← Daftar isi Yakobus · bab 1/14

PENDAHULUAN DAN KEBAJIKAN PRAKTEK KRISTIANI YANG SEMPURNA (1)

Pembacaan Alkitab: Yak. 1:1-12

Menyinggung tentang pelajaran-hayat, kita telah mem-bahas semua kitab Perjanjian Baru kecuali Kitab Yakobus, Markus, Lukas, dan Kisah Para Rasul. Dari kedua puluh tiga kitab yang telah kita bahas hingga sekarang ini, ada sepuluh yang sangat penting : Matius, Yohanes, Roma, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Ibrani, 1 Yohanes, dan Wahyu. Kita boleh juga menganggap 1 dan 2 Korintus sebagai kitab yang penting dalam Perjanjian Baru, sehingga semuanya berjumlah dua belas.

Saya anjurkan semua orang kudus memeriksa kembali dengan cermat kedua puluh tiga kitab yang telah kita bahas dalam pelajaran-hayat kita. Saya harap Anda membaca versi Pemulihan dengan catatan-catatan kakinya beserta referensi silangnya dan juga membaca setiap pelajaran-hayatnya. Jika Anda melakukan hal ini, Anda akan memperkaya diri Anda dan juga memperkaya pemulihan Tuhan. Jika kita dijenuhi dengan kekayaan-kekayaan ini, kita akan mampu membagikan kekayaan-kekayaan ini kepada orang lain dengan tiga cara : melalui pemberitaan Injil, melalui penyajian kebenaran, dan melalui penyuplaian hayat. Kemudian jika Anda menjumpai seseorang yang menentang pemulihan Tuhan, Anda tidak perlu membenarkan atau berdebat, melainkan melakukan ketiga hal ini: memberitakan Injil, menyajikan kebenaran, dan menyuplaikan hayat. Namun, untuk melakukan hal-hal ini, diri kita perlu diperlengkapi lebih dulu.

Tidak diragukan lagi bahwa kaum saleh dalam pemulihan Tuhan mengasihi Tuhan. Akan tetapi, walaupun Anda mengasihi Tuhan Yesus, Anda mungkin belum memiliki ke-terampilan rohani atau modal rohani untuk memberitakan Injil, menyajikan kebenaran, dan melayankan hayat. Itulah sebabnya saya menganjuri Anda menempuh pendidikan rohani dan dijenuhi dengan semua kekayaan yang terkandung dalam berita-berita di berbagai kitab Perjanjian Baru yang telah kita bahas. Semakin Anda dijenuhi dengan kekayaan-kekayaan ini, Anda akan semakin diperlengkapi untuk memberitakan Injil dengan cara yang berbeda kepada berbagai orang. Anda juga akan bisa menyajikan kebenaran kepada orang-orang Kristen lainnya. Setiap orang Kristen sejati mengasihi kebenaran. Jika Anda menyajikan kebenaran kepada saudara seiman, ia akan tertarik oleh kebenaran itu. Banyak di antara kita yang masuk ke pemulihan Tuhan karena tertarik oleh kebenaran. Lagi pula, di samping mengetahui bagaimana memberitakan Injil dan menyajikan kebenaran, Anda juga bisa menyuplaikan hayat dengan bersaksi kepada orang lain bagaimana Anda mengalami Kristus, Sang almuhit, sebagai hayat dan suplai hayat Anda.

Jumlah kaum saleh dalam pemulihan Tuhan di Amerika Serikat masih sedikit, kira-kira hanya delapan ribu. Akan tetapi, jika seluruh kaum saleh dalam pemulihan dijenuhi dengan kekayaan firman, mereka akan menjadi saksi-saksi yang hidup. Kemudian pemulihan Tuhan akan memiliki ribuan pewarta, ribuan orang saleh pemberita Injil, penyaji kebenaran, dan penyuplai hayat. Bayangkan pekerjaan macam apa yang dapat digenapkan bila kita semua diperlengkapi sedemikian ini!

Akan tetapi, masih banyak orang saleh yang belum diperlengkapi untuk memberitakan Injil, menyajikan kebenaran, atau menyuplaikan hayat. Ketika kaum saleh itu berhubungan dengan orang lain, seolah-olah mereka tidak mempunyai firman untuk disajikan walaupun mereka mempunyai hati untuk melakukan hal itu. Lebih-lebih banyak lagi yang tidak bisa menyuplaikan hayat kepada orang lain. Itulah sebabnya saya mendorong kaum saleh untuk dijenuhi dengan kekayaan-kekayaan Tuhan yang telah diberikan kepada kita tahun demi tahun. Kekayaan-kekayaan itu tersedia bagi kita di dalam berita-berita pelajaran-hayat.

BERBAGAI SIKAP TERHADAP KITAB YAKOBUS

Dalam berita ini kita memulai Pelajaran-Hayat Yakobus. Terhadap kitab ini kaum beriman mempunyai sikap yang berbeda-beda. Martin Luther, seorang reformis besar yang dipakai Tuhan untuk memulai pemulihan berkata bahwa Surat Yakobus merupakan suatu “surat jerami”. Akan tetapi, orang-orang Kristen tertentu (khususnya sebagian orang Kristen China), mengapresiasi kitab ini karena cocok dengan latar belakang etika mereka, suatu latar belakang yang menekankan kesempurnaan etika dan moral. Orang-orang Kristen itu terutama menghargai Surat Yakobus dalam Perjanjian Baru dan Kitab Amsal dalam Perjanjian Lama. Di negara Barat, sewaktu Perjanjian Baru dicetak secara terpisah dari Perjanjian Lama, sering Alkitab Perjanjian Baru dicetak dengan dilampiri Kitab Mazmur. Tetapi di negara Timur, sewaktu Alkitab Perjanjian Baru dicetak sendiri, sering Kitab Amsal digabungkan ke dalamnya. Nampaknya orang-orang Kristen di belahan Barat menyukai Kitab Mazmur, sedang orang-orang Kristen di belahan Timur menyukai Kitab Amsal.

Menurut konsepsi sejumlah orang, Surat Yakobus sama dengan Kitab Amsal. Kesamaan ini dapat dilihat dalam lambang-lambang yang dipakai oleh Yakobus dalam surat-nya: gelombang laut (1:6), bunga rumput (1:10), matahari dengan panasnya yang terik (1:11). Ketika kita sampai pada pasal 3, kita akan nampak bahwa dalam hal membereskan lidah, Yakobus menggunakan dua puluh butir yang berbeda sebagai ilustrasinya (3:3-12). Dalam 4:14 Yakobus memakai uap sebagai lambang hidup manusia, dan dalam 5:7 ia menggunakan lambang seorang petani yang menantikan tanamannya matang. Lambang-lambang ini merupakan ciri khas Surat Yakobus. Karena itu, orang-orang yang sangat mengapresiasi Kitab Amsal juga mengapresiasi surat ini. Seperti yang akan kita lihat nanti, saya juga mengapresiasi surat ini, tetapi saya mengapresiasinya karena alasan yang berbeda.

HAMBA ALLAH DAN TUHAN YESUS KRISTUS

Surat Yakobus berawal seperti ini, “Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan: Bersukacitalah! (Tl.). Yakobus adalah saudara kandung Tuhan Yesus (Mat. 13:55) dan Yudas (Yud. 1). Ia bukan salah satu dari kedua belas rasul yang dipilih oleh Tuhan ketika Tuhan berada di bumi, tetapi ia menjadi seorang rasul setelah kebangkitan Tuhan (Gal. 1:19) dan men-jadi penatua terkemuka dalam gereja di Yerusalem (Kis. 12:17; 15:2, 13; 21:18). Bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus dianggap sebagai sokoguru gereja. Paulus menyebutnya yang pertama di antara ketiga sokoguru itu (Gal. 2:9).

Dalam 1:1 Yakobus menyebut dirinya sebagai “hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus”. Di sini Yakobus mengganggap Tuhan Yesus setara dengan Allah. Hal ini berlawanan dengan Yudaisme yang tidak mengakui keilahian Tuhan (Yoh. 5:18).

Sewaktu Tuhan Yesus masih hidup di bumi di dalam daging, Yakobus pernah hidup bersama-Nya; boleh jadi ia tidak mendengarkan Tuhan, dan sekurang-kurangnya sam-pai tingkat tertentu ia meremehkan-Nya. Ada sebuah contoh tentang hal ini dalam Yohanes 7. Namun, setelah penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan, saudara kandung Tuhan Yesus ini justru menjadi seorang beriman bahkan menganggap kakak laki-lakinya sederajat dengan Allah. Ini-lah sebabnya Yakobus menyebut dirinya sebagai hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus.

Yakobus dengan jelas mengakui keilahian Tuhan Yesus. Saya mengapresiasi Yakobus karena ia mengakui Yesus, saudara kandungnya, adalah Allah serta mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah hamba Allah dan hamba Dia yang adalah Tuhan. Bagian tulisan Yakobus ini sungguh menakjubkan.

KEDUA BELAS SUKU

Dalam Yakobus 1:1 juga dikatakan, “Kepada kedua belas suku di perantauan: Bersukacitalah!” (Tl.). Kedua belas suku di sini mengacu kepada suku-suku Israel. Ini menunjukkan bahwa Surat Kiriman ini ditulis untuk orang-orang Kristen Yahudi yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus yang mulia (2:1), dibenarkan karena iman (2:24), dilahirkan kembali oleh firman kebenaran (1:18), dan dihuni oleh Roh Allah (4:5), mereka juga adalah anggota-anggota gereja (5:14), menantikan kedatangan kembali Tuhan (5:7-8). Akan tetapi, dengan menyebut kaum beriman di dalam Kristus ini “kedua belas suku”, seperti penyebutan umat pilihan Allah dalam ekonomi Perjanjian Lama-Nya, kita tahu bahwa penulis kitab ini mungkin kekurangan penglihatan yang jelas akan perbedaan antara orang-orang Kristen dengan bangsa Yahudi, antara ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan zaman Perjanjian Lama. Mungkin ia tidak melihat bahwa dalam Perjanjian Baru, Allah telah menyelamatkan dan memisahkan kaum beriman Yahudi dari umat Yahudi, yang kemudian dianggap oleh Allah sebagai “angkatan yang jahat” (Kis. 2:40). Dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya, Allah tidak menganggap kaum beriman Yahudi sebagai orang-orang yang dipisahkan bagi Yudaisme, melainkan sebagai orang-orang Kristen yang dipisahkan bagi gereja. Sebagai anggota-anggota gereja Allah, mereka seharusnya berbeda dan terpisah dari umat Yahudi sama seperti mereka terpisah dari bangsa kafir (1 Kor. 10:32). Akan tetapi Yakobus, seorang sokoguru gereja, dalam Surat Kirimannya kepada saudara-saudara Kristen masih memanggil mereka “kedua belas suku”. Ini mungkin merupakan alasannya menujukan perkataan dalam 5:1-6 kepada orang-orang kaya secara umum di antara orang-orang Yahudi. Hal ini bertentangan dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Dalam 1:1 Yakobus tidak menulis kepada kaum beriman di antara kedua belas suku; melainkan menulis kepada kedua belas suku. Kedua belas suku mengacu kepada bangsa Yahudi. Akan tetapi, pada hari Pentakosta Petrus menyebut bangsa Yahudi “angkatan yang jahat”: “Dengan banyak perkataan lain lagi ia bersaksi dan mendesak mereka, katanya, ‘Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang (angkatan) yang jahat ini’” (Kis. 2:40). Angkatan yang jahat ini tersusun dari kedua belas suku Israel. Akan tetapi, ada orang yang mungkin menunjukkan bahwa dalam 1:1 Yakobus berbicara kepada kedua belas suku di perantauan. Perantauan tentunya termasuk penyebaran kaum beriman Yahudi dari Yerusalem karena penganiayaan setelah Pentakosta (Kis. 8:1, 4). Tetapi sudah tentu tidak semua orang yang ada di perantauan adalah orang-orang Kristen Yahudi. Karena itu, adalah suatu fakta bahwa Yakobus menggunakan istilah yang diberikan oleh Allah kepada umat pilihan-Nya dalam ekonomi Perjanjian Lama. Dalam zaman Perjanjian Lama Allah menyebut orang-orang Yahudi sebagai dua belas suku. Akan tetapi, pada hari raya Pentakosta, Petrus yang berbicara melalui Roh Kudus menganggap mereka sebagai angkatan yang jahat dan menyuruh mereka memberi diri mereka diselamatkan.

Kelirukah Yakobus menujukan suratnya kepada kedua belas suku di perantauan? Sudah tentu ia tidak menganggap hal ini keliru. Akan tetapi, seperti yang telah kita tunjukkan, cara penyebutannya ini menunjukkan bahwa Yakobus tidak jelas mengenai perbedaan orang Kristen dengan orang Yahudi dan perbedaan ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan pengaturan Perjanjian Lama.

Dalam 1 Korintus 10:32 kita nampak tiga macam orang: “Janganlah kamu membuat orang tersandung, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun jemaat Allah.” Di sini kita nampak bahwa dalam zaman Perjanjian Baru, orang-orang dibagi menjadi tiga kelompok: orang Yahudi — umat pilihan Allah; orang Yunani — orang kafir yang tidak percaya; dan gereja — susunan yang terdiri atas kaum ber-iman di dalam Kristus. Ini menyatakan bahwa kaum ber-iman Yahudi harus dipandang sebagai orang-orang Kristen bagi gereja, yang berbeda dan terpisah dari orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir. Karena itu, orang-orang Yahudi yang percaya di dalam Kristus adalah bagian dari gereja, dan tidak sepatutnya dikelompokkan dengan orang-orang Yahudi yang masih menjadi bagian dari angkatan yang jahat. Dalam pasal terakhir Surat Kirimannya, Yakobus menganggap para penerima suratnya sebagai anggota-ang-gota gereja. Lalu, bagaimanakah ia dapat mengelompokkan anggota-anggota gereja dengan orang-orang Yahudi yang me-rupakan angkatan yang jahat? Sudah tentu hal ini menun-jukkan kekurangannya akan visi yang jelas mengenai za-man ekonomi Allah.

PRAKTEK KRISTIANI YANG SEMPURNA

Pada akhir 1:1 Yakobus menyuruh para penerima Surat Kirimannya agar bersukacita. Kata “bersukacita” meru-pakan terjemahan kata Yunani chairein, yang berarti salam bahagia, sukacita, gembira, disampaikan sebagai salam atau kata-kata perpisahan.

Pokok Surat Yakobus adalah praktek kristiani yang sempurna. Yakobus menulis tidak hanya mengenai kesempurnaan orang Kristen, lebih-lebih adalah praktek kristiani yang sempurna, yaitu kesempurnaan yang tidak teoritis, melainkan yang riil dalam hidup kita sehari-hari. Inilah pokok utama surat ini, yakni Yakobus mengajarkan perihal praktek kristiani yang sempurna. Kebajikan-kebajikan yang ia ungkapkan dalam kitab ini berkaitan dengan kesempur-naan ini. Dalam 1:2 Yakobus mulai menyajikan kebajikan-kebajikan ini kepada kita.

MENANGGUNG PENCOBAAN DENGAN IMAN

Dalam 1:2 Yakobus mengatakan, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Di sini kita nampak bahwa kebajikan pertama yang berkaitan dengan praktek kristiani yang sempurna yang dibahas oleh Yakobus adalah menanggung pencobaan-pencobaan dengan iman.

Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, Iblis (1 Yoh. 5:19). Iblis menentang Allah terus-menerus, dan dalam setiap kesempatan. Iblis tidak senang bila orang-orang berpaling kepada Allah dan ia tidak akan membiarkan hal ini. Begitu seseorang berpaling kepada Allah, Iblis akan menghasut orang-orang di sekelilingnya untuk menganiaya orang itu. Paulus pernah mengatakan bahwa kita, orang-orang Kristen, ditetapkan untuk menderita penganiayaan (Flp. 1:29). Karena itu, penganiayaan merupakan bagian yang ditentukan bagi kita sebagai kaum beriman di dalam Kristus. Jadi, aspek pertama dari praktek kristiani yang sempurna adalah menanggung pencobaan-pencobaan, sebuah istilah yang mencakup penganiayaan.

Penganiayaan adalah suatu penderitaan. Akan tetapi, pencobaan-pencobaan bukan hanya suatu penderitaan, karena pencobaan-pencobaan adalah suatu penderitaan yang mengandung maksud untuk mencobai atau menguji kita. Sebagai gambaran, kita bisa memakai ujian akhir di sekolah. Murid-murid tahu bahwa ujian akhir bisa menjadi suatu penderitaan dan pencobaan yang riil. Akan tetapi, sebenarnya pencobaan semacam itu merupakan suatu pertolongan bagi para murid. Jika di sekolah tidak ada ujian akhir, para murid mungkin akan melalaikan pelajaran mereka. Namun, ketika mereka tahu bahwa ujian akhir telah di ambang pintu, mereka akan berkonsentrasi kepada pelajaran mereka dengan rajin. Karena itu, ujian akhir membantu para murid mempelajari hal-hal yang penting. Karena alasan ini-lah para orang tua murid akan sangat berterima kasih dengan adanya ujian akhir, karena mengetahui hal itu membantu anak-anak mereka untuk memperoleh manfaat dari pendidikan mereka.

Dalam “sekolah pendidikan rohani” juga ada “ujian akhir” dan macam-macam “ujian” lainnya. “Kepala” sekolah ini adalah Bapa surgawi kita. Ia mengatur berbagai pencobaan, berbagai ujian bagi kita. Semua pencobaan itu baik bagi kita. Sebagaimana ujian-ujian berfaedah bagi para murid, demikian juga berbagai pencobaan yang kita hadapi sebagai orang-orang Kristen bermanfaat bagi kita.

Mungkin setelah Anda percaya kepada Tuhan Yesus, Anda mengira bahwa di dalam hidup kita sebagai orang Kristen tidak akan ada penderitaan ataupun pencobaan. Boleh jadi Anda berkata kepada diri Anda sendiri, “Aku takut akan Allah, aku juga mengasihi Tuhan Yesus, aku adalah anak Allah. Tentu Allah mengasihiku, dan Ia tidak akan membiarkan sesuatu yang jahat menimpa diriku.” Itulah konsepsi kebanyakan orang beriman. Namun akhirnya pencobaan-pencobaan pun datanglah. Salah satu pencobaan adalah tentangan dari keluarga dan kawan-kawan. Pencobaan semacam ini lebih dari sekadar penganiayaan. Penganiayaan menggenapkan maksud tujuan dari si penganiaya, tetapi pencobaan dipakai oleh Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Seseorang boleh jadi menganiaya Anda, tetapi Allah memakai penganiayaan itu sebagai suatu pencobaan untuk mencobai Anda, untuk menguji Anda.

Ujian akhir memiliki tiga tujuan: mencoba, menguji, dan membuktikan seorang murid. Demikian juga, berbagai pencobaan yang harus kita tempuh sebagai kaum beriman mengandung tujuan mencoba, menguji, dan membuktikan kita. Pencobaan itu benar-benar merupakan suatu bantuan di dalam praktek kristiani yang sempurna, karena Allah menggunakannya untuk menyempurnakan kita.

DISEMPURNAKAN

MELALUI PENCOBAAN-PENCOBAAN

Allah menggunakan pencobaan-pencobaan untuk menyempurnakan kita. Jika kita nampak hal ini, kita akan berterima kasih kepada Allah yang menyempurnakan kita melalui pencobaan-pencobaan. Pencobaan-pencobaan tidak saja membantu kita dalam hal pendidikan rohani dan pengalaman hayat, tetapi juga membantu membentuk karakter kita dan perilaku kita dalam hidup kita sehari-hari. Sebelum percaya Tuhan, boleh jadi Anda seperti seekor singa yang liar. Tetapi setelah sejangka waktu masa pencobaan, “singa” ini telah menjadi jinak. Saya dapat bersaksi bahwa Allah menggunakan pencobaan-pencobaan untuk “menjinakkan” saya dan dengan demikian juga menyempurnakan saya secara riil dalam hidup saya sebagai orang Kristen.

Dalam 1:2 Yakobus juga mendorong kita untuk menganggapnya “sebagai kebahagiaan” apabila kita jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Kita dapat menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan apabila kita jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, karena pencobaan-pencobaan ini menyempurnakan kita. Perhatikan bahwa dalam 1:2 Yakobus tidak hanya membicarakan pencobaan-pencobaan melainkan “berbagai-bagai pencobaan”. Ini menyatakan bahwa kita seharusnya menganggap semua pencobaan sebagai suatu kebahagiaan, bukan hanya pencobaan tertentu. Di satu pihak, kita tidak menyukai pencobaan, tentangan, dan penganiayaan. Tetapi di pihak lain, bila kita mengalami hal-hal ini, kita perlu menganggap semuanya ini sebagai kebahagiaan, karena Allah menggunakan hal-hal ini untuk menyempurnakan kita.