ALLAH MEMERLUKAN DOA MANUSIA
Kalau Allah bisa bekerja tanpa melalui doa manusia, lalu, mengapa Dia tidak bekerja menurut waktu yang Ia tetapkan? Mengapa sebaliknya ada penundaan dan penghalangan? Mengapa Paulus berkata, "Tetapi Iblis telah mencegah kami?" (1 Tes. 2:18). Mengapa Allah menegur gereja-Nya karena tidak berdoa? Mengapa Allah menyuruh orang yang ingat kepada-Nya "Janganlah biarkan Dia tinggal tenang?" (Yes. 62:7). Mengapa Kristus berkata, "Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu?" (Mat. 9:38). Mengapa Dia tidak mengesampingkan doa untuk segera mengutus pekerja-pekerja-Nya?
Ketika seorang beriman tampak nilai berdoa -- berdoa adalah keperluan untuk pekerjaan Allah -- kekuatan kegelapan akan menyerang hayat doanya, akan menghalangi atau menghentikan doanya. Ketika seorang beriman mulai berdoa untuk suatu perkara, dia akan menurut pengetahuan dan pertumbuhan hayat rohaninya tampak apa yang dapat Allah lakukan, apa yang perlu manusia kerjakan. Saat ini, Iblis datang mengganggu dia (orang beriman), menghentikan orang beriman dari melakukan "syarat" Allah. Dengan demikian menghalangi ekonomi Allah.
Namun saat ini, orang yang berdoa seperti orang yang berjaga-jaga di tempat yang tinggi melihat ke bawah, dengan jelas mengamati sekelilingnya, lalu demi keperluan perampungan suatu perkara dia mulai "berdoa", supaya Allah bisa meneruskan pekerjaan-Nya -- doanya akan menghapuskan halangan yang berasal dari dua aspek, aspek manusia dan Iblis. Kalau ada orang kekurangan pengetahuan rohani, pada titik itu dia memusatkan doanya, berdoa terus sampai dia mengerti. Mungkin dia tidak bertumbuh dalam pengetahuan karena sedang diserang oleh Iblis, maka dia harus menentang kuasa gelap yang menghalanginya untuk mengerti. Jadi, orang yang berdoa harus mempunyai pengetahuan, mempunyai pandangan untuk mengatur hayat doanya, sehingga bisa melihat dengan jelas setiap titik pekerjaannya, mengetahui di mana ada penghalang, di mana ada kelancaran. Pengetahuan doa semacam ini didapatkan dari pengalaman dan wahyu.
Bagaimana doa bisa mempengaruhi diri Iblis? Doa membelenggu Iblis, dan melarang Iblis berbicara. Kristus pernah melarang setan-setan berbicara. Doa itu sendiri tidak ada kekuatan. Kalau meninggalkan Allah, doa terhadap Allah pun hanya mempunyai nilai dalam perkataan saja. Nilai sejati dari doa tergantung pada mendapatkan jawaban. Melalui doa, Allah bisa menurut ketetapan-Nya menggenapkan apa yang diminta dalam doa.
Jika Anda mau supaya perbuatan Iblis diruntuhkan, lalu Anda berdoa, "Tuhan, semoga Engkau meruntuhkan pekerjaan Iblis di atas diri orang itu," maka Allah akan mulai bekerja melalui doa itu, karena Anda telah menurut ketetapan Allah memberi Dia satu kesempatan; dengan demikian Allah bisa dengan bebas bekerja, karena Anda telah mengenal ketetapan-Nya. Anda memohon Allah meruntuhkan perkara-perkara itu, Allah juga menetapkan demikian: perkara-perkara itu seharusnya diruntuhkan melalui permohonan manusia kepada Allah. Ya, Anda telah berdoa demikian. Tetapi, Allah masih berkata, "Itu masih kurang, karena permohonanmu masih kurang banyak."
Sebab itu, pertanyaan kedua ialah: menginginkan Allah bagaimana menggagalkan mereka? Di sini harus ada pengalaman dan wahyu untuk mengetahui bagaimana berdoa.
Bagaimana kita harus berdoa bagi semua orang Kristen di bumi ini? Kita harus berdoa supaya mereka mengetahui bagaimana keadaan kerohanian mereka; kita harus berdoa supaya mereka memasuki keadaan yang normal; kita harus berdoa supaya mereka jangan lagi tertipu, supaya mereka mendapatkan berkat.
Namun yang paling penting ialah kita harus paham, bagaimana keadaan kerohanian kita sendiri. Karena jika realitas kerohanian kita masih berada dalam kabut, bagaimana kita bisa melihat dengan jelas keadaan orang lain!
Bagaimana cara Iblis menghalangi doa kita? Iblis berusaha menganggu waktu dan ketenangan (perhentian) yang diperlukan oleh doa kita, melalui ini Iblis ingin menghentikan doa kita. Iblis akan membuat pekerja Kristus tertekan oleh "banyak pekerjaan yang baik", sehingga sibuk dengan perkara yang sekunder dan mengabaikan perkara yang primer. Semua pekerjaan yang baik itu memang baik sekali, tetapi ketika bisa melakukan pekerjaan yang lebih tinggi lagi, kita malah melakukan yang lebih rendah, itu sama dengan berbuat dosa. Ini bukan berarti pekerjaan yang lebih kecil itu tidak baik, tetapi ketika seharusnya melakukan perkara yang paling utama, kita malah melakukan perkara yang kurang penting, itu adalah berdosa.
Ada orang bertanya, "Mengapa berdoa ini demikian "kering"? Ini tidaklah penting; tidak peduli sifat doa itu "kering" atau "basah", tidak ada masalah. Doa yang "kering" mungkin malah lebih bernilai daripada doa yang "basah"; karena doa semacam ini, mungkin terjadi karena sedang menentang serangan dari kuasa musuh.
Orang beriman tidak boleh mencampuradukkan doa dengan penyembahan. Kita harus tampak bahwa doa adalah satu macam prosedur menangani masalah antara Allah dengan manusia.
Mengapa saat berdoa pikiran sering melayang-layang, tidak bisa konsentrasi? Ini terjadi secara alami atau merupakan pekerjaan roh jahat? Ketika seorang berlutut berdoa, sepertinya ia tidak bisa memakai pikirannya, atau ketika baru berdoa sejangka waktu, pikirannya sudah melayang-layang, sepenuhnya meninggalkan doa. Ini mungkin dikarenakan bukan waktunya ia berdoa, atau ia tidak memiliki pengetahuan "terus-menerus berdoa". Mungkin ia tidak memiliki satu beban tertentu ketika berdoa; mungkin pikiran dan rohnya dipenuhi oleh perkara yang lebih kuat atau lebih tinggi daripada perkara yang ia doakan. Mungkin saat itu dalam rohnya ada pergumulan yang sangat besar, sehingga saat itu yang harus ia lakukan ialah mengusahakan agar rohnya mendapatkan kemenangan supaya bebas dan sentosa. Ketika kerohanian orang beriman matang, ia bisa menjaga diri dalam kemenangan yang demikian, sehingga rohnya bisa melalui pikiran terekspresi dalam doa. Adakalanya roh kita sedang bergumul untuk mendapatkan kemenangan, atau mempersiapkan pekerjaan khusus tertentu. Keadaan ini bisa membuat pikiran kita kekurangan kekuatan untuk konsentrasi dalam doa. Allah hanya mau untuk tujuan yang tepat, pada waktu yang tepat, memberikan pengurapan kepada pekerjaan yang tepat. Adakalanya berdoa juga dapat berhenti karena tidak ada peperangan. Kalau orang beriman hendak berperang, ia harus membiarkan rohnya bebas, terlepas dari pergumulan, supaya ia bisa memakai semua kekuatan rohnya untuk mencapai tujuan berdoa. Manusia memiliki roh, jiwa, dan tubuh; tugas utama berdoa adalah menjaga rohnya senantisa mengendalikan jiwa dan tubuhnya; dengan demikian, bagian roh ini menjadi bagian yang terkuat; karena roh lebih kuat daripada pikiran dan tubuh, maka orang beriman bisa memikirkan atau bersimpati kepada "hal-hal rohani" (Rm. 8:5). Tidaklah mudah menjaga roh kita senantiasa memegang kendali, karena roh kita harus terlebih dulu menentang banyak urusan, kemudian baru bisa memegang kendali.
Adakalanya roh kita terasa sangat berat, terbelenggu, bahkan sulit untuk mengucapkan perkataan (Rm. 8:26-27). Kalau dalam roh kita ada beban berat, usaha yang terpenting adalah harus segera membebaskannya. Begitu roh bebas, semua kekuatan roh akan melalui doa teralir ke dalam pikiran (1 Kor. 14:15).
Kita harus setiap saat menjaga roh kita kuat. Kalau kita selalu bebas dan menjaga roh berada pada kedudukan yang tepat, Anda akan mempunyai kekuatan roh yang penuh untuk berdoa. Kalau dalam roh banyak bergumul, dengan sendirinya kebebasan dalam doa akan berkurang. Ketika kita berdoa, kalau dalam roh ada pergumulan yang besar, pikiran terus melayang-layang, itu dikarenakan kita kehilangan kekuatan untuk mengendalikan; kehilangan kekuatan untuk mengendalikan adalah pernyataan dari pikiran yang melayang-layang.
Begitu timbul pergumulan dalam roh, harus segera membereskan pergumulan tersebut. Orang beriman yang semakin rohani, rohnya semakin mudah berperang dengan kuasa kegelapan; rohnya juga semakin memiliki kekuatan untuk berkonsentrasi. Ketika orang beriman berdoa, begitu merasa kekurangan kekuatan untuk berkonsentrasi, dia harus segera tahu apakah dalam rohnya ada pergumulan atau tidak. Kalau ada, biarlah dia sementara berhenti berdoa, sampai rohnya mengalahkan perkara yang dipergumulkan. Karena kalau dia tidak bisa melalui doa membebaskan rohnya, maka perkara utamanya adalah peperangan, bukan berdoa.
Bagaimana seseorang mengetahui apakah dalam rohnya ada pergumulan? Melalui pengamatan. Harus dengan teliti mengamati rohnya, mengenal segala perkara dalam rohnya, sama seperti mengenal jelas tubuh atau otaknya. Bagaimana kita mengetahui pikiran kita melayang-layang? Yaitu melalui mengetahui kita kekurangan kekuatan untuk berkonsentrasi. Demikian juga roh kita.
Anda berkata, "Aku tidak bisa berkonsentrasi dalam doa, ini pasti dikarenakan rohku terbelenggu!" Mungkin ini adalah salah satu penyebab. Kita harus sering belajar dari pengalaman. Adakalanya roh kita terbelenggu, tetapi kita tidak mengetahuinya, sebab itu
harus melalui pengalaman belajar tentang hal ini.
Hari ini, sedikit sekali orang yang mengetahui bahwa doa adalah satu macam pekerjaan; meskipun demikian, doa tidak bisa tidak sebagai pekerjaan, sesungguhnya doa adalah pekerjaan. Meskipun para rasul pada hari Raya Pentakosta telah dipenuhi oleh Roh Kudus, tetapi mereka tidak hanya memusatkan diri dalam pelayanan firman, juga memusatkan diri dalam berdoa. Bukti kekuatan Allah yang paling dalam dan besar yang bisa didapatkan oleh manusia adalah kekuatan doanya. Semakin besar kekuatan doanya, semakin besar hasil pekerjaannya. Dengan demikian, dunia akan menjadi mimbarnya untuk berkhotbah, gereja akan menjadi wilayah penggembalaannya, semua kuasa kegelapan akan menjadi musuhnya.
Robert