Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 41/50

PROFESI ORANG BERIMAN

Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringatkan dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.

2 Tesalonika 3:10-12

Profesi (pekerjaan) bagi orang Kristen merupakan satu perkara yang sangat penting. Kekeliruan dalam memilih profesi akan mengakibatkan perjalanan kristianinya tidak dapat ditempuh dengan baik. Sebab itu, setiap orang Kristen wajib menaruh perhatian atas hal pemilihan profesi.

I. PENGATURAN ALLAH ATAS MASALAH PROFESI DALAM ALKITAB

1. Pada Masa Perjanjian Lama

Ketika Allah menciptakan manusia, Ia telah mengatur profesi bagi manusia. Profesi Adam dan Hawa pada mulanya adalah pemelihara taman, mengawasi dan mengelola taman Eden yang diciptakan oleh Allah. Jadi, profesi merupakan suatu hal yang sudah ada sebelum manusia berdosa.

Setelah Adam dan Hawa berbuat dosa, bumi tidak lagi memberikan hasil kepada mereka, mereka harus mencari makan dengan mencucurkan keringat, yaitu menggarap tanah dan bercocok tanam, barulah dapat memperoleh makanan (Kej. 3:17-19). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa setelah manusia jatuh, profesi yang Allah tetapkan bagi mereka adalah bertani. Manusia harus bercocok tanam dengan mencucurkan peluh, barulah bumi memberikan hasil kepada mereka, dan mereka memperoleh makanan. Sampai hari ini kita harus mengakui bahwa umumnya para petanilah yang jauh lebih polos dan jujur daripada orang-orang yang berprofesi lain. Pada mulanya Allah menetapkan bahwa manusia harus bertani.

Sampai pada Kejadian 4, kita tampak Kain bercocok tanam, Habel beternak kambing domba. Kini jenis profesi bertambah dengan beternak. Jadi, beternak juga merupakan sejenis profesi yang Allah perkenan.

Selanjutnya, ketika jumlah manusia di bumi semakin bertambah, muncullah berbagai jenis pertukangan, antara lain, tukang tembaga, tukang pembuat alat musik, dan lain sebagainya (Kej. 4:22). Sampai pada masa pembangunan menara Babel, ada tukang batu, tukang kayu; tukang bangunan (Kej. 11:3-4). (Walaupun membangun menara Babel itu tidak bisa dibenarkan, tetapi melalui hal itu manusia mulai belajar membangun, sehingga profesi pandai besi, pandai tembaga, pembuat alat-alat musik, dan tukang-tukang bangunan, semuanya masih tergolong profesi yang wajar dan halal).

Sampai Kejadian 12, kita tampak Allah memanggil dan memilih Abraham. Profesi Abraham juga beternak, ia memiliki banyak lembu dan kambing. Demikian pula Yakub. Ini menunjukkan bahwa beternak merupakan profesi utama mereka.

Ketika orang Israel berada di Mesir, mereka bekerja pada Firaun sebagai tukang membuat bata. Tetapi setelah mereka keluar dari Mesir, Allah menjanjikan mereka sebuah negeri yang kaya akan susu dan madu. Di sana jelas terdapat dua jenis profesi: beternak dan bertani. Buah-buah anggur di sana dilukiskan demikian besarnya, sehingga tandan-tandan anggur harus dipikul oleh dua orang (Bil. 13:23), ini jelas merupakan usaha pertanian. Allah berkata bahwa jika mereka mengingkari Allah dan menyembah berhala, maka Allah akan menyuruh langit seperti besi, bumi seperti tembaga, yakni tidak memberikan hasil kepada mereka (Im. 26:19-20). Ini pun jelas sekali menunjukkan bahwa profesi mereka di negeri Kanaan yang dijanjikan itu ialah bertani dan beternak. Demikianlah beberapa jenis profesi yang terdapat dalam Perjanjian Lama.

2. Pada Masa Perjanjian Baru

Pada masa Perjanjian Baru, dalam perumpamaan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Injil Matius, kita tahu bahwa bertani merupakan satu profesi yang asasi. Misalkan, pada pasal 13 tercantum perumpamaan penabur benih. Pada pasal 20 terdapat perumpamaan tentang kebun anggur. Pada Lukas 17 menyinggung tentang seorang hamba yang kembali setelah membajak tanah atau menggembalakan ternak. Pada Yohanes 10 Tuhan mengiaskan diri-Nya sebagai gembala yang baik, yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Jadi, bertani dan beternak merupakan profesi asasi yang Allah tetapkan bagi umat-Nya.

Di antara kedua belas murid yang dipanggil Tuhan, sebagian besar adalah nelayan. Terhadap murid yang asalnya sebagai pemungut cukai, Tuhan menyuruhnya meninggalkan profesi tersebut, tetapi kepada murid-murid yang asalnya sebagai nelayan, Tuhan berpesan pada mereka, mulai sekarang dan seterusnya mereka harus menjadi penjala manusia. Jadi menjadi nelayan juga merupakan profesi yang Allah perkenan.

Lukas menjadi tabib, Paulus menjadi pembuat tenda. Kedua profesi ini agak berlainan, yang terakhir merupakan usaha manufaktur atau industri atau pengrajin. Kalau usaha pertanian berproduksi secara langsung, maka usaha perajutan, pertenunan, penjahitan, atau membuat tenda, itu tergolong sebagai usaha manufaktur atau industri.

Saya hanya bisa mengatakan bahwa demikianlah pengaturan Allah dalam hal profesi dari masa Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Di antara murid-murid Tuhan ada yang menjadi petani, ada yang menjadi peternak, ada yang menjadi tukang, ada yang menjadi nelayan. Kalau mau ditambah lagi satu profesi, itu adalah pekerja (karyawan; bukan pekerja rohani); sebab dalam Perjanjian Baru dikatakan, “Sepatutnyalah pekerjamemperoleh upah.” Pekerja adalah orang yang memperoleh upah dengan mengeluarkan tenaga atau kepandaian; ini pun satu profesi yang sesuai dengan Alkitab.

II. PRINSIP PROFESI

Dalam Alkitab Allah telah mengatur sedemikian banyak profesi bagi manusia, yang di dalamnya kita menemukan satu prinsip asasi, yaitu semua yang diperoleh atau diterima manusia berasal dari alam, atau upah yang manusia peroleh dari pengorbanan waktu dan tenaga. Inilah prinsip profesi yang tercantum dalam Alkitab.

1. Memperoleh Sesuatu dari Alam —

Menambah Kelimpahan

Penabur menabur sebutir benih gandum ke dalam tanah. Pada saatnya, benih itu akan bertumbuh dan menghasilkan butir-butir gandum sebanyak tiga puluh, enam puluh, dan seratus kali lipat. Benih yang sebutir itu bertambah menjadi seratus, enam puluh, atau tiga puluh butir. Anda menanam benih ke dalam tanah, memeliharanya hingga bertumbuh, berbunga dan akhirnya berbuah, ini berarti Anda memperoleh suplai dari alam. Suplai alam itu sangat berlimpah, siapa pun boleh memperolehnya. Karena Allah menerbitkan matahari bagi orang yang baik dan orang yang jahat, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Hal ini jelas untuk kepentingan usaha pertanian. Karena itu, tujuan Allah ialah agar manusia mencari dan memperoleh suplai dari alam. Prinsip peternakan juga sama. Anda memelihara kambing, lalu hewan itu memberikan susunya atau melahirkan banyak anak kambing bagi Anda. Ini berarti peningkatan produksi. Ini adalah pemberian alam, bukan yang diperoleh dengan cara lainnya.

Pada masa Perjanjian Baru, Anda melihat adanya usaha menangkap ikan dari sungai atau laut, semuanya itu adalah alami. Baik Anda menangkap ikan dari sungai maupun laut, Anda tidak akan menyebabkan siapa pun menjadi lebih miskin. Demikian pula, mungkin kambing saya melahirkan enam ekor anak kambing, atau lembu saya melahirkan dua ekor anak lembu, jelas hal itu pun tidak akan menyebabkan orang lain menjadi miskin. Misalkan saya di sini bercocok tanam, tidak mungkin ada orang yang menjadi kelaparan atau menderita rugi karena panen saya. Jadi prinsip asasi profesi yang Allah tetapkan bagi manusia ialah, “Kita memperoleh sesuatu, tanpa merugikan siapa pun.” Itu lah profesi yang luhur yang Allah sediakan bagi manusia.

2. Usaha Manufaktur — Meningkatkan Nilai

Prinsip usaha Paulus dalam pembuatan kemah juga sama. Hanya saja, ia tidak mengambilnya langsung dari alam, seperti halnya nelayan, peternak, atau petani. Paulus membuat kemah dengan kerajinan atau ketekunannya. Ini berati ia meningkatkan nilai suatu barang. Misalkan sepotong kain, asalnya bernilai satu dolar, namun setelah digunting, dijahit, dan dijadikan sebuah tenda, nilainya meningkat menjadi dua dolar; ia memperoleh tambahan nilai itu sebagai upah. Hal ini pun tidak mengakibatkan orang lain menjadi miskin. Tidak seorang pun yang menjadi miskin atau rugi karena usaha pembuatan kemah oleh Paulus itu. Saya meningkatkan nilai sepotong kain ini karena saya telah memberikan waktu dan tenaga ke atasnya. Jadi, wajarlah jika saya menerima upah tersebut. Jadi, prinsip asasi lainnya dari profesi yang Allah berikan kepada manusia ialah menambah atau meningkatkan nilai.

3. Orang yang Bekerja Memperoleh Upah

Satu prinsip lainnya ialah seperti pada orang-orang yang menjadi buruh, karyawan, pegawai, tukang, atau menjadi dokter. Mereka menerima upah dengan memberikan jasa, waktu, tenaga, dan kecakapan. Walaupun itu bukan diperoleh dari alam, bukan pula dengan cara manufaktur, tetapi mereka telah mengeluarkan banyak usaha, waktu, atau tenaga, sehingga wajarlah jika mereka memperoleh upah. Karena itu profesi jenis ini pun Allah perbolehkan.

4. Profesi yang Khusus Dipandang Tidak Baik dalam Alkitab — Jual-Beli

Ada sejenis profesi yang khusus dianggap tidak baik dalam Alkitab yakni jual beli (berdagang). Saya minta kalian perhatikan perkara ini baik-baik. Saya harap saudara saudari yang baru percaya (beriman), jika ada kemampuan untuk memilih profesi, paling baik mereka tidak menjadi pedagang. Mengapa? Saya kira masalah ini perlu ditinjau dari segi yang lebih luas dahulu, agar kita bisa memahaminya dengan lebih jelas.

Misalkan, di sini ada seratus orang, dan masing-masing memiliki satu juta rupiah. Kalau uang keseratus orang ini disatukan, jumlah uang itu adalah seratus juta rupiah. Lalu perhatikanlah, jika saya adalah pedagang dengan sendirinya saya ingin memperoleh keuntungan. Saya akan berharap bahwa uang saya yang satu juta itu bisa bertambah, bahkan menjadi dua juta. Kalian jangan mempedulikan bagaimana cara saya, benar atau curang, pokoknya setelah saya berdagang satu bulan lamanya, uang saya akan menjadi dua juta rupiah. Kalau demikian, satu hal yang pasti, di antara kalian akan ada orang yang uangnya berkurang. Sebab kita masing-masing mempunyai satu juta rupiah, dalam saku saya pun tadinya hanya ada satu juta rupiah. Meskipun saya melakukan usaha saya dengan cara yang paling jujur, jika uang dalam saku saya menjadi dua juta rupiah, pasti ada orang di antara kalian yang uangnya berkurang.

Saya dan kalian adalah orang Kristen, kalian adalah saudara-saudara saya. Saya ingin bertanya, apakah saya tidak sungkan memperoleh uang kalian sehingga saya menjadi kaya, dan kalian menjadi miskin? Tentu saya merasa sungkan! Kalaupun kalian adalah orang kafir, orang beragama lain, tetapi saya adalah orang Kristen. Sebagai orang Kristen, saya adalah anak Allah, saya mempunyai martabat anak Allah. Anak-anak Allah tidak seyogianya membuat orang dunia menjadi miskin, dan membuat diri sendiri menjadi kaya. Sekalipun saya memperoleh uang kalian dengan cara yang benar, saya pasti merasa tidak nyaman; demikian pula kalau saya memperoleh uang dari orang kafir. Begitulah keadaan orang yang menjadi pedagang. Saya tidak seharusnya memindahkan uang dari saku orang lain ke dalam saku saya sendiri. Tidak peduli dengan cara apa pun, hal yang demikian pasti akan merugikan orang lain. Ini adalah satu fakta.

Tetapi, profesi asasi yang Allah berikan kepada manusia dalam Alkitab tidaklah mengandung problem demikian. Misalkan saya menjadi petani, tahun ini saya panen, hasilnya sebanyak seratus kwintal, keberhasilan saya itu tidak akan mengakibatkan sepuluh kwintal beras di rumah saudara anu berkurang menjadi sembilan kwintal. Itu tidak mungkin. Kalau saya panen seratus kwintal, tidak mungkin itu membuat seorang di antara kalian kekurangan beras seliter atau sekilo pun. Kalau saya beroleh hasil seratus kwintal, tidak mungkin saya mengakibatkan siapa pun menjadi lebih miskin. Ini tidak berarti memperoleh keuntungan uang, melainkan menambah kelimpahan. Kalian harus paham bahwa memperoleh keuntungan uang dan menambah kelimpahan merupakan dua perkara yang sama sekali berlainan. Allah tidak menghendaki anak-anak-Nya hanya memperoleh uang semata. Allah menghendaki profesi kita dapat nenambah kelimpahan. Prinsip asasi ini sangat jelas. Saudara saudari yang baru beriman, janganlah dari pagi hingga petang hanya memikirkan uang melulu. Janganlah selalu berpikir bagaimana baru bisa dapat memperoleh banyak uang. Ingatlah, bila uang Anda bertambah, uang orang lain pasti berkurang. Itulah prinsip berjual beli atau berdagang.

III. MEMILIH PROFESI

DARI ANTARA KETIGA JENIS PROFESI YANG BERBEDA

Di sini kita mengenal tiga jenis profesi yang berbeda: berjual beli (pedagang), bekerja (pekerja), dan berproduksi. Dalam Alkitab Allah telah menetapkan profesi yang tertinggi yakni menjadi produsen. Mulai dari Adam, profesi yang khusus diperhatikan Allah ialah produsen, karena tujuan produsen ialah meningkatkan kelimpahan, tidak membuat orang lain menjadi miskin. Misalkan saya memelihara seratus ekor kambing. Setelah lewat beberapa tahun, kambing saya bertambah menjadi empat ratus ekor. Bertambahnya kambing saya tidaklah mengakibatkan saudara atau saudari mana pun kehilangan uang serupiah dalam sakunya. Berapa banyaknya uang Anda semula di rumah Anda, tetap sebanyak itu, sekali-kali tidak akan berkurang akibat kambing saya melahirkan beberapa anak kambing. Itulah prinsip asasi dalam Alkitab tentang profesi. Saya ingin menambah atau memperbanyak barang-barang kepunyaan saya, dan saya ingin memperbanyak kelimpahan saya. Kalaupun saya menjual kambing-kambing itu dan saya memperoleh uang, saya tetap tidak membuat siapa pun menjadi lebih miskin.

Saya harap saudara saudari yang baru beriman, kalau ada kesempatan memilih profesi, hendaklah memilih profesi yang menambah barang, jangan memilih profesi yang menambah uang, sebab usaha yang terakhir itu adalah usaha yang sangat egoistis. Kita harus belajar menambah benda-benda di dunia, tetapi bukan menambah harta kekayaan pribadi. Perbedaan antara kedua perkara ini sangatlah besar.

Usaha Paulus dalam membuat kemah, mengandung prinsip lain lagi. Memang ia tidak memperbanyak kapas, benang, atau kain, tetapi karena ia menggunting dan menjahit dengan menggunakan banyak waktu dan tenaga, maka nilai kain, benang dan kapas bertambah. Menurut para sarjana Alkitab, kemah-kemah pada masa itu semua diberi warna. Dean Alford mengatakan bahwa kedua belah tangan Paulus pasti penuh dengan bercak-bercak pewarna, dan tangannya pasti tidak bersih; ini terbukti dari perkataannya, “Lihatlah keduatanganku ini . . .” (Kis. 20:34 Tl.). Jadi usaha pembuatan kemah yang Paulus lakukan adalah meningkatkan nilai benda tersebut.

Baik menambah kelimpahan maupun menambah nilai, itu semua merupakan perkara yang baik. Misalkan, sepotong kayu saya olah hingga menjadi sebuah kursi. Ini adalah satu usaha yang baik, sebab melalui pengolahan saya, nilai kayu itu bertambah. Walaupun saya tidak menambah kelimpahan dari alam, tetapi di dunia telah bertambah satu kursi. Karena usaha Paulus membuat kemah itu, maka bertambahlah sebuah kemah. Ini tidak berarti semata-mata menguntungkan diri sendiri, dan merugikan orang lain. Paulus pandai membuat kemah, ia dapat membuat kain yang murah menjadi sebuah kemah yang mahal. Membuat kain menjadi kemah berarti menambah atau memperbanyak benda itu dalam dunia. Ini juga suatu profesi yang diizinkan oleh Allah.

Saudara saudari yang baru beriman, sejak kini harus tampak dua standar dalam profesi orang beriman. Kita harus memperbanyak kelimpahan di dunia ini, dan kita pun harus meningkatkan nilai benda. Sebenarnya, membuat kemah juga berarti memperbanyak kelimpahan dunia. Melalui kerajinan tangan saya, maka kemah-kemah di dunia menjadi bertambah banyak. Karena itu, memperbanyak kelimpahan adalah usaha yang halal juga. Inilah prinsip asasi dari profesi yang diatur Allah bagi manusia.

IV. JANGAN MENJADI PEDAGANG MURNI

Saya pernah mempelajari sedikit ilmu ekonomi, saya tahu berdagang itu diperlukan juga. Namun, saya adalah orang Kristen, bukan ahli ekonomi. Memang, Tuhan pernah mengatakan bahwa kita harus berjual beli sampai Dia datang kembali. Tetapi arti ayat itu ialah, kita wajib bekerja bagi Dia dengan tekun, setekun orang yang melakukan usaha dagang. Kalian tahu betapa tekunnya para pedagang dalam melakukan usaha mereka. Asalkan ada untung, kemana pun mereka mau pergi. Jadi maksud Tuhan, asalkan Anda mempunyai kesempatan, Anda harus memanfaatkannya, Anda harus bekerja setekun itu.

Seperti kita semua tahu, usaha jual beli dimulai dari Tirus, dan berkesudahan pada Babilon. Dari Yehezkiel 28 hingga Wahyu 18, kita tampak bahwa pemrakarsa usaha jual beli adalah raja Tirus. Dan dalam Yehezkiel 28 kita mengetahui bahwa raja Tirus itu mewakili Iblis. “Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa . . .” (Yeh. 28:16). Karena itu, kalian harus ingat, mental pedagang ialah memperkaya diri sendiri, merugikan orang lain, dan mengurangi harta dunia. Itu bukanlah profesi yang ditetapkan Allah, melainkan yang dimiliki Iblis. Prinsipnya itu tidak benar.

Prinsip jual beli ialah, bila uang dalam saku saya bertambah, tentu uang dalam saku orang lain berkurang. Kapan seseorang berpikir ingin mendapat keuntungan uang, akibatnya sangat sederhana, yakni uangnya bertambah banyak, dan uang orang lain berkurang. Bila ada orang uangnya bertambah, pasti ada orang yang uangnya berkurang. Misalkan, uang yang ada di seluruh dunia berjumlah 21 milyar, baik Anda kaya maupun miskin uang itu tetap 21 milyar; jumlah uang di dunia ini terbatas. Namun, kalau saya mengambil uang orang lain, sehingga uang saya bertambah, itulah yang disebut pedagang murni. Maksud saya bukan Anda tidak menjual ikan hasil tangkapan Anda, tidak menjual gandum hasil panen Anda, tidak menjual anak kambing hasil peternakan Anda, atau tidak menjual kemah hasil kerajinan tangan Anda. Maksud saya, baik Anda menjual tenda, kambing, gandum, atau ikan, itu semua bukan merupakan perdagangan murni, melainkan Anda menguangkan produksi Anda. Keuntungan yang Anda peroleh adalah pemberian alam; kelimpahan yang Anda miliki adalah karunia dari alam raya, bukannya Anda memperkaya diri sendiri dengan cara membuat orang lain miskin.

Orang Kristen harus memiliki satu pikiran atau mental, yakni tidak memperoleh uang orang lain. Jangan sekali-kali kita menaruh pikiran ingin merugikan siapa pun. Sebagai anak-anak Allah, kedudukan kita begitu tinggi. Jika kita ingin memperoleh uang dengan cara yang begitu rendah di dunia ini, hal itu sungguh tidak enak dipandang. Misalkan, seorang kepala negara mengunjungi suatu tempat dan melihat seorang penduduk terserang penyakit malaria. Ia lalu menawarkan pil kita kepada orang itu, katanya “Pil ini saya beli dengan lima ratus rupiah sebutir, sekarang saya jual kepada kamu enam ratus rupiah.” Anda bayangkan, mungkinkah terjadi hal yang sedemikian? Alangkah tidak tepat jika seorang kepala negara memperoleh keuntungan seratus rupiah dari seorang rakyat biasa. Saya ingin berkata kepada Anda, jika orang Kristen ingin mengambil untung uang dari siapa pun, itu lebih tidak mengenakkan daripada seorang kepala negara ingin memperoleh untung seratus rupiah dari seorang rakyat biasa. Kedudukan kita berbeda dengan mereka, karena itu tidaklah tepat kita mengambil untung uang dari siapa pun.

Sebagai seorang Kristen, status kita sangat tinggi. Orang Kristen mempunyai kehormatan, kedudukan dan martabat orang Kristen. Kalau saya mengambil untung uang siapa pun, itu adalah perkara yang memalukan. Saya tidak seyogianya menambah harta kekayaan saya dengan cara itu. Lebih baik saya menjadi petani, bercocok tanam, dan menggarap tanah, ini jauh lebih mulia daripada saya mengambil untung uang. Sebab Allah mengatur alam raya untuk memberikan hasil kepada saya, hal ini jauh lebih mulia daripada saya mengambil untung uang. Itulah sikap mental yang harus dimiliki oleh setiap orang Kristen.

Profesi yang diperkenan Allah adalah profesi yang bisa meningkatkan jumlah dan nilai suatu benda. Perdagangan murni tidaklah diperkenan Allah. Kalian harus khusus memperhatikan Yehezkiel 28. Prinsip perdagangan yang bertujuan mengeruk keuntungan itu berasal dari raja Tirus. Allah mencelanya, “Dengan dagangmu yang besar, engkau berbuat dosa.” Sampai Wahyu 18, yakni menjelang akhir zaman, menjelang dimulainya Kerajaan Seribu Tahun, kita tampak Babilon menerima hukuman. Jadi, perkara jual beli akan terus berlangsung sampai berakhirnya Babilon. Waktu itu semua pedagang meratapi Babilon. Anda pun bisa melihat adanya barang-barang dagangan di bumi saat itu. Dari yang pertama, emas, hingga yang terakhir, jiwa manusia. Jiwa manusia adalah manusia itu sendiri. Dari emas sampai jiwa manusia, tidak ada yang tidak dapat diperjualbelikan, semuanya dapat diperdagangkan. Bagaimanapun, manusia selalu ingin memperoleh uang, selalu ingin kaya. Tetapi saudara saudari, hendaklah kita menghindari profesi yang rendah itu.

V. PERDAGANGAN MURNI

BERBEDA DENGAN PERDAGANGAN PRODUSEN

Saya harap kalian dapat membedakan perdagangan murni dengan perdagangan produsen. Gandum boleh dijual, lembu dan kambing boleh dijual, kemah boleh dijual, ikan pun boleh dijual, itu tidak disebut berjual beli. Yang dinamakan berjual beli atau berdagang di dunia ini adalah: misalnya, hari ini saya membeli seratus karung gandum, lalu saya simpan di gudang. Bila harga gandum naik, saya menjual barang tersebut. Misalnya lagi, saya membeli 50 drum minyak, lalu saya simpan dalam gudang. Bila harganya naik, saya menjualnya dengan harga tinggi. Gandum tidak karena saya bertambah sekilo, minyak pun tidak karena saya menjadi bertambah seliter. Yang bertambah tidak lain uang saya. Saya tidak memperbanyak barang di dunia, namun saya terus-menerus memperbanyak harta saya sendiri. Ini adalah perbuatan yang memalukan, dan ini adalah profesi yang harus sedapat mungkin dihindari oleh orang Kristen.

Kita boleh mengadakan jual beli demi produksi, tetapi jika hanya membeli dan menjual, tidak boleh. Kalau ada seorang saudara menjual produksi pertaniannya itu baik, tetapi jika ia membeli beras dan kemudian menjualnya lagi, itu tidak baik. Walaupun kedua hal itu sama (menjual), namun prinsipnya sama sekali berbeda. Kalau ada orang membeli sepuluh buah kemah, kemudian menjualnya lagi, itu berbeda dengan usaha yang dilakukan Paulus. Inilah yang dinamakan perdagangan murni, bukan perdagangan produsen. Menjual hasil usaha untuk memperoleh uang adalah berkat Allah. Jika Anda membeli barang, lalu Anda menjualnya dengan harapan memperoleh untung, itu adalah profesi yang dianggap terendah baik oleh orang Kristen maupun orang kafir.

Karena itu, saudara yang menjadi pedagang murni tidak tepat menjadi pewajib gereja. Sebab terhadap uang mereka tidak bisa beroleh kebebasan. Mulai sekarang dan seterusnya, jalan ini telah semakin terang dan jelas, anak-anak Allah harus sama sekali terlepas dari kuasa uang, baru dapat beribadah kepada Allah, dan gereja baru ada jalan untuk maju.

VI. PROFESI YANG ALLAH PERKENAN

Peternak atau petani adalah kaum produsen; pedagang adalah profesi jenis lain. Ada sejenis profesi lagi yang berada di tengah-tengah kedua jenis itu, yakni pekerja (buruh, tukang, karyawan, dokter, dan lain sebagainya). Misalkan dokter atau guru, dalam Alkitab juga merupakan profesi yang baik, sebab mereka beroleh imbalan atau honorarium dari kepintaran mereka. Walau mereka tidak berproduksi, mereka pun tidak memperoleh sesuatu dari orang lain. Mereka tidak beroleh apa-apa baik dari alam maupun dari orang lain, melainkan menerima rezeki dengan menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran mereka sendiri. Wajarlah seorang pekerja menerima upah. Itu pun merupakan profesi yang Allah perkenan dalam Alkitab. Profesi yang tertinggi adalah profesi produsen, yang kedua ialah pekerja, yang beroleh imbalan atau upah dengan memeras otak atau tenaga.

Produsen menerima hasil dari alam, mereka tidak mengambil sesuatu dari orang lain. Pekerja atau karyawan tidak menerima hasil dari alam maupun dari manusia. Pedagang tidak menerima hasil dari alam, tetapi mereka mengambil keuntungan uang dari orang lain. Ketiga jenis profesi tersebut sama sekali berbeda. Jenis pertama, produsen, profesi yang tertinggi dalam Alkitab. Jenis kedua, pekerja, adalah orang-orang yang menjual jasa, tenaga, baik tenaga otak maupun tenaga badan. Anda menggunakan waktu, tenaga, kepintaran Anda untuk memperoleh imbalan yang wajar. Anda tidak membuat orang lain menjadi lebih miskin. Banyaknya uang yang Anda terima sepadan dengan usaha atau jasa yang Anda berikan. Itu pun profesi yang Allah perkenan. Tetapi, jenis yang ketiga, pedagang, tidak bermotivasi lain kecuali memperoleh uang. Karena itu, berdagang merupakan profesi yang paling rendah dalam Alkitab.

Hari ini, jalan ini dan prinsip ini sangatlah jelas. Mudah-mudahan saudara saudari sedapat mungkin bisa beralih kepada profesi yang Allah perkenan.

VII. JALAN YANG KITA TEMPUH SELANJUTNYA

Namun, saya tidak ingin melihat kalian bertindak dengan ekstrem. Jangan begitu kalian bertemu dengan saudara yang berprofesi pedagang, lalu segera menuduh kesalahan mereka; sebab mereka tidak ada kesempatan untuk memilih profesi yang tepat. Saya mengenal seorang saudara, ketika ia baru lulus sekolah, keadaannya sangat baik. Tetapi kemudian ia terjun ke dalam dunia perdagangan, dan tak lama berselang, hatinya menjadi rusak. Dari pagi hingga petang, tidak ada yang dipikirkan selain ingin memperoleh uang orang lain. Jika Anda menghendakinya membelikan sesuatu untuk Anda, ia pasti ingin mengambil untung uang Anda; ia selalu ingin secara diam-diam memperoleh uang Anda. Ini sungguh satu mental yang buruk dan rusak. Karena itu saya mengharap, saudara saudari yang bisa memilih profesi dengan leluasa, jangan sekali-kali menerjunkan diri ke dalam profesi perdagangan yang murni itu. Bagi saudara saudari yang sudah telanjur berkecimpung di dalamnya, kita harus membantu mereka supaya mereka tampak dan beralih kepada yang wajar. Janganlah mempersulit mereka, tetapi setidak-tidaknya kita wajib menjelaskan jalan ini kepada mereka.

Bagaimanapun, usaha berjual beli yang murni bukanlah profesi yang baik. Mudah-mudahan lewat sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, tidak menjadi pedagang murni ini menjadi “suasana” kita. Saya harap di kemudian hari, saudara saudari kita, di mana pun mereka tinggal, mereka bisa mewarisi “suasana” ini, yaitu tidak menjadi pedagang murni. Anak-anak Allah lebih baik menjadi guru di sekolah, bahkan lebih baik menjadi buruh kasar daripada menjadi pedagang murni. Lebih baik saya menggarap ladang, setelah saya menghasilkan beras atau gandum, saya boleh menjual produksi saya. Lebih baik saya beternak kambing, setelah kambing saya beranak, saya boleh menjual anak kambing itu. Atau menjual telur ayam dari hasil peternakan saya, atau menjual susu dari sapi perahan saya, atau menjual kain dari usaha penenunan saya. Jika demikian, kerajinan dan kegiatan manusia akan semakin bertambah, pekerjaan yang dilakukan manusia pun akan semakin banyak, dan berkat karunia Allah pun akan semakin banyak. Perkara yang paling kita khawatirkan ialah saudara saudari di antara kita hanya memperoleh keuntungan uang dengan berlimpah-limpah semata. Ini adalah perkara yang paling tidak baik.

Jika dibandingkan dengan denominasi hari ini, saudara saudari di tengah-tengah kitalah yang paling miskin. Tetapi kalau kita kurang waspada, kita akan menjadi orang-orang yang paling banyak uang. Karena kita lebih jujur daripada orang lain, kita tidak berdusta, kita rajin, selain itu pengeluaran kita pun lebih sedikit. Kita pun tidak merokok, tidak minum minuman keras, juga tidak menempati rumah yang mewah. Karena itu, tidak lama lagi saudara saudari kita akan menjadi orang kaya. Sama seperti yang dikatakan John Wesley, “Saya sangat khawatir terhadap anggota gereja Methodis. Mereka adalah orang-orang yang jujur, rajin, dan hemat, sehingga kelak mereka mungkin menjadi orang yang paling kaya di dunia ini.” Hari ini perkataan ini telah menjadi kenyataan. Anggota-anggota gereja Methodis di mana pun benar-benar adalah orang-orang yang paling banyak uangnya. Tetapi sebagai akibatnya, kesaksian mereka telah habis.

Saya harap saudara saudari yang baru percaya bisa dengan giat mencari uang dengan jerih payah, bukan memperoleh banyak uang dengan cara membeli dengan sebelah tangan, lalu menjual dengan tangan yang lain. Kita harus selalu berpegang pada prinsip memperbanyak kelimpahan atau meningkatkan produksi, bukan memperbanyak uang. Kalau demikian, uang yangmasuk itu bersih, dan uang yang dipersembahkan kepada Allah pun diperkenan-Nya. Tiap mata uang tentu dapat mendatangkan akibat yang baik. Misalkan, seorang saudara menjual keranjang dari hasil kerajinan tangannya, kemudian uangnya dipersembahkannya kepada Tuhan. Ini jauh lebih baik daripada seorang saudara yang mempersembahkan uang dari hasil keuntungan ia membeli dan menjual lagi sepuluh buah keranjang. Walaupun jumlah uang itu sama, tetapi uang itu sendiri tidak sama. Kiranya setiap saudara tampak prinsip ini. Kedua prinsip ini, memeras tenaga maupun berproduksi, adalah benar. Tentang berjual beli atau berdagang, saya tidak dapat melarang, juga tidak berani melarang. Tetapi saya ingin berkata, hendaklah kita sedapat mungkin tidak menjadi pedagang murni. Sebab bagaimanapun, profesi ini dapat merusak martabat orang Kristen. Semoga saudara saudari yang baru percaya semuanya diperkenan Allah dalam hal profesi.