← Daftar isi 2 Korintus (3) · bab 8/19

PERSEKUTUAN RASUL MENGENAI PEMBERIAN KEPADA ORANG-ORANG KUDUS

YANG KEKURANGAN

(3)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 8:15; 9:1-15

Dalam 2Korintus 9 Paulus memberikan perkataan tambahan mengenai pemberian kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Bagi kita, kelihatannya pasal ini tidak perlu, karena kita mungkin mengira bahwa apa yang dikatakan Paulus dalam pasal 8 itu sudah cukup. Menurut pemahaman Anda, mengapa Paulus memberikan perkataan tambahan dalam pasal 9? Jika Anda membaca kedua pasal ini lagi, Anda mungkin akan berpikir bahwa mengenai pemberian kepada orang-orang kudus yang kekurangan, bagian pertama dari pasal 8 sudah memadai dan bahwa bagian terakhir dari pasal 8 dan seluruh pasal 9 itu sebenarnya tidak perlu. Kita perlu bertanya mengapa Paulus begitu banyak mencurahkan perhatiannya kepada perkara ini. Seperti yang akan kita lihat, alasan Paulus melakukan hal ini berhubungan dengan pemikiran-pemikiran yang dalam.

MENGUMPULKAN DAN MENABURKAN

Pemikiran Paulus dalam pasal 8 dan 9 ini dalam. Kunci untuk memahami pemikiran Paulus yang dalam ini ditemukan dalam dua perkara. Pertama, dalam 2Korintus 8:15 Paulus menyimpulkan, “Seperti ada tertulis: ‘Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.’” Ini adalah kutipan dari Keluaran 16:18 mengenai pengumpulan manna untuk suplai sehari-hari. Mengapa Rasul Paulus menghubungkan perihal memberikan suplai materi kepada orang-orang kudus yang kekurangan dengan perihal mengumpulkan manna? Jika kita melihat perkara ini dengan bijaksana, kita akan menyadari bahwa pemberian materi kepada orang-orang kudus yang kekurangan ini sesungguhnya adalah bagi suplai mereka sehari-hari. Manna dikumpulkan untuk suplai sehari-hari umat Allah, dan materi yang diberikan kepada orang-orang kudus yang kekurangan juga adalah untuk suplai mereka sehari-hari. Kutipan Paulus dari Keluaran 16:18 ini merupakan satu faktor yang penting dalam penyerapan kita akan pemikiran Paulus yang dalam ini.

Perkara kedua yang berhubungan dengan pemikiran Paulus yang dalam ini ditemukan dalam pasal 8 dan 9 yang berhubungan dengan perkataannya dalam 2Korintus 9:6 tentang menabur: “Perhatikanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Di sini Paulus menyamakan pemberian materi kepada orang-orang kudus yang kekurangan ini dengan menabur benih. Penaburan benih, seperti mengumpulkan manna, adalah untuk suplai sehari-hari. Karena itu, pengumpulan dan penaburan ini adalah untuk tujuan yang sama, karena keduanya adalah bagi kehidupan kita.

DUA CARA UMAT ALLAH

MEMPERTAHANKAN HIDUP

Dalam Alkitab ada dua cara umat Allah mempertahankan hidup. Cara yang pertama adalah menurut hukum alam yang ditentukan oleh Allah. Ini adalah untuk menabur benih dan menuai tuaian. Dalam Kejadian 3 Allah menentukan bahwa manusia akan mengolah tanah untuk mendapatkan sesuatu untuk hidup. Penaburan benih adalah untuk kehidupan manusia. Ini adalah cara yang sesuai dengan hukum alam yang ditentukan oleh Allah. Tidak ada ras atau bangsa yang dapat bertahan tanpa menabur, tanpa bercocok tanam. Bercocok tanam adalah menabur benih dan menuai tuaian.

Cara yang kedua dari umat Allah untuk mempertahankan hidup adalah cara mujizat-mujizat dari tangan Allah. Ketika bangsa Israel berada di Mesir, mereka hidup menurut cara alamiah. Tetapi ketika mereka keluar dari Mesir dan berkelana di padang gurun, mereka hidup dengan cara lainnya, dengan cara mujizat-mujizat Allah. Umat itu tidak menabur benih apa pun, tetapi mereka mengumpulkan manna. Kita dapat mengatakan bahwa mereka menuai tanpa menabur, karena pengumpulan mereka itu merupakan satu penuaian. Di padang gurun itu bangsa Israel secara terus-menerus menuai tanpa menabur. Turunnya manna dari langit merupakan satu pengganti bagi penaburan. Manusia dapat menabur benih, tetapi hanya Allahlah yang dapat membuat hujan manna. Di padang gurun bangsa Israel mengumpulkan manna yang dikirim oleh Allah.

Menurut Keluaran 16, bangsa Israel mengumpulkan manna setiap pagi, kecuali pada hari Sabat. Pada hari yang keenam mereka mengumpulkan porsi ganda untuk mendapatkan suplai yang cukup pada hari Sabat. Keluaran 16:17-18 mengatakan, “Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.”

ALLAH MENGIMBANGKAN SUPLAI

DI ANTARA UMATNYA

Di padang gurun bangsa Israel tidak bercocok tanam, menabur atau menuai. Sebaliknya, mereka mengumpulkan manna. Ada beberapa orang yang serakah dan berusaha mengumpulkan banyak manna, melebihi yang mereka perlukan. Namun, pada akhir hari itu, manna yang tersisa itu tidak berguna lagi. Keluaran 16:19-20 mengatakan, “Musa berkata kepada mereka: ‘Seorang pun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi.’ Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka.” Dalam kasus orang-orang yang mengumpulkan manna yang kelebihan, yang mungkin hendak disimpan untuk beberapa hari dan beberapa minggu kemudian, Allah “mengambil” manna yang kelebihan itu.

Orang-orang yang agak lemah dan tidak mampu mengumpulkan banyak manna tidak kekurangan apa pun. Cara yang ilahi ialah orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan dan orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan. Inilah cara surgawi Allah dalam mengimbangkan suplai di antara umat-Nya. Allah memakai kemampuan-Nya yang ajaib untuk mengimbangkan suplai manna di antara umat itu. Allah mengimbangkan suplai sehari-hari di antara anak-anak-Nya oleh kedaulatan-Nya dan tangan-Nya yang ajaib.

Dalam 2Korintus tulisan Paulus ini, Paulus menggabungkan perihal mengumpulkan manna dengan pemberian suplai materi oleh kaum beriman kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Dalam Keluaran 16 adalah perkara mengumpulkan, sedangkan dalam 2Korintus 8 adalah perkara pemberian. Mengenai mengumpulkan manna ini, hasilnya adalah sama entah bangsa Israel mengumpulkan banyak atau mengumpulkan sedikit. Ini menunjukkan bahwa dalam pengumpulan mereka, mereka tidak boleh serakah. Mengumpulkan manna adalah tugas mereka. Mereka harus melakukan tugas mereka tanpa keserakahan.

Misalnya ada beberapa orang Israel yang berkata, “Allah itu penuh dengan belas kasihan, berdaulat, dan ajaib. Dia mengendalikan segala sesuatu. Karena jika aku mengumpulkan banyak aku tidak akan kelebihan, dan jika aku mengumpulkan sedikit aku tidak akan kekurangan. Kalau demikian, sebenarnya aku tidak perlu pergi keluar dan mengumpulkan sesuatu.” Jika salah seorang dari umat Allah melakukan hal itu, ia tidak akan memiliki apa-apa untuk hari itu. Allah tidak akan melakukan tugas seseorang bagi orang itu. Allah tidak akan bekerja baginya atau memberi dia makan. Bangsa Israel harus melakukan tugas mereka. Selama mereka memenuhi kewajiban mereka menurut ketetapan Allah, mereka akan memiliki suplai yang cukup, tidak peduli berapa banyak atau sedikit manna yang mereka kumpulkan.

Dalam 2Korintus 8 Paulus menyamakan pemberian kita kepada orang-orang kudus yang kekurangan dengan perkara mengumpulkan manna. Menurut pemahaman kita, kita memberi, bukan mengumpulkan. Tetapi apa yang dikatakan Paulus ini menyiratkan bahwa pemberian kita itu merupakan satu pengumpulan. Sedikitnya perkataan Paulus menunjukkan bahwa sebagai anak-anak Allah, kita tidak boleh serakah. Kita tidak boleh berpikir bahwa jika kita mendapatkan banyak uang, kita dapat memakai semuanya untuk diri kita sendiri. Kita perlu melihat, entah kita memberi atau tidak, pada akhirnya hasilnya akan sama.

Misalnya seorang saudara berpenghasilan US$ 40.000 setahun, tetapi sesungguhnya yang ia perlukan untuk kehidupannya jauh lebih sedikit daripada jumlah itu. Dengan agak serakah, ia ingin menyimpan sejumlah besar uang bagi dirinya sendiri. Ia mempersembahkan sepersepuluhnya, yaitu US$ 4.000, dengan maksud menyimpan sisanya, yaitu US$ 36.000. Persembahan persepuluhan ini adalah satu praktek yang baik. Namun, sebenarnya saudara ini dapat melakukan yang lebih baik. Yang lebih baik adalah, saudara ini seharusnya menyimpan apa yang ia perlukan untuk hidupnya, mungkin US$ 20.000, dan mempersembahkan sisanya. Memang, secara manusia, hampir setiap orang akan menempuh cara yang pertama, yaitu cara mempersembahkan sepersepuluh, bukan cara yang kedua, yaitu cara mempersembahkan semampunya. Jika saudara ini memutuskan untuk mempersembahkan sepersepuluhnya dan menyimpan sisanya yaitu US$ 16.000 bagi dirinya sendiri, pada akhirnya ia akan belajar bahwa dalam kedaulatan-Nya, Allah memiliki banyak cara untuk membuat uang yang kelebihan itu terambil. Mungkin ada penyakit, kecelakaan, atau malapetaka. Jika uang itu tidak terambil dalam generasi ini, uang itu akan terambil pada generasi berikutnya atau dalam generasi yang ketiga. Tangan Allah yang berkuasa dan berdaulat akan aktif melaksanakan pengimbangan kekayaan surgawi di antara umat-Nya.

Hampir selama tujuh puluh tahun saya telah mengamati situasi di antara orang-orang Kristen. Saya dapat bersaksi bahwa saya tidak melihat ada satu keluarga Kris-ten yang dapat mempertahankan kekayaannya selama tiga generasi. Generasi yang pertama dalam sebuah keluarga Kristen mungkin sangat kaya dan menyimpan banyak kekayaan untuk generasi yang kedua. Tetapi dalam generasi yang kedua atau yang ketiga, uang itu hilang secara misterius. Kelihatannya uang itu mengeluarkan sayapnya dan kemudian terbang jauh. Saya tahu tentang kasus-kasus di mana kekayaan dari generasi yang ketiga diambil oleh orang lain. Meskipun orang-orang yang ada dalam generasi ini mewarisi banyak kekayaan, tetapi kekayaan itu diambil dari mereka. Maka, pada akhirnya akan terbukti bahwa orang yang mengumpulkan banyak tidak akan kelebihan. Saya telah melihat bahwa orang-orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan dan orang-orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan. Saya benar-benar menyaksikan keajaiban dan kedaulatan tangan Allah dalam mengimbangkan kekayaan di antara umat-Nya.

Anda mungkin menganggap diri Anda sangat bijak-sana dalam perkara uang. Anda tahu cara menghasilkan uang, bagaimana menyimpannya, dan bagaimana menyediakannya untuk anak-anak dan cucu-cucu Anda. Tetapi tidak peduli bagaimana bijaksananya Anda dalam menangani uang, Allah itu lebih bijaksana. Sebagai pilot surgawi, Dia tahu bagaimana membuat uang Anda itu terbang jauh. Dia melakukan hal ini terhadap manna dalam Perjanjian Lama, dan melakukannya juga terhadap uang pada hari ini. Masalah yang Anda hadapi adalah ini: maukah Anda mengimbangkan suplai materi dengan rela, atau apakah Anda akan memaksa Allah untuk mengimbangkannya secara ajaib, dan berdaulat? Saya dapat menjamin Anda bahwa lambat atau cepat Anda akan diseimbangkan dalam perkara keuangan ini. Mengenai hal ini, kita perlu memahami hati Allah. Dalam lubuk hati-Nya, Allah mendambakan umat-Nya seimbang dalam suplai sehari-hari. Karena itu, kita harus berkata kepada-Nya, “Tuhan, terima kasih kepada-Mu yang telah membuat aku dapat mengumpulkan manna. Tetapi Tuhan, aku tidak mau menyimpan manna ini bagi diriku sendiri, aku ingin membagikannya dengan orang lain.” Anda harus ingat, entah Anda dengan rela atau tidak membagikannya dengan orang lain, pada akhirnya hasilnya akan sama. Hasilnya adalah: orang yang mengumpulkan sedikit tidak akan kekurangan dan orang yang mengumpulkan banyak tidak akan kelebihan. Jadi, bila kita tidak membagi apa yang kita miliki dengan orang lain, itu adalah bodoh.

MENABUR DENGAN BERKAT

Bagaimana dengan menabur benih? Menurut pasal 9, pemberian kita itu bukan hanya sama dengan pengumpulan kita seperti dalam pasal 8, melainkan juga sama dengan menabur. Pemberian kita sama dengan mengumpulkan dan menabur. Pengumpulan manna ini ajaib. Kita telah menekankan bahwa manna yang dikumpulkan oleh bangsa Israel itu secara ajaib seimbang, sehingga tidak ada seorang pun yang kekurangan dan tidak ada seorang pun yang kelebihan. Sekarang dari pasal 9 kita harus melihat bahwa pemberian kita juga sama dengan menabur.

Menurut 2Korintus 9:6, “Orang yang menabur dengan kikir, akan menuai dengan kikir; orang yang menabur dengan berkat, akan menuai dengan berkat” (Tl.). Dalam ayat 6 kita memiliki pemikiran tentang menabur untuk keuntungan orang lain. Tetapi petani manakah, ketika ia menabur benih di ladangnya, memiliki pemikiran menabur untuk orang lain? Tentunya, kebanyakan petani memiliki konsepsi menabur untuk diri mereka sendiri. Namun, penaburan semacam ini tidak dengan berkat. Menabur dengan berkat adalah memberikan kepada orang lain. Ini adalah menabur dengan berkat kepada orang lain. Ketika kita memberikan uang kita, berarti kita sedang menabur dan penaburan ini bukanlah untuk diri kita sendiri, melainkan untuk orang lain. Jika kita menabur dengan berkat untuk orang lain, kita akan menuai dengan berkat dari Allah.

BELAJAR MEMBERI

Sebagai anak-anak Allah, kita semua harus belajar memberi. Memberi adalah mengumpulkan. Berapa banyak manna yang dapat kita kumpulkan itu tergantung pada berapa banyak yang kita berikan. Dalam Lukas 6:38 Tuhan Yesus berkata, “Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Ayat ini menunjukkan bahwa jika kita ingin menerima, yaitu mengumpulkan, kita perlu memberi lebih dulu. Pemberian kita adalah pengumpulan kita, penerimaan kita. Setiap hari kita semua perlu mengumpulkan manna. Karena pengumpulan kita adalah pemberian kita, maka kita semua perlu memberi untuk mengumpulkan. Kita mengumpulkan sedikit karena kita memberi sedikit. Kiranya kita semua terkesan bahwa pemberian kita adalah pengumpulan kita.

Dalam perkara memberi dan mengumpulkan, ada keajaiban-keajaiban ilahi yang terlibat. Kita tidak boleh percaya secara takhayul bahwa semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak yang akan kita terima. Jika ini adalah cara kita dalam memahami perkara ini, maka motivasi kita dalam memberi berarti mendapatkan kekayaan bagi diri kita sendiri. Yang penting di sini berhubungan dengan tangan pengimbangan Allah. Dia akan menyalurkan suplai itu sehingga kita tidak akan miskin atau kaya. Dia benar-benar mempraktekkan satu pengimbangan ilahi dan surgawi. Dia tahu bagaimana mengimbangkan kekayaan di antara umat-Nya.

Selama lebih dari lima puluh tahun, saya telah hidup oleh iman dalam Tuhan. Sering kali saya menjadi sangat miskin. Meskipun demikian, saya dapat bersaksi bahwa sekalipun saya sangat miskin, tetapi saya tidak pernah kekurangan apa pun. Saya mengumpulkan sedikit, tetapi saya tidak kekurangan. Pada waktu-waktu lainnya, saya memiliki suplai yang berlimpah, bahkan uang yang sangat banyak. Namun, saya harus bersaksi bahwa saya tidak me-miliki kelebihan apa pun. Karena itu, saya dapat bersaksi dari pengalaman saya bahwa bila saya mengumpulkan banyak, saya tidak kelebihan dan bila saya mengumpulkam sedikit, saya tidak kekurangan. Siapakah yang mengimbangkan suplai ini dengan cara demikian? Ini dilakukan oleh Allah dengan pengimbangan surgawi-Nya.

Jika kita berusaha untuk mengumpulkan lebih banyak daripada yang kita perlukan, pada akhirnya kita akan melihat uang yang kelebihan itu terbang jauh. Jika Anda terlalu banyak menyimpan kelebihan uang, maka uang Anda itu kelihatannya memiliki sayap dan akan terbang jauh dari Anda. Penyebab kejadian ini adalah karena di surga Allah mengimbangkan kekayaan sosial anak-anak-Nya.

Kita telah melihat bahwa memberi adalah perkara mengumpulkan dan menabur. Menabur menghasilkan penuaian. Hukum alam menunjukkan bahwa kita harus menabur dulu, baru menuai. Ketika kita menabur, kita harus menabur dengan murah hati, bukan dengan kikir. Jika kita menabur dengan kikir, kita akan menuai dengan kikir. Tetapi jika kita menabur dengan murah hati, maka kita juga akan menuai dengan murah hati. Dalam penaburan kita, kita adalah orang-orang yang murah hati dan lapang. Tetapi ketika kita menuai, kita akan menemukan bahwa Allah adalah Dia yang murah hati, yang lapang.

Mengapa Paulus menambahkan pasal 9 ini? Ia menambahkan pasal ini untuk memberikan ilustrasi yang lebih lanjut tentang pemberian. Kita telah menunjukkan bahwa dalam 2Korintus 9 Paulus memakai perkara menabur untuk menggambarkan pemberian. Karena itu, dari pasal 8 dan 9 kita nampak bahwa pemberian adalah mengumpulkan juga menabur. Dua konsepsi yang ada di lubuk hati Paulus ini mengendalikan tulisannya dalam dua pasal ini.

MEMBERI DAN MENGUMPULKAN

Paulus bukanlah seorang penulis yang dangkal. Sebaliknya, ia sangat dalam dan pemikirannya luhur. Dalam pembacaannya akan Perjanjian Lama, ia menyadari bahwa Keluaran 16 membicarakan tentang umat Allah mengumpulkan apa yang mereka perlukan untuk suplai mereka sehari-hari. Menurut konsepsi Paulus, hari ini kita berada di padang gurun. Setiap hari kita bekerja, namun sebenarnya kita sedang mengumpulkan manna. Tetapi pengumpulan kita ini harus beralih kepada pemberian. Jika kita tidak memberi, kita tidak akan dapat terus mengumpulkan. Kita bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi perolehan uang ini harus menjadi pemberian kita. Maka apa saja yang kita berikan itu akan menjadi pengumpulan kita, seperti yang digambarkan dengan manna yang dikumpulkan oleh bangsa Israel di padang gurun. Sekarang kita dapat melihat bahwa Paulus menyamakan pemberian kita dengan pengumpulan manna ini. Pemikiran ini dalam dan luhur.

MEMBERI DAN MENABUR

Dalam pasal 9 Paulus selanjutnya menyamakan pemberian kita dengan perkara menabur benih. Karena pemikirannya yang dalam itu tidak sepenuhnya diekspresikan dalam pasal 8, maka Paulus melanjutkan menulis pasal lainnya yang berhubungan dengan pemberian ini. Pasal ini mewahyukan aspek lain pemberian, yaitu aspek menabur. Di sini pemikiran Paulus adalah bahwa kita harus menabur, baru kita akan menuai. Selain itu, ketika kita menabur, kita harus menabur bukan sekadar untuk diri kita sendiri, melainkan menabur dengan berkat bagi orang lain.

Banyak terjemahan Alkitab yang tidak menerjemahkan ayat 6 ini secara harfiah. Sebagai pengganti “dengan berkat”, beberapa versi mengatakan “banyak” atau “menabur dengan limpah”. Menurut terjemahan ini, jika kita menabur dengan limpah, maka kita akan menuai dengan berlimpah. Namun, ini adalah pemahaman yang alamiah akan perkataan ini. Apa yang Paulus bicarakan di sini secara harfiahnya adalah menabur “dengan berkat”. Pemberian kita kepada orang lain harus dengan berkat.

Bagian lain dari Kitab Suci lainya membantu kita memahami kata “berkat” dalam 9:6. Dalam Perjanjian Lama kita dapat melihat bahwa pemberian itu merupakan satu berkat. Ketika Yakub menemui kakaknya Esau, Yakub memberinya sesuatu. Pemberian itu merupakan satu berkat. Mengenai hal ini Kejadian 33:11 mengatakan, “Terimalah kiranya tanda pemberian salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan aku pun mempunyai segala-galanya.” Ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa pemberian merupakan berkat adalah 2Raja-raja 5:15, Hakim-hakim 1:15; dan Yehezkiel 34:26. Pemberian kita kepada orang lain adalah satu berkat bagi mereka.

Ketika kita menabur dengan berkat kepada orang lain, kita akan menuai dengan berkat dari Allah. Selain itu, tuaian ini akan selalu melampaui jumlah yang ditaburkan. Tuaian ini akan menjadi tiga puluh kali lipat atau bahkan seratus kali lipat. Ini tidak terjadi secara ajaib; ini terjadi menurut hukum alam. Allah mengendalikan suplai hayat di antara anak-anak-Nya secara ajaib. Karena itu, tidak ada keluarga Kristen yang dapat mempertahankan kekayaannya dari generasi ke generasi. Tetapi menabur adalah menurut hukum alam, bukan menurut keajaiban. Terhadap hal ini, Allah tidak perlu melakukan apa-apa secara ajaib. Kita semua perlu menabur, yaitu memberi. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak yang akan kita tuai. Namun, kita tidak boleh melakukan hal ini secara takhayul untuk tujuan mendapatkan kekayaan bagi diri kita sendiri.

Dua ilustrasi tentang pengumpulan dan penaburan ini berhubungan dengan pemikiran Paulus yang dalam di dalam pasal-pasal ini. Dalam pasal 9 ada pemikiran yang dalam yaitu bahwa sebagai orang-orang Kristen, kita memberi dalam hal seperti menabur. Jika kita tidak memberi, berarti kita tidak bertani, tidak menabur. Selain itu, kita tidak boleh menabur dengan kikir. Jika kita menabur dengan kikir, maka menurut hukum alam ini, kita juga akan menuai dengan kikir. Kita perlu menabur dengan berkat kepada orang lain. Jika kita menabur dengan berkat kepada orang lain, maka, menurut hukum alam ini, kita juga akan menuai dengan berkat dari Allah. Berkat ini berkali-kali lebih banyak daripada apa yang kita taburkan. Saya dapat bersaksi bahwa dalam kehidupan kristiani saya, saya belum pernah melihat seorang beriman yang telah memberi kepada Allah yang tidak diberkati oleh-Nya secara besar-besaran. Tuhan selalu akan menghormati hukum alam yang telah ditentukan-Nya.

MENJADI FAKTOR UCAPAN SYUKUR

KEPADA ALLAH

Kita perlu mengakui tangan Tuhan yang ajaib dan juga memperhatikan hukum alam-Nya. Menurut dua aspek ini, kita perlu memberi. Mungkin sekarang Anda tidak melihat tangan pengimbangan Allah. Tetapi setelah jangka waktu yang lama, mungkin bertahun-tahun kemudian, Anda akan melihatnya. Kemudian Anda akan dapat bersaksi tentang bagaimana Allah menyeimbangkan suplai sehari-hari di antara anak-anak-Nya. Kita juga harus sadar bahwa pemberian adalah perkara menabur. Karena itu, jika kita ingin menuai, kita harus menabur dengan berkat kepada orang lain. Kemudian kita akan menuai dengan berkat dari Allah.

Kita harus menabur banyak dan dengan demikian akan menuai banyak juga. Sasarannya bukanlah untuk membuat diri kita sendiri kaya. Hasilnya adalah ucapan syukur yang melimpah kepada Allah. Saya harap di waktu mendatang banyak orang saleh yang akan menjadi faktor ucapan syukur kepada Allah. Ini berarti pemberian Anda akan melimpah dalam ucapan syukur kepada Allah. Saya memiliki keyakinan yang penuh bahwa jika kaum saleh dalam pemulihan Tuhan rela untuk memberi, maka pemulihan ini tidak mungkin kekurangan suplai materi. Bukannya kekurangan, malah melalui banyak orang saleh ada ucapan syukur yang melimpah kepada Tuhan. Karena itu, marilah kita semua melakukan pemberian, yaitu pemberian yang dilaksanakan dengan mengumpulkan dan menabur.

BEBERAPA HAL YANG BERHUBUNGAN

DENGAN MEMBERI

Dalam 2Korintus 9:5 Paulus mengatakan, “Sebab itu, aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya, agar nanti tersedia sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan.” Pemberian ini merupakan satu berkat, pemberian sukarela yang diberikan kepada orang lain sebagai berkat. Pemberian yang rela dan murah hati menjadikan pemberian itu berkat bagi penerima. Pemberian yang tidak rela dan terpaksa, terkendali oleh hati yang tamak, menjadikan pemberian itu suatu ketamakan bagi pemberi.

Dalam ayat 7 Paulus mengatakan, “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Ini berasal dari Amsal 22:9, Septuagin menyatakan, “Allah memberkati orang yang murah hati” (Tl.).

Dalam ayat 8 dan 9 Paulus melanjutkan, “Lagi pula, Allah sanggup melimpahkan segala anugerah kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah bekelebihan di dalam berbagai perbuatan baik. Seperti ada tertulis: ‘Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.’” Kata-kata “segala anugerah” dalam ayat 8 ini mengacu kepada setiap macam anugerah. Membagi-bagikan dalam ayat 9 adalah menyebarkan seperti dalam menabur. Kata miskin dalam ayat ini mengacu kepada orang yang harus membanting tulang mencari nafkah sebagai tenaga kasar/rendah. Ini bukan kata umum untuk miskin.

Dalam ayat 9 Paulus mengatakan bahwa kebenaran tetap untuk selamanya. Pemberian yang murah hati, di satu pihak merupakan berkat bagi penerimanya, di pihak lain merupakan kebenaran dalam pandangan Allah dan manusia.

Dalam ayat 13 Paulus membicarakan tentang pengakuan dari ministri pemberian suplai materi kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Ini mengacu kepada pengakuan oleh orang-orang kudus yang kekurangan di Yudea tentang pelayanan kaum beriman kafir kepada mereka. Kata Yunani, dokime, berarti tes, ujian, pencobaan; jadi mengandung arti pengakuan, bukti. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kepada kaum saleh akan diuji, dicoba, dan di-akui oleh kaum saleh untuk membuktikan ciri-ciri pelayanan yang murah hati itu.

Kata Yunani untuk membagikan dalam ayat 13 juga berarti persekutuan (lihat “menanggung” dalam Roma 12:13, dan “mendukung” dalam Filipi 4:15). Mengacu kepada perkara pemberian, ini adalah persekutuan antara kaum beriman kafir dengan kaum beriman Yahudi.

Dalam ayat 14 dan 15 Paulus menutup, “Sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu karena anugerah Allah yang melimpah atas kamu. Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” Karunia yang tak terkatakan ini adalah kasih karunia Allah yang diberikan kepada kaum beriman.