Daftar isi Efesus · bab 108/288

Pembacaan Alkitab: Ef. 4:5-6

Realitas baptisan terdapat dalam mengenal dan mengakui bahwa insan alamiah kita telah disalibkan dan dikubur. Maka baptisan ialah realisasi kematian, penguburan, dan kebangkitan. Melalui iman kita bersatu dengan Kristus, dan dalam Kristus kita disalibkan, dikubur, dan bangkit. Segera setelah kita percaya ke dalam Kristus, kita harus dibaptis sebagai satu kesaksian dari realisasi kita atas fakta tersebut. Baptisan selalu mengikuti iman. Melalui baptisan kita mengalami perpindahan yang lengkap dan menyeluruh dari Adam ke dalam Kristus. Sekarang kita berada dalam Kristus. Sekarang kita berada dalam Kristus yang menjadi hayat dan Tuhan kita, tidak lagi berada dalam Adam atau dengan Adam sebagai kepala kita. Kita berada dalam Kristus, dengan Kristus sebagai Kepala kita. Berhubung Tuhan, iman, dan baptisan berkaitan sedemikian rupa, maka Paulus menyebut mereka berurutan dalam ayat 5.

Ayat 6 mengatakan, “Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” Allah adalah Perintis segala sesuatu, dan Bapa adalah sumber hayat bagi Tubuh Kristus. Dalam ayat 4 kita mempunyai hayat; dalam ayat 5 kekepalaan, dan ayat 6 asal-usul atau sumber. Karena setiap perkara ada sumbernya, maka dapatlah kita menyusurinya hingga ke asalnya. Akan tetapi, hari ini kebanyakan orang Kristen sangat dangkal, mereka tidak memperhatikan asal-usul atau sumber perkaranya. Sebaliknya, dalam kehidupan gereja kita harus memiliki pembedaan yang bijaksana. Ini berarti kita harus memperhatikan masalah hayat, kekepalaan, dan sumber atau asal-usul. Jika kita menyusuri sesuatu hingga ke sumbernya, kita tidak sampai tertipu atau tersesat.

Dalam ayat 6 Paulus mengatakan tentang satu Allah dan Bapa, “Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” Pemikiran Trinitas tersirat di sini. “Di atas semua” terutama mengacu kepada Bapa, “melalui semua” mengacu kepada Putra, dan “di dalam semua” mengacu kepada Roh itu. Allah Tritunggal akhirnya masuk ke dalam kita semua dengan mencapai kita sebagai Roh itu. Kesatuan Tubuh Kristus disusun oleh Trinitas ke-Allahan: Bapa adalah sumber dan pemula sebagai Perintis, Putra adalah Tuhan dan Kepala sebagai Penggenap, Roh adalah Roh pemberi-hayat, sebagai Pelaksana. Bila kita tampak hal ini, tidak ada apa pun yang dapat menyelewengkan atau menyesatkan kita. Kita akan memiliki daya pembeda untuk kesatuan dan cara pemeliharaannya.

Memelihara kesatuan adalah masalah dalam Allah Tritunggal. Ini berarti Allah Tritunggal adalah dasar kesatuan kita, dasar yang fundamental dan fondasinya itu sendiri. Perintis kesatuan kita ialah Bapa, Penggenap kesatuan kita ialah Tuhan, dan Pelaksana kesatuan kita ialah Roh. Tetapi, dalam pengalaman kita, Roh itulah yang pertama, karena Ia langsung berkaitan dengan kesatuan dan pelaksanaan kesatuan dalam satu Tubuh. Selanjutnya, kita memiliki Tuhan sebagai Penggenap dan Bapa sebagai sumber. Jadi, kesatuan kita adalah Allah Tritunggal yang direalisasikan oleh kita di dalam kehidupan kristiani kita.

Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 37