Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 43/50

REAKSI ORANG BERIMAN

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. Kamu telah mendengar yang difirmankan: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.”

Matius 5:38-48

Separuh atau lebih dari kehidupan manusia berada dalam reaksi. Mendengar perkataan orang lain, kita akan merasa senang atau gusar; bila ada orang melakukan sesuatu, kita akan merasa baik atau tidak baik; bila kita diusik, kita akan jengkel atau kesal hati; bila orang bersalah terhadap kita, kita akan marah-marah; bila orang memfitnah kita, kita akan membela diri; bila kita dianiaya, kita bersabar hati; semua itu tak lain ialah suatu reaksi. Karena itu, kalau kita menganalisis kehidupan manusia, kita dapat menemukan bahwa kehidupan manusia lebih dari separuh berada dalam reaksi.

I. REAKSI ORANG KRISTEN BERBEDA DENGAN REAKSI ORANG

YANG TAK BERIMAN

Sebagai orang Kristen, kita juga hidup dalam reaksi, hanya saja reaksi kita berbeda dengan reaksi orang yang tak beriman (percaya). Dari reaksi seseorang dapatlah kita ketahui keadaan orang itu. Tidaklah patut kalau reaksi orang yang tak beriman dimiliki oleh orang Kristen; dan tidaklah mungkin reaksi orang Kristen bisa dimiliki oleh orang yang tak beriman. Karena itu, jika Anda ingin mengenal seseorang, Anda dapat mengetahuinya dari macam reaksi yang ia tampilkan.

Setiap orang yang percaya Tuhan memiliki reaksi yang khusus. Tuhan telah mengajar kita bagaimana bereaksi; Tuhan tidak menghendaki kita sembarangan bereaksi. Kehidupan orang Kristen justru merupakan serangkaian reaksi. Jika Anda dapat bereaksi dengan baik, Anda adalah orang Kristen yang baik; jika reaksi Anda tidak baik, Anda adalah orang Kristen yang tidak baik.

Hari ini kita telah percaya Tuhan dan menjadi orang Kristen, ketika kita menghadapi urusan, mengalami ujian, aniaya, dan peristiwa apa saja, haruslah kita tahu bagaimana perintah Tuhan dan bagaimana seharusnya reaksi kita terhadap perkara-perkara itu. Sebagai orang Kristen, tidak saja kehidupan kita harus terkendali oleh Allah, bahkan reaksi kita pun harus terkendali oleh Allah. Setiap reaksi kita haruslah teratur dan terkendali sebaik-baiknya di hadapan Allah. Jika Allah memerintahkan kita harus demikian bereaksi, bereaksilah demikian, karena hayat yang dikaruniakan Tuhan kepada kita memang demikian.

II. AJARAN TUHAN DI BUKIT

Matius 5:38-48 adalah ayat-ayat yang mutlak membicarakan masalah reaksi. Marilah kita melihatnya sekali lagi.

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi”(ayat 38). Perkataan ini berarti kalau orang melukai mataku, aku akan membalas melukai matanya; kalau orang memukul aku hingga gigiku tanggal, aku pun membalasnya demikian. Anda berbuat bagaimana, aku pun berbuat begitu. Inilah yang disebut reaksi. Reaksi macam inilah yang dinyatakan orang pada zaman dulu, yakni pada zaman hukum Taurat Perjanjian Lama.

Tetapi Tuhan berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” (ayat 39a). Maksud Tuhan, kamu harus mempunyai reaksi yang berkebalikan, kamu tidak sepatutnya melawan orang yang jahat. Selanjutnya Tuhan mengatakan tiga perkara, yang merupakan ayat Alkitab yang diketahui banyak orang, yaitu “Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (ayat 39b-41). Pipi kiri, jubah, dan berjalan sejauh dua mil, semuanya merupakan reaksi orang Kristen. Kalau permintaan orang adalah pipi kanan, baju dan berjalan sejauh satu mil, maka reaksi kita sebagai orang Kristen ialah memberikan pipi kiri, jubah, dan berjalan sejauh dua mil. Ayat-ayat dalam Matius 5 ini, dari awal hingga akhir, menunjukkan ajaran-ajaran yang serupa, yaitu reaksi kehidupan orang Kristen haruslah lain.

Kalian tidak seharusnya setelah menjadi orang Kristen delapan atau sepuluh tahun lamanya, baru mengetahui bagaimana reaksi orang Kristen. Begitu seseorang menjadi orang Kristen, dalam beberapa hari pertama, ia seharusnya sudah mengetahui hal ini. Jika reaksi kita tidak baik, hidup kristiani kita tidak akan baik, sebab kita tidak dapat bertindak sesuai dengan sifat hayat yang dikaruniakan Allah kepada kita, kita tidak mencapai standar Allah. Karena itu, dalam kehidupan kita haruslah memiliki reaksi orang Kristen. Jika kita tetap memiliki reaksi orang dunia, kita tidak layak menyebut diri kita orang Kristen.

“Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu” (ayat 42). Kalau ada orang meminta kepada Anda, berilah kepadanya; kalau ada orang ingin meminjam dari Anda, janganlah Anda tolak, kecuali Anda tidak punya. Semua itu adalah reaksi.

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu”(ayat 43). Inilah reaksi orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat. Kalau Anda sesamaku, reaksiku ialah kasih, tetapi kalau Anda musuhku, reaksiku ialah benci.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”(ayat 44). Reaksi orang Kristen berbeda. Anda harus mengasihi musuh Anda dan berdoa baginya, walau ia menganiaya Anda.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (ayat 45). Inilah reaksi Allah. Allah tak pernah memberi reaksi yang tidak baik terhadap manusia. Entah orang itu benar atau tidak benar, Allah tetap menerbitkan matahari baginya; entah orang itu baik atau jahat, Allah pun tetap menurunkan hujan baginya.

Dikatakan selanjutnya, “Apabila kamu mengasihi orangyang mengasihi kamu, apakah upahmu?” Kalau orang mengasihi Anda, otomatis reaksi Anda juga mengasihinya. Kalau demikian apakah upah Anda? “Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (ayat 46). Jika orang Kristen hanya berbuat demikian, itu sama dengan pemungut cukai. Reaksi demikian terlalu mudah dan terlalu murah.

“Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?” (ayat 47). Jika kita hanya memberi salam kepada saudara saja, tidak memberi salam kepada yang bukan saudara; atau memberi salam hanya pada waktu tidak ada urusan, dan tidak memberi salam pada waktu ada urusan, apakah bedanya kita dengan orang yang tidak mengenal Allah? Perbuatan demikian sungguh sangat rendah.

“Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna”(ayat 48). Ini berarti dalam masalah reaksi, kita seharusnya sama seperti Allah kita.

III. MASALAH REAKSI HARUS DIBERESKAN

Ayat-ayat yang kita baca di atas adalah reaksi orang Kristen. Bila Anda dapat membereskan masalah reaksi ini, maka masalah kehidupan kristiani Anda minimal telah terbereskan separuh. Sebab terhadap perbuatan, perkataan maupun sikap orang lain, kita selalu mempunyai reaksi; hidup kita sebagai orang Kristen penuh dengan reaksi. Bila sebagian besar hidup kita merupakan reaksi, dan reaksi-reaksi itu adalah reaksi orang Kristen, kita akan diperkenan di hadapan Allah. Jika reaksi kita tidak baik, hidup kristiani kita pun tidak baik.

Mengapa kita harus memperhatikan masalah ini? Terus terang saya katakan, jangan menganggap sepele masalah yang kita bicarakan ini. Selama 20 tahun lebih ini, di dalam saya ada perasaan yang sangat berat, yaitu banyak orang telah menjadi Kristen belasan tahun, bahkan puluhan tahun lamanya, juga telah puluhan kali membaca ajaran Tuhan di atas bukit ini, namun mereka masih tidak mengetahui bagaimana sebenarnya tuntutan Tuhan terhadap reaksi mereka. Karena itu, meskipun telah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, reaksi mereka masih tetap salah. Urusan apa saja selalu dihadapi dengan alasan, hukum Taurat, keadilan, layak atau tidak layak. Mereka tidak tampak apa sebenarnya yang disebut reaksi orang Kristen.

Ia hanya memiliki reaksi keadilan, ia hanya memiliki reaksi hukum Taurat, ia hanya memiliki reaksi orang kafir, ia hanya memiliki reaksi pemungut cukai; ia tidak memiliki reaksi orang Kristen. Ia berkata, “Bukankah aku beralasan?” Ia merasa dirinya sangat beralasan, namun ia lupa bahwa orang Kristen tidak berbicara dengan alasan. Ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana seharusnya reaksi orang Kristen. Inilah kesulitan yang paling besar. Karena ia sendiri tidak mengetahui bagaimana seharusnya reaksi orang Kristen, maka ia pun tidak mengetahui orang lain harus bagaimana. Mungkin ketika ia melihat seorang saudara berdiam diri tatkala tertimpa perkara yang tidak beralasan, ia malah menyalahkan reaksi saudara itu. Akhir-akhir ini saya mendengar orang mengatakan, “Si anu dicaci maki, tetapi ia diam seribu bahasa.” Ia mengira diam seribu bahasa itu salah, berbicara membantah baru benar. Itu membuktikan bahwa ia sama sekali tidak mengetahui apa artinya salib, apa artinya hayat orang Kristen, dan apa artinya menjadi orang Kristen.

Saudara saudari yang baru beriman, sejak semula harus mengetahui bagaimana reaksi orang Kristen. Setelah itu barulah mereka dapat mengetahui bagaimana seharusnya mereka hidup di hadapan Allah. Anda harus tahu bahwa orang Kristen memiliki reaksi tertentu. Jika perbuatan Anda tidak sesuai dengan reaksi itu, Anda adalah pemungut cukai atau orang kafir. Kehidupan seorang manusia, ada separuh yang bersifat pasif. Orang berbuat begini, maka aku juga berbuat begini; orang merasa begini, maka aku juga merasa begini. Dari hari ke hari, kita selalu bereaksi, kalau reaksi kita salah, itu berarti kita tidak hidup di hadapan Allah. Semoga masalah reaksi ini dapat kita bereskan dengan baik.

IV. TIGA MACAM REAKSI YANG BERBEDA

TERHADAP SUATU PERKARA

Melalui ayat-ayat dalam Injil Matius, marilah kita melihat prinsip utama dari reaksi. Reaksi manusia terhadap suatu perkara dapat digolongkan dalam tiga tingkat. Pertama ialah alasan. Kedua ialah tingkah laku yang baik. Ketiga ialah reaksi hayat kudus Allah. Kalau Anda berada dalam tingkat pertama, tingkat alasan, reaksi Anda ialah kesal atau marah-marah. Kalau Anda berada dalam tingkat kedua, tingkat tingkah laku yang baik, reaksi Anda ialah bersabar. Kalau Anda berada dalam tingkat ketiga, tingkat hayat kudus Allah, reaksi Anda ialah mengungguli dan melampauinya. Itulah tiga macam reaksi yang berbeda yang mungkin kita miliki.

Misalnya, hari ini ada orang menampar pipi kanan Anda, jika hati Anda penuh dengan alasan, Anda pasti akan berkata, “Kurang ajar, mengapa kamu menampar aku?” Karena pipi Anda ditampar, Anda akan menjadi sangat gusar dan akan beralasan dengannya. Ini membuktikan bahwa Anda berada dalam tingkat alasan. Kalau Anda tahu sebagai orang Kristen harus berkelakuan baik, kesal atau marah-marah itu tidak pada tempatnya, maka ketika orang ingin mengambil baju Anda, Anda bersabar dan membiarkannya mengambil baju Anda. Reaksi ini memang jauh lebih baik daripada marah-marah. Namun Tuhan berkata kepada kita, masih ada satu reaksi lain yaitu reaksi yang dikehendaki-Nya.

Reaksi yang Tuhan tetapkan bagi kita, bukan setelah orang menampar pipi kita, kita lalu marah; jugabukan setelah orang mengambil baju kita, kita lalu bersabar hati. Melainkan orang menampar pipi kanan kita, berikan juga pipi kiri kita; orang mengingini baju kita, berikan juga jubah kita; dan orang memaksa kita berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh dua mil. Reaksi semacam ini, bukan yang disebut bersabar, melainkan melampaui. Reaksi ini jauh melampaui permintaan orang. Orang hanya menuntut sebanyak ini, di hadapan Allah kita memiliki lebih banyak, bisa menjawab permintaannya. Bukan sekadar memenuhi permintaannya, bahkan melampaui permintaannya.

Saudara saudari, Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa orang Kristen hanya memiliki satu reaksi. Reaksi ini bukan membuat alasan, bukan pula menyabarkan hati, melainkan melampaui. Kalau kita tidak melampaui, itu bukan orang Kristen. Tuhan tidak menyuruh kita mata ganti mata, juga tidak menyuruh kita bersabar hati, melainkan mata tambah mata. Orang memukul pipi kanan kita, kita berikan kepadanya pipi kiri kita.

Maka hendaklah kalian ingat, dari mata ganti mata hingga mata tambah mata; dari baju ganti baju hingga baju tambah jubah; dari pipi ganti pipi hingga pipi tambah pipi; dan dari mil ganti mil hingga mil tambah mil, di antaranya setidak-tidaknya terpaut dua langkah. Mata ganti mata itu satu reaksi, marah-marah itu satu reaksi, bersabar itu satu reaksi, mata tambah mata itu pun satu reaksi lagi. Dari keempat macam reaksi ini, tiga reaksi yang di depan harus kita kesampingkan.

V. ORANG KRISTEN DISELAMATKAN

DARI KEHINAAN, HARTA, DAN TEKAD

Saya ingin membahas lebih lanjut ketiga perkara di atas. Menampar pipi berarti menghina. Hal ini mengandung arti yang sama, baik bagi orang Yahudi, maupun bagi orang Roma pada masa itu. Menurut catatan-catatan Roma di waktu dulu, banyak budak orang Roma lebih suka dibunuh oleh majikan mereka daripada ditampar pipinya; mereka lebih rela dibunuh daripada ditampar. Jadi pada masa itu menampar pipi seseorang berarti melakukan penghinaan yang paling besar terhadapnya.

Baju adalah benda yang paling sah bagi setiap orang. Meskipun seseorang sangat miskin, ia tetap harus mengenakan baju. Sekalipun seseorang sangat menolak kenikmatan material, ia tetap harus mengenakan baju, sebab ini adalah permintaan yang sangat sah. Sekarang, di sini ada orang, ia tidak ingin mengambil harta atau ladang Anda, tetapi ia ingin mengambil baju Anda, sebelum mengambil baju Anda ia harus terlebih dulu menanggalkan jubah Anda. Ini berarti ia akan menjamah harta Anda yang terdalam. Kalau menampar pipi berarti penghinaan, maka mengambil baju berarti menjamah harta Anda yang terdalam.

Memaksa orang berjalan sejauh satu mil, ini khusus bertalian dengan masalah tekad. Aku tidak mau menempuh jalan itu, dan tidak mau pergi ke tempat itu, tetapi Anda memaksa aku. Jadi aku menekan diriku untuk menempuh jalan itu. Ini berarti tekadku terluka.

Saudara saudari ketahuilah, reaksi orang Kristen ialah pipi kiri, jubah, dan dua mil. Jika orang mengingini bajuku, jubahku juga kuberikan kepadanya. Jika orang memaksaku berjalan sejauh satu mil, aku akan berjalan bersamanya sejauh dua mil. Jika orang menampar pipi kananku, kuberikan juga pipi kiriku kepadanya. Jelas ini berarti pipi kanan tidak menjamah aku, baju tak menjamah aku, satu mil pun tidak menjamah aku. Inilah reaksi yang melampaui. Kalau ketika pipi kananku ditampar aku sudah merasakannya, tidak mungkin kuberikan pula pipi kiriku. Kalau aku tidak tahan dipaksa berjalan sejauh satu mil, tidak mungkin aku dapat berjalan bersamanya sejauh dua mil. Maka segala persoalannya terletak pada bagaimana reaksi kita.

Sebagai orang Kristen, kita telah diselamatkan terlepas dari perasaan kehinaan dan kemuliaan, terlepas dari perasaan hak milik harta dan terlepas dari tekad. Tatkala kita di hadapan Allah diselamatkan hingga ke taraf demikian, kita akan melampaui baik masalah pipi, harta, maupun tekad. Segala perkara atau benda tidak dapat menjamah kita lagi.

VI. PELAJARAN SALIB YANG PERTAMA

MENGAJAR KITA TIDAK BERALASAN

Di hadapan Allah kita harus belajar menjadi orang yang tidak beralasan. Itulah pelajaran salib yang pertama. Saya percaya di antara kita tidak ada saudara atau saudari yang jatuh dan merosot demikian rendahnya sehingga melakukan balas dendam. Karena itu, di sini kita tidak akan membahas bereaksi mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi saya khawatir masih banyak yang berbicara menurut alasan, aturan dan keadilan, “Anda tidak seharusnya menampar aku.” Ingatlah, kapan seseorang berbicara menurut alasan atau aturan, berarti ia sudah terjamah oleh perkara itu. Reaksi yang Tuhan tunjukkan kepada kita ialah ketika orang berbuat jahat kepada kita tanpa alasan, kita pun harus dapat menyatakan kebaikan tanpa alasan. Ia dapat berbuat jahat tanpa alasan, kita pun dapat berbuat baik tanpa alasan. Kalau berjalan sejauh satu mil itu sama sekali tanpa aturan, berjalan bersamanya sejauh dua mil pun mutlak tanpa aturan. Kedua-duanya sama tanpa aturan. Demikian pula dengan ditamparnya pipi kanan dan kiri serta diambilnya baju dan jubah. Ya, orang Kristen tidak berbicara menurut alasan atau aturan. Kalau kejahatan orang kafir tanpa aturan, kebaikan orang Kristen pun tanpa aturan.

Jangan sekali-kali Anda terjerat dalam alasan atau aturan, sehingga Anda mengatakan ini beralasan, itu tidak beralasan. Anda mengatakan satu mil itu tidak beralasan, tetapi saya mengatakan dua mil itulah yang tidak beralasan. Kalau mil pertama tidak beralasan, maka mil kedua lebih-lebih tidak beralasan. Kalau Anda tidak dapat berjalan bersamanya satu mil, mana mungkin berjalan bersamanya dua mil? Tetapi syukur kepada Allah! Reaksi anak-anak Allah bukan berdasarkan alasan. Tidak seorang pun di antara anak-anak Allah yang boleh marah-marah, sebab kita sama sekali tidak beralasan dengan orang menurut benar atau salahnya suatu perkara. Semua alasan tidak berada di dalam lingkungan orang beriman. Bila Anda terjatuh hingga beralasan dengan orang lain, itu berarti Anda sudah meninggalkan status atau kedudukan Anda sebagai orangKristen.

VII. ORANG KRISTEN TIDAK MELAKUKAN

PERKARA YANG BENAR, YANG BAIK,

MELAINKAN YANG MELAMPAUI

Jika orang mengingini bajuku, tetapi tidak kuberikan kepadanya, itu berarti aku benar; kalau aku memberikan kepadanya, itu berarti aku baik. Tetapi kalau aku memberikan pula jubahku kepadanya, itu berarti aku orang Kristen. Kalau orang ingin merampas bajuku, mengapa aku harus memberikan kepadanya? Kalau aku tidak mau memberikan, itu benar. Kalau aku memberikan, itu baik; karena aku orang baik, maka kuberikan itu kepadanya. Tetapi menjadi orang yang benar bukan berarti menjadi orang Kristen; menjadi orang baik, juga bukan berarti menjadi orang Kristen. Orang Kristen tidak saja menyerahkan baju, bahkan menyerahkan jubah. Orang yang dapat memberikan pakaian yang kedua, itulah orang Kristen.

Bagaimanakah reaksi orang Kristen? Reaksi orang Kristen bukan melakukan perkara yang benar, juga bukan melakukan perkara yang baik, melainkan melakukan perkara yang melampaui. Ketika seorang anak Allah dianiaya, dihimpit, dipojokkan, dan menempuh jalan buntu, seharusnyalah ia memanjat makin tinggi. Kalau begitu terdesak segera jatuh, sungguh kasihan. Marah-marah, beralasan, bersabar, itu semua adalah keadaan yang patut disayangkan. Kalau saat orang makin menindas Anda, membuat Anda terjepit, tetapi Anda bisa membubung tinggi, Anda baru benar-benar orang Kristen.

Saya ingat seorang saudara yang telah lama meninggal. Kepadanya orang-orang memberi pujian demikian, “Kalau Anda tidak pernah menjadi musuhnya, Anda takkan mengetahui betapa hebat kasih yang dimilikinya.” Betapa indahnya perkataan ini. Semakin hebat Anda menganiayanya, semakin besar kekuatannya. Semakin jahat Anda memperlakukannya, ia terbang semakin tinggi. Semakin kejam Anda memperlakukannya, semakin nyata kebesarannya. Maka ketika ia wafat, banyak saudara memberi komentar, “Bila seseorang ingin mengetahui kekuatan kasihnya, ia harus menjadi musuhnya yang paling brutal. Kita kurang jahat terhadapnya. Semakin jahat kita terhadapnya, semakin besarlah kasihnya.” Inilah reaksi orang Kristen. Semakin Anda menganiayanya hingga ia terjepit, semakin besarlah jalan yang dibukanya.

Ingatlah, pelajaran ini tidaklah terlalu dalam. Khotbah Tuhan Yesus dalam Matius 5, 6, dan 7 adalah khotbah-Nya yang pertama. Pengajaran di atas bukit adalah yang pertama kali didengar para murid. Sebab itu, hal ini kita beritakan kepada saudara saudari yang baru percaya. Kalian perlu mempraktikkannya sejak semula. Kalau kalian benar-benar orang Kristen, kalian harus melaksanakannya. Jika tidak, batin kalian akan merasa tidak enak. Kalau seorang Kristen beralasan dengan orang lain, begitu pulang ke rumah ia akan merasa tidak enak. Kalau barang Anda diambil orang lain, Anda menggerutu, begitu pulang ke rumah, pasti Anda merasa tidak enak. Namun, bila orang lain mengingini baju Anda, Anda malah menambahnya dengan jubah, pulang ke rumah, Anda pasti dapat berseru, Haleluya! dan hati Anda merasa sangat nyaman. Kalau orang ingin meminjam uang Anda, Anda ada uang tetapi menolaknya, memang uang Anda tersimpan, namun sukacita Anda juga tersimpan. Bila orang ingin meminjam, pinjamilah. Menjadi orang Kristen yang demikian pasti membuat Anda sangat bersukacita. Banyak orang Kristen justru tidak sudi berjalan sejauh dua mil, sebab itu sehari suntuk mereka bermuram durja. Kalau Anda rela berjalan sejauh dua mil, batin Anda akan bernyanyi riang.

VIII. KESULITAN ORANG BERIMAN

DALAM HAL REAKSI

Banyak saudara saudari merasa sulit dalam hal reaksi dikarenakan mereka tidak mengenal Tuhan. Hati mereka tidak sudi bila orang menghendaki mereka berjalan sejauh dua mil, memberikan pipi kiri, atau memberikan jubah mereka. Mereka selalu berkata, “Betapa kurang ajarnya orang itu!” Tetapi kalian harus menyadari bahwa itu semua adalah permintaan Tuhan. Orang itu menampar pipi kanan Anda, asal ia menampar pipi kanan Anda, ia sudah merasa puas. Tetapi Tuhanlah yang menyuruh Anda memberikan pipi kiri Anda untuk ditampar lagi. Orang ingin mengambil baju Anda, asal Anda berikan baju itu, ia sudah merasa puas. Tetapi Tuhanlah yang menyuruh Anda memberikan juga jubah Anda kepadanya. Ada lagi orang yang memaksa Anda berjalan sejauh satu mil, tetapi Tuhan yang memaksa Anda berjalan bersamanya sejauh dua mil. Kita harus tahu, pipi kiri, jubah, dan dua mil, semua adalah permintaan Tuhan, bukan permintaan manusia. Kalau kita menolak masalah pipi kiri, jubah, dan dua mil, berarti kita menolak Tuhan, sebab itu adalah permintaan Tuhan, bukan permintaan manusia.

Ingatlah, kalau Anda mengatakan orang itu kurang ajar, Tuhan lebih-lebih kurang ajar. Jika mengambil baju Anda itu kurang ajar terlebih pula mengambil jubah Anda. Jika pipi kanan tidak seharusnya ditampar terlebih pula pipi kiri. Jika berjalan sejauh satu mil tidak beralasan, terlebih pula berjalan sejauh dua mil. Namun itu adalah permintaan Tuhan. Jadi, permintaan Tuhan lebih hebat daripada orang yang kurang ajar itu. Tidak ada orang yang kekurangajarannya lebih hebat daripada permintaan Tuhan.

Mengapa bisa demikian? Karena Tuhan tahu bahwa hayat yang Ia karuniakan kepada kita adalah hayat yang melampaui. Hayat ini akan merasa tidak enak dan tidak gembira jika ia tidak melampaui. Hayat ini akan semakin menyatakan kekuatannya bila semakin dipersulit, dihina, atau dirugikan.

Demikianlah orang Kristen. Ia tidak saja tidak marah atau kesal, tidak saja tidak memaksa diri untuk bersabar hati, bahkan ia dapat melampaui/mengungguli segala-galanya. Anda memaksa aku berjalan sejauh satu mil, aku dapat berjalan bersama Anda sejauh dua mil. Anda ingin mengambil bajuku, aku dapat memberikan jubahku kepada Anda. Anda ingin menampar pipi kananku, aku dapat memberikan pipi kiriku pula. Hayat itu unggul dan dapat membubung tinggi. Itulah reaksi orang beriman. Jika tidak demikian, perbuatan kita akan tidak sepadan dengan perbuatan seorang Kristen.

IX. INILAH KASIH KARUNIA ANAK-ANAK ALLAH

Orang yang tidak mengerti Alkitab akan menganggap ajaran-ajaran dalam Matius 5, 6, dan 7 sebagai hukum Taurat. Padahal itu bukan hukum Taurat, melainkan kasih karunia. Mata ganti mata, gigi ganti gigi itulah hukum Taurat. Apa artinya kasih karunia? Kasih karunia berarti memberikan sesuatu kepada orang yang tidak layak menerima. Pipi kanan, baju, dan satu mil sudah merupakan kasih karunia, sebab tidak seharusnya diperoleh orang itu. Tetapi berhubung hayat yang di dalam kita mengungguli segala-galanya, dan perkara-perkara itu tidak berdaya menjamah kita, maka tidak saja kita dapat berjalan sejauh satu mil, bahkan bisa berjalan bersamanya sejauh dua mil; tidak saja memberikan baju, jubah pun bisa kita berikan; tidak saja pipi kanan, bahkan bisa memberikan pipi kiri. Itu berarti kasih karunia ditambah kasih karunia. Namun ini bukan kasih karunia Allah, melainkan kasih karunia anak-anak Allah. Inilah perbuatan yang dilakukan anak-anak Allah dalam meneladani Allah Sang kasih karunia. Allah memberikan kepada manusia apa yang tidak layak diterimanya. Kita pun memberikan apa yang tidak layak diterima orang, bahkan lebih banyak daripada apa yang tidak layak diterimanya itu.

X. ALLAH MEMPERBESAR KAPASITAS KITA

MELALUI REAKSI-REAKSI INI

Mengapa kita harus melaksanakan ajaran-ajaran di atas bukit? Itu tak lain untuk memperbesar kapasitas kita. Melalui reaksi-reaksi itu Allah memperbesar kapasitas kita. Banyak perkara yang kita anggap mustika di atas diri kita, tetapi bila kita hidup dalam ajaran-ajaran di atas bukit, semua itu akan dikupas oleh Allah. Baju diambil, jubah juga diambil; sekali lagi baju diambil, jubah pun diambil. Dengan demikian Anda akan menjadi semakin besar; Anda akan lebih besar beberapa kali lipat daripada baju atau jubah Anda.

Banyak orang justru hanya sekecil pakaiannya. Sehelai baju saja sudah menjamahnya, sehingga ia marah-marah; sehelai baju saja sudah cukup membuatnya kehilangan martabat orang Kristen. Ah, di mana-mana kita selalu menjumpai orang yang kerdil.

Sebenarnya orang Kristen bisa terus bertambah besar, sebab Allah telah mengaruniakan satu hayat yang besar kepadanya. Sehelai baju dapat diberikan, seratus helai baju pun dapat diberikan. Orang memaksa Anda berjalan sejauh satu mil, Anda sanggup. Orang memaksa Anda berjalan dua mil Anda dapat melakukan. Dengan demikianlah Anda diperbesar oleh Allah.

Memang pipi manusia sangat penting, dipermalukan atau dihina memang sukar diterima. Banyak orang mau memberikan semua bajunya kepada orang lain, tetapi tidak mau ditampar dan dihina. Dikatai dengan perkataan yang sangat menghina adalah sesuatu yang sukar diterima. Tetapi di sini ada seorang yang ditampar, tidak saja ia sabar, bahkan menerimanya dengan senang hati. Kalau Anda memberikan lagi pipi kiri Anda, Anda akan diperbesar. Kita akan diperbesar melalui perkara-perkara yang tidak beralasan itu.

Tekad Anda sebenarnya sangat keras dan kuat. Tetapi hari ini jika Anda rela tunduk dan menerima aniaya, mau dipaksa berjalan sejauh dua mil, niscaya Anda akan menjadi semakin besar.

Selama tahun-tahun ini, saya selalu berjumpa dengan orang-orang yang kerdil. Dalam gereja saya juga tidak banyak menjumpai orang yang besar. Saya harap saudara saudari yang baru beriman sudah menempuh jalan ini sejak awal. Memiliki reaksi yang sesuai dengan hayat Allah, yaitu melampaui. Inilah syarat utama untuk mencapai pertumbuhan. Jika Anda dapat senantiasa bereaksi sesuai dengan hayat Allah yang melampaui itu, Anda pasti semakin diperbesar. Benda-benda material tidak dapat membatasi Anda, penghinaan tidak dapat membatasi Anda, bahkan tekad Anda yang keras itu pun tidak dapat membatasi Anda. Anda akan bertumbuh terus. Jika tidak demikian, gereja akan dipenuhi oleh manusia-manusia yang kerdil.

XI. KEMENANGAN ORANG KRISTEN

BERSIFAT MELAMPAUI

Saya tidak mengatakan berjalan sejauh dua mil sudah cukup. Berjalan sejauh dua mil adalah satu prinsip, memberikan pipi kiri juga satu prinsip, yakni prinsip melampaui.

Apakah arti melampaui? Melampaui berarti berada di atas segala urusan atau perkara. Kalau ada orang menampar pipi kanan Anda, dan Anda teringat akan ajaran Matius 5, lalu Anda berkata kepada diri sendiri, “Aku mau memaksa diriku untuk ditampar; kalau ia ingin mengambil bajuku, aku mau memaksa diriku memberikan jubahku kepadanya; kalau ia memaksaku berjalan sejauh satu mil, aku pun mau memaksa diriku berjalan bersamanya sejauh dua mil.” Kalau Anda berbuat demikian, itu tidak berguna. Itu berarti Anda tidak melampaui, tidak membubung tinggi. Siapakah yang dapat membiarkan pipi kirinya ditampar orang? Saat aku dihina orang, Tuhan mengaruniakan satu hayat yang kaya kepadaku, karena itu aku dapat bereaksi melampaui. Orang Kristen selamanya tidak terpaksa, reaksi orang Kristen selamanya tidak sekadar cukup saja.

Saya pernah mendengar seorang saudari berkata, “Aku hampir marah!” Ketika ia berkata demikian, ia seolah-olah merasa dirinya telah menang. Ketahuilah, itu sebenarnya bukan reaksi orang Kristen. Reaksi orang Kristen seharusnya dapat mengatakan, aku masih mempunyai banyak, sekali lagi pun masih tak mengapa. Itulah artinya dua mil. Ada orang berbuat jahat terhadap Anda, itulah pipi kanan. Tetapi kalau Anda dapat memberikan lebih banyak, sehingga Anda menang di hadapan Allah, itulah pipi kiri, dan itu berarti sempurna. Jadi pipi kiri berarti berkelebihan. Keadaan kemenangan orang Kristen tidak sekadar menang saja, tetapi menang dengan berkelebihan. Orang Kristen harus selalu mempunyai banyak, hingga melampaui apa yang dideritanya. Jadi, kemenangan orang Kristen sama sekali tidaklah terpaksa, kemenangan orang Kristen bukan dengan menggertakan gigi, atau melalui beralasan. Kemenangan orang Kristen diperoleh secara wajar. Semoga Tuhan sekali demi sekali makin memperbesar kita, sehingga kita dapat menyatakan kasih karunia anak-anak Allah.

XII. REAKSI KITA BERTUJUAN MENAMBAH PEKERJAAN TUHAN

Mengapa ketika orang menampar pipi kanan kita, kita harus memberikan pipi kiri kita? Itu karena ketika Tuhan melalui tangan orang lain mendera kita, kita tak mau mengurangi pekerjaan itu, malahan mau menambahkannya. Tuhan memperluas kapasitas kita melalui tangan orang lain, agar kita bertumbuh. Tangan itu bekerja hingga ke pipi kananku, maka aku menambahkannya dengan pipi kiriku. Reaksiku tidak saja tidak melawan pekerjaan Tuhan yang dilakukan lewat tangan orang lain, bahkan aku ingin menambah pekerjaan Tuhan itu. Dengan kata lain, Tuhan menampar aku, aku pun menampar diriku sendiri; Tuhan menanggulangi aku, aku pun menanggulangi diriku sendiri. Orang menampar pipi kananku, aku pun seolah-olah bersatu dengan dia menampar diriku sendiri. Aku tidak memihak kepada diri sendiri untuk melawan orang yang menampar aku, melainkan berdiri di pihak orang yang menampar aku itu. Aku merasa tak cukup ditampar sekali, aku ingin menambahkan sekali lagi. Tuhan menanggulangi aku, aku pun menanggulangi diriku sendiri.

Tatkala tangan Tuhan menimpa diriku, aku pun berdoa, mohon agar tangan Tuhan menimpa diriku. Kalau kerugianku sudah mencapai titik terakhir, aku tak dapat menderita kerugian itu lagi; kalau aku telah mati total, aku tak mungkin mati lagi. Sebaliknya kalau aku masih bisa mati, berarti aku masih belum cukup mati; kalau aku masih bisa dirugikan berarti aku masih belum cukup dirugikan. Aku mau tangan Tuhan menimpa diriku, aku tidak mau mengurangi pekerjaan tangan Tuhan di atas diriku.

Jika Anda dapat memihak Tuhan sedemikian rupa dalam hal menanggulangi diri sendiri, Anda pasti tidak memiliki rasa dendam sedikit pun terhadap orang lain. Permintaan manusia tidak mungkin lebih hebat daripada permintaan Tuhan. Permintaan manusia yang hebat pun tidak akan lebih dari satu mil, tetapi permintaan Tuhan adalah dua mil. Orang memaksa aku paling banyak hanya sejauh satu mil, tetapi aku harus memberinya lebih banyak, aku harus menambahkannya. Dengan sekuat tenagaku, aku harus menambahkan apa yang telah dikerjakan Tuhan.

XIII. HARUS BERDIRI TEGUH DI ATAS KEDUDUKAN ORANG KRISTEN

Saya ingin bertanya, siapakah yang beruntung, orang yang menampar atau orang yang ditampar? Apakah Anda mendambakan jalan orang lain? Apakah kalau orang lain menjadi penampar, Anda juga ingin menjadi penampar? Ketahuilah, orang yang menampar bukan orang Kristen, orang yang ditampar juga bukan orang Kristen, hanya orang yang rela ditampar bahkan memberi pipi kirinya pula, ialah orang Kristen.

Jika hari ini ada seorang saudara memukul Anda, tahukah Anda apakah yang ia berikan kepada Anda? Ia memberi Anda satu kesempatan yang besar, agar Anda dapat menjadi orang Kristen sebaik-baiknya. Ia menampar aku, berarti ia menghargai aku, dan memberi satu kesempatan kepadaku agar aku dapat menjadi orang Kristen.

Ingatlah, di dunia ini, semua orang Kristen yang menampar orang lain, telah kehilangan martabat mereka sebagai orang Kristen. Janganlah kita mau menjadi orang yang membuang kedudukan sebagai orangKristen. Tiap kali orang menyusahkan Anda atau menuntut Anda, semua itu merupakan satu kesempatan agar Anda bisa menjadi orang Kristen. Seolah-olah ia berkata kepada Anda, “Saudara, aku tidak mau menjadi orang Kristen, Anda saja yang menjadi orang Kristen!” Memang demikianlah rasanya.

Andaikata ada seorang saudara mengingini uang atau baju Anda, hal itu tidak beda dengan ia mengatakan kepada Anda, “Hari ini aku tidak mau menjadi orang Kristen, biarlah Anda yang menjadi orang Kristen!” Ia telah mengundurkan diri dari kedudukan orang Kristen dan meletakkan Anda di atas kedudukan orang Kristen. Tidakkah Anda seharusnya bersyukur kepada Allah? Anda harus berkata, “Ya Allah, puji syukur kepada-Mu, Kau telah meletakkan aku di atas kedudukan orang Kristen, sungguh ini kasih karunia-Mu.” Saudara saudari, kita harus belajar merebut untuk berdiri di atas kedudukan orang Kristen.

Pernah suatu kali saya mengadakan transaksi dalam suatu hal dengan seorang saudara, sebenarnya saya tidak berutang kepadanya. Saya tidak begitu ingat jumlah yang dia inginkan, kira-kira 68.000 Yuan. Reaksi saya yang pertama, dalam hati merasa gusar. Saya merasa ia tidak punya aturan sama sekali, bagaimana orang demikian bisa menjadi orang Kristen? Perbuatannya itu sangat tidak benar. Seorang yang adil tidak mungkin mau uang itu. Tetapi reaksi saya yang kedua, hati saya merasa gembira. Meskipun ia tidak benar, saya tetap dengan senang memberikan uang itu kepadanya. Saya bertanya kepadanya, “Saudara, benarkah Anda mengingini uang itu?” Jawabnya, “Aku mau.” Pada saat itu juga Tuhan memberi saya satu perkataan, “Ia memberi kamu satu kesempatan untuk menjadi orang Kristen.” Itulah kali pertama Tuhan mengatakan perkataan ini kepada saya. Saya segera berkata, “Baiklah!” Kemudian saya menyiapkan uang itu dan memberikan kepadanya.

Sejak hari itu saya memperoleh satu pelajaran. Ketika orang berbuat begitu, berarti ia mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai orang Kristen. Tetapi ketika orang berbuat begitu dan saya juga berbuat begitu sehingga mengundurkan diri dari kedudukan saya sebagai orang Kristen, itu adalah perkara yang paling memalukan dan patut disayangkan. Kita harus menyadari bahwa melalui perbuatan itu Tuhan meletakkan kita di atas satu kedudukan, agar kita berkesempatan menjadi orang Kristen. Kita harus berkata, “Tuhan, aku senang sekali bisa menjadi orang Kristen.” Kerugian apa pun yang kita derita tidak mungkin lebih besar daripada tidak menjadi orang Kristen. Ditampar, dirugikan, dihina, atau kehilangan kebebasan, semua itu merupakan kerugian yang besar. Tetapi ketahuilah, Tuhan telah mempercayai Anda dan menyuruh Anda menyatakan kasih karunia dan kelapangan-Nya, jika Anda tidak melakukannya, itu barulah suatu kerugian yang paling besar.

Mungkin orang berkata, seorang yang menampar orang lain adalah orang yang kuat. Tetapi saya berkata, orang yang ditampar tetapi tidak membalas barulah orang yang kuat. Orang yang tidak dapat mengekang amarahnya sendiri adalah orang yang lemah; orang yang dapat mengekang amarahnya sendiri barulah orang yang kuat. Kita harus belajar mengenal nilai rohani di hadapan Allah, jangan hanya mengenal nilai duniawi saja. Jangan hanya memiliki pandangan duniawi, tetapi harus memiliki pandangan rohani.

Saya harap saudara saudari yang baru percaya, sejak awal sudah tampak bagaimana reaksi orang beriman. Sejak awal jalan ini harus lurus, jangan setelah lewat tiga, lima, atau sepuluh tahun baru Anda menempuh jalan ini. Dan jangan sekali-kali menganggap ajaran di atas bukit ini dalam. Tidak seharusnya seorang Kristen setelah lama percaya Tuhan, baru mempelajari ajaran ini. Ajaran ini adalah ajaran yang pertama. Ajaran ini berada di pintu gerbang, bukan setelah kita maju beberapa tahun baru kelihatan. Ajaran di atas bukit merupakan reaksi yang minimal, dan merupakan reaksi dari sifat orang Kristen. Begitu seseorang percaya Tuhan Yesus, sudah seharusnya ia memiliki reaksi yang demikian, dengan sendirinya ia mempunyai keadaan semacam itu. Tatkala Anda berjalan sejauh dua mil, hati Anda merasa gembira. Ya, hanya dengan berbuat demikian barulah batin Anda merasa nyaman dan senang. Hayat ini perlu mengalami penganiayaan, penghinaan, dan penyiksaan. Semakin hebat aniaya itu, semakin hebat pula pernyataan kekuatan hayat Allah.

XIV. DUA HAL MENGENAI REAKSI HAYAT

Terakhir, ada dua perkara tentang reaksi hayat yang harus secara khusus kita perhatikan.

Pertama, setiap hari kita harus berdoa, agar Tuhan menyelamatkan kita dari pencobaan dan si jahat, karena menurut pandangan manusia, kita tidak mungkin hidup di bumi menurut prinsip ini. Reaksi yang dikehendaki Tuhan ini, tidak mampu kita miliki di dalam dunia ini. Jika Anda berbuat menurut prinsip ini, beberapa kali saja segala milik Anda akan habis. Maka dalam ajaran di atas bukit itu, Tuhan mengajar kita berdoa, mohon Tuhan tidak membawa kita ke dalam pencobaan dan melepaskan kita dari si jahat. Hanya dengan lindungan Tuhan, kita dapat hidup di dunia ini; tanpa lindungan Tuhan, kita tidak dapat hidup walau sehari pun. Maka kita tidak dapat tidak mempunyai doa yang demikian. Kalau Anda tidak mau menempuh kehidupan ini, kalau Anda tidak mau mempunyai reaksi ini, semua itu tidak perlu dikatakan. Tetapi bila Anda ingin hidup bersandar hayat Allah, Anda tak dapat tidak berdoa demikian, bahkan doa ini harus Anda lakukan setiap hari.

Jangan memberi tahu prinsip kehidupan orang Kristen kepada orang yang tidak percaya atau kepada orang Kristen gadungan. Itulah yang Tuhan katakan dalam Matius 7:6, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi.” Anjing dan babi adalah hewan yang haram. Anjing mewakili segala yang jahat, ganas dan kotor. Babi mewakili orang Kristen gadungan yang tanpa hayat, sebab di luarnya berkuku belah, tetapi di dalamnya tidak memamah biak; hanya lahirnya saja orang Kristen, tetapi dalam batinnya bukan orangKristen. Jadi, perkataan ini tidak boleh diberitahukan kepada mereka. Kalau Anda mengatakannya, Anda akan menyusahkan diri Anda sendiri. Ia akan berkata kepada Anda, “Kalau begitu berikanlah pipi kirimu, rasakan tamparanku sekali lagi.” Jadi kalau Anda memberitahukan ajaran ini kepada mereka, Anda hanya akan merepotkan diri sendiri. Sebab itu kita harus berdoa agar kita terhindar dari kesukaran dan pencobaan.

Kedua, kita wajib memelihara kedudukan orang Kristen. Kita sendiri jangan sengaja mencari kesukaran, tetapi di bawah izin atau pengaturan Allah, dan di bawah pengawasan Roh Kudus, bila kita menjumpai perkara-perkara serupa itu, entah itu dari tangan orang yang percaya, atau dari tangan orang kafir, kita harus memiliki reaksi yang wajar dan tidak boleh mundur ke belakang.

Hayat orang Kristen memang demikian ajaib. Semakin Anda dianiaya, susah dan tidak beralasan, Anda akan semakin bersukacita di hadapan Allah. Inilah jalan sukacita kita. Andaikata hari ini saya menampar pipi kanan seorang saudara, dan ia segera memberikan pipi kirinya, mungkin saya akan merasa tidak enak selama satu bulan. Itulah hal yang paling tidak menggembirakan.

Setiap orang Kristen di bumi ini tidak dapat melakukan perkara yang hanya menguntungkan diri sendiri. Kalau Anda sekali melakukan perkara yang hanya menguntungkan diri sendiri, Anda minimal akan menderita kerugian waktu satu bulan di hadapan Allah, tidak dapat bangun. Keuntungan di bumi sebenarnya paling tidak menguntungkan. Lebih baik Anda ditampar orang, tetapi begitu pulang ke rumah, Anda bisa enak tidur, enak makan, dan bisa menyanyi dengan girang; Anda mendaki gunung dan akan melihat bulan bersinar sangat terang. Jangan sekali-kali mengira kalau kita melakukan sesuatu yang hanya menguntungkan diri sendiri barulah berarti menguntungkan. Saya percaya, jika reaksi kita benar, jalan kita pun akan benar; jika reaksi kita benar, prinsip kehidupan kita pun akan benar.