Daftar isi Kisah Martirnya Saudara Watchman Nee · bab 1/1

Kisah Martirnya Saudara Watchman Nee

Pada bulan Januari 1950, Saudara Watchman Nee pergi ke Hongkong untuk memimpin sidang di sana selama lebih dari satu bulan. Ketika ia akan kembali ke China daratan, seorang sekerja dengan berbeban berkata kepadanya, “Aku sungguh merasakan, jika kali ini Anda kembali ke Shanghai, Anda tidak akan bisa keluar lagi.” Saudara sekerja ini dengan serius berkata lagi, “Bagaimana kehendak Tuhan aku tidak tahu, ini adalah perkara yang terlalu besar. Tetapi aku tahu pasti, jika kali ini Anda masuk, Anda tidak akan bisa keluar lagi.” Saudara Watchman Nee memberi tahu dia bahwa bebannya sangat berat, di sana ada begitu banyak gereja yang memerlukan bantuannya, yang sangat diperhatikannya. Saudara Watchman Nee berkata, “Kita telah mengeluarkan begitu banyak waktu untuk membangun gereja. Kini, bagaimana aku bisa meninggalkannya dan tidak mempedulikannya? Dulu, pada masa para rasul sebermula, ketika keadaan demikian, bukankah mereka tetap tinggal di Yerusalem?” Juga katanya, “Aku tidak menghiraukan nyawaku. Jika rumah akan rubuh, dan anak-anakku ada di dalam rumah, aku harus dengan sekuatnya menopang rumah itu. Sekalipun itu akan meminta nyawaku, aku tidak menyayanginya.”

Di kemudian hari, seorang penatua gereja di Hongkong menyinggung lagi hal ini, mengatakan, “Sebelum Saudara Watchman Nee meninggalkan Hongkong, sekerja itu pernah berkali-kali menganjurinya untuk tidak kembali ke China daratan. Akan tetapi Saudara Watchman Nee berkata, ‘Seandainya seorang ibu menemukan rumahnya kebakaran, dan ia sendiri sedang di luar rumah mencuci pakaian, apa yang akan ia lakukan? Meskipun tahu itu berbahaya, tidakkah ia akan nekad menerobos ke dalam rumah? Meskipun aku tahu bahwa jika masuk, aku akan menghadapi lebih banyak penderitaan daripada kenyamanan, namun banyak saudara saudari masih di dalam, bagaimana mungkin aku pergi begitu saja dan tidak kembali lagi?’”

Pada masa itu situasi sangat tegang, banyak saudara saudari juga sangat menganjurinya tidak usah masuk kembali, karena masuk memang tergantung padanya, namun keluar tidak tergantung padanya. Kalau masuk, kelak pasti akan menyesal. Apalagi di luar masih banyak tempat yang bisa digarap! Akan tetapi, demi gereja-gereja di China daratan, demi kawanan domba Allah, ia menanggung beban yang sangat berat, ia harus kembali. Bagaimanapun saudara-saudara menganjurinya, tetap tidak bisa mengubah keputusannya. Dia seperti Paulus, sekalipun tahu bahwa kesulitan dan belenggu sedang menunggu dia, Paulus tetap memutuskan pergi ke Yerusalem. Bagi nama Tuhan, mati pun rela. Demikianlah Saudara Watchman Nee dengan keadaan yang berat masuk kembali ke China daratan. Ketika ia meninggalkan Hongkong, ia tidak mengizinkan orang-orang mengantarnya, selain dua, tiga saudara yang membantunya, tidak ada saudara saudari lain yang mengantarnya. Seorang diri, ia meninggalkan Hongkong. Ternyata, perpisahan kali itu, menjadi perpisahan yang paling panjang dalam kehidupan manusia.

Setelah pemerintahan China daratan beralih, Komunis China pada bulan Mei 1950 mengadakan aktivitas “Gerakan Gereja Patriot Tiga Mandiri”. “Tiga Mandiri” di sini adalah berdiri sendiri, mengabarkan Injil sendiri, dan memelihara diri sendiri. Gerakan ini bertujuan untuk mengorganisir semua denominasi gereja menjadi satu di bawah pengendalian pemerintah, dan putus hubungan dengan luar negeri.

Saat itu, dalam pandangan pemerintah, Perhimpunan Pemuda Kristen China (YMCA) adalah satu denominasi yang paling besar, yang kedua adalah “Tempat Sidang Orang Kristen” yang dipimpin Saudara Watchman Nee. Pimpinan Perhimpunan Pemuda Kristen China adalah Wu Yauw Cong, dia telah takluk kepada pemerintah, sepenuhnya bekerja sama dengan pemerintah, dan dengan setia melaksanakan kebijaksanaan pemerintah. Pemerintah terlebih dulu mendirikan pusat “Gerakan Gereja Patriot Tiga Mandiri” di Shanghai, dengan Wu Yauw Cong sebagai ketuanya. Mereka berencana, kalau Saudara Watchman Nee mau berkompromi, dia akan diangkat sebagai wakil ketua.

Pada pertemuan pertama pimpinan-pimpinan organisasi gereja, semua orang diam karena takut. Tetapi Saudara Watchman Nee berdiri mengajukan tiga pertanyaan, “Perhimpunan-perhimpunan gereja kami di setiap tempat sejak semula hingga sekarang sudah berada di atas tiga prinsip, berdiri sendiri, mengabarkan Injil sendiri, memelihara diri sendiri, seharusnya merupakan gereja yang paling memenuhi syarat. Kalau kami harus mengikuti organisasi baru ini, yang kami perhatikan adalah: Apakah selanjutnya kami bisa dengan bebas mengabarkan Injil? Apakah bisa dengan bebas mengatur gereja? Apakah di antara orang Kristen bisa dengan bebas bersekutu dan berhubungan, dengan bebas memberitakan firman yang kita peroleh dari Allah?” Wu Yauw Cong tidak bisa menjawab. Sejak itu, mereka menganggap Watchman Nee adalah musuh pertama pemerintah.

Pada tahun 1952, Komunis China di mana-mana mengadakan rapat pengaduan, banyak tempat terjadi pertumpahan darah karena dilakukan pembersihan. Orang Kristen diharuskan menerima pendidikan politik lagi, tidak sedikit pemimpin kekristenan yang jatuh, gereja tidak bisa mempertahankan kemurniannya, penginjil yang membelot mengikuti Gereja Tiga Mandiri ke mana-mana menyampaikan khotbah yang berbau politik. Misalnya, mereka menguraikan cerita tentang “Anak yang Hilang” dalam Lukas 15 sebagai berikut: anak yang hilang mewakili kaum proletar; bapa mewakili kaum kapitalis. Anak yang hilang pergi meninggalkan rumah adalah kaum proletar mengalami penindasan kaum kapitalis, menderita berbagai macam sengsara. Anak yang hilang di luar ingin makan ampas kacang pun tidak ada, berarti yang dimakan oleh kaum proletar tidak lebih baik daripada makanan babi kaum kapitalis. Anak yang hilang dan kemudian sadar menyatakan kaum proletar yang sadar. Anak yang hilang kembali ke rumah bapa adalah kaum proletar berjuang melawan kaum kapitalis. Makan anak lembu tambun adalah kaum proletar menikmati hasil kesuksesan revolusi.

Pada tanggal 10 April 1952, Saudara Watchman Nee dari Shanghai pergi ke Harbin, intel keamanan di Wilayah Dongbei menangkapnya di atas kereta api, lalu membawanya kembali ke Shanghai, memasukkannya ke dalam penjara Tilanqiao (Jawatan Keamanan Biro Kesatu mungkin berada di dalamnya). Mereka tidak henti-hentinya melakukan interogasi yang melelahkan terhadapnya, memaksa dia menulis surat pengakuan dosa, menyampaikan dengan jelas semua perkara yang bersangkutan dengannya. Pada musim dingin tahun 1953, tiba-tiba tersebar berita bahwa dia sudah berkompromi, memutuskan secara terbuka mengumumkan surat pengakuan dosanya. Kemudian, ada orang yang mendapatkan salinan surat pengakuannya, hanya tertulis:

“Kami orang Kristen mutlak tunduk kepada penguasa yang di atas. Sebagaimana dulu kami tunduk kepada pemerintahan itu, hari ini kami juga tunduk kepada pemerintahan ini.

Latar belakang keluarga saya adalah tuan tanah, banyak petani menurut upah yang disetujui menggarap tanah pertanian kami. Sampai waktu menuai, melihat para petani memikul hasil tuaian ke dalam lumbung kami, saat itu kami tidak merasakan bersalah; tetapi hari ini Allah sudah berjalan di depan kami, ketika kami merenungkan kembali keadaan dulu, orang lain berjerih lelah, sebaliknya diri sendiri tidak berlelah, namun menikmati keuntungan yang diperoleh tanpa melalui berjerih lelah; di depan Allah sungguh melakukan dosa yang besar, sebab itu saya rela mengaku dosa secara terbuka terhadap Allah dan manusia.”

Surat pengakuan seperti ini tentu sama sekali tidak bisa memuaskan hati mereka. Mereka menyuruhnya mengambil kembali dan menulis lagi yang baru. Yang mereka kehendaki ialah menyuruh dia mengaku bahwa dirinya telah diracuni oleh paham agama imperialis, dan dia sejak kecil telah belajar di sekolah Kristen yang didirikan oleh orang Amerika, misionaris-misionaris yang diutus ke China sebagai anggota CIA. Mereka menyuruh dia menulis perkataan yang demikian: “Sekarang saya telah sadar, mengetahui bahwa paham agama ini menipu orang. Sekarang saya menyatakan melepaskan kepercayaan saya.” Inilah yang mereka kehendaki dilakukan oleh setiap penginjil. Namun Saudara WatchmanNee menjawab, “Yang diizinkan hati nurani saya, telah saya tulis semua.”

Ketika Saudara Watchman Nee berada dalam penjara Tilanqiao, karena sebagai tahanan penting, ia ditahan di dalam satu ruangan tersendiri, tidak saja tidak bisa berkontak dengan dunia luar, juga tidak bisa berkontak dengan narapidana lain dalam penjara, selain dibawa ke ruang interogasi untuk diperiksa, juga mengalami berbagai macam penyiksaan.

Kadang-kadang mereka memberi makan semacam obat, atau memberi suntikan kepada narapidana yang tidak mau tunduk, supaya sarafnya kacau sehingga melakukan banyak gerakan yang ganjil. Saudari Lie Yen Ru dan Zheng Hui Dua pernah disuntik obat semacam itu. Saudari Zheng berkata, “Akibat dari suntikan itu sangat menakutkan, bisa membuat orang makan kotorannya sendiri, menggigit sepatunya sendiri, kesadarannya kacau, sama sekali tidak bisa mengendalikan diri, sepanjang hari tidak tahu apa yang dikerjakan.” Tetapi Saudari Zheng berkata, lewat sejangka waktu yang pendek, Tuhan menyatakan kuasa-Nya, sehingga ia sadar diri.

Mereka juga pernah memberi suntikan itu kepada Saudara Watchman Nee, tetapi tidak terjadi reaksi apa-apa, ia tetap mempertahankan kesadarannya, sama sekali tidak terpengaruh. Hal itu membuat mereka bingung, dan tanpa bisa ditahan, timbul rasa hormat terhadapnya.

Pada tahun 1954, mereka sudah putus asa terhadap usaha memaksa Saudara Watchman Nee melepaskan kepercayaannya. Di antara aparat keamanan, di antara petugas pelaksana hukuman di penjara, ada satu semboyan, “Baja pun kalau jatuh ke tangan partai kami, akan lumer juga, apa lagi orang yang terdiri dari darah daging, masihkah tidak mau cepat-cepat berterus terang dan bekerja sama dengan kami.” Namun Saudara Watchman Nee di tangan mereka menderita sengsara tiga tahun lebih, mereka tetap tidak bisa menggoyahkan imannya; sebab itu mereka menyebut dia “bukan manusia”. Tentu saja, kalau dia hanya “manusia biasa”, sejak dini dia sudah jatuh dan lumer; tetapi dia adalah “manusia Allah”, kuat kuasa kebangkitan Kristus bekerja di dalam dirinya. Sama seperti yang Paulus katakan, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:10). Ini juga pernyataan kekuatan Allah yang berlimpah-limpah di atas dirinya, sama seperti yang Paulus katakan, “Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2 Kor. 4:7-9).

Pada tanggal 18 Januari 1956, hari Rabu, di balai sidang jalan Nan Yang, Biro Urusan Keagamaan mengumpulkan semua orang beriman yang bersidang di balai sidang Nan Yang, mengadakan suatu “rapat menggugat Nee”. Hari itu mereka menaruh Saudara Watchman Nee di atas mimbar, karena sakit jantungnya berat, ia diizinkan duduk. Xu Da You, seorang mahasiswa Universitas Perhubungan yang dulu menyusup ke dalam gereja, berdiri di atas mimbar dan mendakwakan banyak dosa kepada Saudara Watchman Nee, bahkan mengangkat Alkitab yang di tangannya dan berkata, “Alkitab ini juga akan digugat, karena Alkitab mengatakan bahwa semuanya dipandang sebagai sampah. Bukankah ini juga berarti mengatakan Pemerintahan Rakyat kita adalah sampah?” Ada seorang saudari yang benar-benar tidak tahan lalu berteriak, “Kalian menggugat ini, menggugat itu, sampai-sampai Alkitab juga akan digugat!” Ia berkata pula, “Saudara Watchman Nee berdosa, kita semua juga sama berdosa.” Saat ini Saudara Wang Da He, yang sebagai diaken, berseru lantang, “Hari ini para saudara seharusnya malu! Apakah untuk mati martir juga membiarkan saudari yang memimpin?” Rapat itu segera penuh dengan teriakan dan menjadi kacau. Saat itu ada seorang saudari, yang berprofesi sebagai kepala sekolah di suatu Sekolah Menengah, melihat kalau suasana itu terus berlanjut, pasti akan timbul akibat yang menakutkan, ribuan orang terancam ditangkap, lalu ia dengan risiko mati martir ingin memikul tanggung jawab kekacauan hari itu. Ia naik ke atas mimbar, meminta semua tenang. Setelah semua tenang, dia berbalik menghadap anggota komunis Xu Da You yang menggugat Saudara Watchman Nee, katanya, “Sekarang jelas sekali Anda tidak bisa mewakili pendapat orang banyak. Saya ingin meminta rekan ini sendiri mengaku dengan terus terang, sebenarnya Anda mewakili siapa? Sebenarnya siapa yang menyuruh Anda datang ke sini?” Xu Da You tidak bisa menjawab, kepala biro urusan agama maju dengan licik berkata, “Jelas sekali dia tidak bisa mewakili maksud orang banyak, kita akan menghukumnya.” Rapat penggugatan kali itu tidak ada hasilnya.

Tak lama kemudian, mereka mengadakan rapat penggugatan Watchman Nee kali kedua. Kali ini pindah tempat, diadakan di suatu gedung bioskop di Shanghai. Di sekitar gedung bioskop penuh dengan tentara yang senapannya dipasang sangkur, setiap peserta rapat harus melewati barisan sangkur, sampai suara bernapas pun tidak berani terlalu keras. Yang duduk di barisan pertama kebanyakan adalah pembelot yang mengikuti “Tiga Mandiri”, seperti Tang Shou Lin, dan lainnya. Di antara mereka ada yang gemetar, ada yang pucat pasi. Orang-orang yang menjadi mata-mata, seperti Ren Zhong Xiang, yang dalam jangka panjang menyusup ke dalam gereja di Shanghai sebagai diaken yang sepenuh waktu, yang juga disebut “diaken harian”, dengan bebas berjalan kian kemari untuk mengontrol situasi rapat. Namun penggugatan hari itu tetap tidak sukses, karena hampir semua orang yang hadir menghormati dan mengasihi Saudara Watchman Nee. Meskipun pindah tempat, berada di bawah senjata api bersangkur, tetap gagal menggugat Watchman Nee.

Tak lama kemudian, mereka kembali mengadakan rapat penggugatan terhadap Watchman Nee untuk kali ketiga. Mereka mengubah strategi, tidak lagi menggugat Watchman Nee sebagai pemimpin agama Kristen, tetapi menggugat dia sebagai musuh negara. Mereka menaruh Saudara Watchman Nee di tengah lapangan, memakai puluhan ribu massa yang kebanyakan tidak percaya kepada Tuhan untuk menggugatnya. Di atas mimbar ada orang yang berteriak, “Apakah Watchman Nee patut mati?” Di bawah mimbar segera bereaksi, “Dia patut mati!” Kali itu mereka mengira rapat penggugatan akan sukses, sehingga bisa menjatuhkan hukuman terhadapnya. Ini sama seperti waktu orang Yahudi meminta kepada Pilatus untuk menghukum mati Tuhan Yesus, “Tetapi mereka berteriak bersama-sama, Enyahkanlah Dia, . . . Mereka berteriak membalasnya, Salibkan Dia! Salibkan Dia!. . . dan akhirnya mereka menang dengan teriakan mereka. Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan” (Luk. 23:18-24).

Tanggal 30 Nopember 1956, sore hari, Biro Urusan Agama Shanghai mengumpulkan semua wakil orang Kristen sebanyak dua ribu lima ratus orang untuk menghadiri rapat di Gedung Pertemuan Rakyat, dipimpin oleh Ketua Biro, Luo Zhu Feng. Wakil kepala Jawatan Keamanan mengumumkan “Pelanggaran dan kasus kelompok reaksioner yang dipimpin oleh Wachtman Nee”, kemudian Wakil Walikota juga menyerang, tanggal satu bulan Februari pemerintahan daerah Shanghai pada hari kemerdekaan rakyatnya mengumumkan: pada tanggal 10 April 1952 Watchman Nee ditangkap, sekarang bersama Zhang Zi Jie dan Nee Hong Zhu ditahan di Jawatan Keamanan Biro Kesatu Shanghai. Tanggal 2 Februari ada seorang uskup menulis satu pernyataan yang menyerang Wacthman Nee dan pengikutnya di Harian Rakyat; pada hari yang sama, dia di Gedung Huai En memimpin rapat akbar gerakan pembaruan Tiga Mandiri Shanghai, ada dua belas pendeta dan pemimpin kekristenan berpidato, ikut menyerang, merespon tuduhan pemerintah. Lalu, setelah tanggal 5 Februari, semua pendeta dan pekerja penginjilan di Shanghai dibagi menjadi banyak kelompok belajar, ke mana-mana mengumumkan “pelanggaran Watchman Nee” kepada orang Kristen. Tanggal 6 Februari, majalah “Tien Feng” memakai sebelas halaman untuk menyerang Watchman Nee. Kemudian secara bersambung dalam beberapa penerbitan memuat berita-berita yang memaki-makinya. Majalah itu menyatakan bahwa pada tanggal 29 Februari di jalan Nan Yang ada lagi rapat penggugatan. Pada tanggal 15 sampai 23 Maret 1956, di Beijing diadakan rapat kedua Gereja Kristen China, juga ada beberapa gugatan. Meskipun demikian, masih ada beberapa saudara saudari berdiri teguh bagi Tuhan; sebab itu pemerintah memerintahkan melarang semua pemahaman Alkitab dan sidang doa yang tidak resmi, serta semua aktivitas dalam setiap rumah dan lain-lain yang tidak meminta izin. Pemberitaan Injil secara perorangan pun dianggap melanggar hukum.

Mereka mengumpulkan banyak tuduhan terhadap Watchman Nee dan sekerjanya, mengadakan pameran keliling menggugat Watchman Nee; semua orang Kristen di kota-kota besar dipaksa menghadirinya. Tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan tidak lain seperti yang dikatakan oleh Alkitab, “Kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat. 5:11). Di antara semua tuduhan, yang paling berat ialah dituduh sebagai mata-mata dan reaksioner; mengatakan bahwa dia adalah mata-mata penting dari Pemerintah Amerika Serikat atau Taiwan; dia adalah perwira intelijen Pemerintah Taiwan yang berpangkat mayor; mengatakan bahwa ketika pesawat Amerika mengebom Dungbei, ia mengutus seorang saudari dengan lampu menunjukkan tempat yang harus dibom (sesungguhnya tentara Amerika Serikat tidak melakukan pengeboman di Dungbei); masih ada banyak orang bersaksi, mereka disuruh oleh pemerintah untuk membersihkan bom bakteri yang dilemparkan oleh angkatan udara Amerika Serikat; mengatakan dia usul kepada Presiden Chiang Kai Shek yang di Taiwan untuk menyebarkan sebanyak-banyaknya bekicot yang disertai ulat penghisap darah di sungai dan danau sepanjang tepian Jiangsu dan Zhejiang, yang membunuh puluhan ribu orang; mengatakan dia adalah koruptor yang terbesar, menodai seratus tujuh puluh lebih sekerja perempuan; mengatakan dia adalah provokator yang terbesar, pada masa perang Korea menghasut orang-orang China untuk tidak melawan Amerika Serikat; mengatakan dia pergi ke setiap perguruan tinggi sambil berkata bahwa mencintai negara adalah dosa; mengatakan dia di seluruh negara merusak gerakan landreform; melontar kan semua dosa yang dapat mereka pikirkan ke atas diri Watchman Nee.

Mereka mencari data-data sebagai bahan penggugatan dari saudara saudari di Shanghai, lalu diselewengkan, ditambah-tambah, dibesar-besarkan, dimuat, dan disebarkan dalam berbagai media cetak, dengan tujuan memberi kesan kepada banyak orang bahwa Watchman Nee adalah seorang yang menyalahgunakan gereja, secara tersembunyi memuaskan keuntungan dan nafsu pribadinya, sehingga menimbulkan kemarahan massa.

Mereka mencari bahan dari berita-berita yang disampaikan Saudara Watchman Nee sewaktu gereja mendapatkan kebangunan rohani, pada permulaan komunis menguasai China. Mereka menjelaskan “menyerahkan” (mengeluarkan) adalah menyerahkan banyak harta kepada Watchman Nee dan rekan-rekannya, untuk dikuasai menjadi milik pribadi Watchman Nee dan rekan-rekannya, agar mereka bisa menempuh kehidupan yang mewah, serta memakai uang itu membiayai gerakan reaksioner. Orang-orang yang menyerahkan, keadaan mereka sangat kasihan; Watchman Nee hanya menunjang mereka dengan biaya kecil yang tidak cukup untuk keperluan hidup. (Sesungguhnya Saudara Watchman Nee hanya menyampaikan berita dari Tuhan, belum pernah berkontak secara perorangan dengan siapa pun untuk menuntut sesuatu kepada mereka. “Menyerahkan” adalah menyerahkan ke tangan Tuhan, namun tetap dikelola oleh pemilik asalnya, tidak pernah diserahkan untuk dikelola oleh gereja).

Dulu, di London, Saudara Watchman Nee pernah menyampaikan berita “Jangan Mengasihi Dunia”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin. Mereka menyelewengkan arti “jangan mengasihi dunia” menjadi “jangan mengasihi negara”, lalu hal itu dijadikan bahan penggugatan kepadanya. Mereka menghasut beberapa pemuda untuk menggugat dengan mengatakan bahwa mereka telah diracuni olehnya, sehingga begitu memikirkan tentang negara, hati nurani mereka merasa tidak tenteram, merasa tertegur. (Salah satu contoh adalah gugatan dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Kedua Shanghai yang dimuat di sebuah surat kabar). Mereka juga menggugat bahwa Watchman Nee menyuruh mereka jangan mengikuti gerakan melawan Amerika Serikat dan mendukung Korea. Sekalipun tentara Amerika Serikat sudah menyerang sampai ke tepi Sungai Huangpu pun, jangan ikut campur. Hal demikian telah merusak perjuangan melawan Amerika Serikat dan mendukung Korea.

Banyak orang beriman yang pada mulanya kurang mengenal pemerintah komunis, karena mempunyai kesan yang baik terhadap tempat yang dipakai oleh Saudara Watchman Nee untuk mengadakan Pelatihan Pekerja di Kuling, lalu secara bersama-sama menulis surat kepada pemerintah, mohon pemerintah mengembalikan tanah itu, supaya gereja bisa meneruskan membina kaum saleh muda. Siapa sangka, begitu surat permohonan diajukan, surat itu malah dijadikan sebagai bukti untuk menggugat bahwa Watchman Nee memimpin merusak kebijakan pemerintah tentang landreform.

Meskipun mereka dengan berbagai cara menuduh Saudara Watchman Nee, berusaha menjatuhkannya, tetapi Saudara Watchman Nee tetap berdiri teguh. Ini karena Allah berserta dia, “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah” (Mzm. 16:8); ini juga sama seperti yang Allah katakan kepada Yeremia, “Sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, . . . Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN” (Yer. 1:18-19).

Dalam satu kidung yang dia tulis, Saudara Watchman Nee mengatakan,

Kasih Tuhan dalam, sungguh tak terduga,

Orang dosa sep’ri saya, bisa dapat s’lamat.

Iblis, dunia, nafsu, sering menggodaku;

Bila Tuhan tak membantu, bisa bawa malu.

Dia percaya dan bersandar kepada Allah, demikianlah Allah menambahkan kekuatan, supaya dia bisa menjadi orang yang kuat, dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah menyelesaikan segala sesuatu (lihat Ef. 6:10-13).

Pada tanggal 30 Januari 1956, Jaksa dari Kejaksaan Rakyat Shanghai memutarbalikkan kenyataan, merekayasa bermacam-macam tuduhan pelanggaran terhadap Watchman Nee, tuduhannya sebanyak sembilan kasus, semuanya berjumlah 2.292 halaman.

Pada tahun 1958, pemerintah China mencanangkan program “Maju dengan Lompatan Besar”, menambah hasil produksi, memaksa para pendeta ikut bekerja meningkatkan hasil produksi, banyak pendeta dimasukkan ke penjara, atau dikirim ke pertambangan untuk bekerja. Banyak pemimpin kekristenan yang pada mulanya ikut melakukan penggugatan, sekarang giliran mereka sendiri yang diserang. Setiap orang merasa cemas, tidak tahu apakah besok bisa terhindar dari penggugatan. Gerakan penyatuan peribadatan sedang mulai, di mana-mana orang beriman dilebur menjadi satu, gedung gereja dipakai untuk keperluan duniawi. Pada bulan Desember, jumlah gedung kebaktian di Beijing yang tadinya sebanyak 64 buah berkurang hingga menjadi empat buah; di Shanghai, dari 150 buah berkurang menjadi 20 buah. Balai sidang di jalan Nanyang diubah menjadi pabrik. Kidung Pujian diseragamkan, disusun oleh satu komisi. Pemerintah melarang adanya ajaran tentang akhir zaman dan kedatangan Tuhan, juga melarang pemberitaan tentang kesia-siaan dunia. Semua pengajaran harus cocok dengan kepentingan sosialisme; semua buku Tafsiran Alkitab harus diperiksa, apakah mengandung unsur racun reaksioner. Bangunan dan harta milik gereja juga sama seperti organisasi gereja, semuanya harus diserahkan kepada pengurus harian Gerakan Patriot Tiga Mandiri. Hal-hal ini terjadi sama seperti yang dikatakan oleh Paulus, “Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus” (Gal. 1:7).

Pada tanggal 21 Juni 1956, Saudara Watchman Nee diajukan ke Pengadilan Tinggi Rakyat Shanghai. Ketika hakim menyatakan pelanggaran moral yang berat atas dirinya, Saudara Watchman Nee berdiam diri, tidak mengakui juga tidak menyangkal. Tetapi ketika hakim menyinggung bahwa ia adalah anggota intelijen Taiwan dan bersekongkol dengan pemerintahan Taiwan, dia menyangkal. Karena dia tahu bahwa berdebat untuk pelanggaran moral sama sekali tidak ada artinya, yang berat adalah pelanggaran di aspek politik, satu pelanggaran saja sudah cukup untuk mendatangkan hukuman mati. Akhirnya Saudara Watchman Nee dijatuhi hukuman 15 tahun. (Menurut dakwaan jaksa, kalau Saudara Watchman Nee benar-benar telah melakukan pelanggaran-pelanggaran itu, seharusnya ia dijatuhi hukuman mati, tetapi ia hanya dijatuhi hukuman 15 tahun; hal ini justru menyingkapkan ketidakbenaran dari dakwaan. Dalam hati kecil mereka tahu bahwa semua itu hanyalah rekayasa, penganiayaan, untuk memaksanya agar mau berkompromi dan melepaskan kepercayaannya).

Saat Saudara Watchman Nee dijebloskan di penjara Tilanqiao (Penjara Kesatu Pemerintah Kota), pihak penjara hanya mengizinkan Nyonya Nee sebulan sekali mengunjunginya; hanya boleh memberinya sedikit barang, bertemu lewat satu jendela kecil yang diberi kawat berduri, di bawah pengawasan keamanan penjara berbicara setengah jam. Setiap bulan Saudara Watchman Nee hanya bisa mengirim atau menerima sepucuk surat, yang sebelumnya harus melewati pemeriksaan yang ketat.

Penjara ini dibangun pada tahun 1913 oleh orang Inggris menurut model tradisional, dari pos penjagaan yang ditingkat lima ada tangga yang menghubungkan setiap lantai; di setiap lantai ada sebelas ruangan. Ruang tahanan bagi Saudara Watchman Nee panjang sekitar 3 meter dan lebar sekitar 1,5 meter. Di dalam ruangan ada satu meja kayu yang bisa dipakai untuk tempat tidur, inilah satu-satunya perabot yang ada di dalamnya. Di luar pintu ada serambi yang panjangnya 60 meter, melewati suatu baris ruang tahanan yang seperti rak mangkuk. Jendela menghadap ke tembok. Sehari tiga kali makan, dua kali nasi (untuk yang bekerja), atau dua kali bubur (bagi yang tidak bekerja), yang ketiga kalinya adalah bubur yang sangat encer. Para narapidana kurus kering, tulang-tulang iga dan urat-urat nadi terlihat nyata. Mereka hanya bisa bertahan hidup saja. Adakalanya mereka bisa sekali mandi dengan air panas. Setiap dua minggu memangkas rambut. Musim dingin tidak ada pemanas udara, banyak narapidana hanya memakai baju yang tipis, hampir-hampir tidak bisa mempertahankan nyawanya. Pengeras suara senantiasa menyiarkan suara propaganda politik yang menusuk telinga.

Saudara Watchman Nee diperbolehkan menulis buku-buku. Program kerja pengubahan yang ditugaskan kepadanya adalah menerjemahkan buku ilmu pengetahuan bahasa Inggris dan majalah tertentu ke dalam bahasa Mandarin untuk keperluan pemerintah. Ia boleh membeli beberapa buku untuk keperluan ini. Kemudian, dari Hongkong ia membeli dua buku kamus kedokteran, dikirim ke penjara untuk keperluannya. Dengan pasti dapat dikatakan bahwa mereka tidak memperbolehkan dia memiliki Alkitab; sumber penghiburan rohani bagi Saudara Watchman Nee pasti berdasarkan ingatannya yang menakjubkan, karena dia telah menyimpan perkataan Kristus dengan limpah kaya di dalam hatinya. Sejangka waktu karena sakit jantungnya kambuh, maka dia dimasukkan ke rumah sakit penjara, sementara menghentikan tugasnya. Pihak keamanan mengizinkan dia membeli obat dari Hongkong dikirim ke penjara untuk keperluannya.

Bulan Juni 1966 terjadi “Revolusi Kebudayaan”. Pada tanggal 18 Agustus 1966, Pengawal Merah Murid-murid di Beijing berdemonstrasi, menyerukan slogan-slogan. Bulan September elit politik Shanghai mengalami perubahan besar. Pernah sekali, para Pengawal Merah berkumpul di depan penjara pemerintah kota, menggugat kepala penjara, dan menerjang masuk penjara, kerusuhan menerpa setiap ruang tahanan, mencelakai beberapa narapidana, bahkan ada yang dianiaya. Dalam kekacauan itu, Saudara Watchman Nee dipukul oleh seseorang, sehingga lengannya terkilir.

Bulan Mei 1968, ada seorang turis China meminta suaka di suatu ibu kota negara Barat. Ia memberi tahu pihak berwajib di negara itu bahwa ia pernah menjadi pegawai di Penjara Kesatu kota Shanghai, karena kesaksian Watchman Nee, ia menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.

Tahun 1967, hukuman lima belas tahun bagi Watchman Nee sudah genap, pemerintah menyuruh dia secara terbuka menyatakan bahwa dirinya telah melepaskan imannya (kepercayaannya). Mereka telah menyebarkan berita bohong yang mengatakan dia sudah melepaskan kepercayaannya; tetapi Saudara Watchman Nee lebih suka melepaskan apa yang disebut “kebebasan di dunia”, dia tidak mau menyatakan bahwa dirinya telah melepaskan kepercayaannya; hal ini membuat pihak pemerintah marah. Saudara Watchman Nee dimasukkan ke dalam satu ruang tahanan bersama dua orang narapidana bajingan. Dua bajingan itu diberi tugas untuk memaksa dia melepaskan kepercayaannya; jika berhasil, mereka akan mendapatkan imbalan. Menurut teman yang juga ditahan, bahkan baju dalam Saudara Watchman Nee yang terbuat dari kapas pun dirusak hingga hancur oleh kedua bajingan itu. Karena tidak mau secara terbuka melepaskan kepercayaannya, Saudara Watchman Nee menderita banyak sengsara. Ketika pemerintah melihat bahwa tujuan mereka belum tercapai, tetapi masa hukumannya segera habis, lalu secara diam-diam mengirim dia ke Departemen Pertanian untuk mengubah pikiran melalui Pekerjaan Badan Jingdung, di kabupaten Jingpu di luar Shanghai. Pada masa itu Nyonya Nee masih diperbolehkan melihat dia satu kali. Selanjutnya tidak ada kabar tentang dia selama beberapa bulan. Di kemudian hari baru tahu dia telah dipindahkan ke tempat yang lebih sengsara — Kelompok 14, Departemen Pertanian Pai-yin-san-mao-ling, kabupaten Chou, provinsi An-hwei.

(Pernah sekali beberapa orang Kristen yang mempunyai kemampuan ekonomi, mengumpulkan sejumlah uang yang besar sebagai uang tebusan, ingin menebus Saudara Watchman Nee dan memindahkannya ke luar negeri. Pertukaran semacam ini sudah ada beberapa contoh. Saat itu seluruh negara kekurangan makanan, untuk menambah hasil produksi perlu pupuk kimia, pemerintah meminta orang-orang Kristen dari luar negeri itu menyediakan puluhan ribu ton pupuk kimia. Setelah tercapai persetujuan, orang-orang Kristen luar negeri itu telah mengirim puluhan ribu ton pupuk kimia itu ke China, pihak pemerintah juga telah memberi tahu Saudara Watchman Nee bahwa pemerintah akan melepaskan dia, dan mengatur prosedur bagi dia untuk ke luar negeri. Tak disangka, Saudara Watchman Nee menolak cara pembebasan demikian terhadap dirinya. Dia mengira, kalau Allah menghendaki dia bebas, Allah pasti mempunyai cara-Nya sendiri, tidak membiarkan cara manusia masuk, dengan uang menebus dirinya. Akhirnya, pupuk kimia sudah di tangan pemerintah, tetapi Saudara Watchman Nee tetap rela berada dalam penjara. Ini juga satu bukti bahwa dia tidak mau mendapatkan kebebasan dengan cara kompromi).

Pada tahun 1966 terjadi Revulosi Kebudayaan, berlangsung selama sepuluh tahun. Pada masa ini, penderitaan orang Kristen lebih hebat. Ketika Saudara Watchman Nee ditahan di penjara Departemen Pertanian untuk menjalani program mengubah pikiran melalui pekerjaan badan di Pai-yin-san-mao-ling, kabupaten Chou, provinsi An-hwei, tempat sepi jauh di pendalaman pegunungan, ada dua puluh empat tentara Pengawal Merah diutus khusus untuk menanggulangi Saudara Watchman Nee, setiap regu empat orang bergilir menyiksa dia. Tugas yang mereka terima yaitu berusaha dengan cara apa saja untuk menaklukkan dia, supaya dia menulis surat pernyataan melepaskan kepercayaan secara terbuka. Siapa yang berhasil, dianggap paling berjasa; sebab itu mereka masing-masing berusaha sekuatnya mencari cara yang paling aneh, paling jahat untuk menanggulanginya. Ada beberapa orang yang bersama dengan Saudara Watchman Nee di penjara, setelah masa hukumannya selesai dan keluar penjara, saat mereka menyinggung tentang penderitaan Saudara Watchman Nee, tidak ada yang tidak menangis. Mereka berkata, “Kalian mencucurkan air mata setelah mendengarkan kekejaman yang mereka timpakan kepada Saudara Nee yang kami tuturkan, tetapi kalian masih belum bisa benar-benar mengerti keadaannya yang sangat mengerikan itu.” Saat itu, setiap detik, maut siap menerkam dirinya, setiap detik bisa muncul satu siksaan yang aneh, yang tidak dapat ditahan oleh orang, semua itu ditimpakan ke atas dirinya. Namun tak peduli bagaimana mereka menyiksanya, mereka tidak dapat membuat dia rebah, tidak dapat memaksa dia melepaskan kepercayaannya. Akhirnya mereka angkat tangan dan semua berkata, “Dia bukan manusia.” Ya, dia adalah orang yang tinggal di dalam Kristus dan bersatu dengan Tuhan, “alam maut tidak bisa menguasainya” (Mat. 16:18). Dia benar-benar seperti Paulus, dalam segala macam kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan, dan kesengsaraan, mengalami kasih karunia Tuhan yang cukup dia pakai, kuasa-Nya menjadi sempurna di atas dirinya (lihat 2 Kor. 12:9-10).

Pernah sekali, karena paceklik, penjara kekurangan makanan. Ketika para narapidana pergi bekerja ke ladang, mereka masih harus mencari makan sendiri untuk menyambung hidup, mencungkil akar pohon, mengupas kulit pohon, menangkap serangga, untuk menahan kelaparan, bahkan telur serangga dalam tanah pun digali untuk dimakan. Saat itu ada orang Kristen yang bersama Saudara Watchman Nee dalam penjara berkata, “Saudara Watchman Nee benar-benar adalah ‘manusia Allah’, setiap kali melihat dia mencari makanan di ladang, atau istirahat sejenak, selalu memelihara kewibawaannya, tidak pernah paras mukanya menampilkan keadaan yang menderita atau sedih.” Dari wajahnya, kita dapat memahami arti sejati dari “Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku (kemuliaan wajahku; Tl.) dan Allahku” (Mzm. 42:12).

Ada beberapa orang Kristen lain lagi yang juga bersamanya di penjara. Setelah mereka bebas, ketika menyinggung tentang Saudara Watchman Nee, mereka semua mencucurkan air mata berkata, “Tidak pernah melihat orang saleh yang seperti dia. Mereka sudah lama tidak memiliki Alkitab, ada kalanya, ketika tidak ada orang yang mengawasi, Saudara Watchman Nee selalu memegang tangan mereka, membimbing mereka bersama dengannya menghafalkan beberapa ayat Alkitab, kemudian memegang tangan mereka berdoa bersama.” (Dulu, Saudara Watchman Nee ketika masih bebas, sering menganjuri saudara muda untuk menghafalkan seluruh Alkitab Perjanjian Baru. Dia berkata, “Pada suatu hari, orang boleh mengambil Alkitab dari tangan kita, tetapi tidak ada orang yang bisa mengambil Alkitab yang ada di dalam hati kita.” Perkataan ini tergenapi di atas dirinya).

Saudara Watchman Nee juga sering memberi tahu para narapidana yang belum percaya Tuhan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat, dan berdoa untuk mereka. Bahkan tentara yang menjaga dan pegawai penjara, kalau bertemu dengan orang tua berambut putih ini, mau tak mau di dalam hati timbul rasa hormat.

Ketika Saudara Watchman Nee ditahan di Departemen Pertanian untuk mengubah pikiran di Pai-yin-san-mao-ling kabupaten Chou, provinsi An-hwei, ia telah memimpin beberapa orang percaya Tuhan. Salah satu di antaranya, ketika masa hukumannya sudah habis dan segera dibebaskan, Saudara Watchman Nee menitipkan kepadanya sebuah surat terbuka untuk orang-orang Kristen di luar negeri. Setelah “Onesimus” ini keluar dari penjara, ia menyimpan surat ini untuk sejangka waktu, dan akhirnya mendapatkan jalan untuk mengumumkan kepada orang-orang Kristen di luar negeri. Pada mulanya dia karena takut penganiayaan, menyembunyikan namanya, hanya berani menulis, “ada seorang hamba Tuhan yang ditangkap pada tahun 1952.” Selanjutnya, bersamaan dengan makin berlimpahnya kasih karunia, baru secara terbuka mengumumkan semua fakta kejadian. Isi surat itu adalah sebagai berikut:

“Salam kepada kaum saleh yang bersama mengambil bagian dalam penderitaan, dalam Kerajaan, dan dalam ketekunan Tuhan Yesus! Dua puluh tahun lebih ini, sudah banyak mendengar, tetapi sedikit bersekutu, karena permintaan batin, sangat mendambakan bisa saling bersekutu, untuk menerima kekayaan-Nya yang mulia.

Ketika kita menyinggung nama kudus-Nya yang mulia, roh kita sangat tergugah. Ketika kita merenungkan anugerah besar yang Ia berikan kepada kita, roh kita hanya bisa sujud menyembah. Ketika kita mendengar suara-Nya, kita tertegun, air mata haru, bergejolak, sukacita bercampuran mengalir keluar . . . Perjalanan penuh derita pada masa yang lalu, di satu pihak membuat hati kita bergembira, karena dianggap menderita untuk nama-Nya, untuk Tubuh Kristus, dan menggenapkan dalam tubuh kita apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu gereja. Di pihak lain, kita masih merasa sangat lemah, merasa tidak patut. Tetapi Dia adalah Tuhan yang sangat mulia, patut mendapat segala milik kita, bagi Dia tidak ada satu perkara yang harganya terlalu mahal atau berat. Dia adalah inti Allah, adalah sandaran kita, kalau meninggalkan Dia, kita tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam waktu yang panjang ini, karena penganiayaan, anak-anak Allah tercerai-berai, kekurangan persekutuan yang sejati, batin semakin sedih, ditambah perdebatan benar salah oleh opini manusia, menambahkan besar kerugian hayat rohani; keadaan yang gelap dan kacau, banyak memburamkan jalan anak-anak Allah. Perlu belas kasihan-Nya, supaya kita rebah di dalam terang-Nya, memimpin kita berada di jalan hayat, meninggalkan semua milik kita, semua apa adanya kita, dan semua kemampuan kita, bagi Yesus menyerahkan diri kepada kematian, supaya hidup Yesus terwujud di atas diri kita.

Dalam hari-hari yang selanjutnya, perjalanan kita masih jauh, berdasarkan apa yang kita pelajari dan apa yang kita kenal pada masa yang lalu, tidak cukup mengatasi keperluan diri kita dan keperluan gereja dan pekerjaan. Ketika kita melihat kemiskinan anak-anak Allah, begitu banyaknya domba yang sesat, keterbengkalaian lapangan kerja Tuhan yang besar; ketika semua keperluan ini terbentang di hadapan kita, kita makin merasa miskin, tidak ada sesuatu yang dapat diberikan kepada orang. Hal ini mendesak kita berseru kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan, belas kasihani kami!’ Semoga Tuhan membelaskasihani kita, dalam bejana-bejana yang lemah ini, menyatakan kekuatan yang luar biasa.

Hari-hari ini sangat serius, permintaan Allah sangat tinggi, pemilihan Allah juga ketat. Kalau kita berhenti pada hal-hal milik kita, apa adanya kita, kemampuan kita pada masa lampau, kita tidak dapat mengikuti pekerjaan yang akan dilakukan oleh Allah pada hari ini. Allah memakai dua, tiga puluh tahun, membawa kita mengalami perjalanan yang luar biasa, supaya hayat kebangkitan lebih ternyata di atas diri kita, supaya kesaksian gereja merupakan ekspresi hayat kebangkitan, supaya melalui gereja diberitahukan berbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga.

Keperluan hari ini adalah mohon Allah membangkitkan lebih banyak bejana yang cocok, untuk memikul keperluan pekerjaan pada zaman ini. Kalau tidak ada bejana yang cocok, tidak akan ada pekerjaan. Mohon Dia membangkitkan pekerjaan-Nya; mohon Dia terlebih dulu membangkitkan kita. Hanya ketika kita mempersilakan Allah lebih dulu bekerja, barulah Allah bisa melalui kita mempunyai pekerjaan yang lebih baik.

Semoga kasih Kristus menggerakkan kita, sehingga kita mempersembahkan diri, menerima pemilihan Allah, untuk memikul amanat-Nya. Sehingga anak-anak Allah menerima suplai firman yang limpah ruah, bobot rohani mereka dipenuhi, mendapatkan kekuatan, memimpin jiwa yang tersesat mengenal Juruselamat.

Semoga Tuhan membelaskasihani kita; semoga segala mulia bagi Dia sampai selama-lamanya. Amin. Kiranya tetap setia bagi Tuhan!”

Setelah membaca surat terbuka Saudara Watchman Nee ini, kita dapat memahami perhatiannya terhadap gereja. Allah menghendaki gereja bersaksi bagi hayat kebangkitan Kristus. Allah memilih bejana yang cocok, supaya hayat kebangkitan terekspresi dari diri mereka, mengenal kuasa kebangkitan-Nya, untuk menghadapi keperluan pekerjaan di zaman ini. Ini paling memuliakan Allah pada masa ini, dan mendapatkan bagian dalam Kerajaan di masa yang akan datang. Untuk inilah, hari ini kita berbagian dalam penderitaan dan ketekunan-Nya. Inilah kewajiban yang paling mendesak, semoga kita saling menganjuri, saling mendukung. Kiranya anugerah, belas kasih, damai sejahtera, dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus menyertai kita!

Saudara Watchman Nee bersekutu dalam penderitaan Kristus. Pada saat akan menyelesaikan perjalanan di dunia, ia menulis satu syair yang terakhir, yang terjemahan bebasnya seperti berikut:

1. Adakalanya hari terang, tetapi sering ada awan gelap; aku pernah sesekali pada tengah malam menyanyi dengan mesra, sering tidak mengumandangkan lagunya; meskipun adakalanya terang, tetapi sering berawan, memaksaku belajar dengan tekun, memaksaku tidak bisa tidak mencari hati Allah, kesenangan Allah. Adakalanya sekeliling kering gersang, sulit mendapatkan kesegaran; tongkat-Mu akan memukul seberapa berat, keras, baru ada air untuk diminum? Api-Mu akan membakar sampai seberapa panas, merah, baru bisa diolah sempurna? Tangan-Mu akan menusuk seberapa dalam, perlu menikam seberapa sakit, baru bisa terhisap keluar kemanisan?

2. Adakalanya perlu semak duri, baru bisa menyatakan kekuatan-Mu; aku pernah berputar-putar mendekati kematian, terhilang, tidak tidur, tidak makan, tidak bertempat tinggal. Adakalanya aku harus kehilangan milikku, baru bisa sepenuhnya bebas; aku pernah, tidak berharap kepada siapa pun, tidak meminta pertolongan kepada siapa pun, percaya tidak ada kekhawatiran. Adakalanya ada juga pergumulan, saudara melawan saudara, siapa pun ingin mengulurkan kepalan tangan yang paling berat, siapa pun ganas; aku pernah menutup diri, tidak mau menerima tamu, beryanyi kepada-Mu, mengetahui hati-Mu paling sedih, mengetahui kesedihanku tak sebanding dengan kesedihan-Mu, dalam kerugian belajar bersekutu.

3. Sekarang sudah melewati seumur hidup, waktu berlalu dengan cepat, duduk di depan-Mu, aku mendengarkan derap langkah “waktu”, supaya aku merasakan sudah senja; bulan yang dingin di langit sudah semakin mengecil, hidup ini juga sedang berkurang; awan gelap di depan sudah tinggal beberapa saja, kebanyakan sudah tertinggal di belakang; hari esokku sedang membagi-bagi masa laluku; hari-hari yang berlalu sedang menguraikan perselisihan masa ini; segala yang “dapat dilihat” sedang tenggelam dan kelam, “yang tidak kelihatan” sedang muncul; harapanku sedang menengadah ke atas, hatiku seiring bersamanya.

4. Merenungkan kembali yang kualami dalam seumur hidup ini: hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun, tahun menjadi seumur hidup, seumur hidup datang dan pergi lagi, tak lama lagi akan mencapai garis akhir; menoleh ke belakang melihat titik permulaan mana yang lebih manis? Sebenarnya fajar atau senja? Senja sudah lebih dekat dengan muka-Mu! Lebih dekat dengan mahligai-Mu! Aku menantikan balik-Mu, hatiku sudah semakin tak berdaya, mataku semakin kabur, aku akan meninggalkan kemah hidup ini, gunung-gunung sedang dengan senyum memanggilku beristirahat, aku semakin melepaskan beban berat, belengguku sepertinya sedang meleleh, aku kembali (pulang), aku segera kembali.”

Perasaannya dalam syair ini seperti perasaan Paulus dalam 2 Timotius 4:6-8, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya”; juga memiliki pikiran dalam Wahyu 14:13, “Aku mendengar suara dari surga berkata, ‘Tuliskan: Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.’ ‘Sungguh,’ kata Roh, ‘Supaya mereka boleh beristirahat dari jelas lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.’”

Pada tanggal 7 Nopember 1971, Nyonya Nee meningal dunia mendahului suaminya. Karena kematiannya, kakak istrinya merasa bahwa selanjutnya dialah yang harus merawat Saudara Watchman Nee, dan mengirim keperluan sehari-harinya. Di kemudian hari, Saudara Watchman Nee dari penjara menulis surat, berkata,

“. . . Setiap barang yang engkau kirim telah kuterima . . .”; “. . . Bila engkau datang, bawakanlah saya satu kati abon daging sapi Tai Chang, satu kati daging sapi kering . . .”; “. . . Bawakan lampu senter . . .”

Perkataan-perkataan ini mengacu kepada hal-hal di atas. Selain itu dalam suratnya kepada Ma Hsing-tao, menantu keponakannya, ia juga menyinggung hal-hal ini,

“. . . Engkau tahu bahwa kakak perempuanku selalu menyuplai keperluanku; sebab itu, untuk keperluan hidupku tidak ada masalah . . .”

Setelah Nyonya Nee meninggal dunia, mereka tidakberani segera memberitahukan berita ini kepada Saudara Watchman Nee; karena mereka mengetahui jantungnya sangat lemah, sukar menerima pukulan yang berat. Lewat satu bulan lebih, barulah secara terputus-putus menulis surat memberitahukan kepadanya. Tetapi dia sepertinya sudah mempunyai firasat, terus menulis surat mempertanyakan keadaan kesehatannya (istrinya). Dalam suratnya menyatakan, ia sangat ingin cepat-cepat keluar berkumpul dengannya, untuk melayani dia (istrinya) yang sedang sakit itu.

Pada awal tahun 1972, kakaknya, beserta cucu perempuannya, pergi ke An-hwei mengunjungi Saudara Watchman Nee. Saat itu jantung Saudara Watchmen Nee sangat lemah, kematian istrinya membuat dia sangat sedih. Mereka mendengar teman sekamarnya berkata, bahwa dia terus berkeinginan bisa cepat menyelesaikan masa tahanannya, keluar bertemu dengan istrinya. Dia tahu bahwa kesehatan istrinya sangat jelek, ia pernah berkata, “Masa hukuman saya sepertinya berlomba dengan hidup istri saya. Kalau saya bisa keluar pada saat dia masih hidup, saya akan dengan baik-baik melayani dia; dia telah banyak menderita karena saya.”

Sampai tanggal 12 April 1972, Saudara Watchman Nee telah dipenjara selama dua puluh tahun, ini lebih lama lima tahun dari putusan hukumannya, tetapi ia tetap tidak dibebaskan. Lewat sepuluh hari, yaitu tanggal 22 April 1972, dia dari penjara menulis sepucuk surat kepada kakak sulungnya, dalam surat itu ia berkata,

“Aku menerima suratmu pada tanggal 7 April, dan baru tahu bahwa engkau tidak menerima suratku, yang memberitahukan kepadamu bawa barang-barang yang kau kiriman setiap kali sudah kuterima. Semua barang yang kausebutkan dalam suratmu sudah kuterima. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Tentang keadaan tubuhku, engkau tahu bahwa tubuhku mengidap penyakit yang kronis, yang menyerang organ dalam tubuhku. Bila penyakitku kambuh, aku sangat menderita, kalaupun tidak kambuh, penyakit itu tetap ada dalam tubuhku. Masalahnya ialah kambuh atau tidak, bukan membaik atau tidak. Musim panas telah tiba, dan sinar matahari dapat sedikit-sedikit mengubah warna kulitku, namun penyakitku tidak berubah. Tetapi aku tetap menjaga sukacitaku, harap engkau tidak khawatir. Semoga engkau juga menjaga diri baik-baik, dan hatimu penuh dengan sukacita.”

Salam sejahtera. Shu-tsu. 22 April.

Dia berada di dalam penjara, ditambah lagi tubuhnya sakit, tetapi dia masih bisa mempertahankan sukacitanya, juga mengharapkan hati orang lain penuh dengan sukacita; sama seperti yang Paulus katakan, “Akhirnya,Saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu” (Flp. 3:1).

Selanjutnya, tanggal 6, 16, 23 Mei, ia menulis surat kepada kakak sulung istrinya, dalam surat itu ia menyinggung betapa ia terkenang kepada Chang Pin-hwei, istrinya yang telah meninggal dunia; keadaan kesehatannya; pengharapannya agar bisa keluar penjara untuk bertemu dengan familinya. Beberapa kutipan suratnya adalah seperti berikut:

“Besok 7 Mei adalah setengah tahun meninggalnya Saudari Hwei. Banyak sekali perubahan yang terjadi selama setengah tahun ini. Bila aku mengingat hari-hari yang telah lalu, dan sewaktu membaca dan menjamah barang-barang yang ditinggalkannya, tidak bisa tidak aku merasa sangat sedih dalam hati. Selama dua puluh tahun ini, aku tak bisa merawatnya atau memperhatikannya sekali pun, ini akan menjadi penyesalanku seumur hidup. Semuanya karena aku, sehingga dia menerima banyak kesukaran, aku sangat berutang kepadanya . . . Penyakitku makin parah, sering kambuh . . . Dalam masa sakit demikian, aku sungguh-sungguh teringat akan kerabat sendiri dan sangat rindu berada di tengah-tengah mereka. Namun aku taat kepada pengaturan atas lingkunganku. Selama lebih dari sepuluh hari ini, aku sangat terkenang akan Saudari Hwei.”

“. . . Abu Saudari Hwei, memang suatu masalah. Bila engkau datang, kita akan membahas hal itu lebih lanjut . . .”

“. . . Pada hari Sabtu malam, aku pingsan lagi. Selama beberapa jam, jantungku berdebar lebih keras. Kemudian aku memakan obat Diacin dan merasa agak lebih baik. Pada hari Minggu, aku tidur seharian. Dalam sakitku, aku benar-benar rindu kembali ke tengah-tengah kerabatku dan tinggal bersama mereka.”

“Aku sudah berbicara dengan pengawas penjara tentang permohonanku meninggalkan ladang di sini. Ia berkata: ‘Kamu tidak boleh pergi ke Beijing atau Shanghai. Kamu hanya boleh pergi ke tempat yang kecil, ke kampung. Begitu surat keteranganmu keluar, pemerintah akan membereskan perkaramu sesuai dengan kebijaksanaan yang sudah ditetapkan . . . Sebab itu, tolong carikan satu orang di antara kerabatku, yang bisa menampungku. Engkau dapat menjelaskan kepada mereka bahwa aku dapat mengurus diriku sendiri. Kuharap mereka dapat menerimaku dan mereka dapat memohon kepada administrasi komunis untuk mengeluarkan surat keterangan bahwa aku dapat tinggal di sana dan mereka mau menerima diriku. Kuharap di antara kerabatku ada seorang yang mau menerimaku. Ma Hsing-tao adalah orang yang mungkin mau menerimaku. Bicarakanlah hal ini dengan dia atau dengan yang lain.”

Pada hari ia meninggal dunia, tanggal 30 Mei, ia masih sempat menulis suratnya yang terakhir, ditujukan kepada kakak sulung istrinya,

“. . . Aku sudah dipindahkan ke Shan-shia-pu Kelompok 14 . . . Dalam sakitku, aku masih bersukacita. Jangan khawatir, aku masih berusaha sebisanya untuk tabah, tidak bersedih karena penyakitku. Tentang abu Pin-Hwei mohon kau yang mengatur, semuanya kuserahkan kepadamu; aku setuju saja. Surat ini singkat, tetapi perasaanku dalam dan berat . . .”

Suratnya kepada Hsing-tao keponakannya ada dua, yang satu pada tanggal 22 Mei, yang satu lagi pada tanggal 26 Mei,

“. . . Aku sudah tua dan banyak penyakit. Aku sangat rindu berada di tengah-tengah kerabatku. Seperti sehelai daun yang gugur ke akarnya, demikianlah aku mencari tempat peristirahatan yang terakhir. Aku sungguh-sungguh mengharapkan engkau mau menerima kewajiban untuk menyelesaikan hal ini bagiku. Untuk hal-hal lainnya, terserah kepadamu. Karena kematian bibimu enam setengah bulan yang lalu, kelima organ dalamku terluka, dan sulit sekali aku menempuh hidup hari demi hari. Kuharap engkau mau berusaha sebisanya mengirimkan surat keterangan ke sini. Ketika bibimu masih hidup, dia sering menyebutkan Hwe-yi dan anak-anaknya. Aku tidak tahu bagaimana keadaan anak-anak itu sekarang? Aku merindukan mereka. Aku dengar kalau pergi ke Chekiang ada masalah dengan kupon makan. Aku rasa kerena aku makan hanya sedikit, tentu masalahnya dapat dibereskan, jadi ini bukan masalah lagi.”

“. . . Kuharap engkau dapat mengurus surat keterangan bagiku dari administrasi komunis, yang menjelaskan kesediaanmu menerimaku dan menjamin kehidupanku. Engkau tahu bahwa kakak perempuanku yang menyuplai keperluanku setiap hari. Sikapmu harus tegas dan jelas . . . Aku sangat berharap dapat kembali kepada kerabatku. . .”

Dalam celah-celah surat yang ia tulis, kita tahu bahwa dalam sakitnya, ia tetap bersukacita, ia penuh keakraban dengan famili; ia meneladani Tuhan Yesus kita, karena penderitaan belajar taat. Ia sangat berharap bisa keluar dari penjara, bisa berkumpul dengan keluarga; tetapi Allah menahan dia hingga mati di penjara. Dalam suratnya ia berkata,

“. . . Dalam masa sakit demikian, aku sungguh-sungguh teringat akan kerabat sendiri dan sangat rindu berada di tengah-tengah mereka. Namun aku taat kepada pengaturan atas lingkunganku . . .”

Ini mengungkapkan sikapnya yang taat. Allah benar-benar dengan penderitaan mematangkan dia.

Saudara Watchman Nee meninggal dunia pada tanggal 30 Mei 1972, hari ia terakhir menulis surat (atau keesokan harinya, tanggal 1 Juni 1972), bertempat di Kelompok 14 perusahaan pertanian Pai-yin-san Kabupaten Chou, provinsi An-hwei. Perusahaan pertanian ini memberi tahu kakak sulung istrinya (Saudara Watchman Nee juga menyebutnya kakak sulung), bahwa ia sudah meninggal dunia, dan dikremasi pada tanggal 1 Juni 1972. Cucu keponakan perempuannya mendampingi kakak sulung istrinya pergi mengambil abunya. Cucu keponakan perempuannya berkata, “Juni 1972 kami menerima pemberitahuan dari perusahaan pertanian bahwa kakek (Saudara Watchman Nee) telah meninggal dunia. Saya dengan bibi (kakak sulung Nyonya Nee) pergi ke perusahaan pertanian. Sampai di sana baru mengetahui bahwa ia sudah dikremasikan, hanya bisa melihat abunya saja.”

Ada seorang teman dalam tahanan memberi tahu mereka, saat itu sakit jantungnya kambuh dengan hebat. Dalam keadaannya yang kritis, mereka menaruh dia di atas traktor, menariknya ke Rumah Sakit Perusahaan Pertanian kurang lebih 20 kilometer dari sana. Jalan gunung sepanjang 20 kilometer tidak rata, traktor bergetar dan bergoncang dengan hebat, orang yang sehat saja tidak tahan, apa lagi dia yang sakit jantung akut yang paling takut goncangan. Dalam perjalanan, ia dipanggil oleh Tuhan.

Menjelang meninggal dunia, ia dengan tangannya yang gemetaran menulis berapa baris tulisan besar:

“Kristus adalah Anak Allah, yang mati untuk menebus orang berdosa, bangkit tiga hari kemudian; inilah fakta terbesar dalam alam semesta. Aku mati karena percaya kepada Kristus.”

Ketika petugas perusahaan pertanian menunjukkan kertas itu kepada mereka, cucu keponakan perempuannya berdoa semoga Tuhan membuatnya cepat-cepat menghafalkannya, menyimpan dalam hatinya.

Pengurus perusahaan pertanian juga berkata bahwa ia telah menulis banyak buku “catatan harian reaksioner”; itu adalah terang kebenaran yang baru yang ia terima dalam penjara. Naskah tulisan tangannya yang berharga itu tidak bisa dikeluarkan dari penjara, selain pengaturan Allah yang khusus, yang menyimpannya, mungkin pada suatu hari bisa dikeluarkan.

Ada seorang teman sepenjara memberi tahu mereka sedikit keadaannya di penjara. Teman itu berkata bahwa ketika ia masih hidup, ia senantiasa berdoa untuk orang lain. Tak lama setelah Saudara Watchman Nee meninggal dunia, teman sesama tahanan itu beroleh selamat.

Di atas meja tulis Saudara Witness Lee ada dua kata mutiara yang diukir batu pualam; salah satunya adalah perkataan Saudara Watchman Nee, “Hari depanku kalau tidak terangkat adalah mati martir.” Tepat seperti yang ia katakan, ia dipenjarakan oleh karena Tuhan, dan mati dalam penjara. Ia telah mati martir, mahkota keadilan telah tersedia baginya (lihat 2 Tim. 4:8).