MENGASIHI SAUDARA
”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”
Yohanes 5:24
”Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita.”
1 Yohanes 3:14
Injil Yohanes adalah kitab Injil yang terakhir ditulis di antara keempat kitab Injil; surat Yohanes juga adalah kitab yang terakhir ditulis di antara surat-surat rasuli. Sebelum ada Injil Yohanes sudah ada Injil Matius, Markus, dan Lukas, yang mengisahkan berbagai peristiwa dan ajaran Tuhan Yesus. Ketika Yohanes menulis kitab Injilnya, ia menunjukkan kepada kita titik yang paling tinggi dan yang paling rohani dari kedatangan Putra Allah ke bumi ini. Dengan jelas sekali ia memberi tahu kita, orang yang bagaimana yang bisa memperoleh hidup yang kekal. Ia berkali-kali memperlihatkan kepada kita bahwa hanya orang yang percaya yang bisa memperoleh hidup yang kekal. Dalam Injil Yohanes penuh dengan istilah ”percaya”. Begitu seseorang percaya kepada Tuhan, ia segera beroleh hidup yang kekal, inilah judul Injil Yohanes, dan inilah perkara yang khusus ditekankan Yohanes. Perkara ini tidak ditekankan oleh kitab-kitab Injil lainnya. Yohanes 5:24 mengatakan, ”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Dengan kata lain, orang yang ”mendengar dan percaya” adalah orang yang ”pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Pintu Injil ini sungguh terbuka lebar-lebar.
Dalam surat-surat rasuli, kata ”percaya” ini digunakan dengan sangat jelas, baik oleh Paulus, Petrus, maupun oleh rasul-rasul lainnya, sehingga kita semua tampak bahwa setiap orang yang percaya Tuhan bisa menerima kasih karunia. Namun, sampai terakhir, aspek yang ditekankan oleh surat kiriman Yohanes berlainan. Kalau surat-surat rasuli lainnya menekankan masalah percaya di hadapan Allah, yang ditekankan Yohanes adalah masalah perilaku yang riil di hadapan Allah, yaitu kasih. Kalau surat-surat lainnya menerangkan, bahwa orang yang percaya beroleh pembenaran, orang yang percaya beroleh pengampunan, orang yang percaya beroleh pembasuhan; surat Yohanes mengatakan, orang yang percaya harus ada buktinya, yaitu kasih.
Jika kita bertanya kepada seseorang, ”Bagaimana Anda mengetahui bahwa diri Anda telah beroleh hidup yang kekal?” Mungkin ia akan menjawab, “Firman Allah mengatakannya.” Tetapi jawaban seperti ini tidak dapat diandalkan, sebab ia bisa saja berkata begitu berdasarkan otaknya, hatinya belum tentu benar-benar percaya kepada firman Allah. Sebab itu dalam suratnya Yohanes menampakkan kepada kita, kalau seseorang mengaku dirinya telah menerima hidup yang kekal, ia pasti memiliki suatu bukti; kalau ia mengaku dirinya telah menjadi milik Allah, pada dirinya pasti ada satu ekspresi atau kesaksian.
Seseorang boleh saja berdasarkan pengetahuannya berkata, ”Aku sudah percaya, aku sudah beroleh hidup yang kekal.” Ia pun boleh saja menunjukkan kalimat, ”Asal percaya pasti beroleh hidup yang kekal” sebagai suatu rumusan: pertama, aku mendengarkan Injil; kedua, aku mengerti; ketiga, aku percaya; dan keempat, aku tahu bahwa aku telah beroleh hidup yang kekal. Akan tetapi, ”beroleh selamat” menurut rumusan semacam itu tidak dapat diandalkan. Alkitab memberitahu kita bahwa sejak zaman Paulus sudah ada ”saudara palsu” (2 Kor. 11:26; Gal. 2:4). Apakah saudara palsu itu? Saudara palsu adalah orang-orang yang mengaku dirinya saudara, tetapi sebenarnya bukan saudara; mereka mengaku sebagai orang-orang milik Allah, tetapi mereka tidak memiliki hayat (kehidupan). Mereka masuk ke dalam gereja tidak berdasarkan hayat, melainkan berdasarkan ajaran, pengetahuan, atau rumusan. Lalu, bagaimanakah cara kita mengenal benar atau palsunya seseorang? Bagaimana kita dapat mengetahui iman seseorang di hadapan Allah itu hidup atau hanya suatu rumusan? Dengan cara apakah kita dapat membuktikan siapa milik Tuhan dan siapa bukan? Surat-surat Yohaneslah yang membantu kita untuk memecahkan problem ini. Ia memberi kita satu daya pembeda, agar kita dapat mengenal mana saudara yang sejati dan mana saudara yang palsu; mana yang berasal (dilahirkan) dari Allah, mana yang bukan berasal dari Allah. Baiklah sekarang kita melihat cara pembedaan yang diberikan Yohanes kepada kita itu.
I. HAYAT KASIH
Dalam seluruh Alkitab, perkataan ”pindah dari dalam maut ke dalam hidup” hanya tercantum di dua tempat. Yang pertama tercantum dalam Yohanes 5:24, yang kedua tercantum dalam 1 Yohanes 3:14. Baiklah kita membandingkan sebentar kedua ayat tersebut.
Yohanes 5:24 mengatakan, ”Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Di sini dikatakan, orang yang percaya sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
1 Yohanes 3:14 mengatakan, ”Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita.” Berpindah dari dalam maut ke dalam hidup mempunyai satu bukti, yaitu mengasihi saudara.
Misalnya, Anda berteman dengan sejumlah orang, Anda mungkin sangat menyukai, menyanjung, dan menghormati mereka. Tetapi perasaan Anda terhadap mereka tentunya berbeda jika dibandingkan dengan perasaan Anda terhadap saudara saudari kandung Anda. Orang yang dilahirkan oleh ibu Anda adalah saudara atau saudari Anda, dan terhadapnya, secara otomatis Anda mempunyai perasaan yang istimewa. Perasaan itu adalah perasaan kasih yang spontan. Adanya perasaan yang demikian membuktikan bahwa Anda dengan dia adalah sekeluarga.
Demikian pula, misalkan di sini ada orang yang berbeda sama sekali dengan Anda, baik dalam penampilan, keluarga, pendidikan, sifat, maupun kesenangan. Tetapi karena dia juga telah percaya kepada Tuhan Yesus, maka terhadapnya Anda mempunyai perasaan yang tak terkatakan, bahkan merasa ia lebih akrab daripada saudara kandung. Jika Anda memiliki perasaan demikian, ini membuktikan bahwa Anda telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
1 Yohanes 5:1 mengatakan, ”Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari Allah.” Betapa mustikanya perkataan-perkataan dalam ayat ini. Jika Anda mengasihi Allah yang melahirkan Anda, Anda pasti juga mengasihi orang yang dilahirkan oleh Allah, hal ini sangat spontan. Jika Anda mengaku mengasihi Allah, tak mungkinlah Anda tak mempunyai perasaan terhadap saudara Anda. Itu mustahil!
Di dalam batin Anda terdapat satu ”kasih” yang membuktikan bahwa ”percaya” yang dulu Anda miliki itu benar, dan karena ”percaya” yang dulu Anda miliki itu benar, maka Anda memiliki suatu ”kasih” yang tak terkatakan. Hati yang mengasihi saudara ini memang sangat istimewa, hati ini dapat mengasihi saudara bukan karena saudara itu sewatak dengan Anda, atau karena alasan lain, melainkan hanya karena ia adalah saudara. Mungkin pendidikan, tabiat, keluarga, pendapat, dan pandangannya berbeda dengan Anda, namun Anda mengasihi dia. Karena dia percaya Tuhan, Anda juga percaya Tuhan, dia dengan Anda sama-sama menjadi saudara, maka dengan sendirinya Anda dapat bersekutu dengan dia, Anda mempunyai satu perasaan yang tak terkatakan terhadapnya. Perasaan inilah yang membuktikan bahwa Anda telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Jika Anda mengasihi saudara, Anda tahu bahwa Anda telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
Tidak salah, iman Anda memungkinkan Anda berjumpa dengan Allah, membuat Anda pindah dari dalam maut ke dalam hidup, membuat Anda menjadi anggota keluarga Allah, membuat Anda beroleh kelahiran kembali; tetapi iman tidak saja mempertemukan Anda dengan Bapa, juga mempertemukan Anda dengan saudara Anda. Begitu Anda mendapatkan hayat, dengan sendirinya Anda akan menyadari betapa banyaknya orang yang memiliki hayat di dalam dunia ini, dan dengan spontan pula hayat ini menghendaki Anda mendekati orang-orang yang beroleh hayat seperti Anda. Hayat ini membuat Anda senang mendekati mereka, bergaul dengan mereka, dan dengan sendirinya Anda bisa mengasihi mereka.
Injil Yohanes dan surat Yohanes memperlihatkan kepada kita pengaturan Allah demikian: ”Percaya” membuat kita pindah dari dalam maut ke dalam hidup, dan orang yang pindah dari dalam maut ke dalam hidup dapat ”mengasihi”. Jadi berdasarkan kasih persaudaraan itu kita dapat mengetahui bahwa kita telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Inilah satu cara yang paling dapat diandalkan. Dengan cara ini kita dapat menguji dan mengetahui sebenarnya ada berapa banyak anak-anak Allah di bumi ini. Orang yang dapat saling mengasihi, barulah saudara; orang yang tidak dapat saling mengasihi, bukanlah saudara.
Saudara saudari, kita wajib tampak perkara ini di hadapan Allah: mengasihi saudara adalah bukti dari percaya yang sejati. Kecuali ini, tidak ada cara lain yang lebih baik untuk mengetahui dan membedakan iman yang sejati dengan iman yang palsu. Jika kita tidak memiliki daya pembeda ini, maka makin sempurna pemberitaan Injil kita, makin besar kemungkinan terjadinya bahaya kepalsuan; makin jelas pemberitaan Injil kita, oknum-oknum palsu akan makin mudah menyusup ke dalam gereja; dan semakin Injil itu kita beritakan dengan penuh kasih karunia, semakin banyaklah orang yang sembrono. Sebab itu, kita harus memiliki daya pembeda agar dapat mengenal siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang pura-pura beriman. Surat Yohanes dengan jelas memperlihatkan bahwa cara untuk membedakan iman yang sejati dengan iman yang palsu tidak terletak pada iman itu sendiri, melainkan terletak pada kasih. Jadi, persoalannya bukan pada bagaimana imannya, melainkan bagaimana kasihnya. Jika imannya benar, pastilah ia memiliki kasih. Tanpa kasih berarti tanpa iman, ada kasih berarti ada iman. Iman dapat kita buktikan dengan jelas melalui kasih.
Jadi, jika kita ingin mengetahui apakah seseorang itu Kristen sejati atau Kristen palsu, cukup dengan melihat apakah ia terhadap anak-anak Allah lainnya memiliki suatu perasaan atau daya tarik yang istimewa atau tidak. Allah tidak mengaruniakan kepada kita hayat yang menyendiri, melainkan hayat yang dengan spontan menuntut kita untuk mendekati orang-orang yang sama-sama beroleh hayat itu, menuntut kita untuk saling mengasihi dan akrab dengan orang-orang itu. Orang yang memiliki perasaan demikianlah yang disebut ”telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”
II. PERINTAH KASIH
1 Yohanes 3:11 mengatakan, ”Sebab inilah berita yang telah kamu dengar sejak semula, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi.”
Satu Yohanes 3:23 mengatakan, ”Dan inilah perintah-Nya: Supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.”
Saling mengasihi itulah perintah Allah. Allah memerintahkan kita melakukan dua perkara: Pertama, percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya; Kedua, saling mengasihi. Jika kita telah melakukan perkara yang pertama — percaya, kita pun harus melakukan perkara yang kedua — mengasihi. Allah mengaruniakan kasih itu kepada kita, Ia pun mengaruniakan satu perintah kasih. Allah terlebih dulu memberi kita kasih itu, kemudian baru memberi kita perintah kasih, agar kita saling mengasihi. Hari ini kita harus saling mengasihi menurut kasih dan perintah kasih yang telah Allah karuniakan. Sebab itu, kita harus menggunakan sifat kasih yang telah Allah berikan ke dalam kita, janganlah merusak dan melukainya.
Selanjutnya dalam 1 Yohanes 4:7-8 dikatakan, ”Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”
Mengapa kita harus saling mengasihi? Sebab kasih berasal dari Allah. Orang yang mempunyai kasih, lahir dari Allah; yang tidak mempunyai kasih, tidak mengenal Allah, sebab Allah sendiri adalah kasih. Tatkala Allah melahirkan kita, Ia juga melahirkan kasih di dalam kita. Dulu di dalam kita tidak ada kasih, tetapi hari ini, di dalam kita ada kasih yang berasal dari Allah. Setiap orang yang lahir dari Allah, Allah pun melahirkan kasih ke dalamnya. Allah mengaruniakan kasih kepada dia, juga kepada Anda, itulah sebabnya kita dapat saling mengasihi.
Orang yang lahir dari Allah beroleh hayat, dan hayat ini adalah Allah sendiri; Allah juga adalah kasih, maka orang yang lahir dari Allah di dalamnya pasti ada hayat kasih ini. Hayat yang kita terima dari Allah ialah hayat kasih. Setiap orang yang lahir dari Allah di dalamnya pasti ada kasih; setiap orang yang mempunyai kasih dengan sendirinya dapat saling mengasihi. Sebab itu, jika kita tak dapat saling mengasihi, itu adalah perkara yang sangat ganjil. Allah telah mengaruniakan hayat kasih kepada setiap orang Kristen, berdasarkan hayat ini, Ia memberi kita satu perintah, ”Saling mengasihi”. Allah terlebih dulu mengaruniakan kasih, kemudian baru memerintahkan kita untuk saling mengasihi; Ia terlebih dulu memberikan hayat kasih kemudian baru memberikan perintah kasih. Kita harus menundukkan kepala dan berkata, ”Syukur kepada Allah, anak-anak Allah bisa saling mengasihi!”
III. JIKA TIDAK MENGASIHI SAUDARA
Sekarang kita akan khusus meninjau ayat-ayat yang bersangkutan dalam surat Yohanes.
1 Yohanes 2:9-11 mengatakan, ”Siapa yang berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Siapa yang mengasihi saudara seimannya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi siapa yang membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu kemana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.” Ayat-ayat ini cukup jelas: dengan melihat apakah seseorang membenci saudaranya atau tidak, kita bisa mengetahui ia itu saudara atau bukan, ia berada dalam terang atau dalam kegelapan.
Jika ada orang membenci Anda, padahal ia tahu bahwa Anda adalah saudara, itu cukup membuktikan bahwa ia bukan orang Kristen. Andaikata ia melihat lima orang saudara, tetapi ia berkata, ”Aku hanya mengasihi empat orang di antaranya, sedang yang satu kubenci.” Ini pun membuktikan bahwa ia bukan seorang saudara. Kita harus tahu, mengasihi saudara bukan karena ia patut dikasihi, melainkan karena ia adalah saudara. Satu-satunya alasan bagi kita untuk mengasihinya ialah karena ia adalah saudara. Sebab itu, kalau di sini ada orang yang mengetahui bahwa Anda adalah saudara, milik Tuhan, namun ia membenci Anda, itu berarti di dalamnya tidak ada hayat. Sebab firman di sini mengatakan, ”Siapa yang membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan.” orang itu tinggal di dalam kegelapan, bahkan hidup di dalam kegelapan. Dengan kata lain, Alkitab sama sekali tidak mengakui perihal membenci saudara, dan sama sekali tidak percaya akan kemungkinan tersebut. Kalau Anda tahu seseorang itu saudara, namun Anda membencinya, maka Anda harus berkata, ”Ya Tuhan, aku bukan orang yang tinggal di dalam terang, aku tinggal di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan!”
Satu Yohanes 3:10 mengatakan, ”Inilah tandanya anak-anak Allah . . . setiap orang yang tidak melakukan kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga siapa saja yang tidak mengasihi saudara seimannya.” Orang yang pada lahirnya tidak melakukan kebenaran bukan berasal dari Allah, orang yang dalam batinnya tidak mengasihi saudara, ia pun bukan berasal dari Allah. Jadi orang yang tidak mengasihi saudaranya, bukan berasal dari Allah, sebab dalam batinnya tidak ada kasih, tidak ada perasaan kasih itu. Dari sinilah ternyata siapakah anak-anak Allah.
Satu Yohanes 3:14b mengatakan, ”Siapa yang tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” Kasih ini bukan kasih yang umum, melainkan kasih persaudaraan. Jika seseorang tidak memiliki kasih persaudaraan di dalam hatinya, Alkitab mengatakan, ia tetap di dalam maut. Sebelum seseorang percaya Tuhan, jika hatinya sedikit pun tanpa perasaan dan tarikan terhadap orang yang percaya, hal itu tidaklah mengherankan. Akan tetapi, bila setelah ia percaya Tuhan, hatinya tetap demikian, itu sangat mengherankan. Hal ini boleh jadi disebabkan imannya tidak dapat diandalkan. ”Siapa yang tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” Dulu ia memang di dalam maut, hari ini ia mungkin tetap di dalam maut. Kasihlah yang menjadi bukti iman. Iman seseorang dapat diandalkan atau tidak tergantung pada dapat tidaknya ia menghasilkan buah kasih. Orang yang percaya kepada Allah pasti dapat melahirkan hati yang mengasihi saudara; jika tidak, itu berarti ia tetap di dalam maut.
1 Yohanes 3:15 mengatakan, ”Setiap orang yang membenci saudara seimannya adalah pembunuh manusia. Dan kamu tahu bahwa tidak ada pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” Anda tak dapat mengatakan bahwa orang yang telah percaya Tuhan masih dapat menjadi pembunuh, tetapi Alkitab memberitahu kita, setiap orang yang membenci saudara seimannya, adalah pembunuh. Orang yang memiliki hidup yang kekal, ia seharusnya tidak dapat membenci saudaranya. Kalau ia masih bisa membenci saudaranya, itu membuktikan bahwa di dalamnya tidak ada kasih, tidak ada hidup yang kekal.
Di antara anak-anak Allah mungkin ada berbagai keadaan, tetapi tidak seharusnya ada kebencian. Andaikata ada seorang saudara yang sangat tidak baik keadaannya, hati kita boleh tidak menyukainya; atau jika ada seorang saudara harus dipecat karena ia melakukan dosa, kita juga boleh menanggulangi perkara itu dengan rasa gusar; atau jika ada seorang saudara telah melakukan perkara yang sangat tidak baik, kita pun boleh memanggil dan menegurnya dengan keras di hadapan Tuhan; tetapi kita tidak boleh membencinya, jika ada orang yang membencinya, itu membuktikan bahwa dia tidak memiliki hidup yang kekal.
Hayat yang ada di dalam setiap anak-anak Allah sangat kaya limpah, sedemikian rupa sehingga membuat anak-anak Allah dapat mengasihi setiap saudara saudari. Asalkan seseorang itu milik Tuhan, kasih yang terkandung di dalamnya pasti akan mengalir keluar. Mengasihi seorang saudara sama dengan mengasihi semua saudara. Hati yang mengasihi ini diletakkan ke atas saudara ini demikian, diletakkan ke atas saudara itu juga demikian. Hati yang mengasihi saudara ini tidak pilih bulu, terhadap saudara mana saja tak ada bedanya. Asalkan saudara, pasti dikasihinya. Orang yang membenci saudaranya, di dalam orang itu tidak ada hidup yang kekal. Tak usah ia membenci semua saudara, asalkan membenci seorang saudara saja, sudahlah cukup membuktikan bahwa ia kekurangan kasih persaudaraan. Kasih persaudaraan ini dapat mengasihi semua saudara.
Perkara ini sangat serius. Kalau ada seorang beriman tidak mengasihi saudara, ia membenci saudara, bahkan menipu dan menyerang saudara, kita harus berkata, ”Ya Allah, belaskasihanilah! Di sini ada seorang, menganggap dirinya orang beriman, padahal ia sama sekali belum beroleh selamat!” Asalkan ia membenci seorang saudara, cukuplah membuktikan, bahwa ia bukan berasal dari Tuhan. Betapa seriusnya perkara ini!
Keadaan yang normal adalah demikian: misalkan ada seorang saudara melakukan banyak perkara yang tak dapat dibenarkan, Anda boleh menasihati dan menegurnya, tetapi hati Anda tidak membencinya. Jika perbuatannya sampai membuat Anda marah, Anda pun boleh memarahi serta menegurnya dengan kata-kata yang sangat keras, tetapi hati Anda tetap tidak membencinya. Kalaupun Anda harus menyampaikan persoalannya kepada gereja, seperti yang tercantum dalam Matius 18, tujuan Anda tetaplah ingin mendapatkan dan memulihkannya. Kalau terhadapnya Anda hanya ingin mengecam dan meruntuhkan saja, tanpa bermaksud memulihkannya, itu membuktikan Anda bukan seorang saudara. Maksud menyampaikan persoalannya kepada gereja ialah agar bisa mendapatkan kembali saudara itu. Jadi masalahnya ialah, Anda ingin meruntuhkannya atau ingin mendapatkannya? Ini adalah perkara yang sangat serius. Janganlah kita menyepelekan perkara ini.
Seperti terhadap orang yang melakukan percabulan dalam 1 Korintus 5. Paulus berkata, ”Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1 Kor. 5:13). Karena pada mulanya mereka tidak mau mengusir orang itu, maka Paulus dengan kuasa Yesus dan dalam nama Tuhan Yesus menyerahkan orang itu kepada Iblis supaya tubuhnya binasa. Ganjaran yang demikian boleh dikata berat tiada taranya. Mengapa Paulus harus bertindak demikian? Tak lain ”agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” Jadi tujuan membinasakan tubuhnya pada masa ini, ialah agar ia tidak menderita kerugian yang kekal. Motivasi dari menyampaikan persoalannya kepada gereja dalam Matius 18, adalah untuk mendapatkan kembali. Pemecatan dalam 1 Korintus 5 juga bermaksud untuk mendapatkan kembali.
Ketika Yosua menghakimi Akhan, Yosua berkata kepadanya, ”Anakku, muliakanlah Tuhan Allah Israel”(Yos. 7:19) Sungguhpun dosa Akhan sangat besar, tetapi Yosua berkata kepadanya dengan roh yang demikian lembut, dan dengan hati yang penuh kasih persaudaraan.
Tatkala berita kematian Saul sampai kepada Daud, ia segera mengoyakkan pakaiannya, menangisinya dan berpuasa sampai matahari terbenam (2 Sam. 1:11-12). Demikian pula ketika Daud mendengar kabar kematian Absalom, hatinya sangat sedih, sambil menangis ia berkata, ”Anakku, anakku Absalom. Ah, kalau bisa aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!” (2 Sam. 18:3). Saul adalah raja yang memusuhinya, Absalom adalah anak yang mendurhakainya, tetapi ketika mereka mati, Daud meratapi mereka. Ia tak dapat tidak berperang, dan tak dapat tidak menghukum mereka, namun ia pun tak dapat tidak menangisi mereka.
Saudara saudari, kalau seseorang hanya dapat menghakimi, namun tidak dapat meratapi; hanya dapat menyalahkan, tanpa merasa pilu; itu membuktikan bahwa dia tak mengetahui makna kasih persaudaraan. Kalau ada seorang saudara menegur saudara lain hanya dengan maksud menjatuhkannya, itu membuktikan di dalamnya tidak ada kasih, hanya ada kebencian. Membenci saudara berarti membunuh saudara! Alangkah seriusnya hal ini!
Dulu ada seorang saudara menulis surat kepada J.N. Darby menanyakan masalah pemecatan. Darby menjawab, ”Saya kira, jika seorang berdosa yang telah menerima pengampunan memecat seorang berdosa lainnya, itu adalah perkara yang paling mengerikan di seluruh dunia ini.” Ya, di seluruh dunia sungguh tidak ada perkara lain yang lebih mengerikan daripada perkara seorang dosa yang beroleh pengampunan memecat seorang dosa lainnya. Sikap Darby ini berasal dari sikap hayat kasih. Memang benar banyak perkara harus ditanggulangi, dan bila perlu gereja boleh memecat saudara yang berbuat dosa. Akan tetapi dalam menanggulangi perkara itu, tidak seharusnya menaruh rasa benci.
1 Yohanes 4:20-21 mengatakan, ”Jikalau seorang berkata, ’Aku mengasihi Allah,’ tetapi ia membenci saudara seimannya, maka ia adalah pendusta, karena siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Inilah perintah yang kita terima dari Dia: Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya.” Di sini Yohanes memperlihatkan kepada kita bahwa mengasihi saudara berarti mengasihi Allah. Jika orang tidak mengasihi saudara yang dilihatnya, ia tak dapat mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Jadi jika Anda mau mengasihi Allah, Anda harus mengasihi saudara juga. Inilah perintah yang kita terima dari Allah.
Karena itu, kita harus berhati-hati, janganlah kita melakukan perkara yang menyalahi kasih. Jangan sembarangan berbuat dosa terhadap saudara. Hendaklah saling mengasihi dan menghormati kasih persaudaraan yang ada di batin Anda; jangan melukainya. Allah telah menaruh hati yang mengasihi saudara ke dalam kita, maka kita harus menggunakannya untuk melayani dan membantu saudara kita. Kita harus mempertumbuhkan hati yang mengasihi saudara, agar ia semakin perkasa.
Satu Yohanes 3:17 mengatakan, ”Siapa yang mempunyai harta duniawi dan melihat saudara seimannya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimana kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” Yohanes tidak berkata, “Bagaimana kasih saudara dapat tetap di dalam dirinya?” melainkan ”Bagaimana kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” Sebab, hati yang mengasihi Allah itu adalah hati yang mengasihi saudara, dan sebaliknya, hati yang mengasihi saudara itu adalah hati yang mengasihi Allah. Jika seseorang menutup pintu hatinya terhadap saudaranya, hatinya yang mengasihi Allah pun tiadalah. Ia tak dapat menipu dirinya sendiri dengan berkata, ”Walaupun aku tidak mengasihi saudara, namun aku mengasihi Allah.” Hubungan kita dengan saudara kita berasal dari Allah, jika kita tidak ada hubungan dengan saudara, itu berarti kita tidak ada hubungan dengan Allah; jika kita menolak saudara, dengan sendirinya hati yang mengasihi Allah juga tidak ada di dalam kita.
IV. CARA MENGASIHI SAUDARA
Satu Yohanes 3:16 mengatakan, ”Dengan inilah kita mengenal kasih Kristus, yaitu bahwa Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.” Apakah hati yang mengasihi saudara itu? Yohanes telah menjelaskannya bagi kita. Asalnya kita tak mudah mengerti kasih itu. Tatkala kita tampak betapa Tuhan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, barulah kita mengetahui kasih itu. Karena itu, Yohanes selanjutnya berkata, ”Jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara seiman kita.” Hati yang mengasihi saudara adalah hati yang rela mengesampingkan diri sendiri demi melayani saudara saudari, atau hati yang rela mengorbankan diri sendiri demi kesempurnaan saudara saudari, bahkan rela menyerahkan nyawa bagi saudara saudari.
Satu Yohanes 3:18 mengatakan, ”Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Mengasihi saudara bukan hanya ucapan dalam mulut saja, melainkan harus diekspresikan dalam perbuatan dan dalam ketulusan.
Satu Yohanes 4:10-12 mengatakan, ”Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa mengasihi Allah tidak dapat dipisahkan dengan saling mengasihi di antara saudara. Jika kita saling mengasihi, kasih-Nya akan sempurna di dalam kita. Dengan kata lain, hari ini Allah menaruh banyak saudara di hadapan kita, mereka adalah sasaran kita agar kita dapat mempraktikkan kasih kita kepada Allah. Kalau kita saling mengasihi, kasih Allah akan sempurna di dalam kita. Kita tidak bisa hanya mengatakan dengan mulut, bahwa kita mengasihi Allah, kita harus dengan riil belajar mengasihi saudara. Mengatakan dengan mulut saja tidak berguna, itu sia-sia. Mengasihi Allah, haruslah kita nyatakan melalui mengasihi saudara.
Satu Yohanes 5:2-3 mengatakan, ”Dengan inilah kita ketahui bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya.” Jika kita mengasihi Allah, wajiblah kita menuruti perintah-perintah-Nya, jika kita ingin mengasihi anak-anak Allah, kita pun wajib menuruti perintah-perintah-Nya. Misalkan Allah memerintahkan kita untuk menerima baptisan, tetapi ternyata banyak anak Allah yang mempunyai pendapat yang berbeda-beda terhadap baptisan. Ada yang berkata, ”Kami tidak setuju dengan baptisan. Jika kalian mengasihi kami, kalian jangan menerima baptisan; jika kalian menerima baptisan, kalian akan melukai hati kami.” Bagaimana kalau demikian? Perintah Allah juga menghendaki kita meninggalkan perpecahan (denominasi), tetapi banyak anak Allah malahan mendukung denominasi. Mereka berkata, ”Kalian tidak seharusnya meninggalkan denominasi, jika kalian berbuat demikian, kalian akan menyinggung perasaan kami.” Jika kita mau mengasihi Allah, kita harus meninggalkan denominasi; jika kita ingin mengasihi saudara, kita tak dapat meninggalkan denominasi; bukankah ini menyulitkan? Akan tetapi Yohanes memberitahu kita, ”Dengan inilah kita ketahui bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.” Dengan kata lain, jika kita tidak menuruti perintah Allah, tidaklah dapat dikatakan bahwa kita mengasihi anak-anak Allah.
Misalkan ada seorang saudara beroleh pimpinan Allah untuk menerima baptisan, jika ia mengasihi anak-anak Allah, ia harus menerima baptisan itu. Sebab kalau ia tidak menerima baptisan, ia akan mempengaruhi banyak anak Allah, sehingga mereka tidak berani menerima baptisan. Berbuat demikian berarti menghalang-halangi mereka dalam hal menuruti perintah Allah, dan itu tidak berarti mengasihi anak-anak Allah. Jika Anda menuruti semua perintah Allah, itu baru menunjukkan bahwa Anda mengasihi anak-anak Allah. Anda telah menempuh jalan taat, karena itu, anak-anak Allah lainnya akan dapat menempuh jalan taat ini. Kalau Anda karena takut melukai hati mereka, lalu tidak melakukan perintah Allah, Anda sendiri akan tidak ada jalan, orang yang di belakang Anda juga akan tidak ada jalan. Sebab itu, Anda wajib belajar mengasihi Allah dan menuruti segala perintah-Nya, dengan demikian barulah terbukti bahwa Anda benar-benar mengasihi anak-anak Allah. Hanya dengan menuruti segala perintah Allah, barulah kita dapat memimpin semua anak Allah untuk menempuh jalan taat.
Satu contoh lagi: misalkan orang tua Anda melarang Anda percaya Tuhan, bagaimanakah seharusnya sikap Anda? Apakah karena mengasihi orang tua, Anda lalu tidak jadi percaya Tuhan? Jika demikian, itu sama sekali bukan perbuatan kasih! Jika Anda tidak menuruti perkataan mereka, Anda tetap percaya Tuhan, walaupun mereka marah, tetapi Anda telah membukakan satu jalan bagi mereka, sehingga mereka kelak dapat percaya Tuhan pula. Demikian baru berarti mengasihi!
Hanya saja, jangan sekali-kali kita bersalah dalam hal sikap atau tutur kata kita. Kita harus taat dan menuruti perintah-perintah Allah, tetapi sikap dan tutur kata kita jangan sampai melukai perasaan mereka. Kita harus berpegang teguh pada kebenaran Allah, kita pun harus memelihara kasih. Sejak semula kita harus belajar menjadi orang yang benar, tetapi janganlah kehilangan kasih. Kita tidak boleh hanya mementingkan hayat Allah pada aspek kekudusannya saja, harus pula mementingkan aspek kasihnya. Kedua aspek ini harus seimbang, inilah yang benar. Kita harus taat kepada Allah, tetapi sikap kita harus lemah lembut. Dalam situasi bagaimanapun janganlah kita bersalah terhadap kasih. Kalau ada suatu hal harus dilakukan, lakukanlah, tetapi janganlah melakukan perkara yang melukai kasih. Sikap kita harus lembut sekalipun pendapat kita berlainan dengan pendapat mereka. Kita harus menjelaskan dengan penuh kasih kepada mereka demikian: ”Saudara, kami harap semoga kami juga bisa melihat apa yang kalian lihat, tetapi Allah memperlihatkan ini kepada kami, maka kami tak dapat tidak menaati-Nya.” Jangan mengekang firman Allah, tetapi jangan pula melukai kasih. Di satu pihak kita harus taat kepada Allah, di pihak lain kita pun harus mengasihi. Bagaimanapun kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa perbuatan kita yang demikian bukan menurut kesenangan diri sendiri, melainkan karena perintah Allah. Jadi sikap kita harus benar dan harus penuh dengan kelembutan. Jika demikian, niscaya kita akan memperoleh banyak saudara saudari.
V. HASIL KASIH
Satu Yohanes 4:16b mengatakan, ”Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” Ini adalah untuk kedua kalinya surat Yohanes mengatakan ”Allah adalah kasih.” Karena Allah adalah kasih, maka Allah menghendaki kita mengasihi saudara, bahkan tetap berada di dalam kasih. Asalkan kita tetap berada di dalam kasih, berarti kita tinggal di dalam Allah.
Satu Yohanes 4:17-18 mengatakan, ”Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, . . . di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” Dalam seluruh Alkitab hanya 1 Yohanes 4 yang memberitahu kita, bagaimana kita bisa tidak takut berdiri di hadapan takhta penghakiman kelak. Rahasianya ialah: tinggal di dalam kasih. Tinggal di dalam kasih berarti tetap berada di dalam Allah. Jika kasih Allah sempurna di dalam kita, maka kita bisa tanpa takut dan gentar pada hari penghakiman nanti.
Karena itu, kita harus memiliki satu pikiran saja terhadap saudara-saudari, yaitu mengasihi mereka, mendapatkan mereka agar mereka beroleh kebaikan yang paling tinggi. Hanya ada kasih, tanpa kebencian. Perbuatan atau sikap ini harus merupakan satu latihan bagi kita, sampai suatu hari, segenap manusia kita tinggal di dalam kasih, kasih pun tinggal di dalam kita, demikianlah segala ketakutan terhapus dari hidup kita di bumi ini. Jika kita mempunyai kasih, lenyaplah ketakutan. Di hadapan takhta penghakiman kelak, kita pun takkan gentar. Inilah hayat kasih, yang dapat bekerja sedemikian rupa di antara saudara, sehingga menghapus segala ketakutan. Buah dari Roh Kudus — kasih, ini dapat membuat kita dengan penuh keberanian berdiri di hadapan takhta penghakiman.
Kita telah melihat: mengasihi saudara berarti mengasihi Allah; mengasihi saudara dapat menyempurnakan kasih kita terhadap Allah; kita dapat mengasihi saudara hingga ke taraf kesempurnaannya, yaitu tidak merasa takut terhadap saudara. Mengasihi Allah dengan mengasihi saudara merupakan hal yang seiring. Jika kita mau mengasihi Allah, haruslah kita mengasihi saudara di bumi ini. Dengan demikian, barulah kasih itu menjadi sempurna di dalam kita, dan barulah kita tidak gentar pada hari penghakiman. Ini adalah satu perkara yang ajaib.
Semoga kita sejak semula sudah belajar mengasihi saudara sebaik-baiknya, agar hayat kasih ini beroleh jalan keluar di atas diri kita.