kristus. Bila saling mengasihi melampaui batasan Tubuh, itu tidak diperkenan Allah. Orang Kristen harus berpegang teguh kepada Kepala, lalu saling mengasihi, baru tidak berkelompok-kelompok, tidak menjadi sekte.

Dalam gereja, baik pengenalan terhadap kebenaran, pemberesan urusan atau perkara yang lain, harus berpegang teguh kepada Kepala. Perbedaan pendapat adalah satu kesulitan terbesar di dalam gereja. Sepotong ayat Alkitab dapat ditafsirkan bermacam-macam; Anda berkata boleh, ia berkata tidak boleh. Atas satu perkara, terdapat bermacam-macam pendapat; Anda berkata begini, dia berkata begitu. Karena salah seorang yang tidak berpegang teguh kepada Kepala, atau dua-duanya tidak berpegang teguh kepada Kepala, maka timbullah perbedaan itu.

Paulus berkata, “Apakah Kristus terbagi-bagi?” (1 Kor. 1:13). Kristus tidak bisa terbagi-bagi. Kristus yang korporat adalah esa. Sebab itu, Kristus tidak mungkin di dalam diri kita menimbulkan dua macam pendapat. Adanya perbedaan pendapat di antara anak-anak Allah, dikarenakan mereka tidak berpegang teguh kepada Kepala. Ketika menghadapi kesulitan, segera berdebat. Itu bukan cara untuk menyelesaikan masalah. Kalau kita mau dengan sehati berlutut, mengakui Kristus adalah Kepala, masalah itu mudah diselesaikan. Perkara rohani mutlak bukan ditentukan oleh pendapat manusia, pikiran manusia atau doktrin manusia; itu bukan berpegang teguh kepada Kepala. Roh Kudus bekerja di dalam kita, Roh Kudus melalui ujian, penderitaan dan pengalaman, membuat kita tidak ada jalan yang lain, kecuali berpegang teguh kepada Kepala, itu baru dapat dipercayai. Melalui kesulitan, Allah membiarkan Anda berada pada jalan buntu. Setelah Anda tidak ada jalan lagi, barulah Ia memberi Anda wahyu. Setelah ada wahyu, Anda dengan sendirinya berpegang teguh kepada Kepala. Wahyu Allah tersusun di dalam hayat kita, sehingga tidak mungkin ada perdebatan. Berpegang teguh kepada Kepala adalah berpegang teguh kepada apa yang Tuhan berikan kepada kita. Sering kali perbedaan pendapat terjadi karena pendapat manusia terlalu banyak, karena opini manusia terlalu banyak. Kalau opini-opini kita bukan berasal dari Kepala, semua itu kosong. Di antara kita, siapa yang patut mengutarakan pendapatnya sendiri? Mengutarakan pendapat sendiri tidaklah berharga.

Hari ini Allah mempunyai satu tujuan, menghendaki anak-anak-Nya di bumi memperhidupkan hayat Tubuh. Untuk memperhidupkan hayat Tubuh, harus berpegang teguh kepada Kepala. Saudara saudari, apakah Anda seorang Kristen yang berpegang teguh kepada Kepala? Semoga Tuhan mengaruniakan ini kepada kita.