DOA GEREJA
Pembacaan Alkitab:
Kis. 2:42; 4:23-24, 29-31; 12:5, 12
Dalam berita ini kita akan melihat tentang kehidupan doa dalam pelaksanaan hidup gereja (church life). Pada hakikatnya, dalam gereja tidak ada "anggaran dasar" yang di luar, sebaliknya, gereja harus memiliki kehidupan berdoa. Hari ini corak pelaksanaan organisasi kekristenan sangat berbeda dengan keadaan gereja yang tercatat dalam Kitab Kisah Para Rasul. Pelaksanaan manusia hari ini ada ketentuan, peraturan, pengakuan iman, dan anggaran dasar yang di luar, tetapi dalam Kitab Kisah Para Rasul kita tidak menemukan hal-hal itu. Gereja tidak ada peraturan dan ketentuan yang di luar, hanya ada hidup gereja yang di dalam doa.
Berdoa adalah permulaan keberadaan (eksistensi) gereja. Gereja lokal yang pertama, ekspresi pertama gereja, dihasilkan oleh doa selama sepuluh hari oleh seratus dua puluh orang. Mereka tidak memiliki peraturan yang tertulis atau anggaran dasar organisasi, tetapi mereka memiliki sepuluh hari berdoa. Mereka berdoa dan berdoa, sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang bukan berasal dari mereka, tetapi berasal dari Allah. Itulah asal usul terbentuknya gereja lokal yang pertama. Begitulah munculnya ekspresi pertama Tubuh Tuhan.
BERTEKUN DALAM PENGAJARAN RASUL-RASUL DAN DALAM PERSEKUTUAN, SELALU BERKUMPUL UNTUK MEMECAHKAN ROTI DAN BERDOA
Setelah gereja yang sebermula terbentuk, gereja itu bertekun dalam empat hal (Kis. 2:42). Pertama adalah pengajaran rasul-rasul. Memelihara pengajaran rasul-rasul adalah memelihara pengajaran Tuhan, karena pengajaran rasul adalah pengajaran Tuhan. Murid-murid harus menerima pengajaran supaya mereka mengalami pengubahan dalam berbagai aspek. Kalau kita membaca beberapa pasal pertama dari Kitab Kisah Para Rasul, kita akan tampak bahwa pada pembentukan gereja yang sebermula, semua anggota Tubuh dalam ekspresi pertama Tubuh Tuhan terbawa dalam suatu keadaan, yaitu melepaskan konsepsi, latar belakang, dan susunan lama mereka untuk menerima hal-hal yang baru. Mereka berbuat demikian melalui menerima dan memelihara firman Tuhan yang disampaikan melalui rasul-rasul. Tidak ada bekas atau jejak yang menunjukkan bahwa mereka masih mempertahankan hal-hal yang lama. Dalam hidup mereka, bahkan dalam cara batiniah hayat mereka, melalui kekuatan Roh Kudus, mereka melepaskan cara mereka sendiri dan segala perkara yang lama, datang kepada firman Tuhan, menerima semua perkara yang baru. Inilah arti yang tepat dari bertekun dalam pengajaran rasul-rasul.
Dengan demikian, murid-murid tidak hanya diselamatkan dan diampuni oleh Tuhan; mereka benar-benar telah dilahirkan kembali, dan kelahiran kembali mereka meliputi suatu pengubahan dalam taraf tertentu. Mereka sedikitnya berubah dalam perilaku dan kehidupan mereka. Dalam perilaku mereka, mereka melupakan semua perkara yang lama, melepaskan latar belakang diri sendiri. Mereka datang kepada firman Tuhan dan kepada pengajaran Tuhan dengan cara yang mutlak baru untuk menerima segala perkara. Saat itu, mereka tidak secara teori menerima firman Tuhan; sebaliknya, mereka dengan riil belajar firman Tuhan. Mereka tidak mempelajari teologi, tetapi belajar bagaimana mengikuti Tuhan, bagaimana menempuh hidup sehari-hari, dan bagaimana menempuh hidup gereja dengan cara yang sepenuhnya baru. Mereka dilahirkan kembali dan diubah sedemikian rupa sehingga melepaskan segala sesuatu yang lama, lalu dengan cara yang sepenuhnya baru menempuh hidup, bekerja, melayani Tuhan, dan menempuh hidup gereja.
Hal kedua yang ditekuni oleh murid-murid adalah persekutuan rasul-rasul. Persekutuan adalah berpartisipasi bersama dan secara umum dalam hayat dan Roh Tuhan. Melalui persekutuan ini, mereka secara riil bersatu dalam roh dan hayat. Persekutuan adalah istilah yang sangat khusus, dalam bahasa Yunaninya mengandung arti dibawa masuk ke dalam keesaan. Keesaan yang demikian hanya bisa di dalam Roh itu, melalui Roh itu, dan di dalam hayat ilahi. Murid-murid belajar melepaskan kehidupan dan perilaku lama mereka, bahkan melepaskan hayat diri mereka untuk hidup berdasarkan hayat ilahi, hayat Tuhan, dan berperilaku dan bertindak dalam Roh Kudus. Mereka dididik untuk hidup berdasarkan Tuhan yang menjadi hayat mereka, dan bagaimana berperilaku dan bertindak dalam Roh Kudus. Dalam Roh ini mereka dengan riil dibawa ke dalam keesaan; inilah persekutuan yang sejati.
Kalau kita membaca lima pasal pertama dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita tampak murid-murid benar-benar satu; tidak hanya satu dalam hayat batiniah, juga satu dalam kehidupan lahiriah. Mereka secara riil mempunyai persekutuan hayat. Ini berbeda dengan pelaksanaan kebanyakan orang Kristen hari ini. Banyak orang Kristen ketika berkumpul bersidang, mereka dengan sopan saling menyapa, kemudian mengatakan selamat tinggal. Mereka berbasa basi dengan sopan, tetapi saling tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Itu bukan persekutuan yang sejati. Persekutuan yang sejati adalah keesaan dalam Roh itu dan hayat ilahi. Murid-murid bahkan menganggap milik mereka adalah milik bersama; mereka melepaskan cara hidup mereka sendiri, juga melepaskan hayat mereka. Mereka mengambil Tuhan Yesus sebagai hayat mereka, mengambil Roh Kudus sebagai kehidupan mereka. Dengan demikian, mereka bisa bersatu secara riil dalam hidup sehari-hari. Inilah makna sejati dari persekutuan. Persekutuan bukan hanya saling berjabatan tangan, saling menyapa, melainkan dibawa masuk ke dalam keesaan Roh itu, keesaan hayat ilahi, dan keesaan kehidupan rohani.
Hal ketiga yang ditekuni oleh murid-murid adalah memecahkan roti. Ini bukan hanya memperingati Tuhan, lebih-lebih memamerkan Tuhan, bersaksi bagi Tuhan, dan bersaksi bagi hayat yang mereka miliki. Meja Tuhan bukan hanya sebagai satu peringatan, juga sebagai satu kesaksian. Orang-orang yang beroleh selamat, dilahirkan kembali oleh Tuhan, yang terus-menerus hidup berdasarkan Tuhan, adalah satu pameran, menyatakan kepada alam semesta, khususnya menyatakan kepada segala pemerintah dan penguasa dan kuasa dan kerajaan bahwa kita memiliki hayat macam apa, dan bagaimana cara kita hidup. Kita hidup berdasarkan Yesus sebagai hayat kita, hayat yang kita miliki adalah Kristus Tuhan sendiri. Dia adalah hayat kita. Dia adalah makanan (roti) hidup, setiap hari kita menikmati Dia. Kemudian kita datang bersama memperingati Dia, dan bersaksi kepada alam semesta.
Butir keempat hidup gereja yang sebermula, juga butir yang terakhir, adalah kehidupan berdoa. Murid-murid tidak memiliki senjata, anggaran dasar, juga tidak memiliki hikmat atau kekuatan duniawi; yang mereka miliki adalah satu Allah yang hidup, mereka membawa segala perkara ke hadapan Allah yang hidup; mereka membawa segala kesulitan ke hadapan Allah yang hidup ini. Inilah makna sejati dari doa mereka. Hidup gereja sebermula adalah kehidupan berdoa. Kalau kita bandingkan dengan kekristenan hari ini, sangatlah berbeda. Dalam kekristenan hari ini banyak pengajaran, cara manusia, organisasi, anggaran dasar, peraturan, ketentuan, benda-benda materi, dan perkara yang lainnya, tetapi kekurangan doa. Kalau kita mau melaksanakan hidup gereja yang sejati, kita harus belajar mempunyai doa yang riil, menang, hidup, dan segar. Tidak hanya demikian, kita juga harus belajar membantu orang lain berdoa, supaya setiap anggota Tubuh dalam gereja menjadi anggota Tubuh yang berdoa.
Sering kali ada orang bertanya kepada saya, bagaimana mendorong anggota Tubuh menjadi anggota Tubuh yang berfungsi. Kalau kita mengharapkan setiap anggota Tubuh bisa menjadi anggota Tubuh yang berfungsi, kita harus membantu mereka belajar berdoa, selain berdoa tidak ada jalan lain. Anggota Tubuh yang berdoa adalah anggota Tubuh yang berfungsi. Kalau satu anggota Tubuh tidak mempunyai kehidupan berdoa, ia sama sekali tidak bisa menjadi anggota Tubuh yang menunaikan fungsi. Kita harus belajar berdoa, juga harus belajar membantu orang lain berdoa.
Kalau kita ingin mempunyai hidup gereja yang sejati, kita harus belajar mempunyai kehidupan berdoa, bahkan berdoa puasa. Belakangan ini yang paling saya rasakan adalah gereja kekurangan doa. Saya hampir-hampir ingin melepaskan waktu berkhotbah, dan memakai waktu itu untuk berdoa. Kita harus belajar berdoa, juga harus belajar ketika gereja berkumpul, berdoa secara korporat, menjadi satu bagian dari hidup gereja. Ini adalah perkara yang sangat penting dan sangat diperlukan pada hari ini.
BERDOA ADALAH SATU-SATUNYA JALAN
UNTUK MELAKSANAKAN HIDUP GEREJA
Kalau kita ingin belajar berdoa bersama orang lain, kita harus terlebih dulu melepaskan ego dan pikiran kita sendiri. Kita menjunjung tinggi Tuhan, menghormati Tuhan, dan memohon kepada Tuhan, "Ya Tuhan, kami datang ke hadapan-Mu, mencari kehendak-Mu. Kami membawa diri kami ke hadapan-Mu, biar Engkau mempunyai kesempatan yang sebesar-besarnya berbicara kepada kami." Kita perlu doa yang demikian. Saya tidak suka cara pelaksanaan hidup gereja yang lain. Hari ini ada orang berkata, "Kita melaksanakan gereja Perjanjian Baru." Bahkan ada orang mencoba secara luaran, menurut buku "Kehidupan Gereja yang Normal", melaksanakan hidup gereja. Itu salah. Satu-satunya jalan yang tepat melaksanakan hidup gereja adalah berdoa di hadapan Tuhan.
Kita bukan mengikuti cara yang di luar, juga bukan meniru cara tertentu. Semua itu mati. Kita harus berdoa di hadapan Tuhan untuk membuka satu jalan yang baru supaya Dia masuk. Kita harus berdoa untuk keadaan sekarang ini, melihat apa yang akan Tuhan katakan, apa yang akan Tuhan lakukan. Kita harus setiap hari berdoa, sampai kita mempunyai pandangan yang sama, mempunyai pengurapan minyak batiniah yang sama, dan mempunyai keyakinan yang sama. Kalau kita tidak mempunyai pengurapan minyak dan keyakinan, perlu berdoa lagi, bahkan berpuasa, tidak tidur. Inilah satu-satunya jalan untuk melaksanakan hidup gereja.
Bahkan mengatakan kita menurut Kitab Kisah Para Rasul melaksanakan hidup gereja, ini juga tidak benar. Kita tidak seharusnya berkata, "Ini adalah pelaksanaan sebermula dalam Kitab Kisah Para Rasul yang dilaksanakan oleh para rasul. Mari kita laksanakan juga demikian." Itu hanya secara harfiah yang mati meniru para rasul saja. Itu tidak ada hayat, tidak ada pengurapan minyak, tidak ada daya dobrak. Sebaliknya, kita harus berdoa. Kita harus dalam doa membawa ke hadapan Tuhan keadaan dan keperluan kita hari ini, dan terus berdoa, sampai semua orang yang di depan (memimpin) mempunyai pengurapan minyak dan keyakinan yang sama; untuk keadaan kita hari ini di hadapan Tuhan mereka melihat sesuatu dari Tuhan. Demikian baru bisa mempunyai kesegaran, pengurapan minyak, dan daya dobrak. Tuhan akan menghargai hal demikian.
Membicarakan hal ini sangat mudah, tetapi melaksanakan doa yang semacam ini sangatlah sulit. Kalau kita mau mempunyai doa yang demikian, kita akan menemukan di mana kita berada. Kalau kita hanya datang bersama membicarakan perkara, setiap orang mungkin bisa sangat lincah; tetapi kalau kita mencoba berlutut berdoa, setelah beberapa menit, mungkin ada orang mulai tertidur. Mereka tidak berminat terhadap doa semacam ini, mereka hanya ingin tahu harus melakukan apa. Di salah satu kota terbesar di China, jumlah penduduknya lebih dari satu juta, adalah satu ladang besar yang potensial bagi pekerjaan Tuhan. Namun sudah bertahun-tahun gereja di sana tidak maju, kita terus menerima kabar tentang kerepotan dan kesulitan mereka. Pada suatu hari kami menerima pimpinan Tuhan, datang ke sana berdoa bersama mereka sejangka waktu. Saat itu saya baru menemukan bahwa mereka tidak menghadapi banyak kesulitan; mereka hanya mempunyai satu kesulitan, yaitu bertengkar. Setiap kali mereka berkumpul, hanya tahu saling bertengkar. Mereka bahkan di hadapan kami, bertengkar atas masalah penyambutan terhadap kami.
Setelah saya menemukan kesulitan ini, saya menyarankan supaya orang-orang yang di depan dan orang-orang yang melayani berkumpul bersama untuk berdoa. Mereka setuju datang, tetapi dalam kesan saya, mereka semua siap untuk berbantah-bantahan. Saya semampunya meredakan perbantahan mereka, saya berkata, "Saudara saudari, marilah kita berlutut berdoa." Namun ketika kami berlutut, tidak ada orang yang memulai berdoa. Saya terpaksa memulai berdoa. Tetapi setelah saya selesai berdoa, tidak ada orang yang menyambung. Lalu saya berdoa sekali lagi, namun tetap tidak ada orang yang menyambung. Ketika kami duduk kembali, mereka semua tersenyum-senyum siap mendengarkan apa yang akan saya katakan. Keadaan demikian membunuh gereja. Saya tinggal di tempat mereka beberapa minggu lamanya, sampai mereka mendapatkan sedikit bantuan, tampak di mana letak kesulitan mereka.
Saya harap saya bisa memperkenalkan kepada kalian satu-satunya jalan, jalan yang paling baik dan paling tepat untuk melaksanakan hidup gereja, yaitu perlu ada doa yang segar. Bukan doa yang usang, bukan ingin meyakinkan orang, atau meminta Tuhan membantu kita meyakinkan orang. Kita harus melepaskan setiap opini atau pemikiran kita, barulah bisa berdoa dengan cara yang demikian. Lupakan cara apa saja, datang ke hadapan Tuhan dengan cara yang baru, izinkan Tuhan masuk, izinkan Tuhan berbicara. Kalau kita tidak belajar dengan cara yang baru berdoa secara korporat, gereja tidak bisa menang.
Di satu pihak, sebelum kita datang melaksanakan hidup gereja, harus terlebih dulu membaca Alkitab dan banyak pengajaran rohani. Kita seharusnya mengetahui bagaimana Metodis, Presbyterian, Baptis, Anglikan, Lutheran, dan orang-orang lain melaksanakan gereja. Kita juga seharusnya mengetahui cara pelaksanaan dalam Surat Kiriman rasul, dan bagaimana cara yang diajarkan dalam buku "Kehidupan Gereja Yang Normal", dan buku-buku lain yang tepat. Namun di pihak lain, untuk memiliki jalan yang hidup dan menang melaksanakan hidup gereja, kita tidak boleh bersandar pada pengajaran-pengajaran tersebut. Harus mengesampingkan pengajaran-pengajaran tersebut, dengan sederhana datang ke hadapan Tuhan, berdoa dengan cara yang baru dan hidup. Inilah jalan yang tepat. Melalui meniru orang lalu mengikutinya, itu tidak akan berhasil. Kalau berbuat demikian, tidak ada hayat, tidak ada daya dobrak, juga tidak ada kesegaran. Kita perlu segar, cara baru, daya dobrak, hayat, urapan minyak, kekuatan, dan kuasa; selain berdoa, tidak ada jalan lain untuk mendapatkan semua itu.
Tidak hanya demikian, kita juga harus mempunyai doa yang cukup, doa yang tuntas, doa yang semuanya baru. Kita tidak seharusnya di dalam pikiran sudah mempunyai satu ketetapan, kemudian datang ke hadapan Tuhan, mohon Dia melakukannya. Ini adalah doa yang salah. Sering kali, orang membawa satu ketetapan datang ke hadapan Tuhan, lalu mohon Tuhan melakukan menurut cara mereka sendiri. Tidak bisa demikian. Kita datang ke hadapan Tuhan, harus seperti secarik kertas putih, berkata kepada Tuhan, "Tuhan, kami berada di sini. Tuhan, menulislah di atas diri kami, cetakkan pikiran-Mu dan apa yang akan Engkau kerjakan ke dalam kami." Ini perlu tenaga, kekuatan, kesabaran, dan penderitaan bersalin dalam roh. Tidak ada jalan pintas. Pelaksanaan hidup gereja bukan perkara yang cepat. Kita harus di dalam roh membayar harga untuk ini.
BERDOA UNTUK MELAKUKAN PEPERANGAN ROHANI
Kapan saja ada satu kesulitan atau keperluan, kita boleh mengumumkan kepada seluruh gereja untuk berpuasa, mungkin berpuasa satu kali makan, mungkin berpuasa satu hari penuh. Seluruh gereja harus datang berdoa ke hadapan Tuhan. Tidak ada jalan lain yang bisa menyelesaikan kesulitan, yang bisa mendapatkan pimpinan Tuhan untuk membawa umat Tuhan masuk ke dalam realitas. Saya bisa bersaksi untuk hal ini. Bertahun-tahun, bahkan sampai hari ini (tahun 1963), penatua gereja di Taipei setiap minggu berkumpul beberapa kali; hanya satu kali membicarakan urusan saudara saudari, yang lainnya adalah berdoa, kebanyakan pada pagi hari. Mereka datang bersama, tidak membicarakan yang lain, langsung berdoa. Setiap minggu mereka melakukan beberapa kali, sepanjang tahun.
Aspek gereja yang paling ditakuti oleh musuh adalah aspek doa gereja. Andrew Murray berkata, "Kapan gereja berlutut berdoa, Iblis akan gemetar." Doa gereja membuat Iblis gemetar. Pelaksanaan gereja tidak hanya merupakan perkara manusia yang sementara di bumi. Pelaksanaan gereja bersifat rohani, sangat mempengaruhi dunia rohani, di sini ada satu peperangan yang sesungguhnya. Tuhan dengan jelas memberi tahu kita bahwa Dia akan membangun gereja-Nya, dan alam maut tidak akan menguasainya. Ini menunjukkan, kapan di satu tempat ada pembangunan gereja, di sana pintu alam maut akan bergerak melawan gereja. Kita mengetahui hal ini, kita juga pernah mengalami hal ini. Karena itu, perlu ada doa peperangan; perlu ada orang berdoa untuk melakukan peperangan rohani.
TENTANG RINCIAN PELAKSANAAN DOA
Di sini kita dapat menunjukkan beberapa rincian pelaksanaan doa gereja. Untuk mempunyai kehidupan berdoa, khususnya kehidupan doa korporat, kehidupan doa gereja, kita harus belajar mempersembahkan diri. Kalau kita belum pernah mempersembahkan diri kepada Tuhan, tidak mungkin ada hidup gereja yang sejati. Kalau kita ingin supaya berdoa menjadi kehidupan kita, kita harus lebih dulu datang ke hadapan Tuhan, memberi tahu Dia, "Tuhan, aku di sini, aku mempersembahkan seluruh diriku, tanpa menyisakan sedikit pun, kepada-Mu." Kita harus sungguh-sungguh mempersembahkan seluruh diri kita kepada Tuhan, kemudian setiap kali berdoa, harus dengan ini sebagai dasarnya, dan berkata, "Tuhan, kami berdoa di atas dasar mempersembahkan diri."
Kedua, kita harus mengakui dosa kita. Kita harus menanggulangi dosa dan hati nurani kita, supaya hati nurani kita tidak merasa berutang, supaya hati nurani kita murni, baik, dan tulus. Ketika kita demikian menanggulangi diri kita, harus memakai darah Tuhan. Menurut pengalaman saya, setiap kali datang ke hadapan Tuhan, saya memakai banyak waktu untuk menanggulangi hati nurani saya, supaya saya bisa berdoa. Saya merasakan perlu darah Tuhan membersihkan dan menudungi saya. Bahkan ketika saya berdoa dengan saudara, saya berdoa, "Tuhan, pakailah darah adi-Mu membersihkan kami." Namun di beberapa tempat, saudara-saudara yang berdoa bersama saya tidak melakukan ini. Adakalanya saya bisa bertanya, "Apakah saya yang paling berdosa?" Satu Yohanes 1:5-9 mengatakan bahwa Allah itu terang, kalau kita bersekutu dengan-Nya, kita berjalan dalam terang; hasil kita di dalam terang adalah kita merasa perlu memakai darah Anak Allah untuk membersihkan kita. Ketika kita dalam terang, kita berada dalam penyertaan Allah, kita akan berkata, "Tuhan, ampunilah aku, bersihkan aku dengan darah adi-Mu." Kita perlu mengaku dosa, menanggulangi dosa, dan menanggulangi hati nurani kita.
Ketiga, setelah kita berdiri pada pendirian mempersembahkan diri, juga mengakui semua dosa kita serta menanggulangi hati nurani kita, hati nurani kita menjadi damai sejahtera, jernih, tembus pandang. Kita harus dengan tuntas belajar pelajaran, yaitu berdoa bukan menurut yang kita ketahui, ingat, harapkan, atau pikirkan, melainkan dengan sederhana berdoa menurut urapan minyak yang di dalam. Hal ini penting untuk doa pribadi atau doa korporat. Tidak saja demikian, kita tidak seharusnya memberatkan susunan kata atau tata bahasa. Kita boleh berdoa dengan sederhana memakai kalimat atau pengutaraan yang tidak sempurna secara tata bahasa.
Keempat, dalam doa, kita tidak seharusnya ingin membetulkan orang atau meyakinkan orang; sebaliknya, kita seharusnya tembus pandang, melampaui. Kita tidak seharusnya menjamah perbedaan bumiah, tetapi harus melampaui semuanya ini. Dalam doa kita tidak seharusnya "mengendarai mobil", mengendarai di dalam keadaan-keadaan tersebut; sebaliknya, kita harus "naik pesawat terbang", terbang di atas semua perkara tersebut. Kita tidak seharusnya dalam doa ingin membantu atau meyakinkan orang untuk membetulkan mereka. Ini bukan doa yang sejati, ini tidak bisa tembus.
SUPAYA GEREJA LOKAL DI MANA KITA BERADA
MENJADI GEREJA YANG BERDOA
Seharusnya dalam doa kita, khususnya dalam doa korporat, belajar mempraktikkan hal-hal yang riil ini. Kita harus mempersembahkan diri, mengaku dosa, dan berdoa menurut pengurapan minyak yang di dalam. Kita tidak seharusnya ingin melalui doa-doa kita menjamah orang lain, melainkan dengan sederhana membiarkan Tuhan langsung menjamah mereka. Kemudian akan terjadi perkara yang baru. Orang yang berada di depan harus lebih banyak berdoa, bahkan lebih banyak daripada orang lain, mereka harus membantu orang lain mempunyai kehidupan berdoa yang sejati. Mereka harus membantu satu saudara demi satu saudara untuk berdoa. Hari ini kesulitannya adalah ketika kita mengadakan sidang pemberitaan firman, yang datang banyak; tetapi sidang berdoa, yang datang hanya sepertiga. Sepertinya ada orang berkata, "Kalau sidang pemberitaan firman aku datang, tetapi kalau hanya berdoa, lebih baik aku istirahat di rumah." Ada beberapa tempat mungkin hanya tiga orang yang datang. Ada beberapa tempat, di antara lima orang yang berada di depan, hanya dua orang yang datang ke sidang doa, yang lainnya tidak datang. Kalau sidang doa hanya dihadiri beberapa orang, maka gereja itu pasti paling lemah. Namun keadaan yang normal ialah yang hadir dalam sidang doa lebih banyak daripada sidang yang lainnya. Kalau sidang doa dihadiri semua orang beriman, gereja itu pasti paling menang. Itu adalah gereja yang hidup. Kita sendiri perlu berdoa, juga membantu orang lain berdoa. Kita harus membimbing gereja lokal di mana kita berada menjadi gereja yang berdoa. Terimalah perkataan ini dan laksanakan dengan sekuatnya. Kalau kita melakukan ini, meskipun di satu aspek bisa menghadapi kesulitan, tetapi di aspek yang lain bisa melihat berkat.
Untuk memulai doa yang demikian tidak mudah, ini disebabkan oleh beberapa alasan. Alasan pertama adalah musuh tidak akan membiarkan gereja melaksanakan doa semacam ini. Karena itu, kita harus dengan sabar menghadapi peperangan. Memang, kita harus berdoa. Kalau tidak bisa lewat, harus berpuasa, bahkan perlu satu malam tidak tidur, berdoa sampai tuntas. Kalau kita berdoa dengan demikian, akan tampak Tuhan semakin banyak masuk. Kita tidak seharusnya lupa, pernah satu kali, karena hal setan sakit ayan, murid-murid bertanya kepada Tuhan, "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" Tuhan menjawab, "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa" (Mat. 17:19, 21).
Doa bukan masalah yang mudah. Di alam semesta tidak hanya ada dunia materi, juga ada dunia rohani. Kekuatan rohani yang jahat terus menentang, menghalangi, mengganggu pekerjaan Tuhan. Kita harus berdoa untuk menghadapi situasi ini dan berperang melawannya. Kita tidak bisa membangun gereja hanya melalui mengajarkan doktrin. Bahkan ketika kita memberitakan Injil, juga bukan hanya memberitakan Injil, lalu bisa membawa orang datang ke hadapan Tuhan. Kita perlu berdoa untuk melawan muslihat orang kuat itu, supaya Tuhan membelenggu orang kuat itu, supaya semua jiwa yang berada di tangannya bisa mendapatkan kelepasan. Ini tidak bisa dirampungkan hanya berdasarkan pengajaran atau pemberitaan, hanya melalui doa yang menang baru bisa terjadi.
Semoga kita semua mempunyai kesan yang dalam terhadap hal ini. Berita ini bukan hanya pelajaran dalam kelas, tetapi adalah pelatihan rohani, menuntut kita belajar menempuh jalan Tuhan. Untuk hal ini saya menengadah kepada Tuhan, mengumumkan: hati saya sepenuhnya berdiri bersama Tuhan. Semoga dalam hal ini Tuhan menggerakkan hati kita lebih daripada hal yang lain; kita harus datang ke hadapan-Nya, berdoa untuk pelaksanaan hidup gereja.