Pikiran dan Perasaan Kristus Yesus
Pembacaan Alkitab : Filipi 2:1-11
Bagian ayat Alkitab di atas adalah bagian yang perlu kita perhatikan, untuk bertindak sebagai orang Kristen.
Ayat 1, -- "Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan". Ayat ini seperti tidak ada apa-apanya, tidak mengandung arti yang dalam. Sebenarnya apakah arti ayat ini? Banyak orang setelah membaca ayat ini menganggapnya tidak berarti; tetapi, saya memberitahu Anda, ayat ini sangat berarti, mempunyai arti yang sangat dalam sekali. Kalau kita bisa menemukan arti dari ayat ini, maka bisa melaksanakan ayat-ayat berikutnya dalam bagian ayat Alkitab ini. Boleh dikatakan ayat ini adalah "tanah" bagi ayat-ayat berikutnya. Sebutir benih tidak bisa ditabur di angkasa, karena tidak ada tempat untuk menumbuhkan akarnya. Ia harus ditabur di tanah yang cukup dalam, yang cukup subur, barulah ada harapan untuk bertumbuh. Ayat ini adalah tanah, mineral penyubur dan sumber air bagi sepuluh ayat berikutnya. Bila tidak ada ayat ini sepuluh ayat berikutnya akan sulit dilaksanakan.
Kata-kata "kalau dalam Kristus ada…" ini sangat penting. Maksud Paulus, kalau dalam Kristus ada nasihat, maka dengan sendirinya timbul sehati sepikir yang disebut di bawahnya. Kalau dalam Kristus ada penghiburan kasih, dengan sendirinya tercapai suatu kasih yang disebut di bawahnya. Kalau dalam Kristus ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, dengan sendirinya ada satu jiwa, satu tujuan. Kalau di dalam Kristus tidak ada nasihat, maka tidak bisa sehati sepikir. Kalau di dalam. Kristus tidak ada penghiburan kasih, tidak ada kasih mesra dan belas kasihan, maka tidak mungkin bisa satu jiwa satu tujuan. Jadi kalau dalam Kristus mempunyai hal-hal ini, barulah dapat menghasilkan semuanya itu; kalau dalam Kristus tidak ada hal-hal ini, tidaklah mungkin ada semuanya itu.
Saudara-saudari, apakah Anda dalam Kristus ada nasihat? Apakah ada penghiburan kasih? Apakah dalam Kristus ada persekutuan Roh? Apakah ada kekuatan? Apakah ada kasih mesra dan belas kasihan? Kalau Anda dalam Kristus tidak memiliki apa-apa, bagaimana bisa melaksanakan apa yang dikatakan ayat-ayat yang selanjutnya? Kalau Anda dalam Kristus ada nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, hati Anda ada kasih mesra dan belas kasihan, maka mudah sekali untuk sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, sehingga sempurnalah sukacita Tuhan.
Paulus mengambil ayat 1 sebagai sumber, sebagai dasar, sebagai pupuk, sebagai suplaian untuk bertumbuh. Kalau tidak ada. ayat ini, lalu Paulus menganjuri saudarasaudari di Filipi untuk sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, rendah hati, memperhatikan kepentingan orang lain, dan lain-lain, akan bagaimanakah jawaban saudara-saudari di Filipi terhadapnya? Mungkin mereka akan berkata, "Saudara, meskipun semuanya ini baik, tetapi kita tidak sanggup melaksanakannya. Kristus sanggup melaksanakannya, tetapi kita tidak mempunyai kekuatan Kristus, kita milik duniawi, bagaimana kita bisa melakukan itu? Kita sanggup mengasihi orang yang patut dikasihi, tetapi sulit mengasihi orang yang tidak patut dikasihi. Aku mempunyai pikiranku, orang lain mempunyai pikirannya sendiri; bagaimana bisa sehati sepikir?" Sebab itu, Paulus terlebih dulu menyelesaikan hal-hal yang menyulitkan, kemudian memberitahu mereka, "Karena dalam Kristus ada…", sehingga semuanya itu menjadi mudah. Kalau ingin kenyang, harus makan makanan; kalau mau memiliki kekuatan, harus terlebih dahulu diberi tenaga.
Ada seorang saudara berkata dengan baik, semua orang selalu menganjuri orang lain harus "mengeluarkan tenaga", tetapi saya menganjuri orang lain harus "memasukkan tenaga". Kalau tidak memasukkan tenaga, bagaimana bisa mengeluarkan tenaga? Inilah arti dari satu ayat ini. Paulus memperlihatkan kepada kita, bahwa di dalam Kristus ada satu tenaga. Kalimat "di dalam Kristus" ini betapa penting! Karena di dalam Kristus, maka Anda mampu. Di luar Kristus, saya adalah orang berdosa. Di dalam Kristus, saya adalah orang yang beroleh selamat. Di luar Kristus saya kalah, tapi di dalam Kristus saya menang.
Ayat 2, "Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini : hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan."Adanya ayat ini, karena ada suplaian yang terdapat dalam ayat 1. Karena dalam Kristus ada, sebab itu di sini juga ada. Kalau sudah makan nasi tetapi masih tidak kenyang, berarti sia-sia memakannya. Kalau dalam Kristus ada maka di sini seharusnya juga bisa ada…"Hendaklah kamu sehati sepikir", mengapa harus demikian? Bisakah? "Dlam satu kasih", mungkinkah? Apakah dapat "satu jiwa satu tujuan"?
Pernah ada seorang sekerja berkata bagaimana supaya bisa sehati? Apakah harus mengganti hatiku supaya sama dengan hati orang lain, atau mengganti hati orang lain supaya sama dengan hatiku? Kalau masih dua orang saja mudah melaksanakannya, tapi kalau ada tiga orang, itu sulit. Akan menyuruh dua orang yang mana untuk mengganti hati mereka supaya sama dengan yang satu itu? Kalau ada lima orang, lima ratus orang atau seribu orang pasti lebih sulit lagi. Sekian banyak hati, bagaimana bisa sehati? Kita perlu sehati, dan ini akan mudah sekali kalau kita menuruti seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat 5, "Menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" Bukan saya meletakkan diri saya sendiri untuk sama dengan Anda; juga bukan Anda melepaskan diri Anda sendiri untuk sama dengan saya; melainkan menaruh hati (pikiran dan perasaan) Kristus di antara kita. Anda sehati dengan Kristus, saya juga sehati dengan Kristus. Berapapun banyaknya kita, pasti mudah untuk sehati. Ketika kita melakukan satu perkara, Anda mempunyai irama Anda sendiri, saya memiliki nada saya sendiri; Anda mempunyai opini Anda, saya memiliki pendapat saya. Lalu, Anda yang harus taat pada saya, atau saya yang harus taat pada Anda? Ada orang berpendapat, Anda harus taat pada saya, tetapi ada juga yang berpendapat sayalah yang harus taat pada Anda. Semua ini bukan cara Allah. Cara Allah adalah "menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus".
Kalau ada seorang saudara atau seorang saudari salah jalan, tidak mau taat kepada Allah, maka betapa Allah akan dirugikan karenanya! Kalau Anda dan saya bisa sehati, ini tidak saja membuat Allah gembira, juga membuat sukacita Allah sempurna. Di sini Paulus mewakili Tuhan. Hati Allah, hati Tuhan, hanya akan puas marem kalau kaum imani memiliki keadaan seperti ayat tadi! Banyak hal yang bisa membuat Tuhan bersukacita, tetapi sehatinya orang Kristen, tidak saja membuat Tuhan bersukacita, juga membuat sukacitaNya sempurna. Menyelamatkan manusia bisa membuat Tuhan bersukacita, tetapi sehati akan membuat sukacita Tuhan sempurna. Mulut berkata apa, hati juga berkata apa; mulut berkata demikian, apa yang dilakukan juga demikian; harus sehati sampai taraf demikian. Ayat ini menurut kata-katanya, berkaitan dengan hati. Baik sehati, sepikir, kasih, sejiwa, semuanya ini adalah kisah batin, bukan lahir. Allah dapat menggarap sampai satu taraf supaya kita bisa sehati, tidak saja di mulut tetapi juga dalam hati.
Ada orang hanya di mulut saja mengatakan sehati, tetapi sesungguhnya di dalam hatinya tidak demikian, bahkan sangat tidak sama; sikap dan penampilannya menyatakan tidak sehati, orang-orang di sekitarnya juga bisa membuktikan ketidak-sehatiannya, tetapi orang ini masih bersikeras berkata, kita sehati. Ini bukan sehati yang kita bicarakan di sini. Sehati yang dibicarakan di sini adalah berdasarkan ayat 1, "Karena dalam Kristus ada maka bisa sehati."
Ayat 3, "Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri." Ayat ini berdasarkan karena di dalam Kristus ada hal-hal ini, maka jangan ada hal-hal itu, atau seharusnya ada hal-hal yang demikian. Apa yang disebut dengan mencari kepentingan sendiri? (terjemahan lain adalah : Bergolong- golongan). Arti dari bergolong-golongan adalah berpilih kasih. Di luar Tuhan ada nama seseorang yang menjadi sasaran Anda. Misalnya, ada perselisihan di antara dua orang, kalau Anda berkata, saya berdiri di pihak ini, maka Anda telah tidak benar. Seharusnya Anda hanya bisa karena Tuhan berdiri di pihak Tuhan; kalau tidak demikian, pasti timbul golongan-golongan.
Puji-pujian (atau kemuliaan) yang sia-sia adalah kemuliaan macam apa? Dalam Alkitab ada bagian yang mengatakan, "kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya"Jadi kemuliaan itu berbobot, tidak mengambang. Kemuliaan yang melebihi segala-galanya ini hanya dapat dilihat oleh Allah. Kemuliaan yang tertampak, dapat dilihat oleh banyak orang, adalah kemuliaan yang sia-sia. Apakah yang didapat dalam kemuliaan ini? Tidak mendapat apa-apa, hanya ketamakan hati saja; selama-lamanya tidak mendapatkan apa-apa, siapa yang bisa mendapatkan sesuatu dari yang sia-sia?
Di antara saudara-saudari, kadangkala timbul suatu pertengkaran yang patut disayangkan, yang disebabkan bergolong-golongan, atau karena menginginkan kemuliaan yang sia-sia. Anda ingin menjadi besar, saya juga ingin menjadi besar, kedua belah pihak tidak bisa saling menerima. Sesungguhnya ingin besar pun tidak bisa besar, karena masih ada yang lebih besar.
Ada orang ketika disanjung-sanjung, dipuji-puji, seolah-olah sangat mulia, sebenarnya kakinya berpijak pada kesia-siaan yang mengambang, tidak ada kemantapan. Saudara-saudari, ingatlah : bahwa kemuliaan yang berasal dari manusia adalah kemuliaan yang sia-sia.
Ada satu kisah : Ada seorang sastrawan kenamaan Inggris yang menulis sebuah cerita yang sangat terkenal pula. Pada suatu hari, ia diundang oleh seorang bangsawan untuk menghadiri suatu pesta. Dalam pesta itu ia berjumpa dengan bangsawan perempuan yang memuji-muji betapa baiknya buku karangannya. Ia berdiri dan berkata pada perempuan itu, "Anda tidak patut memuji karangan saya". Bagi dia, pujian perempuan itu adalah sesuatu yang memalukan.
Siapakah yang seharusnya memuji kita? Selain Tuhan, siapa pun seharusnya tidak layak memuji kita! Kita dipuji orang berarti kita telah direndahkan, lalu apakah kita masih menginginkan itu? Kalau kita mengharapkan kelak Tuhan berkata sepatah kata, hai hambaKu yang baik; mengharapkan hari itu menerima mahkota, bagaimana kita bisa menerima pujian manusia, tamak akan sanjungan mereka? Apalagi sebenarnya tidak ada seorang pun yang patut memuji kita.
Tidak saja kita tidak boleh menginginkan puji-pujian atau kemuliaan yang sia-sia, bahkan pada pihak positifnya, "Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri". Apakah rendah hati itu? Rendah hati berarti tidak meninggalkan kedudukan bagi diri sendiri. Barangsiapa meninggalkan kedudukan bagi diri sendiri, selamanya tidak akan bisa rendah hati. Barangsiapa yang berkata, saya mempunyai kekuasaan ini, saya seharusnya mendapatkan ini; ia selamanya tidak bisa rendah hati. Rendah hati adalah tidak menyisakan sedikit pun kedudukan bagi diri sendiri. Orang yang di mulut mengatakan perkataan yang rendah hati, belum tentu juga memiliki motivasi rendah hati. Banyak perkara boleh lewat melalui mulut seseorang, tetapi belum tentu melalui hatinya.
"Hendaklah dengan rendah hati" harus dinyatakan mulai dari sikap yang bagaimana? Ini dinyatakan dengan "seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri" Menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri adalah tanda seseorang rendah hati; ini seperti "merek dagang" dari rendah hati. Betapa sulitnya menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri!
Saya pernah berjumpa dengan seorang imani tua yang telah puluhan tahun melayani Tuhan. Ada seorang saudara bertanya kepadanya, "Di antara kebajikan orang Kristen, macam kebajikan apakah yang paling sulit?"Jawabnya, "Dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri" yang tercantum dalam Filipi 2:1 Memang benar, paling sulit untuk rendah hati! Dosa apakah yang membuat Iblis mendapat julukan Iblis? Sombong! Karena ia ingin setara dengan Yang Maha Tinggi, maka ia jatuh. Dosa apakah yang membuat manusia menjadi orang berdosa? Juga sombong. Karena Adam ingin setelah makan buah pohon itu, maka ia bisa seperti Allah membedakan apa yang baik dan yang jahat. Begitu ia memakannya, ia pun jatuh. Sebab itu rendah hati adalah pekerti yang paling sulit dari segala kebajikan. Mungkin di atas bumi belum ada seorang pun yang bisa melakukannya. Kita masih bisa menemukan orang-orang yang mempunyai kekuatan, fasih lidah, talenta, tetapi sulit sekali menemukan orang yang benar-benar rendah hati.
Bagaimana bisa menganggap yang lain lebih utama daripada diri sendiri? Ada seorang imani berkata dengan baik sekali, "Kalau melihat diri sendiri, lihatlah orang lama diri sendiri; kalau melihat orang lain, lihatlah orang baru orang lain." Sungguh! Kalau kita melihat sifat bawaan kita, kebejatan kita; kemudian melihat kasih karunia Allah di atas diri orang lain, perubahan yang ada pada diri orang lain, maka pasti mau tak mau kita akan menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri. Kaum imani di Roma seharusnya mendapatkan bantuan rohani dari Paulus, tetapi Paulus masih ingin mendapatkan bantuan dari mereka, karena iman mereka telah tersiar ke seluruh bumi. Paulus ingin mendapatkan bantuan dari pekerjaan baru yang Allah kerjakan di tengah-tengah mereka.
Saya pernah membicarakan suatu hal dengan seorang misionaris dari Barat, yaitu "Sebenarnya Tuhan banyak menuntut terhadap kaum imani, atau kaum imani banyak menuntut terhadap kaum imani?" Maksud saya, mungkin Tuhan yang banyak menuntut; ini saya pandang dari kedudukan kita yang rendah, dan Tuhan begitu tinggi, bukankah Ia akan menuntut lebih banyak lagi? Ia menjawab : "Tidak". Kembali saya, bertanya, apa alasannya? Ia menjawab : "Yang kita lihat adalah kegagalan yang nyata dari seseorang, tetapi yang Tuhan lihat adalah kemenangan yang tersembunyi dari seseorang". Benar. Saya mengakui bahwa ini adalah perkataan orang yang telah memiliki pengalaman yang sangat dalam. Yang kita lihat adalah, si A telah gagal sekali, dua kali, bahkan puluhan kali; tetapi yang Tuhan lihat adalah si A secara tersembunyi telah menang sekali, dua kali, bahkan seratus kali. Mungkin Anda mendapat ujian lima kali; dan Anda gagal lima kali; tetapi orang lain mungkin mendapat ujian tiga kali, hanya gagal sekali. Mungkin juga orang lain secara tersembunyi mempunyai banyak kemenangan yang tidak pernah Anda alami, juga tidak pernah Anda tampak. Anda menempuh sepuluh kali peperangan, Anda gagal sekali; mungkin orang lain malah mempunyai seratus kali peperangan, baru gagal sekali. Kalau kita memahami hal ini, mau tidak mau kita akan melihat orang lain lebih utama dari diri sendiri.
Ayat 4, "Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." Ini bukan perkara yang mudah. Saya sendiri beberapa tahun ini karena kesehatan tubuh kurang baik, sering tidak mampu memperhatikan kepentingan orang lain! Seringkali, kita seolah terhadap urusan sendiri saja tidak bisa mengatasi, bagaimana bisa memperhatikan kepentingan orang lain? Memperhatikan kepentingan orang lain adalah satu kehidupan mengorbankan diri sendiri. Pernah saya berjumpa dengan seorang misionaris perempuan dari China Inland Misionary. Saya bertanya kepadanya, "Apakah dia pernah berjumpa dengan tuan Hudson Taylor? Keistimewaan apa yang Anda lihat atas dirinya?" Ia berkata, "Menurut pengamatannya, ia mempunyai satu kelebihan yaitu kapan saja bertemu dengannya, ia seolah tidak ada urusan lain kecuali urusan Anda yang paling penting. Sebenarnya dalam sehari ia harus menulis banyak surat, harus menemui banyak orang, tetapi dia seperti tidak ada urusan lain, kecuali untuk memperhatikan kepentingan orang lain." Inilah yang disebut mengorbankan diri. Oh! Kalau saja Tuhan seperti kita yang berhati dingin, tidak memperhatikan kepentingan orang lain, entah hari ini Anda berada di mana? Saya juga berada di mana? Yang diperhatikan Tuhan, semuanya adalah kepentingan orang lain. Ia mati karena pelanggaran dosa Anda dan saya. Kita harus dididik menjadi orang yang memperhatikan kepentingan orang lain.
Ayat 5, "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perawan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." Terjemahan lama, "Taruhlah di dalam hatimu ingatan ini yang sudah ada di dalam Kristus Yesus." Ayat ini merupakan kesimpulan dari ayat 1-4. Di dalam Kristus ada nasihat, ... dan banyak lagi. Kalau kita menaruh dalam hati kita ingatan yang sudah ada di dalam Kristus Yesus itu, maka semuanya akan beres, apa saja bisa dikerjakan. Mungkin ada orang yang akan bertanya, ingatan apa yang sudah ada dalam Kristus Yesus? Paulus selanjutnya menjawab dalam ayat 6-8 di bawah ini.
Ayat 6-7, "Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." Hak yang seharusnya dimiliki oleh Kristus, yang seharusnya didapatkan, yang sepatutnya didapatkan, yang sah menurut hukum, yaitu walaupun Ia dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan; tetapi Ia malahan "telah mengosongkan diriNya, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." Hati Kristus adalah hati yang bagaimana? Ia meninggalkan hakNya yang sah, inilah hati Kristus. Mungkin Anda berpikir, si A harus memperlakukan Anda demikian. Tetapi, apa yang seharusnya didapatkan oleh Kristus, tidak Ia dapatkan. Ia setara dengan Allah, tetapi ini tidak dipertahankan, melainkan mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba. Inilah hati Kristus.
Saudara-saudari, seringkali saya sangat merasakan bahwa hak yang sah itu paling tidak baik. Kita semua ingin mendapatkan hak yang sah, tetapi Tuhan berkata, "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu." (Matius 20:25). Ajaran dalam Injil Matius pasal 5-7, boleh disimpulkan dengan dua patah kata, yaitu melepaskan apa yang seharusnya Anda dapatkan, dan sebaliknya dengan sukacita menerima apa yang tidak seharusnya Anda dapatkan. Orang lain boleh dengan mata gand mata, gigi ganti gigi. Tetapi Tuhan berkata, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Melepaskan apa yang seharusnya didapat dan menerima apa yang seharusnya tidak didapat, adalah kalimat yang padanya tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Baik di rumah maupun di luar, tidak ada seorang Kristen pun yang boleh berkata sepatah kata untuk haknya. Kalau Tuhan. berkata, "Apakah Bapa bisa mengutus Aku", bagaimana Bapa bisa mengutusNya? Tuhan berkata, "Aku dan Bapa adalah satu". Tetapi Tuhan juga berkata, "Bapa lebih besar daripada Aku." (Yohanes 14:28). Apakah di antara Allah Tritunggal ada perbedaan besar kecil? Tidak ada. Besar kecil di sini bukan berasal dari kelahiran, melainkan dari kemauan. Bapa mengutus Putra, Putra mengutus Roh, inilah kerendahan-hatian dalam ke-Allahan.
Rupa hamba adalah kerendahan hati Tuhan, rupa manusia adalah Tuhan terbatas oleh manusia. Rupa hamba berlawanan dengan rupa Allah; manusia berlawanan dengan Allah. Allah itu tidak terbatas; tetapi manusia itu terbatas oleh ruang dan waktu, terbatas oleh makanan dan minuman, terbatas oleh tidur. Rupa Allah itu mulia; rupa hamba itu rendah. Hati Kristus rela merendahkan diri, membiarkan diriNya terbatas.
Ayat 8, "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." Tuhan taat kepada yang setara denganNya, bukan taat kepada yang lebih besar daripadaNya. Ketaatan Tuhan adalah mutlak taat, bahkan sampai mati di kayu salib.
Saudara-saudari, sudah seharusnya kalau orang Kristen itu lebih rukun, lebih saling mengasihi. Jalan dalam ayat 6-8 benar-benar adalah jalan salib! Kalau ada seorang saudara atau. seorang saudari belum belajar mengorbankan diri, belum mau melepaskan haknya yang sah, belum tahu merendahkan diri kepada orang yang setara dengannya, itu berarti ia belum menempuh jalan salib. Ada seorang berkata, "Ada orang seringkali menganjuri orang lain menempuh jalan salib yang sempit, tetapi saya rasa, ia sendiri belum pernah memasuki jalan itu". Benar, kalau kita tidak pernah berkorban, itu berarti kita belum pernah memasuki jalan salib. Seringkali kita ingin memilih jalan salib, siapa tahu, seringkali jalan salib berada dalam perkara-perkara sehari-hari yang menuntut Anda mengorbankan diri -- mati.
Ada seorang saudari berjumpa dengan seorang dokter, dia adalah seorang imani yang sangat lincah dalam The Brethern. Dokter ini berilmu tinggi, juga berpengetahuan dalam Alkitab, kalau berkhotbah sangat menarik. Tetapi, saudari ini berkata kepadanya, "Tuan, khotbah Anda tidak salah, tetapi jalan yang Anda tempuh salah."Dokter ini menjawab, "Aku memberitakan jalan salib, kita semua harus menyangkal diri dan memikul salib." Saudari itu berkata, "Tidak salah, tetapi saya melihat Anda belum pernah mati."Dokter ini dengan rendah hati meminta bimbingan saudari ini. Lalu saudari ini berdasarkan Alkitab dengan terus terang berkata kepadanya. Di kemudian hari dokter ini menulis surat kepada saudari ini, katanya "Setelah Anda pergi, saya berkata kepada Allah, aku tidak tahu apakah salib itu? Apakah menempuh jalan salib itu? Apakah menyangkal diri? Tetapi ya, Allah, dalam ketidak-tahuanku ini, aku mempersembahkan diriku, mohon Dikau mengajar aku supaya bisa menyangkal diri sendiri. Demikianlah, kesulitanku segera datang. Ketika istriku menentangku, dan kesabaranku habis, saat itu ada suara berkata, dalam hal-hal inilah kamu harus menyangkal diri, mati. Dulu aku selalu memberitakan salib, memberitakan menyangkal diri, tetapi aku tetap tidak tahu, sebenarnya di mana harus mati? Bagaimana caranya mati? Sekarang aku tahu, semua ini diwujudkan dalam pelaksanaan penempuhan hidup. Setelah aku berkata demikian, banyak orang bangkit menentangku, patienku juga berubah. Aku baru mengetahui bahwa mati adalah di antara orang yang setara, kita perlu mati."
Saudara-saudari, banyak orang mengetahui kebenaran, mengetahui harus menyangkal diri. Tetapi harus mati di mana? Kita perlu mati di tengah-tengah sesama kita, yaitu mati di tengah-tengah orang yang dapat kita lihat dan raba.
Semoga Allah memberkati kita, supaya kita di dalam Kristus sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, sehingga sukacita Tuhan sempurna.