← Daftar isi Keluaran (8) · bab 2/19

PENYALAAN PELITA DAN PAKAIAN IMAM (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 27:20-28:5

BERSIDANG UNTUK MENYALAKAN LAMPU

Lewat berabad-abad, terutama sejak abad reformasi, orang-orang Kristen terus-menerus berdebat mengenai bagaimana bersidang. Berbagai denominasi dan kelompok-kelompok Kristen semua bersidang menurut cara khusus mereka masing-masing. Kaum Presbiterian berbeda cara bersidangnya dengan kaum Baptis. Bagaimana cara bersidang Anda? Cara bersidang yang tepat berkaitan dengan lambang Perjanjian Lama mengenai penyalaan lampu-lampu di dalam tempat kudus. Jangan sekali-kali mengira bahwa penyalaan lampu-lampu ini merupakan hal yang tidak bermakna. Dalam perlambangan, penyalaan lampu-lampu sedikitnya menyiratkan cara yang tepat untuk bersidang.

Penyalaan lampu-lampu selalu dilakukan di dalam Kemah Suci. Kemah Suci bukan saja merupakan tempat kediaman Allah, tetapi juga tempat bersidang. Jadi, Kemah Suci adalah sebuah tempat untuk Allah bersemayam dan untuk umat Israel bersidang.

Penyalaan lampu-lampu berkaitan dengan bersidangnya umat Allah. Bila kita ditanya, bagaimana bersidang dalam hidup gereja, kita harus menjawab bahwa kita bersidang dengan cara menyalakan lampu-lampu. Bersidang yang tepat sebagai umat Kristen adalah menyalakan lampu. Kapan saja kita berkumpul untuk bersidang, kita perlu menyalakan lampu-lampu. Lebih lanjut, segala sesuatu yang kita lakukan di dalam sidang harus menyebabkan lampu-lampu itu bercahaya. Semua nyanyian dan penyampaian kesaksian harus merupakan penyalaan lampu-lampu.

PERLUNYA PENGALAMAN ROHANI

Berhimpun bersama-sama di tempat kudus untuk menyalakan lampu-lampu meliputi setiap aspek pengalaman rohani kita dalam kehidupan kristiani kita. Ini meliputi pengalaman kita atas Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal, pengalaman kita akan sifat ilahi, pengalaman kita akan keinsanian Yesus yang dipertinggi, yang terbakar untuk memberikan terang di hadapan Allah dan di depan kesaksian-Nya, pengalaman kita akan Roh Allah sebagai minyak yang diperas keluar dari buah zaitun, dan pengalaman kita akan proses tindakan-Nya dalam berinkarnasi, kehidupan sebagai manusia, tersalib, dan bangkit. Selain itu, juga meliputi pengenaan kita akan pakaian imam, yaitu ekspresi Kristus.

Sebagaimana telah kita tunjukkan, agar layak menyalakan lampu-lampu di dalam tempat kudus, kita harus memiliki setiap aspek pakaian imam. Bila kita mengenakan pakaian imam tanpa efod atau penutup dada, kita tidak layak, sebab kita kekurangan ekspresi Kristus. Karena adanya kekurangan ini, beberapa orang yang hadir dalam perhimpunan itu tidak mampu menyalakan lampu-lampu.

Mengertikah Anda akan arti menyalakan lampu-lampu di dalam tempat kudus? Menyalakan lampu-lampu berarti memancarkan terang. Ada saudara atau saudari yang terkasih, begitu dia membuka mulut untuk berbicara dalam sidang, kita semua merasa bahwa terang mulai memancar dan kegelapan sirna. Mereka yang menyorotkan terang secara demikian sesungguhnya adalah orang-orang yang telah mengenakan pakaian-pakaian imam, ekspresi Kristus. Berapa banyak terang yang ada di dalam tempat kudus tergantung pada tingkat mana kita ini layak menyalakan lampu-lampu dengan mengenakan Kristus sebagai pakaian imam. Untuk menyalakan lampu-lampu kita harus mengekspresikan Kristus, dan harus memiliki pengalaman perwujudan Allah, sifat ilahi, insani Yesus dan Roh Kristus beserta dengan unsur-unsur inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan; semua unsur ini perlu menjadi kandungan kehidupan kristiani kita. Jika demikian, kita layak menyalakan lampu-lampu di tempat kudus Allah.

MINYAK ZAITUN MURNI

Ketika kita bersidang untuk menyalakan lampu-lampu, mungkin kita kekurangan pengalaman riil terhadap Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal. Mungkin kita kekurangan pengalaman atas sifat ilahi dan keinsanian Kristus. Selain itu, kita mungkin tidak memiliki minyak Roh Kristus; kita malah coba-coba menyalakan lampu dengan sesuatu yang bukan minyak zaitun. Kadangkala dalam doa-baca dan menyeru nama Tuhan Yesus yang dilakukan oleh beberapa orang beriman, tidak terdapat minyak zaitun. Mereka tidak memiliki minyak yang berasal dari Kristus sebagai pohon zaitun, tetapi mereka memiliki sesuatu dari beberapa sumber rendahan. Orang yang berdoa-baca atau menyeru nama Tuhan dengan asal-asalan, dapat dipastikan ia tidak sedang menyalakan lampu-lampu dengan minyak zaitun murni. Ada orang beriman begitu mendengar kata-kata ini, mungkin mereka akan terkejut seraya berkata, “Aku merasa bersalah dalam cara berdoa-baca, dan menyeru nama Tuhan, dan berteriak-teriak memuji Tuhan. Sejak saat ini aku akan berdiam diri di dalam sidang-sidang. Aku tidak akan memakai minyak yang bukan minyak zaitun.” Tidak perlu kita berkecil hati, tetapi kita perlu dimurnikan. Saudara-saudara muda, kalian harus mengakui bahwa kadang-kadang ketika kalian menyeru, “Puji Tuhan!”, dalam seruan kalian itu tidak ada minyak zaitunnya. Kita perlu memuji Tuhan dengan cara yang tepat, dengan minyak zaitun murni Roh itu.

Saya tidak setuju dengan doa-baca, berseru, atau berteriak yang mendatangkan ketidakmurnian dan unsur-unsur alamiah. Doa-baca, menyeru nama Tuhan, dan memuji janganlah dicampur dengan senda gurau dan asal-asalan. Setiap kali ada campuran sedemikian, akan ada kegelapan bukan terang. Apa saja yang kita utarakan dalam persidangan haruslah dengan minyak murni dari pohon zaitun. Inilah satu-satunya minyak yang akan menyala untuk menyoroti. Berseru atau berteriak secara alamiah tidak akan menyebabkan terang ilahi membubung, dan juga tidak akan menyoroti kaum beriman lainnya.

Kita perlu penggarapan salib di dalam kita. Minyak zaitun murni adalah minyak yang telah melalui inkarnasi, penyaliban, dan yang telah memasuki kebangkitan. Dalam minyak ini tidak terdapat campuran, tidak ada unsur alamiah. Sudah tentu kita perlu dibebaskan dalam sidang-sidang dan penuh sukacita. Kadangkala kita pun boleh terta-wa, tetapi kebebasan, kenikmatan, dan tertawanya kita harus selalu dengan minyak zaitun murni.

Setiap kali kita berkumpul untuk bersidang sebagai gereja, persidangan demikian merupakan tempat kediaman Allah. Hal ini sangatlah penting. Perhimpunan kita adalah tempat kudus. Karena itu janganlah kita bertingkah laku seperti berada di dalam sebuah stadion. Kita perlu menyadari bahwa kita berada dalam perhimpunan suci kaum beriman. Sebagaimana perhimpunan kita adalah tempat kudus Allah, kita perlu menyalakan lampu-lampu di dalam tempat kudus, yaitu di dalam Kemah Suci. Memang, bangunan fisik tempat kita bersidang bukanlah tempat kudus, perhimpunan itu sendirilah yang merupakan tempat kudus. Tak peduli di mana kita berhimpun, di dalam gedung atau di lapangan terbuka, perhimpunan kita adalah tempat kudus. Untuk alasan inilah maka janganlah kita bersidang secara alamiah atau duniawi. Apa saja yang kita lakukan di dalam sidang, pembicaraan kita, nyanyian kita, pujian kita, seruan kita, teriakan kita, doa-baca kita haruslah menyebabkan terang kudus memancar. Inilah meyalakan lampu-lampu di dalam tempat kudus Allah, sehingga terang itu menelan kegelapan.

DI DEPAN TABUT KESAKSIAN

Keluaran 27:21 mengatakan, “Di dalam Kemah Pertemuan di depan tabir yang menutupi tabut hukum, haruslah Harun dan anak-anaknya mengaturnya dari petang sampai pagi di hadapan TUHAN. Itulah suatu ketetapan yang berlaku untuk selama-lamanya bagi orang Israel turun-temurun.” Ayat ini menyatakan “di depan tabir yang menutupi tabut hukum (kesaksian).” Alasan kita masih tetap perlu menyalakan lampu-lampu karena kebanyakan dari kita, masih belum berada di tempat maha kudus. Perhimpunan kita adalah di tempat kudus, tidak di tempat maha kudus. Ini berarti tabir itu masih menyekat tempat maha kudus dengan tempat kudus. Di belakang tabir terletak tabut hukum yang disebut kesaksian. “Di depan kesaksian” berarti di depan hukum yang ada di dalam tabut. Walaupun kita memiliki terang yang menyorot di tempat kudus, kita masih berada di tempat kudus, belum berada di tempat maha kudus. Namun, kita berada di tempat kudus dengan maksud untuk masuk ke dalam tempat maha kudus. Meskipun kita masih berada di tempat kudus, tetapi kita berada di depan kesaksian. Kita memiliki pengharapan bahwa kita akan memasuki tempat maha kudus. Kita menyalakan lampu-lampu di depan kesaksian yang berada di sisi lain dari tabir dengan harapan bahwa tabir itu akan tersingkir. Karena itu, ketika kita datang untuk berhimpun di dalam tempat kudus Allah, kita menyalakan lampu-lampu, agar terang itu akan menyorot di depan kesaksian, dengan harapan memasuki tempat maha kudus. Begitu kita memasuki tempat maha kudus, kemuliaan Allah akan menggantikan terang yang memancar di dalam tempat kudus. Inilah cara menyalakan lampu dengan kualifikasi imamat. Kita memerlukan persyaratan-persyaratan ini untuk mampu berada di depan kesaksian dengan harapan memasuki tempat maha kudus. Dengan menyalakan lampu-lampu, kita dapat melihat jalan yang menuju ke dalam tempat maha kudus, jalan yang menuju kedalaman Kristus di dalam Allah.

Saya berharap kita semua terkesan bahwa di dalam sidang-sidang, perhimpunan-perhimpunan, kita perlu menyalakan lampu-lampu, dan penyalaan lampu-lampu itu merupakan perkara keimaman. Di dalam perhimpunan kita, kita harus menyebabkan terang ilahi menyorot agar kegelapan sirna, sehingga kita terbawa ke dalam terang dengan harapan masuk ke dalam tempat maha kudus, tempat kesaksian Allah berada. Mungkin kita masih berada di tempat kudus, tetapi kita sudah dekat pada kesaksian, dan kita memiliki harapan untuk memasuki tempat maha kudus.

MELIHAT BERBAGAI ASPEK KRISTUS

Alasan lain menyalakan lampu-lampu dalam tempat kudus ialah melalui sinar terang itu kita dapat melihat berbagai perabotan di dalam tempat kudus. Ini berarti kita mampu melihat berbagai aspek Kristus di dalam kawasan kudus. Setiap kali kita menyalakan lampu-lampu di dalam persidangan gereja, kita dapat melihat aspek tertentu dari Kristus. Sebaliknya jika kita tidak melihat aspek tertentu dari Kristus, tetapi malahan melihat sesuatu yang awam, alamiah, atau duniawi, pasti ada sesuatu yang tidak benar pada terang itu. Apa yang seharusnya kita lihat di bawah penyorotan lampu-lampu di dalam tempat kudus adalah Kristus dalam berbagai aspek-Nya. Melalui nyanyian, kesaksian, pembicaraan, dan pembagian nikmat, terang itu harus menyorot untuk menyajikan bermacam-macam aspek Kristus. Selain itu, kita juga melihat jalan menuju ke dalam tempat maha kudus. Pengalaman di dalam persidangan gereja membuktikan bahwa bila terang memancar, kita melihat Kristus, juga melihat jalan untuk memasuki tempat maha kudus.

Menurut Keluaran 27:21, imam-imam itu memasang lampu-lampu dari “petang hingga pagi”. Tidak ada suatu penjelasan mengenai siang harinya. Dalam kehidupan kristiani, kita berada pada malam hari, tidak pada siang hari. Karena kita berada pada malam hari, maka kita memerlukan lampu-lampu untuk memancarkan terang, hingga terbit fajar. Melalui terang yang memancar di dalam persidangan-persidangan sepanjang zaman malam, kita diterangi untuk lebih banyak melihat Kristus dan untuk lebih jelas melihat jalan yang menuju ke dalam tempat maha kudus.

Hari ini banyak orang datang ke persidangan-persi-dangan tanpa mengerti bagaimana cara menyalakan lampu-lampu. Mereka perlu belajar cara menyalakan lampu-lampu untuk menerangi sidang. Ketika kami berada di gedung Elden pada tahun-tahun antara 1969 sampai dengan 1971, lampu-lampu sudah dinyalakan jauh sebelum pengumuman waktu dimulainya bersidang. Tetapi di beberapa persidangan hari ini, lampu-lampu belum juga dinyalakan walaupun pengumuman waktu dimulainya bersidang sudah dikumandangkan. Bahkan, di gedung Elden selama tahun-tahun tersebut, kaum beriman sudah siap-siap menyalakan lampu sejak mereka masih berada di rumah atau ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju ke persidangan. Selama beberapa tahun itu, kaum beriman menulis banyak kidung hayat seperti “kini Kristus adalah Roh pemberi-hayat”, salah satu di antara banyak lagu yang saya gemari. Lagu ini mendatangkan terang kepada kaum beriman. Roh mereka tergugah oleh lagu ini.

SATU PERKARA YANG SERIUS

Menyalakan lampu-lampu dalam tempat kudus merupakan satu perkara serius, yang menuntut hal-hal mendasar tertentu: kaki pelita, sumbu, dan minyak zaitun. Lagi pula, untuk memiliki minyak, terlebih dulu kita harus memiliki pohon zaitun dengan buahnya. Bila kita memikirkan gambar-gambar mengenai lampu-lampu dengan minyak zaitun, kita akan memiliki sebuah potret pengalaman rohani. Kita memerlukan pengalaman atas Kristus sebagai pohon zaitun di dalam inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan-Nya. Aspek-aspek proses Kristus ini perlu menjadi pengalaman kita. Ini berarti apa adanya Dia harus menjadi apa adanya kita. Bila kita tidak memiliki pengalaman proses Kristus, kita tidak akan memiliki pohon zaitun dengan minyaknya. Dengan demikian kita akan berhampa tangan ketika hendak menyalakan lampu-lampu. Kita akan kekurangan minyak zaitun. Karena itu kita memerlukan pengalaman yang tepat atas Kristus. kita juga memerlukan kaki pelita sebagai perwujudan Allah Tritunggal. Kita memerlukan kaki pelita ini tidak melulu secara doktrinal, tetapi juga secara pengalaman. Lagi pula, kita memerlukan pengalaman untuk menata lampu-lampu itu, yaitu mengatur lampu-lampu itu menurut aturan yang semestinya, juga pengalaman untuk memotong sumbu dan mengisi lampu-lampu itu dengan minyak. Sebagaimana telah kita tunjukkan, kita juga memerlukan jubah imam, yaitu ekspresi Kristus.

Banyak orang yang mengikuti persidangan-persidangan tidak mampu menyalakan lampu-lampu, karena mereka tidak memiliki minyak. Mereka tidak memiliki pengalaman yang diperlukan terhadap Kristus. Mereka tidak banyak melayani sebagai imam-imam untuk menyalakan lampulampu di tempat kudus. Dari sini, kita tahu bahwa penyalaan lampu-lampu itu sangat serius dan penting.

Beberapa tahun yang lalu saya diajar bahwa kaki pelita melambangkan Kristus dan minyak zaitun melambangkan Roh Kudus. Namun, tak ada penekanan mengenai pengalaman rohani. Hari ini pengenalan kita terhadap penyalaan lampu-lampu tidak ditekankan pada aspek doktrinalnya, tetapi lebih banyak yang menyangkut pengalaman kristiani kita. Dalam pengalaman, kita perlu menjadi imam-imam, kita perlu memiliki kaki pelita dengan sumbu-sumbunya dan kita pun perlu minyak. Minyak adalah yang paling penting. Ini menuntut agar kita mengalami Kristus sebagai pohon zaitun di dalam inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Dengan demikian kita akan memiliki substansi yang perlu bagi penyalaan lampu-lampu. Hanya bila kita memiliki kaki pelita, sumbu-sumbu, dan minyak secara pengalaman, barulah kita layak menyalakan lampu-lampu.

Sebagai tambahan kepada perkara-perkara atas pengalaman ini, kita memerlukan pengalaman lebih lanjut terhadap pakaian imam. Hanya mereka yang memiliki pakaian ini baru layak menyalakan lampu-lampu. Bila kita tidak mengenakan pakaian ini, berarti kita kekurangan dalam hal pengalaman dan ekspresi Kristus. Bila kita coba-coba menyalakan lampu-lampu tanpa ekspresi Kristus secara tepat di dalam berbagai aspek yang dilambangkan oleh pakaian, kita akan mengalami kematian rohani di dalam tempat kudus. Ini bukan sekadar doktrin, tetapi sungguh-sungguh merupakan kejadian dalam pengalaman. Ketika datang ke dalam persidangan-persidangan, banyak orang beriman yang menderita kematian karena mereka tidak mengenakan pakaian imam.

Telah kita tunjukkan bahwa ketika kita menyalakan lampu-lampu di dalam tempat kudus, kita melihat perabotan yang melambangkan berbagai aspek Kristus: meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan. Melalui visi tepat di bawah terang lampu-lampu di dalam tempat kudus, kita melihat berbagai aspek Kristus, juga jalan yang menuju ke dalam tempat maha kudus. Walaupun mungkin kita tidak berada di tempat maha kudus, tetapi kita memiliki pemandangan dan pengharapan memasuki tempat paling dalam ini untuk menjamah hal-hal yang lebih dalam dari Kristus.

Saya harap, semoga melalui berita-berita mengenai penyalaan lampu-lampu dan pakaian imam ini, banyak di antara kita akan mengenal makna sesungguhnya mengenai perhimpunan kaum beriman. Tujuan perhimpunan adalah untuk memiliki tempat kudus yang tepat dengan penyalaan lampu-lampu oleh imam-imam yang layak, sehingga kita memiliki visi mengenai berbagai aspek Kristus, seraya mendapatkan jalan untuk memasuki kedalaman Kristus dengan Allah.