← Daftar isi 2 Timotius · bab 4/8

PENYEBARAN KEMEROSOTAN

Pembacaan Alkitab: 2Tim. 2:16-26

Dua Timotius 2:16 berkebalikan dengan perkataan Paulus dalam ayat 15; dalam ayat 15 ia berkata, “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Pekerja yang baik adalah orang yang memotong dengan lurus bukan perkataan pengetahuan atau doktrin, melainkan perkataan kebenaran. Banyak orang Kristen mengira kebenaran dalam ayat 15 berarti doktrin atau ajaran. Namun, dalam Perjanjian Baru, kebenaran tidak menunjuk kepada doktrin belaka. Mengenai Kristus dalam inkarnasi-Nya, Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, ...penuh anugerah dan kebenaran.” Tidaklah masuk akal menafsirkan kebenaran dalam ayat ini sebagai doktrin. Bagaimana kita dapat mengatakan Firman itu menjadi manusia dan penuh dengan doktrin? Dalam pemakaian Perjanjian Baru, kebenaran mengacu kepada realitas ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ketika Kristus datang melalui inkarnasi, anugerah dan realitas juga datang. Anugerah dan realitas itu adalah diri Allah sendiri. Anugerah adalah Allah di dalam Putra sebagai kenikmatan kita; realitas adalah Allah di dalam Putra direalisasikan oleh kita. Maka, anugerah dan realitas mengacu kepada Allah yang berinkarnasi. Bila kita menerima anugerah, kita pun menerima realitas. Kemudian kita memiliki Allah sebagai realitas kita. Realitas ini adalah kebenaran dalam 2Timotius 2:1. Seperti telah kita tunjukkan, kebenaran ini adalah realitas isi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Isi ini meliputi Kristus sebagai Kepala dan gereja sebagai Tubuh. Memotong dengan lurus perkataan kebenaran bukan hanya membagi Alkitab ke dalam beberapa bagian, melainkan menguraikan dengan lurus perkataan sehat dari realitas isi ekonomi Allah.

I. MENGHINDARI OMONGAN YANG KOSONG

DAN TIDAK SUCI

A. Hanya Menambah Kefasikan

Berbeda dengan ayat 15, dalam ayat 16 Paulus mengatakan, “Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan tidak suci yang hanya menambah kefasikan.” Kata “yang tidak suci” menyatakan omongan yang berbaur dengan keduniawian dan tercemar olehnya, bertolak belakang dengan menjadi kudus. Omongan kosong dan tidak suci yang Paulus sarankan untuk dihindari oleh Timotius itu menambah kefasikan, keadaan yang bertolak belakang dengan ibadah, bertolak belakang dengan penyataan Allah dalam hidup sehari-hari kita dan dalam hidup gereja.

B. Menjalar seperti Kanker

Dalam ayat 17 Paulus melanjutkan, “Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus.” Kata Yunani yang diterjemahkan “menjalar” dapat juga diterjemahkan mendapatkan rawatan atau menggerogoti. Secara harfiah, kata ini berarti “mendapatkan padang rumput”, seperti dalam Yohanes 10:9. Kata “padang rumput” dalam bahasa Yunani adalah istilah kedokteran untuk proses perkembangan perusakan dari suatu penyakit yang meradang (Alford). Sebab itu, di sini dalam bahasa Yunaninya diterjemahkan sebagai “menjalar”.

Kata “kanker” menyatakan semacam penyakit yang meradang, membusuk, tumor. Paulus memakai kata yang keras ini untuk menggambarkan orang-orang yang mengajarkan ajaran lain. Ia memberi tahu kita bahwa perkataan mereka tidak hanya menambah kefasikan, tetapi menjalar seperti kanker yang menghabiskan daging dan menyebabkan bagian tubuh seseorang mati. Menurut penelitian kita, hal itu telah terjadi di antara orang-orang yang sesat.

C. Himeneus dan Filetus

1. Telah Menyimpang dari Kebenaran

Berbicara tentang Himeneus dan Filetus, Paulus mengatakan dalam ayat 18 bahwa mereka “telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.” Kata menyimpang berarti kehilangan sasaran, menyeleweng dari jalan yang benar. Paulus tidak mengatakan Himeneus dan Filetus menyimpang dari doktrin atau ajaran; ia menyatakan mereka menyimpang dari kebenaran, dari realitas ekonomi Perjanjian Baru. Mereka menyimpang dari kebenaran dengan mengatakan bahwa kebangkitan telah berlangsung. Hal itu menyatakan kelak tidak akan ada kebangkitan. Itu adalah bidah yang serius, yang menyangkal kekuatan ilahi dalam hayat (1Kor. 15:52; 1Tes. 4:16; Why. 20:4, 6).

2. Merusak Iman Sebagian Orang

Dalam ayat 18 Paulus juga mengatakan bahwa setelah menyimpang dari kebenaran, Himeneus dan Filetus merusak iman sebagian orang. Iman di sini adalah iman yang subyektif, yaitu tindak percaya. Iman yang subyektif ini, tindak percaya kita, sangat erat hubungannya dengan kebangkitan Kristus (Rm. 10:9). Seperti telah kita tunjukkan, iman yang subyektif meliputi kesatuan organik antara kita dengan Allah Tritunggal. Merusak iman berarti merusak kesatuan organik batiniah ini. Beberapa di antara kita dapat bersaksi, pernah mengalami putusnya kesatuan organik tersebut untuk sementara karena mendengar perkataan orang-orang yang mengajarkan hal lain. Dalam batin orang-orang itu menyadari bahwa kesatuan organik di dalam mereka telah sirna. Itulah perusakan iman.

II. DASAR TEGUH YANG DILETAKKAN ALLAH DAN METERAINYA

Dalam ayat 19 Paulus menyatakan, “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa milik-Nya’ dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.’” Banyak guru Kristen menyatakan “dasar” di sini mengacu kepada Kristus. Memang benar, dalam 1Korintus 3:11 Paulus mengatakan Kristus adalah satu-satunya dasar. Selain Dia, kita tidak punya dasar lain. Namun demikian, kalau kita memperhatikan ayat 19 berdasarkan konteks pasal itu, kita akan nampak bahwa dasar di sini tidak mengacu kepada Kristus sebagai dasar gereja, tetapi mengacu kepada gereja sebagai dasar kebenaran. Ayat 14-18 mengajar kita bagaimana di pihak negatifnya menanggulangi bidah, dan bagaimana di pihak positifnya mempertahankan kebenaran (truth). Menurut ayat 15, 18, dan 25, dasar di sini bukan mengacu kepada Kristus sebagai dasar gereja, melainkan mengacu kepada gereja sebagai dasar kebenaran. Ini sesuai dengan “dasar kebenaran” yang menunjang kebenaran (1Tim. 3:15), terutama kebenaran kebangkitan Kristus (Kis. 4:33).

Gereja dibangun dengan hayat ilahi di dalam Kristus. Hayat ini tidak dapat rusak dan binasa (Ibr. 7:16; Kis. 2:24), sebaliknya dapat melawan segala kematian dan kejatuhan dari sumber mana pun. Karena itu, gereja adalah dasar Allah yang teguh, yang kokoh selamanya, sanggup melawan bidah apa pun. Tidak peduli bidah apa yang masuk atau betapa hebatnya kanker itu meluas, dasar yang teguh ini telah diletakkan.

Beberapa orang yang telah meninggalkan pemulihan Tuhan mengira bahwa tidak lama kemudian pemulihan ini akan runtuh. Namun karena pemulihan ini didirikan di atas dasar yang teguh, pemulihan tidak akan runtuh dan tidak pernah runtuh. Kalau pemulihan Tuhan didirikan di atas hal-hal yang bukan hayat ilahi, hayat kekal, pemulihan akan runtuh jauh sebelumnya. Namun karena pemulihan memiliki dasar yang teguh dari kebenaran, pemulihan tidak terluka karena serangan. Sebaliknya, mereka yang berusaha merusak pemulihan sebenarnya merusak diri mereka sendiri dan pada saat itu pula mereka menguatkan pemulihan dan mengungkapkan keteguhan dasarnya. Pemulihan dibangun di atas sesuatu yang ilahi dan abadi — hayat Allah dan sifat-Nya. Sebab itu, bahkan pintu alam maut tidak dapat menguasainya. Karena pemulihan dibangun di atas hayat yang tidak binasa dan tidak terkalahkan, dasar teguh kebenaran pun diletakkan. Dalam tahun-tahun terakhir ini, tidak perlu kita melindungi pemulihan Tuhan. Pemulihan telah dilindungi oleh hayat ilahi yang tidak terkalahkan. Maka, gereja adalah dasar teguh Allah yang berdiri dalam hayat yang kekal.

Paulus mengatakan bahwa dasar yang teguh ini memiliki “meterai”. Meterai ini memiliki dua aspek. Di aspek Tuhan ialah “Tuhan mengenal siapa milik-Nya”. Ini berdasarkan hayat ilahi Tuhan; Tuhan telah memberikan hayat ini kepada semua orang beriman-Nya, dan hayat ini telah membawa mereka ke dalam kesatuan yang organik dengan-Nya, supaya mereka menjadi satu dengan-Nya dan membuat mereka menjadi milik-Nya. Di aspek kita, ialah “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” Inilah hasil hayat ilahi, membuat kita meninggalkan kejahatan dan menjaga kita tak bercela dalam nama-Nya yang kudus. Pada gereja sebagai dasar yang teguh dalam hayat ilahi tertera meterai yang beraspek dua ini, mempersaksikan bahwa hayat ilahi Tuhan telah membuat kita menjadi milik-Nya dan membuat kita terlepas dari hal-hal yang bertentangan dengan jalan-Nya yang benar.

III. RUMAH YANG BESAR

Ayat 19 menunjukkan dengan tegas bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat 16-18 bukanlah milik Tuhan. Perbuatan jahat mereka adalah bukti kuat dari hal itu.

Dalam ayat 20 Paulus melanjutkan, “(Tetapi) dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.” Kata “tetapi” di awal ayat ini menyatakan hal yang berlawanan dengan definisi mengenai kaum beriman sejati dalam ayat 19.

Apa yang Paulus maksudkan dengan ungkapan “rumah yang besar”? Dalam rumah yang besar ini tidak hanya ada perabot dari emas dan perak, tetapi juga perabot kayu dan tanah, dan beberapa digunakan untuk maksud yang mulia dan yang lain untuk maksud yang kurang mulia. Saya telah menghabiskan banyak waktu memikirkan perkara ini di hadapan Tuhan. Rumah Allah yang disebut dalam 1Timotius 3:15-16 sebagai gereja yang sejati dalam hakiki ilahi dan karakter esensialnya telah menjadi dasar kebenaran, tetapi rumah besar di sini mengacu kepada gereja yang telah merosot dalam karakternya yang campur aduk, seperti yang digambarkan dengan pohon besar yang abnormal dalam Matius 13:31-32. Di dalam rumah besar ini tidak hanya ada perabot yang terhormat (mulia, LAI), juga ada perabot yang hina (kurang mulia, LAI). Jadi, kita tidak dapat percaya bahwa rumah besar dalam ayat ini mengacu kepada gereja sebagai rumah Allah yang hidup dalam 1Timotius 3:15. Rumah besar ini jelas bukan rumah Allah yang hidup. Rumah Allah yang hidup adalah rahasia besar ibadah dan juga Allah ternyata dalam daging. Bagaimana rumah Allah yang hidup bisa memiliki perabot yang kurang mulia (hina)? Sebab itu, rumah besar ini pasti mengacu kepada dunia kekristenan (agama Kristen). Selanjutnya, rumah besar ini sama dengan pohon besar dalam Matius 13. Gereja sejati hari ini adalah rumah Allah yang hidup, sedangkan kekristenan yang abnormal adalah rumah besar. Betapa besarnya rumah yang tidak normal hari ini! Seperti halnya banyak burung najis bersarang di pohon besar, demikianlah dalam rumah yang besar itu ada perabot-perabot yang hina, perabot kayu dan tanah. Dalam gereja yang sejati hanya ada perabot emas dan perak.

A. Perabot yang Terhormat dan Perabot yang Hina

Perabot yang terhormat tersusun dari sifat ilahi (emas) dan sifat insani yang telah ditebus dan dilahirkan kembali (perak). Perabot-perabot ini seperti Timotius dan kaum beriman sejati lainnya, yang telah menyusun dasar yang kokoh yang menopang kebenaran. Perabot yang hina tersusun dari sifat insani yang jatuh (kayu dan tanah). Himeneus, Filetus, dan kaum beriman palsu lainnya termasuk dalam golongan ini.

B. Dibersihkan dari Perabot yang Hina

Dalam ayat 21 selanjutnya Paulus mengatakan, “Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah yang terhormat (LAI: untuk maksud yang mulia), ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang baik.” Menyucikan diri kita adalah mengacu kepada “meninggalkan kejahatan” (ayat 19), sebagai bukti yang di luar dari sifat ilahi yang di dalam. Kata “hal-hal yang jahat” dalam ayat 21 mengacu kepada perabot yang hina, termasuk orang-orang yang disebut dalam ayat 16-18. Kita seharusnya tidak hanya membersihkan diri kita dari hal-hal yang jahat, tetapi juga dari perabot yang hina. Kalau kita membersihkan diri kita dari hal-hal dan orang-orang yang negatif itu, kita akan menjadi perabot yang terhormat, dikuduskan, dipandang layak bagi Tuan kita, dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang baik. Terhormat, berharga, adalah masalah sifat hakiki, kudus adalah masalah posisi, layak adalah masalah fungsi, dan disediakan adalah masalah pelatihan.

IV. NASIHAT PAULUS KEPADA TIMOTIUS

A. Menjauhi dan Mengejar

Ayat 22 melanjutkan, “Sebab itu, jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan (iman), kasih dan damai sejahtera bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Timotius tidak hanya harus berjaga-jaga terhadap kerusakan luaran dari gereja-gereja, tetapi juga harus berwaspada terhadap nafsu dari dalam diri sendiri. Ia harus menghindari kerusakan yang dari luar, juga harus menjauhi nafsu yang dari dalam. Selanjutnya, ia harus mengejar keadilan, iman, kasih, dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. Adil adalah terhadap diri sendiri, iman adalah terhadap Allah, dan kasih adalah terhadap orang lain; damai adalah hasil dari ketiga kebajikan tersebut.

B. Berseru kepada Tuhan

Berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni adalah menyebut nama Tuhan ketika berdoa dan memuji Tuhan. Orang yang mencari Tuhan pasti adalah orang yang menyeru nama-Nya. Hari ini mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni ada dalam pemulihan-Nya. Syukur kepada Tuhan, kita ada bersama mereka yang berseru kepada-Nya dengan hati yang murni. Bersama orang beriman semacam ini kita dapat mengejar kebajikan keadilan, iman, kasih, dan damai.

C. Menolak Soal-soal yang Bodoh dan Tidak Layak

Dalam ayat 23 Paulus mengatakan, “Hindarilah persoalan-persoalan yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa persoalan-persoalan itu menimbulkan pertengkaran.” Kata “bodoh” di sini juga berarti tolol, dungu. Kata “tidak layak” menunjukkan hal-hal yang tidak terdidik, tidak disiplin, tidak terlatih; berarti tidak taat kepada Allah, hanya menuruti pikiran dan kemauan diri sendiri (Darby). Kata “menimbulkan” berarti meneruskan, melahirkan. Kita harus menolak soal-soal bodoh semacam itu, karena hal-hal itu bersumber dari Iblis, si ular. Bertahun-tahun yang lalu saya membaca tulisan seseorang yang menyatakan mungkin si ular berdiri dalam bentuk tanda tanya ketika ia berbicara dengan Hawa. Ia bertanya kepada Hawa dengan perkataan, “Bukankah Allah berfirman?” (Kej. 3:1 Tl.). Semua soal yang bodoh berasal dari ular itu. Jadi, kita harus menolak soal-soal yang bodoh dan tidak layak, soal-soal yang menimbulkan pertengkaran. Persoalan-persoalan itu selalu timbul dari sumber yang jahat, si ular itu.

D. Jangan Bertengkar

Dalam ayat 24 Paulus melanjutkan, “Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus pandai mengajar, sabar.” Bila orang menyalahi Anda, tidak sepatutnya Anda sedih atau tersinggung. Sebaliknya, sebagai hamba Tuhan, Anda seharusnya ramah dan sabar.

E. Menuntun Orang yang Suka Melawan

Dalam ayat 25 Paulus melanjutkan, “Dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga me-reka mengenal kebenaran.” Kata “bertobat” yang dipakai Paulus menunjukkan bahwa ada masalah dalam hati dan hati nurani dari orang-orang yang menentang kebenaran (truth). Kebenaran adalah wahyu Allah yang hidup beserta ekonomi-Nya (kehendak hati-Nya). Untuk menerima wahyu ilahi, hati dan hati nurani perlu dilatih sehingga benar terhadap Allah. Hati harus berpaling kepada Allah, hanya tertuju kepada-Nya, dan hati nurani harus bersih dan tak bercela di hadapan-Nya. Kalau tidak, ia bisa ditawan oleh Iblis, dan jatuh ke dalam jeratnya (ayat 26).

Dalam ayat 25 kembali Paulus menyinggung pengetahuan yang penuh tentang kebenaran. Paulus tidak hanya berbicara tentang pengetahuan penuh tentang Alkitab atau pengetahuan penuh tentang doktrin dan ajaran. Ia menekankan pertobatan kepada pengetahuan yang penuh tentang kebenaran. Penyuntik harus memikul beban untuk menuntun, mengoreksi dengan lembut orang-orang yang suka melawan dengan harapan agar mereka diterangi, bertobat, dan kembali kepada pengetahuan yang penuh tentang kebenaran.

Adalah mungkin, orang-orang yang bertobat “sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya” (ayat 26). Menurut Vincent, sadar kembali berarti siuman kembali, sadar dari keadaan yang mabuk. Paulus memakai ungkapan “jerat Iblis” untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang menentang kebenaran telah ditawan oleh Iblis dan jatuh ke dalam jeratnya. Musuh Allah telah memenuhi pikiran mereka yang terkutuk dengan kesalahan dan menutupnya terhadap Allah, seperti yang Iblis lakukan terhadap orang-orang Farisi (Yoh. 8:42-45). Mereka perlu memalingkan hati mereka kepada Allah, dan juga menanggulangi hati nurani mereka dengan tuntas.

Kata ganti “dia” dalam frase yang telah mengikat mereka mengacu kepada Iblis. Namun “pada kehendaknya”, secara harfiah diterjemahkan “pada kehendak yang itu”, mengacu kepada Allah, yang disebut dalam ayat 25. Jadi, itu berarti terhadap kehendak Allah, melaksanakan kehendak Allah.

Misalkan, seseorang datang pada Anda untuk berdebat tentang doktrin atau praktek tertentu. Jangan terlibat dalam perdebatan dengannya, sajikanlah ekonomi Allah kepadanya. Untuk berbuat demikian, Anda perlu mengenal isi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Semua orang kudus harus dilatih, mungkin oleh para pemimpin di tempat mereka untuk menyajikan pengetahuan penuh tentang kebenaran, untuk membagi bersama orang lain akan realitas isi ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Sering kita ditanya mengapa kita berkata bahwa kita adalah gereja. Kali pertama saya mendengar pertanyaan itu di Amerika Serikat pada tahun 1963. Dalam suatu persekutuan, seorang saudara bertanya kepada saya, “Mengapa kelompok Anda menyebut dirinya sendiri gereja di Los Angeles?” Dalam menjawab pertanyaan yang baik ini saya tunjukkan bahwa dalam Alkitab kaum beriman di tempat tertentu, seperti di Yerusalem atau Antiokhia, dipandang sebagai gereja di tempat itu. Kisah Para Rasul 8:1 berbicara tentang gereja di Yerusalem dan 13:1 tentang gereja di Antiokhia. Saya lanjutkan dengan menunjukkan bahwa di Yerusalem hanya ada satu gereja. Petrus, Yakobus, dan Yohanes semuanya bagi pembangunan satu gereja di Yerusalem. Namun, orang-orang Kristen hari ini telah menyimpang dan bersidang di banyak denominasi. Karena itu, di kota Los Angeles ada berbagai macam perhimpunan yang disebut gereja. Bahkan ada kelompok-kelompok yang mengatakan mereka adalah gereja orang China atau gereja orang Korea. Lalu saya bertanya, dari berbagai macam gereja itu, yang manakah yang perlu kita masuki. Orang yang melontarkan pertanyaan tentang gereja di Los Angeles mengakui bahwa kita tidak seharusnya bergabung dengan apa saja yang disebut “gereja” itu. Lalu saya teruskan berkata, jika kita di Los Angeles tidak menyebut diri kita gereja di Los Angeles, kita akan menjadi sekte lain. Kalau kita bukan gereja di Los Angeles, lalu apakah kita? Kita tidak ada pilihan selain menyebut diri kita gereja di Los Angeles.

Menyadari bahwa beberapa orang mungkin mengatakan gereja di Los Angeles seharusnya mencakup semua orang kudus di kota itu, saya berkata, “Memang benar, gereja di Los Angeles mencakup semua orang percaya di Los Angeles. Namun, kebanyakan dari mereka tidak mau bersidang sebagai gereja. Itu tanggung jawab mereka, bukan tanggung jawab kita. Misalnya, keluarga Jones mungkin memiliki banyak anggota. Seandainya sebagian besar anggotanya pergi dari rumah itu, dan hanya tiga orang yang tinggal, bukankah tiga orang itu keluarga Jones? Salahkah mereka memasang papan di rumah mereka, bertuliskan ‘Keluarga Jones’? Jelas tidak. Kalau mereka tidak disebut Jones, lalu mereka seharusnya dipanggil apa? Mereka jelas salah jika mereka mengambil nama Smith atau nama lainnya. Mereka benar bila mengatakan bahwa mereka adalah keluarga Jones, bahkan sekalipun banyak anggota keluarga itu telah pergi dan hidup di tempat lain. Demikian pula, banyak di antara orang yang benar-benar anggota gereja di Los Angeles tidak bersidang sebagai gereja. Namun demikian, mereka yang berdiri sebagai gereja berhak menyebut diri mereka gereja di Los Angeles.”

Pada kesempatan ini saya bertanya, “Mengapa mereka yang di denominasi tidak menyebut diri mereka gereja? Mereka terganggu oleh fakta bahwa kita menyebut diri kita gereja di Los Angeles. Mereka perlu bertanya kepada diri mereka sendiri mengapa mereka mengambil nama seperti Presbiterian atau Lutheran. Saya harap mereka mau melepaskan nama-nama itu dan hanya menjadi gereja lokal di kota mereka. Bagi mereka yang mau melakukan hal ini di kota itu, saya katakan, ‘Karena kita berada di dalam gereja yang sama, gereja di Los Angeles, mengapa kita tidak berkumpul bersama dan menjadi gereja? Mari kita semua berkumpul bersama untuk hidup gereja.’” Ini adalah satu gambaran mengenai betapa kita perlu belajar pengetahuan yang penuh akan kebenaran, lalu belajar menyajikan kebenaran kepada orang lain, khususnya kepada para penentang. Kita harapkan orang lain dapat diterangi dan juga mencapai pengetahuan yang penuh akan kebenaran.