← Daftar isi 2 Timotius · bab 1/8

PERSEDIAAN ILAHI UNTUK SUNTIKAN PENANGKAL TERHADAP KEMEROSOTAN GEREJA

Pembacaan Alkitab: 2Tim. 1:1-14

Dua Timotius, Surat Kiriman terakhir yang ditulis oleh Paulus, dibuka dengan perkataan, “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah menurut janji hayat dalam Kristus Yesus (Tl.). Kepada Timotius, anakku yang terkasih: Anugerah, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.” Kitab ini ditulis pada saat gereja-gereja yang didirikan melalui ministri rasul di dunia orang kafir cenderung mengalami kemerosotan, dan rasul sendiri sedang ditahan di dalam penjara yang jauh. Banyak orang meninggalkannya (1:15; 4:16), bahkan termasuk teman sekerjanya (4:10). Ini adalah keadaan yang mengecilkan hati dan mengecewakan, terutama bagi teman sekerja muda dan anak rohaninya, Timotius. Karena itu, dalam pembukaan surat yang mendorong, menguatkan, dan meneguhkan ini, Paulus menegaskan kepada Timotius bahwa ia adalah rasul Kristus bukan hanya oleh kehendak Allah, melainkan juga menurut janji hayat dalam Kristus. Ini menyiratkan bahwa walaupun gereja-gereja bisa mengalami kemerosotan dan banyak orang kudus bisa tidak setia dan mundur, tetapi hayat kekal, hayat ilahi, hayat Allah yang bukan ciptaan, yang dijanjikan oleh Allah dalam tulisan kudus-Nya dan yang diberikan kepada rasul dan semua orang beriman, tidak berubah selamanya. Dengan dan atas dasar hayat yang tak berubah inilah dasar Allah yang kuat diletakkan dan tetap berdiri teguh melewati semua kemerosotan gereja (2:19). Dengan hayat inilah orang-orang yang mencari Allah dengan hati yang murni dapat bertahan terhadap ujian kemerosotan gereja. Hayat ini, yang rasul pesankan dalam Surat 1Timotius kepada Timotius dan yang lainnya untuk dipegang teguh (1Tim. 6:12, 19), pastilah mendorong dan menguatkan rasul pada masa yang penuh bahaya.

Di antara semua suratnya, hanya dalam 1 dan 2Timotius rasul memasukkan rahmat Allah pada salam pembukaan. Rahmat Allah menjangkau lebih jauh daripada anugerah Allah. Dalam keadaan gereja-gereja yang merosot, rahmat Allah sangat diperlukan.

I. POKOK KITAB INI: SUNTIKAN PENANGKAL TERHADAP KEMEROSOTAN GEREJA

Ketika Paulus sedang menulis Surat Kiriman ini, ia tahu sepenuhnya bahwa gereja-gereja sedang merosot. Akan tetapi, karena ia adalah seorang yang memegang janji hayat kekal, ia tidak berkecil hati atau kecewa. Ia memiliki sesuatu di dalam dirinya yang tidak pernah berubah — hayat Allah yang kekal, bukan ciptaan, tidak dapat binasa. Tak peduli bagaimana berubahnya keadaan sekitar, hayat kekal ini tetap sama. Karena Paulus sendiri berbesar hati di dalam hayat Allah dan tidak kecewa dengan situasinya, maka ia menulis surat yang kedua kepada Timotius bukan hanya sebagai pendorong dan penguat bagi rekan sekerja yang lebih muda, tetapi juga sebagai suatu suntikan pe-nangkal bagi seluruh Tubuh Kristus terhadap kemerosotan gereja.

Jangan menganggap Kitab 2Timotius hanya sebagai kitab yang disebut kitab penggembalaan. Bila kita memiliki wawasan yang benar, kita akan paham bahwa pemikiran ilahi di dalam Paulus adalah untuk memberi suntikan penangkal kepada kaum beriman terhadap kemerosotan gereja. Paulus telah nampak kemerosotan ini sebelumnya. Akan tetapi, jauh di lubuk batinnya ia berbesar hati, bukan karena ia dapat mengerti perkara-perkara menurut logika, melainkan karena ia memperoleh hayat kekal yang dijanjikan Allah di dalam tulisan-tulisan kudus-Nya. Hayat yang dijanjikan oleh Allah dalam Kitab Suci tinggal di dalam Paulus. Beban Paulus dalam menulis Surat Kiriman ini adalah memberi dorongan dan menguatkan Timotius, juga menginjeksikan substansi ilahi ke dalam gereja untuk menyuntik gereja melawan kuman kemerosotan. Puji Tuhan, suntikan ini selalu berkhasiat. Tidak salah, melewati beberapa abad ini, sedikit banyak gereja telah merosot, dirusak tetapi gereja tidak musnah. Paulus mempunyai pandangan ke depan untuk memberi suntikan penangkal kepada gereja terhadap kemerosotan. Bahkan hari ini kita di dalam pemulihan Tuhan sedang menikmati manfaat dari suntikan penangkal ini.

Beban saya dalam berita ini adalah melihat delapan unsur dari suntikan penangkal ini. Persediaan ilahi untuk suntikan penangkal ini termasuk hati nurani yang murni, iman yang tulus ikhlas, karunia Allah, roh yang kuat, anugerah yang kekal, hayat yang tidak binasa, perkataan sehat, dan Roh yang berhuni. Unsur-unsur dari dosis yang menakjubkan yang diberikan oleh Paulus ini terdapat dalam 1:1-14.

II. PENDAHULUAN

Ayat 1 dan 2 adalah kalimat pendahuluan. Dalam ayat 1 Paulus mengatakan bahwa ia menjadi seorang rasul bukan hanya atas kehendak Allah, tetapi juga menurut janji hayat (janji tentang hidup, LAI) dalam Kristus Yesus. Ungkapan “janji hayat” bukan berarti bahwa kita hanya memiliki janjinya dan tidak memiliki hayat. Ungkapan ini berarti bahwa kita telah menerima hayat yang dijanjikan. Istilah yang serupa, “janji Roh itu” (Roh yang telah dijanjikan, LAI), dipakai dalam Galatia 3:14. Istilah ini bukan berarti bahwa kita telah menerima janjinya saja dan belum menerima Roh itu, melainkan berarti kita telah menerima Roh yang telah dijanjikan. Dalam prinsip yang sama, kata “janji hayat” menunjukkan hayat yang dijanjikan. Paulus menjadi seorang rasul menurut hayat yang telah dijanjikan Allah, yang telah diterima Paulus, dan yang berhuni di dalam dia. Paulus menjadi seorang rasul oleh hayat ini.

Hayat kekal yang menjadikan Paulus seorang rasul ini tidak dapat binasa dan tidak berubah, karena hayat ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal sendiri yang telah melalui proses. Karena Paulus dihuni oleh hayat ini, sampai-sampai seluruh Kekaisaran Romawi pun tidak berdaya menanggulanginya. Paulus dikuatkan oleh Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu sebagai hayat.

Bukan di tempat lainnya, melainkan dalam pendahuluan Surat Kiriman inilah Paulus berkata bahwa ia menjadi seorang rasul menurut janji hayat. Di tempat lain ia mem-beri tahu kita bahwa ia menjadi rasul atas kehendak Allah (Ef. 1:1). Tidak banyak guru Kristen yang menekankan fakta bahwa kerasulan Paulus bukan hanya atas kehendak Allah, tetapi juga oleh janji hayat kekal. Orang-orang Kristen menekankan kehendak Allah tetapi bukan janji hayat, karena mereka sendiri tidak nampak perkara hayat ini. Apa saja yang kita perbuat dan apa adanya kita di dalam pemulihan Tuhan hari ini haruslah menurut hayat kekal dan oleh hayat ini. Puji Tuhan, kita berada dalam pemulihan-Nya oleh hayat ini!

III. PERSEDIAAN ILAHI

UNTUK SUNTIKAN PENANGKAL

Hayat yang disebut dalam ayat 1 termasuk kedelapan unsur dasar dari suntikan penangkal ini. Ini berarti bahwa hayat kekal mencakup hati nurani yang murni, iman yang tulus ikhlas, karunia Allah, roh yang kuat, anugerah yang kekal, hayat yang tidak binasa, perkataan sehat, dan Roh yang berhuni. Bila kita memiliki hayat ini, yang sebenarnya adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses, kita pasti memiliki hati nurani yang murni, iman yang tulus ikhlas, beserta segala persediaan suntikan penangkal ilahi lainnya. Mari kita bahas persediaan ini satu per satu.

A. Hati Nurani yang Murni

Dalam ayat 3 Paulus berkata, “Aku mengucap syukur kepada Allah yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan aku selalu mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.” Melayani di sini adalah melayani Allah dalam penyembahan kepada-Nya (Kis. 24:14; Flp. 3:3). Paulus mengikuti jejak nenek moyangnya dalam melayani Allah dengan hati nurani yang murni. Dalam masa kemerosotan, orang memerlukan hati nurani yang murni, hati nurani yang dimurnikan dari campuran apa pun, untuk melayani Allah.

Saya mempunyai keyakinan bahwa semua orang beriman yang sangat jujur, polos, dan setia kepada Tuhan di dalam pemulihan-Nya bukan hanya memiliki hati nurani yang tidak bercela, tetapi juga hati nurani yang murni. Dalam hal ini kita tidak boleh menerima dusta musuh. Semakin kita ragu bahwa kita memiliki hati nurani yang murni, kita akan semakin merasa bahwa hati nurani kita tidak murni. Kita perlu mengumumkan, “Iblis, pergi dariku! Aku memiliki hati nurani yang murni. Iblis, tidak tahukah kamu bahwa aku adalah untuk Tuhan dan bukan untuk yang lainnya? Aku untuk Tuhan, untuk pemulihan-Nya, untuk gereja-Nya, dan untuk kepentingan-Nya.” Semakin kita bersaksi dengan jujur bahwa kita memiliki hati nurani yang murni, akan semakin kuat kesadaran kita bahwa hati nurani kita kenyataannya memang murni. Cara kita memiliki hati nurani yang murni adalah mengumumkannya oleh iman, dengan jujur, polos, dan dengan teguh bahwa kita memiliki hati nurani yang murni terhadap Tuhan. Jangan dengarkan keragu-raguanmu, dan jangan percaya dusta musuh. Darah Tuhan mengalahkan musuh. Jangan mempercayai musuh ketika ia mengatakan bahwa Anda lemah, atau ketika ia menuduh Anda tidak murni dan tidak memiliki hati nurani yang tidak bercela. Tidakkah Anda mencintai Tuhan? Apakah Anda tidak untuk Tuhan dan gereja-Nya? Belajarlah berkata kepada musuh, “Iblis, kamu telah menipu aku cukup lama. Aku tidak mempercayaimu lagi, dan aku tidak akan membiarkan kamu menahanku. Aku adalah untuk Tuhan, dan aku mempunyai hati nurani yang murni.”

Hayat kekal inilah yang menguatkan kita untuk menyampaikan pernyataan yang sedemikian ini kepada musuh. Inilah alasannya saya berkata bahwa hati nurani yang murni dan tidak bercela tercakup di dalam hayat kekal. Karena kita memiliki hayat kekal di dalam kita, kita dapat dikuatkan untuk mengumumkan bahwa kita memiliki hati nurani yang murni.

B. Iman yang Tulus Ikhlas

Ayat 5 mengatakan, “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” Di sini Paulus mengingatkan Timotius akan iman yang tulus ikhlas yang berada di dalamnya. Iman ini mula-mula hidup (berhuni) di dalam nenek Timotius dan kemudian di dalam ibunya. Sekarang iman ini berhuni di dalamnya. Hari ini kita dapat memuji Tuhan bahwa iman ini juga di dalam kita. Karena kita memiliki hayat kekal, kita mempunyai iman yang tulus ikhlas.

Iman mengacu kepada kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal yang di dalamnya kita menerima infus Allah melalui firman-Nya dan di dalam Roh-Nya. Semakin kita menjamah firman itu melalui melatih roh kita, kita akan semakin berkontak dengan Tuhan dan diinfus dengan-Nya. Akibatnya, iman kita akan dikuatkan. Iman ini sebenarnya adalah pantulan dari hayat kekal yang telah kita terima. Karena itu, saya ulangi, iman di sini mengacu kepada kesatuan organik antara kita dengan Allah Tritunggal yang di dalamnya kita berkontak dengan Allah yang hidup melalui firman-Nya dan oleh Roh-Nya untuk menerima infus-Nya.

C. Karunia Allah

Dalam ayat 6 Paulus meneruskan, “Karena itulah ku peringatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu melalui penumpangan tanganku atasmu.” Perkataan ini ditulis untuk mendorong dan menguatkan Timotius dalam ministrinya bagi Tuhan, yang mungkin menjadi lemah karena dipenjarakan-Nya Paulus dan karena situasi kemerosotan gereja. Di sini Paulus seolah-olah berkata kepada Timotius, “Timotius, aku berpesan kepadamu agar mengobarkan karunia Allah yang ada di dalammu. Ada sesuatu di dalammu yang sedang menyala. Akan tetapi tidak cukup bila hanya menyala — engkau perlu mengobarkan karunia ini. Engkau memiliki sesuatu di dalammu yang merupakan karunia Allah. Karena engkau mempunyai iman yang tulus ikhlas, aku mengingatkanmu untuk mengobarkan karunia ini.”

Memang agak sulit untuk mendefinisikan apa yang Paulus maksudkan dengan karunia Allah dalam ayat 6. Mungkin istilah ini menunjukkan suatu fungsi atau kemampuan rohani yang khusus, sesuatu yang menyala di dalam Timotius yang menjadikannya mampu berfungsi secara khusus.

Semua orang beriman di dalam pemulihan Tuhan perlu mengobarkan karunia Allah yang ada di dalam mereka. Akan tetapi, dalam sidang-sidang banyak orang kudus yang sepertinya membuang kipas mereka. Terutama dalam sidang-sidang gereja, kita perlu mengobarkan karunia yang ada di dalam kita. Kemudian nyalanya akan semakin tinggi dan terang, dan kekayaan Kristus akan dinyatakan. Semua orang kudus perlu dibangkitkan semangatnya dengan fakta bahwa mereka mempunyai hayat kekal, hati nurani yang murni, dan iman yang tulus ikhlas. Karena itulah, mereka harus mengobarkan karunia Allah.

D. Roh yang Kuat

Dalam ayat 7 Paulus melanjutkan, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Roh di sini mengacu kepada roh manusia, yang telah dilahirkan kembali dan dihuni oleh Roh Kudus (Yoh. 3:5-6; Rm. 8:16). Mengobarkan karunia Allah berhubungan dengan roh kita yang telah dilahirkan kembali.

Paulus berkata bahwa kita memiliki roh kekuatan, kasih dan ketertiban. Kekuatan di sini mengacu kepada tekad kita, kasih mengacu kepada emosi kita, dan jernih dan tertib (ketertiban, LAI) mengacu kepada pikiran kita. Ini menyatakan bahwa tekad yang kuat, emosi yang mengasihi, dan pikiran yang jernih dan tertib, sangat erat hubungannya dengan roh yang kuat untuk melatih karunia Allah yang ada di dalam kita.

Kita perlu percaya bahwa Allah telah memberi kita roh sedemikian itu, dan kita patut memuji Dia karenanya. Janganlah kita berkata bahwa kita tidak merasakan adanya roh kasih, kekuatan, dan roh yang jernih dan tertib di dalam kita. Atas tubuh jasmani kita, umumnya kita tidak mempunyai perasaan apa pun yang berkaitan dengan organ-organ di dalam tubuh kita kecuali bila ada yang tidak beres dengan organ-organ tersebut. Pada keadaan normal, apakah Anda menyadari fakta bahwa Anda memiliki hati? Saya bisa jadi tidak menyadari akan adanya hati saya, tetapi saya tahu bahwa saya memiliki organ ini dan ia berfungsi. Demikian juga halnya, kita bisa jadi tidak merasa bahwa kita memiliki roh seperti yang disebutkan dalam ayat 7. Namun kita harus percaya perkataan Paulus dan melatih roh kita.

Dalam ayat 8 Paulus berkata, “Jadi, janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.” Di sini kita mempunyai alasan mengapa Paulus berpesan kepada Timotius dalam ayat 6-7 untuk mengobarkan karunia Allah yang ada di dalam dirinya dengan roh yang kuat. Kita hendaknya melakukan hal ini agar tidak merasa malu akan kesaksian Tuhan. Tidak malu bersaksi tentang Tuhan kita artinya berdiri melawan arus kemerosotan gereja. Kita juga harus siap menderita bersama Injil. Injil, yang dipersonifikasikan di sini, sedang menderita penganiayaan. Karena itu, Timotius tentunya akan menderita bersama-sama dengan Injil. Penderitaan kita akan aniaya bersama-sama dengan Injil haruslah sampai tingkat yang dapat ditanggung oleh kekuatan Allah, bukan oleh kekuatan alamiah kita.

E. Anugerah yang Kekal

Dalam 1:9-10a Paulus berkata tentang Allah, “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan pang-gilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan anugerah-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus.” Allah tidak hanya menyelamatkan kita untuk menikmati berkat-Nya, tetapi juga memanggil kita dengan panggilan kudus, panggilan untuk sasaran tertentu, agar dapat merampungkan ketetapan kehendak-Nya. Ketetapan kehendak Allah adalah rencana yang ditetapkan menurut kehendak Allah untuk menaruh kita dalam Kristus, agar kita menjadi satu dengan-Nya, berbagian dalam hayat dan kedudukan-Nya, sehingga kita dapat menjadi kesaksian-Nya. Anugerah adalah suplai Allah dalam hayat yang diberikan kepada kita agar kita bisa memperhidupkan ketetapan kehendak-Nya dari diri kita.

Anugerah yang diberikan kepada kita dalam Kristus telah dikaruniakan sebelum dunia dijadikan. Frase “sebelum permulaan zaman” berarti sebelum dunia dijadikan. Ini adalah suatu dasar yang pasti dan tak tergoyahkan yang berdiri melawan arus kemerosotan dan menyingkapkan bahwa musuh sama sekali tidak berdaya menentang ketetapan kehendak kekal Allah. Untuk menguatkan Timotius, rasul menghubungkan ministri mereka dengan ini.

Dalam ayat 9 Paulus berkata bahwa anugerah Allah diberikan kepada kita sebelum permulaan zaman. Dalam ayat 10 ia berkata bahwa anugerah ini telah dinyatakan melalui kedatangan Juruselamat kita Kristus Yesus. Anugerah Allah diberikan kepada kita dalam kekekalan, tetapi dinyatakan dan diterapkan kepada kita melalui kedatangan Tuhan kali pertama, yang menyingkirkan maut dan membawakan hayat kepada kita. Karena anugerah ini dinyatakan melalui kedatangan Kristus, maka kaum saleh Perjanjian Lama seperti Abraham dan Daud tidak mengalaminya. Anugerah yang dipersiapkan untuk diberikan kepada kita datang bersama dengan kedatangan Tuhan Yesus. Anugerah ini bukan melulu berkat, melainkan satu persona, Allah Tritunggal sendiri yang telah diberikan kepada kita menjadi kenikmatan kita. Anugerah ini telah datang ketika Tuhan Yesus datang, dan sekarang ada bersama dengan kita.

F. Hayat yang Tidak Dapat Binasa

Bagian bawah dari ayat 10 mengatakan tentang Kristus “yang melalui Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup (hayat) yang tidak dapat binasa”. Kristus menyingkirkan maut dan membuatnya tidak berdaya, melalui kematian-Nya yang menghancurkan Iblis (Ibr. 2:14) dan kebangkitan-Nya yang menelan maut (1Kor. 15:52-54).

Hayat kekal Allah diberikan kepada semua orang beriman di dalam Kristus (1Tim. 1:16) dan merupakan unsur utama anugerah ilahi yang diberikan kepada kita (Rm. 5:17, 21). Hayat ini telah menaklukkan maut (Kis. 2:24) dan akan menelan maut (2Kor. 5:4). Berdasarkan janji hayat yang sedemikian inilah Paulus menjadi seorang rasul (2Tim. 1:1). Hayat ini dan ketidakbinasaan yang mengikutinya, telah dipancarkan melalui pemberitaan Injil agar ditampak oleh semua orang.

Hayat adalah unsur ilahi, bahkan diri Allah sendiri, yang disalurkan ke dalam roh kita. Ketidakbinasaan adalah hasil dari diresapinya tubuh kita oleh hayat (Rm. 8:11). Hayat dan ketidakbinasaan ini sanggup melawan maut dan kebinasaan yang dibawa masuk oleh kemerosotan di antara gereja-gereja.

Dua Timotius 1:11 mengatakan, “Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan guru.” Dalam bahasa aslinya Injil ini mengacu kepada Injil anugerah ilahi dan hayat kekal, yang sesuai dengan Injil dalam anugerah dan hayat yang disajikan oleh Rasul Yohanes (Yoh. 1:4, 16-17). Untuk Injil yang demikian ini Paulus telah ditetapkan sebagai pemberita, rasul, dan guru. Seorang pemberita memberitakan dan mengumumkan Injil, seorang rasul membangun dan mendirikan gereja untuk pemerintahan Allah, dan seorang guru mengajar gereja-gereja beserta orang-orang kudus.

Dalam ayat 12 Paulus melanjutkan, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah kupercayakan kepada-Nya hingga pada hari Tuhan” (Tl.). Rasul menderita karena suatu alasan, alasan yang sangat luhur dan tinggi — yaitu memproklamirkan berita Injil anugerah dan hayat yang menggembirakan untuk membangun gereja dan membimbing orang-orang kudus. Alasan yang sedemikian ini pastilah mendorong dan menguatkan bagi Timotius selagi ia menghadapi kerusakan gereja-gereja yang sedang merosot. Karena Paulus tidak merasa malu, Timotius hendak-nya tidak merasa malu pula.

Dalam ayat 12 Paulus berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya.” Yang rasul percayai bukanlah suatu hal apa pun, melainkan pribadi yang hidup, yaitu Kristus, Putra Allah yang hidup, yang juga adalah perwujudan anugerah ilahi dan hayat kekal. Hayat kekal yang ada di da-lam-Nya memiliki kekuatan, mampu menunjang orang-orang yang menderita bagi-Nya sampai kepada kesudahannya dan menjaganya hingga mewarisi kemuliaan yang akan datang. Anugerah dalam Kristus sanggup memenuhi semua keper-luan orang-orang yang diutus-Nya, agar mereka dapat menunaikan perlombaan ministrinya hingga memperoleh pahala dalam kemuliaan (4:7-8). Karena itu, Ia dapat menjaga apa yang rasul percayakan kepada-Nya sampai pada hari kedatangan-Nya kembali. Kepastian ini tentu sangat mendorong dan menguatkan Timotius yang lemah dan menderita. Frase “dipercayakan-Nya kepadaku” (LAI) menurut bahasa aslinya lebih tepat diterjemahkan “kupercayakan kepada-Nya”. Rasul telah menyerahkan seluruh dirinya beserta kemuliaan yang akan datang kepada Dia, yang melalui hayat dan karunia-Nya dapat menjaga apa yang rasul percayakan, hingga kedatangan-Nya kembali.

G. Perkataan Sehat

Dalam ayat 13 Paulus melanjutkan, “Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari aku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih di dalam Kristus Yesus.” Perkataan dalam ayat 12 adalah suatu pola, teladan dari perkataan yang sehat. Perkataan Tuhan kita Yesus Kristus adalah perkataan hayat (Yoh. 6:63); jadi, adalah perkataan sehat. Perkataan sehat di sini mengacu kepada kesehatan hayat.

H. Roh yang Berhuni

Dalam ayat 14 Paulus menyimpulkan, “Peliharalah amanat yang indah itu oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kita” (Tl.). Roh Kudus berhuni di dalam roh kita (Rm. 8:16). Karena itu, supaya kita dapat menjaga amanat yang indah itu melalui Roh Kudus, kita perlu melatih roh kita.

Saya telah menunjukkan bahwa Roh itu adalah perampungan sempurna dari kontak Allah Tritunggal dengan manusia. Puji Tuhan, hari ini Roh ini berhuni di dalam roh kita!

Kita bersyukur kepada Tuhan untuk segala persediaan ilahi untuk suntikan penangkal terhadap kemerosotan gereja. Semakin kita mengalami persediaan ini, kita akan semakin mampu melawan segala jenis kemerosotan. Setelah memiliki suntikan penangkal yang menakjubkan ini, kita harus bisa mengumumkan bahwa di dalam pemulihan Tuhan tidak ada kemerosotan.