SUAMI-ISTRI
Pembacaan Alkitab: Kolose 3:18-19; 1 Petrus 3:1-7; Efesus 5:22-23
Kita telah membicarakan hal bagaimana orang memilih jodoh, hal ini ditujukan kepada saudara saudari muda. Akan tetapi, di antara kita tidak semuanya orang muda, di antara orang-orang yang baru percaya ada pula yang sudah menikah. Dalam Alkitab terdapat ajaran-ajaran tertentu bagi orang yang telah menikah, baik bagi suami maupun istri. Sebelum seseorang menikah, ia boleh memilih dan menikahi orang yang baginya paling sedikit menimbulkan kesulitan. Namun, setelah ia menikahinya, di hadapan Allah ia harus belajar bagaimana menjadi suami atau istri, untuk mengurangi kesulitan keluarga maupun kesulitan gereja.
I. HARUS MENGELUARKAN WAKTU
UNTUK BELAJAR MENJADI SUAMI ATAU ISTRI
Bagi semua orang yang telah menikah, perkara pertama yang harus ia tampak ialah bahwa menjadi suami atau istri adalah perkara yang paling serius.
Setiap orang harus sudah mempersiapkan diri secukupnya baru dapat mengemban suatu profesi. Misalkan seorang dokter harus menempuh pelajaran atau latihan selama lima, enam, atau tujuh tahun, baru ia bisa melakukan profesinya. Seorang guru harus menuntut pelajaran bertahun-tahun di Sekolah Pendidikan Guru, baru ia dapat mengajar. Seorang insinyur harus belajar di Universitas setidaknya empat tahun. Seorang juru rawat harus menerima pendidikan selama tiga tahun. Akan tetapi sungguh aneh, ada orang yang ingin menjadi suami atau istri, namun tidak mau menggunakan waktu sehari pun untuk belajar. Karena itu, tidak heran kalau ada banyak suami atau istri yang tidak baik. Sebab mereka sama sekali tidak mau memikirkan dan mempelajarinya. Saya takut dan khawatir meminta kepada seseorang yang tak pernah mempelajari ilmu kedokteran untuk memeriksa penyakit saya. Saya pun takut dirawat oleh seorang juru rawat yang belum pernah mempelajari ilmunya itu. Andaikata hari ini saya ingin membangun sebuah rumah, saya hanya berani menyerahkannya kepada seorang insinyur bangunan atau arsitek. Demikian pula, orang yang ingin menjadi suami atau istri, jika ia tidak pernah belajar, saya pun khawatir.
Karena orang-tua kita tidak mengajar kita bagaimana menjadi suami atau bagaimana menjadi istri. Dan pernikahan kita hanya dikarenakan kita sudah dewasa, sudah punya pekerjaan, sudah mampu menghidupi keluarga, dan calon jodoh pun sudah ada. Anda harus ingat, kesulitan keluarga, kesulitan di antara suami dan istri, justru disebabkan tidak adanya persiapan. Sepasang insan itu seolah-olah dengan tiba-tiba ditarik orang ke dalam pernikahan, harus menjadi suami atau harus menjadi istri, tanpa persiapan sedikit pun; keluarga demikian pasti tidak baik. Sebab itu, kita harus tampak bahwa dalam seumur hidup kita, perkara apa saja, perlu ada suatu persiapan; tidak bisa secara tiba-tiba melakukannya. Kita perlu ada sedikit persiapan, sedikit mempelajarinya, barulah dapat melaksanakannya.
Bersamaan dengan itu, kita harus tampak bahwa di dalam dunia ini tidak ada satu profesi yang lebih sulit daripada menjadi suami atau istri. Semua profesi ada jam kerjanya, kapan masuk kapan istirahat pulang. Namun profesi yang satu ini, sehari 24 jam tidak ada hentinya. Semua profesi ada masa pensiunnya, namun yang satu ini tidak mengenal pensiun. Ini adalah profesi yang luar biasa hebatnya, juga suatu profesi yang sangat berat dan serius.
Sekarang kita tidak membicarakan yang telah lampau, Anda yang tidak mampu menjadi suami, kini sudah menjadi suami; Anda yang tidak mampu menjadi istri kini sudah menjadi istri. Ya, Anda sudah menjalaninya, Anda sudah berada pada tahap ini. Karena kecerobohan Anda, maka keluarga Anda menjadi tidak begitu baik. Namun, hari ini, Anda harus tampak bahwa keluarga adalah satu masalah yang serius. Karena itu, Anda wajib kembali mempelajarinya lagi; yang menjadi suami harus kembali mengulangi belajar bagaimana menjadi suami, dan istri juga harus kembali mengulangi belajar bagaimana menjadi istri.
Saya ingin mengatakan, jika seseorang memperlakukan keluarganya dengan sikap seperti ia memperlakukan profesinya, belum tentu ia bisa sukses. Tetapi, hari ini sikap orang dalam memperlakukan keluarganya jauh lebih buruk daripada sikapnya terhadap profesinya. Karena itu, keluarga itu pasti akan gagal. Anda wajib mencurahkan segenap semangat Anda untuk melakukannya, dan harus lebih serius daripada melaksanakan profesi Anda. Jika Anda sembarangan dan tidak melakukannya sebagai satu pekerjaan, bagaimana mungkin keluarga Anda tidak gagal? Jika Anda menginginkan keluarga Anda sukses, maka Anda harus melakukannya sebagai satu perkara, dan harus melakukannya dengan mengeluarkan waktu. Kalau demikian, Anda pasti akan sukses. Ini adalah perkara yang serius, bagaimanapun harus Anda sukseskan. Semua orang yang tidak menaruh perhatian atau tidak berkeinginan agar pernikahannya sukses, pernikahannya pasti takkan sukses.
Karena itu, setiap saudara saudari yang telah menikah wajib belajar dengan mengeluarkan waktu di hadapan Allah untuk menanggulanginya secara bertanggung jawab. Hal ini memang lebih sulit daripada profesi yang mana pun. Harus di hadapan Allah belajar dengan mengeluarkan waktu. Semoga mulai hari ini juga kalian belajar.
II. HARUS MENUTUP MATA
TIDAK MELIHAT KESULITAN PIHAK LAWAN PASANGANNYA
Setelah seseorang menikah, perkara pertama yang harus ia pelajari ialah harus menutup mata, tidak melihat kelemahan pihak pasangannya. Ingatlah, sepasang manusia yang telah menjadi suami istri akan tinggal bersama hari demi hari, tahun demi tahun, tanpa cuti, dan senantiasa tak berpisah. Anda akan mempunyai cukup banyak waktu untuk menemukan kelemahan dan kesulitan pihak pasangan Anda. Sebab itu, Anda harus belajar di hadapan Allah, yakni setelah Anda menikah, Anda harus menutup mata Anda. Tujuan pernikahan bukan untuk mencari kelemahan atau kesulitan pihak pasangan. Dia adalah istri Anda, bukan murid Anda; dia adalah suami Anda, bukan anak didik Anda. Karena itu, tidak perlu Anda mencari kesulitannya untuk kemudian membantunya. Dan jangan sekali-kali Anda mencari kelemahannya lalu berusaha mengoreksinya. Kalau Anda menaruh perhatian atas perkara ini, niscaya keluarga Anda akan terbangun di atas dasar yang kokoh.
Seperti yang pernah saya katakan, sebelum Anda menikah, bukalah mata Anda sebesar-besarnya, lihatlah dengan jelas, dan pertimbangkanlah masak-masak setiap kesulitannya. Akan tetapi, setelah Anda menikah, jelas atau tidak jelas, mulai hari ini janganlah minta jelas. Jika Anda ingin mencari-cari kelemahan pihak pasangan Anda, Anda memang mempunyai banyak kesempatan untuk menemukannya. Allah telah menaruh Anda berdua untuk tinggal bersama, mungkin dalam jangka waktu 50 tahun lagi. Selama waktu itu, Anda mempunyai banyak kesempatan untuk saling mencari kelemahan pihak pasangan. Sebab itu, setiap saudara saudari yang telah menikah wajib menyadari, yaitu setelah Anda menikah, perkara pertama yang harus Anda lakukan ialah menutup mata, tidak melihat adanya kesulitan atau kelemahan pihak pasangan. Tanpa melihat pun Anda sudah banyak mengetahuinya, apalagi jika Anda sengaja melihatnya, kesulitannya pasti akan menjadi semakin banyak.
Allah telah mengatur sepasang manusia menjadi suami istri, dan Allah pun mengatur adanya patuh dan kasih di antara kedua orang ini. Allah tidak menyuruh suami dan istri saling mencari kesulitan pihak pasangan, dan berusaha mengoreksi pihak pasangan. Allah tidak mengangkat Anda menjadi guru atau pengajar. Para suami bukan guru bagi para istri, para istri pun bukan pengajar bagi para suami. Tak seorang pun perlu mengoreksi suaminya dan tak seorang pun perlu mengoreksi istrinya. Orang macam apa pun yang Anda nikahi, Anda harus berharap untuk terus-menerus hidup bersama dengan dia. Tak perlu Anda melihat kelemahan atau kesulitan pihak pasangan Anda, dan kemudian berusaha menolongnya. Konsepsi memberi pertolongan semacam ini sama sekali keliru. Orang yang telah menikah harus belajar menutup mata, harus belajar mencintai pihak pasangannya, dan tak perlu belajar menolong atau mengoreksi pihak pasangannya.
III. HARUS BELAJAR SALING MENURUTI
Ketiga, harus belajar saling menuruti. Ini pun adalah pelajaran pertama setelah menikah. Betapapun miripnya sifat suami istri, cepat atau lambat, masing-masing akan menyadari banyaknya perbedaan di antara mereka berdua. Masing-masing tetap memiliki pandangan, kegemaran, opini dan kecenderungan yang berbeda. Cepat atau lambat mereka akan menemukan betapa banyaknya perbedaan di antara mereka berdua. Karena itu, setelah menikah, harus mulai belajar bagaimana saling menuruti.
Apakah arti menuruti? Menuruti berarti saya pergi ke pertengahan jalan untuk menjemput dia. Yang harus kita perhatikan adalah kedua belah pihak; dan yang paling baik memang kedua belah pihak. Tapi kalau tidak mungkin, setidak-tidaknya pihak Anda harus berangkat ke pertengahan jalan untuk menjemputnya. Sekalipun banyak kesukarannya, Anda harus berusaha meninggalkan kedudukan Anda untuk pergi menjemput pasangan Anda. Kalau bisa menempuh seluruhnya itu paling baik, tapi setidak-tidaknya Anda harus berjalan sampai di pertengahan jalan untuk menjemput dia. Dengan perkataan lain, setelah saudara dan saudari menjadi suami istri, masing-masing dalam banyak hal harus belajar mengubahnya, paling sedikit separuh. Jika bisa mengubah seluruhnya, itu paling baik; tapi jika tidak bisa, mengubah separuhnya baik juga. Bagaimanapun, Anda harus menjemput dia. Aku tidak mempertahankan pendapat sendiri, aku ingin belajar mengubah pendapatku . Walaupun pada mulanya aku berpendapat demikian, tetapi aku ingin belajar menuruti pasanganku.
Saya dapat mengatakan kepada saudara saudari, jika sepasang saudara saudari pada lima tahun pertama setelah mereka menikah sudah belajar saling menuruti, maka setelah lima tahun itu, keluarga mereka pasti menjadi keluarga yang damai sejahtera dan sukacita. Tetapi jika pada lima tahun pertama itu kedua-duanya tidak mengerti hal saling menuruti, maka keluarga ini tidak mudah menjadi rukun. Pernikahan sungguh bukan perkara yang sederhana, Jika ingin memiliki pernikahan yang baik, haruslah mengeluarkan waktu untuknya.
Menuruti berarti selalu mau memahami kesukaran pasangannya. Ada orang yang takut sekali akan suara bising, ada orang yang takut sekali akan kesunyian; ada orang merasa tak dapat hidup dalam kebisingan, ada pula yang tak bisa hidup tanpa keramaian. Itulah, sebabnya harus belajar saling menuruti. Kalau yang satu senang tenang dan sunyi, maka yang lainnya harus berbicara agak pelan sedikit. Lihatlah, di sini sang suami telah menempuh setengah jalan, dan sang istri pun telah menempuh setengah jalan. Itulah artinya saling menuruti. Misalkan sang istri senang rapi dan bersih, sedangkan sang suami tidak. Kalau mutlak menghendaki yang tidak rapi mengikuti yang rapi, pada suatu hari sang suami akan melempar pakaian dan bantal ke lantai, berkata sambil bernyanyi: istriku telah pulang ke rumah ibunya. Sebaliknya, jika mutlak menghendaki yang rapi mengikuti yang tidak rapi, sehingga segalanya menjadi serba kotor dan berantakan, maka sang istri pun akan berharap untuk selekasnya kembali ke rumah ibunya.
Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen kita wajib belajar menyangkal diri. Penyangkalan diri dapat memungkinkan Anda menuruti pasangan Anda. Jika suami dan istri masing-masing belajar menuruti, maka keluarga ini setidak-tidaknya akan melalui hari-hari yang damai; tetapi tak berani dipastikan bisa melalui hari-hari yang sukacita. Jika dalam keluarga ada penyangkalan diri, maka dalam keluarga pasti ada saling menuruti. Bila tidak ada penyangkalan diri, pasti tidak ada saling menuruti.
Yang harus dituruti dalam keluarga bukan beberapa perkara atau beberapa puluh perkara, boleh jadi beberapa ratus, bahkan beberapa ribu perkara. Jadi, jangan mengharap hanya sedikit. Ini merupakan pendisiplinan keluarga. Karena banyaknya perkara dalam keluarga yang perlu dihadapi dengan saling menuruti, maka di sini terdapat pendisiplinan keluarga untuk belajar menerima pendisiplinan. Harus mengesampingkan opini sendiri, dan belajar menerima pandangan pihak pasangan, yakni belajar menuruti.
IV. HARUS BELAJAR MENGAPRESIASIKAN
KELEBIHAN PIHAK PASANGAN
Keempat, setelah menikah, haruslah belajar mengapresiasikan kelebihan pihak pasangan. Dalam keluarga, pada satu aspek harus belajar menutup mata, saling menuruti, pada aspek lainnya harus belajar mengapresiasikan kelebihan pihak pasangan. Ini berarti ketika pihak pasangan melakukan sesuatu dengan baik, lainnya harus mempunyai perasaan. Kalau suami tidak dapat mengapresiasikan istrinya, maka keluarga tersebut memiliki suatu kebocoran yang sangat besar, demikian pula sebaliknya. Ini tidak berarti suami harus menjilat-jilat istrinya, atau istri harus berusaha mengambil hati suaminya, melainkan masing-masing harus belajar mengetahui kelebihan pasangannya, yaitu aspek kebaikan dan keindahannya.
Saya mengenal seorang saudara pewajib di salah satu gereja yang dianggap oleh semua saudara saudari sebagai seorang saudara yang sangat baik. Tetapi jangan sekali-kali bertanya kepada istrinya, sebab istrinya selalu mengatakan bahwa dia adalah suami yang paling tidak becus. Saya ingat, istri itu sering mengeritik suaminya dengan mengatakan bahwa ia tidak layak menjadi saudara pewajib. Akibatnya, semua saudara saudari di gereja itu patuh kepada saudara tersebut, hanya seorang yang tidak patuh, yaitu istrinya sendiri. Keluarga ini tak mungkin menjadi keluarga yang baik.
Ada pula yang berkebalikan. Banyak orang merasa bahwa saudari anu baik sekali, hanya suaminyalah yang merasa ia tidak baik. Saya ingat, ketika saya di sana, ada beberapa orang sedang bercakap-cakap dan mereka semua memuji kebaikan saudari anu. Ketika mereka sedang bercakap-cakap, suami saudari itu datang, dan turut mendengarkan percakapan mereka. Walau ia tidak berbicara apa-apa, tapi seolah-olah ia ingin berkata, ”Kalian tidak tahu, aku telah keliru menikah dengan saudari itu”. Nah, pikiran yang menganggap keliru menikah atau dinikahkan itu sudah cukup merusak keluarga itu sendiri.
Oleh sebab itu, apresiasi para suami setidak-tidaknya tidak boleh lebih rendah daripada apresiasi orang lain. Memang apresiasi suami tidak tentu harus lebih tinggi daripada orang lain, tetapi setidak-tidaknya tidak boleh lebih rendah. Jika apresiasi Anda rendah, Anda bukanlah orang yang benar. Kalau Anda merasa suami Anda keliru, mengapa pada mulanya Anda mau menikah dengannya? Itu membuktikan bahwa Anda sendirilah yang keliru. Karena itu, jika menghendaki keluarga baik, para suami harus dapat mengapresiasikan istrinya, dan para istri harus dapat mengapresiasikan suaminya. Jangan orang lain dapat mengatakan baik, tetapi Anda sendiri mengatakan tidak baik. Anda harus memperhatikan kelebihannya dan merasakan kebaikannya. Bila ada kesempatan, Anda harus mengakui kelebihannya di muka umum, Anda harus menyatakan perasaan Anda itu. Anda bukan berdusta atau berpura-pura, melainkan berkata yang sebenarnya. Anda harus ingat, tatkala Anda mengapresiasikan kelebihan suami atau istri Anda, maka kesatuan keluarga Anda akan menjadi lebih kokoh daripada sebelumnya. Dan rasa perhatian itu akan menjadi lebih dapat diandalkan daripada yang dulu. Jika tidak demikian, dalam keluarga Anda akan timbul penyakit yang sangat serius. Banyak kesalahpahaman dan kesulitan dalam keluarga timbul dari sini.
Di Inggris, ada seorang saudari menikah dengan seorang saudara. Saudara itu selamanya tak pernah mengatakan kebaikan istrinya, sehingga saudari itu selalu khawatir kalau-kalau ia sudah gagal menjadi istri, dan gagal pula sebagai orang Kristen. Karena ia terus-menerus khawatir, akhirnya ia menderita sakit paru-paru (TBC), dan meninggal. Menjelang ajalnya, suaminya berkata, ”Aku tak tahu harus berbuat apa kalau kau meninggal dunia, sebab kau telah melakukan banyak perkara yang baik bagiku. Sungguh kalau kau meninggal dunia, bagaimanakah keluarga kita ini kelak?” Istrinya lalu bertanya kepadanya, ”Mengapa kau tidak sejak dini sudah berkata demikian? Aku selalu merasa diriku tidak baik, aku juga terus mencela diriku. Karena kau tak pernah memujiku sekali pun, jadi aku merasa duka, khawatir, dan selalu mengira diriku tidak benar. Karena itulah aku jatuh sakit, dan aku akan meninggal dunia”. Ini adalah sebuah kisah yang benar-benar terjadi. Sang suami baru mengatakan kepadanya ketika ia menjelang ajal. Ingatlah, perkataan-perkataan yang baik sangat diperlukan dan harus banyak diucapkan dalam keluarga. Kita harus belajar agak banyak mengucapkan kata-kata yang baik, yaitu belajar mengapresiasikan istri atau suami kita.
Saya juga menemukan ada saudara yang gagal dalam melakukan sesuatu di karenakan istrinya tidak mengapresiasikannya. Istrinya selalu menganggapnya tidak becus, sering mencela, ”Kaulah yang paling tidak becus di antara sekian banyak saudara!” Akibatnya, ketika di luar melakukan apa saja, saudara ini selalu menuduh dirinya sendiri, ”Aku tidak becus dalam segala perkara, istriku mengatakan aku tidak becus; orang yang mengenalku paling jelas mengatakan aku ini tidak becus”. Akibatnya, ia benar-benar menjadi orang yang tidak becus. Sebab itu, dapat tidaknya kehidupan keluarga menjadi bahagia, tidak hanya harus menutup mata, tidak melihat kelemahan dan kesulitan pihak pasangan, tetapi juga harus menemukan dan mengapresiasikan kelebihan pihak pasangan. Adakalanya harus menyatakan kepada pihak pasangan, bahkan adakalanya harus diakui di muka umum. Dengan demikian, banyak problema keluarga dapat ditanggulangi.
V. HARUS ADA SOPAN SANTUN
Kelima, dalam keluarga harus ada sopan santun. Tidak adanya sopan santun adalah satu hal yang patut dibenci. Manusia harus bersopan santun terhadap siapa pun, kecuali terhadap diri sendiri. Begaimanapun sangat kenalnya Anda terhadap seorang teman, bila Anda kekurangan sopan santun, Anda akan kehilangan dia. Dalam 1 Korintus 13, Paulus mengatakan kepada kita bahwa kasih tidak melakukan hal yang tidak sopan. Problema keluarga sering kali disebabkan perkara-perkara yang kecil. Ketidaksopanan yang paling parah dari seseorang sering kali dinyatakan ketika ia berada dalam keluarganya sendiri. Banyak orang mengira bahwa istri atau suami adalah orang yang paling dikenal, karenanya ia tidak diperlakukan secara sopan. Anda harus ingat, makna dan indahnya hubungan hidup sebagai manusia besar sekali kaitannya dengan sopan santun. Kapan sopan santun itu hilang, maka aspek-aspek kejelekan dari hidup manusia akan timbul. Karena itu, tak peduli sangat dikenalnya seseorang, sopan santun tetap harus dipelihara.
Ada seorang saudara menginterpretasikan sopan santun bagaikan minyak pelumas dalam sebuah mesin; dengan minyak ini, mesin akan berputar dengan lancar. Ini adalah interpretasi yang baik, dan memang betul demikian. Bila sepasang insan hidup bersama tanpa sopan santun, niscaya akan terjadi pergesekan; tanpa sopan santun, perasaan yang tak enak akan muncul.
1. Tutur Kata
Sebab itu, dalam keluarga perlu sering belajar mengucapkan kata-kata: ”terima kasih” dan ”maaf”. Seringkali istilah atau kata-kata sopan santun harus ada, antara lain seperti: ”terima kasih”, ”bolehkah”, ”maaf”, ”silakan” dan sebagainya. Kalau kata-kata seperti demikian dikurangi, dalam pergaulan teman pun tidak akan sukses, apa lagi dalam keluarga. ”Kasih sayang tidak mengabaikan sopan santun” adalah pribahasa yang khusus harus diingat oleh orang Kristen. Kita wajib belajar menggunakan kata-kata ”maaf”, ”terima kasih” dan bertanya ”bolehkah” di dalam keluarga. Dalam keluarga harus mengucapkan perkataan yang sopan.
2. Pakaian
Dalam keluarga, tidak saja tutur kata kita harus benar dan sopan, pakaian kita pun harus benar, yaitu harus rapi dan bersih. Sebagaimana Anda senang mengenakan pakaian yang rapi di hadapan teman-teman Anda, demikian pula hendaknya dalam keluarga Anda sendiri. Kasih sayang tidak mengabaikan sopan santun. Hindarilah kesembarangan yang disebabkan karena terlalu kenal. Karena Anda terlalu kenal dan terlalu sembarangan, maka mudahlah mengabaikan kesopanan. Anda tampak bahwa setiap orang yang terlalu dikenal akan selalu menimbulkan kejemuan, bahkan menimbulkan penghinaan. Suami dengan istri memang saling mengenal, dan karena berkurangnya sopan santun menjadi semakin mengenal. Sebab itu, pakaian Anda pun harus dipakai dengan rapi, jangan sekali-kali Anda di rumah Anda sendiri mengenakan pakaian yang paling tidak sopan.
3. Tingkah Laku
Ada lagi, yaitu tingkah laku juga harus sopan. Ketika mengambilkan makanan paling baik ditaruh di dalam piring, dan dibawa dengan dua belah tangan. Kalau hanya dengan satu tangan, harus dengan sikap yang benar. Ketika memberikan pisau atau gunting, janganlah mata pisau atau gunting yang disodorkan kepada orang. Dan ketika mengambil sesuatu untuk orang, harus diserahkan bukan dilemparkan. Sikap yang demikian harus khusus diperhatikan dalam keluarga. Waktu untuk menyerahkan sesuatu dengan melemparkan sesuatu, paling banyak terpaut tiga detik, tetapi perbedaan akibatnya sangatlah besar. Karena itu, harus belajar sopan dalam tingkah laku.
Walaupun saya tidak terlalu banyak bergaul dengan keluarga orang, tetapi juga tidak sedikit. Jika seorang bertingkah sopan, kesulitan keluarganya akan sangat sedikit. Saya melihat keluarga yang suami dan istri keduanya sopan, sedikitnya suasana keluarga mereka lebih tenang, dan bunyi-bunyi piring dan sendok pun lebih jarang terdengar. Tetapi pada suami istri yang kurang sopan, banyaklah benda-benda yang terlempar ke sana sini, dan dalam keluarga mereka penuh pergesekan. Karena itu, dalam sebuah keluarga, bila suami dan istri bersikap dan bertingkah laku sopan, paling tidak keluarga mereka akan menjadi satu keluarga yang memiliki damai sejahtera.
Saya yakin, hari ini jika para istri memperlakukan teman-temannya dengan sikap kebanyakan para istri terhadap suaminya, maka tidak akan ada seorang teman pun yang sudi datang ke rumah mereka. Demikian pula, jika dengan sikap kebanyakan para suami terhadap istrinya, orang memperlakukan rekan sekerjanya, akhirnya semua rekannya tidak mau bekerja bersamanya. Sebab itu, harus memberi tahu (para) saudara, ”Istri Anda telah sangat bersabar hati, ia telah menerima apa yang tak dapat diterima oleh rekan sekerja Anda.” Harus pula memberi tahu (para) saudari yang menjadi istri, ”Suami Anda telah cukup sabar, kalau Anda memperlakukan teman-teman Anda dengan sikap atau tingkah yang Anda pakai di rumah terhadap suami Anda, pasti mereka sudah sejak dini menjauhi Anda.” Ketidaksopanan adalah pertanda kekasaran. Tak seorang Kristen pun yang boleh kasar. Orang yang terdidik pasti adalah orang yang tidak mengabaikan sopan santun.
4. Suara
Ada satu permintaan lagi dalam sopan santun, yaitu dalam hal suara. Ingatlah, kalimat yang sama dapat dituturkan dengan cara dan nada yang berbeda. Perkataan seorang atasan terhadap bawahannya ada nadanya tersendiri. Percakapan antara teman dengan teman juga ada nadanya tersendiri. Ketika seorang menaruh kasih, perkataannya mengandung nada kasih. Ketika seorang menaruh benci, perkataannya mengandung nada benci. Hari ini kita telah menghabiskan suara-suara yang terbaik di luar rumah, maka sekembali ke rumah, yang kita gunakan semua adalah suara-suara dan nada-nada yang tidak baik. Itulah kesulitan kebanyakan orang. Di kantor sangat sopan terhadap teman sekantor; di Rumah Sakit sangat sabar terhadap pasien; di sekolah sangat berhati-hati berbicara kepada murid-murid. Tetapi begitu kembali ke rumah sendiri, lalu mengeluarkan suara dengan sembarangan. Ingatlah, jika suara-suara yang Anda keluarkan di rumah itu Anda pindahkan ke kantor, dalam dua hari saja Anda pasti akan diusir. Banyak orang dapat menggunakan suara-suara dan nada-nada yang paling tidak sopan dan paling kasar di dalam keluarganya sendiri, dengan sendirinya keluarga mereka tidak dapat dipertahankan.
Kita harus menyadari kapankala suara dan nada tidak benar, keluarga kita akan menjadi resah. Suara-suara yang sembarangan, suara-suara yang keras, suara-suara yang congkak, suara-suara yang mengasihani diri sendiri, atau suara-suara menyayangi diri sendiri, semua itu tidak patut diperdengarkan di dalam keluarga. Kalau Anda memindahkan suara-suara dalam rumah Anda hari ini ke lingkungan mana saja, usaha atau profesi Anda pasti akan gagal. Tak mengherankan kalau keluarga Anda tidak beres, sebab suara-suara itu Anda perdengarkan dalam keluarga Anda. Oleh sebab itu, hendaklah kita belajar bertingkah laku dan bertutur kata dengan sopan. Kasih sayang tidak mengabaikan sopan santun, dalam bersuara juga harus tidak mengabaikan sopan santun Janganlah bertutur kata sembarangan. Jika dalam sebuah keluarga ada suara-suara yang sembarangan, keluarga itu tidak akan normal.
VI. HARUS MENUMBUHKAN KASIH SAYANG
Keenam, jika keluarga ingin menjadi baik, haruslah menumbuhkan kasih sayang, jangan mematikan kasih sayang.
Sering ada orang muda bertanya, kasih itu bisa mati atau tidak? Hari ini saya dapat memberi jawabannya di sini, yaitu kasih bisa mati, bahkan mudah mati. Kasih sayang serupa dengan setiap benda organik, perlu dirawat dan perlu makanan. Bila kasih tak diberi makanan, ia akan mati. Jika Anda membiarkannya lapar, ia akan mati; jika Anda memberinya makan, ia akan hidup dan bertumbuh.
Kasih adalah dasar pernikahan, kasih juga adalah dasar keluarga. Kasih menarik sepasang insan untuk menikah, kasih pun memelihara sepasang insan itu untuk berada dalam keluarga. Kalau Anda merawatnya baik-baik, ia akan mudah sekali bertumbuh. Jika Anda membiarkannya lapar, ia pun mudah sekali mati. Banyak orang sebelum menikah mempunyai kasih, kemudian, mereka menikah. Tetapi, setelah menikah, mereka lalu membiarkan kasih mereka lapar, sehingga kasih mereka berangsur-angsur mati.
Kalau pernikahan yang tanpa kasih merupakan suatu hal yang menyengsarakan, maka keluarga yang tanpa kasih lebih-lebih menyengsarakan. Dalam sebuah keluarga yang tanpa kasih, boleh jadi pada saat ini, yaitu sebelum mencapai usia pertengahan tidak begitu terasa; tetapi ketika usia lanjut, keluarga itu akan menjadi sangat kasihan, itu adalah suatu keluarga yang dingin. Perbedaannya sangat besar. Karena itu, hendaklah Anda belajar merawat kasih sayang dalam keluarga Anda sebelum Anda mencapai usia pertengahan. Anda harus berusaha memberinya makan, dengan sendirinya dalam keluarga Anda akan dipenuhi dengan kasih sayang.
Ada satu butir lagi yang harus diperhatikan, yaitu setiap orang yang telah menikah wajib menemukan sesuatu yang ditakuti oleh pasangannya. Jangan sekali-kali mengumbar diri sendiri dan hidup dengan sembarangan. Setiap orang mempunyai sesuatu yang paling dibenci, atau paling ditakuti. Kebencian atau ketakutan itu adakalanya merupakan kelemahan pada aspek moral. Kiranya para suami dengan rela hati sedikit menuruti istri, demikian pula para istri; agar kalian dapat saling membetulkan. Adakalanya bukan kelemahan pada aspek moral, tetapi sesuatu yang ditakuti dan yang paling tidak disenangi oleh pasangannya, jika terdapat masalah yang demikian, maka harap di pihak Anda sudi menuruti dia sepenuhnya.
Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca sebuah kasus. Di Amerika ada seorang suami mendakwa istrinya di pengadilan, sebab istrinya memperlakukannya dengan buruk. Kisah ini agak lucu, tapi sangat menakutkan juga. Suami itu sangat takut akan suara yang monoton. Sebelumnya, kedua orang itu saling mengasihi. Tetapi, setelah mereka menikah tidak sampai dua tahun, keadaannya mulai berubah. Istrinya senang menganyam benang wol. Ketika ia menganyam, alat yang dipakai selalu mengeluarkan sejenis suara; dan sang suami justru tidak tahan mendengar suara tersebut. Setelah ia mendengar suara itu satu tahun, dua tahun dan sampai tujuh tahun, akhirnya ia tidak tahan dan menuntut istrinya di pengadilan. Ia merasa istrinya menyiksa mentalnya. Hakim menganggap perbuatan itu (menganyam benang wol) tidak ada salahnya, dan tidak boleh bercerai karena alasan itu. Sang suami kemudian berkata, ”Pada waktu aku belum menikah dengannya, aku melihatnya seperti seekor anak domba, dan aku sangat mencintainya. Tapi setelah menikah setahun, aku melihat dia senang sekali menganyam benang wol. Setelah selesai sebuah, anyaman itu dirombaknya kembali untuk dianyam lagi dari semula. Hal itu membuat aku tidak tahan, hingga hari ini aku tidak saja tidak senang melihat benang-benang wol, bahkan melihat seekor kambing pun ingin saya bunuh. Jika Anda tidak mengizinkan kami bercerai, jangan menyalahkan aku kalau aku sampai membunuh kambing orang.” Apakah Anda menyadari permasalahannya itu? Ini merupakan kesulitan yang nyata. Istrinya merasa menganyam benang wol tidak ada salahnya, tetapi sang suami karena takut akan hal itu, sehingga ingin membunuh kambing orang.
Kalian harus ingat, setiap orang mempunyai sesuatu yang ditakuti dan dibenci. Dalam hal ini tidak menyangkut masalah moral. Seorang tidak menyukai suara-suara yang monoton, itu adalah ciri-cirinya. Setiap manusia mempunyai ciri-ciri tersendiri, dan dalam ciri-ciri itu tidak mengandung unsur moral. Kalau satu keluarga ingin sukses, maka suami dan istri jangan sekali-kali melakukan sesuatu yang membuat pasangannya merasa resah, jemu, atau benci. Jika Anda melakukan suatu perkara yang membuat pasangan Anda merasa tidak tahan, sedangkan Anda sendiri sama sekali tak merasa apa-apa, maka hal tersebut akan menimbulkan problema dalam keluarga Anda.
Sewaktu saya tinggal di Shanghai, saya sering bergaul dengan keluarga-keluarga, demikian pula ketika saya bepergian. Masalah yang sering diperselisihkan dalam keluarga tak lain adalah perkara-perkara yang sepele. Memang perkara-perkara sepele itu dalam pandangan orang luar atau teman tidak menjadi soal. Tetapi, jika hal itu dilakukan setiap hari atau sering terjadi, pada suatu waktu, kesabaran pihak pasangan akan habis dan akhirnya akan timbul masalah besar dalam keluarga itu.
Karena itu, Anda harus tampak di hadapan Allah, yaitu sepasang insan tinggal dan hidup bersama merupakan perkara yang sangat halus, itu bukan perkara yang mudah, maka jangan dikira boleh sembarangan. Perbuatan atau perkara yang Anda kira tidak mengapa, boleh jadi justru itulah yang ditakuti atau dibenci oleh pasangan Anda; jika Anda lakukan terus, ia akan menganggap Anda menyiksa mentalnya.
VII. TIDAK BOLEH EGOIS
Ketujuh, satu syarat lain lagi yang sangat penting dalam keluarga, yaitu tidak boleh egois.
Jika Anda telah menikah, nyatakanlah kehidupan Anda sebagai seorang yang telah menikah dengan orang, jangan menampilkan sesuatu yang tidak mirip dengan seorang yang sudah menikah. Satu Korintus 7 mengatakan bahwa jika seorang menikah, ia harus menyenangkan pasangannya. Boleh jadi egois terhitung sebagai salah satu penyebab yang terbesar dalam kesulitan keluarga.
Saya ingat seorang pendeta di Amerika, dalam seumur hidupnya pernah menangani upacara pernikahan sebanyak 750 kali lebih. Setiap kali upacara ia pasti berkhotbah dan menasihati kedua mempelai memperhatikan satu perkara, yaitu tidak boleh egois. Jika ingin menikah, haruslah ada kasih, tidak boleh egois. Ketika pendeta ini mencapai usia lanjut, ia menulis surat kepada orang-orang itu untuk menanyakan bagaimana keadaan keluarga mereka. ternyata mereka membalas suratnya dengan mengatakan, bahwa keluarga mereka tetap bersukacita karena mereka tidak egois. Menurut keadaan di Amerika, hal semacam ini sangat istimewa. Sebab dalam keluarga-keluarga di Amerika pada saat itu ada dua puluh lima persen pasangan suami-istri yang bercerai. Namun, ketujuh ratus pasang lebih itu sangatlah bahagia.
Kita harus menyadari, bahwa watak egoistis merupakan kesulitan yang besar. Kita harus belajar merasakan perasaan dan kesusahan pihak pasangan, meraba sukacitanya, mengetahui apa yang ditakuti atau dibencinya, mengetahui kesulitan serta kecenderungannya. Bila seorang bersikap subjektif, ia tak dapat menjadi seorang suami atau istri yang baik. Semua orang yang subjektif adalah orang yang egois, bahkan dalam mengasihi diri sendiri pun semua merupakan sikap yang subjektif.
Kita wajib tampak, dalam pernikahan mengandung satu persyaratan, yakni berkorban, belajar menyenangkan pihak pasangan. Jika Anda ingin menyenangkan pasangan Anda, maka Anda sendiri harus objektif, tidak subjektif. Bukan Anda yang merasa senang atau tidak senang, melainkan dia. Anda harus belajar mencari kesenangannya, dan belajar memahami maksud dan pandangannya. Harus berdiri di pihaknya untuk belajar memahami dirinya dan memahami diri Anda sendiri. Harus belajar sedapat mungkin mengorbankan perasaan, opini, dan pandangan Anda sendiri. Carilah pengertian, pengorbanan dan kasih. Kalau demikian, kesulitan keluarga Anda akan sedikit sekali.
Banyak laki-laki yang setelah menikah hanya memikirkan dirinya sebagai inti alam semesta, seolah-olah alam semesta mengitarinya. Kalau aku menikahi seseorang, maka di rumah ia harus menjadi keuntungan bagi kehidupanku. Akhirnya, dalam keluarganya pasti timbul problema. Jika seorang istri mengira dirinya sebagai inti alam semesta, maka semua orang harus hidup untuknya, dan harus menyenangkan hatinya. Sekarang ia telah mendapatkan seorang, maka ia akan mencapai tujuannya untuk memperbudak orang lain. Semua orang seolah-olah mengitarinya, dan dialah intinya. Sekarang ia memakai suaminya untuk mencapai tujuannya itu. Kalau demikian halnya maka pernikahannya pasti akan gagal. Karena pernikahannya adalah pernikahan yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Hal ini perlu diperhatikan baik-baik, jika tidak, keluarganya pasti tidak baik.
VIII. HARUS MEMBERI PASANGANNYA
MEMILIKI KEBEBASAN, RAHASIA, BENDA PRIBADI
Dalam keluarga juga harus memberi pihak pasangan memiliki kebebasan, rahasia dan benda-benda pribadi secukupnya.
Banyak keluarga yang tidak memberikan hak apa pun kepada pihak istri, ada pula yang menjadi suami tidak mempunyai hak dalam keluarga. Keadaan itu pasti akan menimbulkan problema dalam keluarga. Dalam sebuah keluarga, baik suami maupun istri, pada dasarnya harus menyadari satu fakta, yakni Anda dapat mengasihi orang macam apa pun di seluruh dunia, tapi hanya semacam orang yang tak dapat Anda kasihi, yaitu ”sipir Filipi”. Tak seorang pun yang dapat mengasihi sipir, yaitu orang yang ingin membuat Anda menjadi tawanan. Setiap orang yang membuat orang lain kehilangan kebebasan, pasti tidak akan dikasihi orang lain. Camkanlah, banyak suami yang menjadi sipir bagi istrinya. Kalau Anda berharapkan istri Anda mengasihi Anda, hal itu seperti mengharapkan seorang tawanan mengasihi seorang sipir; itu tidak mungkin. Banyak istri juga menjadi sipir bagi suaminya, ia juga tak mungkin mengharapkan kasih dari suaminya. Sipir hanya membuat orang takut kepadanya, tak mungkin membuat orang mengasihinya. Sebab itu, setiap orang tak peduli bagaimana dia, sekali-kali Anda tidak dapat merampas semua kebebasannya. Walaupun pernikahan membuat seorang laki-laki dan perempuan kehilangan kebebasannya, tapi tak dapat merampas seluruh kebebasan. Bukan sang suami memberikan semua kebebasannya kepada istri, bukan pula sang istri memberikan semua kebebasannya kepada suami. Jika Anda berharap agar istri Anda memberikan seluruh kebebasannya kepada Anda, itu berarti menginginkan istri Anda takut atau benci kepada Anda.
Tak seorang pun yang sudi kehilangan seluruh kebebasannya, itu adalah bawaan manusia. Allah pun memberikan kebebasan kepada kita. Bukti yang terbesar ialah di muka pintu neraka tidak diberi penghalang. Dan satu bukti besar lainnya ialah pedang api kerub tidak mengelilingi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Jika Allah tidak memberi manusia kebebasan, pasti Ia akan mengelilingi pohon tersebut dengan pedang api kerub sehingga Adam dan Hawa tak dapat memakan buah pohon tersebut. Tetapi Allah tidak merampas kebebasan manusia. Karena itu, setiap suami wajib memberi kesempatan kepada istrinya untuk memilih; setiap istri pun wajib memberi kesempatan kepada suaminya untuk memilih. Kalau Anda merampas semua kebebasan pasangan Anda, dan Anda menggantikannya untuk menentukan pilihannya, maka akibatnya, jika ia hanya takut kepada Anda itu masih baik, tapi kalau sampai ia benci kepada Anda, keluarga Anda akan timbul kesulitan. Begitu kebebasan lenyap, kebencian akan datang; setidak-tidaknya akan timbul ketakutan.
Jadi, dalam keluarga, suami harus belajar memberi kebebasan secukupnya kepada istri, istri pun harus belajar memberi kebebasan secukupnya kepada suami. Boleh jadi ia ingin memiliki waktunya sendiri, atau memiliki uangnya sendiri, dan boleh jadi ia ingin memiliki benda-bendanya sendiri. Bukan mentang-mentang dua orang telah sebagai suami istri, lalu aku boleh merebut waktunya Anda demi keperluanku. Tidak! Masing-masing harus belajar menempati kedudukannya sendiri. Kalau Anda menyeret kebebasannya, ia akan kehilangan kebebasan. Dan perkara yang sangat kecil mungkin akan menimbulkan kesulitan yang sangat besar.
Setiap suami, setiap istri boleh memiliki rahasia pribadi, ini adalah perkara yang halal dan sah. Perkara yang dilakukan oleh tangan kiri boleh tidak diberitahukan kepada tangan kanan. Dia adalah tangan kiri Anda, ia boleh tidak memberitahu Anda, yang adalah tangan kanan. Sebab itu, harus belajar menghormati eksistensi pribadi masing-masing, dan tidak menjadikan dua orang sebagai seorang. Jika demikian, dalam banyak hal, keluarga ini akan terhindar dari kesulitan.
IX. CARA MENYELESAIKANKESULITAN KELUARGA
Kesembilan, bila terjadi kesulitan antara suami dengan istri, bagaimana cara menyelesaikannya? Adanya kesulitan atau perbedaan antara suami dengan istri, itu sukar dihindari. Tetapi kalau keduanya adalah orang dewasa, dan keduanya sebagai anak-anak Allah, maka haruslah belajar mengetahui di mana letak kesulitan dan perbedaan pihak pasangan. Sebelum kesulitan itu diselesaikan, Anda harus mengetahui di mana letak kesulitannya.
1. Penyelesaiannya Harus Adil
Penyelesaiannya harus adil, jika tidak adil tak mungkin tahan lama. Jangan sekali-kali mengharapkan salah satu pihak dapat bersabar terus sampai akhir. Di antara sepuluh orang Kristen mungkin hanya seorang saja yang bisa bersabar terus sampai akhir, tapi dalam keluarga sembilan orang lainnya tidak bisa bersabar terus sampai akhir. Sebab itu, jika penyelesaiannya tidak adil, kesulitan itu tetap akan meletus.
Ketika saya di Shanghai, saya juga menyelesaikan beberapa kesulitan keluarga. Kita semua sering merasa heran, mengapa urusan yang kecil bisa menimbulkan percekcokan yang besar. Ketahuilah, percekcokan yang besar timbul bukan karena urusan yang kecil itu, melainkan karena ada sejarahnya. Dalam sejarah keluarga telah tertimbun suatu problema, dan itulah yang meletus. Memang yang pemicu adalah urusan kecil, tapi penyebabnya telah tertimbun beberapa tahun lamanya. Sebab itu, janganlah mengira itu hanya urusan yang kecil, tapi karena cara penyelesaian yang semula kurang adil, maka setelah bersabar hingga hari ini, akhirnya tetap menjadi masalah besar.
2. Harus Mengadakan Rundingan Suami Istri
Kita, sebagai orang luar, lebih baik tidak mencampuri mereka, biar mereka berdua mengadakan rundingan suami istri. Kalau keduanya masing-masing mempunyai opini, biarlah mereka berdua yang saling membereskan opini mereka. Jangan masalah mereka tersebar ke lain tempat, tapi dalam keluarga mereka sendiri malah tak terdengar. Dan jangan sampai kasus suami atau istri diketahui oleh orang lain yang berada di tempat sejauh 20 mil, namun suami atau istri itu sendiri malah tak mengetahuinya. Karena itu, tentang kasus mereka sendiri, istri harus memberitahu kepada suami dan suami harus memberitahu kepada istri, sehingga keduanya mengetahui dengan jelas. Menurut pengalaman kita, suami tidak pernah mengetahui opini istri, dan istri tidak pernah mengetahui opini suami. Orang lain sudah tahu, tetapi mereka sendiri malah tidak tahu. Kita harus memberi mereka kesempatan untuk berunding, dan setelah kedua pihak selesai mengatakannya, baru kita boleh berbicara. Ini untuk mencegah orang-orang yang suka bergunjing, supaya mereka tidak menyiarkan semua perkataan itu. Sebab itu, suami wajib mendengarkan istri berbicara dan istri juga harus mendengarkan suami berbicara.
Kalau suami atau istri pernah sekali mendengarkan perkataan pasangan, maka seringkali urusannya dapat segera diselesaikan. Sayang, seringkali ada istri hanya berbicara sendiri, tidak pernah mendengarkan perkataan suami. Jika mau saling mendengarkan sebentar saja, kesulitan dapat segera diselesaikan.
Ketika mereka duduk bersama merundingkan masalah mereka, perselisihan antara suami dan istri harus dibentangkan secara objektif, jangan subjektif. Jika ada yang subjektif, rundingan itu pasti tidak akan sukses. Tatkala berdua berunding bersama, tujuannya ialah untuk menemukan mana yang benar, menemukan perasaan itu. Aku tidak tahu, sebenarnya Anda yang benar atau aku yang benar, tetapi bagaimanapun harus menemukan yang benar. Aku ingin mengerti bagaimana maksud atau pendapat Anda, Anda harus menyatakannya dengan objektif, jangan subjektif. Biarlah mereka berduaan berbicara. Selesai bicara, harus berdoa bersama. Carilah penyelesaiannya dalam doa, dan mohon Tuhan menunjukkan dengan terang di mana letak kesulitan mereka berdua. Jika mereka dapat berbuat demikian, ketika mereka berdoa untuk kedua kalinya, maka problema mereka hampir semua sudah dapat diselesaikan. Banyak kesulitan timbul justru dikarenakan kedua belah pihak tidak mau duduk bersama untuk mendengarkan bicara pihak pasangan secara objektif. Kalau mereka mau duduk bersama mendengarkan dengan objektif, sedikitnya kesulitan itu sudah selesai separuh. Dan dengan berbicara lebih panjang sedikit, pasti letak kesulitannya dapat ditemukan.
Kalau dalam beberapa tahun pertama, rundingan keluarga semacam ini diadakan dua atau tiga kali, maka terhadap di mana dan harus bagaimana menyelesaikan kesulitannya dapatlah diketahui dengan jelas. Perkara ini sungguh perlu dipelajari oleh kebanyakan keluarga. Dan hal ini sungguh efektif untuk menyelesaikan banyak kesulitan dalam keluarga.
X. HARUS ADA PENGAKUAN DOSA DAN PENGAMPUNAN
Kesepuluh, dalam keluarga harus saling mengaku dosa dan saling mengampuni. Banyak kesalahan yang tak dapat dilewatkan dengan sembarangan, melainkan harus diakui. Kesalahan diri sendiri tidak boleh dibiarkan berlalu dengan sembarangan, bagaimanapun harus diakui. Sedang kesalahan pihak pasangan harus selalu diampuni.
Pada prinsip dasarnya, bila orang Kristen bersalah, bukan berusaha menutupi kesalahannya, bukan pula bertobat, melainkan mengaku dosa. Setelah seorang Kristen bersalah, bukan menutupinya, atau lain kali tidak mengulangi kesalahannya. Tidak, melainkan ia harus mengaku bahwa dalam perkara anu dirinya telah bersalah. Karena itu, semua perbuatan yang tidak benar harus diakui. Setiap kali, bila suami atau istri bersalah dalam suatu perkara, ia harus bertobat sambil mengaku bahwa dalam hal itu dirinya telah bersalah.
Pengakuan dosa dilakukan ketika Anda sendiri yang bersalah. Tetapi jika pihak pasangan yang bersalah, Anda harus belajar memaafkan atau mengampuninya seperti dalam hubungan kita dengan orang Kristen lainnya; jangan menuntut atau menghitunghitung kesalahannya. Kasih tidak menyimpan atau menghitung kesalahan orang lain. Bukannya mengingat atau mencatat dosa orang lain satu per satu, melainkan belajar mengampuni dosanya satu persatu di hadapan Allah. Bila sudah dimaafkan atau diampuni, haruslah dilupakan; setelah diampuni haruslah dikesampingkan. Jangan seperti Petrus, yaitu membuat pembukuan dosa, sekali demi sekali dicatatnya. Bila ada pengampunan yang ke berapa kali, itu berarti tidak diampuni dengan sesungguhnya. Dalam pengampunan yang sejati tidak ada soal berapa kali. Sesudah diampuni, urusannya pun berlalu. Karena itu, jika sebuah keluarga ingin baik, harus ada pengampunan.
XI. KETIKA MEMINTA BANTUAN GEREJA
HARUS ADA KERELAAN KEDUA BELAH PIHAK
Bila terjadi kesulitan dalam keluarga, sebaiknya ditanggulangi dulu melalui rapat keluarga sendiri. Harus ada pengampunan dosa dan pengakuan dosa. Bila kesulitan tersebut tidak dapat diselesaikan, pihak ketiga sukar sekali mengatasinya. Kesulitan berdua mudah sekali dibereskan di antara berdua, tapi sukar diselesaikan jika dicampuri oleh pihak ketiga. Karena itu, usahakanlah agar kesulitan itu sedapat mungkin diselesaikan dengan cara yang sederhana, tidak dengan cara yang rumit. Kalau Anda memberitahukan kesulitan Anda kepada orang ketiga, hal itu laksana memasukkan tanah ke dalam luka-luka pada kaki Anda. Bila kaki Anda terluka, dan Anda tidak memasukkan tanah ke dalamnya, itu mudah disembuhkan, tetapi jika memasukkan tanah ke dalamnya, sukarlah disembuhkan. Demikian pula, bila kesulitan berdua tidak diberitahukan kepada pihak ketiga, itu mudah diselesaikan. Tetapi jika diberitahukan kepada pihak ketiga, masalahnya tidak mudah diselesaikan. Sebab itu, harus belajar memecahkan masalah sendiri, dan tak perlu diberitahukan kepada pihak ketiga.
Ada kalanya ada urusan tertentu menjadi kesulitan, dan Anda ingin membawanya ke hadapan gereja. Tetapi Anda harus ingat, jangan Anda sendirian yang mengajukannya. Jika kesulitan di antara suami dan istri ingin dibawa ke hadapan gereja, sebelumnya harus disetujui oleh kedua belah pihak. Karena urusan ini tidak dapat kami selesaikan berdua, maka kami memohon bantuan gereja untuk menyelesaikannya. Bukan berdua saling berselisih, melainkan berdua sama-sama ingin minta dibereskan oleh gereja. Harus datang berdua, dan keduanya harus berbicara. Kalau keduanya telah datang ke hadapan gereja dan mengatakan bahwa kami adalah orang Kristen, di antara kami terjadi satu masalah, kami minta gereja membantu menemukan kesalahannya. Aku harus memberitahukan opiniku kepada gereja, pasangan pun harus menjelaskan maksudnya Anda kepada gereja, keduanya rela berbuat demikian. Kalau demikian, maka masalahnya akan mudah diselesaikan. Ini bukan membalas atau menelanjangi kesalahan pihak pasangan, juga pun bukan ingin ribut. Maksud memberitahu kepada gereja ialah dengan tulus hati ingin dapat menemukan kesalahannya.
XII. HARUS BERSAMA-SAMA HIDUP DI HADAPAN ALLAH
Untuk menyelesaikan kesulitan keluarga, agar keluarga dapat hidup dengan baik, maka haruslah baik pada aspek positifnya. terutama bagi orang-tua yang telah mempunyai anak, harus menyediakan waktu untuk berdoa bersama, bersama-sama menantikan Allah serta bersama-sama mempersekutukan perkara rohani. Baik istri maupun suami, dalam perkara tertentu harus rela menerima penghakiman di bawah terang ilahi. Suami tidak mempertahankan gengsi suami, istri pun tidak mempertahankan gengsi istri, melainkan sama-sama rela menerima penghakiman di bawah terang Allah. Harus ada dialog rohani. Adakalanya berdoa bersama, ada kalanya bersekutu bersama. Teristimewa bagi mereka yang telah mempunyai anak, harus mencari kesempatan untuk lebih sering datang bersama ke hadapan Allah. Jika menginginkan keluarga baik, maka suami dengan istri, keduanya harus hidup di hadapan Allah. Jika keduanya tidak hidup di hadapan Allah, keluarga ini pasti tidak akan berlangsung dengan baik.
GEREJA YANG BAIK HARUS DITUNJANG
OLEH KELUARGA YANG BAIK
Kita telah melihat kedua belas butir di atas, semoga Anda dalam keluarga dapat bersama-sama mempelajarinya, tidak sembarangan dan tidak ceroboh dalam perkara-perkara tersebut. Kalau pelajaran tersebut tidak dipelajari dengan cermat di hadapan Allah, maka semua kesulitan keluarga akan menjadi kesulitan gereja. Ingatlah, jika seseorang dalam keluarga tidak dapat bersehati dan tinggal bersama dengan istrinya, ia pasti tidak mungkin bersehati dengan saudara saudari dalam gereja. Ini adalah satu perkara yang dapat dipastikan. Kalau dalam keluarga Anda sering bertengkar dengan istri, tak mungkin Anda masih bisa bernyanyi haleluya dengan nyaring dalam gereja. Anda harus bisa hidup dengan baik dalam keluarga, barulah Anda dapat hidup dengan baik dalam gereja. Gereja yang baik harus ditunjang oleh keluarga yang baik. Para suami dan istri harus baik. Kalau demikian, gereja pasti tidak ada kesulitan.