Daftar isi Darah dan Beribadah Mendekati Allah · bab 1/1

Darah dan Beribadah Mendekati Allah

"Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat mahakudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kila, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

Ibrani 10:19-25

Dalam berita ini kita akan membicarakan sedikit tentang menyembah Allah. Setiap kali datang kepada Allah, ada orang merasakan keadaan dirinya tidak baik, ada orang merasakan minggu yang lalu perbuatannya kurang baik, telah melanggar firman Allah atau telah iatuh, sehingga tidak bisa dengan leluasa dan mesra datang menyembah Allah, mendekati Tuhan.

Darah adalah Dasar Semua Ibadah

Hari ini kita akan melihat satu perkara, bukan hanya dalam Perjanjian Lama demikian, dalam Perjanjian Baru juga demikian, yaitu bagaimana orang bisa datang ke hadapan Allah. Banyak orang mengira, "Karena padaku ada kebaikan, perbuatanku baik, patut dipuji dan diperkenan Allah, sebab itu aku bisa datang ke hadapan Allah dan menyembahNya." Ada orang mengira, "Karena apa yang kulakukan tidak baik, banyak perkara tidak bisa diperkenan Allah, sebab itu aku tidak bisa datang ke hadapan Allah dan menyembahNya."

Tetapi, perbuatan kita baik atau tidak, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita datang ke hadapan Allah. Mari kita baca Ibrani 10:19 - "Jadi saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat mahakudus." Ayat ini memberitahu kita, datang ke hadapan Allah bukan bersandar hal yang lain, melainkan bersandar darah Tuhan Yesus Kristus. Berbuat baik, bergairah, atau pengalaman rohani, tidak bisa membuat kita lebih bersyarat datang ke hadapan Allah, tidak bisa membuat kita lebih patut mendekati Allah. Hanya darah Tuhan Yesus yang bisa membuat Anda mendekati Allah. Kalau Anda menganggap darah Tuhan Yesus tidak cukup membuat Anda datang ke hadapan Allah, saya berkata dengan terus terang, "Anda tidak bisa datang ke hadapan Allah, Anda tidak mungkin dapat menyembah Allah"

Setiap orang memiliki keadaannya masing-masing; keadaan setiap orang tidak sama. Mungkin ada orang telah bersalah, mungkin ada orang telah berbuat dosa, mungkin ada orang telah jatuh, bahkan jatuhnya sangat hebat, mungkin juga ada orang lebih baik. Kalau berdasarkan tinggi rendahnya kerohanian masing-masing datang ke hadapan Allah, lalu bagaimana bisa dengan sehati menyembah Allah? Tangan Anda belum tentu semuanya bersih, masih ada yang rernar, kotor, tetapi karena ada darah, maka dapat dengan leluasa, dengan penuh keberanian datang menyembah Allah. Kalau tidak ada darah, tidak bisa menyembah, juga tidak ada penyembahan. Darah Tuhan tidak saja berkhasiat di bumi, juga berkhasiat di surga; tidak saja berkhasiat di kayu salib, juga berkhasiat di hadapan takhta; itu membuat kita bisa datang menyembah Allah di tempat mahakudus.

Ada orang berkata, "Kalau demikian, kasih karunia Allah terlalu murah." Sesungguhnya, harus bersandar darah, baru bisa datang menyembah. Ini terlalu kasih karunia, tetapi juga bukan kasih karunia. Kalau Allah dengan sembarangan mengampuni dosa kita, agar kita dapat datang ke hadapanNya untuk menyembah, itu baru terhitung terlalu murah. Tetapi saya katakan, pengetahuan Alkitab yang baik, pengalaman rohani yang dalam, perbuatan hayat yang baik, tidak bisa membuat kita lebih layak datang menyembah Allah. Setiap orang yang datang ke hadapan Allah, perlu darah, perlu pembasuhan darah, baru bisa datang ke hadapan Allah. Saya sama dengan orang lain, harus bersandar darah, baru bisa datang ke hadapan Allah. Kalau ada satu perhimpunan, mereka dengan perbuatan baik atau pengalaman rohani menggantikan darah, bersandarkan perbuatan-perbuatan itu datang ke hadapan Allah, penyembahan ini, dari awal sampai akhir tidak mungkin diperkenan Allah. Orang yang bersandarkan perbuatan dan pengalaman rohani minggu yang Lalu, datang menyembah Allah, itu menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui apa yang disebut beribadah. Marilah kita belajar demi darah menyembah Allah, bersandarkan darah datang ke hadapan Allah.

Ibadah Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama

Banyak orang berkata, "Dalam banyak hal, orang Kristen mirip dengan orang Israel" Menurut mereka, "Orang Israel membagi penyembahan Allah menjadi tiga tingkatan. Tingkat pertama, persembahan korban di luar kemah; yang kedua, persembahan di tempat kudus; yang ketiga penyembahan di tempat mahakudus. Orang Kristen juga memiliki tiga tingkat penyembahan." Oh, orang yang berkata demikian, sama sekali tidak tahu apa yang disebut kekristenan, ia sama sekali tidak tahu apa yang disebut penyembahan. Kita harus tahu, orang Israel berbeda dengan orang Kristen. Karena setiap orang di antara kita dapat bersandar darah datang ke tempat mahakudus menyembah Allah. Orang-orang Israel tidak bisa. Perjanjian Lama adalah satu gambaran yang jauh; umat tidak bisa, datang sendiri menyembah, tidak bisa langsung menyembah, sampai-sampai lembu dan domba pun tidak bisa disembelih sendiri, harus bersandar imam yang melakukannya bagi mereka. Mereka jauh dengan Allah, mereka tidak bisa langsung menyembah Allah. Tidak demikian dalam Perjanjian Baru. Setiap orang imani bisa datang menyembah ke tempat mahakudus. Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan orang lain menyembah. Secara serius, Tuhan Yesus sendiri tidak bisa menggantikan kita menyembah Allah. Perkataan ini benar. Perjanjian Lama memisahkan orang-orang yang beribadah menjadi : umat, imam dan Imam Besar; tiga tingkatan. Hanya Imam Besar, boleh setahun sekali membawa darah masuk ke dalam tempat mahakudus. Selain dia, tidak ada orang yang bisa masuk. Tetapi setiap orang di antara kita, bisa seperti Imam Besar, datang ke tempat maha kudus. Kita berkata, "Tuhan Yesus adalah Imam Besar kita." Memang, di hadapan Allah di surga, Ia menjadi Imam Besar kita, sedangkan kita masing-masing adalah imam. Tetapi di dalam penyembahan, tidak demikian.

Ada orang berkata, "Dalam perkara apa saja, Tuhan Yesuslah yang melakukan bagi kita. Dialah Pengantara kita yang melakukan segala sesuatu bagi kita." Ketahuilah, tidak ada perkara demikian. Dalam ayat 19-20 dikatakan, "Tuhan Yesus mati bagi kita supaya kita dapat datang ke hadapan Allah." Dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, darah di atas mezbah adalah untuk menebus dosa. Tetapi darah di kayu salib, juga membuat manusia dapat mendekati Allah. Ada orang mengira bahwa penebusan dosa adalah berdasarkan salib, sedangkan beribadah dan mendekati Allah harus berdasarkan perbuatan. Sebab itu ada orang mengira, dalam seminggu ini kalau perbuatanku baik, sering membaca Alkitab dan berdoa, maka aku boleh dengan leluasa dan berani datang ke hadapan Allah, bisa bernyanyi, juga bisa berdoa. Ada orang mengira perbuatannya terlalu tidak baik, karena itu ia tidak bisa datang menyembah, menyanyi tidak bisa bersuara, berdoa pun tidak ada iman. Ini berarti telah meremehkan atau mengesampingkan nilai darah adi. Sebagaimana kita bersandar darah menerima pengampunan dosa, demikian pula kita bersandar darah datang menyembah dan beribadah kepada Allah.

Darah yang Dikatakan dalam

Surat Roma dan Ibrani

Surat Roma membicarakan tentang darah, surat Ibrani juga membicarakan tentang darah, tetapi pembicaraannya lain. Surat Roma membicarakan darah di atas takhta kasih karunia, membicarakan aspek penebusan dosa. Surat Ibrani membicarakan darah di depan kemah, membicarakan aspek mendekati Allah, menyembah Allah. Darah tidak saja mengampuni, mencuci dosa, juga membuat orang mendekati Allah, memimpin orang beribadah kepada Allah. Anda berkata, "Meskipun demikian, dalam seminggu ini perbuatanku tidak baik, hati selalu merasa kurang berani datang ke hadapan Allah. Bagaimana ini?" Saya ingin bertanya, "Sampai kapan Anda baru bisa berbuat baik? Baru bisa merasakan diri sendiri tidak salah, did sendiri bisa dengan leluasa menyembah? Kalau menunggu sampai Anda bisa berbuat baik baru datang beribadah, sampai kapan? Sampai kapan baru hati Anda bisa berseru, haleluya?" Kalau demikian, harus menunggu sampai Anda terangkat, baru Anda bisa menyembah Allah. Sebab itu tidak bisa berdasarkan baik buruk diri Anda datang menyembah, harus bersandar darah datang menyembah.

Misalkan, hari ini kita bersidang bersama-sama murid-murid Tuhan yang kekasih, Petrus, Yohanes dan Paulus. Bagaimana cara mereka datang beribadah kepada Allah, demikian jugalah cara kita beribadah kepada Allah. Cara mereka ialah bersandarkan darah. Jangan menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih dekat dengan Allah, adalah orang-orang yang dikarunlai Allah, karena itu mereka bisa beribadah. Tidak. Jika ada yang berkata begitu, saya yakin, orang terdahulu yang akan bangkit berdiri dan menentang adalah Petrus, Yohanes dan Paulus; karena mereka sama seperti kita, hanya bersandarkan darah baru bisa mendekati Tuhan.

Ada orang berkata, "Asal aku bisa merangkak naik dan mencapai pintu surga, dan berdiri di depan pintunya saia, aku sudah cukup puas." Tidak, kita tidak dengan begitu takut dan gentar merangkak naik menjumpai Tuhan. Kita dengan penuh keberanian, sedikit pun tidak ada ketakutan, datang ke hadapan Tuhan. Kita mempunyai hak menjadi anak-anak Allah, inilah janji yang Allah berikan kepada kita. Ketika saya masih kedi, saat hendak menjumpai orang, hati saya selalu berdebar, tidak tenang, takut kalau orang lain tidak mau menjumpai saya. Sampai di tempat yang dituju, juga tidak berani mengetuk pintu dengan keras, khawatir tuan rumahnya tidak senang atau khawatir kalau setelah membuka pintu dan melihat saya, ia segera berbalik dan menutup pintu kembali. Saya tidak bisa dengan penuh keberanian menjumpai orang. Tetapi tidak demikian dengan kita mendekati Allah. Kita memiliki wewenang, kita diberi amanat. Seperti kalau saya pulang ke rumah sendiri, tentu dengan penuh kemantapan bisa mengetuk pintu dan kemudian masuk ke dalam. Kita semua harus dengan sikap demikian datang ke dalam tempat mahakudus untuk berjumpa dengan Allah. Aka kita mengenal nilai darah, kita pasti akan penuh dengan keberanian, tidak ada rasa takut sedikit pun. Syarat beribadah adalah mengenal nilai darah adi. Jika kita ingin memiliki kekuatan dalam pertemuan ibadah kita, kita harus senantiasa tinggal di bawah darah adi. Kaum saleh yang sangat lemah dan sangat tidak baik pun memiliki hak yang sama dengan para rasul dalam hal beribadah. Tidak bisa karena ketidakbaikan mereka maka nilai dan khasiat darah adi direndahkan. Setiap ibadah harus bersandarkan darah. Perbuatan baik kita sedikit pun tidak bisa menambah nilai darah adi.

Kita memecahkan roti (tubuh), itu menyatakan bahwa tirai (tubuh) telah terbelah; rintangan telah disingkirkan, maka bisa langsung masuk ke dalam tempat mahakudus. Minum cawan menyatakan Tuhan mati bagi kita, darahNya membimbing kita datang kepada Allah. Sekali lagi saya tekankan, Datang ke hadapan Allah tidak bersangkut-paut dengan kelemahan kita, hanya bersandarkan darah. Jika kita menengadah kepada darah, maka hari demi hari kita bisa dengan penuh keberanian datang ke hadapan Allah. Ingatlah kembali, bagaimana sikap kita ketika untuk pertama kalinya kita berseru kepadaNya dan datang ke hadapan Allah sebagai manusia yang menanggung beban dosa. Demikian pula, setiap saat kita bisa datang beribadah kepada Allah bersandarkan darah, tanpa terhalang oleh perbuatan

dan perasaan kita. Semoga kita bisa memahami perkara ini. Demikian baru kita bisa dengan sehati dan penuh damai sejahtera beribadah dan memuji Allah. Bersandar darah, kita bisa dengan penuh keberanian dan penuh hak, datang beribadah kepada Allah.