← Daftar isi Latar Belakang dan Pokok Kitab Filipi · bab 7/22

PILIHAN PAULUS YANG TERBAIK

Pembacaan Alkitab: Flp. 1:19-26

Filipi 1:18-21 dalam bahasa aslinya merupakan satu kalimat. Dalam ayat 18 Paulus berkata, “Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Dalam hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.” Ayat 19 dimulai dengan kata “karena”, menunjukkan bahwa ayat ini merupakan keterangan dari ayat 18. Ayat 19 mengatakan, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus” (Tl.). Kata “semuanya ini” mengacu kepada pemberitaan Kristus yang berbeda-beda yang disebut Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya. Melalui doa orang kudus dan suplai limpah lengkap Roh Yesus Kristus, Paulus tahu bahwa pemberitaan yang berbeda-beda itu akhirnya menjadi keselamatannya. Kemudian ayat 20 dimulai dengan perkataan “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan”. Frase ini menjelaskan keselamatan dalam ayat 19. Dengan harapan yang penuh, Paulus berharap menikmati keselamatan. Ayat 20 menunjukkan keselamatan yang Paulus harapkan untuk dinikmati ialah bahwa dalam segala hal ia tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, dengan penuh keberanian Kristus akan diperbesar di dalam tubuhnya.

PENGALAMAN PAULUS

TERHADAP KESELAMATAN

Ketika Paulus menyurati orang Filipi, ia berada dalam penjara di negeri asing, jauh dari kampung halamannya. Paulus punya alasan cukup kuat untuk merasa cemas dan sedih. Karena keadaannya begitu sulit, ia semestinya mudah meratapi situasinya itu. Tetapi, jika Paulus meratap dan bukan bersukacita, tidak mungkin ia berkata, “Kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku.” Jika ia meratap, ia tidak dapat mengalami keselamatan dalam keadaan itu.

Andaikata Anda adalah orang Yahudi yang meringkuk dalam penjara di Roma, dapatkah Anda bersukacita? Saya yakin kita semua akan merasa sangat sedih, dan akan sangat rindu kampung halaman. Tetapi Paulus tidak meratap, sebaliknya ia bersukacita di dalam Tuhan. Baginya segala sesuatu yang terjadi akhirnya menjadi keselamatannya.

Berdasarkan konteks ayat-ayat ini, keselamatan berarti dalam segala hal Paulus tidak akan beroleh malu. Tidak saja ia tidak merasa malu, tetapi tidak ada apa pun yang menyebabkannya menjadi malu. Kristus diperbesar di dalam tubuh Paulus. Diperbesarnya Kristus yang disebut dalam ayat 20 ini adalah keselamatan yang disebut dalam ayat 19. Ini berarti keselamatan yang sangat dirindukan dan diharapkan Paulus ialah supaya ia tidak beroleh malu, tetapi sebaliknya memperbesar Kristus di dalam tubuhnya. Sebab itu dalam ayat 20 kita mempunyai satu definisi dari kenikmatan yang riil terhadap keselamatan.

Menikmati keselamatan semacam ini berarti memperhidupkan Kristus. Inilah alasan Paulus dalam ayat 21 mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus.”

Penderitaan Paulus tidak membuatnya malu, sebaliknya, semuanya itu memberinya kesempatan untuk memperbesar Kristus. Jika kita mengalami keselamatan yang disebut dalam ayat-ayat ini, ketika kita mengalami penderitaan, kita akan memperbesar Kristus dan tidak beroleh malu. Tetapi jika kita ditaklukkan oleh penderitaan, ditindas olehnya, dan penuh kekhawatiran, kita akan beroleh malu. Namun jika kita memperbesar Kristus dalam segala penderitaan, kita akan mengalami keselamatan ini.

Suatu hari, istri seorang saudara meninggal. Hal ini merupakan kehilangan dan pukulan besar bagi suami dan anak-anaknya. Jika kita berkontak dengan saudara ini dan hanya nampak ia bersedih dan mengalirkan air mata, kita akan mendapat kesan malu. Dalam keadaan demikian, kehilangan istri akan menyebabkannya beroleh malu, dan di sana tidak ada manifestasi Kristus dan tidak ada perbesaran Kristus. Akibatnya, tidak ada pengalaman keselamatan; pengalamannya dalam meratapi kematian istrinya akan tidak berbeda dengan pengalaman orang kafir. Tetapi, keadaan saudara ini sama sekali berbeda. Ia dapat bersukacita, memuji Tuhan, dan bersaksi tentang anugerah Tuhan. Dalam situasinya Tuhan betul-betul telah dinyatakan dan diperbesar, dan ia pun mengalami keselamatan. Dalam mengalami keselamatan ini, saudara tersebut telah diselamatkan dari penderitaannya berupa kematian istrinya. Tambahan pula, keselamatan ini memungkinkan dia memperbesar Kristus.

Pengalaman saudara itu dalam memperbesar Kristus setelah kematian istrinya menjelaskan pengalaman Paulus di dalam penjara. Walau ia ditawan dalam penjara di negeri asing, penderitaannya tidak membuatnya malu. Menurut kerinduan dan harapan Paulus yang setulusnya, Kristus diperbesar di dalam tubuhnya, dan Paulus pun menikmati keselamatan Tuhan.

KUNCI PENGALAMAN PAULUS

Kunci pengalaman keselamatan Paulus ialah suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Segala sesuatu yang terjadi atas diri Paulus pada akhirnya akan menyelamatkannya melalui suplai limpah lengkap ini. Antara keselamatan dalam ayat 19 dan diperbesarnya Kristus dalam ayat 20 terdapat suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Pada hakekatnya, dalam pengalaman kita, keselamatan, Kristus, dan suplai limpah lengkap dari Roh itu adalah satu. Tetapi jika kita ingin menikmati Kristus dan mengalami Dia sebagai keselamatan dalam setiap keadaan, kita memerlukan suplai limpah lengkap dari Roh itu. Sebagaimana Roh itu tinggal di dalam rasul Paulus selama pemenjaraannya, Roh itu pun tinggal di batin kita pada hari ini. Melalui suplai limpah Roh yang sedemikianlah Paulus menikmati keselamatan.

PERBEDAAN ANTARA KRISTUS

DENGAN KEUNTUNGAN

Dalam ayat 21 Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Dalam ayat ini kita melihat suatu perbedaan antara Kristus dengan keuntungan. Ada sementara orang yang mungkin mengira keuntungan di sini ditujukan kepada Kristus. Walau dalam suatu pengertian keuntungan boleh ditujukan kepada Kristus, tetapi keuntungan ditujukan kepada Kristus dalam aspek lain, bukan Kristus yang kita alami melalui memperhidupkan-Nya. Pada hakekatnya, keuntungan dalam ayat 21 berarti kebersamaan dengan Kristus. Ketika Paulus mengatakan “mati adalah keuntungan”, maksudnya ialah mati itu berarti menikmati kehadiran Kristus secara lebih indah. Dalam ayat 23 Paulus berkata bahwa ia ingin pergi dan tinggal bersama-sama dengan Kristus. Tinggal bersama-sama dengan Kristus adalah perkara derajat, bukan tempat. Paulus ingin berada bersama Kristus dalam derajat yang lebih tinggi, walaupun ia sudah senantiasa bersama Dia. Melalui kematian fisiknya, ia akan dapat berada bersama Kristus dengan lebih sempurna daripada yang dinik-matinya dalam hidup di bumi.

Selama Paulus dipenjarakan, ia menikmati Kristus dan mengalami Dia dalam dua aspek. Aspek pertama ialah menikmati kehadiran Kristus, dan aspek lainnya ialah memperhidupkan Kristus. Besar sekali perbedaan antara menikmati kehadiran Kristus dengan memperhidupkan Kristus. Sebagai contoh, saya mungkin menikmati kehadiran istri saya, tetapi saya tidak dapat memperhidupkan dia. Melalui ini kita nampak bahwa kita mungkin menikmati kehadiran seseorang tanpa memperhidupkan orang tersebut. Paulus bukan hanya menikmati kehadiran Tuhan, ia pun memperhidupkan Dia. Ia tahu bila ia mati ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperhidupkan Kristus, tetapi ia akan memasuki suatu kenikmatan yang lebih tinggi dari kehadiran atau penyertaan Kristus. Sebab itu, baginya mati adalah keuntungan. Yang dihargai Paulus bukan hanya kehadiran Kristus, tetapi juga kesempatan untuk memperhidupkan Kristus.

Dari abad ke abad, orang-orang Kristen terus dianjuri untuk mempraktekkan hal beserta dengan Tuhan. Tetapi, nyaris tidak ada anjuran untuk memperhidupkan Kristus. Banyak orang beriman yang mengenal buku “Beserta dengan Allah” (The Practice of the Presence of God) dan telah terdorong olehnya untuk berusaha hidup dalam penyertaan Allah. Namun, konsepsi dari beserta dengan Allah tersebut terutama merupakan konsepsi Perjanjian Lama, bukan konsepsi Perjanjian Baru. Memang, menurut Perjanjian Baru, di satu pihak kita dapat menikmati penyertaan Tuhan. Tetapi di pihak lainnya, kita wajib mempraktekkan hal memperhidupkan Dia. Kita tidak saja memiliki penyertaan Tuhan, kita pun memiliki persona-Nya. Kita tidak saja perlu berada dalam penyertaan-Nya, kita pun perlu menjadi satu persona dengan Dia dan memperhidupkan Dia. Memperhidupkan Dia adalah pengalaman yang jauh lebih da-lam daripada sekadar berada di dalam penyertaan-Nya. Memperhidupkan Kristus jauh melampaui kenikmatan akan penyertaan-Nya.

Apakah Anda hanya ingin berlatih untuk beserta dengan Kristus, atau Anda juga ingin memperhidupkan Kristus? Memperhidupkan Kristus bahkan jauh lebih indah daripada beserta dengan Kristus. Memang, mati dan tinggal bersama Tuhan dalam tingkat yang lebih besar daripada di bumi ini merupakan suatu keuntungan. Tetapi sementara kita hidup di bumi, bila kita memperhidupkan Kristus, itu bahkan jauh lebih baik. Mungkin Anda pernah bersyukur kepada Tuhan karena penyertaan-Nya, tetapi pernahkah Anda bersyukur kepada-Nya karena pengalaman memperhidupkan Dia? Bersyukur kepada Tuhan karena kemanisan dan keindahan penyertaan-Nya sangat mudah. Banyak yang mempunyai kebiasaan berbuat demikian. Kadang-kadang, bila saya berniat mengucap syukur demikian kepada Tuhan, batin saya merasa tertegur, karena saya hanya mengikuti praktek Perjanjian Lama, maka saya diingatkan untuk memperhidupkan Kristus. Satu Korintus 6:17 menerangkan, “Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Kita menjadi satu roh dengan Tuhan bukan hanya agar kita dapat menikmati penyertaan-Nya, tetapi juga agar kita bisa memperhidupkan Dia. Tetapi hari ini orang-orang Kristen mana yang diajar dan dibantu untuk memperhidupkan Kristus? Bertahun-tahun kita telah dibantu untuk membina kebiasaan berlatih hidup di hadirat Tuhan. Pengalaman ini merupakan dunia pertama dari kehidupan orang Kristen. Sekarang, dalam pemulihan Tuhan, kita harus maju ke dunia kedua, yakni berlatih memperhidupkan Kristus.

Dalam ayat 21 sesungguhnya ada perbedaan di antara memperhidupkan Kristus dengan memperoleh tingkat yang lebih tinggi dari penyertaan-Nya. Saya dapat bersaksi bahwa yang lebih saya sukai ialah memperhidupkan Kristus, tidak sekadar memperoleh tingkat yang lebih tinggi dari penyertaan-Nya.

BUAH PEKERJAAN

Dalam ayat 22 Paulus berkata seterusnya, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia (dalam daging) ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Kata “bekerja” atau pekerjaan telah dirusak orang cukup parah. Kebanyakan orang Kristen hanya memperhatikan pekerjaan, tidak memperhatikan Kristus. Tetapi Paulus dapat mengatakan “bekerja memberi buah.” Penggunaan kata “buah” oleh Paulus menunjukkan bahwa pekerjaannya sebenarnya adalah kehidupannya. Ketika Paulus menyurati orang Filipi, ia hidup dalam penjara, ia tidak bekerja. Ini menunjukkan bahwa kehidupan adalah pekerjaannya. Buah dihasilkan dari pekerjaan yang hidup itu. Buah pekerjaan itu ialah Kristus diperhidupkan, diperbesar, dan dilayankan kepada orang lain. Buah pekerjaan Paulus ialah ditransfusikannya Kristus kepada orang lain. Karena itu, buah pekerjaan dalam ayat 22 merupakan hasil atau akibat dari kehidupan Paulus di dalam penjara.

Pekerjaan yang hidup dari Paulus ialah melayankan Kristus kepada orang lain dan mentransfusikan Kristus yang ia perbesar ke dalam mereka. Bagi Paulus, mati adalah keuntungan, tetapi hidup adalah demi melaksanakan pekerjaan yang berbuah dan hidup itu. Ia kesulitan memilih satu di antara kedua hal ini. Karena itu ia berkata, “Mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Jika Anda harus memilih antara keuntungan yang berasal dari kematian jasmani dan buah yang dihasilkan dari suatu pekerjaan yang hidup, manakah yang Anda pilih? Saya pasti lebih suka memilih hidup di dalam daging demi melaksanakan pekerjaan yang hidup, yaitu memperbesar dan mentranfusikan Dia ke dalam diri orang lain.

KEINGINAN PAULUS UNTUK

TINGGAL BERSAMA KRISTUS

Ayat 23 mengatakan, “Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama-sama dengan Kristus — itu memang jauh lebih baik.” Ketika Paulus menulis perkataan ini ia berada dalam penjara dan menderita aniaya. Di bawah keadaan semacam itu, kita menduga ia ingin beserta dengan Kristus. Setiap orang beriman yang berada dalam situasi Paulus pasti mempunyai keinginan yang serupa.

Kita telah menunjukkan bahwa berada bersama Kristus adalah perkara derajat, bukan tempat. Tak usah disangsikan, Paulus beserta dengan Kristus dalam penjara. Fakta bahwa Paulus beserta dengan Kristus menunjukkan bahwa beserta dengan Kristus bukanlah masalah tempat. Tetapi walaupun Paulus beserta dengan Kristus sampai tingkat tertentu, ia ingin beserta dengan Kristus pada tingkat yang lebih tinggi lagi. Paulus tahu akibat dari kematian jasmani ialah ia akan beserta dengan Kristus pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang ia miliki dalam kehidupan di bumi ini. Karena alasan inilah ia dapat menginginkan kematian dan tinggal bersama Kristus, menganggap hal itu jauh lebih baik.

TINGGAL DALAM DAGING DEMI KEMAJUAN

DAN SUKACITA ORANG KUDUS

Dalam ayat 24 Paulus melanjutkan, “Tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia (dalam daging) ini karena kamu.” Kata “karena kamu” berarti karena atau demi gereja. Pertimbangan rasul tidaklah egoistis, melainkan demi kepentingan orang-orang kudus. Dia mutlak diduduki oleh Tuhan dan gereja. Paulus menyadari bahwa gereja-gereja memerlukan ministri Kristus yang lebih banyak. Karena mereka, ia ingin tetap tinggal dalam daging, agar dapat melayankan Kristus kepada mereka.

Paulus adalah seorang yang penuh dengan Kristus. Ketika ia berbicara, ia membicarakan Kristus. Ketika ia hidup, ia hidup bersama Kristus. Ketika ia bekerja, ia bekerja bersama Kristus dan melayankan Kristus kepada gereja-gereja. Demi gereja, ia mau tinggal dalam daging supaya ia dapat melayankan Kristus kepada orang kudus.

Ayat 25 mengatakan, “Dengan yakin aku tahu tentang hal ini: Aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman.” Kata “iman” di sini ditujukan kepada apa yang dipercayai oleh orang-orang kudus (Yud. 3; 2Tim. 4:7), “maju” mengacu kepada pertumbuhan hayat; dan “sukacita” mengacu kepada kenikmatan akan Kristus. Paulus rela tetap tinggal demi kemajuan dan sukacita orang kudus dalam iman.

Mungkin orang ada yang telah menjadi orang Kristen bertahun-tahun, tetapi tanpa kemajuan atau sukacita, tanpa pertumbuhan hayat, dan tanpa menikmati Tuhan. Kita perlu bertumbuh dalam hayat dan menikmati Kristus. Saya mengenal beberapa orang kudus yang dengan setia tinggal di dalam pemulihan Tuhan, tetapi pertumbuhan hayat mereka dan kenikmatan mereka akan Kristus sangat sedikit. Akibatnya, kemajuan mereka dan sukacita mereka sedikit. Bagaimana dengan Anda? Bagimana pendapat Anda tentang kemajuan dan sukacita Anda? Oh, kita perlu kemajuan dan kenikmatan!

Baik di dalam penjara atau di luar penjara, Paulus adalah satu faktor yang kuat dari kemajuan dan sukacita orang kudus. Karena dia, gereja-gereja dapat bertumbuh dalam hayat dan penuh dengan kenikmatan akan Kristus. Hari ini kita seharusnya juga demikian. Semua penatua dalam gereja-gereja lokal harus menjadi faktor pertumbuhan hayat orang kudus dan kenikmatan mereka akan Kristus. Tetapi dapat tidaknya para penatua menjadi faktor kemajuan dan sukacita tergantung pada apakah mereka memperbesar Kristus melalui memperhidupkan Dia. Jika para penatua memperhidupkan Kristus, Kristus pasti akan diperbesar di dalam mereka. Kemudian, para penatua akan menjadi faktor yang memungkinkan orang kudus bertumbuh dalam hayat dan menikmati Tuhan.

BERMEGAH DALAM KRISTUS DI DALAM PAULUS

Dalam ayat 26 Paulus berkata, “Sehingga kemegahanmu makin berlimpah dalam Kristus Yesus di dalam aku, apabila aku kembali kepada kamu” (Tl.). Ayat ini tidak mudah dimengerti. Apakah yang dimaksud dengan kemegahan? Dalam bahasa Yunaninya mengandung makna tiga rangkap: memegahkan, memuliakan, dan bersukacita. Ketika kita bermegah, kita memuliakan, dan ketika kita memuliakan, kita pun bersukacita. Di sini Paulus mengatakan, “Sehingga kemegahanmu makin berlimpah dalam Kristus Yesus di dalam aku.” Boleh jadi lebih baik meletakkan frase “di dalam aku” di muka frase “dalam Kristus Yesus”, sebab susunan ini lebih sesuai dan lebih mirip dengan pemikiran Paulus. Di sini Paulus mengatakan bahwa kaum beriman boleh bermegah, memiliki kemuliaan, dan bersukacita di dalam Paulus dalam Kristus. Kemegahan mereka di dalam Paulus pastilah dalam Kristus. Bermegah dalam Kristus agak mudah, tetapi bermegah di dalam seorang dalam Kristus tidak begitu mudah. Namun, apakah artinya itu? Terjemahan versi King James mengatakan, “Bersukacita . . . di dalam Yesus Kristus karena aku.” Terjemahan ini mungkin sangat logis, tetapi tidak tepat menurut bahasa aslinya. Dalam bahasa Yunani bukan dikatakan “karena aku”, tetapi jelas sekali mengatakan “di dalam aku.” Paulus tidak mengatakan bahwa orang-orang Filipi bermegah dalam Kristus karena dia atau untuk dia. Ia mengatakan bahwa mereka bermegah dalam Kristus di dalam dia.

Dalam ayat yang sukar dimengerti ini tersirat sebuah rahasia yang dalam mengenai pengalaman akan Kristus. Jika kita ingin mengalami Kristus, maka kita, kaum beriman, harus dapat bermegah, bersukacita, dan mulia bukan hanya dalam Kristus sendiri, tetapi juga di dalam seseorang dalam Kristus. Orang-orang kudus di Filipi perlu bermegah di dalam rasul Paulus dalam Kristus. Kemegahan ini berkaitan dengan fakta yang penting sekali, yaitu apa yang kita terima dari Kristus bukan diterima langsung dalam Kristus, melainkan diterima dari Sang Kepala melalui anggota-anggota lain dari Tubuh. Jadi, kita menerima berkat rohani dari Sang Kepala melalui anggota lain. Tidak usah diragukan, Paulus adalah anggota yang sangat penting dari Tubuh ini. Jika ia hilang dari Tubuh, maka Tubuh akan kehilangan satu sarana atau perantara berkat rohani yang sangat penting.

Tubuh jasmani kita mengilustrasikan bagaimana anggota dapat menjadi satu sarana suplai bagi tubuh. Misalkan lengan merupakan satu sarana suplai bagi jari-jari tangan. Tanpa lengan sebagai sarana atau perantara, jari-jari tidak mungkin menerima suplai apa-apa dari kepala. Sebagai satu anggota Tubuh Kristus yang penting, Paulus adalah sarana atau perantara suplai yang demikian antara kita dengan Sang Kepala. Jika tidak ada dia, kita akan kekurangan satu saluran suplai yang penting.

Tak seorang pun di antara kita dapat bermegah, bersukacita, dan merasa mulia secara langsung di dalam Kepala. Sebaliknya, kita perlu bermegah dalam Kristus di dalam dan melalui satu saluran suplai tertentu. Dalam ayat 26 Paulus berkata, “Sehingga kemegahanmu makin berlimpah dalam Kristus Yesus di dalam aku.” Selama Paulus dipenjara, kaum beriman kafir, seperti mereka yang di Filipi, bermegah di dalam Paulus. Kemegahan, sukacita, dan kemuliaan mereka bukan di dalam pengkhotbah-pengkhotbah agama Yahudi, melainkan di dalam Paulus. Mereka dapat bermegah di dalam Paulus karena ia telah memperbesar Kristus dan memperhidupkan Kristus, sampai ke tahap paling tinggi. Karena Paulus memperbesar dan memperhidupkan Kristus sedemikian rupa, maka ia dapat mentransfusikan Kristus ke dalam orang kudus dan melayankan Kristus kepada semua gereja. Sebab itu, orang kudus beralasan untuk bermegah di dalam seorang rasul yang sedemikian ini. Andaikata Paulus telah meninggal sebelum ia matang, maka kemegahan mereka di dalam dia akan berakhir. Tetapi selama Paulus masih hidup, mereka dapat bermegah di dalam Paulus dalam Kristus. Karena itu, dalam ayat 25-26 Paulus berkata bahwa ia yakin ia akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan orang kudus demi kemajuan dan sukacita iman mereka, supaya kemegahan mereka dapat makin berlimpah di dalam Kristus Yesus di dalam Paulus melalui kehadirannya bersama mereka lagi.

SALURAN BAGI KENIKMATAN AKAN KRISTUS

Dalam ayat-ayat ini kita nampak satu butir yang sangat penting, yaitu diperlukannya orang-orang tertentu untuk berfungsi sebagai saluran suplai di dalam kehidupan Tubuh. Kita perlu anggota-anggota seperti Paulus. Bila anggota-anggota sedemikian ini meninggal, maka pada ha-kikatnya transfusi Kristus akan terganggu. Tetapi selama orang-orang itu beserta dengan kita, maka transfusi itu terus mengalir, takkan berhenti, dan kita dapat bermegah di dalam mereka dalam Kristus. Para pemimpin dalam gereja-gereja lokal seharusnya menjadi saluran semacam ini, sarana suplai semacam ini.

Hidup atau matinya kita seharusnya penting sekali bagi gereja. Hidup kita seharusnya sangat penting bagi orang kudus. Tetapi apakah demikian halnya, tergantung pada seberapa banyak kita memperhidupkan Kristus, melayankan Kristus, dan menginfuskan Kristus kepada orang lain. Maafkan saya mengatakan begini, dalam hal menginfuskan Kristus kepada gereja, ada pemimpin-pemimpin yang tidak seberapa berpengaruh entah mereka hidup atau mati. Tetapi ada juga yang tidak demikian, entah mereka terus beserta dengan kita maupun dipanggil Tuhan meninggalkan kita, besar sekali pengaruhnya dengan kita. Saya ingat contoh saudara yang sangat terkasih, Eugene Gruhler, Sr. Ia benar-benar sarana suplai bagi Tubuh. Dari lubuk hati, saya dapat bersaksi bahwa kepergian dia untuk tinggal bersama Tuhan merupakan suatu kerugian bagi kita dalam hidup gereja. Bagi kita, besar sekali bedanya bila saudara ini tinggal atau pergi ke hadirat Tuhan. Kita masing-masing seharusnya juga demikian. Entah kita hidup atau mati, seharusnya kita sangat penting bagi gereja. Akan tetapi ini tergantung pada keadaan kita dalam hal memperhidupkan Kristus, memperbesar Kristus, melayankan Kristus, dan mentransfusikan Kristus dari lubuk batin kita ke dalam batin orang-orang kudus. Kalau kita mengalami dan menikmati Kristus sedemikian rupa, maka baik kita tetap tinggal maupun pulang ke hadirat Tuhan, sangat besar pengaruhnya bagi gereja.

Kita telah nampak bahwa kita tidak dapat bermegah secara langsung di dalam Kristus sebagai Sang Kepala. Sebaliknya, perlu ada beberapa anggota yang berfungsi sebagai saluran yang melalui mereka orang lain dapat menikmati Kristus dan bertumbuh dalam hayat. Saat ini sangat diperlukan sarana suplai yang sedemikian. Sekalipun hanya satu atau dua orang dalam satu negara, banyak orang akan menerima suplai Kristus. Karena Paulus adalah anggota yang semacam ini, maka ia memilih untuk tinggal bersama orang-orang kudus bagi kemajuan dan sukacita mereka dalam iman, agar mereka dapat bermegah di dalam Paulus dalam Kristus. Jika orang kudus ingin mengalami Kristus, perlu ada orang yang menunaikan fungsi sebagai sebuah saluran. Di sejumlah negara, orang-orang tidak bisa mengalami Kristus, karena tidak ada seorang pun di negara itu yang benar-benar memperhidupkan Kristus dan memperbesar Kristus. Sebagai akibatnya, kaum beriman tidak bisa menikmati Kristus. Kita perlu sekali orang-orang yang seperti Paulus. Ketika Paulus masih hidup, banyak orang dapat mengalami Kristus dan beroleh kemajuan dan sukacita di dalam iman.