Bagaimana Hati Anda?
Pembacaan Alkitab :
Mazmar 19:15; Kisah Para Rasul 13:22-23
1. Hati adalah Masalah Utama
Dua ayat yang tercantum di atas berhubungan dengan Daud. Mazmur 19:15 adalah doa Daud. Kisah Para Rasul 13:22-23 membicarakan diri Daud. Dalam doanya, Daud terlebih dulu menyinggung perkataan yang diucapkan mulutnya, kemudian menyinggung renungan hatinya. Dia tidak saja mohon agar perkataannya diperkenan oleh Allah, juga mohon agar renungan hatinya diperkenan oleh Allah.
Perkataan di mulut adalah ekspresi/pernyataan dari isi hati; hati adalah persoalan yang paling utama. Perkataan di luar benar atau salah, itu masih bukan masalah utama; sikap berbicara di luar betul atau salah, itu juga bukan masalah utama. Masalah yang utama ialah bagaimana renungan hatinya. Renungan hati adalah persoalan yang utama. Renungan hati adalah persoalan yang tidak boleh diabaikan. Sebab itu, doa Daud tidak saja mengatakan, "Ya Allah, kiranya Engkau berkenan akan ucapan mulutku," juga mengatakan, "Kiranya renungan hatiku juga diperkenan di hadapan Allah." Karena ada doa Daud yang demikian, maka Paulus bersaksi, bahwa Daud adalah orang yang diperkenan di hadapan Allah. Orang yang bagaimana baru bisa diperkenan di hadapan Allah? Yaitu orang yang mau membiarkan Allah menjamah hatinya. Jika Anda tidak mau membiarkan Allah menjamah hati Anda, Anda sulit sekali menjadi orang yang diperkenan Allah.
Tidak sedikit orang Kristen yang berkata, "Apakah saya berbuat demikian ini salah? Apakah saya berkata demikian ini tidak benar? Apakah saya menyatakan demikian ini salah?" Saudara saudari, persoalan yang utama bukan melakukan benar atau salah, bukan mengatakan benar atau salah, juga bukan menyatakan benar atau salah, melainkan Anda berbuat demikian, ketika Anda mengatakan demikian, ketika Anda menyatakan demikian, hati Anda benar atau tidak? Bagaimana sebenarnya hati Anda? Bagaimana akar dalam hati Anda? Meskipun semua yang Anda lakukan di luar itu benar, tetapi hati Anda mungkin ada masalah. Yang ingin Allah jamah, yang ingin Allah tanya, adalah bagaimanakah hati Anda? Karena itulah, Allah membiarkan banyak perkara seperti angin ribut, gelombang, terjadi ditengah-tengah anak-anakNya. Melalui perkara-perkara itu Allah akan menjamah hati mereka untuk menyingkap bagaimana sebenarnya hati mereka.
II. Iman dan Salib
Melalui Alkitab kita tampak, jalan yang ditempuh Daud seumur hidupnya adalah jalan salib; kehidupan yang ditempuhnya adalah kehidupan salib. Kalimat pertama dalam kitab Perjanjian Baru, khusus menyinggung dua orang : yang satu Abraham, yang lainnya Daud. Kedua orang tersebut ada bagian dalam mendatangkan Tuhan Yesus. Merekalah yang membawa Allah dari surga datang ke bumi. Allah harus mendapatkan orang seperti Abraham, Allah harus mendapatkan orang seperti Daud, baru mendapatkan jalan dari surga ke bumi. Kita tahu bahwa Abraham adalah bapa iman. Seumur hidup ia menempuh jalan iman. Hanya jalan imanlah yang dapat membawa Allah ke bumi. Seumur hidupnya, Daud menempuh Jalan Salib, menempuh penghidupan salib. Ia tidak saja membawa Allah datang ke tengah-tengah manusia, juga membawa Allah berkuasa di tengah-tengah manusia. Kalau Anda hidup di jalan iman, Anda pasti mempunyai jalan membawa Allah datang ke tengah-tengah manusia. Kalau Anda menempuh jalan salib, Anda pasti membawa Allah berkuasa di tengah-tengah manusia. Kalau anak-anak Allah mau menempuh jalan salib, mau menempuh penghidupan salib, Allah bisa berkuasa di tengah-tengah manusia. Saudara saudari, kalau Anda mau Allah berkuasa di tengah-tengah Anda, Anda harus menempuh penghidupan salib. Keistimewaan Daud dalam seumur hidupnya, ialah menempuh penghidupan salib.
III. Hati yang Bersih dan Tepat
Peristiwa-peristiwa yang dialami Daud sepanjang hidupnya sangatlah istimewa. Semua peristiwa itu menyingkapkan bagaimana hati Daud sebenarnya. Dalam keluarga, Daud adalah orang yang diremehkan. Ketika Allah menyuruh Samuel mengurapi anak Isai menjadi raja, Isai memanggil ke 7 anaknya, tetapi lupa terhadap satu anaknya yang kecil ini. Tetapi hati anak remaja ini tetap benar. Hatinya tidak karena kejadian-kejadian itu lalu kehilangan keadaan yang wajar/normal. Allah berkata kepada Samuel, "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati. " Hati Daud diperkenan oleh Allah, karena itu ia dipilih Allah. (I Samuel 16:6-13).
Setelah Daud membunuh Goliat, Allah menaruh dia di satu situasi, yaitu perempuan-perempuan Israel menyanyi berbalas-balasan, "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." Kata-kata itu, di satu pihak menguji Daud, di pihak lain menguji Saul. Seperti yang dikatakan Amsal 27:21, "Orang dinilai menurut pujian yang diberikan kepadanya." Orang sangat memuji-muji Anda, lihatlah apakah Anda tidak sombong. Kalau orang hanya sedikit memuji Anda, bisakah Anda iri hati? Perkataan pujian perempuan-perempuan Israel telah menguji hati Daud dan Saul. Daud tidak tergoyah oleh pujian, "Daud mengalahkan berlaksa- laksa." Tetapi Saul tergoyah oleh perkataan, "Saul mengalahkan beribu-ribu."Kata-kata itu telah menguji dan menyingkap hati Saul yang iri. (I Samuel 18:6-9).
Misalnya, Anda bekerja sama melakukan suatu pekerjaan dengan seorang saudara. Kemudian ada orang lain di depan Anda berkata, "Saudara itu bekerja paling baik." Tetapi dia tidak mengatakan Anda berkerja baik atau tidak. Bagaimana hati Anda? Mungkin sedikitnya di dalam Anda terasa tidak enak, tidak begitu nyaman. Ketidaknyamanan itu, meskipun hanya sedikit, telah membuktikan bahwa di dalam Anda masih ada yang tidak bersih. Bukankah sebelumnya Anda dengan lantang telah mengatakan bahwa "semua itu bagi Allah, bukan bagi manusia"? Tetapi justru perkataan yang memuji orang lain itu telah menggoyahkan hati Anda. Itu menunjukkan bahwa hati Anda belum cukup bersih. Semua peristiwa dalam hidup, Anda, khususnya sikap dan perlakuan orang yang dekat dengan Anda, adalah untuk menguji hati Anda. Setelah Daud membunuh Goliat, dia menjadi orang yang didambakan dan dielu-elukan oleh orang-orang Israel. Tetapi bersamaan dengan itu, ia malah dipersulit oleh Saul. Dalam jangka waktu yang cukup panjang, dia tunduk di bawah tangan Allah, tidak berani melampaui tangan Allah berbuat sesuatu. Di sini Anda melihat hati Daud bersih, hatinya tepat.
Setelah Daud menjadi raja, karena satu kegagalan besar, dia mengalami ujian yang sangat berat. Anak kandungnya sendiri mengejar- ngejar untuk membunuh dia. Simei mengutuki dia, mengambil batu melemparinya. Bagaimana reaksinya? Hatinya benar-benar bening seperti kristal. Dia berkata semua itu mungkin Tuhan yang memerintahkan, dia masih mohon Tuhan memberkati dia (II Samuel 16:5-12). Jangan sekali- kali mengira semua keadaan di sekeliling Anda pasti membuat Anda menderita rugi. Ketahuilah, karena hati Anda tidak benar, maka Anda menderita rugi. Kalau hati Anda benar, Anda akan beroleh faedah darinya. Semua keadaan sekitar kita hanya menyatakan bagaimana hati kita. Seumur hidup Daud menempuh penghidupan salib; hal itu menyingkapkan keadaan hatinya.
IV. Hati Anda
Sebab, itu, saudara saudari, Anda harus berhati-hati terhadap sikap dan perkataan Anda, lebih-lebih harus hati-hati akan renungan hati Anda. Sering kali pernyataan lahiriah Anda belum tentu merupakan keadaan hati Anda. Perasaan hati Anda barulah keadaan hati Anda yang sesungguhnya. Kalau Anda hanya menjaga mulut saja, itu tidak berguna; kalau hati Anda tidak benar, lambat atau cepat, pasti akan ternyata. Saudara saudari, berapa banyak kata sia-sia yang telah kita ucapkan kepada orang lain? Kata-kata itu menyatakan satu fakta, yaitu bagaimana hati kita. Kalau hati kita makin mengarah kepada Tuhan, hati kita akan makin murni, perkataan sia-sia kita akan makin kurang. Setiap kali kita mengatakan ini dan itu, menggerutu, itu membuktikan bahwa hati kita telah sedikit menyimpang. Seorang yang hatinya hanya mengarah kepada Allah, tidak akan banyak berkata yang sia-sia kepada orang yang di sampingnya.
Ada seorang saudara berkata, "Kalau ada 'saudara kecil' bersalah kepada saya, saya masih bisa memaafkannya, tapi kalau 'saudara besar' bersalah kepada saya, saya tidak bisa memaafkannya." Seorang saudara lain yang mendengar kata-kata itu, mengangguk-anggukkan kepalanya; sambil melihat ke dadanya, ia terus menganggukkan kepala. Maksudnya ialah, "Hati Anda! 0, hati Anda! Hati Anda adalah 'saudara kecil' menyalahi Anda, Anda mau mengampuni, kalau 'saudara besar' menyalahi Anda, Anda tidak mau mengampuni, itu telah menyingkapkan hati Anda. Kalau 'saudara kecil' bersalah, Anda bisa mengampuni, itu belum dapat menyingkapkan hati Anda. Tetapi kalau 'saudara besar' bersalah, Anda tidak bisa mengampuni, itu baru menyingkapkan hati Anda."
Umpamanya, ada suatu barang tidak bisa dibakar hanya dengan satu batang korek api, tetapi kalau barang tersebut ditaruh di atas tumpukan bara api, ia segera terbakar. Itu membuktikan barang tersebut bukan tak bisa terbakar. Saudara keeil tidak bisa menyingkapkan hati saudara itu, saudara besar menyingkapkan hatinya. Saudara saudari, jangan menggerutu istri Anda tidak baik; jangan menyalahkan suami Anda tidak baik; tidak perlu mengomel orang tua Anda tidak baik; juga tidak perlu menyalahkan anak-anak Anda tidak baik. Kalau semua itu bukan satu batang korek api, tentu adalah setumpuk bara api yang akan menguji hati Anda. Anda harus bersyukur kepada Allah.
Saudara saudari yang kekasih, kalau hati Anda benar, tidak peduli orang lain bagaimana, mereka tidak akan dapat menggoyahkan Anda; hati Anda hanya akan menengadah kepada Allah. Daud bisa diperkenan dan sesuai dengan maksud Allah, dikarenakan dalam keadaan apa pun yang Allah atur baginya, hatinya hanya mau. Allah. Dia tidak berhubungan langsung dengan manusia, dia berhubungan langsung dengan Allah. Dari tangan Allah dia menerima semuanya, dari sudut Allah ia melihat semuanya. Saya ulangi lagi, Allah melalui situasi sekitar akan menyatakan bagaimana hati kita. Saudara saudari, semoga kita memiliki satu doa, "Kiranya Tuhan berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku."