Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 35/50

PENUMPANGAN TANGAN

Pembacaan Alkitab: Ibr. 6:1, 2; Kis. 8:14-17; 19:5, 6; Mzm. 133:1-3; Im. 1:4; 3:2, 8, 13; 4:4, 15, 24, 29, 33

Alkitab dengan jelas memperlihatkan kepada kita bahwa orang yang percaya perlu dibaptis dan perlu menerima penumpangan tangan. Dalam Kisah Para Rasul ada dua tempat, yaitu Samaria dan Efesus, di sana terlebih dulu ada orang dibaptis, kemudian baru menerima penumpangan tangan. Itulah yang dilakukan para rasul pada masa itu, dan hal ini sangatlah jelas. Maka hari ini, jika anak-anak Allah hanya menerima baptisan tanpa menerima penumpangan tangan, itu akan terasa kurang. Dalam Alkitab, hal penumpangan tangan bukan hanya satu ajaran, bahkan suatu teladan.

I. PENUMPANGAN TANGAN ADALAH SALAH SATU DASAR KEBENARAN

Ibrani 6 memberi tahu kita bahwa kita wajib “meninggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh.” Dalam kehidupan orang Kristen, ada beberapa kebenaran dasar yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Kaum beriman tidak perlu mengulangi mendirikan dasar itu, namun dasar itu tak dapat tidak harus didirikan. Apakah dasar (asas) pertama dari ajaran Kristus itu? Antara lain: pertobatan, percaya, pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan, dan hukuman kekal. Jelaslah Alkitab menampakkan kepada kita bahwa pembaptisan dan penumpangan tangan adalah dasar-dasar kebenaran. Jika kita telah dibaptis namun tidak menerima penumpangan tangan, itu berarti kita kekurangan satu dasar dalam mengikuti Tuhan.

Kesalahan kaum beriman hari ini mutlak berbeda dengan kesalahan orang-orang Ibrani pada masa itu. Orang-orang Ibrani pada masa itu telah mempunyai dasar, tetapi mereka ingin mendirikan dasar itu lagi; mereka terus berputar-putar di atas dasar itu. Gereja hari ini telah maju, namun dasarnya tidak didirikan dengan baik. Rasul berkata kepada orang Ibrani, “Hendaklah meninggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangan yang penuh.” Orang Kristen hari ini belum mendirikan dasar dengan baik, tetapi sudah maju ke depan, ini terlampau cepat. Anda tampak bahwa penumpangan tangan adalah salah satu dasar dari ajaran tentang Kristus. Orang yang telah mendirikannya wajib maju ke depan, sedang yang belum wajiblah mendirikannya. Ajaran kita dalam hal ini berbeda dengan ajaran rasul pada masa itu. Rasul menganjuri orang meninggalkan, sedang kita menganjuri orang menoleh ke belakang.

Jika untuk mendirikan sebuah rumah diperlukan enam buah batu pondasi, maka tidak boleh kurang satu batu pun. Jika kurang sebuah saja, pada suatu hari, pasti akan terjadi suatu masalah dengan rumah itu. Hal-hal yang menjadi dasar, satu pun tidak boleh kurang. Pembaptisan itu satu dasar, jika kekurangan ini, kelak pasti akan timbul masalah. Penumpangan tangan juga satu dasar, jika kekurangan ini, kelak juga akan timbul masalah. Dasar tidak boleh dianggap sepele! Kita tidak boleh membangun sebuah rumah sebelum dasarnya didirikan dengan baik. Jika kekurangan satu dasar, harus dilengkapi dulu, baru kemudian meneruskan pembangunan.

II. MAKNA PENUMPANGAN TANGAN

Kita pernah membahas tentang perkara-perkara yang dihasilkan oleh pembaptisan. Pembaptisan menyelamatkan orang dari dunia dan memasukkannya ke dalam Kristus, serta beroleh bagian dalam kebangkitan Kristus. Lalu, apa yang dihasilkan oleh penumpangan tangan? Apa pula makna penumpangan tangan?

Untuk memahami hal ini kita perlu membaca Imamat 1, 3, dan 4, yang paling banyak menyinggung tentang penumpangan tangan dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, penumpangan tangan seseorang di atas kepala seekor lembu, mengandung dua arti.

1. Bersatu

Pertama, ialah bersatu. Penumpangan tangan yang tercantum dalam Imamat 1 berarti orang yang mempersembahkan kurban bersatu dengan kurban persembahannya. Di sini ada satu pertanyaan: mengapa orang yang mempersembahkan sesuatu di hadapan Allah, baik itu kurban penghapus dosa atau kurban bakaran, tidak mempersembahkan dirinya sendiri, melainkan mempersembahkan lembu atau kambing/domba? Laksaan lembu dan kambing di gunung itu milik-Nya. Lalu, orang itu justru membawa lembu atau kambing untuk dipersembahkan, apakah Allah masih memerlukan lembu atau kambing itu? Sebenarnya kecuali orang mempersembahkan dirinya sendiri kepada Allah, tidak mungkinlah Allah berkenan. Jadi, yang dipersembahkan haruslah dirinya sendiri, bukan lembu atau kambing.

Namun, bila aku datang ke mezbah, lalu dengan sesungguhnya mempersembahkan diriku sendiri sebagai kurban bakaran — disembelih dan dibakar, bukankah ini akan serupa dengan penyembahan-penyembahan kepada dewa Molokh dalam Perjanjian Lama? Para penyembah dewa Molokh bukan mempersembahkan lembu dan kambing kepada Molokh, melainkan mempersembahkan anak kandung mereka sendiri. Kalau Allah kita juga meminta kita mempersembahkan diri kita sendiri kepada-Nya, maka Ia tidak jauh berbeda dengan dewa Molokh. Molokh menuntut darah anak-anak kita, tetapi Allah menghendaki kita mempersembahkan diri sendiri sebagai kurban. Jika kita benar-benar harus meletakkan diri kita di atas api, berarti Allah lebih keji daripada Molokh.

Di satu pihak, permintaan Allah lebih hebat daripada Molokh, tetapi di pihak lain, Allah memberi kita satu cara, yakni menjadikan kita kurban tanpa menghanguskan kita. Bagaimana bisa demikian? Caranya ialah menyuruh kita membawa seekor lembu atau kambing, lalu menumpangkan tangan ke atas kepalanya, sebab kepala adalah bagian yang terpenting. Dengan kedua tanganku kutumpangkan ke atas kepala hewan itu, aku berdoa di hadapan Allah dengan bersuara atau di dalam hati, aku mengatakan bahwa lembu inilah aku sendiri. Aku berkata kepada Allah, seharusnya aku sendiri yang naik ke atas mezbah dan dibakar sampai habis, dan seharusnya aku sendiri yang menjadi kurban untuk menebus dosaku, seharusnya aku yang mati dan dipersembahkan di hadapan Allah menjadi kurban bakaran yang wangi. Tetapi, sekarang aku membawa lembu ini, aku menumpangkan tanganku ke atas kepalanya, seolah dia adalah aku, aku adalah dia. Aku sekarang menyerahkannya kepada imam untuk disembelih, berarti aku sendiri disembelih; darahnya teralir berarti darahku teralir; ia diletakkan di atas mezbah berarti aku terletak di atas mezbah.

Bukankah demikian juga halnya ketika Anda menerima baptisan? Sewaktu Anda turun ke dalam air, Anda berkata, “Inilah kuburku, Tuhan menguburkan aku di sini.” Air itu Anda anggap sebagai kuburan. Kini, Anda menumpangkan kedua tangan Anda ke atas kepala lembu, Anda menganggap lembu itu sebagai diri Anda sendiri. Anda mempersembahkan lembu ini kepada Allah, berarti Anda mempersembahkan diri sendiri kepada Allah. Lembu mewakili Anda sendiri.

Jadi, arti pertama dari penumpangan tangan ialah bersatu. Penumpangan tangan dalam Perjanjian Lama kebanyakan berarti, aku bersatu dengan dia; aku adalah dia, dia adalah aku. Hari ini aku berdiri di atas kedudukan yang sama dengannya. Ketika ia dibawa ke hadirat Allah, berarti aku dibawa ke hadirat Allah.

2. Menyalurkan Berkat

Dalam Perjanjian Lama, penumpangan tangan mempunyai satu makna lagi, yaitu menyalurkan berkat. Dalam Kitab Kejadian kita tampak Ishak memberi tumpangan tangan kepada kedua orang anaknya; Yakub memberi tumpangan tangan kepada kedua orang cucunya, Efraim dan Manasye. Ketika Yakub memberi tumpangan tangan kepada kedua cucunya, masing-masing tangan ditumpangkan di atas kepala cucu-cucunya, demikianlah ia memberi berkat. Hal itu berarti mentransmisikan atau menyalurkan berkat kepada mereka. Ia seolah berkata, “Aku memberkati kalian, memohon berkat bagi kalian. Berkat itu akan tersalur ke atas diri kalian, dan berkat itu diberikan kepada kalian.”

Kita wajib tampak, penumpangan tangan di hadapan Allah mengandung dua makna: bersatu dan penyaluran. Keduanya ini dapat disebut persekutuan. Persekutuan menyatukan aku dengannya, persekutuan membuat kekuatanku tersalur ke atas dirinya.

III. TUBUH KRISTUS DAN PENGURAPAN MINYAK URAPAN

Sekarang mari kita tinjau lebih lanjut, mengapa orang Kristen perlu menerima penumpangan tangan? Mengapa setelah kita percaya dan dibaptis, harus ada rasul, yakni orang yang bertindak sebagai wakil Tubuh, memberi tumpangan tangan kepada kita?

1. Allah Menuangkan Minyak Urapan ke atas Seluruh Tubuh Kristus

Kita perlu terlebih dulu menjelaskan sedikit tentang arti Tubuh Kristus dan arti minyak urapan. Mari kita membaca 1 Korintus 12:12-13 dan Mazmur 133:1-3. Kekristenan sungguh ajaib. Di manakah keajaibannya? Yaitu Allah di bumi ini telah memperoleh seorang manusia yang mutlak mematuhi Allah dan dapat mewakili Allah, bahkan memperhidupkan hayat Allah. Hari ini Allah telah melantik orang ini menjadi Kristus dan Tuhan. Allah telah menuangkan Roh-Nya sendiri ke atas orang ini, orang ini tak lain ialah Yesus, orang Nazaret. Ketika Allah menuangkan Roh-Nya ke atas diri-Nya sehingga Ia beroleh Roh Kudus, Allah bukan menuang ke atas tubuh pribadi-Nya, melainkan ke atas Dia sebagai Sang Kepala Tubuh. Urapan minyak itu dituang ke atas Sang Kepala. Tuhan Yesus mendapatkan pengurapan bukan berdasarkan kelayakan pribadi-Nya, melainkan berdiri di atas kedudukan sebagai Kepala. Dengan kata lain, terurapnya Tuhan Yesus adalah untuk Tubuh.

Itulah sebabnya, Ia disebut “Sang Terurap”. Nama kita pun sang terurap. Nama-Nya ialah “Kristus” (Christos), sedangkan nama kita ialah “Kristen” (Christoi). Dia adalah Kepala, gereja adalah Tubuh. Allah tak bermaksud menciptakan seorang manusia individual di bumi, Allah bermaksud menciptakan satu manusia korporat, itulah gereja. Tetapi jika gereja di bumi hidup bersandar pada dirinya sendiri, ia tidak dapat memuaskan hati Allah. Jika gereja hidup bersandar pada dirinya sendiri, ia tak mungkin berhasil melakukan apa yang ingin dilakukannya, ia tak akan berdaya memelihara kesaksian Allah, ia akan kehilangan kuat kuasa Allah. Sebab itu, Allah perlu menuang minyak urapan-Nya ke atas gereja. Setelah gereja memiliki minyak urapan, barulah dapat memenuhi permintaan Allah. Minyak urapan mewakili kekuasaan Allah. Kekuasaan Allah dituangkan ke atas gereja melalui minyak urapan.

2. Di atas Kedudukan Tubuh Baru Dapat Menerima Minyak Urapan

Bagaimanakah caranya kita dapat menerima minyak urapan? Kita harus berdiri di atas kedudukan Tubuh. Jika aku berdiri di atas kedudukan Tubuh dan berdiri di atas kedudukanku yang sewajarnya dalam Tubuh, ketika minyak dituangkan ke atas Kepala, dengan sendirinya akan mengalir pula ke tempatku. Minyak urapan ini tidak dikaruniakan kepada Anda pribadi. Bila Anda ingin minta minyak urapan kepada Allah secara pribadi, hal itu mustahil. Kebanyakan orang di hadapan Allah tidak bisa menerima berkat, dikarenakan mereka ingin memperoleh Roh Kudus secara individual di hadapan Allah, mereka ingin memperoleh minyak urapan secara pribadi di hadirat Allah.

Ingatlah, minyak urapan dituangkan ke atas kepala Harun, kemudian baru meleleh ke janggutnya dan ke leher jubahnya. Leher jubah Harun sangat panjang, dapat menutupi kakinya, bahkan seluruh tubuhnya. Maka begitu minyak urapan dituangkan ke atas kepala, ia akan mengalir ke tempat yang terendah dari tubuh. Sebab itu, bila hari ini seseorang ingin menikmati minyak urapan, itu tidak tergantung pada kondisi pribadinya di hadapan Allah, melainkan tergantung pada kedudukannya pada Tubuh. Jika Anda berdiri pada kedudukan di bawah Kepala, niscayalah minyak urapan akan melalui diri Anda. Jika Anda tidak berdiri pada kedudukan di bawah Kepala, minyak urapan tidak akan melewati diri Anda. Menerima minyak urapan bukanlah soal pribadi, juga bukan soal Tubuh, melainkan soal di atas Tubuh dan di bawah Kepala. Bila Tubuh tunduk di bawah Kepala, dan berdiri pada posisinya, pastilah ada minyak urapan.

Dalam menempuh perjalanan rohani, kita perlu kekuatan Roh Kudus, barulah ada minyak urapan menjadi kekuatan kita dan baru berarti tidak bertindak menurut daging. Sebab minyak urapan tidak diurapkan di atas daging manusia. Hal ini perlu kita perhatikan. Kita tidak seharusnya bertindak menurut kemauan sendiri, melainkan harus ada minyak urapan. Tetapi beroleh minyak urapan tidak tergantung pada doa atau permintaan kita, melainkan tergantung pada hubungan kita yang wajar dengan Tubuh.

Kita harus menyadari bahwa dalam Alkitab sama sekali tidak terdapat pengurapan atas Tubuh, hanya ada pengurapan atas Kepala. Tetapi karena Anda adalah bagian dari Tubuh, maka ketika Kepala menerima urapan, Anda pun turut menerimanya. Minyak urapan tidak dituangkan ke atas tubuh Harun, melainkan ke atas kepalanya. Tetapi karena tubuh itu adalah tubuh Harun, maka minyak urapan mengalir ke janggutnya dan terus mengalir ke leher jubahnya serta ke seluruh tubuhnya. Hanya orang bodohlah yang menuntut pengurapan pribadi, hanya orang dungulah yang menuntut pengurapan Tubuh. Hanya orang yang tunduk di bawah kedudukan Kepala dan berdiri di atas posisi yang dikehendaki Kepala, yang bisa menerima minyak urapan tersebut.

3. Orang yang Memberi Tumpangan Tangan

Adalah Rasul — Wakil Kristus dan Tubuh

Firman Allah memperlihatkan kepada kita, setiap kali ada orang menerima baptisan dan masuk ke dalam Kristus, pasti ada kuasa yang dilantik Allah, yaitu orang-orang yang disebut rasul, yang bertindak sebagai wakil Sang Kepala dan Tubuh untuk memberi tumpangan tangan kepadanya. Itulah makna penumpangan tangan. Begitu Anda diberi tumpangan tangan, kepala Anda segera tunduk, itu berarti mulai hari ini aku tidak lagi menjadi kepala, kepalaku tunduk di bawah kuasa.

Ketika rasul bertindak sebagai wakil Tubuh memberi tumpangan tangan kepadaku, itu sama dengan ia bersekutu denganku dan bersatu denganku. Rasul mewakili Tubuh, sebab rasul adalah yang pertama dilantik Allah dalam gereja, karenanya ia dapat mewakili Allah. Sewaktu seorang rasul yang mewakili gereja berkata kepada Anda, “Saudara adalah seorang yang bersatu dengan Tubuh Kristus. Ketika minyak urapan mengalir dari kepala, pasti akan mengaliri diri Anda. Disebabkan Anda bersatu dengan Tubuh, maka minyak urapan pun mengalir ke atas diri Anda. Itulah sebabnya aku memberi tumpangan tangan kepadamu.” Makna tumpangan tangan ialah Anda telah bersatu dengan Tubuh Kristus.

Rasul tidak saja mewakili gereja, juga mewakili Kristus. Yang pertama Allah lantik dalam gereja adalah rasul. Yang pertama itulah sebagai kuasa. Dengan kata lain, di sini terdapat kuasa perwakilan. Jadi sewaktu tangan rasul ditumpangkan ke atas kepalaku, tidak saja berarti gereja yang menumpangkan tangan, juga Kristus. Tujuannya ialah agar aku tunduk di bawah kuasa Tuhan. Sejak saat ini dan seterusnya aku adalah orang yang tunduk di bawah Kristus, Sang Kepala.

IV. CARA MENERIMA PENUMPANGAN TANGAN

1. Harus Tunduk di bawah Sang Kepala

Kita wajib berdiri di bawah kuasa Sang Kepala, kita wajib menjadi satu anggota dalam Tubuh Kristus. Jangan sekali-kali Anda mengira seorang diri sudah cukup. Sifat yang Anda peroleh sewaktu Anda beroleh anugerah adalah sifat anggota Tubuh, dan sifat ini tidak mengizinkan Anda hidup menyendiri. Begitu Anda hidup menyendiri, Anda akan mati. Anda hanya dapat hidup di dalam Tubuh.

2. Harus Tampak Pentingnya Kesatuan

Anda pun wajib menyadari pentingnya kesatuan ini. Setelah Anda tampak pentingnya kesatuan, barulah Anda bisa menerima berkat penyaluran itu. Tanpa menyadari pentingnya kesatuan, berkat penyaluran tidak akan ada. Jadi kesatuan adalah pokok utama dalam penumpangan tangan. Walaupun penumpangan tangan mengandung fungsi penyaluran, tetapi makna utama penumpangan tangan ialah kesatuan.

3. Harus Tampak bahwa Hidupku Bersandar pada Segenap Tubuh

Jika hari ini ada saudara memberi tumpangan tangan kepada Anda, Anda harus menyadari, itu bukan perbuatan yang sembarangan atau yang tanpa tujuan. Anda wajib tercelik, tampak bahwa sejak hari ini aku menjadi seorang anak di antara sekian banyak anak Allah, aku menjadi salah satu sel di antara sekian banyak sel, dan aku menjadi salah satu anggota di antara sekian banyak anggota. Karena itu hayatku harus hidup bersandar pada seluruh Tubuh. Bila aku menjadi seorang Kristen yang menyendiri, aku akan habis dan tidak berguna. Bila aku tidak bersekutu dengan anak-anak Allah lainnya, aku akan celaka. Berapa pun kekuatanku, aku tidak mungkin hidup. Tidak peduli berapa besar dan baiknya Anda, bila Anda terkerat dari Tubuh, Anda akan mati. Janganlah mengatakan bahwa Anda sangat kuat; Anda bisa menjadi kuat itu disebabkan Anda berada di dalam Tubuh. Begitu meninggalkan Tubuh, Anda akan habis. Itulah faedah yang dihasilkan oleh penumpangan tangan bagi Anda.

Sewaktu Anda menerima penumpangan tangan, Anda wajib berkata, “Ya Tuhan, aku tidak mungkin hidup bersandar pada diriku sendiri. Aku harus mengakui bahwa aku hanyalah satu anggota dalam Tubuh, ada Tubuh baru aku bisa hidup, ada Tubuh baru aku bisa menerima minyak urapan.” Jelaskah? Karena minyak urapan terdapat di atas Kepala Anda, Anda tunduk di bawah Kepala dan bersatu dengan semua anak Allah untuk tunduk di bawah kuasa Sang Kepala. Anda sendiri tunduk, Anda pun bersama-sama tunduk. Anda langsung tunduk, Anda pun secara langsung tunduk bersama segenap Tubuh, dengan demikian minyak urapan pasti mengalir ke atas diri Anda. Bila Anda berdiri pada posisi demikian, minyak urapan dengan sendirinya akan mengalir ke atas diri Anda.

V. DUA CONTOH PENUMPANGAN TANGAN DALAM KISAH PARA RASUL

1. Di Samaria

Terakhir, marilah kita lihat kasus yang terjadi di Samaria dan di Efesus. Di Samaria ada segolongan kaum beriman yang telah percaya Tuhan dan dibaptis melalui penginjilan Filipus, tetapi mereka belum menerima Roh Kudus. Hal ini diketahui oleh para rasul di Yerusalem. Lalu Petrus dan Yohanes diutus ke Samaria untuk mendoakan mereka, agar mereka menerima Roh Kudus. Rasul-rasul berdoa sambil memberi tumpangan tangan, maka turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mereka diurapi oleh minyak urapan itu.

Baptisan berarti mengumumkan, “Aku membuang dunia”, sedang menerima tumpangan tangan berarti mengumumkan “Aku telah masuk ke dalam Tubuh”. Ini merupakan dua perkara. Dibaptis berarti aku meninggalkan dunia yang negatif; ditumpangi tangan berarti aku dimasukkan ke dalam Tubuh. Hari ini aku masuk ke dalam Tubuh, aku perlu bersatu dengan semua anak Allah dan aku perlu tunduk di bawah kuasa Sang Kepala. Ketika Anda meletakkan segenap insan Anda di bawah kuasa Sang Kepala, Anda segera akan tampak ada aliran minyak urapan. Begitu posisi Anda benar, minyak urapan akan mengalir ke atas Anda. Bila posisi Anda tidak benar, minyak urapan tidak akan mengalir ke atas Anda. Orang-orang Samaria telah percaya Tuhan, tentu telah beroleh selamat. Namun ada satu keadaan yang luar biasa, yaitu Roh Kudus tidak turun ke atas diri mereka. Karenanya para rasul perlu memberi mereka penumpangan tangan, yakni meletakkan mereka ke bawah kuasa Sang Kepala dan mempersatukan mereka agar mereka bersatu-padu dengan seluruh Tubuh. Pada saat demikianlah terjadi satu perkara yang ajaib, yaitu Roh Kudus turun, minyak urapan teralir ke atas diri mereka.

2. Di Efesus

Kisah ini terjadi ketika Paulus memberitakan Injil di Efesus. Ia berjumpa dengan belasan murid yang hanya menerima baptisan Yohanes. Paulus bertanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Mereka menjawab, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Paulus bertanya lagi, “Dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Selanjutnya Paulus segera mengetahui bahwa ada sesuatu yang keliru pada mereka; dan ini berhubungan dengan perkara dasar.

Perhatikanlah, bila mereka benar-benar telah percaya Yesus, mana mungkin tanpa Roh Kudus? Ini pasti terdapat kesalahan dalam masalah dasar. Baptisan apakah yang mereka terima? Mereka hanya menerima baptisan Yohanes, mereka tidak masuk ke dalam Kristus. Maka Paulus menyuruh mereka dibaptis lagi agar mereka masuk ke dalam nama Kristus. Kemudian Paulus pun memberi mereka tumpangan tangan. Jadi, setelah dibaptis, lalu ditumpangi tangan. Paulus seolah berkata, “Kalian wajib masuk ke dalam Tubuh, tunduk di bawah kuasa Sang Kepala.” Itulah artinya penumpangan tangan.

Jika seseorang belum menerima baptisan, ia tidak dapat menerima penumpangan tangan. Anda tak dapat tidak menerima baptisan, yakni meninggalkan dunia, masuk ke dalam Kristus, mati dan bangkit kembali. Setelah itu, Anda pun tampak perlunya bersandar pada Tubuh, yakni perlu tunduk di bawah kuasa Sang Kepala baru Anda bisa hidup. Begitu Anda menerima penumpangan tangan. Roh Kudus segera turun di atas diri Anda. Di sini Anda tidak saja menerima Roh Kudus yang terekspresi pada lahirnya, saya tegaskan, ini pun keadaan teralirnya minyak urapan ke atas diri Anda.

Mazmur 133 memperlihatkan kepada kita betapa Kepala menerima minyak urapan. Terurapnya Sang Kepala berarti teurapnya Tubuh dan setiap anggotanya. Puji syukur kepada Allah, ketika minyak urapan mengalir dari Kepala, aku pun menerimanya, sebab aku berada di Tubuh. Ketika aku menerima minyak urapan, diberi atau tidaknya ekspresi pada lahiriahnya oleh Tuhan itu perkara kecil. Kita harus tahu bahwa pernyataan lahiriah yang terjadi di hari Pentakosta itu terlalu di luar dan tidak begitu besar. Kita percaya, Roh Kudus hari ini turun ke atas diri seseorang, pernyataan lahiriahnya tak lain berupa pengurapan minyak urapan tersebut. Asalkan itu benar pengurapan minyak urapan, ada tidaknya pernyataan lahiriah itu satu soal kecil, yang penting ialah dari mana datangnya minyak urapan itu? Minyak urapan datangnya dari sini: terurapnya Sang Kepala menjadi terurapnya anggota-anggota Tubuh. Jadi, doa penumpangan tangan adalah perkara yang ajaib.

VI. SATU PENGECUALIAN DALAM ALKITAB

Dalam Alkitab hanya ada satu pengecualian, yaitu yang terjadi di rumah Kornelius. Di rumah Kornelius tidak ada pembaptisan dan penumpangan tangan, namun Roh Kudus telah tercurah. Ini adalah satu pengecualian. Sebab sejak hari Pentakosta semua rasul masih mengira anugerah Tuhan hanya diberikan kepada orang Yahudi saja. Mereka sendiri orang Yahudi, Tuhan Yesus juga orang Yahudi. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus pun diturunkan ke atas orang-orang Yahudi. Pada saat itu ada tiga ribu dan lima ribu orang beroleh selamat, semuanya orang Yahudi. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang terpencar di beberapa negara. Ketika mereka kembali ke Yerusalem, mereka beroleh anugerah Tuhan. Hingga saat itu, anugerah Tuhan hanya diterima oleh orang-orang Yahudi saja. Mereka tidak tahu apakah anugerah Allah juga diberikan kepada bangsa lain. Mereka memandang bangsa lain seperti binatang rendah. Bahkan Petrus pun tidak terkecuali, ia juga beranggapan demikian.

Kita harus tahu bahwa untuk menghancurkan kegelapan orang tidaklah mudah. Karena itu, kasus Tuhan menyuruh Petrus pergi ke rumah Kornelius untuk membuka pintu iman orang kafir terhadap Tuhan adalah perkara besar. Tuhan harus terlebih dulu memberinya satu penglihatan. Ia tampak langit terbuka dan turunlah satu benda berbentuk bentangan kain lebar yang di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang. Tuhan berkata kepadanya, “Sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menjawab, “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Jawaban Petrus ini berarti, ia tidak pernah berkontak dengan satu orang kafir pun. Bagaimana selanjutnya? Bentangan kain itu sekali, dua kali, dan tiga kali diturunkan. Dengan demikianlah baru Petrus jelas. Jika Tuhan tidak memberikan penglihatan itu, Petrus tetap tidak akan mengerti. Ketahuilah, konsepsi usang manusia sungguh hebat! Bentangan kain itu turun dari langit dan Tuhan sendiri yang berbicara kepadanya, tetapi Petrus masih menolaknya. Tuhan tak berdaya, maka kain itu ditarik kembali ke langit. Kedua kalinya diturunkan lagi, ia tetap tidak mengerti, maka ditarik ke atas lagi. Ketiga kalinya diturunkan lagi, diperlihatkan lagi, dan Tuhan berfirman lagi, akhirnya Petrus baru jelas. Petrus tidak dapat berkata bahwa ia telah salah lihat atau kalaupun telah melihat, tetapi sudah lupa.

Sementara penglihatan ini terbuka bagi Petrus, orang-orang dari Kaisarea sudah mengetuk pintu di bawah. Saat ini Petrus mengerti apa maksud penglihatan itu, yaitu orang-orang kafir juga boleh menerima karunia keselamatan Allah; anjing pun boleh memakan remah-remah roti di bawah meja. Maka Petrus segera turun menyambut mereka. Ketika ia pergi, ia masih tidak berani membaptis mereka, sekalipun seisi keluarga Kornelius telah percaya. Seandainya Petrus membaptis mereka, saudara-saudara yang pergi bersama Petrus belum tentu mau mengakui. Mereka mungkin akan berkata, “Petrus, kau telah bertindak sendiri!” Ketika itu Petrus sangat sulit. Ia sendiri sudah jelas, tetapi saudara-saudara yang menyertainya belum jelas.

Itulah sebabnya di Kaisarea tidak memerlukan pembaptisan atau penumpangan tangan dulu, Roh Kudus langsung diturunkan ke atas orang-orang kafir tersebut. Dengan demikian, ketika Petrus kembali, ia boleh berkata, “Aku hanya mengucapkan beberapa patah kata, Injil pun belum kuberitakan dengan jelas, tetapi tahu-tahu Roh Kudus sudah diturunkan ke atas mereka. Aku tidak dapat berbuat apa-apa, mau tidak mau aku harus melengkapi kekurangan mereka, yakni membaptis mereka.” Karena itu, pembaptisan adalah untuk meninggalkan dunia dan memasuki Kristus, sedang penumpangan tangan adalah untuk menerima minyak urapan. Jika sudah menerima minyak, penumpangan tangan boleh dihapus. Karena itulah Petrus hanya membaptis mereka, tanpa memberi penumpangan tangan.

Di kemudian hari, ketika Paulus kembali dari tanah kafir dan sedang memperdebatkan masalah orang kafir di Yerusalem, Petrus kembali menyinggung pengalamannya, sehingga aral tersebut sama sekali dihancurkan. Sejak saat itu, pintu iman bagi orang kafir terbukalah sepenuhnya.

Dari sini Anda tampak, di Samaria ada penumpangan tangan, tetapi di Kaisarea tidak ada. Namun Tuhan menggunakan kisah Kaisarea untuk membenarkan apa yang dilakukan Paulus, sehingga kasus dalam Kisah Para Rasul 15 dapat ditanggulangi. Sampai pasal 19, Paulus di Efesus tetap memberi tumpangan tangan. Jadi, penumpangan tangan adalah satu jalan, yang terus berlangsung sampai hari ini dan tidak pernah putus.

VII. KITA WAJIB BERJALAN BERSAMA

MENGIKUTI ANAK-ANAK ALLAH

Saudara saudari yang baru percaya wajib tampak, setelah seseorang percaya Tuhan Yesus, ia tidak dapat hidup menyendiri, tidak dapat menjadi orang Kristen secara individual, melainkan harus bersama-sama menjadi anggota Tubuh dengan semua anak Allah dan harus belajar tunduk di bawah kuasa Sang Kepala. Ia tidak dapat menjadi seorang pemberontak, melainkan wajib berjalan bersama mengikuti semua anak-anak Allah. Dengan demikian, dalam kehidupan maupun pekerjaannya dengan sendirinya akan ada pernyataan minyak urapan dan ia mempunyai jalan di hadapan Allah.