← Daftar isi Latar Belakang dan Pokok Kitab Filipi · bab 19/22

KEMUSTIKAAN PENGENALAN AKAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Flp. 3:5-8

Dalam 3:8 Paulus berkata, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia (mustika) daripada semuanya.” Dalam berita ini kita akan membahas kemustikaan pengenalan akan Kristus.

PERBANDINGAN ANTARA HUKUM TAURAT DENGAN KRISTUS

Ketika Paulus menulis 3:5-8, tidak diragukan ia memikirkan perbandingan antara hukum Taurat dengan Kristus. Paulus memiliki banyak pengalaman terhadap Kristus maupun hukum Taurat. Dari pengalamannya, ia memperoleh pengenalan penuh akan Kristus dan hukum Taurat.

Hukum Taurat dan Kristus merupakan dua faktor utama dalam susunan Alkitab. Di satu aspek, Perjanjian Lama terutama tersusun dari hukum Taurat sebagai faktor dasar, sehingga ia boleh dianggap sejilid kitab hukum Taurat. Sebaliknya, Perjanjian Baru tersusun dari Kristus sebagai faktor dasar dan faktor pengendali. Jadi Perjanjian Lama berdasar pada hukum Taurat, dan Perjanjian Baru berdasar pada Kristus.

Pengetahuan Paulus terhadap hukum Taurat maupun terhadap Kristus sangatlah banyak. Selama bertahun-tahun berada dalam agama Yahudi, ia memiliki pengetahuan yang rinci tentang hukum Taurat. Pengetahuannya bukan seperti orang awam, melainkan seperti seorang ahli yang fanatik. Tetapi ketika Paulus menulis Kitab Filipi, ia telah beralih dari bawah hukum Taurat ke dalam Kristus. Lagi pula, ia telah memiliki baik pengetahuan maupun pengalaman akan persona Kristus yang ajaib, almuhit, dan alwasi (meluas ke segala sesuatu). Paulus telah hidup dalam persona ini, maka ia dapat mengatakan bahwa dirinya adalah seorang yang berada dalam Kristus (2Kor. 12:2).

Dalam Filipi 3:5-6, kata “tentang” dapat juga diterjemahkan “menurut”, kata ini digunakan sebanyak tiga kali, berhubungan dengan hukum Taurat, kegairahan, dan kebenaran. Kata “karena” dalam ayat 7-8, dapat juga diterjemahkan “oleh karena”, juga digunakan sebanyak tiga kali, dua kali berhubungan dengan Kristus dan satu kali berhubungan dengan pengenalan akan kemustikaan Kristus. Kristus berbeda dengan hukum Taurat, kegairahan terhadap hukum Taurat, dan kebenaran dalam hukum Taurat. Kemustikaan pengenalan akan Kristus dan Kristus sendiri sangat berbeda dengan hukum Taurat dan segala hal lainnya. Oleh karena Kristus dan kemustikaan pengenalan akan Kristus, Paulus melepaskan hukum Taurat, kegairahannya terhadap hukum Taurat, kebenaran dalam hukum Taurat, dan segala hal lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Kristus dan kemustikaan pengenalan akan Kristus jauh lebih unggul daripada hukum Taurat dan segala sesuatu.

Berdasarkan ayat 8, Paulus tidak saja menganggap segala sesuatu rugi karena kemustikaan pengenalan akan Kristus dan menderita kehilangan segala sesuatu, tetapi ia benar-benar telah menganggapnya sampah. Istilah “sampah” dalam bahasa aslinya mengacu kepada ampas, sampah, kotoran, yang dilemparkan kepada anjing; karena itu hal tersebut adalah makanan anjing, kotoran binatang. Hal-hal itu tidak dapat dibandingkan dengan Kristus.

Penting sekali kita memahami bahwa dalam 3:8 Paulus tidak mengatakan kemustikaan Kristus, tetapi kemustikaan pengenalan akan Kristus. Banyak pembaca Kitab Filipi menganggap kata kemustikaan ini ditujukan kepada diri Kristus sendiri, bukan kepada pengenalan akan Kristus. Namun, Paulus dengan khusus dan tegas mengatakan tentang kemustikaan pengenalan akan Kristus. Pengenalan Paulus akan Kristus sangat mustika. Karena kemustikaan pengenalannya itu, ia rela menderita kehilangan segala sesuatu.

Dalam ayat 7 Paulus berkata, “Karena Kristus,” tetapi dalam ayat 8 ia berkata lebih lanjut, “Karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mustika...” Tambahan kata “Tuhanku” menunjukkan bahwa ketika Paulus menulis surat ini, ia dipenuhi dengan perasaan intim dan lembut terhadap Kristus. Perasaan yang lembut terhadap kemustikaan Tuhan Yesus bangkit dalam batinnya, sehingga ia berkata, “Kristus Yesus, Tuhanku.” Paulus memberi penilaian tinggi atas kemustikaan pengenalannya terhadap Kristus Yesus, Tuhannya yang terkasih.

BERASAL DARI KEMUSTIKAAN

PERSONA KRISTUS

Kemustikaan pengenalan akan Kristus berasal dari kemustikaan persona-Nya. Orang-orang Yahudi menganggap hukum Allah yang diberikan melalui Musa sebagai sesuatu yang paling mustika dalam sejarah manusia. Karena itu mereka sangat bergairah bagi hukum Taurat. Sebelumnya, Paulus juga berbagian dalam kegairahan itu. Tetapi ketika Allah mewahyukan Kristus kepadanya (Gal. 1:15-16), ia nampak keunggulan, keutamaan, kemustikaan, keadian Kristus jauh melebihi kemustikaan hukum Taurat. Pengenalannya akan Kristus menghasilkan kemustikaan pengenalan akan Kristus. Inilah sebabnya, ia bukan hanya menganggap hukum Taurat dan agama yang didirikan berdasarkan hukum Taurat itu sebagai kerugian, tetapi juga segala hal lainnya.

Di sini Paulus tidak langsung mengatakan tentang kemustikaan Kristus, melainkan kemustikaan pengenalan akan Kristus. Pengenalan dalam 3:8 ini bukan pengenalan yang dimiliki Kristus, atau pengenalan yang Kristus sendiri miliki; melainkan pengenalan kita yang subyektif akan Kristus itu. Manakah yang Anda anggap lebih mustika: persona Kristus atau pengenalan Anda terhadap Kristus? Menurut doktrin atau opini Anda, mungkin Anda mengatakan persona Kristus lebih mustika daripada pengenalan akan Kristus. Tetapi Paulus berkata dari pengalamannya bahwa pengenalan akan Kristuslah yang lebih mustika.

Kita telah menunjukkan bahwa kemustikaan pengenalan akan Kristus berasal dari kemustikaan persona-Nya. Tentu saja, diri Kristus sendiri adalah mustika. Tetapi jika kita tidak memiliki pengenalan akan Kristus, bagaimanakah kita mengenal kemustikaan-Nya? Jika kita kekurangan pengenalan akan kemustikaan Kristus, kemustikaan-Nya akan tidak berarti apa-apa bagi kita.

Sebelum pengalamannya di perjalanan menuju Damsyik, Paulus tidak memiliki pengenalan apa pun terhadap Kristus. Dia menghargai hukum Taurat dan menganggapnya paling mustika. Gairah Paulus terhadap hukum Taurat merupakan satu tanda dari apresiasinya terhadap hukum Taurat. Kegairahannya berasal dari apresiasinya. Paulus tentu bangga karena pengenalannya yang unggul terhadap hukum Taurat. Sekalipun Kristus jelas jauh lebih mustika dan unggul daripada hukum Taurat, Paulus tidak mengenal Kristus ini. Tetapi pada waktu ia percaya Tuhan, persona yang mustika ini telah diwahyukan kepadanya. Dengan wahyu Kristus inilah Paulus mulai memiliki pengenalan akan Kristus. Setelah ia mulai mendapatkan pengenalan akan Kristus, ia lalu memahami bahwa pengetahuan tentang hukum Taurat yang diterima dari Gamaliel jauh berada di bawah pengenalan akan Kristus. Paulus menyadari perbandingan ini ketika ia menulis 3:5-8, karena itu ia dapat berkata bahwa segala sesuatu dianggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus lebih mustika daripada semuanya, dan oleh karena Dia, ia telah melepaskan semuanya.

Sudah tentu, kemustikaan ini terdapat di dalam persona Kristus sendiri. Tetapi bagi pengalaman kita, yaitu pemahaman kita terhadap kemustikaan ini tergantung pada pengenalan kita. Kalau kita kekurangan pengenalan, kita tidak bisa memahami betapa mustikanya Persona ini. Hanya bila kita telah mengenal kemustikaan-Nya, barulah kita memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus. Alangkah berharganya kemustikaan pengenalan akan Kristus ini!

KEALMUHITAN KRISTUS

Dalam keempat kitab yang membentuk jantung wahyu ilahi — Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose — Paulus me-nyingkapkan tirai dan memperlihatkan kepada kita siapa dan apa adanya Kristus itu. Kristus itu almuhit (meliputi segala sesuatu) dan alwasi (meluas ke segala sesuatu), Dia realitas dari segala hal positif dalam alam semesta. Dia adalah realitas Allah, manusia, kekekalan, terang, dan hayat. Kita sama sekali tidak memiliki kata-kata yang memadai untuk menyatakan siapa dan apa adanya Kristus.

Berapakah tingkat pengenalan Anda akan Kristus sebelum Kitab-kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose terbuka kepada Anda dalam pemulihan Tuhan? Mungkin Anda hanya mengenal Kristus sebagai Anak Allah yang diutus oleh Bapa dalam rahmat-Nya untuk mati di atas salib bagi keselamatan orang-orang berdosa. Anda tahu bahwa Dia dilahirkan dari seorang anak dara, Dia telah mati di atas salib, Dia telah bangkit dari antara orang mati, dan Dia telah ditinggikan ke surga. Anda telah percaya kepada-Nya sebagai Penebus dan Juruselamat yang terkasih, dan dengan cara ini Anda telah diselamatkan. Kemudian Anda menyadari bahwa Anda membutuhkan Dia membantu An-da menempuh suatu hidup demi memuliakan Bapa. Mengenal Kristus sedemikian ini memang baik, tetapi pengenalan yang demikian akan Dia terlampau terbatas sekali.

Tahun 1936, saya juga memiliki pengenalan yang terbatas akan Kristus seperti itu. Tetapi mulai tahun 1932, Tuhan melalui pemulihan-Nya berangsur-angsur menyingkapkan selubung saya, sehingga saya memiliki pengenalan yang lebih penuh terhadap-Nya. Sedikit demi sedikit, tirai itu tersingkir. Saya percaya, banyak orang kudus dalam pemulihan Tuhan dapat memberikan kesaksian serupa.

Baru akhir-akhir ini saja saya terkesan pada kealwasian Kristus. Pada suatu hari, ketika saya sedang membicarakan Kristus yang diwahyukan dalam Kitab Kolose, saya dengan spontan memakai istilah “alwasi” dan menunjukkan bahwa wahyu tentang Kristus dalam Kitab Kolose bersifat meluas, bahkan alwasi (meluas ke segala sesuatu), karena Kristus lebih luas daripada alam semesta. Dia tidak terukur, tidak terbatas. Karena itu, Dia tidak saja almuhit, juga alwasi.

Menurut Alkitab, Kristus benar-benar almuhit. Kali pertama saya mulai nampak kealmuhitan Kristus dan menunaikan ministri saya dalam jalur ini pada tahun 1932. Meskipun kealmuhitan Kristus telah diwahyukan dengan jelas dalam Alkitab, banyak orang beriman sangat terce-ngang ketika mereka mendengar kita membicarakannya.

Kolose 2:16 dan 17 mengatakan, “Karena itu, jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus.” Ayat ini menunjukkan bahwa Kristus adalah makanan, minuman, hari raya, bulan baru, dan hari Sabat. Dialah wujud, realitas, substansi dari segala hal positif dalam alam semesta. Dia adalah realitas udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, sinar matahari yang kita nikmati. Lagi pula, Dia adalah realitas Allah Tritunggal, juga adalah realitas manusia.

Ketika kita mengajarkan bahwa Kristus itu almuhit, realitas segala hal yang positif dalam alam semesta, ada beberapa orang yang malah menuduh kita mengajarkan panteisme. Mereka menuduh kita mengidentikkan Allah dengan benda ciptaan. Kita mutlak menolak panteisme dan mengatakan bahwa itu adalah ajaran Iblis. Kita sama sekali tidak memberitakan panteisme macam apa pun. Tetapi, menurut Alkitab, kita memang mengajarkan bahwa Kristus itu Allah, manusia, dan realitas segala hal yang positif. Tetapi itu tidak berarti hal-hal materi dalam alam semesta ini adalah Allah sendiri. Kita bukan Allah dan tidak pernah mungkin menjadi Allah. Namun demikian, Kristus berada di dalam kita, dan pada hakekatnya Dia menjadi kita. Kolose 3:10 dan 11 mengatakan, “Dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya; dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Ayat-ayat ini juga menunjukkan kealmuhitan Kristus. Dalam manusia baru, Tubuh, yaitu gereja, tidak ada orang Yunani atau Yahudi. Demikian pula, tidak ada orang China atau Amerika, orang Jerman atau Prancis. Dalam manusia baru, Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Dia adalah semua anggota dan di dalam semua anggota. Ini berarti di dalam manusia baru, Kristus adalah Anda dan Kristus adalah saya. Dia benar-benar almuhit dan alwasi.

KEPERLUAN KITA YANG MENDESAK UNTUK

PENGENALAN YANG MUSTIKA AKAN KRISTUS

Ketika Paulus masih dalam agama Yahudi, ia buta terhadap Kristus yang almuhit. Kristus ada sebagai Persona yang alwasi, tetapi Paulus sama sekali tidak mengenal Dia. Pada masa itu, Paulus memiliki pengetahuan yang sangat dalam dan unggul tentang hukum Taurat. Tetapi pada suatu hari, ketika ia dalam perjalanan menuju Damsyik, Kristus menampakkan diri kepadanya, memanggilnya, dan berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4). Meskipun Paulus tidak mengenal Kristus dan buta terhadap Kristus, ia dapat menganiaya-Nya. Setelah Tuhan mewahyukan diri-Nya kepadanya dan ia bertobat kepada Tuhan, selaput-selaput gugur dari matanya. Matanya telah tercelik, ia mulai nampak Kristus dan mengenal Dia. Semakin ia nampak Kristus, ia semakin menerima pengenalan akan Dia. Itulah sebabnya ia berkata dalam Filipi 3:8 tentang kemustikaan pengenalan akan Kristus Yesus Tuhannya.

Pengenalan akan Kristus benar-benar suatu perkara yang mustika. Jika Anda bersaksi bahwa Kristus ini unggul dan mustika, tetapi tanpa memiliki pengenalan akan Dia, Anda hanya mengatakannya menurut tradisi belaka. Sebenarnya kesaksian Anda itu Anda ucapkan dalam ketidaktahuan. Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda ketahui, karena Anda sendiri belum menerima pengenalan yang unggul tentang Kristus. Kecuali kita telah memiliki pengenalan yang unggul akan Kristus, tidak mungkin kita mengatakan Kristus itu mustika. Kita amat sangat memerlukan pengenalan yang unggul akan Kristus. Paulus begitu damba memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus, sehingga ia sudi menganggap segala sesuatu rugi karena pengenalan ini.

Memperoleh kemustikaan pengenalan akan Kristus boleh diibaratkan dengan pengalaman para turis yang berbelanja di Hongkong. Pedagang-pedagang di sana tahu bagaimana memamerkan produk-produk mereka, terutama batu giok, untuk menarik para turis. Sering kali bila para turis melihat barang-barang permata yang berharga dalam pameran, mereka sangat senang. Lagi pula mereka beroleh pengenalan akan kemustikaan barang-barang tersebut. Sebelum mereka masuk ke toko, mereka sama sekali tidak mengenal kemustikaan benda-benda yang berharga itu. Tetapi begitu mereka melihat barang-barang tersebut dan beroleh pengenalan terhadap kemustikaan-Nya, mereka rela membayar harga untuk memiliki barang-barang tersebut. Demikian pula, kita perlu satu wahyu tentang kemustikaan Kristus, tentang kemustikaan-Nya yang tinggi tak terbatas.

Beban saya dalam berita ini tidak berkaitan dengan doktrin; beban saya ialah agar kita nampak satu visi dan menerima satu wahyu tentang kemustikaan Kristus. Jika kita memiliki wahyu tentang kemustikaan Kristus, kita akan otomatis memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus.

Kemustikaan pengenalan akan Kristus tercantum dalam 3:8, sedang pengalaman akan Kristus yang sesungguhnya tercantum dalam 3:10. Akan tetapi, pengenalan akan Kristus merupakan dasar. Pengenalan yang kita maksud sebenarnya ialah suatu wahyu, visi tentang Kristus dan kemustikaan-Nya. Ketika Paulus masih buta dan dalam agama, ia tidak dapat melihat Kristus; ia hanya dapat melihat hukum Taurat. Jadi, ia memiliki kemustikaan pengenalan akan hukum Taurat. Tetapi setelah Kristus diwahyukan kepadanya, ia mulai memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus. Dia telah tertawan oleh kemustikaan pengenalan akan Kristus, dan karena pengenalan ini ia rela melepaskan segala sesuatu dan menganggap semuanya rugi.