← Daftar isi 2 Korintus (3) · bab 10/19

PEMBELAAN PAULUS AKAN KUASA KERASULANNYA (1)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 10:1-6

Sewaktu kita membaca Kitab 2Korintus, kita mungkin mengira bahwa menjelang akhir pasal 9 Paulus telah menyinggung semua butir yang perlu dibicarakan dan bahwa ia tidak perlu menulis lebih lanjut. Namun, dalam empat pasal yang terakhir dari Surat Kiriman ini, Paulus menyinggung perkara penting lainnya yang ada di dalam hatinya. Ini adalah perkara kuasa kerasulannya. Ia mengatakan sedikit tentang hal ini dalam 1Korintus, tetapi karena waktunya tidak tepat, ia tidak dapat menyinggungnya secara memadai. Ketika 1Korintus ditulis, situasinya belum siap bagi Paulus untuk sampai kepada perkara kuasa kerasulannya ini. Tetapi sampai 2Korintus 10, badai itu telah reda, dan segala sesuatunya telah tenang. Maka, ada atmosfir yang hening, sehingga setiap orang tenang dan damai. Dalam atmosfir dan keadaan yang demikian, Paulus menyinggung masalah kuasa kerasulannya. Dalam pasal 10, 11, 12 dan sebagian pasal 13, Paulus menaruh perkara ini ke hadapan orang-orang Korintus dan membereskannya dari berbagai sudut.

Karena ia adalah seorang penulis yang unggul, maka Paulus selalu membereskan perkara apa pun secara menyeluruh, dan tidak meninggalkan dasar untuk argumentasi apa pun. Seperti yang akan kita lihat, prinsip ini berlaku atas perkara pembelaan Paulus akan kuasa kerasulannya. Kaum beriman Korintus perlu jelas tentang perkara ini, dan kita juga perlu jelas tentang perkara ini.

SUATU KONTRAS

Dalam 2Korintus 10:1 Paulus mengatakan, “Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan (menasihati) kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.” Perhatikanlah bahwa ayat ini dimulai dengan kata “tetapi”. “Tetapi” di sini menunjukkan sesuatu yang berbeda. Dalam pasal 8 dan 9 rasul dengan gembira berbicara kepada kaum saleh terkasih di Korintus, mendorong mereka memiliki persekutuan dalam pemberian kepada kaum saleh yang kekurangan di Yudea. Segera setelah itu, dia dengan perkataan yang tajam dan tidak menyenangkan menjelaskan kerasulannya, bahkan membela kuasa kerasulannya, dengan harapan melalui ini rasul lebih jelas menyatakan dirinya kepada mereka. Ini diperlukan karena situasi suram dan tidak menentu yang ditimbulkan oleh para rasul agama Yahudi yang palsu (2Kor. 11:11-15). Pengajaran dan penyebutan para rasul palsu atas diri mereka sendiri telah mengalihkan perhatian kaum beriman Korintus dari pengajaran-pengajaran mendasar para rasul sejati, terutama terhadap pengenalan yang tepat akan kedudukan Paulus sebagai rasul.

Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa bagian dari 2Korintus ini sangat kontras dengan bagian sebelumnya. Perkataan Paulus dalam pasal 6 sampai 9 itu menyenangkan, tetapi dalam pasal 10 sampai 13 perkataannya ada kalanya keras dan tidak menyenangkan. Sewaktu kita membaca empat pasal yang terakhir dari kitab ini, kita mungkin mengira bahwa Paulus telah kehilangan perhatiannya yang lembut dan akrab. Ada yang bahkan mengkritik dia karena kekerasannya. Sebenarnya, ini adalah karena Paulus begitu rohaninya sehingga ia dapat menulis pasal-pasal ini sedemikian.

CARA PAULUS MENASIHATI

Dalam 2Korintus 10:1 Paulus memberi tahu kita bahwa ia menasihati orang-orang Korintus demi kelemah-lembutan dan keramahan Kristus. Tetapi ia tidak memberi tahu kita tujuan dari nasihatnya itu. Ia memberi tahu kita bagaimana ia menasihati, tetapi ia tidak mengatakan mengapa ia menasihati. Jika Anda membaca sisa pasal ini, dan berusaha mencari tujuan dari nasihat Paulus ini, Anda tidak akan dapat menemukannya. Paulus tidak menyatakan tujuan nasihatnya. Lalu, apakah ia membuat kesalahan dalam tulisannya? Tidak, Paulus lebih memperhatikan bagaimana ia menasihati kaum saleh bukan tujuannya menasihati mereka. Ini menunjukkan bahwa cara Paulus menasihati itu lebih penting daripada tujuan nasihatnya. Karena alasan ini, maka Paulus menunjukkan bahwa ia menasihati kaum beriman demi kelemahlembutan dan keramahan Kristus.

Misalnya, jika seorang saudara yang berkhotbah hanya memperhatikan tujuannya dalam berkhotbah, dan tidak memperhatikan cara ia menyampaikan khotbah itu, ini akan menjadi satu kesalahan yang serius. Kita harus belajar dari Paulus untuk lebih memperhatikan cara kita melakukan sesuatu daripada memperhatikan tujuan kita dalam melakukan hal itu. Sebenarnya Allah lebih memperhatikan cara kita melakukan sesuatu daripada memperhatikan tujuan kita, sasaran kita, dalam melakukan hal-hal itu. Namun, banyak orang Kristen pada hari ini yang hampir tidak pernah memperhatikan cara mereka melakukan sesuatu; mereka mengutamakan memperhatikan tujuan, sasaran, dan hasilnya. Ada satu pepatah bahwa tujuan menghalalkan cara. Orang-orang yang menganut pepatah ini tidak memperhatikan cara melakukan sesuatu; mereka hanya memperhatikan tujuan mereka. Konsep ini menyedihkan dan perlu dihakimi.

Orang-orang Kristen mungkin mengira bahwa selama tujuan mereka adalah melakukan satu pekerjaan bagi Tuhan, mereka tidak perlu memperhatikan sarana untuk menggenapkannya. Misalnya, dalam memberitakan Injil mereka mungkin memakai metode-metode atau hiburan-hiburan duniawi. Karena itu, saya ingin menekankan bahwa dalam Alkitab Allah memperlihatkan bahwa Dia lebih memperhatikan cara kita daripada tujuan kita. Sebagai seorang duta besar surgawi, Paulus juga lebih memperhatikan cara melakukan sesuatu daripada tujuannya. Inilah alasannya menggambarkan cara ia menasihati orang-orang Korintus, tetapi ia tidak menyinggung tujuannya. Kiranya kita semua belajar dari dia dalam perkara ini.

KELEMAHLEMBUTAN

DAN KERAMAHAN KRISTUS

Dalam 2Korintus 10:1 Paulus mengatakan bahwa ia menasihati demi kelemahlembutan dan keramahan Kristus. Ini menunjukkan bahwa rasul dengan teguh dilekatkan pada Kristus (1:21) dan bersatu dengan Dia, hidup oleh Dia, berperilaku dalam kebajikan-Nya. Semua kebajikan Kristus menjadi kebajikan Paulus. Lemah lembut adalah satu kebajikan dalam keinsanian Kristus berdasarkan hayat ilahi. Kelemahlembutan Kristus bukanlah satu perkara yang sederhana, karena kelemah lembutan ini ada dalam keinsanian-Nya dan oleh hayat ilahi. Ketika Dia di bumi, Dia menempuh satu kehidupan insani oleh hayat ilahi. Melalui perbauran keilahian dan keinsanian ini, kebajikan kelemahlembutan dimanifestasikan.

Prinsipnya sama dengan kebajikan keramahan Kristus. Ramah adalah kebajikan lain dari Kristus yang diperhidupkan dalam keinsanian-Nya oleh hayat ilahi. Tahukah Anda perbedaan antara kelemahlembutan dan keramahan? Memiliki kebajikan lemah lembut berarti Anda tidak melawan orang lain atau bertengkar dengan mereka. Sebaliknya, Anda rela mengalah. Orang yang lemah lembut selalu mengalah terhadap orang lain. Tetapi orang yang kuat dalam alamiahnya bertengkar dan menolak untuk mengalah. Sedikitnya, mereka akan membela diri. Namun, orang yang lemah lembut mengalah, tidak bertengkar, dan tidak menyerang daerah orang lain. Memiliki keramahan berarti rela membiarkan orang lain menyerang. Ini berarti ramah itu menderita kesusahan dan luka-luka. Lemah lembut itu tidak menyerang orang lain, tetapi mengalah terhadap mereka; ramah berarti Anda rela diserang oleh orang lain. Ini adalah dua kebajikan Kristus yang diperhidupkan dalam keinsanian-Nya oleh hayat ilahi.

Karena Paulus memperhidupkan Kristus, maka kebajikan Kristus menjadi kebajikannya. Frase “demi Kristus yang lemah lembut dan ramah” menunjukkan bahwa Paulus bersatu dengan Kristus dan mengambil Kristus sebagai hayatnya. Karena itu, ia menasihati kaum beriman bukan bersandarkan dirinya sendiri, melainkan menasihati mereka dengan kebajikan Kristus, terutama dengan kelemahlembutan dan keramahan Kristus. Paulus menasihati orang lain berdasarkan Kristus, dalam Kristus, dan dengan Kristus.

PRIBADI PAULUS

Setelah memberi tahu kita cara ia menasihati, Paulus selanjutnya membicarakan tentang dirinya, orang yang bagaimanakah dia itu. Paulus mengatakan dalam ayat 1, “Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan.” Gambaran pribadi Paulus ini cocok dengan pokok bahasan 2Korintus. Pokok bahasan Surat Kiriman ini adalah Paulus adalah orang yang bagaimana dan ia menempuh kehidupan yang bagaimana. Paulus tidak terlalu memperhatikan pekerjaan yang ia lakukan; ia jauh lebih memperhatikan pribadi dan kehidupannya. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam pasal 10 ia bahkan tidak menyinggung tujuan dari nasihatnya. Ia begitu memperhatikan cara ia menasihati sehingga ia tidak menyinggung mengapa ia menasihati.

Mengenai pribadinya, Paulus mengatakan bahwa ia tidak berani bila berhadapan muka dengan orang-orang Korintus, tetapi ia berani bila ia berjauhan dari mereka. Dalam Surat Kirimannya, rasul berani membicarakan situasi yang sesungguhnya di antara orang-orang Korintus. Kita dapat belajar dari Paulus untuk menjadi lemah lembut di hadapan orang lain, tetapi berani bila kita tidak hadir di antara mereka. Ketika Anda bersama seseorang, Anda tidak boleh terlalu berani. Namun, Anda boleh berani dalam menulis surat kepada orang itu. Ada yang mungkin mengatakan, “Aku berani bila aku ada bersama-sama dengan seseorang; namun, bila aku tidak ada bersama dengan orang itu, keberanianku itu kelihatannya menguap.” Ini menunjukkan bahwa keberanian Anda di hadapan orang itu tidak tepat. Jika keberanian Anda tidak menguap setelah Anda meninggalkan seseorang, maka itu baru keberanian yang tepat. Paulus sangat berani dalam menulis kepada orang-orang Korintus. Tetapi jika kita ada di hadapan Paulus, kita akan melihat bahwa ia itu lemah lembut dan merendah.

Ada banyak hal untuk kita pelajari dari cara Paulus bertingkah laku. Bila kita ingin menghadapi seseorang dengan berani, kita harus menunggu sampai kita tidak lagi berada di hadapan orang itu dan memperhatikan apakah keberanian kita itu tetap ada. Inilah cara Paulus dalam menanggulangi orang-orang Korintus. Ia menasihati mereka demi kelemahlembutan dan keramahan Kristus, dan ia merendah ketika berada di antara mereka, tetapi berani dalam menulis kepada mereka. Dalam ayat-ayat ini kita nampak kelemahlembutan, keramahan, kerendahan, dan keberanian yang tepat dari Paulus.

PEPERANGAN ROHANI

Dalam ayat 3 Paulus selanjutnya membicarakan tentang peperangan rohani: “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang dalam daging” (Tl.). Sebagai manusia, para rasul masih berada di dalam daging. Karena itu, mereka hidup di dalam daging. Tetapi terutama dalam perjuangan (peperangan) rohani, mereka tidak hidup menurut daging, melainkan menurut roh (Rm. 8:4).

Dalam ayat 3 Paulus sepertinya berkata, “Karena kami masih berada dalam ciptaan lama, maka kami masih berada dalam daging. Tetapi kami tidak hidup menurut daging. Terutama, kami tidak berperang menurut daging. Aku tidak menyangkal bahwa aku masih berada di dalam daging, tetapi aku bukanlah seorang yang hidup, berbicara, dan bertindak tanduk menurut daging. Sebaliknya, aku hidup menurut roh. Karena itu, dalam peperangan rohani, aku berperang menurut roh. Hai orang-orang Korintus, kamu telah salah dalam berpikir bahwa kami para rasul berperang menurut daging. Tidak, peperangan kami adalah menurut roh.”

Dalam ayat 4 dan 5 Paulus melanjutkan, “Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata milik daging, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (Tl.). Peperangan rohani bukan melawan daging, tetapi melawan kekuatan rohani (Ef. 6:12), karena itu senjata-senjatanya bukanlah senjata milik daging, melainkan yang rohani. Senjata-senjata rohani ini memiliki kekuatan untuk meruntuhkan benteng-benteng musuh.

Siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran berada di dalam dan berasal dari pikiran. Di dalam pikiran orang-orang yang tidak taat kepada Allah, siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran adalah benteng-benteng yang kuat dari Iblis, musuh Allah. Melalui peperangan rohani, siasat-siasat harus diruntuhkan dan setiap pemikiran harus ditawan untuk menaati Kristus.

Kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia dalam ayat 5 ini mengacu kepada perkara-perkara sombong yang ada di dalam benak yang jatuh, yang menentang pengenalan akan Allah. Perkara-perkara ini harus diruntuhkan dengan senjata-senjata rohani, sehingga pikiran-pikiran itu tidak lagi menghalangi orang mengenal Allah.

Sasaran peperangan rohani ini adalah meruntuhkan benteng-benteng Iblis dalam pikiran manusia yang menentang Allah. Benteng-benteng ini adalah pikiran-pikiran yang sombong, pemikiran-pemikiran yang angkuh, dan imajinasi dalam pikiran manusia. Imajinasi-imajinasi yang angkuh dan pemikiran-pemikiran yang sombong adalah benteng-benteng yang dibangun oleh Iblis dalam pikiran manusia. Ini berlawanan dengan pengenalan akan Allah. Sasaran peperangan kita adalah meruntuhkan benteng-benteng ini. Orang-orang memberontak terhadap Allah karena benteng-benteng ini, yaitu karena siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran yang sombong. Karena itu, kita harus berperang melawan hal-hal ini supaya setiap pemikiran dapat ditawan kepada ketaatan Kristus.

Dalam ayat 6 Paulus mengatakan, “Dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bilamana ketaatan kamu telah menjadi sempurna.” Kata menghukum di sini adalah perkataan teguran yang hebat dan berani. Paulus menyinggung masalah ketaatan, ini menunjukkan bahwa ketaatan kita memberikan suatu dasar bagi Tuhan untuk menanggulangi kedurhakaan orang lain.

Pada zaman Paulus ada banyak orang Yahudi yang percaya kepada Kristus dan kemudian mengambil kedudukan sebagai guru-guru. Dalam pengajaran mereka, mereka memberikan tempat yang utama kepada hukum Taurat. Akibatnya, dalam ajaran mereka Injil Perjanjian Baru dicampurkan dengan hukum Taurat Perjanjian Lama. Hal ini menimbulkan kesulitan terutama ketika Injil sampai ke dunia kafir di bawah kerasulan Paulus.

Orang-orang agama Yahudi, yaitu orang-orang yang mencampuradukkan Perjanjian Baru dengan Perjanjian Lama, tidak setuju dengan Paulus. Memang pengajaran Paulus jauh berbeda dengan pengajaran mereka. Beberapa orang dari antara mereka sengaja pergi ke bangsa-bangsa kafir untuk mengunjungi gereja-gereja di sana untuk mempropagandakan pengajaran agama Yahudi mereka. Akibatnya, mereka menyebabkan banyak kerusakan terhadap gereja-gereja. Menurut kitab Galatia dan 1 dan 2 Korintus, kita nampak bahwa para penganut agama Yahudi ini pergi ke Galatia dan Akhaya, menghasut kaum beriman itu dan menimbulkan kesulitan. Dalam 1 dan 2 Korintus kita nampak bahwa kaum beriman di Korintus telah diinfusi dan terhasut dengan pengajaran-pengajaran agama Yahudi.

Perkataan Paulus dalam 2Korintus 10:5 mengenai siasat-siasat dan pemikiran-pemikiran sombong yang bangkit melawan pengenalan akan Allah itu dikatakan dengan mengacu kepada pengajaran-pengajaran dari para penganut agama Yahudi. Inilah latar belakang dari apa yang ditulis Paulus dalam ayat ini. Kita telah nampak bahwa Paulus mengatakan bahwa peperangan para rasul adalah untuk merubuhkan benteng-benteng, siasat-siasat, dan pemikiran-pemikiran yang sombong yang bangkit melawan pengenalan akan Allah yang sejati dan tepat dalam Perjanjian Baru. Selain itu, Paulus mengatakan bahwa sasaran dari peperangannya adalah menawan setiap pemikiran kepada ketaatan Kristus. Dalam pikirannya Paulus terutama memikirkan pemikiran-pemikiran yang bersumber dari pengajaran-pengajaran agama Yahudi itu.

Di satu pihak, guru-guru agama Yahudi ini menyatakan bahwa mereka berasal dari Kristus. Di pihak lain, mereka mengajarkan banyak hal mengenai hukum Taurat yang sebenarnya bertentangan dengan Kristus. Mereka percaya kepada Kristus namun mengajarkan perkara-perkara yang bertentangan dengan Dia. Mereka tidak memiliki penyerahan yang penuh kepada Kristus atau ketaatan yang mutlak kepada-Nya. Dalam pemikiran mereka ada sesuatu yang perlu ditaklukkan. Karena itu, pengajaran Paulus dalam 2Korintus ini merupakan satu peperangan terhadap pemikiran-pemikiran, siasat-siasat, dan imajinasi-imajinasi agama Yahudi. Ini adalah satu peperangan untuk menawan pemikiran-pemikiran yang dipengaruhi oleh pengajaran-pengajaran agama Yahudi itu kepada ketaatan Kristus.

Ayat 6 menunjukkan bahwa di antara kaum saleh di Korintus ada beberapa orang yang berada di bawah pengaruh siasat-siasat, pemikiran-pemikiran agama Yahudi yang memberontak. Karena alasan ini, maka Paulus mengatakan bahwa ia siap sedia untuk menghukum setiap kedurhakaan bila ketaatan orang-orang Korintus ini telah penuh. Kedurhakaan dalam ayat ini mengacu kepada apa yang berasal dari pengajaran-pengajaran agama Yahudi. Kesiapan Paulus untuk menghukum kedurhakaan ini memiliki satu syarat, dan syarat ini adalah ketaatan orang-orang Korintus. Mereka perlu terlebih dulu mutlak taat kepada Injil Kristus. Mereka tidak dapat setengah untuk Perjanjian Baru dan setengahnya lagi untuk Perjanjian Lama. Bahkan setengah bagi hukum Taurat itu pun merupakan pemberontakan dan kedurhakaan. Ketika orang-orang Korintus sepenuhnya taat kepada Injil Perjanjian Baru, maka situasinya tepat bagi Paulus untuk menghukum semua kedurhakaan. Situasi di Korintus memberikan satu dasar kepadanya untuk menanggulangi kedurhakaan para penganut agama Yahudi. Inilah penafsiran yang tepat terhadap bagian dari firman ini.