PERKATAAN DORONGAN LEBIH LANJUT
Pembacaan Alkitab: 2 Tes. 2:13-3:5
Dalam berita ini kita sampai pada 2:13-3:5, satu bagian dari Kitab 2Tesalonika yang mencantumkan perkataan dorongan lebih lanjut. Dalam ayat-ayat ini Paulus mengungkapkan sejumlah perkara yang berharga. Dalam 2:13 Paulus berkata, “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, Saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah sejak semula telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.” Allah mengasihi kita (ayat 16), memilih kita dari mulanya, dan memanggil kita melalui Injil (ayat 14). Dia memilih kita kepada keselamatan, yaitu melalui pengudusan Roh itu, dan memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan Tuhan. Kini Dia sedang membawa kita maju dengan penghiburan kekal dan pengharapan yang indah dan baik dalam anugerah.
PILIHAN ALLAH
Dalam perkataan dorongannya, Paulus memperingatkan kaum beriman muda tentang pilihan Allah. Dia berkata bahwa dari semula yaitu dari kekekalan lampau (lihat Ef. 1:4) Allah telah memilih mereka. Kita akan sangat terdorong bila tahu bahwa Allah telah memilih kita sebelum waktu bermula. Ini juga berarti bahwa kita diselamatkan bukan bermula pada waktu itu, melainkan bermula pada kekekalan. Dalam kekekalan yang lampau Allah telah menentukan kita dan memilih kita. Dari sebermula, Allah telah memilih kita untuk diselamatkan.
KESELAMATAN DALAM PENGUDUSAN ROH ITU
Keselamatan yang karenanya kita dipilih Allah adalah keselamatan dalam pengudusan Roh itu. Pengudusan Roh itu adalah transformasi ilahi. Dengan ini kita diselamatkan sepenuhnya dari segala perkara yang usang dan negatif, serta menjadi ciptaan baru untuk memperoleh kemuliaan Tuhan.
Pengudusan ialah perkara transformasi dan transformasi melibatkan suatu proses. Kini sebagai orang-orang yang diselamatkan, kita semua dalam proses dikuduskan, diubah.
Kita dapat menggunakan hal memasak untuk melukiskan proses pengudusan. Hidup gereja dapat diibaratkan suatu dapur. Ketika Allah memanggil kita dan menyelamatkan kita, Ia membeli kita sebagai “sayur mayur” dari sebuah “toserba besar”. Dalam “belanja”Nya, Allah memanggil kita. Sekarang kita sedang mengalami proses “dimasak” di “dapur” gereja. Proses pemasakan ini ialah pengudusan, transformasi.
Oleh karena hidup gereja adalah dapur bagi pemasakan Allah, gereja tidak akan selalu tampak rapi dan teratur. Inilah situasi umum dalam sebuah dapur ketika suatu hidangan yang baik sedang disiapkan. Jangan mengharap gereja lokal Anda sempurna. Dapur merupakan tempat pemrosesan. Karena proses ini, banyak hal yang belum siap, tetapi semua itu sedang dalam proses disiapkan. Kadang-kadang saya ditanya bagaimana saya tahan terhadap situasi dalam gereja. Jawab saya, “Mengapa aku tidak dapat tahan membiarkannya? Gereja adalah sebuah dapur. Tunggulah sejangka waktu, kemudian Anda akan nampak hasil pekerjaan yang terjadi sekarang di dapur.”
Menurut 2:13 keselamatan ada di dalam pengudusan. Ini berarti keselamatan itu tidak segera mengakibatkan kita pergi ke surga. Tidak, keselamatan Allah sekarang ada di dalam pengudusan. Allah sedang menguduskan kita. Ini seharusnya mengingatkan kita kepada perkataan Paulus dalam 1Tesalonika 5:23, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya.” Dewasa ini kita semua sedang mengalami proses pengudusan dalam dapur hidup gereja. Kita tahu apa artinya dimasak di dapur ini. Namun mereka yang di luar dapur tidak mengerti apa maksudnya mengatakan proses sedang dimasak.
Jangan mengharapkan segala sesuatu dalam hidup gereja sangat indah dan teratur. Situasi gereja lokal mana pun di bumi tidak ada yang demikian. Tidak hanya demikian, juga jangan mengira bahwa gereja lokal pada masa Paulus lebih baik daripada gereja-gereja hari ini. Sebaliknya, karena “pemasakan” kita ada kemajuan, gereja lokal dalam pemulihan Tuhan hari ini lebih baik daripada gereja-gereja pada masa Paulus.
Sering kali keadaan sebuah dapur yang “berantakan” menunjukkan bahwa hidangan yang sangat lezat sedang disiapkan. Dapur itu mungkin berantakan, tetapi makanan yang sedang dimasak akan sangat lezat. Jika Anda ingin makanan dalam gereja lokal Anda amat lezat, Anda wajib merelakan dapur Anda berantakan.
Misalkan, Anda mengundang saya ke rumah Anda untuk makan. Jika saya nampak segala sesuatu dalam dapur Anda rapi dan teratur, saya bisa kecewa, sebab saya tahu mungkin tidak banyak yang dapat dimakan. Tetapi jika saya nampak dapur Anda berantakan oleh karena segala persiapan untuk makanan, saya tahu bahwa suatu perjamuan sedang disiapkan. Jika tidak ada orang yang memasak, dapur itu rapi. Tetapi ketika suatu hidangan yang lezat dipersiapkan, dapur itu tidak akan begitu rapi. Jika segala sesuatu dalam gereja itu rapi dan teratur, itu menunjukkan bahwa tidak ada orang yang memasak. Itu berarti ada kekurangan dalam proses pengudusan.
Saya dapat bersaksi bahwa dapur gereja di Anaheim berantakan. Ini membuktikan bahwa di Anaheim kita sedang berada dalam proses pengudusan. Allah, berdasarkan pilihanNya, telah menempatkan kita ke dalam proses pengudusan. Dalam gereja di Anaheim, kita sedang mengalami sejumlah pemasakan, kita dikuduskan dan diubah. Kadang-kadang ketika saya sedang dimasak, saya mungkin heran apa yang sedang terjadi. Kemudian Tuhan mengingatkan saya bahwa saya telah berdoa bagi transformasi itu dan telah menyampaikan berita tentang hal itu. Di Anaheim, saya dapat mengatakan bahwa saya memasak para penatua, dan para penatua memasak saya. Selain itu, para penatua dimasak oleh kaum beriman. Beberapa saudara saudari nampaknya memang khusus untuk memasak para penatua. Pada hakikatnya pemasakan di dapur hidup gereja bukan dilakukan oleh tangan manusia yang mana pun, melainkan oleh Tuhan menurut hikmat dan kedaulatanNya.
Allah telah memilih kita untuk diselamatkan dalam pengudusan, bukan hanya agar dosa-dosa kita diampuni. Untuk mengalami pengampunan dosa, kita tidak perlu dimasak. Kita hanya perlu berdoa, “Tuhan Yesus, aku bertobat. Aku mengaku bahwa aku seorang berdosa. Tetapi, Tuhan, aku percaya kepadaMu, dan aku bersyukur karena Engkau mati tersalib bagi dosa-dosaku.” Seseorang yang berdoa demikian dapat diselamatkan dan diampuni dosanya, tetapi ini bukan pengudusan. Setelah kita mengalami pengampunan, kita perlu mengalami proses pengudusan.
Tuhan bermaksud menguduskan kita, mentransformasi kita. Transformasi bukan suatu proses yang selalu menyenangkan. Namun kita perlu belajar bagaimana menikmati Tuhan bahkan ketika kita sedang dimasak.
Dalam ayat 13 Paulus memberi tahu kita bahwa pengudusan adalah dari Roh itu. Tahukah Anda di mana Roh itu berada? Anda perlu mengetahui bahwa Roh itu ada di dalam Anda untuk menguduskan Anda. Dalam 1 Tesalonika 4 Paulus membicarakan pengudusan, dan pengudusan ini berasal dari Roh itu. Berhuninya Roh itu di dalam kita sesungguhnya adalah pengudusan kita. Roh itu berhuni di dalam kita dengan satu tujuan, yaitu menguduskan kita, mentransformasi kita, mengubah kita secara metabolis. Inilah pengudusan Roh itu.
PERCAYA AKAN KEBENARAN
Dalam ayat 13 Paulus mengatakan pula tentang percaya akan kebenaran. (LAI: kebenaran yang kamu percayai). Dalam ayat ini, perkataan “percaya” sesungguhnya berarti iman. Iman kebenaran datang sebelum keselamatan dalam pengudusan Roh itu. Allah memilih kita dari semula kepada iman kebenaran dan kepada keselamatan dalam pengudusan Roh itu.
DIPANGGIL UNTUK MEMPEROLEH
KEMULIAAN TUHAN YESUS KRISTUS
Dalam ayat 14 Paulus selanjutnya berkata, “Untuk itulah Ia telah memanggil kamu melalui Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Perkataan “untuk itulah” mengacu kepada keselamatan dalam pengudusan Roh itu dan percaya akan kebenaran, sebagaimana disebutkan dalam ayat 13. Dalam kekekalan, Allah telah memilih kita untuk diselamatkan, kemudian dalam waktu Dia memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan Tuhan kita. Keselamatan dalam pengudusan Roh itu dan percaya akan kebenaran adalah prosesnya; memperoleh kemuliaan Tuhan kita adalah sasarannya.
Mula-mula Allah memilih kita, kemudian Ia memanggil kita. Ia memilih kita untuk mempercayai kebenaran dan untuk diselamatkan dalam pengudusan Roh itu. Kemudian melalui Injil, Ia memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan Tuhan Yesus Kristus. Kemuliaan Tuhan adalah Dia, sebagai Anak Allah Bapa, memiliki hayat dan sifat Bapa untuk mengekspresikan Bapa. Memperoleh kemuliaan Tuhan berarti berada dalam kedudukan yang sama dengan Anak Allah, sehingga kita bisa mengekspresikan Bapa.
Saya tidak yakin mayoritas orang Kristen hari ini mengerti apa artinya dipanggil untuk memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam ayat 14 Paulus tidak mengatakan bahwa Allah telah memanggil kita untuk memperoleh pengampunan, pembenaran, atau pendamaian. Dia mengatakan bahwa Allah telah memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan Tuhan Yesus. Dalam Yohanes 17:22 Tuhan berkata dalam doaNya kepada Bapa, “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Kemuliaan yang Bapa berikan kepada Putra adalah keputraan dengan hayat dan sifat ilahi Bapa (Yoh. 5:26). Keputraan ini diberikan agar Putra dapat mengekspresikan Bapa di dalam kepenuhanNya (Yoh. 1:18; 14:9; Kol. 2:9; Ibr. 1:3). Putra telah memberikan kemuliaan ini kepada kaum beriman, agar mereka juga mendapatkan keputraan dengan hayat dan sifat ilahi Bapa (Yoh. 17:2; 2Ptr. 1:4), sehingga mereka mengekspresikan Bapa di dalam Putra, di dalam kepenuhan Putra (Yoh. 1:16). Saya tidak yakin banyak orang Kristen mempunyai pengertian demikian tentang kemuliaan Tuhan Yesus.
Kemuliaan Tuhan Yesus adalah Bapa telah memberi Dia hayat dan sifat Bapa agar Dia dapat mengekspresikan Bapa. Inilah kemuliaan yang telah Putra berikan kepada kita. Ini berarti, Putra telah memberi kita hayat dan sifat Bapa sehingga kita dapat mengekspresikan Allah Bapa. Alangkah mulia! Allah telah memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan ini, kemuliaan hayat ilahi dan sifat ilahi untuk mengekspresikan Sang ilahi. Sekalipun Anda mungkin tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, hal ini merupakan kebenaran menurut wahyu dalam Perjanjian Baru. Haleluya untuk kemuliaan yang demikian!
BERPEGANG PADA AJARAN-AJARAN
ATAU TRADISI
Dalam 2:15 Paulus selanjutnya berkata, “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” Jangan mengira bahwa ajaran yang kita terima (yang diturunkan kepada kita bagai tradisi) selalu tidak baik. Ajaran yang kita terima yang Paulus kemukakan di sini sangat baik. Kita perlu berdiri teguh dan berpegang pada ajaran ini.
PENGHIBURAN ABADI DAN PENGHARAPAN BAIK DALAM ANUGERAH
Ayat 16 mengatakan, “Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam anugerahNya telah mengasihi kita dan menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita.” Menurut ayat ini, apa yang kita miliki bukanlah penghiburan dan penguatan yang sementara atau sambilan, melainkan penghiburan abadi. Oleh hayat Allah, penghiburan ini cukup untuk menghadapi setiap keadaan dan situasi; jadi, penghiburan ini disertai pengharapan dan baik.
Penghiburan abadi bersangkut paut dengan hayat ilahi. Setiap kali Anda merasa kecewa, Anda perlu diingatkan bahwa hayat ilahi ada di dalam Anda. Asal Anda sedikit saja memikirkan bahwa hayat ilahi ada di dalam Anda, Anda akan terhibur. Tahukah Anda hayat macam apa yang Anda miliki? Anda memiliki hayat Allah. Hayat Allah telah diberikan kepada Anda. Jadi, penghiburan abadi sesungguhnya adalah hidup yang kekal.
Asal kita sedikit saja memikirkan tentang hayat yang kekal yang telah kita terima, kita akan mendapatkan penghiburan. Jika Anda merasa lemah, ingatlah bahwa Anda mempunyai hayat yang kekal. Dengan demikian, Anda akan dikuatkan dan dihibur. Penghiburan abadi ini mampu memenuhi setiap situasi dan keadaan sekeliling. Allah mengasihi kita dan telah memberi kita penghiburan abadi.
Allah pun telah memberi kita pengharapan baik dalam anugerah. Pengharapan ini adalah pengharapan yang mulia (Kol. 1:27), pengharapan akan kedatangan Tuhan (1Tes. 1:3), saat kita dibangkitkan atau ditransfigurasi masuk ke dalam kemuliaan (1Tes. 4:13-14; Flp. 3:21; Ibr. 2:10). Pengharapan baik ini ada dalam anugerah dan anugerah tidak lain adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit. Dalam anugerah ini kita mempunyai pengharapan baik. Kita boleh mengatakan bahwa anugerah adalah Allah sendiri di dalam Kristus untuk kita nikmati agar kita dapat dikuduskan oleh RohNya dan dihibur serta dikuatkan dengan penghiburan abadi dan pengharapan baik.
Beberapa orang kudus berkata kepada saya, “Saudara Lee, kami telah mendengar ministri Anda bertahun-tahun. Pada hakikatnya seolah-olah Anda hanya meministrikan satu perkara. Memang hebat Anda dapat memberikan ribuan berita mengenai perkara yang sama.” Ini bukan cara saya memberitakan, melainkan cara Alkitab dan cara yang dilakukan oleh Paulus. Pernahkah Anda perhatikan bahwa dalam Kitab Roma Paulus membicarakan dengan satu cara, tetapi dalam Kitab 1Korintus dia membicarakan perkara yang sama dengan cara lain? Kini kita nampak bahwa dalam 2Tesalonika 2 dia membicarakan tentang perkara yang sama namun dengan cara yang lain lagi.
Saya terutama menyukai bagian akhir pasal 2, ayat 13-17, sebab dalam ayat-ayat ini Paulus mengetengahkan perkara-perkara penting kepada kaum beriman baru. Tulisannya di sini sederhana, tetapi isinya sangat dalam. Mula-mula Paulus mengatakan bahwa Allah memilih kita dari semula untuk diselamatkan dalam pengudusan Roh itu. Kemudian dia mengatakan bahwa Allah telah memanggil kita melalui Injil untuk memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam ayat 16 Paulus berkata bahwa kita telah diberi penghiburan abadi dan pengharapan baik dalam anugerah. Paulus tidak menggunakan ungkapan “penghiburan abadi” dalam kitabnya yang lain. Yohanes mengatakan tentang perkara yang sama, tetapi ia menggunakan istilah lain. Dalam 2:16 Paulus menyinggung hayat kekal sebagai penghiburan abadi. Dalam ayat ini kata ganti “yang” dapat mengacu baik kepada Tuhan Yesus Kristus maupun Allah Bapa, tetapi “telah mengasihi kita dan menganugerahkan kepada kita” adalah dalam bentuk tunggal. Ini menunjukkan bahwa Paulus memandang Tuhan dan Bapa adalah satu.
Kita perlu belajar menggunakan ungkapan-ungkapan yang digunakan Paulus, seperti penghiburan abadi. Jika Anda nampak bahwa seorang saudara lemah atau kecewa, Anda boleh berkata kepadanya, “Saudara, belum pernahkah Anda menerima penghiburan abadi? Penghiburan abadi adalah hayat kekal yang ada di dalam Anda.”
Misalkan, seseorang sedang sangat tidak gembira, namun ia mempunyai sebutir berlian dalam sakunya. Hanya dengan memandang berlian itu, ia akan terhibur dan menjadi gembira. Kita memiliki berlian yang sejati, yakni hayat kekal sebagai penghiburan abadi kita. Tahukah Anda bahwa Anda mempunyai berlian semacam itu dalam saku Anda? Lalu, mengapa Anda memandangi kesulitan dan penderitaan Anda dan bukan memandangi berlian ini? Oh, puji Tuhan, karena berlian penghiburan abadi itu! Penghiburan itu adalah hayat kekal dan pengharapan baik dalam anugerah.
DIHIBUR DAN DITEGUHKAN
Dalam ayat 17 Paulus mengatakan, berbicara tentang Tuhan Yesus Kristus dan Allah Sang Bapa, “kiranya menghibur dan menguatkan (meneguhkan) hatimu dalam setiap pekerjaan dan perkataan yang baik.” Jika kita ingin Allah menghibur kita, kita perlu menghibur diri kita sendiri. Jika kita membantu diri kita sendiri, Allah akan membantu kita. Tetapi jika kita tidak membantu diri sendiri, Allah tidak akan membantu kita. Jika Anda tidak mau makan makanan di atas meja makan, orang lain tidak dapat membantu Anda. Tetapi jika Anda makan, setiap orang akan membantu Anda. Inilah gambaran tentang fakta bahwa kita perlu menghibur diri kita sendiri dan meneguhkan diri kita sendiri, kemudian Allah akan menghibur dan meneguhkan kita.
BERDOA BAGI PELAYAN FIRMAN
Dalam 3:1 Paulus mengatakan, “Selanjutnya, Saudara-saudara, berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang telah terjadi di antara kamu.” Dimuliakannya firman Tuhan mengacu kepada kekayaan ilahi yang terkandung dalam firman Tuhan, yang dibebaskan dan diekspresikan dalam kehidupan kaum beriman. Kita semua perlu belajar bagaimana membiarkan firman Tuhan beroleh kemajuan dan bagaimana membuat firman Tuhan dimuliakan di dalam kita.
Ayat 2 mengatakan, “Dan supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat, sebab bukan semua orang beroleh iman.” Pelayan firman Allah perlu doa semacam itu dari kaum beriman.
TERLINDUNG DARI YANG JAHAT
Dalam ayat 3 Paulus mengatakan, “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan (meneguhkan) hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.” Kita dilindungi dengan penghiburan abadi dan pengharapan baik (2:16-17). Hanya hayat kekal yang dapat melindungi kita dari yang jahat. Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat (1Yoh. 5:19), tetapi hayat Allah yang kita dapatkan melalui dilahirkan dari Allah, memelihara dan menjaga kita dari si jahat (1 Yoh. 5:18, 4; 3:8-9). Kita mempunyai satu bagian di dalam kita yang telah dilahirkan kembali, dilahirkan dari Allah. Bagian ini, yang pada hakikatnya adalah Tuhan sendiri, selalu menjaga kita.
KEYAKINAN RASUL
Dalam ayat 4 Paulus selanjutnya berkata, “Dan kami percaya dalam Tuhan bahwa apa yang kami pesankan kepadamu, kamu lakukan dan akan kamu lakukan.” Pesan di sini sama seperti pesan-pesan dalam 1Tesalonika 4:2-4, 9-12; 5:11-22; 2Tesalonika 2:2, 15; 3:6, 10, 12-15.
TUHAN MENUJUKAN HATI KAUM BERIMAN
Dalam ayat 5 Paulus menyimpulkan, “Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.” Tuhan menujukan hati kita dengan pimpinan Roh itu, dan melalui Roh itu kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita (Rm. 8:14; 5:5). Kasih Allah dalam ayat ini adalah kasih kita terhadap Allah yang berasal dari kasih Allah (1Yoh. 4:19) yang telah dicurahkan ke dalam hati kita. Di pihak positif, kita perlu menikmati kasih Allah agar kita bisa mengasihi Dia untuk hidup bagiNya. Di pihak negatif, kita perlu mengambil bagian dalam ketabahan Kristus agar kita bisa menahan penderitaan, seperti yang dilakukanNya untuk menentang Iblis, musuh Allah.
Dalam 2:13-3:5 Paulus kembali menyinggung iman, kasih, dan pengharapan. Ini menunjukkan bahwa Kitab 2Tesalonika merupakan lanjutan Kitab 1Tesalonika. Bagian Kitab 2Tesalonika ini adalah penutup tulisan Paulus kepada kaum beriman baru mengenai susunan dasar kehidupan orang Kristen bagi hidup gereja. Seperti telah kita tunjukkan, susunan dasar ini mencakup iman, kasih, dan pengharapan. Demi iman kita telah diselamatkan dalam pengudusan. Kita telah dipanggil untuk memperoleh kemuliaan Tuhan, dan kita memiliki penghiburan abadi, yakni hayat kekal, dan juga pengharapan baik dalam anugerah. Kini menurut 3:5, kita perlu Tuhan menujukan hati kita kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.