PERSEDIAAN ILAHI (2)
Pembacaan Alkitab: 2Ptr. 1:1-4
Dalam berita yang lalu kita mulai membahas mengenai 1:1-4. Kita memberikan perhatian khusus terhadap kata-kata “memperoleh” dan “kebenaran” dalam 1:1. Sekarang mari kita lanjutkan membahas arti iman dalam ayat ini.
IMAN — SUBSTANSIASI
DARI SUBSTANSI KEBENARAN
Iman adalah substansiasi (perwujudan) terhadap substansi kebenaran (Ibr. 11:1), yaitu realitas isi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Isi ekonomi Perjanjian Baru Allah tersusun dari “segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat dan ibadah” (2Ptr. 1:3), yaitu Allah Tritunggal yang menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, menjadi hayat kita di dalam dan ibadah kita di luar. Iman yang sama berharganya yang Allah salurkan kepada kita melalui firman ekonomi Perjanjian Baru Allah dan Roh itu, bereaksi terhadap realitas isi ekonomi Perjanjian Baru Allah yang demikian dan membawa kita masuk ke dalam realitas ini, agar substansinya menjadi unsur kehidupan dan pengalaman kristiani kita. Iman sedemikian ini dibagikan kepada semua orang beriman dalam Kristus sebagai bagian mereka, dan sama berharganya bagi semua orang yang menerimanya. Sebagai bagian sedemikian dari Allah, iman ini obyektif bagi kita dalam kebenaran ilahi. Tetapi iman ini membawa seluruh isi dari apa yang telah direalitaskan ke dalam kita, dengan demikian semua itu bersama iman itu menjadi subyektif bagi kita dalam pengalaman. Ini dapat diibaratkan dengan pemandangan (kebenaran) dan penglihatan (iman) yang obyektif bagi kamera (kita). Tetapi ketika terang (Roh itu) membawa pemandangan kepada film (roh kita) di dalam kamera, maka baik penglihatan maupun pemandangan menjadi subyektif bagi kamera.
Kita telah menjelaskan bahwa iman adalah subtansiasi (perwujudan) dari substansi kebenaran. Mari kita mengambil sebuah ilustrasi substansiasi tentang eksistensi sebuah meja kayu oleh seorang buta melalui indra perabanya. Meskipun meja kayu itu kokoh, orang buta tidak dapat melihatnya. Tetapi dengan menjamah meja itu dengan tangannya, dia merasakan eksistensi meja itu bagi dirinya. Dengan demikian, meja kayu itu menjadi nyata baginya. Karena itu, jamahannya adalah substansiasi dan substansi ini membuat substansi meja itu nyata baginya. Hal ini dapat dipakai sebagai sebuah ilustrasi iman sebagai substansiasi dari substansi kebenaran.
Dalam warisan Perjanjian Baru Allah ada banyak kekayaan, banyak berkat. Akan tetapi, otak alamiah kita buta terhadap segala kekayaan dan berkat ini. Karena itu Allah berkata, “Gunakan imanmu. Biarkan imanmu mensubstansiasi substansi dari segala berkat Perjanjian Baru-Ku.” Realitas atau substansi berkat-berkat Perjanjian Baru Allah adalah kebenaran. Iman sebenarnya adalah substansiasi (perwujudan) dari realitas substansi kebenaran, dan kebenaran itu sendiri adalah isi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Banyak di antara kita yang sangat kenal dengan istilah “ekonomi Allah”. Bahasa Yunani untuk kata ekonomi, oikonomia, berarti pengelolaan, pengaturan rumah tangga, juga berarti pengelolaan, rencana. Ekonomi Allah, rencana Allah, adalah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Karena itu, ekonomi Perjanjian Baru Allah tidak lain adalah bagi penyaluran Allah. Ekonomi ini mempunyai isi, isi ini mempunyai realitas, dan realitas ini adalah kebenaran yang diwahyukan dalam Alkitab. Alkitab bukan hanya sebuah kitab doktrin, tetapi adalah wahyu kebenaran, yaitu realitas isi ekonomi Allah. Realitas ini mempunyai substansi. Hanya iman yang dapat mewujudkan substansi ini. Sebab itu, sekali lagi kita nampak bahwa iman adalah substansiasi (perwujudan) dari realitas ekonomi Perjanjian Baru.
Isi ekonomi Perjanjian Baru Allah tersusun dari “segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang ibadah” (1:3). Kita telah nampak bahwa sesungguhnya ini adalah Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat di dalam kita dan ibadah di luar kita. Dalam Pelajaran-Hayat 1Timotius dijelaskan bahwa iman (kepercayaan) adalah isi Injil yang lengkap menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kepercayaan ini bersifat obyektif, sebagaimana disebutkan dalam 1Timotius 1:4, 19; 2:7; 3:9, 13; 4:1, 6; 5:8; 6:10, 12, 21; 2Timotius 3:8; 4:7; dan Titus 1:1, 4, 13. Kebenaran adalah realitas isi kepercayaan, seperti disebutkan dalam 1Timotius 2:4, 7; 3:15; 4:3; 6:5; 2Timotius 2:15, 18, 25; 3:7, 8; 4:4; Titus 1:1, 14. Kesalehan (ibadah), adalah suatu kehidupan yang mengekspresikan Allah, seperti disebutkan dalam 1Timotius 2:2, 10; 3:16; 4:7, 8; 5:4; 6:3, 5, 6, 11; 2Timotius 3:5, 12; Titus 1:1; 2:12. Kepercayaan sama dengan isi ekonomi Allah, pemerintahan rumah tangga Allah, pengaturan Allah. Kebenaran adalah realitas, adalah isi dari kepercayaan menurut ekonomi Allah. Hayat kekal adalah sarana dan kekuatan untuk merampungkan realitas ilahi dari kepercayaan. Ibadah adalah kehidupan yang mengekspresikan realitas ilahi, ekspresi Allah dalam segala kekayaan-Nya. Iman (yang subyektif) adalah respon terhadap kebenaran kepercayaan (yang obyektif), menerima dan berbagian dalam realitas ilahi.
Iman yang sama berharganya yang Allah bagikan kepada kita melalui firman ekonomi Perjanjian Baru Allah dan Roh itu, bereaksi terhadap realitas isi semacam ini dan mengantar kita ke dalam realitas ini. Iman ini membuat substansi ekonomi Allah menjadi unsur kehidupan dan pengalaman kristiani kita. Iman sedemikian ini dibagikan kepada semua orang beriman dalam Kristus sebagai bagian mereka. Iman ini obyektif bagi kita dalam kebenaran ilahi, tetapi membawakan seluruh isi dari substansiasinya ke dalam kita. Substansiasi adalah iman, dan iman ini membawakan apa saja yang disubstansiasikannya ke dalam kita. Dengan demikian, iman menyebabkan segala sesuatu yang disubstansiasikannya menjadi subyektif bagi kita dalam pengalaman kita.
Kita dapat memakai sebuah kamera sebagai sebuah ilustrasi. Misalnya Anda ingin memotret suatu pemandangan. Pemandangan itu mewakili kebenaran, dan pengalaman kita melihat pemandangan itu mewakili iman. Baik pemandangan maupun proses melihat itu bersifat obyektif bagi kamera, karena belum masuk ke dalam kamera. Tetapi terang memungkinkan pemandangan itu tercetak di atas film. Terang mewakili Roh itu dan film mewakili roh kita. Dengan demikian, baik pemandangan maupun penglihatan masuk ke dalam kamera dan menjadi subyektif baginya. Kamera “berbunyi klik”, terang masuk, dan pemandangan itu dibawa ke dalam kamera dan tercetak di atas film. Kita adalah “ka-mera”, dan roh kita adalah “film”. Sekarang pemandangan dan penglihatan itu bersifat subyektif bagi kita. Inilah iman.
Iman mengandung semua butir dalam “pemandangan” warisan Perjanjian Baru menurut ekonomi Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru kita nampak satu gambar yang lengkap dari pemandangan ini. Tetapi pemandangan ini berada di luar kita. Bagaimana pemandangan itu dapat masuk ke dalam kita? Melalui penglihatan kita dan melalui pekerjaan Roh itu. Inilah pengalaman kita ketika kita beroleh selamat dan dilahirkan kembali. Kita mendengar pemberitaan Injil, ada sebuah “bunyi klik” dari pengatur cahaya “kamera”, dan terang masuk ke dalam kita. Hasilnya, pemandangan ilahi tercetak di atas roh kita.
Kadang-kadang kita memberitakan Injil kepada orang lain, dan mereka tidak mengalami “bunyi klik” ini. Sewaktu kita menginjil, beberapa dari mereka mungkin berkata, “Aku tidak setuju dengan apa yang Anda katakan.” Yang lain mungkin berkata, “Aku tidak peduli soal ini.” Yang lain lagi mungkin menanggapi, “Orang ini gila. Apa yang dia katakan?” Tidak ada tanggapan yang positif. Tetapi akhirnya, karena belas kasihan Tuhan, terang ilahi dengan pemandangan itu masuk ke dalam orang itu, kemudian tercetak di atas film dan tidak dapat dihapus. Bahkan jika kita mencoba berubah pikiran, kita tidak dapat menghapus pemandangan yang telah tercetak di atas “film” dari roh kita.
Banyak di antara kita bisa bersaksi bahwa kita percaya Tuhan karena alasan yang tidak jelas. Kita mendengar pemberitaan Injil, dan ada sebuah “bunyi klik” di dalam kita. Dengan spontan kita percaya Tuhan. Sebelumnya, kita mungkin berdebat tentang Allah dan Kristus. Kita mungkin berkata, “Apakah Allah benar-benar ada? Mungkin Allah ada, tetapi bagaimana Yesus dari Nazaret dapat menjadi Allah di dalam daging? Aku tidak percaya bahwa manusia yang bernama Yesus itu adalah Allah.” Namun, ketika kita mengalami satu “bunyi klik”, dengan otomatis kita mulai percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah. Lalu kita mengakui, “Aku tidak tahu mengapa, tetapi sekarang aku percaya bahwa Yesus adalah Allah. Haleluya, Yesus Kristus adalah Allahku! Puji Tuhan!”
Banyak dari kita dapat bersaksi bahwa kita telah mempunyai pengalaman semacam ini. Pada suatu saat ada “bunyi klik” di dalam kita. Pada saat itu juga, pemberian iman yang sama berharganya dari Allah masuk ke dalam kita. Sejak saat itu, kita telah memiliki iman di dalam Tuhan.
Saya mengalami “bunyi klik” dari iman ini ketika saya beroleh selamat dan dilahirkan kembali. Meskipun saya dilahirkan dalam keluarga Kristen, saya tidak mengalami keselamatan sampai saya berumur 19 tahun. Suatu sore, karena ingin tahu, saya pergi mendengarkan seorang wanita muda memberitakan Injil. Ketika dia berbicara, saya mengalami “bunyi klik” sekali demi sekali. Hari itu saya beroleh selamat dengan tegas dan tuntas.
Kita semua telah mempunyai pengalaman tentang pemandangan ilahi dicetak di atas film dari roh kita melalui “bunyi klik” dari kamera. Tingkatannya mungkin berbeda, tetapi esensnya sama. Kita semua telah mempunyai “bunyi klik” yang kecil, dan kita semua sekarang mempunyai iman yang sama berharganya.
Iman ini adalah bagian yang nyata dari pemberian Allah. Inilah realitas ekonomi Perjanjian Baru yang diberikan kepada kita di dalam dan dengan kebenaran Allah, yang juga adalah kebenaran Juruselamat kita, Yesus Kristus. Kebenaran ganda ini — kebenaran Allah dan Kristus — adalah ruang lingkup yang di dalamnya dan sarana yang dengannya bagian Perjanjian Baru telah diberikan kepada kita.
PENGGANDAAN ANUGERAH
DAN DAMAI SEJAHTERA
Dalam ayat 2 Petrus selanjutnya berkata, “Anugerah dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan (yang penuh) akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.” Bagian pertama ayat ini juga dapat diterjemahkan, “Anugerah dan da-mai sejahtera dilipatgandakan kepadamu.” Anugerah dan damai sejahtera melawat kita melalui iman yang Allah bagikan, yang mensubstansiasikan berkat hayat Perjanjian Baru. Iman ini diinfuskan ke dalam kita melalui firman Allah, yang menyampaikan kepada kita pengenalan yang sesungguhnya akan Allah dan Yesus Tuhan kita. Dalam ruang lingkup pengenalan yang penuh akan Allah dan Yesus Tuhan kita, dan melalui pengenalan yang sedang bertambah dan sudah ditambahkan, maka anugerah dan damai sejahtera yang kita terima akan dilipatgandakan.
Pengenalan yang penuh akan Allah Tritunggal membuat kita mengambil bagian dan menikmati hayat ilahi dan sifat ilahi-Nya. Ini berlawanan dengan pengetahuan logika filsafat manusia yang mematikan, yang telah menyusup ke dalam gereja pada saat kemurtadan gereja.
KUASA ILAHI TELAH MEMBERI KITA
SEGALA HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN
HAYAT DAN IBADAH
Dalam 1:3 Petrus berkata, “Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat dan ibadah, melalui pengenalan (yang penuh) kita akan Dia yang telah memanggil kita oleh kemuliaan dan kebajikan-Nya sendiri” (Tl.). Pasal 2 menampakkan kepada kita bahwa surat ini, seperti Surat 2Timotius, Surat 2Yohanes, Surat Yohanes, dan Surat Yudas, ditulis pada masa kemerosotan dan kemurtadan gereja, karena itu, latar belakang surat ini ialah kemurtadan. Beban penulis adalah menyuntik kaum beriman untuk melawan racun kemurtadan. Keselamatan Allah adalah menyalurkan diri-Nya sendiri dalam ke-Trinitasan-Nya ke dalam kaum beriman sehingga Dia menjadi hayat dan suplai hayat mereka. Inilah ekonomi Allah, rencana Allah. Kemurtadan mengalihkan kaum beriman dari ekonomi Allah kepada logika filsafat manusia yang menyesatkan. Ini tidak membawa mereka mengambil bagian dalam pohon hayat yang memberi hayat, tetapi mengambil bagian dalam pohon pengetahuan yang membawa kematian (Kej. 2:9, 16-17). Demikian ular itu menipu dan memperdayai Hawa (Kej. 3:1-6). Untuk mencegah dan melawan racun maut ini, dalam suratnya yang menyembuhkan, rasul terlebih dulu memaparkan kuasa ilahi sebagai obat penangkal yang paling mujarab dan paling berkhasiat. Kuasa ilahi ini menyuplai kaum beriman dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat ilahi yang menghasilkan dan menyuplai (bukan pengetahuan yang mematikan) serta ibadah yang mengekspresikan Allah (bukan penyataan hikmat manusia). Persediaan ilahi yang limpah ini, (yang dibahas secara rinci dalam ayat-ayat berikutnya sampai dengan ayat 11), mampu dengan limpah bahkan berlebih membuat kaum beriman menempuh hidup kristiani yang wajar dan mengalahkan kemurtadan setani.
Dalam 1:3 kata “ilahi” mengacu kepada sifat Allah yang kekal, tidak terbatas dan mahakuasa. Karena itu, kuasa ilahi, kekuatan ilahi, adalah kekuatan hayat ilahi yang berhubungan dengan sifat ilahi.
Di sini kata “menganugerahkan” berarti menyalurkan, menginfuskan, menanamkan ke dalam kita melalui Roh pemberi-hayat almuhit yang melahirkan kita kembali dan yang berhuni di dalam kita (2Kor. 3:6, 17; Yoh. 3:6; Rm. 8:11).
Segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat dan ibadah adalah berbagai aspek hayat ilahi, yang dilambangkan dengan kelimpahan hasil tanah permai dalam Perjanjian Lama. Semua ini adalah substansi dari realisasi iman kita, yang Allah bagikan kepada kita sebagai bagian warisan kita. Hayat berada di dalam, memungkinkan kita hidup, dan ibadah berada di luar sebagai ekspresi luar dari hayat kita yang di dalam. Hayat adalah kekuatan yang di dalam, tenaga yang di dalam, untuk menampilkan kesalehan yang di luar, yang memimpin dan menghasilkan kemuliaan.
Pada awal ayat 3 dalam bahasa aslinya ada kata “sebagaimana”, ini sungguh bermakna, menunjukkan bahwa anugerah dan damai sejahtera akan dilipatgandakan kepada kita dalam pengenalan yang penuh akan Allah dan Yesus Tuhan kita sebagai, atau menurut, penanaman segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat dan ibadah melalui kuasa ilahi. Anugerah dan damai sejahtera dilipatgandakan kepada kita menurut apa yang ditanamkan kekuatan ilahi kepada kita. Tanpa penanaman melalui kekuatan ilahi tidak akan ada jalan bagi anugerah dan damai sejahtera untuk dilipatgandakan kepada kita.
Kata “melalui” dalam ayat 3 menunjukkan bahwa penyaluran segala perkara hayat ke dalam kita adalah melalui pengenalan yang penuh akan Allah, yang disampaikan dan diwahyukan kepada kita melalui firman-Nya. Ini menjadilah kepercayaan (yang obyektif) yang di dalamnya iman (yang subyektif) kita dihasilkan.
KEMULIAAN DAN KEBAJIKAN
Dalam 1:3 kata ganti “Nya” mengacu kepada Allah, yang adalah Juruselamat dan Tuhan kita Yesus Kristus (ayat 1-2). Dia telah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya dengan kemuliaan dan kebajikan-Nya. Para murid-Nya melihat kemuliaan dan kebajikan-Nya (ayat 16; Yoh. 1:14) dan tertarik oleh-Nya. Kemudian dengan kemuliaan dan kebajikan ini Dia memanggil mereka kepada kemuliaan dan kebajikan ini. Semua orang beriman dalam Kristus juga demikian.
Kemuliaan adalah ekspresi Allah, Allah diekspresikan dalam kemegahan. Secara harfiah, bahasa Yunani untuk kata “kebajikan” berarti keunggulan. Kebajikan mengacu kepada kekuatan hayat yang mengalahkan semua halangan dan menggenapkan semua atribut yang unggul. Kemuliaan adalah sasaran ilahi; kebajikan adalah kekuatan dan tenaga hayat untuk mencapai sasaran. Kebajikan ini, dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat, telah diberikan kepada kita melalui kuasa ilahi, tetapi masih perlu dikembangkan dalam penempuhan mencapai kemuliaan.
Dalam 1:4 Petrus melanjutkan, “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” Kata “dengan” di sini boleh diterjemahkan sebagai “dikarenakan”, “berdasarkan”; dalam bahasa aslinya juga berarti sarana, penyebab.
Kata “jalan itu” mengacu kepada kemuliaan dan kebajikan dalam ayat 3. Melalui dan berdasarkan kemuliaan dan kebajikan Tuhan, yang dengannya dan kepadanya kita telah dipanggil, Dia telah memberi kita janji-janji-Nya yang berharga dan sangat besar, seperti dalam Matius 28:20; Yohanes 6:57; 7:38-39; 10:28-29; 14:19-20, 23; 15:5; dan 16:13-15. Allah telah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya. Karena kemuliaan dan kebajikan ini, Allah telah memberi kita janji-janji. Semua janji ini akan berangsur-angsur digenapkan di atas kaum beriman-Nya dengan kuasa hayat-Nya sebagai kebajikan yang unggul, hingga mencapai kemuliaan-Nya.
Kita telah menekankan fakta bahwa Allah telah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya. Tetapi panggilan ini perlu digenapkan. Meskipun kita telah dipanggil ke dalam kemuliaan dan kebajikan Allah, apakah kita benar-benar di dalam kemuliaan ini, dan apakah kita berbagian dalam kebajikan ini? Jawaban yang tepat adalah kadang-kadang kita di dalam kemuliaan dan kadang-kadang kita berbagian dalam kebajikan ini. Karena itu, bagaimana panggilan Allah terhadap kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya dapat digenapkan? Melalui janji-janji-Nya.
BERBAGIAN DALAM SIFAT ILAHI
Melalui janji-janji yang berharga dan sangat besar, kita, kaum beriman dalam Kristus (Allah dan Juruselamat kita), dalam kesatuan yang organik dengan-Nya, yang kita masuki melalui iman dan baptisan (Yoh. 3:15; Gal. 3:27; Mat. 28:19), telah menjadi pengambil bagian dalam sifat-Nya. Kebajikan (kekuatan hayat) sifat ilahi ini akan membawa kita masuk ke dalam kemuliaan-Nya (ibadah yang dengan penuh mengekspresikan Allah Tritunggal).
Melalui dan berdasarkan kemuliaan dan kebajikan Tuhan, yang dengannya dan kepadanya kita telah dipanggil, Allah telah memberi kita janji-janji-Nya yang berharga dan sangat besar. Tidak hanya demikian, melalui proses, prosedur ini, Allah memberi kita janji-janji. Dia berjanji kepada kita bahwa Dia akan bertanggungjawab untuk menggarapkan kemuliaan dan kebajikan ini. Seperti yang telah kita lihat, kemuliaan sebagai ekspresi adalah sasaran, dan kebajikan adalah kekuatan hayat. Kebajikan adalah sifat-sifat unggul Allah yang menjadi kekuatan hayat bagi kita. Ini berarti kita mempunyai kekuatan dan tenaga untuk mencapai kemuliaan. Dengan janji-janji Allah kita mempunyai kekuatan untuk mengekspresikan kemuliaan-Nya. Salah satu dari janji-janji ini terdapat dalam 2Korintus 12:9, di mana Tuhan berkata, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu.” Betapa besar dan berharga-nya janji ini! Tentu saja, janji ini dapat menggenapkan kemuliaan dan kebajikan.
Melalui janji-janji ini kita dapat berbagian dalam sifat ilahi. Kita menerima hayat ilahi hanya dengan percaya. “Klik”, dan hayat ilahi masuk ke dalam kita. Sifat adalah substansi hayat. Meskipun kita menerima hayat pada saat kita percaya, tetapi sifat harus kita nikmati secara terusmenerus. Kenikmatan ini memerlukan anugerah Allah. Semakin banyak sifat ilahi yang kita nikmati, semakin banyak kebajikan-Nya kita miliki, dan semakin banyak kita dibawa ke dalam kemuliaan-Nya.
Berbagian dalam sifat ilahi adalah menikmati apa adanya Allah. Agar kita dapat menikmati segala adanya Dia, Allah akan melakukan banyak hal bagi kita menurut janji-janji-Nya. Ini akan memungkinkan kita menikmati sifat-Nya, apa adanya Dia. Kita telah nampak bahwa salah satu dari janji-janji-Nya adalah anugerah-Nya cukup bagi kita. Anugerah Allah yang cukup akan bekerja di dalam kita hari demi hari sehingga kita boleh menikmati sifat ilahi.
Menjelang akhir ayat 4 Petrus berkata tentang “luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia”. Dalam suratnya yang pertama Petrus memberi tahu kaum beriman bahwa Kristus telah menebus mereka dari cara hidup mereka yang sia-sia (1Ptr. 1:18-19), karena itu mereka harus menjauhkan diri dari nafsu (1Ptr. 2:11) dan tidak lagi hidup dalam daging menurut nafsu manusia (1Ptr. 4:12). Kini, dalam suratnya yang kedua, dia menyingkapkan kepada mereka kekuatan, tenaga, yang dengannya mereka dapat lepas dari kebinasaan nafsu, dan hasil dari kelepasan itu. Kekuatan ini adalah kebajikan hayat ilahi, dan hasilnya adalah berbagian dalam sifat Allah, menikmati segala kelimpahan apa adanya Allah Tritunggal. Ketika kita mengambil bagian dalam sifat Allah dan menikmati segala apa adanya Allah, maka semua kelimpahan sifat Allah akan dikembangkan sepenuhnya, seperti yang dijelaskan dalam 1:5-7. Kita telah lepas dari kebinasaan nafsu dunia dan telah menyingkirkan halangan-halangan terhadap pertumbuhan hayat ilahi di dalam kita, maka kita dibebaskan untuk berbagian dalam sifat Allah dan dengan sepenuhnya menikmati kelimpahan dalam perkembangannya oleh kebajikan Allah hingga mencapai kemuliaan Allah.
Sifat ilahi mengacu kepada kekayaan dari apa adanya Allah. Apa pun adanya Allah, ada di dalam sifat-Nya. Karena itu, ketika kita berbagian dalam sifat ilahi, kita berbagian dalam kekayaan ilahi. Setelah menerima hayat ilahi pada saat kita dilahirkan kembali, kita harus terus menikmati apa adanya Allah.
Kekayaan dari apa adanya Allah adalah isi dari pengharapan yang hidup yang disebutkan dalam 1Petrus 1:3. Menurut rahmat-Nya yang besar, Allah Bapa telah melahirkan kita kembali kepada satu pengharapan yang hidup. Pengha-rapan yang hidup ini sebenarnya adalah pengharapan hayat. Setelah memiliki pengharapan hayat ini, kita berharap setiap hari dapat menikmati kekayaan hayat ilahi. Sesungguhnya, menikmati hayat ilahi tidak lain ialah berbagian dalam sifat ilahi. Karena itu, berbagian dalam sifat ilahi berhubungan dengan pengharapan kita yang hidup tentang menikmati segala kekayaan hayat ilahi.
Ketika kita dilahirkan kembali, kita dihidupkan oleh Allah, atau boleh kita katakan bahwa Dia membuat kita “mendapatkan hayat”. Hayat ilahi masuk ke dalam inti manusia kita. Sejak saat itu dan seterusnya, kita memiliki pengharapan yang hidup, pengharapan hayat. Pengharapan kita adalah setiap bagian diri kita akan dihidupkan. Karena itu, kelahiran kembali telah mendatangkan pengharapan yang hidup. Kelahiran kembali membuat kita menikmati kekayaan hayat ilahi, dan kekayaan hayat ini adalah sifat ilahi. Jadi, berbagian dalam sifat ilahi adalah menikmati kekayaan Allah.
Kenikmatan ini adalah untuk sekarang dan selamanya. Untuk selamanya kita akan terus berbagian dalam sifat ilahi. Ini digambarkan dengan pohon hayat dan sungai air hayat dalam Wahyu 22:1-2. Sungai hayat mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba. Ini menunjukkan Allah mengalir keluar menjadi kenikmatan umat tebusan-Nya. Aliran sungai itu akan memenuhi seluruh Kota Yerusalem Baru. Selanjutnya, pohon hayat yang tumbuh di sepanjang sungai akan menyuplai umat tebusan dengan Allah sebagai suplai hayat mereka. Inilah gambaran dari apa yang dimaksud dengan berbagian dalam sifat ilahi.