Berlari pada Jalur Perlombaan yang Dibentangkan di depan Kita
“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.”
Ibrani 12:1-3
I
Allah menaruh dua hal di depan manusia: Pertama, menaruh hidup yang kekal di depan orang dosa; kedua, menaruh Kerajaan di depan orang yang telah mendapatkan hidup yang kekal. Siapa yang percaya memperoleh hidup yang kekal. Tetapi, “Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahliahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat. 5:20 Tl.); “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 7:21). Ayat-ayat di atas memperlihatkan kepada kita, untuk mendapatkan hidup yang kekal cukup dengan percaya, tetapi untuk memasuki Kerajaan Surga, perlu memenuhi persyaratan yang lain.
Setelah seseorang beroleh selamat, Allah menaruh dia pada satu jalur perlombaan untuk berlari. Seumur hidup orang Kristen adalah satu perlombaan lari. Perlombaan lari ini bukan untuk mendapatkan hidup yang kekal, bukan berarti orang yang menang dalam perlombaan lari ini baru memperoleh hidup yang kekal; justru orang yang telah beroleh hidup yang kekal baru bisa mengikuti perlombaan ini. Hasil dari perlombaan lari ini, ada orang yang memperoleh mahkota, ada orang yang tidak memperoleh mahkota (1 Kor. 9:24-25).
Apakah mahkota itu? Mahkota adalah wakil dari Kerajaan; mahkota adalah wakil dari yang menjadi raja, yang memegang kekuasaan, dan yang mendapatkan kemuliaan. Memperoleh mahkota berarti telah mendapatkan Kerajaan, bersama Tuhan Yesus menjadi raja, memegang kekuasaan dan mendapatkan kemuliaan. Tidak memperoleh mahkota berarti tidak mendapatkan Kerajaan, tidak bersama-sama Tuhan Yesus menjadi raja, tidak memegang kekuasaan dan tidak mendapatkan kemuliaan. Mahkota adalah tanda Kerajaan. Orang Kristen pasti mendapatkan hidup yang kekal, tetapi apakah mereka mendapatkan Kerajaan, itu tergantung pada bagaimana hasil perlombaan lari mereka.
Begitu seseorang beroleh selamat, Allah segera menaruhnya di jalur yang menuju ke Kerajaan Surga untuk berlari. Perkataannya, kelakuannya, pikirannya, kehidupannya, segala-galanya, semua itu berhubungan dengan apakah kelak ia mendapatkan kerajaan atau tidak. Orang yang tidak mengambil bagian dalam perlombaan lari ini, berarti memutuskan bahwa dirinya tidak patut mendapatkan Kerajaan; orang yang larinya tidak baik, merusak kesempatan dirinya mendapatkan Kerajaan. Allah telah menaruh semua orang Kristen di jalur ini. Mendapatkan Kerajaan atau tidak, itu ditentukan oleh diri orang Kristen itu sendiri. Penolakannya, persembahannya, kesetiaannya, kemenangannya akan membantu dia menjadi orang yang mendapatkan mahkota. Orang-orang yang tamak keduniawian, yang mengikuti tubuh daging akan tampak, meskipun mereka bersandar Tuhan Yesus telah mendapatkan hidup yang kekal, tetapi Kerajaan Surga bukan milik mereka.
II
“Saksi” yang disebut dalam Ibrani 12:1 mengacu kepada apa? Secara harfiah kelihatannya mengacu kepada orang-orang yang sangat beriman yang disebut dalam Ibrani pasal 11. Tetapi, sesungguhnya bukan mengacu kepada orang-orang itu, melainkan mengacu kepada perkara-perkara mengenai orang-orang itu. Kata “saksi” di sini, sama dengan kata “saksi” dalam Kisah Para Rasul 1:8, 22; 2:32 dan tempat-tempat yang lain; karena itu dapat juga diterjemahkan sebagai “kesaksian”. Firman Allah mengatakan, saksi dari perkara-perkara mengenai orang-orang itu bagaikan awan mengelilingi kita.
Banyak saksi itu membuktikan perkara apa? Membuktikan “keselamatan yang besar” dari Allah (Ibr. 2:3-4). Keselamatan yang besar ini, bukan hanya dosa diampuni, terlebih pula mengacu kepada Kerajaan. Kerajaan adalah tujuan kita berlari. Allah memberi kita sekian banyak saksi, adalah untuk mendorong kita menempuh hidup beriman, untuk berlari dalam jalur ini dan untuk mendapatkan kemuliaan Kerajaan. Dalam pasal 11, meskipun kepercayaan orang-orang yang sangat beriman itu tidak langsung untuk kerajaan, tetapi iman mereka adalah lintasan mereka. Begitu mereka percaya dengan tidak mempedulikan segala sesuatu, itu berarti mereka meninggalkan segala sesuatu untuk berlari dalam lintasan mereka. Mereka telah mendapatkan apa yang langsung mereka percayai, ada yang terangkat, ada yang mendapatkan tanah, ada yang bangkit dari kematian, ada yang terhindar dari kebinasaan; tetapi semuanya itu bukanlah yang terakhir yang akan diberikan Allah kepada mereka sesuai dengan janji Allah. Semua yang mereka terima karena iman, hanya merupakan satu bukti, yaitu membuktikan bahwa mereka juga akan mendapatkan Kerajaan yang dijanjikan Allah. “Namun mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun telah diberi kesaksian yang baik tentang mereka karena iman. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita, mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan” (Ibr. 11:39-40). Ini mengatakan apa? Ini mengatakan tentang Kerajaan. Mereka telah mendapatkan kesaksian, kesaksian ini adalah bukti dari Allah bahwa mereka kelak pasti mendapatkan Kerajaan.
“Banyak saksi”, yaitu kasih karunia yang Allah berikan karena iman banyak orang. Allah sudah mendengarkan doa, melakukan mujizat, untuk membuktikan Allah berkenan mereka menempuh jalur ini, jadi mereka pasti memperoleh Kerajaan. Karena mempunyai sekian banyak saksi, kita harus berlari pada jalur iman ini.
Allah menaruh Kerajaan di depan kita, Allah menaruh satu jalur di depan kita, untuk kita tempuh. Setelah selesai menempuhnya, akan terlihat gagal atau menang. Kalau menang akan menjadi raja bersama dengan Tuhan; kalau gagal, meskipun tetap beroleh selamat, tetapi tidak mempunyai bagian dalam kemuliaan.
III
Jalur itu sudah terbentang di sini, orang yang akan berlari harus “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita.” Dalam lomba lari ada dua perkara yang penting: Pertama, menanggalkan beban dan kedua meninggalkan dosa.
Terlebih dulu kita akan membahas masalah meninggalkan dosa. Dosa paling menghalangi kemajuan seseorang. Dosa paling membuat orang kehilangan syarat untuk ikut lomba lari. Dosa adalah pelanggaran; pelanggaran membuat orang terkena diskualifikasi; pelanggaran menyebabkan ia “dikeluarkan dari gelanggang”.
Kaum beriman harus meninggalkan dan terlepas dari dosa yang telah diketahuinya. Tak peduli itu iri hati, sombong, kenajisan dalam hati, dusta dalam mulut, temperamen yang tergesa-gesa dan mudah marah, pelampiasan hawa nafsu, semua itu dapat membuat kaum imani tidak layak menjadi peserta lomba lari. Orang yang terkena diskualifikasi tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga dan berkuasa bersama Tuhan Yesus.
Kaum beriman harus berdiri pada posisi Roma 6:6, 11, memandang diri sendiri sudah mati bagi dosa; kaum imani juga harus menolak dosa, tidak membiarkan dosa menjadi tuan, dan bersamaan dengan itu mempersembahkan anggota-anggota tubuhnya kepada Allah untuk menjadi senjatasenjata kebenaran. Apa saja yang berdosa kepada Allah, harus diakui, diselesaikan, dan ditolak dengan sungguh-sungguh, supaya memperoleh pengampunan Allah. Tidak ada satu orang pun yang hati nuraninya tidak tenteram, bisa berlari dalam perlombaan. Kita tidak seharusnya mempunyai dosa yang belum disingkirkan, sehingga dalam jangka panjang terus merasakan hati nurani yang tidak tenteram. Kalau kita bersalah kepada orang, harus dengan baik-baik mengaku salah kepadanya. Kalau merugikan barang orang, harus menurut kekuatan kita mengganti rugi; janganlah ada sesuatu yang merugikan orang lain tetapi tidak dibereskan. Jangan takut rugi, jangan takut kehilangan muka. Kalau tidak, Anda tidak bisa berlari dalam jalur ini. Kita harus lebih waspada, karena ada dosa yang penampilannya tidak seburuk yang kita bayangkan. Dosa itu mudah memperdaya kita. Musa, “Lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa” (Ibr. 11:25). Jadi dosa masih ada kesenangannya. Banyak dosa membuat orang gembira. Daging manusia senang berdosa, karena dosa ada kesenangannya. Tetapi orang yang benar-benar beriman, lebih suka menderita sengsara daripada menikmati kesenangan dosa. Kita harus menolak dosa, kalau tidak, kita sendiri dapat memastikan bahwa diri kita tidak layak masuk Kerajaan.
Kita lihat lagi “menanggalkan semua beban”. Apakah yang dimaksud dengan menanggalkan beban itu? Beban belum tentu dosa, belum tentu tidak baik, tetapi semua itu mudah merintangi, menjerat kita. Kalau tidak meninggalkan dosa, akan terkena diskualifikasi; kalau tidak menanggalkan beban, meskipun mempunyai syarat untuk berlari, tetapi pasti tidak bisa berlari dengan cepat. Pernahkah Anda melihat orang yang berpakaian jubah besar ikut berlomba lari? Apapun yang menyebabkan kita tidak bisa lari dengan cepat, yang menghalangi kita maju, itu adalah beban.
Pada abad ke 19, ada seorang yang dipakai secara besar-besaran oleh Tuhan. Ia pernah menggunakan banyak waktu dan tenaga menyusun sebuah kamus bahasa Ibrani. Selesai menyusun, ia memperlihatkan hasil itu kepada teman-temannya. Teman-temannya semua memuji dan memperkirakan kalau buku ini diterbitkan, ia pasti menjadi seorang ilmuwan yang terkenal. Tetapi saudara ini malah membakar hasil jerih payahnya itu. Dia berkata, “Ketika sedang menyusun, ia sudah kehilangan hati yang mengasihi Tuhan, kehilangan hati yang mengasihi jiwa manusia, nanti kalau akan mencetak buku, mengoreksi, pasti memerlukan tenaga yang lebih banyak lagi, sebab itu lebih baik membakarnya.” Mencetak buku, mengoreksi naskah, bukanlah dosa, tetapi baginya adalah satu beban. Ia telah terlepas dari bebannya.
Adakah perkara, meskipun bukan dosa, tetapi menjadi beban bagi kita? Apakah bisa membantu kita maju? Apa saja yang bisa menghalangi Anda maju adalah beban. Bahkan sepotong baju, sepiring makanan juga bisa menjadi beban Anda. Kalau Anda sedang berlomba lari, ada orang mengundang Anda makan semangkuk mi, atau menyuruh Anda mengenakan pakaian jas, apakah Anda bisa berlari terus dalam jalur itu? Sebab itu, tidak saja kita harus meninggalkan dosa, juga harus menanggalkan beban. Kalau ada beban, pasti tidak bisa berlari dengan baik.
Kegagalan Lot dikarenakan ia mempunyai beban. Lot sebenarnya bukan orang yang jahat. Ia adalah “orang benar yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tidak mengenal hukum dan hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja” (2 Ptr. 2:7). Tetapi kehidupannya berbeda dengan Abraham. Abraham tinggal di padang belantara, Lot tinggal di dalam kota; Abraham tinggal di dalam kemah, Lot tinggal di dalam rumah. Inilah perbedaan yang besar di antara mereka — yang satu ringan, yang satunya lagi berbeban. Kalau mempunyai beban, meskipun bisa berlari, akhirnya tetap akan gagal dan tidak bisa lari lagi.
Kita harus memperhatikan apa yang dikatakan oleh Injil Markus 4:19. Tuhan tidak berkata, karena berdosa maka tidak bisa berbuah; tetapi Tuhan berkata bahwa “kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain”, bisa membuat orang tidak berbuah. Tidak perlu berbuat dosa, asal ada sedikit saja kekhawatiran dunia, itu sudah cukup membuat Anda tidak berbuah. Meskipun harta bukan dosa, tetapi harta tidak bisa seperti sepasang sayap yang membantu Anda terbang. Siapa yang berencana menjadi hartawan, pasti tidak bisa berlari dengan baik. Kewajiban yang Allah berikan kepada kita harus kita kerjakan dengan baik; tetapi kalau hati kita terhimpit oleh sesuatu, kita pasti tidak bisa berlari.
Beban belum tentu dosa, beban sering kali merupakan sesuatu yang halal, tetapi bagaimanapun itu adalah beban, yang bisa mengurangi kecepatan lari Anda. Mungkin beban Anda adalah satu teman yang tidak rela Anda tinggalkan, kedudukan yang sedang Anda tuntut, sedikit ambisi duniawi, sebuah rumah yang Anda idamkan, sepiring hidangan yang enak, sepotong baju yang indah. Kesemuanya ini beserta ratusan bahkan ribuan barang yang lain, meskipun bukan dosa, tetapi bisa menghambat kecepatan lari Anda.
Sebab itu, kita harus bertanya kepada diri sendiri, ada dosa apa yang menyebabkan saya tidak bisa berlari dengan cepat? Ada beban apa yang menghalangi saya berlari kencang? Dosa menyebabkan Anda terkena diskualifikasi, sehingga Anda dikeluarkan dari gelanggang perlombaan; beban menyebabkan Anda tidak bisa berlari dengan baik, menyebabkan Anda membuang tenaga dengan sia-sia. Apakah dosa Anda yang istimewa? Apakah beban Anda yang istimewa? Kita harus menyingkapkan dosa-dosa itu. Kita harus menemukan beban-beban itu.
IV
Orang yang berlari dalam lomba lari, tidak saja harus meninggalkan dosa yang mudah menjerat, tidak saja harus menanggalkan beban yang begitu merintangi, juga harus tekun dalam jalur perlombaan yang dibentangkan di depannya. Mengapa harus tekun? Karena pahala bukan diberikan pada saat permulaan berlari, juga bukan diberikan kepada kita di pertengahan jalan, melainkan diberikan kepada kita pada garis akhir. Setelah Anda menyelesaikan langkah yang terakhir, barulah diberikan kepada Anda. Meskipun awalnya baik, pertengahannya juga baik, belum tentu sampai garis akhirnya baik. Permulaannya menang, pertengahannya juga menang, akhirnya juga harus menang, baru terhitung menang. Sebelum sampai di garis akhir, tidak ada seorang pun yang berani menanggung bahwa Anda pasti mendapatkan pahala. Mungkin dalam 5 langkah terakhir Anda gagal.
Dalam suatu lomba lari 200 meter, ada seorang yang pada awalnya berlari lebih cepat 20 meter daripada peserta lainnya, tetapi tidak disangka pada jarak 2 meter menjelang garis akhir, ia terjatuh. Kalau ingin menang, Anda harus berhati-hati, sebelum mencapai garis akhir, Anda tidak bisa berkata bahwa Anda pasti mendapatkannya. Paulus saja masih berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya” (Flp. 3:12). Apa lagi kita?
Apa yang disebut “berlomba lari?” Berlomba lari berarti tidak berdiri saja, juga tidak melangkah dengan seenaknya. Berlomba lari adalah dengan cepat berlari ke depan; berlomba lari berarti berusaha memakai waktu yang paling sedikit, untuk menempuh jarak yang paling jauh. Untuk itu kita harus berlari paling cepat. Peserta dalam lomba lari itu banyak, kalau Anda mau mendapatkan mahkota, Anda harus berlari di posisi paling depan. Menang kalahnya kita, tergantung pada cepat atau lambatnya kita berlari. Kalau kita membuang waktu dengan percuma, berhenti tanpa tujuan, kita pasti gagal.
Kita berlari dengan tekun dalam perlombaan yang dibentangkan di depan kita. Hanya ada satu jalur yang dibentangkan di depan kita. Anda tidak bisa memilih jalur yang Anda senangi dan berlari di sana; Anda harus berlari dalam jalur yang telah dibentangkan di depan Anda oleh Allah. Dalam gelanggang perlombaan, siapa yang berani dengan seenaknya berlari di luar jalur yang telah ditentukan? Mereka hanya bisa berlari pada jalur yang telah ditentukan. Inilah yang disinggung dalam 2 Timotius 2:5, “Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.” Yang paling disayangkan, banyak orang Kristen dengan gairah ikut perlombaan, tetapi tidak berada dalam jalur yang telah ditentukan oleh Allah. Kegairahan kita sendiri, jerih payah kita sendiri, aktivitas kita sendiri, tidak bisa menggantikan kehendak Allah. Semua orang yang berlari di luar jalur kehendak Allah, akan menderita kerugian. Allah telah menaruh jalur itu di depan Anda, Anda harus berlari di atas jalur itu, barulah bisa mendapatkan pahala.
V
Kaki kita harus berlari di jalur yang telah ditentukan Allah; mata kita harus “tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan”. Menurut arti bahasa aslinya, kalimat ini dapat diterjemahkan menjadi “berpaling muka, dengan mata tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.” Arti perkataan ini adalah Anda tidak memandang dan tidak menaruh harapan lagi kepada perkara yang lain, melainkan hanya memandang kepada Yesus. Yang lainnya tidak dipandang lagi, hanya memandang kepada Yesus. Hanya memandang kepada Yesus, baru kita bisa lari dengan kencang. Di sekitar kita ada banyak perkara yang akan mempengaruhi pandangan kita, mengubah tujuan kita, tetapi kita hanya dengan mata tertuju kepada Yesus saja, sehingga dapat terus-menerus berlari di atas jalan Allah.
Dia adalah Tuhan yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. Iman kita bermula dari Dia, juga berakhir pada-Nya. Yang kita percayai hanya Dia. Sekali kita berada di dalam Tuhan, kita perlu sering tinggal di dalam Tuhan. Yang kita pikirkan seharusnya hanya Tuhan Yesus saja. Bahkan kekudusan, kemenangan, kasih yang sempurna, baptisan Roh Kudus, kegairahan menyelamatkan orang, peperangan rohani, tidak seharusnya merebut hati kita. “Awal dan akhir” segala perkara haruslah tergantung pada Tuhan Yesus. Iman kita berawal dari Dia, juga berakhir pada Dia. Selain kepada Dia, kita tidak seharusnya menengadah kepada yang lain. Kalau mata kita hanya tertuju kepada Tuhan Yesus, dengan sendirinya kekudusan, kemenangan dan lain-lain akan terwujud di dalam kehidupan kita. Kalau kita memiliki tuntutan lain di luar Kristus, itu akan menyebabkan jalan kita berliku-liku. Dalam perjalanan rohani, kita harus memohon Allah mewahyukan kepada kita, agar kita tampak bahwa semuanya berada di dalam Kristus: pengampunan, pembenaran, dilahirkan kembali, ada di dalam Kristus; kekudusan, kemenangan, dipenuhi Roh Kudus dan lain-lain, juga berada di dalam Kristus. Segala-galanya berada di dalam Kristus. Dia adalah awal, Dia juga akhir; Dia adalah Alfa, juga Omega. Segala sesuatu kita tergantung pada-Nya. Kalau meninggalkan Dia, kita tidak bisa menempuh perjalanan yang di depan kita.
“Berpaling muka” adalah syarat utama menengadah kepada Tuhan. Kalau tidak terlebih dulu ada yang tidak kita pandang, kita tidak akan bisa memandang kepada Tuhan. Orang yang berlari di suatu jalur, kalau menengok ke kanan dan ke kiri, pasti tidak bisa berlari dengan baik, atau ia akan salah arah, bahkan mungkin akan berhenti total. Sebab itu, Allah menyuruh kita jangan memandang yang lain, hanya memandang kepada Tuhan Yesus. Tidak saja demikian, renungan perkara yang lampau pun merupakan satu perkara yang sangat merugikan perjalanan rohani kita. Kita merenungkan kembali diri sendiri, menganalisis perasaan diri sendiri, selalu memperhatikan diri sendiri sudah maju atau belum; kita terlalu mengkhawatirkan keadaan rohani kita, semua itu bisa menghalangi kemajuan kita. Dalam lomba lari ada satu ancaman yang besar, yakni karena tergesa-gesa mendapat kemajuan, lalu tanpa terasa selalu merenungkan kembali keadaan diri sendiri, sehingga tidak bisa “berpaling muka, dengan mata tertuju kepada Yesus”. Apakah yang disebut mata tertuju kepada Yesus? Itu berarti tidak memandang diri sendiri. Mata tertuju kepada Yesus adalah Anda tertarik oleh Yesus, sehingga meninggalkan dunia yang ada di dalam Anda, untuk mempersatukan diri Anda ke dalam orang yang Anda pandang. Memandang Yesus yang bagaimana? Memandang Yesus yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, Yesus yang meliputi segala-galanya. Kunci kemajuan perjalanan kerohanian tergantung pada mengetahui bagaimana dengan tepat tidak memikirkan kembali keadaan diri sendiri. Orang yang mengetahui apa yang disebut tidak memandang diri sendiri adalah orang yang berbahagia. Semoga Roh Allah sendiri mewahyukan kepada kita, apa yang disebut “berpaling muka”, dan apa yang tidak sepatutnya direnungkan kembali.
VI
Mari kita melihat bagaimana Tuhan Yesus menempuh jalan ini. Karena “sukacita yang disediakan bagi Dia”, Ia mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib, lalu duduk di sebelah kanan takhta Allah. Tuhan Yesus memandang kepada sukacita yang terletak di depan-Nya, lalu berlari ke sana. Sukacita ini sukacita apa? Ia sendiri berkata, “Hai hambaku yang baik dan setia; . . . Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:21). Ini ditujukan kepada sukacita dalam Kerajaan Seribu Tahun. Tuhan kita menurut sifat hakiki-Nya menaati Allah, ini memang benar. Tetapi, di sini Alkitab memperlihatkan kepada kita aspek yang lain, yaitu pahala dan perkenan Allah, khususnya kerajaan, juga mempengaruhi sebagian diri-Nya. Tuhan kita karena sukacita yang disediakan bagi Dia, lalu mengabaikan kehinaan dan salib, tidak undur sedikit pun.
Mengapa kalimat yang di atas mengatakan Dia adalah “Yesus” yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, tidak mengatakan “Kristus” atau “Tuhan Yesus”? (sebutan Tuhan setelah bangkit). Kita tahu bahwa Yesus adalah sebutan Tuhan menjadi manusia. Allah menyuruh kita memandang kepada Yesus, supaya kita memperhatikan aspek Tuhan menjadi manusia. Dia menurut sifat hakiki-Nya taat kepada Allah, adalah aspek Ia sebagai Allah. Dia karena sukacita yang disediakan, telah mengabaikan kehinaan dan tekun memikul salib, adalah aspek Dia sebagai manusia. Sebab itu Roh Kudus khusus menyinggung Yesus, supaya kita mengetahui, di aspek Dia sebagai manusia, pahala mempunyai pengaruh yang besar. Kita karena mengasihi Allah lalu taat kepada Allah, itu benar; tetapi di aspek yang lain, karena Allah telah menentukan dengan pahala menarik kita supaya dengan setia melayani-Nya, maka kita karena pahala yang di depan, dengan setia melayani, itu pasti tidak akan salah.
Mengapa Paulus “melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan?” Ia sendiri menjawab, “untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp. 3:14). Allah memanggil orang untuk mendapatkan pahala atau hadiah. Paulus meninggalkan segalanya demi mendapatkan pahala; kita demi mendapatkan pahala dengan setia melayani Allah, pasti diperkenan oleh Allah.
Tuhan kita karena sukacita kerajaan, lalu “mengabaikan” dan “tekun”. Bagaimana dengan kita? Saudara saudari, apakah Anda pernah karena kemuliaan kerajaan yang akan datang lalu melepaskan sesuatu? Apakah Anda pernah karena pahala Allah lalu tidak melakukan pekerjaan yang ingin Anda lakukan, atau mengerjakan perkara yang tidak ingin Anda kerjakan? Kalau sukacita ini menarik Tuhan kita, apakah sukacita ini tidak bisa menarik kita? Dari zaman ke zaman, entah berapa banyak kaum imani, karena ingin mendapatkan kemuliaan kerajaan, lalu meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan. Bagaimana dengan Anda?
VII
Yesus yang kita pandang adalah Yesus yang demikian — “Yang dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ia demikian, secara prinsip, dalam prosesnya kita juga akan demikian.
Kehinaan adalah pemberian orang kepada-Nya, Ia mengabaikannya. Salib adalah pemberian Allah kepada-Nya, Ia tekun memikulnya. Ia disalahpahami orang, diusir orang, dituduh orang, diludahi orang, dihakimi orang, tetapi Ia tidak menaruhnya ke dalam hati. Bukan berarti perlakuan yang diterima-Nya itu tidak hebat; penghinaan yang diderita-Nya adalah penghinaan yang belum pernah dialami oleh orang lain. Bukan karena emosi-Nya yang kudus tidak merasakan bahwa penghinaan dari manusia adalah suatu yang memalukan; perasaan-Nya jauh lebih peka daripada orang lain. Tetapi Ia mengabaikan semuanya itu, Ia tidak memandang berat penghinaan. Salib yang Allah berikan kepada-Nya bukannya tidak berat; di hadapan manusia, di hadapan Iblis, di hadapan malaikat, apa yang harus dijalani-Nya bukannya mudah; tetapi Tuhan kita dengan tekun memikul salib. Ia menerima, Ia menahan dengan tekun. Bagaimana kesudahannya? Ia menang, Ia mencapai garis akhir — “duduk di sebelah kanan takhta Allah,” menantikan perwujudan kemuliaan.
Kita sangat mementingkan muka kita. Kita takut malu, takut disalahpahami orang, takut dikritik orang, takut ditentang orang. Kita sekuatnya menjadi orang yang bulat. Kita menghindari penghinaan, kita tidak mau mengorbankan diri sendiri, tidak mau karena Tuhan menerima malu. Meskipun merasa malu juga karena terpaksa, tidak mau diam seribu bahasa, tidak mau tidak membela diri, tidak mau tidak menghindar, tidak mau menerima penghinaan yang membuat hayat diri sendiri menjadi lemah.
Kita tidak mau memikul salib yang Allah berikan kepada kita. Kita tidak menempuh jalan salib. Bahkan kita tidak mengetahui jalan salib itu apa. Kita tidak mengetahui segala perkara yang menimpa ke atas diri kita sudah seizin Allah. Segala yang berlawanan dengan maksud hati kita, yang membuat kita merasa menderita, yang menyalahpahami kita, keadaan yang menindas kita, perkara yang membuat harapan kita sirna, semuanya adalah salib yang Allah berikan kepada kita. Bagaimana kita memperlakukan hal-hal itu? Apakah hati kita memberontak? Apakah ketika kita bertemu dengan siapa saja lalu mengucapkan kata-kata pengaduan? Apakah kita sangat ingin terlepas dari kesulitan-kesulitan itu? Sikap hati kita yang tidak taat, akan membuat kita tidak bisa berlari dengan baik dalam perlombaan ini.
Allah membiarkan setiap salib menimpa diri kita, itu ada tujuan yang khusus; setiap salib juga mempunyai amanatnya yang khusus, mempunyai suatu tujuan yang akan digenapkan di atas diri kita. Kalau kita menurut kehendak Allah menerimanya, seperti Tuhan Yesus dengan tekun memikul salib (perhatikan: salib-Nya adalah untuk menebus dosa, tetapi salib kita bukan), maka hayat alamiah kita akan sekali lagi ditanggulangi, kapasitas kita akan lebih diperbesar untuk dipenuhi oleh hayat kebangkitan Anak Allah. Sikap memberontak dan tidak taat kita, serta kekuatan untuk meronta, semuanya membuat tujuan Allah tidak bisa tergenap, membuat salib sia-sia menimpa ke atas diri kita, karena tidak merampungkan apa yang akan Allah rampungkan.
VIII
Allah menaruh Tuhan Yesus di depan kita, supaya kita meneladani-Nya. Akhirnya Ia memberi tahu kita, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Ayat ini menunjukkan bagaimana Ia dihina, dipermainkan, dianiaya, diludahi, disesah, dilukai, disalib, (salib juga ada aspek yang berasal dari manusia) dan lain-lain. Kita harus mengingatnya, merenungkannya dengan teliti, memikirkan satu per satu, supaya kita jangan menjadi lemah dan putus asa.
Ketika Tuhan di depan murid-murid-Nya menyinggung hal teraniaya di atas bumi, Ia berkata, “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya.” Kita tidak bisa mengharapkan diperlakukan lebih baik daripada Tuhan Yesus. “Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya.” Perlakuan yang kita terima kalau tidak lebih hebat daripada yang diterima Tuhan Yesus sudah cukup baik. Karena “jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Mat. 10:24-25). Kalau Dia di atas bumi menerima perlakuan yang tidak senonoh, apa lagi kita? Kalau kita ingat akan hal ini, meskipun menderita, dihina, ditentang, kita tidak sampai menjadi lemah dan putus asa.
Pada saat kita berlari di atas jalur yang menuju kerajaan, yang paling ditakuti adalah lemah dan putus asa. “Lemah dan putus asa” boleh diterjemahkan “jiwanya letih dan putus asa”. Jiwa adalah organ emosi, pikiran, dan tekad. Jiwanya letih dan putus asa, berarti jiwanya tidak mempunyai kekuatan. Tekadnya lumpuh, perasaannya dingin, pikirannya tidak ada semangat; semuanya seperti menjadi kosong, semuanya dibiarkan berkembang dengan sendirinya, “kelak mahkota tergantung nasib!” Dalam lomba lari ini, pencobaan yang paling besar ialah ketika perkara-perkara yang beroposisi menumpuk, seolah-olah tidak kuat menahan lagi, lalu melepaskan segalanya, tidak lagi dengan sungguh-sungguh berlari untuk mendapatkan mahkota surgawi.
Kalau kita mau ingat akan Tuhan Yesus, mempertimbangkan pengalaman-Nya, kita tidak akan demikian kendor. Gideon dengan tiga ratus orangnya “meskipun masih lelah, namun mengejar juga” (Hak. 8:4). Kita harus “meskipun lelah, namun tetap berlari menuju sasaran.”
Semoga kita semua menjadi peserta dalam lomba lari ini. Semoga kita semua berlari sampai ke garis akhir. Meskipun dalam perlombaan lari ini kita terluka, ditentang orang, disalahpahami orang, disingkirkan orang; kita seharusnya karena Tuhan Yesus, mengobarkan semangat kita, dengan pantang mundur terus maju. Dalam perlombaan lari, siapa yang paling dipuji orang? Yaitu orang yang menderita luka, tetapi tetap meneruskan berlari, akhirnya menjadi juara; orang ini pasti mendapatkan pujian. Sebab itu, luka bukanlah masalah, menderita juga bukan masalah, bahkan kelihatannya akan gagal juga bukan masalah; terjatuh, segera bangun kembali dan berlari lagi, masih menjadi yang terbaik. Saudara saudari, hari ini kita semua berada di jalur ini, perlombaan, apa saja tidak terhitung, sampai garis akhir baru ada penilaian. Jangan karena alasan apa pun lalu lemas dan putus asa. Kita harus dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, berlari pada jalur perlombaan yang telah dibentangkan di depan kita!