Daftar isi Yakobus · Berita Keenam · bab 6/14

Berita Keenam

KEBAJIKAN PRAKTIK KRISTIANI YANG SEMPURNA (6)

Pembacaan Alkitab: Yak. 2:1-16

Dalam berita ini kita akan membahas pasal 2 dari Surat Yakobus.

TIDAK MEMANDANG MUKA

Ayat 1 mengatakan, “Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” Ayat ini menunjukkan bahwa Surat Kiriman ini, dan khususnya pasal ini, ditulis kepada kaum beriman Perjanjian Baru dalam Tuhan Yesus Kristus yang mulia. Di sini Yakobus memberi tahu kita agar kita tidak mengamalkan iman dengan memandang muka. Tentunya hal ini adalah kebajikan praktik kristiani yang sempurna. Jika kita beriman kepada Tuhan yang mulia, janganlah kita memandang muka.

ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN

DALAM SINAGOGA

Dalam ayat 2 Yakobus melanjutkan, “Sebab, jika ada seseorang masuk ke dalam kumpulanmu (sinagoga) dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk.” Istilah “kumpulan” di sini, dalam bahasa aslinya adalah “sinagoga”, bentuk kata yang di-Inggriskan dari bahasa Yunani sunagoge, terdiri dari sun, bersama-sama, dan ago, membawa; jadi, suatu perhimpunan, perkumpulan, pertemuan; arti khusus, tempat berkumpul. Kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan jemaat Yahudi (Kis. 13:43; 9:2; Luk. 12:11) dan tempat pertemuan mereka (Luk. 7:5), tempat mereka mencari pengetahuan akan Allah melalui mempelajari Kitab Suci (Luk. 4:16-17; Kis. 13:14-15). Di Yerusalem terdapat sejumlah sinagoga untuk berbagai kelompok Yahudi (Kis. 6:9). Penggunaan kata ini oleh Yakobus di sini bisa menunjukkan bahwa kaum beriman Yahudi menganggap jemaat dan tempat berkumpul mereka sebagai salah satu sinagoga di antara orang-orang Yahudi. Jika demikian, sebagaimana pada seluruh Surat Kiriman ini, hal ini mengandung suatu karakter Yahudi dan dapat menunjukkan bahwa orang-orang Kristen Yahudi masih menganggap diri mereka sebagai bagian dari umat Yahudi, umat pilihan Allah menurut Perjanjian Lama, dan mereka kekurangan visi yang jelas terhadap perbedaan antara umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama dengan kaum beriman di dalam Kristus dalam Perjanjian Baru.

Sekali lagi kita tampak, walaupun Yakobus adalah seorang yang sangat saleh, namun ia tidak mempunyai visi yang jelas terhadap ekonomi Perjanjian Baru Allah. Saya prihatin, di tahun-tahun mendatang akan ada beberapa orang saleh mengira sudahlah cukup baik menjadi seorang seperti Yakobus, saleh dan sempurna dalam karakter dan tingkah laku. Seperti yang telah kita tunjukkan, kita perlu hidup kristiani yang seimbang; yakni, kita perlu memelihara ekonomi Perjanjian Baru Allah dan dalam hidup sehari-hari kita memiliki praktik kristiani yang sempurna. Kita telah tampak dari Surat Kiriman ini bahwa di satu pihak Yakobus menunjukkan bahwa kita perlu praktik kristiani yang sempurna, dan di pihak lain, surat ini disajikan sebagai suatu peringatan bahwa seorang yang saleh pun mungkin tidak mempunyai visi yang jelas terhadap ekonomi Allah. Itulah sebabnya dalam berita sebelumnya kita membahas perkataan Yakobus dalam Kisah Para Rasul 21. Percampuran zaman yang lama dengan zaman yang baru di Yerusalem menyebabkan Allah mengizinkan tentara Romawi menghancurkan kota itu. Tidak ada yang menyakitkan Allah daripada menentang ekonomi-Nya. Sudah tentu, jika kita mempunyai karakter yang jelek, hal itu akan menyakitkan hati-Nya. Tetapi karakter yang jelek tidaklah seserius perkara menentang ekonomi Allah.

Perihal orang kaya dan orang miskin yang datang ke dalam sinagoga, Yakobus bertanya kepada para penerima suratnya, “dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya, ‘Silakan Tuan duduk di tempat yang baik ini!’, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata, ‘Berdirilah di sana!’ atau, ‘Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!’, bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?” (ayat 3-4). Perbedaan yang ada antara yang kaya dengan yang miskin di tengah-tengah saudara-saudara Kristen dan yang mengakibatkan terjadinya diskriminasi merupakan sesuatu yang memalukan bagi Tuhan dan bagi keselamatan hayat ilahi-Nya.

Seorang saudara yang miskin yang membaca ayat-ayat itu mungkin akan memuji Yakobus. Akan tetapi, seorang yang mempunyai visi yang jelas akan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru akan berkata, “Yakobus, Anda memang jelas bahwa tiada perbedaan antara yang miskin dengan yang kaya, namun Anda tidak jelas bahwa ada perbedaan antara kedua zaman itu.”

AHLI WARIS KERAJAAN

Dalam ayat 5 Yakobus melanjutkan perkataannya, “Dengarkanlah, Saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang mengasihi Dia?” Kerajaan Allah di sini juga merupakan Kerajaan Kristus, yang akan diwarisi oleh kaum beriman pemenang pada zaman yang akan datang (Ef. 5:5; Gal. 5:21; 1 Kor. 6:10; Why. 20:4, 6). Realitas kerajaan ini seharusnya dipraktikkan bukan di dalam sinagoga Yahudi, melainkan di dalam gereja Kristen, yaitu Tubuh Kristus (Rm. 14:17).

Dalam ayat 5 Yakobus untuk kali kedua membicarakan tentang mengasihi Allah (lihat 1:12). Kita percaya kepada Tuhan agar beroleh selamat (Kis. 16:31); kita mengasihi Allah (1 Yoh. 2:5, 15) agar kita menang, supaya kita bisa mendapatkan kerajaan yang dijanjikan sebagai pahala.

Kita tidak dapat menerima kerajaan hanya dengan percaya. Menurut Injil Matius, kerajaan akan merupakan suatu pahala. Menerima pahala ini memerlukan kita mengasihi Allah. Agar dapat menerima keselamatan, cukup jika kita hanya percaya kepada Tuhan. Tetapi jika kita ingin menerima pahala kerajaan, kita perlu mengasihi Allah.

Dalam 2:2 Yakobus membicarakan tentang sinagoga, dan dalam 2:5 membicarakan tentang kerajaan. Hal ini menyatakan bahwa Yakobus menjajarkan keduanya. Betapa seriusnya kesalahannya! Hal ini merupakan suatu petunjuk lebih lanjut bahwa Yakobus memang kekurangan dalam hal ekonomi Allah. Tidaklah mungkin mempraktikkan realitas kerajaan dalam sinagoga Yahudi. Hal ini dapat dipraktikkan hanya dalam hidup gereja.

DITINDAS OLEH YANG KAYA

Dalam ayat 6-7 Yakobus berkata, “Tetapi kamu telah menghina orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas dan menyeret kamu ke pengadilan? Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah?” Kata “pengadilan” dalam bahasa Yunani juga bisa diterjemahkan dengan “mahkamah”. Perkataan Yakobus dalam ayat 6 juga merupakan suatu campur aduk. Saya tidak yakin bahwa saudara-saudara yang kaya di dalam Kristus akan menyeret saudara-saudara yang miskin ke pengadilan. Sebaliknya, saya percaya bahwa Yakobus di sini menunjuk kepada orang-orang kaya Yahudi yang belum percaya, yang membawa beberapa saudara ke pengadilan. Menurut ayat 7, orang-orang kaya itu menghujat Nama yang mulia yang oleh-Nya kaum beriman menjadi milik Allah. Secara harfiah, “yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah” adalah “yang diserukan atasmu”. Di sini Yakobus menunjukkan bahwa orang-orang kaya yang tidak percayalah yang menghujat nama Tuhan.

HUKUM KERAJAAN

Ayat 8 mengatakan, “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’, kamu berbuat baik.” Hukum utama adalah perintah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Ini adalah yang paling utama dari semua hukum, dan ini mencakup dan menggenapi semua hukum (Gal. 5:14; Rm. 13:8-10). Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia merupakan permintaan terbesar dari hukum. Semua hukum bergantung kepada kedua hal ini (Mat. 22:36-40).

Dalam ayat 9 Yakobus berkata, “Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata bahwa kamu melakukan pelanggaran.” Hal itu menunjukkan bahwa memandang muka berlawanan dengan hukum, dan segala yang berlawanan dengan hukum adalah dosa. Memandang muka berlawanan dengan hukum kerajaan, yaitu perintah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Berkata kepada orang miskin, “Berdirilah di sana!” atau, “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!” bukanlah perbuatan mengasihi. Kita tidak suka diperlakukan secara demikian. Penekanan dalam ayat 9 adalah mereka yang memandang muka berarti berbuat dosa, dan oleh hukum itu ditetapkan sebagai pelaku pelanggaran.

Dalam ayat 10 Yakobus melanjutkan perkataannya, “Sebab siapa saja yang menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian saja, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Perkataan dalam ayat 8-11 menunjukkan bahwa kaum beriman Yahudi pada zaman Yakobus masih mempraktikkan pemeliharaan hukum Perjanjian Lama. Hal ini sesuai dengan perkataan dalam Kisah Para Rasul 21:20 yang diucapkan kepada Paulus oleh Yakobus dan semua penatua di Yerusalem. Yakobus, semua penatua di Yerusalem, dan beribu-ribu orang beriman Yahudi masih berada dalam percampuran kepercayaan kristiani dengan hukum Musa. Mereka bahkan menganjuri Paulus untuk mempraktikkan percampuran setengah Yahudi yang sedemikian (Kis. 21:17-26). Mereka tidak menyadari bahwa zaman hukum Taurat telah berakhir sama sekali dan bahwa zaman anugerah seharusnya mutlak dihormati; setiap pengabaian akan perbedaan antara kedua zaman ini berarti bertentangan dengan pemerintahan Allah atas zaman, dan merupakan suatu perusakan yang serius terhadap rencana ekonomi Allah untuk pembangunan gereja sebagai ekspresi Kristus. Dengan demikian, Surat Kiriman ini ditulis di bawah awan percampuran setengah Yahudi, di bawah latar belakang yang tidak jelas. Namun banyak orang yang mempraktikkan ibadah menurut konsepsi alamiah mereka, justru mengabaikan latar belakang yang terlihat di dalam kitab ini.

DIHAKIMI OLEH HUKUM

YANG MEMERDEKAKAN ORANG

Dalam ayat 11 Yakobus mengatakan, “Sebab Ia yang mengatakan, ‘Jangan berzina’, Ia mengatakan juga, ‘Jangan membunuh’. Jadi, jika kamu tidak berzina tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.” Menurut konteksnya, ayat ini menunjukkan jika kita berkata kepada seorang saudara yang miskin supaya duduk di lantai di dekat tumpuan kaki kita, berarti kita membunuhnya. Memperlakukan saudara yang miskin seperti itu berarti melakukan pembunuhan, karena memandang rendah seorang saudara yang miskin berarti membunuhnya.

Ayat 12 meneruskan, “Jadi, berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang” (Tl.). Kata “jadi” di sini mengacu kepada apa yang akan datang, bukan mengacu kepada apa yang telah berlalu. Hukum yang memerdekakan di sini dan dalam 1:25 mengacu kepada hukum yang sama, yaitu hukum hayat. Yakobus 2:8-11, dan 4:11, menyinggung tentang memelihara hukum harfiah. Yakobus 2:12 menyatakan bahwa kaum beriman akan dihakimi oleh hukum hayat. Kaum beriman seharusnya membicarakan dan mengerjakan apa saja berdasarkan hukum hayat yang mengungguli hukum harfiah. Mereka seharusnya hidup berdasarkan hukum hayat. Kehidupan semacam ini melebihi pemeliharaan hukum harfiah. Orang-orang yang tidak percaya akan dihakimi pada takhta putih yang besar (Why. 20:11-15) oleh hukum harfiah, yang adalah hukum Musa; kaum beriman akan dihakimi pada takhta pengadilan Kristus (2 Kor. 5:10) oleh hukum hayat, hukum yang memerdekakan orang, yang adalah hukum Kristus.

Semasa muda, saya tidak bisa memahami 2:11-12. Saya tahu bahwa dalam Perjanjian Baru Allah tidak menghendaki kita memelihara hukum Taurat Perjanjian Lama. Tetapi di sini Yakobus membicarakan perihal menjadi penurut hukum Taurat Perjanjian Lama. Perkataannya berpadanan dengan catatan dalam Kisah Para Rasul 21. Tetapi kemudian dalam ayat 12 Yakobus memberi tahu kita bahwa kita akan dihakimi oleh hukum yang lain, yaitu oleh hukum yang sempurna. Sekarang saya mengerti bahwa dalam pikiran Yakobus, hukum Perjanjian Lama campur aduk dengan hukum Perjanjian Baru. Yakobus tidak membedakan hukum Perjanjian Lama dengan hukum Perjanjian Baru.

Mula-mula Yakobus membahas tentang menuruti hukum Taurat, dan kemudian mengatakan tentang dihakimi oleh Kristus menurut hukum yang memerdekakan, menurut hukum Perjanjian Baru. Hal ini menunjukkan Yakobus mencampurbaurkan kedua hukum tersebut.

Menurut terang wahyu Alkitab, akan ada tiga macam penghakiman yang besar. Yang pertama adalah penghakiman pada takhta penghakiman Kristus (2 Kor. 5:10). Penghakiman ini dilaksanakan di angkasa, dan dilaksanakan atas semua orang beriman yang telah diangkat dan dibangkitkan. Penghakiman saat itu tidaklah berkaitan dengan keselamatan atau kebinasaan. Karena penghakiman itu menyangkut kaum beriman, maka tidaklah menyangkut soal keselamatan; persoalan keselamatan telah dibereskan untuk selamanya. Penghakiman itu akan menentukan apakah kaum beriman akan menerima pahala atau menderita kerugian. Maksud Allah mula-mula adalah memberikan keselamatan

kepada kita. Kemudian jika kita hidup oleh keselamatan Allah tersebut, kita akan menerima pahala. Kita menerima keselamatan pada zaman ini, zaman gereja, dan kita menerima pahala pada zaman yang akan datang, zaman Kerajaan Seribu Tahun. Penghakiman terhadap kaum beriman ini merupakan penghakiman besar pertama yang akan datang. Penghakiman besar yang kedua tercatat dalam Matius 25. Penghakiman ini akan berlangsung setelah Tuhan datang kembali bersama kaum saleh pemenang dan menghancurkan Antikristus bersama tentaranya di Harmagedon. Kemudian Tuhan Yesus akan mendirikan takhta-Nya yang mulia di Yerusalem. Semua orang kafir yang hidup akan dikumpulkan di hadapan Tuhan untuk dihakimi. Sewaktu Tuhan menghakimi mereka, Ia akan membagi mereka dalam kelompok domba dan kambing. Kambing-kambing akan digiring ke lautan api, sedang domba-domba dibawa ke dalam Kerajaan Seribu Tahun menjadi bangsa-bangsa. 2Timotius 4:1 mengatakan bahwa Allah telah mengangkat Tuhan Yesus untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Menurut Matius 25, pada awal Kerajaan Seribu Tahun Ia akan menghakimi orang-orang yang hidup di takhta kemuliaan-Nya.

Pada akhir Kerajaan Seribu Tahun akan berlangsung penghakiman besar ketiga. Penghakiman itu berlaku bagi semua orang yang tidak percaya yang mati, suatu penghakiman yang akan berlangsung di takhta putih besar. Melalui ketiga penghakiman tersebut Tuhan akan membersihkan situasi di antara umat manusia.

Sewaktu Tuhan Yesus menghakimi kaum beriman di takhta penghakiman-Nya, Ia tidak akan menghakimi mereka berdasarkan hukum Musa atau berdasarkan Injil-Nya, melainkan Ia akan mengadili mereka menurut hukum yang memerdekakan yakni hukum yang sempurna. Dalam 2:12 Yakobus menyebut penghakiman terhadap kaum beriman berdasarkan hukum yang memerdekakan di takhta penghakiman Kristus.

Di satu pihak, Yakobus memperingatkan kaum beriman bahwa mereka akan dihakimi oleh Kristus menurut Perjanjian Baru. Di pihak lain, ia berpesan kepada para penerima Surat Kiriman ini untuk tetap memelihara hukum Perjanjian Lama. Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa Yakobus kekurangan pandangan yang jelas menurut ekonomi Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai visi yang jelas perihal perbedaan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Ia mencampuradukkan kedua zaman tersebut, yaitu, ia mencampuradukkan hukum Perjanjian Lama dengan hukum Perjanjian Baru.

PENGHAKIMAN

YANG TIDAK BERBELAS KASIHAN

Dalam 2:13 Yakobus mengatakan, “Sebab penghakiman yang tidak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.” Memandang rendah seorang saudara yang miskin berarti tidak mempunyai belas kasihan. Setiap orang yang memandang hina seorang saudara yang miskin tidak akan menerima belas kasihan sewaktu ia berada di depan penghakiman Kristus.

Di sini Yakobus memberi tahu kita jangan memandang rendah saudara kita. Jika kita memandang rendah seorang saudara, berarti kita tidak membelaskasihaninya. Kemudian, sewaktu kita berada di depan penghakiman Tuhan, Ia juga tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada kita, karena kita tidak menunjukkan belas kasihan kepada saudara kita. Karena itu, kita perlu menunjukkan belas kasihan, sebab seperti yang dikatakan oleh Yakobus, belas kasihan akan menang dan unggul atas penghakiman. Jika hari ini kita berbelas kasihan terhadap saudara kita, kita akan menerima belas kasihan dari Tuhan di depan takhta penghakiman-Nya.

Saya menghargai perkataan Yakobus dalam ayat 13. Kata-katanya ini dapat disamakan dengan emas. Akan tetapi, dalam Surat Kirimannya ia mencampuradukkan emas dengan tanah liat. Karena itu, para pembaca Surat Kirimannya perlu membedakan antara emas dengan tanah liat.

DIBENARKAN OLEH PERBUATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KAUM BERIMAN

Sekarang, mari kita membahas 2:14-16, satu bagian yang membicarakan perihal dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan kaum beriman. Banyak orang membicarakan bagian ini tanpa menyadari bahwa hal ini menyangkut hubungan kita dengan kaum beriman lainnya. Jika kita berkata bahwa kita mempunyai iman, kita seharusnya mengasihi saudara dan saudari. Ini berarti kita dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan kasih terhadap kaum beriman.

Ayat 14 mengatakan, “Apa gunanya, Saudara-saudaraku, jika seseorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Di sini Yakobus bukannya mengatakan perihal diselamatkan dari kebinasaan, melainkan membicarakan tentang diselamatkan dari penghakiman di depan takhta penghakiman Kristus. Konteksnya menunjukkan hal ini.

Akan tetapi, sewaktu kebanyakan orang Kristen membaca Alkitab, mereka mengira “diselamatkan” berarti pergi ke surga. Mereka tidak menyadari bahwa penghakiman di depan takhta penghakiman Kristus bukanlah soal surga atau neraka. Seperti yang telah kita ketahui, penghakiman itu menyangkut soal mendapat pahala atau menderita penghukuman sementara. Jika seseorang mengatakan bahwa ia beriman tetapi tidak mempunyai perbuatan-perbuatan kasih, berarti ia tidak mengasihi saudara saudarinya. Karena itu, ketika orang yang demikian berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus, ia akan dihakimi tanpa belas kasihan. Kita memerlukan perbuatan-perbuatan belas kasihan dan kasih agar diselamatkan dari penghakiman yang tidak berbelas kasihan. Jadi, beroleh selamat dalam ayat 14 adalah beroleh selamat dari penghakiman tanpa belas kasihan di depan takhta penghakiman Kristus. Tetapi jika kita tidak menunjukkan belas kasihan terhadap sesama kaum beriman, kita tidak akan menerima belas kasihan dari Tuhan di depan takhta penghakiman-Nya.

Ayat 15-16 membuktikan bahwa demikian memahami “diselamatkan” dalam ayat 14 adalah tepat: “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata, ‘Selamat jalan, kenakanlah pakaian hangat dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?” Dalam ayat 14 Yakobus prihatin terhadap kita; dalam ayat 15 dan 16 ia prihatin terhadap mereka yang tidak kita perhatikan dengan semestinya. Kata “tidak mempunyai” (ayat 15) dalam bahasa aslinya menunjukkan bahwa saudara atau saudari tersebut telah berada di dalam kondisi ini untuk sejangka waktu. Jika kita tidak memperhatikan keperluan kaum beriman, berarti kita tidak mengurus mereka maupun diri kita sendiri.

Pada suatu hari, kita semua akan dihakimi oleh Kristus. Jika kita memperhatikan keperluan kaum saleh, memberikan belas kasihan kepada mereka, berarti kita juga memperhatikan diri sendiri sehubungan dengan penghakiman Tuhan atas diri kita. Karena perbuatan belas kasihan dan kasih kita terhadap kaum beriman, kita akan diselamatkan dari penghakiman tanpa belas kasihan di depan takhta penghakiman Tuhan.

Sangatlah memalukan jika keperluan orang-orang kudus yang miskin diabaikan di dalam hidup gereja. Walaupun demikian, perkataan Yakobus di sini, yang diberikan untuk memperkuat pandangannya akan praktik kristiani yang sempurna, membawa cita rasa Perjanjian Lama mengenai orang-orang miskin (Ul. 15:7-8).

Dalam ayat 17-19 Yakobus melanjutkan perkataannya, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya mati. Tetapi mungkin ada orang berkata, ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’; aku akan menjawab dia, ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.’ Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan gemetar.” Iman adalah milik hayat, hidup, dan beroperasi melalui kasih (Gal. 5:6); jika tidak, iman itu adalah iman yang mati, tidak sejati (Yak. 2:20, 26).

Dalam ayat 20 Yakobus mengatakan, “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” Kata “kosong” juga berarti “tanpa hasil”. Beberapa naskah kuno memakai istilah “mati”.

Dalam ayat 20 Yakobus menggunakan ungkapan “manusia yang bebal”. Menurut Yakobus, seseorang itu bebal jika dia hanya beriman tetapi tidak memiliki kasih. Setiap orang yang beriman di dalam Tuhan Yesus tetapi tidak mengasihi saudara-saudaranya adalah orang yang bebal. Dalam hal ini, orang yang bebal adalah orang yang beriman tanpa kasih. Seperti yang dikatakan Yakobus, iman tanpa perbuatan adalah tidak berguna.

Dalam ayat 21 Yakobus berkata, “Bukankah Abraham, bapak kita, dibenarkan berdasarkan perbuatan-perbuatan-nya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” Yakobus segera melanjutkan dalam ayat 22, “Kamu lihat bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatannya dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Dalam Kejadian 15 Abraham beriman (percaya) kepada Allah dan dalam Kejadian 22 ia mempersembahkan Ishak putranya. Ini menunjukkan bahwa ada sejangka waktu yang di dalamnya iman Abraham menjadi sempurna. Jadi iman yang dimilikinya itu perlu dibuktikan. Mula-mula Abraham percaya kepada Allah, dan kemudian imannya itu dibuktikan dengan mempersembahkan Ishak kepada Allah. Demikian juga, iman kita di dalam Tuhan Yesus juga perlu dibuktikan. Sebagai contoh, saya berharap seorang muda yang beriman di dalam Tuhan akan membuktikan imannya kepada kedua orang tuanya melalui perubahan sikap dan tingkah lakunya. Ini berarti, perbuatan kasih yang di luar, mempersaksikan, membuktikan, iman yang ada di dalam kita.

Dalam ayat 23-24 Yakobus berkata, “Dengan demikian, genaplah nas yang mengatakan, ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu, Abraham disebut ‘Sahabat Allah’.” Dalam ayat 23 Yakobus sekali lagi mencampuradukkan berbagai hal. Bagian pertama dari ayat ini mengacu kepada Kejadian 15:6, sewaktu Abraham percaya kepada Allah dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran; bagian kedua dari ayat ini mengacu kepada waktu berikutnya ketika Abraham disebut sebagai sahabat Allah (2 Taw. 20:7; Yes. 41:8).

Dalam ayat 24 Yakobus melanjutkan, “Jadi kamu lihat bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” Dibenarkan karena iman adalah untuk menerima hayat Allah (Rm. 5:18); dibenarkan karena perbuatan-perbuatan adalah melalui memperhidupkan hayat Allah. Karena kehidupan merupakan hasil dari hayat, maka dibenarkan karena perbuatan-perbuatan merupakan hasil dari dibenarkan karena iman. Perbuatan Abraham mempersembahkan Ishak serta perbuatan Rahab menerima mata-mata Israel dan melepaskan mereka (Yos. 2:1-21; 6:23) adalah pekerjaan-pekerjaan yang dihasilkan dari iman mereka yang hidup. Pohon yang hidup pasti menghasilkan buah. Dibenarkan karena perbuatan-perbuatan tidaklah bertentangan dengan dibenarkan karena iman. Yang kedua adalah penyebabnya, menghasilkan yang pertama; yang pertama adalah akibatnya, hasil dan bukti dari yang kedua.

Dalam ayat 25-26 Yakobus menyimpulkan, “Bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan berdasarkan perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang suruhan itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Roh memberi hayat kepada tubuh (Kej. 2:7); perbuatan menunjukkan dan mengekspresikan hayat yang ada di dalam iman.

Pasal ini dimulai dengan tidak memandang orang (ayat 1-13), dan berakhir pada perhatian yang riil bagi keperluan kaum beriman yang miskin; inilah perbuatan-perbuatan iman yang membuat pelakunya dibenarkan (ayat 14-26). Menurut pandangan Yakobus, kebajikan-kebajikan ini dapat dianggap sebagai ciri praktik kristiani yang sempurna.