← Daftar isi Yakobus · bab 6/14

KEBAJIKAN PRAKTEK KRISTIANI YANG SEMPURNA (6)

Pembacaan Alkitab: Yak. 2:1-16

Dalam berita ini kita akan membahas pasal 2 dari Surat Yakobus.

TIDAK MEMANDANG MUKA

Ayat 1 mengatakan, “Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang mu-ka.” Ayat ini menunjukkan bahwa Surat Kiriman ini, dan khususnya pasal ini, ditulis kepada kaum beriman Perjan-jian Baru dalam Tuhan Yesus Kristus yang mulia. Di sini Yakobus memberi tahu kita agar kita tidak mengamalkan iman dengan memandang muka. Tentunya hal ini adalah ke-bajikan praktek kristiani yang sempurna. Jika kita beriman kepada Tuhan yang mulia, janganlah kita memandang muka.

ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN

DALAM SINAGOGA

Dalam ayat 2 Yakobus melanjutkan, “Sebab, jika ada seseorang masuk ke dalam kumpulanmu (sinagoga) dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk.” Istilah “kumpulan” di sini, dalam bahasa aslinya adalah “si-nagoga”, bentuk kata yang di-Inggriskan dari bahasa Yunani sunagoge, terdiri dari sun, bersama-sama, dan ago, mem-bawa; jadi, suatu perhimpunan, perkumpulan, pertemuan; arti khusus, tempat berkumpul. Kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan jemaat Yahudi (Kis. 13:43; 9:2; Luk. 12:11) dan tempat pertemuan mereka (Luk. 7:5), tempat mereka mencari pengetahuan akan Allah mela-lui mempelajari Kitab Suci (Luk. 4:16-17; Kis. 13:14-15). Di Yerusalem terdapat sejumlah sinagoga untuk berbagai kelom-pok Yahudi (Kis. 6:9). Penggunaan kata ini oleh Yakobus di sini bisa menunjukkan bahwa kaum beriman Yahudi meng-anggap jemaat dan tempat berkumpul mereka sebagai salah satu sinagoga di antara orang-orang Yahudi. Jika demikian, sebagaimana pada seluruh Surat Kiriman ini, hal ini me-ngandung suatu karakter Yahudi dan dapat menunjukkan bahwa orang-orang Kristen Yahudi masih menganggap diri mereka sebagai bagian dari umat Yahudi, umat pilihan Allah menurut Perjanjian Lama, dan mereka kekurangan visi yang jelas terhadap perbedaan antara umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama dengan kaum beriman di dalam Kristus dalam Perjanjian Baru.

Sekali lagi kita nampak, walaupun Yakobus adalah seorang yang sangat saleh, namun ia tidak mempunyai visi yang jelas terhadap ekonomi Perjanjian Baru Allah. Saya prihatin, di tahun-tahun mendatang akan ada beberapa orang saleh mengira sudahlah cukup baik menjadi seorang seperti Yakobus, saleh dan sempurna dalam karakter dan tingkah laku. Seperti yang telah kita tunjukkan, kita perlu hidup kristiani yang seimbang; yakni, kita perlu memelihara eko-nomi Perjanjian Baru Allah dan dalam hidup sehari-hari kita memiliki praktek kristiani yang sempurna. Kita telah nampak dari Surat Kiriman ini bahwa di satu pihak Yako-bus menunjukkan bahwa kita perlu praktek kristiani yang sempurna, dan di pihak lain, surat ini disajikan sebagai suatu peringatan bahwa seorang yang saleh pun mungkin tidak mempunyai visi yang jelas terhadap ekonomi Allah. Itulah sebabnya dalam berita sebelumnya kita membahas perkataan Yakobus dalam Kisah Para Rasul 21. Percampur-an zaman yang lama dengan zaman yang baru di Yerusalem menyebabkan Allah mengizinkan tentara Romawi meng-hancurkan kota itu. Tidak ada yang menyakitkan Allah da-ripada menentang ekonomi-Nya. Sudah tentu, jika kita mempunyai karakter yang jelek, hal itu akan menyakitkan hati-Nya. Tetapi karakter yang jelek tidaklah seserius per-kara menentang ekonomi Allah.

Perihal orang kaya dan orang miskin yang datang ke dalam sinagoga, Yakobus bertanya kepada para penerima suratnya, “dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya, ‘Silakan Tuan duduk di tempat yang baik ini!’, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata, ‘Berdirilah di sana!’ atau, ‘Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!’, bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak seba-gai hakim dengan pikiran yang jahat?” (ayat 3-4). Perbedaan yang ada antara yang kaya dengan yang miskin di tengah-tengah saudara-saudara Kristen dan yang mengakibatkan terjadinya diskriminasi merupakan sesuatu yang memalu-kan bagi Tuhan dan bagi keselamatan hayat ilahi-Nya.

Seorang saudara yang miskin yang membaca ayat-ayat itu mungkin akan memuji Yakobus. Akan tetapi, seorang yang mempunyai visi yang jelas akan Perjanjian Lama de-ngan Perjanjian Baru akan berkata, “Yakobus, Anda memang jelas bahwa tiada perbedaan antara yang miskin dengan yang kaya, namun Anda tidak jelas bahwa ada perbedaan antara kedua zaman itu.”

AHLI WARIS KERAJAAN

Dalam ayat 5 Yakobus melanjutkan perkatannya, “De-ngarkanlah, Saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang mengasihi Dia?” Kerajaan Allah di sini juga merupa-kan Kerajaan Kristus, yang akan diwarisi oleh kaum ber-iman pemenang pada zaman yang akan datang (Ef. 5:5; Gal. 5:21; 1 Kor. 6:10; Why. 20:4, 6). Realitas kerajaan ini seharusnya dipraktekkan bukan di dalam sinagoga Yahudi, melainkan di dalam gereja Kristen, yaitu Tubuh Kristus (Rm. 14:17).

Dalam ayat 5 Yakobus untuk kali kedua membicarakan tentang mengasihi Allah (lihat 1:12). Kita percaya kepada Tuhan agar beroleh selamat (Kis. 16:31); kita mengasihi Allah (1 Yoh. 2:5, 15) agar kita menang, supaya kita bisa mendapatkan kerajaan yang dijanjikan sebagai pahala.

Kita tidak dapat menerima kerajaan hanya dengan percaya. Menurut Injil Matius, kerajaan akan merupakan sua-tu pahala. Menerima pahala ini memerlukan kita mengasihi Allah. Agar dapat menerima keselamatan, cukup jika kita hanya percaya kepada Tuhan. Tetapi jika kita ingin menerima pahala kerajaan, kita perlu mengasihi Allah.

Dalam 2:2 Yakobus membicarakan tentang sinagoga, dan dalam 2:5 membicarakan tentang kerajaan. Hal ini me-nyatakan bahwa Yakobus menjajarkan keduanya. Betapa seriusnya kesalahannya! Hal ini merupakan suatu petunjuk lebih lanjut bahwa Yakobus memang kekurangan dalam hal ekonomi Allah. Tidaklah mungkin mempraktekkan rea-litas kerajaan dalam sinagoga Yahudi. Hal ini dapat di-praktekkan hanya dalam hidup gereja.

DITINDAS OLEH YANG KAYA

Dalam ayat 6-7 Yakobus berkata, “Tetapi kamu telah menghina orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas dan menyeret kamu ke pengadilan? Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah?” Kata “pengadilan” da-lam bahasa Yunani juga bisa diterjemahkan dengan “mah-kamah”. Perkataan Yakobus dalam ayat 6 juga merupakan suatu campur aduk. Saya tidak yakin bahwa saudara-sau-dara yang kaya di dalam Kristus akan menyeret saudara-saudara yang miskin ke pengadilan. Sebaliknya, saya percaya bahwa Yakobus di sini menunjuk kepada orang-orang kaya Yahudi yang belum percaya, yang membawa beberapa sau-dara ke pengadilan. Menurut ayat 7, orang-orang kaya itu menghujat Nama yang mulia yang oleh-Nya kaum beriman menjadi milik Allah. Secara harfiah, “yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah” adalah “yang diserukan atasmu”. Di sini Yakobus menunjukkan bahwa orang-orang kaya yang tidak percayalah yang menghujat nama Tuhan.

HUKUM KERAJAAN

Ayat 8 mengatakan, “Akan tetapi, jikalau kamu menja-lankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Ka-sihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’, kamu berbuat baik.” Hukum utama adalah perintah “kasihilah se-samamu manusia seperti dirimu sendiri”. Ini adalah yang paling utama dari semua hukum, dan ini mencakup dan menggenapi semua hukum (Gal. 5:14; Rm. 13:8-10). Menga-sihi Allah dan mengasihi sesama manusia merupakan per-mintaan terbesar dari hukum. Semua hukum bergantung kepada kedua hal ini (Mat. 22:36-40).

Dalam ayat 9 Yakobus berkata, “Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata bahwa kamu melakukan pelanggaran.” Hal itu menunjukkan bahwa memandang muka berlawanan de-ngan hukum, dan segala yang berlawanan dengan hukum adalah dosa. Memandang muka berlawanan dengan hukum kerajaan, yaitu perintah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Berkata kepada orang miskin, “Berdiri-lah di sana!” atau, “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!” bukanlah perbuatan mengasihi. Kita tidak suka diperlakukan secara demikian. Penekanan dalam ayat 9 ada-lah mereka yang memandang muka berarti berbuat dosa, dan oleh hukum itu ditetapkan sebagai pelaku pelanggaran.

Dalam ayat 10 Yakobus melanjutkan perkataannya, “Sebab siapa saja yang menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian saja, ia bersalah terhadap selu-ruhnya.” Perkataan dalam ayat 8-11 menunjukkan bahwa kaum beriman Yahudi pada zaman Yakobus masih mem-praktekkan pemeliharaan hukum Perjanjian Lama. Hal ini sesuai dengan perkataan dalam Kisah Para Rasul 21:20 yang diucapkan kepada Paulus oleh Yakobus dan semua pe-natua di Yerusalem. Yakobus, semua penatua di Yerusalem, dan beribu-ribu orang beriman Yahudi masih berada dalam percampuran kepercayaan kristiani dengan hukum Musa. Mereka bahkan menganjuri Paulus untuk mempraktekkan percampuran setengah Yahudi yang sedemikian (Kis. 21:17-26). Mereka tidak menyadari bahwa zaman hukum Taurat telah berakhir sama sekali dan bahwa zaman anugerah se-harusnya mutlak dihormati; setiap pengabaian akan perbe-daan antara kedua zaman ini berarti bertentangan dengan pemerintahan Allah atas zaman, dan merupakan suatu pe-rusakan yang serius terhadap rencana ekonomi Allah untuk pembangunan gereja sebagai ekspresi Kristus. Dengan de-mikian, Surat Kiriman ini ditulis di bawah awan percam-puran setengah Yahudi, di bawah latar belakang yang tidak jelas. Namun banyak orang yang mempraktekkan ibadah menurut konsepsi alamiah mereka, justru mengabaikan la-tar belakang yang terlihat di dalam kitab ini.

DIHAKIMI OLEH HUKUM

YANG MEMERDEKAKAN ORANG

Dalam ayat 11 Yakobus mengatakan, “Sebab Ia yang mengatakan, ‘Jangan berzina’, Ia mengatakan juga, ‘Jangan membunuh’. Jadi, jika kamu tidak berzina tetapi membu-nuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.” Menurut konteksnya, ayat ini menunjukkan jika kita berkata kepa-da seorang saudara yang miskin supaya duduk di lantai di dekat tumpuan kaki kita, berarti kita membunuhnya. Mem-perlakukan saudara yang miskin seperti itu berarti melaku-kan pembunuhan, karena memandang rendah seorang sau-dara yang miskin berarti membunuhnya.

Ayat 12 meneruskan, “Jadi, berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang” (Tl.). Kata “jadi” di sini mengacu ke-pada apa yang akan datang, bukan mengacu kepada apa yang telah berlalu. Hukum yang memerdekakan di sini dan dalam 1:25 mengacu kepada hukum yang sama, yaitu hu-kum hayat. Yakobus 2:8-11, dan 4:11, menyinggung tentang memelihara hukum harfiah. Yakobus 2:12 menyatakan bahwa kaum beriman akan dihakimi oleh hukum hayat. Kaum beriman seharusnya membicarakan dan mengerja-kan apa saja berdasarkan hukum hayat yang mengungguli hukum harfiah. Mereka seharusnya hidup berdasarkan hu-kum hayat. Kehidupan semacam ini melebihi pemeliharaan hukum harfiah. Orang-orang yang tidak percaya akan di-hakimi pada takhta putih yang besar (Why. 20:11-15) oleh hukum harfiah, yang adalah hukum Musa; kaum beriman akan dihakimi pada takhta pengadilan Kristus (2 Kor. 5:10) oleh hukum hayat, hukum yang memerdekakan orang, yang adalah hukum Kristus.

Semasa muda, saya tidak bisa memahami 2:11-12. Saya tahu bahwa dalam Perjanjian Baru Allah tidak meng-hendaki kita memelihara hukum Taurat Perjanjian Lama. Tetapi di sini Yakobus membicarakan perihal menjadi penu-rut hukum Taurat Perjanjian Lama. Perkataannya berpa-danan dengan catatan dalam Kisah Para Rasul 21. Tetapi kemudian dalam ayat 12 Yakobus memberi tahu kita bahwa kita akan dihakimi oleh hukum yang lain, yaitu oleh hu-kum yang sempurna. Sekarang saya mengerti bahwa dalam pikiran Yakobus, hukum Perjanjian Lama campur aduk de-ngan hukum Perjanjian Baru. Yakobus tidak membedakan hukum Perjanjian Lama dengan hukum Perjanjian Baru.

Mula-mula Yakobus membahas tentang menuruti hukum Taurat, dan kemudian mengatakan tentang dihakimi oleh Kristus menurut hukum yang memerdekakan, menu-rut hukum Perjanjian Baru. Hal ini menunjukkan Yakobus mencampurbaurkan kedua hukum tersebut.

Menurut terang wahyu Alkitab, akan ada tiga macam penghakiman yang besar. Yang pertama adalah penghakim-an pada takhta penghakiman Kristus (2 Kor. 5:10). Pengha-kiman ini dilaksanakan di angkasa, dan dilaksanakan atas semua orang beriman yang telah diangkat dan dibangkitkan. Penghakiman saat itu tidaklah berkaitan dengan keselamatan atau kebinasaan. Karena penghakiman itu menyangkut kaum beriman, maka tidaklah menyangkut soal keselamat-an; persoalan keselamatan telah dibereskan untuk selama-nya. Penghakiman itu akan menentukan apakah kaum beriman akan menerima pahala atau menderita kerugian. Maksud Allah mula-mula adalah memberikan keselamatan

kepada kita. Kemudian jika kita hidup oleh keselamatan Allah tersebut, kita akan menerima pahala. Kita menerima keselamatan pada zaman ini, zaman gereja, dan kita mene-rima pahala pada zaman yang akan datang, zaman Kera-jaan Seribu Tahun. Penghakiman terhadap kaum beriman ini merupakan penghakiman besar pertama yang akan datang. Penghakiman besar yang kedua tercatat dalam Matius 25. Penghakiman ini akan berlangsung setelah Tuhan da-tang kembali bersama kaum saleh pemenang dan meng-hancurkan Antikristus bersama tentaranya di Harmagedon. Kemudian Tuhan Yesus akan mendirikan takhta-Nya yang mulia di Yerusalem. Semua orang kafir yang hidup akan dikumpulkan di hadapan Tuhan untuk dihakimi. Sewaktu Tuhan menghakimi mereka, Ia akan membagi mereka da-lam kelompok domba dan kambing. Kambing-kambing akan digiring ke lautan api, sedang domba-domba dibawa ke da-lam Kerajaan Seribu Tahun menjadi bangsa-bangsa. 2Timotius 4:1 mengatakan bahwa Allah telah mengangkat Tuhan Yesus untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Menurut Matius 25, pada awal Kerajaan Seribu Tahun Ia akan menghakimi orang-orang yang hidup di takhta kemu-liaan-Nya.

Pada akhir Kerajaan Seribu Tahun akan berlangsung penghakiman besar ketiga. Penghakiman itu berlaku bagi semua orang yang tidak percaya yang mati, suatu peng-hakiman yang akan berlangsung di takhta putih besar. Melalui ketiga penghakiman tersebut Tuhan akan member-sihkan situasi di antara umat manusia.

Sewaktu Tuhan Yesus menghakimi kaum beriman di takhta penghakiman-Nya, Ia tidak akan menghakimi mereka berdasarkan hukum Musa atau berdasarkan Injil-Nya, melainkan Ia akan mengadili mereka menurut hukum yang memerdekakan yakni hukum yang sempurna. Dalam 2:12 Yakobus menyebut penghakiman terhadap kaum beriman berdasarkan hukum yang memerdekakan di takhta penghakiman Kristus.

Di satu pihak, Yakobus memperingatkan kaum ber-iman bahwa mereka akan dihakimi oleh Kristus menurut Perjanjian Baru. Di pihak lain, ia berpesan kepada para pe-nerima Surat Kiriman ini untuk tetap memelihara hukum Perjanjian Lama. Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa Yakobus kekurangan pandangan yang jelas menurut eko-nomi Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak mempu-nyai visi yang jelas perihal perbedaan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Ia mencampuradukkan ke-dua zaman tersebut, yaitu, ia mencampuradukkan hukum Perjanjian Lama dengan hukum Perjanjian Baru.

PENGHAKIMAN

YANG TIDAK BERBELAS KASIHAN

Dalam 2:13 Yakobus mengatakan, “Sebab penghakiman yang tidak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.” Memandang rendah seorang saudara yang miskin berarti tidak mempunyai belas kasihan. Setiap orang yang memandang hina seorang saudara yang miskin tidak akan menerima belas kasihan sewaktu ia berada di depan penghakiman Kristus.

Di sini Yakobus memberi tahu kita jangan memandang rendah saudara kita. Jika kita memandang rendah seorang saudara, berarti kita tidak membelaskasihaninya. Kemudi-an, sewaktu kita berada di depan penghakiman Tuhan, Ia juga tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada kita, karena kita tidak menunjukkan belas kasihan kepada sau-dara kita. Karena itu, kita perlu menunjukkan belas kasih-an, sebab seperti yang dikatakan oleh Yakobus, belas kasih-an akan menang dan unggul atas penghakiman. Jika hari ini kita berbelas kasihan terhadap saudara kita, kita akan menerima belas kasihan dari Tuhan di depan takhta peng-hakiman-Nya.

Saya menghargai perkataan Yakobus dalam ayat 13. Kata-katanya ini dapat disamakan dengan emas. Akan te-tapi, dalam Surat Kirimannya ia mencampuradukkan emas dengan tanah liat. Karena itu, para pembaca Surat Kirim-annya perlu membedakan antara emas dengan tanah liat.

DIBENARKAN OLEH PERBUATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KAUM BERIMAN

Sekarang, mari kita membahas 2:14-16, satu bagian yang membicarakan perihal dibenarkan oleh perbuatan-per-buatan yang berhubungan dengan kaum beriman. Banyak orang membicarakan bagian ini tanpa menyadari bahwa hal ini menyangkut hubungan kita dengan kaum beriman lainnya. Jika kita berkata bahwa kita mempunyai iman, kita seharusnya mengasihi saudara dan saudari. Ini berarti kita dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan kasih terhadap kaum beriman.

Ayat 14 mengatakan, “Apa gunanya, Saudara-saudaraku, jika seseorang mengatakan bahwa ia mempu-nyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Di sini Yakobus bukannya mengatakan perihal diselamatkan dari kebinasaan, melain-kan membicarakan tentang diselamatkan dari penghakim-an di depan takhta penghakiman Kristus. Konteksnya me-nunjukkan hal ini.

Akan tetapi, sewaktu kebanyakan orang Kristen mem-baca Alkitab, mereka mengira “diselamatkan” berarti pergi ke surga. Mereka tidak menyadari bahwa penghakiman di depan takhta penghakiman Kristus bukanlah soal surga atau neraka. Seperti yang telah kita ketahui, penghakiman itu menyangkut soal mendapat pahala atau menderita peng-hukuman sementara. Jika seseorang mengatakan bahwa ia beriman tetapi tidak mempunyai perbuatan-perbuatan ka-sih, berarti ia tidak mengasihi saudara saudarinya. Karena itu, ketika orang yang demikian berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus, ia akan dihakimi tanpa belas kasih-an. Kita memerlukan perbuatan-perbuatan belas kasihan dan kasih agar diselamatkan dari penghakiman yang tidak berbelas kasihan. Jadi, beroleh selamat dalam ayat 14 ada-lah beroleh selamat dari penghakiman tanpa belas kasihan di depan takhta penghakiman Kristus. Tetapi jika kita tidak menunjukkan belas kasihan terhadap sesama kaum beriman, kita tidak akan menerima belas kasihan dari Tuhan di depan takhta penghakiman-Nya.

Ayat 15-16 membuktikan bahwa demikian memahami “diselamatkan” dalam ayat 14 adalah tepat: “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan keku-rangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata, ‘Selamat jalan, kenakanlah pakaian hangat dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan ke-padanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?” Dalam ayat 14 Yakobus prihatin terhadap kita; dalam ayat 15 dan 16 ia prihatin terhadap mereka yang tidak kita perhatikan dengan semestinya. Kata “tidak mempunyai” (ayat 15) dalam bahasa aslinya menunjukkan bahwa saudara atau saudari tersebut telah berada di dalam kondisi ini un-tuk sejangka waktu. Jika kita tidak memperhatikan keper-luan kaum beriman, berarti kita tidak mengurus mereka maupun diri kita sendiri.

Pada suatu hari, kita semua akan dihakimi oleh Kristus. Jika kita memperhatikan keperluan kaum saleh, memberi-kan belas kasihan kepada mereka, berarti kita juga mem-perhatikan diri sendiri sehubungan dengan penghakiman Tuhan atas diri kita. Karena perbuatan belas kasihan dan kasih kita terhadap kaum beriman, kita akan diselamatkan dari penghakiman tanpa belas kasihan di depan takhta penghakiman Tuhan.

Sangatlah memalukan jika keperluan orang-orang kudus yang miskin diabaikan di dalam hidup gereja. Walaupn demikian, perkataan Yakobus di sini, yang diberikan untuk memperkuat pandangannya akan praktek kristiani yang sempurna, membawa cita rasa Perjanjian Lama mengenai orang-orang miskin (Ul. 15:7-8).

Dalam ayat 17-19 Yakobus melanjutkan perkataannya, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya mati. Tetapi mungkin ada orang berkata, ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’; aku akan menjawab dia, ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.’ Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan gemetar.” Iman adalah milik hayat, hidup, dan beroperasi melalui kasih (Gal. 5:6); jika tidak, iman itu adalah iman yang mati, tidak sejati (Yak. 2:20, 26).

Dalam ayat 20 Yakobus mengatakan, “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” Kata “kosong” juga berarti “tanpa hasil”. Beberapa naskah kuno memakai istilah “mati”.

Dalam ayat 20 Yakobus menggunakan ungkapan “ma-nusia yang bebal”. Menurut Yakobus, seseorang itu bebal jika dia hanya beriman tetapi tidak memiliki kasih. Setiap orang yang beriman di dalam Tuhan Yesus tetapi tidak me-ngasihi saudara-saudaranya adalah orang yang bebal. Da-lam hal ini, orang yang bebal adalah orang yang beriman tanpa kasih. Seperti yang dikatakan Yakobus, iman tanpa perbuatan adalah tidak berguna.

Dalam ayat 21 Yakobus berkata, “Bukankah Abraham, bapak kita, dibenarkan berdasarkan perbuatan-perbuatan-nya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” Yakobus segera melanjutkan dalam ayat 22, “Kamu lihat bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuat-annya dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sem-purna.” Dalam Kejadian 15 Abraham beriman (percaya) ke-pada Allah dan dalam Kejadian 22 ia mempersembahkan Ishak putranya. Ini menunjukkan bahwa ada sejangka waktu yang di dalamnya iman Abraham menjadi sempurna. Jadi iman yang dimilikinya itu perlu dibuktikan. Mula-mula Abraham percaya kepada Allah, dan kemudian imannya itu dibuktikan dengan mempersembahkan Ishak kepada Allah. Demikian juga, iman kita di dalam Tuhan Yesus juga perlu dibuktikan. Sebagai contoh, saya berharap seorang muda yang beriman di dalam Tuhan akan membuktikan imannya kepada kedua orang tuanya melalui perubahan sikap dan tingkah lakunya. Ini berarti, perbuatan kasih yang di luar, mempersaksikan, membuktikan, iman yang ada di dalam kita.

Dalam ayat 23-24 Yakobus berkata, “Dengan demikian, genaplah nas yang mengatakan, ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka hal itu diperhitungkan kepadanya seba-gai kebenaran.’ Karena itu, Abraham disebut ‘Sahabat Allah’.” Dalam ayat 23 Yakobus sekali lagi mencampuradukkan berbagai hal. Bagian pertama dari ayat ini mengacu kepada Kejadian 15:6, sewaktu Abraham percaya kepada Allah dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran; bagi-an kedua dari ayat ini mengacu kepada waktu berikutnya ketika Abraham disebut sebagai sahabat Allah (2 Taw. 20:7; Yes. 41:8).

Dalam ayat 24 Yakobus melanjutkan, “Jadi kamu lihat bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” Dibenarkan karena iman adalah untuk menerima hayat Allah (Rm. 5:18); dibenarkan karena perbuatan-perbuatan adalah melalui memperhidup-kan hayat Allah. Karena kehidupan merupakan hasil dari hayat, maka dibenarkan karena perbuatan-perbuatan merupa-kan hasil dari dibenarkan karena iman. Perbuatan Abraham mempersembahkan Ishak serta perbuatan Rahab menerima mata-mata Israel dan melepaskan mereka (Yos. 2:1-21; 6:23) adalah pekerjaan-pekerjaan yang dihasilkan dari iman mereka yang hidup. Pohon yang hidup pasti menghasilkan buah. Dibenarkan karena perbuatan-perbuatan tidaklah bertentangan dengan dibenarkan karena iman. Yang kedua adalah penyebabnya, menghasilkan yang pertama; yang pertama adalah akibatnya, hasil dan bukti dari yang kedua.

Dalam ayat 25-26 Yakobus menyimpulkan, “Bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan berdasarkan perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang suruhan itu di dalam rumahnya, lalu menolong me-reka lolos melalui jalan yang lain? Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Roh memberi hayat kepada tubuh (Kej. 2:7); perbuatan menunjukkan dan mengekspresikan hayat yang ada di dalam iman.

Pasal ini dimulai dengan tidak memandang orang (ayat 1-13), dan berakhir pada perhatian yang riil bagi keperlu-an kaum beriman yang miskin; inilah perbuatan-perbuatan iman yang membuat pelakunya dibenarkan (ayat 14-26). Menurut pandangan Yakobus, kebajikan-kebajikan ini dapat dianggap sebagai ciri praktek kristiani yang sempurna.