KEDUANYA DIDAMAIKAN DENGAN ALLAH DALAM SATU TUBUH SERTA KAWAN SEWARGA ORANG KUDUS
DAN ANGGOTA KELUARGA ALLAH
Dalam berita ini kita tiba pada Efesus 2:16-19, di sini kita nampak orang Yahudi dan orang kafir telah didamaikan dengan Allah dalam satu Tubuh dan sekarang kita, kaum beriman, menjadi kawan sewarga orang kudus dan anggota keluarga Allah.
I. KEDUANYA PERLU DIDAMAIKAN
DENGAN ALLAH
Efesus 2:16 mengatakan,”Dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah melalui salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.” Kata “keduanya” mengacu kepada bangsa Yahudi dan bangsa kafir. Bukan hanya bangsa kafir yang tidak bersunat, tetapi juga bangsa Yahudi yang bersunat, perlu didamaikan dengan Allah melalui penebusan Kristus yang digenapkan di atas salib.
II. DALAM SATU TUBUH
Ayat 16 mengatakan bahwa orang Yahudi dan orang kafir telah didamaikan di dalam satu Tubuh. Satu Tubuh ini, gereja (Ef. 1:22-23), adalah satu manusia baru yang disebut dalam ayat sebelumnya. Di dalam satu Tubuh inilah orang Yahudi dan orang kafir didamaikan dengan Allah melalui salib. Kita, kaum beriman, baik Yahudi maupun kafir, telah didamaikan tidak saja untuk Tubuh Kristus, tetapi juga di dalam Tubuh Kristus. Bukan main wahyu ini! Kita telah didamaikan dengan Allah; kita telah diselamatkan di dalam Tubuh Kristus.
Biasanya kita menganggap pendamaian sebagai urusan perorangan; kita jarang memikirkan pendamaian yang korporat. Akan tetapi, pendamaian yang wajar dan sejati adalah dalam satu Tubuh. Tubuh adalah sarana dan cara yang olehnya kita didamaikan dengan Allah. Menurut Kolose 3:15, kita telah dipanggil di dalam satu Tubuh.
Konsepsi korporat ini meliputi seluruh Alkitab Perjanjian Baru. Tetapi kita selalu berkonsepsi bahwa kita didamaikan dengan Allah secara perorangan. Namun dalam pandangan Allah kita telah dipanggil dalam satu Tubuh dan didamaikan dengan-Nya dalam Tubuh ini. Keluarnya orang Israel dari Mesir jelas melukiskan hal ini. Di satu aspek, orang Israel di Mesir jauh terpisah dari Allah. Setelah mereka dibawa keluar dari Mesir dan menyeberangi Laut Merah, di Gunung Sinai mereka didamaikan dengan Allah sebagai satu jemaat bukan secara perorangan. Hal tersebut melambangkan kita didamaikan dengan Allah dalam satu Tubuh. Hari ini kita perlu memiliki konsepsi korporat yang sedemikian. Jangan mengira bahwa Anda telah diselamatkan secara perorangan. Sebaliknya, kita telah diselamatkan secara kolektif dan didamaikan dalam satu Tubuh.
III. DENGAN ALLAH
Dahulu kita tanpa Allah dan telah kehilangan Allah (ayat 12). Tetapi, melalui salib dan darah Kristus, kita telah dibawa kembali kepada Allah dalam satu Tubuh. Selama kita berada dalam satu Tubuh, kita bersatu de-ngan Allah. Tetapi jika kita berada di luar Tubuh, kita terpisah dari Allah.
IV. MELALUI SALIB
Pendamaian kita dengan Allah dalam satu Tubuh dirampungkan melalui salib. Salib Kristus di satu pihak telah melenyapkan perseteruan yang disebabkan oleh ketetapan-ketetapan yang diberikan karena daging; di pihak lain, salib Kristus menebus kita dengan darah Kristus yang teralir di atasnya. Melalui saliblah, baik orang Yahudi maupun orang kafir, telah didamaikan dengan Allah dalam satu Tubuh.
V. MEMBERITAKAN INJIL PENDAMAIAN
Ayat 17 mengatakan, ”Ia datang dan memberitakan (Injil) damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’.” Ini adalah kedatangan Kristus sebagai Roh itu untuk memberitakan damai sejahtera sebagai Injil; damai sejahtera yang digenapkan-Nya melalui salib-Nya. Mereka yang jauh ialah orang-orang kafir, yang tidak bersunat, dan yang dahulunya jauh, terpisah oleh daging mereka; dan mereka yang dekat ialah orang-orang Yahudi, yang bersunat, yang dahulu dekat dijadikan dekat oleh pemilihan Allah.
Kristus yang mati di atas salib untuk menghapus peraturan-peraturan, agar dapat menciptakan manusia baru, dan mengalirkan darah-Nya untuk mendamaikan kita dengan Allah, datang kepada kita sebagai Roh itu untuk memberitakan Injil pendamaian. Hal ini berarti Kristus telah datang sebagai Roh pemberi-hayat, bahkan sebagai Roh pemberita Injil. Maka baik orang yang jauh maupun yang dekat sama-sama perlu mendengar kabar kesukaan pendamaian ini.
VI. JALAN MASUK DALAM SATU ROH
A. Salib Kristus dan Darah-Nya
Adalah Jalan Masuk
Pemberitaan Injil pendamaian hanya merupakan fakta yang obyektif, bukan pengalaman yang subyektif. Karena itu, setelah menerima pemberitaan itu, kita perlu pengalaman yang menjadi jalan masuk kepada Bapa dalam satu Roh. Jalan masuk ini adalah salib Kristus dan darah-Nya (Ibr. 10:19).
B. Melalui Kristus
Kaum beriman Yahudi maupun kafir memiliki jalan masuk kepada Bapa melalui Kristus, Kristus yang membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuan-ketentuannya, merubuhkan tembok pemisah, melenyapkan perseteruan untuk mendamaikan orang kafir kepada orang Yahudi, dan mengalirkan darah-Nya untuk menebus kedua pihak itu kepada Allah.
C. Dalam Satu Roh
Seperti yang ditunjukkan dalam ayat 18, jalan masuk kita kepada Bapa ialah di dalam satu Roh. Jika kita memiliki salib tanpa Roh, kita hanya memiliki fakta tanpa pengalaman. Maka Roh itu sangatlah penting dan menentukan. Pertama, kaum beriman Yahudi dan kafir telah diperdamaikan dalam satu Tubuh kepada Allah (ayat. 16). Ini adalah masalah posisi. Kemudian, keduanya memiliki jalan masuk dalam satu Roh kepada Bapa. Ini adalah masalah pengalaman.
D. Kepada Bapa
Jalan masuk dalam satu Roh ini adalah kepada Bapa. Secara posisi, kita didamaikan kepada Allah; secara pengalaman, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa. Didamaikan kepada Allah adalah diselamatkan; beroleh jalan masuk kepada Bapa adalah menikmati Allah (sumber hayat) yang melahirkan kita kembali menjadi anak-anak-Nya.
Dalam satu Tubuh kita telah didamaikan kepada Allah melalui salib. Ini adalah satu fakta. Kini kita beroleh jalan masuk kepada Bapa dan berkontak langsung dengan-Nya. Ini adalah satu pengalaman. Kita telah didamaikan dengan Allah secara posisional untuk keselamatan dan kita beroleh jalan masuk kepada Bapa bagi kenikmatan dalam pengalaman. Sungguh sangat bermakna, ayat-ayat ini tidak mengatakan kita telah didamaikan kepada Bapa dan beroleh jalan masuk kepada Allah. Tidak, melainkan setelah didamaikan dengan Allah sekali untuk selama-lamanya dan kini kita beroleh jalan masuk kepada Bapa bagi kenikmatan yang terus-menerus.
Dalam ayat 18 tersirat trinitas ke-Allahan. Melalui Allah Putra, yang merupakan Penggenap, cara; dan dalam Allah Roh, yang merupakan Pelaksana, penerapan, kita beroleh jalan masuk kepada Allah Bapa, yang merupakan Pemula, sumber kenikmatan kita.
Dalam ayat 15 dan 16 Rasul Paulus menyebut satu manusia baru sebelum Tubuh. Mengapa demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu merenungkan Efesus 2:14-16 sekali lagi. Sewaktu kita membaca ayat-ayat ini, kita tidak seharusnya membawa konsepsi alamiah, pengertian agamawi, atau prasangka doktrinal kita, sebab semuanya itu membuat kita tolol dan tumpul dalam memahami firman Tuhan. Karena aspek gereja sebagai Tubuh tidak setinggi aspeknya sebagai manusia baru, mungkin kita mengira Tubuh harus disebut lebih dulu, tetapi mana mungkin ada Tubuh jika tidak ada satu manusia lebih dulu? Pertama-tama, kita membicarakan satu manusia, kemudian baru tubuhnya. Penciptaan manusia baru adalah yang primer, sedangkan dihasilkannya Tubuh itu bersifat sekunder. Karena itu, Paulus lebih dulu mengatakan bahwa kematian Kristus dalam dagingnya di atas salib, membatalkan peraturan-peraturan, untuk menciptakan satu manusia baru dalam diri-Nya. Dengan berbuat demikian, maka Tubuh telah dihasilkan. Jadi, segera setelah manusia baru diciptakan, muncullah Tubuh itu. Dalam hubungan ini kata “dan” pada permulaan ayat 16 sangat bermakna, sebab kata itu mengaitkan pemikiran pendamaian di dalam satu Tubuh dengan penciptaan satu manusia baru. Ketika Kristus menciptakan keduanya itu, orang Yahudi dan orang kafir ke dalam satu manusia baru, Ia mendamaikan mereka dalam satu Tubuh kepada Allah. Karena alasan inilah maka Paulus menyebut manusia baru lebih dulu, kemudian baru menyebut Tubuh.
Ingatlah, Kristus tidak mendamaikan orang per orang. Ia mendamaikan dua bangsa — orang Yahudi dan orang kafir di dalam satu Tubuh. Bila Ia hanya mendamaikan orang-orang dosa secara perorangan, Ia tidak perlu mendamaikan mereka di dalam satu Tubuh. Namun demi memperdamaikan kedua umat kolektif tersebut, Ia perlu berbuat demikian dalam Tubuh.
Dahulu orang Yahudi terpisah dengan orang kafir, tetapi di atas salib, Kristus merubuhkan tembok pemisah dan menciptakan mereka dalam satu wujud — manusia baru. Tetapi bagaimana hubungan mereka dengan Allah? Untuk mendamaikan mereka kepada Allah, diperlukan satu tubuh sebagai sarana. Ketika Kristus menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru, dengan sendirinya Ia mendamaikan mereka kepada Allah dalam satu Tubuh. Ketika mereka diciptakan ke dalam manusia baru, hal itu memungkinkan mereka didamaikan kepada Allah dalam satu Tubuh. Maka satu Tubuh merupakan satu cara yang melaluinya mereka dapat didamaikan kepada Allah. Itulah sebabnya, dalam ayat 15 dan 16 satu manusia baru disebut mendahului Tubuh.
Sesudah didamaikan kepada Allah, orang Yahudi dan orang kafir masih perlu mendapatkan jalan masuk kepada Bapa sebagai kenikmatan. Jalan masuk ini tidak hanya di dalam Tubuh, tetapi juga di dalam Roh. Berada di dalam Tubuh itu suatu fakta, berada di dalam Roh itu suatu pengalaman. Walaupun kita berada di dalam Tubuh, kita mungkin belum berada di dalam Roh, sebaliknya kita mungkin berada di dalam pikiran kita yang terombang-ambing. Misalnya, sewaktu Anda duduk di dalam suatu sidang, mungkin pikiran Anda melanglang buana. Ini menggambarkan fakta bahwa kita perlu mengalami berada di dalam Roh.
Ketika kita berada di dalam Roh, barulah kita menikmati Bapa. Kita mungkin memiliki Allah pada faktanya melalui berada di dalam Tubuh, tetapi jika kita mau menikmati Bapa dalam pengalaman, haruslah kita berada di dalam Roh. Dahulu kita jauh dari Allah, tetapi pada posisinya, kita telah didamaikan kepada-Nya dan sekarang tidak ada lagi sekatan atau pemisahan antara kita dengan Allah. Namun bila kita tidak berada di dalam Roh, kita tidak dapat menikmati fakta tersebut. Itulah sebabnya, untuk menikmati dalam pengalaman apa yang kita miliki secara posisional itu, perlulah kita berada di dalam Roh.
VII. BUKAN LAGI ORANG ASING
DAN PENDATANG
Sekarang kita tiba pada ayat 19 “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” Ayat ini mencakup dua aspek gereja: kerajaan, yang ditunjukkan dalam ungkapan “kawan sewarga”, dan keluarga Allah, yang ditunjukkan dalam ungkapan “keluarga Allah”.
Ayat 19 mengatakan bahwa kita, orang kafir, bukan lagi orang asing dan pendatang. Kata “kamu” dalam ayat ini mengacu kepada kaum beriman kafir. Orang asing adalah pendatang, pelancong asing di antara Israel, tanpa hak warga negara. Di sini keduanya mengacu kepada orang-orang kafir.
VIII. KAWAN SEWARGA DARI ORANG-ORANG
KUDUS
Kini kita bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus. Ungkapan “kawan sewarga” menunjukkan Kerajaan Allah. Semua orang beriman, baik orang Yahudi maupun kafir, adalah warga negara dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah ruang lingkup tempat Allah dapat melaksanakan kekuasaan-Nya. Asalkan Anda seorang beriman, Anda adalah warga negara Kerajaan Allah. Kewarganegaraan ini mencakup hak-hak dan kewajiban kita. Kita menikmati hak-hak kerajaan, kita pun mengemban tanggung jawab kerajaan. Kedua hal ini selalu bergandengan. Sebagai contoh, sebagai warga negara Amerika Serikat, kita menikmati hak-hak tertentu, tetapi kita juga harus memenuhi kewajiban kita untuk membayar pajak.
IX. ANGGOTA-ANGGOTA KELUARGA ALLAH
Ayat 19 mewahyukan bahwa kita juga sebagai “anggota-anggota keluarga Allah”. Ungkapan ini menunjukkan rumah Allah. Kaum beriman Yahudi dan kafir adalah anggota keluarga Allah. Keluarga Allah adalah masalah hayat dan kenikmatan; semua orang beriman dilahirkan dari Allah ke dalam rumah-Nya (keluarga-Nya) untuk menikmati kekayaan-Nya. Kerajaan Allah adalah masalah hak dan kewajiban; semua orang percaya yang dilahirkan ke dalam rumah Allah memiliki hak sipil dan kewajiban dalam Kerajaan Allah. Dalam ayat yang pendek ini tercakup dua perkara yang dalam: Kerajaan Allah berikut hak dan kewajibannya dan rumah atau keluarga Allah berikut kenikmatan hayat dan kekayaan Bapa.
X. KAUM SALEH, KELUARGA ALLAH,
DAN KERAJAAN ALLAH
Ayat 19 menyinggung tentang kaum saleh, keluarga Allah, dan Kerajaan Allah. Kaum saleh itu bersifat individual, tetapi keluarga Allah bersifat korporat dan menghasilkan Kerajaan Allah. Tanpa keluarga tidak mungkin ada kerajaan. Pertama-tama kita adalah kaum saleh yang individual, kemudian kita adalah keluarga Allah yang korporat dan yang akhirnya menjadi Kerajaan Allah. Karena itu, kita tidak saja memiliki aspek individual dari kehidupan orang Kristen, juga memiliki kehidupan keluarga Allah dan Kerajaan Allah pada aspek korporat.
Mengapa Rasul Paulus dalam ayat 19 mengatakan kerajaan lebih dahulu, kemudian baru keluarga Allah? Pemikiran Paulus di sini adalah mengenai status kita yang dahulu sebagai orang asing dan pendatang. Orang asing dan pendatang berkaitan dengan kerajaan, bukan dengan keluarga. Orang yang menjadi orang asing di negeri ini bukan orang asing dalam hubungan keluarga, tetapi dalam hubungan kebangsaan. Karena orang asing dan pendatang di negeri ini bukan orang asing dalam hubungan keluarga, tetapi dalam hubungan kenegaraan. Sebab itu Paulus lebih dulu menyebut kerajaan. Dalam ayat ini konsepsi utama Paulus ialah kewarganegaraan dalam Kerajaan Allah. Tetapi kerajaan terbentuk dari keluarga. Maka Paulus juga menyebut keluarga Allah, yaitu rumah tangga Allah.
Dalam ayat 19 terdapat pikiran yang akrab, ini tertampak dari ungkapan “kawan sewarga”. Sebagai orang kafir yang belum beroleh selamat, kita dahulu jauh dari Allah dan kewargaan Israel, tetapi sekarang kita memiliki satu hubungan yang akrab dengan orang-orang kudus. Kita adalah kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. Di antara warga negara Amerika Serikat, terdapat suatu keakraban, tetapi keakraban itu tidak sebanding dengan keakraban di antara anggota keluarga. Orang-orang Yahudi dan kafir bukan hanya menjadi warga dari kerajaan yang sama, tetapi juga menjadi kerabat keluarga yang sama. Kita perlu memandang orang kudus dengan akrab sebagai kerabat kita. Menjadi anggota keluarga Allah tidak seharusnya hanya dalam doktrin kita, tetapi juga dalam pengalaman kita. Dalam alam semesta Allah hanya memiliki satu keluarga, satu rumah tangga. Tidak peduli apa latar belakang kita, sebagai kaum beriman, kita semua adalah anggota keluarga Allah yang universal dan unik ini, dan seluruh orang kudus adalah kerabat kita. Janganlah menganggap hal ini sepele, tetapi pandanglah hal ini dengan serius sebagai aspek gereja yang terpenting. Betapa akrabnya hubungan yang kita miliki di antara keluarga Allah!