Daftar isi Tahukah Anda Telah Beroleh Selamat? · bab 1/1

TAHUKAH ANDA TELAH BEROLEH SELAMAT?

Pembacaan Alkitab:

Ibrani 10:19-22

"Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena la telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni."

Dalam empat ayat yang tertera di atas, dua ayat yang pertama menjelaskan tentang apa yang telah dilaksanakan oleh Tuhan Yesus; sedang dua ayat selanjutnya mengemukakan hal-hal yang wajib kita lakukan sekarang. Ringkasnya ialah, oleh karena kita telah beroleh berkat yang sedemikian indahnya, maka wajiblah kita menghampiri Dia dengan hati yang tulus dan dengan keyakinan iman yang teguh.

Perjanjian Baru berbeda dengan Perjanjian Lama. Di manakah perbedaannya? Perjanjian Baru adalah berangsur menanjak ke atas dari kedudukan yang telah diperoleh; sedangkan Perjanjian Lama adalah berangkat dari sebelum ada kedudukan menuju kepada suatu kedudukan. Dengan kata lain, dalam zaman Perjanjian Lama, manusia belum memperoleh kedudukan di hadapan Allah. Seperti siswasiswa yang sedang mengikuti ujian sekolah. Mereka belum bisa dipastikan lulus atau tidaknya. Demikian pula, tidak ada seorangpun dalam zaman Perjanjian Lama yang memiliki satu keyakinan yang mantap; karena mereka masing-masing masih harus melewati ujian Allah. Apakah mereka dapat lulus atau tidak, itu belum bisa dipastikan. Kalau demikian, apa yang harus mereka lakukan? Mereka harus sekuatnya berkorban, sekuat tenaga menghampiri dan menyembah Allah. Mereka berharap agar pada suatu hari kelak mereka bisa memperoleh suatu kedudukan dari Allah, yaitu hidup yang kekal atau hidup baru.

Akan tetapi, dalam Perjanjian Baru adalah sebaliknya; yaitu kedudukan itu sudah diperoleh, bahkan kedudukan itu tak akan berubah selama-lamanya. Setiap orang yang beriman di dalam Kristus telah memiliki kedudukan, memiliki hidup yang kekal; dan kemudian berdasarkan ini mereka menghampiri Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh.

Inilah perbedaan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Berbahagialah orang yang mengetahui hal ini!

Saudara saudari, kita sekarang justru telah berada dalam kedudukan yang dikaruniakan Allah ini. Ingatlah, bahwa langkah pertama bagi setiap orang yang telah beroleh selamat, ialah menegaskan kedudukannya. Firman Allah mengatakan, bahwa setiap orang yang berada di dalam Kristus, sudah mempunyai kedudukan itu, yakni sudah beroleh selamat dan adalah anak-anak Allah. Berdasarkan inilah kita menghampiri Allah; berdasarkan ini pula kita melakukan segala pekerjaan. Jika seseorang berpendapat, bahwa keselamatan itu diperoleh demi perbuatan dan kegiatan tertentu, maka ia adalah orang yang tidak mengakui Firman Allah. Orang demikian bahkan tidak mengenal Allah.

Perkenankan aku mengisahkan pengalaman-pengalamanku yang lampau. Pernah sekali aku menginjil di sebuah kota, seminggu lamanya. Pada hari terakhir, aku bertanya kepada hadirin, "Apakah kalian percaya kepada Tuhan Yesus?" Banyak sekali hadirin dengan berani mengaku, bahwa mereka percaya kepada Tuhan Yesus. Lalu aku bertanya lagi, "Apakah yang kalian peroleh setelah kalian percaya?" Ternyata banyak yang tidak dapat menjawab. Akhirnya, secara langsung aku minta supaya siapa yang sungguh-sungguh mengetahui dirinya telah beroleh selamat, silakan mengangkat tangannya. Ah, dari antara hadirin yang jumlahnya kurang lebih 600 orang itu, hanya 3 orang saja yang mengangkat tangannya untuk menyatakan dirinya telah beroleh selamat. Dan bahkan ketiga orang itu bukan orang-orang setempat; mereka adalah saudara-saudara dari lokal lain yang datang bersamaku. Mereka telah mendengarkan pemberitaanku sebelumnya. Lihatlah, yang telah percaya kepada Tuhan ada sekitar 600 orang, tetapi yang beroleh selamat tidak lebih dari tiga orang. Ini sungguh aneh.

Pada tahun 1924, dalam suatu seri-meeting, pertanyaan inipun aku ajukan kepada hadirin. Saat itu aku bertanya, "Apakah kalian percaya Yesus Kristus adalah Juruselamat?" Ada lebih dari 1.000 buah tangan terangkat sebagai tanda percaya. Pertanyaan kulanjutkan, "Kalian telah percaya, lalu apakah kalian tahu, bahwa kalian telah memiliki hidup yang kekal, tidak binasa; sekali percaya, selamanya beroleh selamat?" Tetapi hal yang sama anehnya itu terjadi pula — yang mengaku sudah percaya kepada Tuhan Yesus tidak kurang dari seribu orang, namun kecuali penterjemah, tak ada seorang pun yang berani mengakui dirinya sudah menerima hidup yang kekal, takkan binasa, beroleh selamat selama-lamanya. — Dengan rasa keheran-heranan aku berkata, "Tidakkah Firman Allah menegaskan, barangsiapa percaya, memperoleh hidup yang kekal? Jika kalian sudah percaya kepada Tuhan, mengapa kalian tak berani mengaku diri kalian sudah memperoleh hidup yang kekal?"

Pernah juga, di suatu perhimpunan yang dihadiri oleh tidak kurang dari seribu seratus orang, ketika aku bertanya, "Sudahkah kalian percaya kepada Tuhan?" Segera ada lebih dari 1.000 buah tangan yang terangkat. Pertanyaan kulanjutkan lagi, "Apakah kalian telah beroleh selamat?" Ternyata hanya belasan orang di antaranya yang mengaku dirinya sudah memiliki hidup yang kekal. Coba Anda pikir, betapa jauhnya perbedaan antara kedua angka itu. Ada lebih dari seribu orang yang sudah percaya kepada Tuhan, tetapi yang beroleh selamat hanya belasan orang saja, tidakkah itu berarti bahwa Tuhan Yesus tidak bisa dipercayai?

Misalkan saja seorang dokter mengatakan, bahwa dirinya ahli menyembuhkan orang sakit; sekali berobat, pasti sembuh. Lalu kalau yang datang berobat mencapai seribu orang lebih, tapi yang mendapat kesembuhan hanya belasan orang saja, tentu Anda akan berkata, bahwa dokter itu tidak dapat dipercayai, tidak dapat diandalkan. Demikian juga, kalau ada seribu orang yang telah percaya kepada Tuhan, tetapi yang beroleh selamat hanya belasan saja, bukankah itu jelas berarti bahwa Tuhan Yesus tidak bisa dipercayai?

Kejadian semacam ini bukan saja kujumpai pada orang-orang Kristen biasa, bahkan sering aku jumpai pada orang-orang yang sudah menjadi pendeta, guru Injil, ketua-ketua Gereja, dan orang-orang yang disebut sebagai pengurus. Meskipun mereka itu aktif mengerjakan pekerjaan rohani, dan mahir mengajar orang-orang lain, akan tetapi mereka tidak mengetahui kedudukannya sendiri. Banyak yang tidak mengetahui, bahwa dirinya telah memiliki hidup yang kekal dan tidak akan binasa. Dengan kata lain, mereka masih belum mengenal kedudukan mereka di hadapan Allah.

Orang semacam ini sering juga kutemui pada saat-saat bercakap-cakap dengan seseorang secara pribadi. Pernah sekali aku berdialog dengan seorang ibu tentang soal ini. Ibu ini tidak berpendidikan tinggi pula kurang pandai berbicara. Dengan tegas ia mengatakan kepadaku, bahwa ia sungguh-sungguh percaya Tuhan Yesus; malahan orangtuanya serta kakek-neneknya pun keturunan orang Kristen. Untuk membuktikan kalau dirinya benar-benar orang Kristen, segera dihafalnya sepuluh hukum. Selesai ia menghafalkan, aku berkata kepadanya, bahwa itu bukan yang terpenting bagi umat Kristen; kalau misalnya saat ini dia meninggalkan dunia ini, tahukah dia, bahwa dia telah beroleh selamat? Mendengar perkataanku ini, serta-merta ia menjawab, "Tentang itu aku tidak berani berkata apa-apa. Sekarang aku hanya berusaha sekuatnya beramal dan rajin melakukan pekerjaan Tuhan. Sampai hari itu, bila Tuhan membelaskasihaniku, sehingga mau menaikkan aku ke surga, betapa baiknya itu. Sebaliknya, apabila Tuhan tidak membelaskasihani aku, aku tidak akan beroleh selamat." Dengan waktu dan penjelasan yang tidak sedikit, aku menerangkan hal ini kepadanya. Syukurlah, akhirnya ia memahami juga; kalau tidak, ia akan tetap dan selalu berkata, "Sekarang ini aku sekuatnya beramal, berkorban, dan menderita, dengan harapan kelak dapat beroleh selamat."

Pada suatu hari, aku bertemu dengan seorang siswa theologi. Pemuda itu memang pandai, tapi iapun tak mengerti hal ini. Menurut pendapatnya, setiap orang Kristen wajib beramal dengan sekuat daya-upayanya sambil aktif bekerja bagi Tuhan. Tentang dapat dan tidaknya beroleh selamat, sama sekali terserah kepada Tuhan. la malah beranggapan, bahwa seseorang yang mengatakan dirinya sekarang sudah beroleh selamat itu adalah orang sombong, terlalu memegahkan dirinya. Kepada pemuda ini akupun menggunakan tidak sedikit waktu untuk menjelaskan hal tersebut, barulah ia menjadi sadar. Pendek kata, baik dalam pertemuan umum maupun dalam dialog pribadi, aku menemukan tidak sedikit orang Kristen yang tak tahu dirinya telah beroleh selamat.

Hendaklah kita ketahui, bahwa orang Kristen yang tak berani mengaku dirinya sudah beroleh selamat, itu berarti ia tak percaya bahwa Alkitab itu Firman Allah. Firman Allah itu takkan berubah. Apa yang telah Allah katakan tentu akan genap. Banyak sekali orang mengharapkan keselamatan Allah melalui pekerjaan dan perbuatan yang baik. Akan tetapi Anda harus ingat, bahwa istilah percaya dalam Alkitab selalu ditujukan kepada waktu yang lampau, bukan waktu yang akan datang. Tidaklah benar apabila seorang Kristen mengharapkan keselamatan, atau mengharapkan mendapatkan hidup yang kekal. Percaya sekali-kali bukanlah pengharapan. Pengharapan ditujukan kepada perkara-perkara yang belum datang atau akan datang; sedangkan yang kita percayai ini ditujukan kepada perkara yang telah lampau. Allah tidak akan berkenan kepada Anda, jika Anda selalu mengharapkan janji dan karuniaNya tanpa mau percaya kepada firmanNya.

Kini, kita ingin membahas satu perkara, yaitu: Dapatkah orang Kristen mengetahui, bahwa dirinya telah beroleh selamat atau telah beroleh hidup yang kekal. Untuk menjawab perkara ini, aku tidak ingin berkata apa-apa, tapi juga tidak ingin meminta bagaimana pendapat Anda. Mari kita baca saja beberapa ayat dalam Alkitab dan melihat apakah kita bisa tahu, bahwa kita sudah memiliki hidup yang kekal.

Pertama, kita lihat I Yohanes 5:13, "Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama AnakAllah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal." Apakah ayat ini menyuruh Anda mengharapkan hidup yang kekal itu? Tidak! Ayat ini bahkan membuat Anda tahu, bahwa Anda telah memiliki hidup yang kekal. Surat Yohanes ini ditujukan kepada siapa? Ini ditujukan kepada semua orang yang telah percaya kepada nama Anak Allah. Siapakah Anak Allah itu? Dialah Kristus. Yohanes menulis untuk orang-orang yang telah percaya kepada Yesus Kristus, agar mereka mengetahui bahwa diri mereka telah memiliki hidup yang kekal. Jadi, bagi setiap orang yang percaya, sudahkah ia memiliki hidup yang kekal? Alkitab menunjukkan, kita bisa mengetahuinya. Karena itu, tujuan Yohanes menulis begitu banyak ialah supaya orang yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa ia memiliki hidup yang kekal.

Lihatlah pula Kisah Para Rasul 13:38-39, "Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa. Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa." Ayat ini pun tidak menganjuri Anda mengharapkan atau mempercayai, melainkan menggugah Anda agar mengetahui, bahwa oleh karena Orang inilah (Yesus) diberitakan kepada Anda jalan pengampunan dosa, dan oleh karena Dia pula, barangsiapa percaya, dibenarkan dari segala sesuatu, yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum Musa. Di sini, kata-kata rasul cukup jelas, bahwa oleh karena percaya kepada Tuhan Yesus, kita dapat mengetahui bahwa diri kita sudah dibenarkan dan sudah beroleh pengampunan dosa. Ini berarti, barangsiapa percaya, harus mengetahui hal ini tanpa diberitahu oleh orang lain.

Selanjutnya, II Korintus 5:1 mengatakan, "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorrga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia." Ayat ini lebih jelas lagi. Ia tidak membuat kita mengetahui sebagaimana tercantum pada ayat-ayat di Kisah Para Rasul. Ayat ini dengan tegas mengatakan, bahwa hal itu sudah kita ketahui, tanpa memerlukan waktu untuk diberitahu. Sudah mengetahui apa? Kata Paulus, kita sudah mengetahui, jika kemah yang kita diami di dalam dunia ini (jasmani kita) dirobohkan, kita akan beroleh sebuah tempat kediaman dari Allah, yaitu tempat kediaman yang bukan dibuat oleh tangan manusia, melainkan yang kekal di surga (tubuh kebangkitan).

Paulus mengetahui dengan jelas, bahwa apabila jasmaninya yang ada di dalam dunia ini mati, maka ia akan beroleh tubuh kebangkitan di surga. Dengan kata lain, Paulus sendiri sudah mengetahui bahwa ia telah beroleh selamat. Untunglah di sini dijelaskan dengan tegas. Dengan berhati-hati Paulus menuliskan kata-katanya; karena ia tidak mau kalau orang salah paham dan berkata, "Paulus berani memastikan dirinya beroleh selamat, karena ia seorang rasul, cakap dan rajin bekerja bagi Tuhan. Lain halnya dengan kami, mana berani kami memastikan diri kami beroleh selamat." Itulah sebabnya Paulus tidak menulis, "Karen aku tahu . . . ", melainkan "karena kami tabu . . . " Kata "kami" ini bukan hanya ditujukan untuk diri Paulus sendiri, melainkan untuk segenap orang yang sudah percaya Tuhan. Jadi, semua orang yang sudah percaya kepada Tuhan, apabila kemahnya (tubuh jasmani) dirobohkan, pasti akan memperoleh sebuah tempat kediaman yang bukan dibuat oleh tangan manusia, melainkan yang kekal di surga. Ini berarti, setiap orang Kristen sudah seharusnya tahu bahwa dirinya sudah beroleh hidup yang kekal, sudah beroleh selamat.

Selanjutnya tertulis pula demikian, “Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (ayat 6,8). Paulus tidak khawatir sedikitpun akan ke mana perginya setelah ia meninggalkan tubuhnya. Sebab ia sudah mengetahui bahwa kelak ia beserta dengan Tuhan, bukan menuju ke tempat yang selama-lamanya menakutkan itu -- neraka. Berdasarkan inilah ia tak merasa takut akan maut, malahan dengan hati yang lapang dan tabah mengarah kepada Tuhannya. Mengetahui hal keselamatan diri tak usah menunggu di kemudian hasil; justru hari ini juga sudah dapat diketahui.

Lagi, II Timotius 1:12 mengatakan, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku hingga pada hari Tuhan." Mengapa rasul berkata demikian? Apakah yang dipertaruhkannya kepada Tuhan pada waktu ia percaya? Itu tak lain soal hidup yang kekal dan keselamatan. Ia percaya dengan yakin, bahwa Tuhan berkuasa memeliharakan pertaruhannya hingga kepada hari itu. Paulus mengetahui, apa yang dipertaruhkan kepada Tuhan, akan utuh sampai kepada hari itu, dan Tuhan takkan sekali-kali mengecewakan dia. Saudara saudari, apakah yang Anda pertaruhkan kepada Tuhan pada saat Anda percaya? Bukankah soal keselamatan Anda?

Ayat-ayat di atas sudah cukup menegaskan, keselamatan dan kebinasaan dapat kita ketahui sewaktu kita masih hidup di dalam dunia ini. Siapa saja bisa mengetahui bagaimana nasib dirinya masing-masing. Sebab itu, janganlah Anda menggunakan alasan apapun untuk membenarkan pendapat Anda yang salah dengan berkata, "Kelak setelah dihakimi oleh Allah, aku baru tahu apakah aku naik surga atau masuk nereka." Marilah kita bersama-sama mengatakan, "Hari ini aku bisa mengetahui apakah aku telah beroleh selamat."

Bagaimanakah kita mengetahui, bahwa memiliki hidup yang kekal itu berarti beroleh selamat? Untuk ini, terlebih dulu kita perlu tahu bagaimana caranya mendapatkan hidup yang kekal. Jika Anda mengetahui jalan untuk mendapatkan pembenaran dan pengampunan dosa. Anda pasti tahu apakah Anda telah melalui jalan itu atau belum. Kalau sudah melaluinya, Anda telah memilikinya; kalau belum melaluinya, Anda tidak memilikinya. Sekarang mari kita bahas jalan untuk mendapatkan hidup yang kekal.

Dalam seluruh Perjanjian Baru, sedikitnya ada 150 kalimat seperti: Barangsiapa percaya, mendapatkan hidup yang kekal, atau beroleh hidup, dan tidak dihukum, melainkan dibenarkan, atau beroleh selamat dan lain sebagainya. Sedang yang paling terkenal ialah Yohanes 3:16, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakari AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Ayat ini menyatakan, bagaimana dan sampai di mana kasih Allah terhadap umat manusia. Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia sehingga dikaruniakanNya putraNya yang tunggal itu kepada manusia. PutraNya itulah Yesus yang telah dikaruniakan kepada kita, bahkan la telah mati untuk dosa kita dan sudah menggenapkan karya penebusan Allah. Maka barangsiapa percaya akan Dia, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ayat ini mengandung tiga perkara yang besar, yaitu:

Fakta yang besar — Allah mengutus Yesus turun ke dunia, menjadi Juruselamat yang menebus dosa manusia.

Syarat yang besar — percaya akan Dia (Yesus). Inilah satu-satunya syarat mutlak, yang wajib dilakukan oleh tiap orang yang ingin beroleh selamat.

Akibat yang besar — tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Alangkah baiknya akibat ini! Ini sungguh tak terduga oleh siapapun juga.

Satu fakta besar ialah, Allah mengasihi manusia di dunia ini. KasihNya begitu besar, sehingga la telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, mati di atas kayu salib bagi dosa manusia, untuk menyelamatkan orang dosa. Fakta yang alangkah besar. Di dunia ini tidak ada satu fakta lain yang lebih besar dan riil daripada ini. Menyusul itu, ada satu syarat besar yang dibentangkan di hadapan semua orang untuk dilakukan. Apakah syarat itu? Yaitu setiap orang harus percaya kepada apa yang telah Allah genapkan. Inilah satu-satunya syarat yang harus dilaksanakan oleh setiap orang. Satu fakta yang besar dikerjakan oleh Allah; satu syarat yang besar dikerjakan oleh manusia; dan apakah akibatnya? Akibatnya ialah tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Coba Anda pikir, bila Tuhan sudah bersabda demikian, mungkinkah seseorang yang percaya kepadaNya akan binasa? Allah sekali-kali tak akan tidak adil. Kalau la sudah menegaskan, barangsiapa percaya kepada Dia, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal, niscaya akan terbukti demikian.

Dulu ada seorang dokter. Ia adalah seorang Kristen yang sangat baik. Tiap kali melayani pasiennya, Ia selalu menganjurkan mereka untuk percaya kepada Tuhan. Suatu hari, ia mengambil kesempatan yang serupa untuk memberitakan Injil Tuhan kepada seorang janda. Janda itu mengaku, bahwa dirinya orang Kristen yang sudah dengan sungguh-sungguh menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Dokter itu kemudian bertanya kepadanya, "Anda telah benar-benar percaya dan menerima Tuhan Yesus, lalu, apakah Anda telah memiliki hidup yang kekal? Kalau penyakit Anda kali ini tidak dapat disembuhkan dan Anda meninggal dunia, Anda masuk surga atau masuk neraka?" Jawabnya, "Tuan, tentang ini saya tidak berani menjawab. Saya telah menjadi orang Kristen puluhan tahun. Saya hanya tahu harus giat berbuat baik. Kelak kalau Allah melihat saya boleh masuk surga, saya selamat; kalau tidak, saya tidak dapat selamat, sayapun tidak dapat berbuat apa-apa." Kata dokter itu, "Aku tanya lagi: Anda telah percaya Tuhan demikian lama, selama ini adakah ayat-ayat Alkitab yang sangat Anda hafal?" Janda itu segera menjawab, "Tentu banyak ayat-ayat Alkitab yang dapat saya hafal; terutama Injil Yohanes 3:16. Sejak kanak-kanak, guru Injil telah mengajar dan menyuruh saya menghafalnya. Saya telah menghafalnya sampai tua. Ayat itu telah saya hafalkan selama 50-60 tahunan." Selesai berkata, ia segera menghafal ayat itu:

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Dokter itu berkata, "Sangat baik, sangat tepat! Sekarang, apakah Anda telah memiliki hidup yang kekal?" Jawab janda itu, "Tuan, tadi telah saya katakan, hari ini saya berusaha sekuatnya berbuat baik, dengan harapan kelak Allah boleh membenarkan saya dan memperbolehkan saya memiliki hidup yang kekal. Semua itu baru diketahui kelak hari. Kalau seperti dokter, orang Kristen yang demikian baik, tentu berani berkata telah memiliki hidup yang kekal; tetapi saya tidak berani mengatakannya."

Dengan tenang dokter itu berkata, "Nyonya, Yohanes 3:16 yang Anda hafal tadi salah." Jawabnya, "Tidak! Saya telah menghafalkan ayat itu selama 50-60 tahun, bagaimana bisa salah?" Dokter itu menjawab, "Coba silakan menghafalkan sekali lagi." Kembali ayat itu dihafalkannya. Selesai menghafalkan, segera janda itu bertanya di mana salahnya. Dengan sangat gembira dokter itu menjawab, "Sekarang, sudahkah Anda memperoleh hidup yang kekal?" Dengan gelisah janda itu menjawab, "Telah dua, tiga kali saya katakan, bahwa hari ini aku tidak berani mengatakannya. Yang dapat saya lakukan ialah sekuatnya berbuat baik. Saya mengharap pada hari itu, Allah akan berkata kepada saya, saya boleh memiliki hidup yang kekal. Hari ini, di bumi, saya tidak berani mengatakannya."

Kembali dengan tenang dokter itu berkata, "Injil Yohanes 3:16 Anda tetap salah." Dengan kesal janda itu menjawab, "Baru saja saya menghafalkannya untuk Anda, sedikitpun tidak ada salahnya; tetapi Anda tetap mengatakan saya salah, jangan sengaja membuat saya kesal. Apakah saya yang telah menghafalnya selama 50-60 tahun itu bisa salah? Anda sendiri yang salah catat." Untuk membuktikan kata-katanya, ia segera berdiri dan mengambil sebuah Alkitab. Dibukanya Injil Yohanes 3:16, dan dibentangkannya di hadapan dokter itu sambil berkata, "Saya akan menghafalkannya sekali lagi, silakan Anda mencocokkan kata demi kata, apakah saya salah." Selesai menghafal, segera ia bertanya, "Tuan, siapa yang salah? Benar tidak yang saya hafal?"

Dokter itu menjawab, "Jangan gelisah, jangan terburu-buru. Yang ingin kutanyakan ialah, apakah Anda memiliki hidup yang kekal?" Dengan cukup kesal dan emosi janda itu menjawab, "Tadi Anda mengatakan bahwa Yohanes 3:16 yang saya hafalkan salah, mengapa sekarang bertanya lagi tentang ini? Bukankah telah 3-4 kali saya katakan, saya tidak berani berkata apa-apa tentang itu. Kelak, saya hanya mengharapkan Allah akan berkata kepada saya: Ada. Saat itu baru ada hidup yang kekal." Kembali dokter itu berkata, "Kalau begitu, Yohanes 3:16 yang Anda hafal tadi salah." Jawab janda itu, "Sudahlah, saya tidak mau menghafalkannya lagi. Begini saja, bagaimana kalau dokter saja yang menghafalkannya untuk saya? Saya ingin mendengarkannya." "Baik", jawab dokter itu. Segera ia menghafalkan Yohanes 3:16. Selesai menghafal, segera janda itu bertanya, "Apa bedanya antara yang Anda hafal dengan yang saya hafal? Coba cocokkan, bukankah sama?" Dokter itu berkata, "Tidak sama. Sekarang aku akan menghafalkan Yohanes 3:16 Anda tadi, coba dengar:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya . . . "

"Sebentar," kata dokter itu, "Kalau menurut Anda, setelah perkataan ini, masih banyak kata-kata lagi, yaitu:

Tunggu dulu, setelah lewat sekian bulan atau mungkin puluhan tahun; setelah berusaha sekuat tenaga berbuat baik; setelah mati dan dihakimi Allah; Allah berkata, "Karena kamu adalah orang yang diperkenan Allah maka kamu boleh memiliki hidup yang kekal."

Dokter itu melanjutkan, "Namun, Yohanes 3:16 yang kumiliki adalah demikian:

“Supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. "

Mendengar keterangan terakhir ini, si janda baru sadar. la mengaku dan berkata, "Dulu saya mengira bahwa Yohanes 3:16 terdiri dari dua kalimat; mengira di tengah-tengah kata-kata "supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa," boleh disisipi kata-kata lain. Tetapi sekarang saya sudah paham, bahwa Injil Yohanes 3:16 tegas merupakan sebuah kalimat: ". . . supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. "

Saudara saudari, camkanlah, barangsiapa percaya kepadaNya, ia memiliki hidup yang kekal. Allah tidak berdusta. Begitu Allah berkata, pasti terhitung. Begitu Anda percaya kepadaNya, saat itu pula Anda memiliki hidup yang kekal.

Puluhan tahun yang lalu ada seorang bernama Chapman, pernah meraih gelar doktor, kemudian menjadi pengkhotbah yang ahli memukat jiwa-jiwa untuk dipalingkan kepada Tuhan. Sewaktu ia belum jelas atas hal keselamatan, ia pernah mengunjungi penginjilan yang diselenggarakan oleh D.L. Moody, yang adalah orang biasa, tidak berpendidikan tinggi. Setelah selesai sidang, ia berkesempatan berbincang-bincang dengan Moody. Moody bertanya, apakah ia juga seorang Kristen? Chapman menjawab bahwa ia adalah seorang Kristen sejati bila keadaannya sedang baik, yaitu aktif bekerja bagi Tuhan; tetapi bila ia sedang mundur atau lalai menjalankan tugasnya sebagai orang Kristen, maka ia tidak berani mengaku bahwa dirinya seorang Kristen. Mendengar perkataan doktor itu, Moody tidak berkomentar apa-apa, hanya dimintanya doktor itu membaca Injil Yohanes 5:24 yang mengatakan,

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, iamempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. "

Selesai membaca ayat itu, tuan Moody bertanya, "Apakah tuan seorang Kristen yang sudah beroleh selamat?" Meskipun Chapman adalah seorang doktor, namun dalam soal keselamatan tak beda dengan janda yang disebut di atas tadi. Dia berkata, "Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, ketika aku bergairah berbuat baik, saat itu aku adalah orang Kristen; kalau tidak dapat berbuat baik, dingin, tawar, aku bukan orang Kristen." Moody bertanya, "Bagaimana dengan ayat yang mengatakan, barangsiapa mendengar dan percaya itu? Bukankah jelas sekali dikatakan bahwa ia akan beroleh hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup? Jika than sudah percaya Tuhan dengan sungguh-sungguh, tentu tuan adalah seorang yang beroleh selamat." Setelah merenung sejenak, tuan Chapman tetap berkata, "Aku tidak berani berkata bahwa aku adalah seorang Kristen; aku sangat tidak baik! Telah berpuluh kali bergairah, namun berpuluh kali pula jatuh dan tawar." Akhirnya Moody memegang Alkitabnya sambil berkata, "Tuan Chapman, tahukah tuan, bahwa menaruh syak sedemikian ini berarti menaruh syak kepada siapa?" Saat inilah doktor Chapman baru menyadari, bahwa dirinya menaruh syak kepada Firman Allah. Beberapa tahun kemudian, tatkala doktor Chapman berkhotbah, ia bersaksi di depan umum, bahwa pada saat itulah ia baru mengetahui dirinya sudah beroleh selamat.

Orang yang telah percaya kepada Tuhan, tetapi tidak berani mengatakan dirinya sudah beroleh selamat, itu bukan rendah hati, melainkan tidak percaya, menaruh syak-wasangka kepada firman Allah dan ragu-ragu terhadap kesetiaan dan keadilan Allah yang kekal. Setiap orang yang percaya kepada Tuhan, memiliki hidup yang kekal, tidak dihukum lagi, sudah keluar dari dalam maut, dan masuk ke dalam hidup. Pada saat seseorang percaya, saat itu juga ia dilahirkan kembali sehingga memiliki hidup baru. Inilah Injil!

Lihatlah pula, Yohanes 6:47, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal." Seandainya seluruh Alkitab hanya berisi ayat ini saja, ini sudah cukup untuk menyelesaikan soal keselamatan kita. Percaya itu sekali-kali bukan suatu harapan, sebab itu tak perlu Anda menunggu sampai kelak, juga tak perlu berbuat apa-apa. Alkitab mengatakan, barangsiapa percaya, mempunyai hidup yang kekal. Firman yang diucapkan Allah tidak pernah berubah.

Ada satu kisah sederhana. Dulu ada seorang hamba Tuhan yang cukup terkenal; ia juga adalah seorang dokter yang cekatan, pula sangat beriman. Setiap kali ia bekerja, ia selalu menganjuri orang-orang percaya kepada Tuhan. Pernah sekali, ia pergi mengunjungi sebuah rumah sakit milik orang lain, di sana ia menemukan seorang pasien wanita yang sedang terbaring di atas ranjang menunggu ajalnya. la mendekati wanita itu dan bertanya, "Apakah Anda merasa bahagia?" "Tidak, sedikitpun tidak," jawab wanita itu. "Mengapa tidak bahagia? Bolehkah aku bertanya, apakah Anda sudah percaya Yesus?" sambung dokter itu. Wanita itu menjawab, "Boleh saja, aku ini sudah benar-benar menerima Yesus sebagai Juruselamatku. Segala dosa telah kuserahkan kepadaNya." Dokter itu berkata, "Kalau begitu, sudahkah Anda beroleh hidup yang kekal? Sudahkah Anda diselamatkan?" Jawab wanita itu, "Justru soal inilah yang belum dapat kuselesaikan. Menurut keterangan dokter, suhu badanku amat tinggi, dan hariku di dunia ini tak akan lama lagi. Sampai saat ini aku belum juga tahu, bila bersua dengan Allah entah apa yang Allah lakukan padaku; itulah sebabnya aku sangat sedih dan tak bahagia. Kecuali orang-orang yang seumur hidupnya berkelakuan baik, mau berkorban, banyak berjasa, rajin bekerja, menarik jiwa, mereka inilah yang mungkin beroleh hidup kekal. Namun, bagaimanakah aku bisa diselamatkan? Usiaku tinggal sebentar saja, menarik jiwa-jiwa terasa masih kurang."

Dokter itu menjelaskan, beroleh selamat itu berdasarkan darah Tuhan, dan karya penebusan yang dirampungkan olehNya. Kita mustahil menyelamatkan diri demi kekuatan sendiri. Kemudian ia mengajaknya membaca Injil Yohanes 6:47. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal." Sabda Tuhan tak pernah ada yang palsu. Apalagi dikatakan "Sesungguhnya"; ini pasti benar. la berkata "Barangsiapa percaya, . . . beroleh apa?" Sahut wanita itu "Hidup yang kekal": "Nah, Anda sudah percaya, sudahkah mempunyai hidup yang kekal?" Wanita itu termenung beberapa waktu, kemudian menjawab, "Alkitab memang mengatakan aku telah beroleh hidup yang kekal, tapi aku sendiri tak berani mengatakannya." Dokter itu lalu bertanya, "Mana yang lebih bisa diandalkan, kata-katamu atau kata-kata Alkitab?" Akhirnya, sambil mengucurkan air mata ia menjawab dengan kepastian, "Aku yakin sudah beroleh hidup yang kekal." Sejak saat itu ia berubah menjadi orang yang penuh sukacita. Dan berselang beberapa hari, ia meninggal dunia menemui Tuhan Sang pemberi hidup kekal.

Teman-teman sekalian, hal ini kubentangkan di depan kalian. Tuhan Yesus terpaku di kayu salib, justru untuk menolong orang dosa. Barangsiapa percaya kepadaNya, dosanya telah ditanggungkan ke atas diriNya. Ia mengucurkan darah adiNya agar dosa kita terbasuh bersih; Ia menolong kita terlepas dari maut, bahkan beroleh hidup

yang kekal. Semua masalah Anda dapat diselesaikan di sini. Hari ini, aku bertanya kepada kalian, sudahkah kalian percaya Yesus? Setiap orang yang percaya niscaya memiliki hidup yang kekal.

Aku pernah berjumpa dengan seorang saudari. Saudari ini juga tak berani mengaku dengan tegas bahwa dirinya sudah beroleh selamat. Menurutnya, ia percaya Tuhan Yesus dapat menyelamatkannya, tetapi bagi dirinya sendiri, keselamatan itu adakalanya dimiliki dan adakalanya tidak. la mengira betapa baiknya bila ia meninggal dunia tepat pada waktu keadaan kerohaniannya sehat. Karena dalam keadaan itu tentu ia diperkenankan oleh Tuhan, sehingga Tuhan mau menyelamatkan dia. Bila ia sedang bersalah di hadapan Tuhan, semoga ia jangan meninggal dulu, sebab dalam keadaan itu tentu ia tak diperkenan oleh Tuhan, malahan dibinasakan selama-lamanya. Jadi sepanjang hari, entah berapa kali ia turun-naik dari surga ke neraka; beroleh selamat atau sebaliknya. Lalu aku berkata kepadanya, "Saudari, Anda benar-benar seorang yang paling hebat di dunia ini, sebab dalam sehari saja Anda sudah bisa turunnaik berkali-kali dari surga ke neraka, atau sebaliknya. Siapakah yang dapat berbuat sehebat ini?" Dengan keheran-heranan ia bertanya kepadaku, "Mungkinkah dengan percaya saja aku sudah menjadi orang yang beroleh selamat?" Jawabku, "Bukankah Alkitab jelas menegaskan bahwa barangsiapa percaya, ia memiliki hidup yang kekal? Siapapun tak dapat mengubah perkataan itu. Jika Anda tidak percaya akan perkataan itu, berarti Anda tidak percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah!"

Jika seseorang tidak mengetahui jalan menuju keselamatan, tidak memahami bagaimana bisa beroleh selamat, ia tidak akan tahu apakah dirinya telah beroleh selamat. Orang yang ingin mendapatkan keselamatan, terlebih dulu harus mengetahui apakah syarat dan dasar beroleh selamat. Kalau tidak jelas terhadap dasar beroleh selamat, ia tidak akan tahu apakah dirinya sudah beroleh selamat atau belum.

Pada suatu malam, aku membicarakan hal ini dengan seorang pedagang besar yang mengaku Kristen. Sudah dua jam lamanya aku menjelaskan hal tersebut, ia tetap tak paham. Ia berpandangan bahwa keselamatan itu tak bisa dipastikan sekarang, itu bisa berubah menurut keadaan orang itu sendiri. Ayat-ayat yang membuktikan kebenaran akan keselamatan hampir semuanya telah kubentangkan kepadanya, namun ia tetap tak mengerti. Akhirnya aku berkata kepadanya, "Bersandar kepada siapakah Anda beroleh selamat? Kepada Anda sendiri atau kepada Tuhan?" Dengan pertanyaan ini barulah ia sadar. Kemudian ia mengatakan, sekarang ia sudah mengetahui dirinya telah beroleh selamat. Beroleh selamat tidak tergantung pada kebaikan seseorang di masa lampau, juga tidak tergantung pada apakah kelak ia dapat berbuat baik, melainkan tergantung pada siapa yang dia sandari. Jika bersandar pada diri sendiri, diri sendiri tidak dapat menyelamatkannya. Hanya Tuhan Yesus yang dapat! Jika demikian, mengapa dia masih berkata, bahwa dia bisa tidak beroleh selamat? Demikianlah akhirnya ia mengetahui dirinya sudah beroleh selamat. Betapa sukacitanya kami waktu itu. Telah berjam-jam membicarakan Alkitab tanpa hasil, tetapi dengan kalimat terakhir, dia menjadi jelas.

Banyak orang mengira dosanya yang telah lampau sudah ditanggung oleh Tuhan Yesus, tetapi jika kelak berbuat dosa lagi, mereka akan binasa. Kalau demikian, berarti Anda telah kembali ke dalam keadaan Perjanjian Lama. Perjanjian Baru terlebih dulu mengaruniakan kedudukan (hidup baru yang dilimpahkan demi iman), kemudian barulah Anda menghampiri Allah dengan hati yang tulus dan penuh iman. Kedudukan keselamatan itu sudah ada, dan tak akan hilang selama-lamanya. Jadi tak perlu Anda jaga demi kebaikan Anda. Hari ini banyak orang yang kehilangan sukacita karunia keselamatan, ini tidak lain karena mereka selalu berusaha memelihara keselamatan untuk kemudian hari demi kebajikan mereka. Kebajikan sekali-kali tak berfaedah bagi keselamatan Anda. Jika Anda bertanya kepada seorang yang benar-benar telah beroleh selamat, tentu ia akan memberitahu Anda, bahwa ia diselamatkan oleh Yesus Kristus, bukan ia sendiri yang mampu menyelamatkan dirinya, semua adalah pemberian Tuhan. Orang demikian baru bisa senantiasa bersukacita.

Misalnya setelah penyamun yang tersalib bersama Tuhan Yesus itu beroleh selamat dan tidak segera mati, tetapi masih hidup lagi selama lima puluh tahun, bahkan bisa melakukan pengabdian, kebajikan, dan usaha lain bagi Tuhan sebagaimana yang telah dilakukan oleh para rasul zaman dulu, itupun tiada berfaedah sedikitpun bagi keselamatannya dan bagi masuknya ia ke taman Firdaus. Segala kebajikan itu bukanlah dasar untuk beroleh selamat. Dasar untuk beroleh selamat hanya Tuhan Yesus, bukan perbuatan diri sendiri. Karena itu, setiap orang yang percaya Tuhan Yesus berani mengatakan dirinya sudah beroleh selamat. Dan karena mereka telah beroleh selamat, maka mereka wajib membuahkan perilaku yang bajik, kudus seperti Tuhan.

Misalnya ada orang yang sudah tertolong dari bahaya tenggelam, sehingga bisa hidup kembali. Kalau ada orang bertanya kepadanya, di mana dia sekarang, apakah telah di darat? Jika ia menjawab, meskipun sekarang ia sudah keluar dari bahaya air, namun rasanya masih di dalam air. Ia tak berani mengatakan bahwa dirinya telah selamat, malah mengira kalau mengaku demikian itu terlalu sombong. Lalu ia hanya berani mengatakan, bahwa ia hanya mengharapkan keselamatan saja. Coba pikir, apakah orang ini rendah hati? Tidak! Sekali-kali tidak! Kristus telah menyelamatkan Anda, mengapa Anda tak berani mengaku sudah beroleh selamat?

Seorang yang telah percaya Yesus sebagai Juruselamat yang menanggung dosanya, tetapi tak berani mengakui dirinya telah beroleh selamat, bukanlah orang yang rendah-hati, melainkan berarti ia tidak mau berterima kasih atas karunia Tuhan yang besar itu! Ia tidak mau mengakui karya penebusan Tuhan yang agung! Dengan sikap yang demikian ini, ia telah menganggap seolah-olah Tuhan tak mampu menyelamatkan dia dengan sempurna. Orang semacam ini mustahil bisa memuji Allah; atau menyanyikan kidung puji-syukur. Sebab ia tak tahu ke mana kelak ia akan pergi. Orang-orang yang menuju ke dalam neraka, orang-orang yang tidak mengetahui dirinya memiliki hidup yang kekal, dengan sendirinya tak dapat bersyukur dan memuji Allah. Sangat disayangkan, banyak orang Kristen yang mulutnya tidak dapat mengeluarkan suara puji-pujian. Hanya orang yang telah mengetahui dirinya beroleh hidup yang kekal, barulah dapat memuji syukur kepada Tuhan! Dalam neraka, siapakah yang dapat memuji-muji Allah? Dalam neraka hanya penuh ratapan dan kutukan. Kalau sekarang ini Anda tak dapat memuji Allah, kapankah Anda baru memuji Dia?

Ada orang berpendapat, bahwa mengatakan begitu orang percaya sudah beroleh hidup kekal, tak akan binasa melainkan beroleh selamat, sangatlah berbahaya. Sebab kalau orang mengetahui bagaimanapun keadaannya, tetap diselamatkan, tentunya orang itu nanti akan sembrono dan tidak mempunyai rasa takut atas segala perkara. Orang-orang yang berpandangan macam ini, sesungguhnya tak mengetahui jalan keselamatan serta karunia Allah. Ketahuilah, hal keselamatan dalam Alkitab itu menyangkut dua aspek; yakni aspek objektif dan subjektif. Aspek objektifnya ialah, Tuhan telah mati tersalib di gunung Golgota dan firmanNya menegaskan, bahwa barangsiapa percaya kepadaNya, pasti segala dosanya mendapat ampunan, dan ia tidak binasa. Pada aspek subjektifnya, kehidupan Anda yang lama yang cenderung kepada kedosaan dan kecemaran telah mati tersalib; kemudian Allah mengaruniakan hayatNya, hidup baru, kepada Anda.

Selain mengampuni dosa kita secara objektif, Tuhan bahkan telah melahirulangkan kita, sehingga dengan subjektif la mengaruniakan hayat dan Roh yang baru kepada kita. Batin setiap orang Kristen sudah dihuni oleh Roh Kudus, sehingga ia bisa mengetahui apa yang baik dan yang wajib dilakukan. Maka penempuhan hidup mereka baik, dan mereka dapat bersukacita sepanjang hari. Tak ada seorang pun yang dosanya telah diampuni dan beroleh hayat Allah, akan merasakan bahwa hidup kudus itu adalah perkara yang menyusahkan. Dulu ia tak berani melakukan dosa secara terang-terangan, mungkin karena takut namanya tercemar, namun sekarang tak hanya tidak berani berbuat dosa, ia bahkan sudah yakin bahwa dosa dan tabiat dosa itu baginya adalah sesuatu yang membencikan; ia memandang perbuatan-perbuatan dosa sebagai perkara yang menjijikkan. Bahkan Roh Kudus tinggal di dalam manusia supaya manusia takut berbuat dosa lagi.

Jika ada orang yang sudah percaya kepada Tuhan, tapi masih tetap berbuat dosa, hatinya tak merasa benci sedikitpun terhadap dosa, itu membuktikan bahwa ia belum dilahirkan kembali. Orang yang belum dilahirkan kembali tidak mempunyai hidup baru — belum beroleh selamat. Bila kita mendapatkan hidup baru, tentu kita tak mungkin berbuat dosa terus-menerus, sebab hayat Allah itu sudah membuat kita tak mungkin berdosa. Sebab itulah setiap orang yang sudah percaya kepada Tuhan bisa tidak berdosa. Ingatlah baik-baik! Selain Allah mengaruniakan keselamatan yang objektif kepada kita, Iapun mengaruniakan pula keselamatan yang subjektif — mengaruniakan hayatNya yang tidak akan berbuat dosa.

Kita tak pernah menemui seorang tamu menghiasi tempat penginapan sebaik-baiknya. Sebab tempat penginapan itu tak akan ditempati untuk selamanya. Dulu aku mempunyai seorang teman sekolah. Orang ini biasanya berpakaian seadanya saja. Rambut dan wajahnya tidak dicuci bersih; seluruh tubuhnya tidak bersih, jika bersepatu seenaknya, sehingga sering menjadi ejekan teman-teman sekolah lainnya. Sedikit sekali teman-teman yang suka bergaul dengan dia. Tetapi selang dua tahun kemudian, aku bertemu dengan dia di tengah jalan. la terlihat sangat berbeda dengan dulu. Pakaiannya rapi, tampangnya bersih terurus, rambutnya disisimya. Pakaiannya potongan ala Barat; hampir-hampir aku tidak mengenalinya lagi. Dalam percakapannya, ia mengetengahkan tentang adat-istiadat orang-orang Barat. Dari pamannya aku mengetahui bahwa ia tak lama lagi hendak melanjutkan sekolahnya ke Eropa. Meskipun ia akan tinggal di Eropa hanya selama tiga tahun saja, tetapi ia sudah belajar lebih dulu menyesuaikan dirinya kepada dunia Barat, agar nanti tidak canggung. Bagaimanakah kita, umat Kristen yang akan menuju ke surga yang begitu indah, terang-benderang dan penuh dengan kemuliaan? Tidakkah seharusnya kita bersiap lebih dulu serta belajar menyesuaikan penghidupan dan budi pekerti kita kepada keadaan di surga? Orang yang tak sudi berbuat demikian, berarti tak sehat pikirannya.

Tidak ada orang Kristen yang sejati yang berpikiran, bahwa di surga tidak ada kesempatan untuk berbuat dosa, maka mumpung di bumi, ia mengumbar hawa nafsunya dan berbuat dosa seenaknya. Tidak! Tidak ada seorang tamu pun yang mau membuang banyak uang untuk menghiasi tempat penginapan yang sementara dan yang tak lama lagi akan ditinggal pergi.

Saudara-saudara, ketahuilah, kita akan pulang ke surga yang amat permai dan mulia. Jika kita telah benar-benar beroleh selamat, seharusnyalah kita membuang segala kesenangan dosa dan nafsu daging! Jangan biarkan barang-barang itu menghalang-halangi kita. Semoga kita tahu, bahwa kita sudah beroleh selamat dan telah beroleh hayat Allah. Sebab itu, kita wajib menampilkan hayat Allah itu! Nyatakanlah bahwa kita telah beroleh selamat dengan sungguh-sungguh, serta bersaksilah kepada semua orang, agar mereka juga beroleh selamat!