← Daftar isi Keluaran (8) · bab 4/19

PAKAIAN IMAM (2)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 28:1-4; 1Ptr. 2:5, 9; Why. 1:6; 5:9-10

VI. HAYAT DAN PEMBANGUNAN

Dalam buku “Visi Pembangunan Allah” (The Vision of God’s Building) telah kita tunjukkan bahwa subyek utama Alkitab adalah pembangunan Allah. Allah menciptakan manusia dengan roh untuk menerima Dia sebagai hayat. Menurut Kejadian 2, hayat ilahi ditampilkan kepada manusia dalam bentuk pohon hayat. Ayat 9 mencatat bahwa “pohon kehidupan (hayat) di tengah-tengah taman itu”. Selanjutnya ayat 10 mengatakan, “Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.” Dari tempat di mana pohon hayat itu berada, terdapat sebuah sungai yang mengalir ke empat penjuru bumi. Ayat 11 dan 12 mencatat tentang emas, damar bedolah (mutiara), dan batu krisopras. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut, benda-benda itu bertalian dengan butir-butir utama dari hayat dan pembangunan. Dalam Kejadian 2 kita melihat pohon hayat dan bahan-bahan untuk pembangunan Allah.

Sangatlah menarik kita membandingkan catatan ini dengan kedua pasal terakhir Kitab Wahyu. Dalam Wahyu 22, kita juga melihat pohon hayat dan sungai air hayat. Namun, pada waktu kita tiba pada akhir Alkitab, bahan-bahan itu berada dalam pembangunan Yerusalem Baru. Yerusalem Baru akan memiliki ketiga jenis bahan yang disebut dalam Kejadian 2, yaitu emas, mutiara, dan batu-batu permata.

Kalau Tuhan memberi kita waktu untuk merampungkan Pelajaran-Hayat atas kelima kitab pertama, yaitu kitab Pentateuch (kelima kitab Musa), kita akan melihat betapa kitab-kitab tersebut merupakan kitab pembangunan. Lagi pula, setiap bagian kitab sejarah mulai dari Kitab Yosua hingga Kitab Ezra, Nehemia, dan Ester, semua berkaitan dengan pembangunan. Pada hakekatnya, subyek utama dari kitab-kitab sejarah tersebut adalah pembangunan Allah. Ketika segala sesuatunya sesuai dengan pembangunan Allah, maka situasi bani Israel menjadi sangat baik. Namun, bila pembangunan itu gagal, kondisi bani Israel pun menjadi sangat kasihan.

Dalam kitab-kitab para nabi, pembangunan pun merupakan subyek utama. Dalam Kitab Yehezkiel terdapat banyak pasal yang mencatat visi pembangunan Allah. Sebenarnya Kitab Yehezkiel adalah kitab tentang pembangunan Allah. Mengenai ini kita telah banyak membicarakannya dalam buku “Visi Yehezkiel” (The Visions of Ezekiel). Pembangunan adalah kedambaan Allah, maka seluruh kitab Perjanjian Lama bersubyek pada pembangunan Allah.

Memang tak perlu disangsikan bahwa Alkitab banyak membicarakan keselamatan, tetapi keselamatan bukan kesimpulan terakhir Alkitab. Kesimpulan terakhir Alkitab ialah pembangunan Allah, Yerusalem Baru. Dalam seluruh Alkitab kita melihat berbagai perkara yang berkaitan dengan pembangunan. Dalam Kitab Kejadian, kita melihat bahan-bahan untuk pembangunan, dan dalam Kitab Keluaran, kita melihat pembangunan Kemah Suci.

VII. BAHAN-BAHAN PEMBANGUNAN YANG BERHARGA

Ketiga bahan berharga dalam Kejadian 2 emas, mutiara, dan batu krisopras terdapat pula dalam Kemah Pertemuan dan imamat. Sudah pasti di dalam Kemah Pertemuan terdapat banyak sekali emas. Kita telah melihat bahwa di atas tutup dada dan tutup bahu baju efod yang disandang imam besar terdapat batu-batu permata. Namun, pada Kemah Suci tidak ada mutiara, melainkan perak. Perak melambangkan penebusan. Dalam Kejadian 2 ada mutiara, tanpa perak, sebab waktu itu dosa belum masuk. Dalam Yerusalem Baru hanya ada mutiara, tanpa perak, sebab ketika itu tidak perlu lagi penebusan. Namun, antara Kejadian 2 dan Wahyu 21, sesungguhnya perlu penebusan yang dilambangkan oleh perak. Karena itulah dalam 1Korintus 3:12, Paulus menyebut emas, perak, dan batu permata; ia tidak menyebut mutiara. Alasan Paulus menyebut perak, bukan mutiara, karena pada zaman kini kita memerlukan penebusan. Tambahan pula, dalam pembangunan Bait Suci Perjanjian Lama, juga memakai bahan-bahan berharga yang sama.

Paulus menerima wahyu yang ajaib dari Tuhan tentang pembangunan Allah. Pengungkapannya tentang emas, perak, dan batu-batu permata dalam 1Korintus 3 tepat sekali, sesuai dengan pemikiran bahwa pada mulanya tidak ada dosa dalam Kitab Kejadian dan karenanya tidak perlu perak. Namun, setelah dosa masuk, perlu ada penebusan. Di alam baka, perak tidak diperlukan lagi, sebab di sana tidak lagi ada dosa. Namun, selama masa kejatuhan dan sebelum Yerusalem Baru tiba, kita harus memiliki perak. Sekali lagi kita melihat betapa konsistennya Alkitab. Penulisan Paulus tentang pembangunan konsisten dengan wahyu lengkap Alkitab.

Kerohanian sejati adalah masalah pembangunan. Tanpa pembangunan rumah rohani, tidak ada pengudusan, kerohanian, atau kekuatan rohani. Seorang saudara mungkin kelihatannya sangat baik, kudus, dan rohani, tetapi jika saudara ini tidak dibangun ke dalam pembangunan Allah, kekayaan rohaninya yang kelihatan itu akan bangkrut. Alasan keadaan itu ialah: Tanpa pembangunan tidak ada perlindungan atau penudungan.

VIII. KEPERLUAN KITA YANG UNIK

Kita dapat mengambil balai sidang di Anaheim untuk mengumpamakan pembangunan Allah sebagai perlindungan kita. Misalkan semua bahan yang dipakai dalam pembangunan balai sidang tetap terletak di lantai, jika turun hujan deras dan badai, bahan-bahan tersebut akan rusak, sebab tidak ada perlindungan apa pun. Namun, karena bahan-bahan itu sekarang sudah menjadi bagian dari bangunan itu, mereka terlindung dari iklim yang buruk.

Pembangunan rohani Allah pun sama prinsipnya. Jika kita ingin terlindung, kita perlu terbangun ke dalam bangunan Allah. Perlindungan kita bukan kerohanian kita, melainkan pembangunan.

Pada tahun-tahun awal saya menjadi orang Kristen, saya tidak melihat pentingnya pembangunan. Oleh belas kasihan Allah, saya mengasihi Tuhan sejak beroleh selamat. Selama lebih dari lima puluh tahun, kasih saya terhadap-Nya tidak pernah berhenti. Selain itu, saya menggunakan banyak waktu untuk menuntut Dia, saya pun pernah menuntut kekudusan, kerohanian, dan kekuatan. Saya membaca banyak buku mengenai topik-topik tersebut, tetapi hasil penuntutan saya atas kekudusan, kerohanian, dan kekuatan adalah kegagalan. Pada akhirnya saya baru mengerti bahwa satu-satunya jalan untuk menjadi kudus, rohani, dan berkekuatan adalah dibangun ke dalam pembangunan Allah.

Dalam berita-berita Pelatihan Penyempurnaan telah kita bahas problem-problem opini dan watak aneh. Namun, tak peduli bagaimana Anda melatih diri untuk mengatasi problem-problem opini dan watak aneh, kalau Anda tidak dibangunkan, tidak satu pun berita-berita itu dapat membantu Anda. Hanya dengan dibangun bersama barulah kita dapat menanggulangi masalah opini dan watak aneh kita tersebut. Asalkan Anda mau dibangun ke dalam pembangunan Allah dan benar-benar dibangun ke dalamnya, problem opini dan watak aneh itu niscaya akan lenyap. Janganlah mencoba memecahkan perkara-perkara itu dengan upaya Anda sendiri. Keperluan kita yang unik adalah dibangun ke dalam pembangunan Allah.

IX. BEROLEH PERAWATAN UNTUK PEMBANGUNAN

Selaku rasul yang di depan, Petrus sesungguhnya telah banyak belajar dalam kehidupannya dengan Tuhan. Dalam surat rasulinya yang pertama yang hanya lima pasal itu, ia dengan jelas membicarakan pembangunan. Ia mengatakan bahwa kita perlu menerima perawatan agar kita dibangun menjadi sebuah rumah rohani. Ia berkata dalam 1Petrus 2:2, “Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh . . .” Dalam ayat 5 ia melanjutkan, “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Berdasarkan ayat-ayat ini, perawatan adalah untuk pembangunan, yakni rumah rohani; rumah rohani itu untuk imamat kudus. Dalam ayat 9, Petrus menyinggung tentang imamat yang rajani: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Tatkala kita menerima perawatan dan terbangun menjadi rumah rohani, menjadi imamat yang kudus dan rajani, bangsa yang kudus, kita akan memberitakan keunggulan, kebajikan-kebajikan indah dari Persona yang telah memanggil kita.

X. KEKURANGAN PEMBANGUNAN

Upaya orang Kristen hari ini dalam menuntut menjadi orang kudus, rohani, dan berkekuatan, kebanyakan sia-sia belaka. Banyak buku “Bagaimana untuk” telah dikarang guna membantu kaum beriman menjadi orang kudus dan menang. Namun, berapakah bantuan yang benar-benar sudah diberikan oleh buku-buku tersebut? Saya dapat berkata, kalaupun ada, sangat sedikit. Saya dapat bersaksi bahwa saya telah membaca buku-buku tentang ajaran-ajaran yang Alkitabiah dan rohani dari berbagai kategori. Tambahan pula, saya mencoba mempraktikkan metode-metode yang diperkenalkan dalam buku-buku tersebut. Namun, seperti telah saya tunjukkan, hasilnya adalah kegagalan.

Sepanjang abad banyak orang beriman yang benar-benar rohani. Namun, kebanyakan biografi dari tokoh raksasa rohani itu tidak semuanya tepat. Sebuah biografi tidak selalu menyajikan lukisan yang penuh dan jelas dari hidup seseorang. Setelah seorang tokoh rohani tertentu meninggal dunia, maka ada orang yang menulis riwayat hidupnya. Biografi itu mungkin terlalu meninggikan tokoh rohani tersebut. Biografi semacam itu berbeda dengan apa yang kita baca dalam Alkitab. Sebagai contoh, Alkitab mengisahkan kelemahan-kelemahan Abraham, bahkan menyingkapkan dosa-dosa Daud. Andaikata Anda yang menulis riwayat hidup Daud, dapatkah Anda menyebut dosa-dosanya? Bukankah Anda lebih suka menyembunyikan dosa-dosanya, dan boleh jadi penulisan Anda agak berlebihan tentang Daud? Sering kali otobiografi seorang beriman lebih jujur dan akurat daripada biografinya.

Bahkan orang-orang yang saleh dan rohani pun banyak kelemahannya. Tentu saja kegagalan berbeda dengan kelemahan. Mungkin seseorang tidak banyak kegagalan, tetapi ia mungkin tetap banyak kelemahan atau kekurangan. Kelemahan-kelemahan dalam hidup manusia yang paling rohani sekalipun, tak lain dikarenakan kekurangan pembangunan.

Banyak tahun yang silam saya tinggal sebulan lamanya di suatu tempat di Inggris. Tempat itu terkenal dengan kerohaniannya. Memang di antara kaum beriman di sana banyak yang sangat rohani. Namun, di sana tidak ada pembangunan. Banyak perbincangan tentang kerohanian, tetapi di antara mereka sama sekali tidak ada pembangunan. Kaum beriman tercinta di tempat itu telah menerima banyak pelajaran rohani di bawah tangan Tuhan, dan mereka telah memiliki pengalaman-pengalaman rohani tertentu, antara lain bagaimana bersandar kepada Tuhan, bagaimana ditanggulangi Tuhan, dan bagaimana mengalami salib. Mereka pun mengenal prinsip hayat kebangkitan. Namun, walaupun mereka telah mempelajari semua perkara tersebut, pada akhirnya, keadaan mereka tetap menyedihkan, sebab tidak ada pembangunan di antara mereka.

XI. SASARAN ALLAH

Dalam Alkitab dan kehidupan kristiani, hayat dan pembangunan merupakan perkara yang paling mendasar. Jika kita tidak membiarkan Tuhan beroleh pembangunan di tengah-tengah kita, maka sejauh menyangkut kehendak Allah, kita sudah gagal. Pembangunan adalah sasaran Allah yang unik. Di masa kekekalan, Dia menginginkan Yerusalem Baru, sedang hari ini Ia menginginkan gereja.

Bahkan dalam Perjanjian Lama pun kita dapat melihat bahwa pembangunan adalah sasaran akhir Allah. Di padang gurun Ia ingin membangun Kemah Suci, dan di tanah kudus, Tanah Kanaan, Ia ingin membangun bait suci. Dalam Kitab Mazmur banyak ayat yang ditujukan kepada bait. Hal ini menunjukkan bahwa menurut pengalaman pemazmur, kerohanian, kemenangan, dan kekuatan, semuanya berkaitan dengan bait. Pada hari ini prinsipnya pun sama. Bagi kita bait adalah gereja. Kerohanian, kemenangan, dan kekuatan kita seharusnya berkaitan dengan gereja. Namun, sangatlah menyedihkan, banyak orang Kristen yang tidak memperhatikan gereja, ada orang bahkan menentang gereja.

Situasi dalam kalangan umat Tuhan tidak begitu menggembirakan. Bahkan dalam kelompok kaum beriman yang rohani pun keadaannya sama. Situasi yang mengecewakan dan tidak menggembirakan hati ini tidak lain disebabkan kekurangan pembangunan.

Tuhan masih belum dapat mencapai sasaran-Nya, yakni pembangunan. Tanpa pembangunan, bagaimanakah kita dapat memiliki imamat? Para imam bukanlah orang-orang percaya yang individualistis. Sebaliknya, para imam adalah satu tubuh korporat. Imamat terdiri atas para imam yang telah dibangun bersama. Selain itu, pelayanan imamat merupakan satu pelayanan tubuh yang berkoordinasi. Imamat korporat semacam inilah yang dituntut Tuhan pada hari ini.

Jika kita meleset dari sasaran Tuhan, apakah yang dapat kita rampungkan? Kita tidak akan bisa berbuat apaapa bagi penggenapan kehendak Allah.

XII. PEMBANGUNAN DAN IMAMAT

Pada berita yang akan datang akan kita bahas secara rinci tentang pakaian imamat. Kemudian kita akan membahas betapa ekspresi Kristus yang dilambangkan oleh pakaian tersebut sebenarnya merupakan suatu pembangunan. Efod bukan dipakai imam besar untuk melindungi dirinya dari kedinginan dan memberikan kehangatan. Sebaliknya, efod sepenuhnya untuk pembangunan; ia adalah untuk mepersatukan tutup dada dan kedua tutup bahu. Tutup-tutup tersebut, tidak usah diragukan, adalah tanda yang kuat yang menunjukkan pembangunan. Tutup dada yang dikenakan imam besar melambangkan pembangunan. Batu-batu permata di atas tutup dada diikat dengan emas dan tutup dada itu sendiri bergandeng dengan efod. Tutup bahu yang di atasnya terukir nama-nama suku Israel berkaitan juga dengan efod. Ini menunjukkan bahwa efod berkaitan dengan pembangunan.

Tatkala imam besar berdiri di hadirat Tuhan untuk mencari pimpinan-Nya, ia harus mengenakan tutup dada yang berUrim dan Tumim. Itu berarti ia harus mengenakan pembangunan. Jika imam besar tidak mengenakan tutup dada, walaupun ia tetap dapat menyembah Allah, membakar ukupan, dan menyalakan lampu, ia tak berdaya menerima wahyu Tuhan. Untuk dapat menerima wahyu Allah perlu ada tutup dada yang berUrim dan Tumim tersebut.

Tanpa pembangunan, imamat akan runtuh. Kita tak dapat memiliki imamat tanpa pembangunan. Karena kekurangan pembangunan, maka situasi di kalangan orang Kristen hari ini menjadi sangat prihatin.

XIII. SISA YANG TERPELIHARA

Hati saya merasa sedih karena kondisi umat Tuhan. Kekecewaan saya terutama bukan karena penentangan yang ditujukan terhadap pemulihan Tuhan, melainkan karena kekurangan pembangunan. Namun, walau situasi tidak menggembirakan hati, kita harus percaya bahwa Ia telah memelihara umat yang tersisa pada hari ini, seperti halnya Ia memelihara tujuh ribu orang yang tersisa pada masa Elia. Ketika Elia putus asa, mengira hanya dia seorang diri yang tetap setia kepada Tuhan, Tuhan berkata kepadanya bahwa bagi-Nya Ia telah memelihara tujuh ribu orang yang tidak menyembah Baal, dan karenanya jangan putus asa. Hari ini Tuhan juga telah memelihara sejumlah umat-Nya. Dia berdaulat atas segala sesuatu, dan kita harus menyembah Dia karena kedaulatannya.

Karena kelemahan manusia, mungkin kita berharap agar orang-orang dalam pemulihan Tuhan bisa bertambah jumlahnya secara pesat. Namun, meningkatnya jumlah dapat merusak pemulihan. Karena itu, oleh kedaulatan-Nya, Ia tidak mengizinkan hal itu terjadi, malahan Tuhan mengizinkan pemulihan ditentang dan dimurnikan. Akibatnya mereka yang tidak bersungguh-sungguh bagi Tuhan tak dapat menempuh jalan pemulihan. Pada waktu-waktu yang silam kita melihat betapa Tuhan memurnikan pemulihan-Nya. Pemurnian itu merupakan ujian yang menguji siapa yang benar-benar berminat bagi kepentingan Tuhan.

Kita semua harus melihat bahwa sasaran pemulihan Tuhan adalah terpulihnya Kristus sebagai hayat dan segala sesuatu kita, agar kita diubah dan dibangun. Setelah kita dibangun bersama, barulah Allah beroleh pembangunan, pembangunan ini adalah imamat.