PENGALAMAN HAYAT (1)
Pembacaan Alkitab:
Ef. 4:18; Rm. 8:2; Yoh. 10:10; 6:35, 55, 57; 6:63;
Kej. 1:26-27; 2:7; Why. 2:7; 22:2
Doa: Tuhan, kami berterima kasih kepada-Mu atas kedaulatan-Mu, kami berterima kasih kepada-Mu atas pengaturan anugerah-Mu sehingga kami dapat mengadakan pelatihan ini. Tuhan, kami percaya bahwa ini berasal dari-Mu, namun kami tetap bersandar kepada-Mu. Kami tidak percaya kepada diri kami sendiri. Kami mempercayakan semua peserta pelatihan kepada-Mu. Lawatlah mereka dengan belas kasihan dan anugerah-Mu setiap hari. Tuhan, pagi ini kami menengadah kepada-Mu untuk perkataan-Mu. Berbicaralah dari isi hati-Mu kepada kami. Kami perlu perkataan hayat-Mu. Wahyukanlah hayat kepada kami. Tuhan, naungilah kami, berperanglah untuk kami, dan hukumlah si jahat. Kami memohon, dan bahkan kami menyuruh Engkau untuk mengalahkannya dalam hari-hari peperangan ini. Tuhan, kalahkanlah si musuh. Kami mengikatnya. Tuhan, terima kasih kepada-Mu. Berilah kami perkataan hayat. Amin.
KATA PENGANTAR MENGENAI PELATIHAN
Ini adalah pelatihan yang sangat khusus dan istimewa. Selama enam puluh tahun terakhir ini, kita belum pernah mengadakan pelatihan seperti ini. Pertama, saya tidak bisa berbicara terlalu banyak. Saya akan berbicara empat kali setiap minggu dari delapan belas sampai sembilan belas kelas. Saya akan berbicara pada hari Selasa pagi, Kamis pagi, Sabtu pagi, dan satu kali pada sore hari. Saya harap ini akan mendorong kalian, bukannya mengecewakan kalian.
Kedua, akan ada sepuluh orang pengajar lain yang akan membantu kalian. Mereka bersedia mengambil bagian dalam pelatihan ini selama enam belas minggu. Kebanyakan dari mereka akan berbicara satu atau dua kali seminggu, sementara sebagian kecil akan berbicara sebanyak tiga kali seminggu. Jadi, termasuk saya, ada sebelas orang saudara yang akan membantu kalian.
Ketiga, pekerjaan penjengukan yang akan ditugaskan kepada kalian mulai malam ini terdiri atas empat hal: menjenguk orang sebagai imam Injil Perjanjian Baru, merawat dan memberi makan orang-orang yang baru diselamatkan dalam sidang rumahan, berjerih lelah membangun kelompok kecil untuk menggenapkan (memperlengkapi) orang-orang baru, dan mendirikan gereja-gereja baru di kota-kota baru. Kita tidak pernah memiliki pelatihan jangka panjang seperti ini dengan pelaksanaan sehari-hari yang demikian khusus.
Dalam pekerjaan penjengukan, terutama mengenai kelompok kecil, masih banyak yang perlu kita pelajari. Banyak yang disebut kelompok kecil yang telah bersidang untuk sejangka waktu masih terlalu alamiah. Dalam banyak hal, mereka tidak mengikuti jalan ekonomi Perjanjian Baru. Sebaliknya, mereka mengikuti pengertian alamiah. Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa mereka tahu apa itu kelompok kecil, yang diperlukan hanyalah mengumpulkan orang-orang. Secara tegas, saya katakan, “Bukan begitu.” Kelompok kecil adalah pelaksanaan penggenapan orang-orang kudus seperti yang diwahyukan dalam Efesus 4:12. Karena itu, kelompok kecil sangat penting. Kelompokkecil bukan hanya untuk menggenapkan Anda, tetapi juga untuk menggenapkan orang lain melalui Anda. Tetapi, sebelum Anda dapat menggenapkan orang lain, Anda sendiri harus belajar digenapkan. Itulah sebabnya kami mencurahkan banyak tenaga dalam pelatihan ini untuk memperkuat pelajaran kalian.
Untuk mendirikan gereja-gereja baru, kami akan menugaskan beberapa orang dari antara kalian untuk pergi ke kota-kota baru yang terdekat. Kalian akan dibagi dalam regu, masing-masing terdiri dari tiga orang. Dua regu baru, yaitu enam orang, diutus untuk merawat satu kota baru. Dalam enam belas minggu pelatihan, saya harap akan ada sejumlah gereja kecil baru dibangkitkan di kota-kota tersebut, setelah pelatihan enam belas minggu selesai, saat kalian pergi, regu lain dari peserta latihan yang baru akan datang untuk meneruskan pekerjaan ini. Inilah aspek khusus dalam pekerjaan penjengukan pada pelatihan kali ini.
ISI PELATIHAN --
PERTUMBUHAN HAYAT DAN PRAKTEK JALAN BARU
Dalam pelatihan semester ini, saya tidak berbeban untuk menyampaikan visi baru seperti yang saya lakukan dalam sidang-sidang khusus dan istimewa pada waktu-waktu lampau. Saya hanya akan duduk bercakap-cakap dengan kalian mengenai dua hal pokok: pertumbuhan dalam hayat dan pelaksanaan jalan baru. Menurut urutan rohani, hayat haruslah yang pertama dan jalan baru yang kedua; tetapi menurut beban saya, jalan baru haruslah yang pertama. Saya akan meluangkan waktu enam belas jam, satu jam seminggu, untuk berbicara kepada kalian mengenai jalan baru. Jalan baru telah disalahpahami, ditolak, dan bahkan sampai tingkat tertentu difitnah. Beberapa orang mengatakan bahwa Pelatihan Sepenuh Waktu di Taipei adalah “Hagar” dan semua yang dibaptis melalui pengabaran Injil dari rumah ke rumah adalah “Ismael”. Ini adalah fitnah yang sangat serius dan jahat. Jadi, saya harus meluangkan waktu untuk berbicara enam belas kali mengenai jalan baru.
Saya akan berbicara empat kali seminggu mengenai kedua hal tersebut dari berbagai aspek. Berkenaan dengan hayat, apa yang akan saya bicarakan dengan kalian adalah pengalaman hayat dan pertumbuhan dalam hayat. Berkenaan dengan jalan baru, kita akan meluangkan waktu untuk memasuki jalan baru, dan kita juga akan membicarakan pelaksanaan jalan baru. Walaupun saya telah menyampaikan cukup banyak berita mengenai jalan baru selama empat setengah tahun terakhir ini, tetapi masih diperlukan penglihatan yang lebih dalam mengenai jalan baru.
HANYA HAYAT KEKAL ALLAH ADALAH HAYAT
Mungkin sebagian besar di antara kalian telah membaca buku “Pengalaman Hayat”. Berita-berita dalam buku itu disampaikan pada tahun 1953 dan 1954, lalu dicetak dua atau tiga tahun kemudian. Jadi buku itu telah ada di antara kita selama bertahun-tahun. Hari ini, walaupun pembicaraan saya mengacu kepada buku itu, namun saya tidak akan berbicara menurut buku itu. Sebaliknya, saya akan berbicara sesuai dengan keadaan kalian.
Apakah hayat itu? Atau siapakah hayat itu? Menurut Alkitab, dalam alam semesta hanya ada satu hayat. Semua hayat yang lain dapat dianggap “bukan hayat”, karena mereka adalah hayat yang sementara. Ada banyak jenis hayat yang berbeda seperti hayat nyamuk, rayap, semut, serigala, anjing, dan harimau. Juga ada kategori-kategori hayat yang berbeda seperti hayat tumbuhan dan hayat hewan. Hayat tertinggi dari semua hayat ciptaan ini adalah hayat manusia. Tetapi semua hayat ini, termasuk hayat manusia, bersifat sementara.
Hanya satu hayat yang ada tanpa awal dan tanpa akhir. Hanya satu hayat yang adalah sumber hayat, hakiki hayat, unsur hayat, dan faktor hayat. Hayat ini disebut hayat yang kekal. Hayat ini kekal, tidak hanya dalam waktu, tetapi juga dalam sumber, dalam hakiki, dalam unsur, dan dalam faktor. Kekal berarti tidak terbatas dan tidak dibatasi. Hayat kekal ini tidak terikat, terbatas, atau dibatasi dalam waktu, dalam sumber, dalam hakiki, dalam unsur, atau dalam faktor. Dalam segala aspek dan dalam segala pengertian, hayat ini tidak terbatas dan tidak dibatasi. Hayat ini kekal adanya. Alkitab memberi tahu kita, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita menerima hayat kekal yang sedemikian (Yoh. 3:16).
Banyak orang Kristen tidak mengerti istilah “hayat kekal”. Pernahkah kalian mendengar bahwa hayat kekal ini tidak hanya kekal dalam waktu, tetapi juga dalam kualitas, hakiki, unsur, faktor, dan bahkan dalam sumbernya? Semua hayat yang lain, hayat ciptaan, memiliki beberapa batasan. Sebagai contoh, kita mempunyai tenaga, tetapi tenaga kita terbatas. Kita memiliki kekuatan, dan kemampuan, tetapi semuanya terbatas. Sebagai umat manusia, kita memiliki lebih banyak tenaga, kekuatan, dan kemampuan daripada hayat ciptaan lainnya; tetapi tenaga, kekuatan, dan kemampuan kita terbatas dan ada akhirnya. Kita mungkin dapat bersabar, tetapi tidak peduli berapa lama kita dapat bersabar, kesabaran kita terbatas. Namun kesabaran Allah tidak terbatas. Hanya ada satu hayat, yakni hayat kekal yang tidak terbatas. Hayat kekal ini bukan hanya dari Allah, lebih-lebih adalah diri Allah sendiri.
ALLAH, KRISTUS, ROH ITU, DAN FIRMAN MENJADI HAYAT
Dalam seluruh Perjanjian Baru, istilah “hayat Allah” (Tl.) hanya digunakan sekali, yaitu dalam Efesus 4:18. Istilah “hayat Allah” menunjukkan bahwa Allah adalah hayat; sama seperti frase “kasih Allah” (1 Yoh. 4:9; 2 Kor. 13:13) dan “terang Tuhan” (Yes. 2:5), yang menunjukkan bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:8, 16) dan Allah adalah terang (1 Yoh. 1:5). Secara timbal balik frase-frase ini sinonim, semuanya bersifat menerangkan. Dalam frase “hayat Allah”, “hayat” dan “Allah” juga merupakan kata keterangan. Allah adalah hayat, Allah adalah kasih, dan Allah adalah terang.
Hayat kekal, hayat ilahi, adalah Allah sendiri sebagai Sang hayat, adalah Allah Sang Roh. Hayat adalah Allah sendiri, Allah adalah Roh (Yoh. 4:24), dan Roh itu adalah hayat (Rm. 8:2). Hayat kekal, hayat ilahi, juga adalah Roh hayat. Allah Sang Roh telah mewujudkan diri-Nya dalam Kristus (Yoh. 4:24; 1:1, 14). Hayat Allah, Allah sendiri, juga adalah hayat Kristus, Kristus sendiri. Sebenarnya, dalam Perjanjian Baru, tidak ada istilah “hayat Kristus”. Perjanjian Baru hanya mengatakan bahwa Kristus adalah hayat (Yoh. 14:6; 11:25).
Hayat bersifat kekal. Hayat bersifat ilahi. Hayat adalah Kristus. Kristus adalah Allah, dan Kristus adalah Roh itu. Hayat kekal dan ilahi yang adalah Allah, Roh itu, dan Kristus, terwujud dalam firman. Perjanjian Baru mengatakan bahwa firman adalah hayat (Yoh. 6:63; 1 Yoh. 1:1). Hayat ini diwujudkan bukan hanya dalam firman yang dibicarakan oleh Allah, tetapi juga dalam firman-Nya yang kita beritakan. Kisah Para Rasul 5:20 menunjukkan bahwa firman yang keluar dari mulut Petrus adalah firman hidup (hayat). Perkataan Petrus bukan hanya firman Allah, tetapi juga perkataan kesaksiannya. Kehidupan dan pekerjaan Petrus membuat hayat ilahi ini ternyata begitu riil pada saat itu; itulah sebabnya perkataan Petrus adalah perkataan kesaksiannya.
Seluruh isi Alkitab, terutama Perjanjian Baru, adalah mengenai hayat. Hayat adalah intinya. Hayat adalah hakiki, unsur, dan faktor dari seluruh Perjanjian Baru. Perjanjian Baru adalah sebuah kitab mengenai “firman hayat” (Kis. 5:20), firman hayat kekal.
MANUSIA MEMILIKI GAMBAR, RUPA, DAN NAFAS ALLAH
Hayat sebagai isi Alkitab sepenuhnya dilambangkan oleh pohon hayat (kehidupan, Kej. 2:9). Untuk mengetahui makna pohon hayat, kita harus membahas latar belakang Kitab Kejadian 1 dan 2. Kitab Kejadian menggambarkan pohon hayat dengan latar belakang tertentu. Menurut Kejadian 1 dan 2, Allah menciptakan manusia sebagai inti bendabenda ciptaan-Nya, inti penciptaan-Nya. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Secara lahiriah, dalam penampilan, manusia memiliki gambar Allah dan mempunyai rupa Allah (Kej. 1:26-27), dan secara batiniah, nafas Allah telah masuk ke dalam manusia (Kej. 2:7). Istilah Ibrani untuk “nafas” dalam Kejadian 2:7 adalah neshamah. Istilah neshamah ini juga digunakan dalam Amsal 20:27 dan diterjemahkan sebagai roh. Ini adalah ayat yang penting, dan saya mendorong kalian untuk mempelajarinya. Amsal 20:27 mengatakan, “Roh manusia adalah pelita TUHAN.” Dengan melihat penggunaan istilah neshamah dalam kedua ayat ini, kita nampak bahwa di pihak Allah, adalah nafas (Kej. 2:7), tetapi ketika nafas ini masuk ke dalam manusia, ia menjadi roh manusia (Ams. 20:27). Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa roh manusia sangat erat hubungannya dengan Allah.
Kejadian 1 dan 2 menunjukkan bahwa secara lahiriah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan secara batiniah manusia dihembusi dengan nafas Allah. Nafas Allah menjadi roh manusia agar manusia dapat berkontak dengan Allah, menerima Allah, dan menampung Allah. Kedua bagian Kitab Kejadian ini, 1:26-27 dan 2:7, menunjukkan kepada kita bahwa manusia adalah bejana (wadah). Penampilan luarnya seperti Allah dan bagian dalamnya berkaitan dengan Allah. Walaupun pada saat penciptaannya manusia telah mempunyai semua hal ini, namun di dalamnya masih tidak ada Allah. Di dalam dirinya, manusia tidak memiliki hayat Allah. Manusia hanya memiliki nafas Allah, tetapi nafas itu bukan Allah sendiri, juga bukan hayat-Nya. Nafas ini menghubungkan manusia dengan Allah melalui pembentukan roh manusia.
DI HADAPAN POHON HAYAT,
MANUSIA ADALAH BEJANA UNTUK MAKAN
Bagian-bagian firman ini memberikan suatu gambaran bahwa Allah menciptakan manusia sebagai sebuah bejana untuk makan. Makan berarti menerima, mencerna, dan memproses makanan. Dengan demikian, apa pun yang Anda makan akhirnya akan menjadi Anda. Kemarin malam saya makan ikan yang sangat enak. Sebelum saya makan, ikan itu adalah ikan. Tetapi pagi ini, ketika saya sedang duduk di sini, ikan tersebut menjadi saya. Kemarin malam saya menerima ikan itu waktu makan malam. Kemudian saya mencernanya. Setelah itu ikan tersebut dibaurkan ke dalam saya, dan akhirnya, pagi ini ikan itu telah menjadi saya. Lihatlah gambaran dalam Kejadian 1 dan 2, manusia diciptakan sebagai bejana yang memiliki gambar dan rupa Allah di luar dan memiliki roh sebagai alat penerima di dalam. Setelah manusia diciptakan sedemikian rupa, Allah membawanya ke depan pohon hayat (Kej. 2:9). Pohon hayat itu baik untuk dimakan. Ini seperti membawa seseorang ke meja makan. Begitu ia memakan makanan, ia mulai mencerna dan memproses makanan itu. Akhirnya, makanan itu menjadi bagiannya.
Sebelum manusia memakan pohon hayat, Alkitab memberi tahu kita bahwa Iblis, si jahat, melalui ular memperdaya manusia (Kej. 3:1-6). Demikianlah manusia dipisahkan dari pohon hayat (Kej. 3:22-24). Akhirnya, Tuhan Yesus datang agar kita mempunyai hayat (hidup) dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah (Yoh. 10:10). Hayat yang Tuhan bawakan kepada kita adalah hayat dari pohon hayat, pohon yang baik untuk dimakan (Kej. 2:9). Dalam Injil Yohanes, Tuhan juga memberi tahu kita bahwa Ia adalah pohon anggur (Yoh. 15:1, 5) dan Ia adalah makanan (6:35, 55), baik untuk dimakan (ayat 51, 53, 57). Gambaran pada ayat-ayat dalam Injil Yohanes ini sama dengan gambaran pada Kejadian 2. Dalam Kejadian 2, manusia ditempatkan di depan pohon hayat, dan dalam Injil Yohanes, kita diperintahkan untuk makan Yesus, yang adalah pohon hayat (Yoh. 15:1).
Dalam Wahyu 2:7, setelah gereja-gereja mengalami kemerosotan, Tuhan datang memanggil para pemenang untuk makan pohon hayat. Para pemenang adalah mereka yang makan Yesus sebagai pohon hayat dalam hidup gereja hari ini. Makan pohon hayat pada hari ini menunjukkan bahwa pohon hayat akan berada di Yerusalem Baru dalam Kerajaan Seribu Tahun. Hari ini, sebagai para pemenang dalam hidup gereja, kita makan Yesus sebagai pohon hayat dan kelak semua pemenang akan makan Yesus sebagai pohon hayat di Yerusalem Baru selama masa Kerajaan Seribu Tahun. Akhirnya, dalam kekekalan, pohon hayat akan berada di tengah-tengah Yerusalem Baru (Why. 22:2). Pohon hayat akan memberi makan semua orang tebusan Allah untuk selama-lamanya.
Allah bukan agama. Allah adalah hayat dan untuk hayat. Hari ini, hayat ini ada di dalam firman (Yoh. 6:63). Karena itu, kita harus datang kepada firman dan memakannya. Dalam jalan baru, kita semua harus belajar bertutur-sabda. Untuk bertutur-sabda, kita harus makan firman. Allah adalah hayat dan untuk hayat, dan hayat ini ada di dalam firman. Maka kita harus datang kepada firman dan memakannya. Kita telah menerima hayat ini melalui makan firman. Cara makan firman adalah melalui melatih roh kita untuk menerima firman. Roh kita adalah organ untuk menerima Allah. Jadi setiap hari, sepanjang waktu, kita harus melatih organ ini untuk menerima firman. Dengan demikian, kita akan menerima hayat. Inilah pengalaman hayat. Pengalaman hayat adalah melatih roh untuk memakan firman sehingga kita dapat menerima hayat. Setelah kita terima, hayat ini akan menampilkan segala hal yang ilahi, rohani, dan surgawi dengan cara yang tidak terbatas.